Featured
Showing posts with label Twilight. Show all posts
Showing posts with label Twilight. Show all posts

September 01, 2015

Baca Online Epilog Twilight

EPILOG: ACARA ISTIMEWA
EDWARD membantuku naik ke mobilnya, sangat berhati-hati dengan sutra dan shiffon-nya, bunga-bunga
yang baru saja disematkannya di rambutku yang ditata ikal penuh gaya, serta tongkat berjalanku. Ia mengabaikan bibirku yang cemberut sangat marah. Setelah aku duduk nyaman, ia menyelinap ke jok
pengemudi, dan melaju mundur dari jalanan sempit dan panjang itu.
“Kapan tepatnya kau akan memberitahuku apa yang terjadi?” gerutuku. Aku benar-benar tidak suka kejutan.
Dan ia tahu itu.
“Aku benar-benar terkejut kau belum mengetahuinya juga.” Ia tersenyum mengejek, dan aku tercekat. Apakah
aku bakal terbiasa dengan kesempurnaannya? “Aku sudah bilang kau terlihat sangat tampan, bukan?”
ujarku.
“Sudah.” Ia tersenyum. Aku belum pernah melihatnya mengenakan hitam. Warna itu sangat kontras dengan
kulitnya yang pucat, membuat ketampanannya benar-benar bagaikan mimpi. Itu tak dapat kusangkal, bahkan kalaupun kenyataan dirinya mengenakan tuksedo membuatku sangat gugup.
Tidak segugup yang ditimbulkan gaunku. Atau sepatu yang kukenakan. Sepatuku hanya satu, berhubung kakiku
yang lain masih rapat terbalut gips. Tapi hak stiletto yang kukenakan hanya dipegangi tali sutra, dan itu jelas takkan membantuku saat berjalan terpincang-pincang begini.
“Aku takkan bertamu lagi kalau Alice akan memperlakukanku seperti Barbie Percobaan,” sahutku
seraya mencengkeram jok kursi. Aku menghabiskan sebagian besar hariku di kamar Alice yang sangat luas,
menjadi korban tak berdaya saat ia berperan jadi penata rambut dan penata rias. Setiap kali aku merasa tak nyaman atau mengeluh, ia mengingatkanku bahwa ia sama sekali tidak ingat bagaimana rasanya menjadi manusia, dan memintaku tidak menghancurkan kesenangannya. Kemudian ia memakaikan gaun paling konyol— warna biru gelap, berimpel, dan tanpa lengan, dengan label berbahasa Prancis yang tak kumengerti—gaun yang lebih cocok dikenakan dalam peragaan busana daripada di Forks. Tak ada yang bagus dari pakaian formal kami, aku yakin itu. Kecuali... tapi aku takut menguraikan kecurigaanku, bahkan dalam pikiranku sendiri.
Perhatianku teralih dering telepon. Edward mengeluarkan ponsel dari saku dalam jasnya, melihat
sebentar ke layar sebelum menjawab.
“Halo, Charlie,” sahutnya hati-hati.
“Charlie?” Dahiku berkerut.
Charlie... agak sedikit kurang bersahabat sejak kepulangan-ku ke Forks. Ia menyikapi pengalaman burukku
dalam dua sikap. Terhadap Carlisle, ia teramat sangat bersyukur dan berterima kasih. Di sisi lain ia sangat yakin
semua ini salah Edward—sebab kalau bukan karena Edward, aku tidak akan meninggalkan rumah. Dan Edward
sama sekali tidak menentangnya. Belakangan ini Charlie memberlakukan beberapa peraturan yang tak pernah
diterapkannya padaku sebelumnya: jam malam... jam berkunjung. Sesuatu yang dikatakan Charlie membuat mata Edward membelalak rak percaya, kemudian senyuman langsung mengembang di wajahnya.
“Kau bercanda!” Ia tertawa.
“Ada apa?” desakku.
Ia mengabaikanku. “Biarkan aku bicara padanya,” saran Edward, kegembiraannya tampak nyata. Ia menunggu
sebentar.
“Halo, Tyler, ini Edward Cullen.” Suaranya sangat ramah, tapi hanya di permukaan. Aku mengenalnya cukup
baik untuk menangkap kejailan di baliknya. Apa yang dilakukan Tyler di rumahku? Kebenaran mengerikan mulai terbentuk di benakku. Sekali lagi aku memandang gaun yang kukenakan atas paksaan Alice itu.
“Aku menyesal kalau ada semacam kesalah pahaman, tapi Bella sudah punya teman kencan malam ini.” Nada
suara Edward berubah, dan ancaman dalam suaranya tibatiba jauh lebih nyata saat ia melanjutkan kata-katanya.
“Dan sejujurnya dia tidak akan punya waktu untuk siapa pun kecuali aku, setiap malam. Jangan tersinggung. Aku menyesal malammu tidak menyenangkan.” Ia sama sekali tidak terdengar menyesal. Kemudian ia menutup telepon, senyum lebar menghiasi wajahnya.
Wajah dan leherku merah padam karena marah. Aku bisa merasakan air mata kemarahan menggenangi mataku.
Ia terkejut melihatku. “Apakah bagian terakhir tadi kelewatan? Aku tak bermaksud menyinggung perasaanmu.”
Aku mengabaikan kata-katanya.
“Kau mengajakku ke prom!” teriakku.
Sekarang semua sudah jelas. Kalau saja aku memerhatikan sejak awal, aku yakin pasti bisa melihat
tanggal di poster-posrer di seluruh penjuru sekolah. Tapi aku tak pernah menyangka ia bakal mengajakku. Tidakkah Edward mengenalku sama sekali? Ia tidak mengira reaksiku bakal begitu, itu sudah jelas. Ia
mengatupkan bibir dan matanya menyipit. “Jangan mempersulit keadaan. Bella.”
Aku menoleh ke luar jendela; kami sudah setengah jalan menuju sekolah.
“Kenapa kau melakukan ini padaku?” tanyaku cemas.
Ia menunjuk tuksedonya. “Sungguh, Bella, menurutmu apa yang kita lakukan?”
Aku merasa dipermalukan. Pertama, karena aku tidak melihat apa yang tampak jelas di depan mata. Juga karena
kecurigaan samar—sebenarnya harapan—yang berkembang di hatiku seharian ini, mengingat Alice mencoba
mengubahku jadi ratu kecantikan, benar-benar jauh melenceng. Harapanku yang setengah mengerikan
kelihatannya sangat konyol sekarang.
Aku sudah menduga sesuatu sedang terjadi. Tapi prom, yang benar saja! Itu sama sekali tak terpikirkan olehku.
Air mata kemarahan menetes di pipiku. Aku cemas mengingat aku tak terbiasa mengenakan maskara. Bergegas
kuusap bagian bawah mataku agar maskaranya tidak belepotan. Tanganku tidak hitam ketika kutarik; barangkali
Alice tahu aku membutuhkan makeup antiair.
“Ini benar-benar konyol. Kenapa kau menangis?” tanya Edward kesal.
“Karena aku marah!”
“Bella.” Mata keemasannya menatapku lekat-lekat.
“Apa?” gumamku, bingung.
“Ayolah,” desaknya.
Tatapannya mencairkan segenap amarahku. Mustahil bertengkar dengannya kalau ia bersikap curang seperti itu.
Aku menyerah.
“Baiklah.” Bibirku mencebik, aku tak mampu memelototinya segalak yang kuinginkan. “Aku akan ikuti
maumu. Tapi nanti akan kaulihat. Nasib burukku belum berakhir. Barangkali aku akan mematahkan kakiku yang lain. Lihat sepatu ini! Ini jerat kematian!” Aku menjulurkan kakiku yang sehat sebagai buktinya.
“Hmmm.” Ia memandangi kakiku lebih lama dari seharusnya. “Ingatkan aku untuk berterima kasih pada
Alice untuk hal itu nanti malam.”
“Alice akan datang?” Ini sedikit menenangkan.
“Bersama Jasper, dan Emmett... dan Rosalie,” ia mengakui.
Perasaan tenang itu langsung lenyap. Hubunganku dengan Rosalie tidak mengalami kemajuan, meskipun
hubunganku dengan suami-sesekali-waktunya bisa dibilang baik. Emmett senang berada di dekatku—menurut dia, reaksi manusiaku sangat menghiburnya... atau barangkali kenyataan aku sering kali terjatuh itu yang membuatnya menganggapku sangat lucu. Rosalie bersikap seakan-akan aku tidak ada. Setelah menggeleng-gelengkan kepala untuk mengenyahkan pikiran itu, terpikir olehku hal lain.
“Apakah Charlie terlibat?” aku bertanya, tiba-tiba curiga.
“Tentu saja.” Ia nyengir, lalu tergelak. “Meski begitu, kelihatannya Tyler tidak.”
Kukertakkan gigiku. Aku benar-benar tidak mengerti mengapa Tyler bisa punya pikiran konyol seperti itu. Di
sekolah, tempat Charlie tak bisa ikut campur, Edward dan aku tak terpisahkan—kecuali pada hari-hari cerah yang sangat jarang terjadi.
Kami sudah di sekolah sekarang; mobil Rosalie tampak mencolok di lapangan parkir. Hari ini langit berawan tipis, secercah sinar matahari tampak jauh di sebelah barat. Edward keluar dan mengitari mobil untuk membukakan pintuku. Ia mengulurkan tangan. Aku tak bergerak dari tempat duduk, tangan terlipat,
diam-diam berpuas diri. Lapangan parkir dipenuhi orang berpakaian formal: para saksi. Ia tak dapat memindahkanku secara paksa dari mobil seperti yang mungkin dilakukannya seandainya kami hanya berdua.
Ia mendesah. “Waktu seseorang hendak membunuhmu, kau seberani singa—kemudian saat seseorang menyebutnyebut soal dansa... “ Ia menggeleng. Aku menelan liurku. Berdansa.
“Bella, aku takkan membiarkan apa pun melukaimu—bahkan tidak dirimu sendiri. Aku takkan pernah
melepaskanmu, aku janji.”
Aku mempertimbangkannya dan tiba-tiba merasa jauh lebih baik. Ia bisa melihatnya di wajahku.
“Sudah, sudah,” katanya lembut, “takkan seburuk itu.” Ia membungkuk dan memeluk pinggangku. Aku
menggenggam tangannya yang lain dan membiarkannya mengangkatku dari mobil.
Ia tetap memelukku erat-erat, menyokongku saat aku terpincang-pincang menuju sekolah ......Di Phoenix, prom diadakan di ballroom hotel. Di sini, pestanya berlangsung di ruang gym. Barangkali itulah satusatunya ruangan di kota ini yang cukup luas untuk pesta dansa. Ketika kami sampai di dalam, aku tertawa geli melihat balon-balon dan pita-pita krep pastel yang menghiasi dinding.
“Ini seperti film horor yang menunggu saatnya dimulai,” olokku.
“Well” gumamnya saat kami pelan-pelan mendekati meja
tempat penjualan karcis—meskipun ia praktis menggendongku, tapi aku masih harus melangkah tertatihtatih—“
ada lebih dari cukup vampir hadir di sini.”
Aku melihat ke arah lantai dansa; bagian tengah lantai tampak lengang hanya ada dua pasangan berputar-putar
anggun. Pasangan-pasangan lain merapat di pinggir lantai untuk memberi mereka ruang—tak ada yang ingin tampak kontras di dekat kedua pasangan yang memukau itu. Emmett dan Jasper tampak mengintimidasi dan tanpa cela dalam balutan tuksedo klasik. Alice rampak memukau dalam gaun satin hitam berpotongan leher V yang memamerkan kulitnya yang putih bagai salju. Dan Rosalie... Well, ya Rosalie. Penampilannya sungguh di
luar dugaan. Gaun merah menyalanya berpunggung terbuka, melekat ketat sampai ke betis yang kemudian
melebar jadi tumpukan rimpel yang memanjang di belakangnya. Garis leher gaunnya jatuh hingga ke
pinggang. Aku mengasihani semua gadis di ruangan itu, termasuk diriku sendiri.
“Kau mau aku mengunci pintu-pintu supaya kau bisa membantai orang-orang kota tak berdosa ini?” bisikku
penuh konspirasi.
“Dan apa peranmu dalam adegan itu?” Ia menatapku geram.
“Oh, tentu saja aku bersama kelompok vampir.” Ia tersenyum enggan.
“Apa pun asal kau tak perlu berdansa.”
“Apa pun.”
Ia membayar tiket kami, kemudian membimbingku ke lantai dansa. Kupeluk lengannya, dan menyeret kakiku.
“Aku punya waktu semalaman,” ia mengingatkan. Akhirnya ia menarikku ke tempat keluarganya sedang
berdansa elegan—boleh dibilang dengan gaya yang sangat tidak sesuai dengan musik masa kini. Aku memerhatikan mereka dengan ngeri.
“Edward.” Tenggorokanku sangat kering hingga aku hanya bisa berbisik. “Aku benar-benar tidak bisa berdansa!”
Bisa kurasakan rasa panik bergejolak dalam dadaku.“Jangan khawatir, bodoh,” ia balas berbisik. “Aku bisa.”
Ia melingkarkan tanganku di lehernya, mengangkatku, lalu meletakkan kakinya di bawah kakiku.
Kemudian kami pun berdansa.
“Aku merasa seperti berumur lima tahun,” aku tertawa setelah beberapa menit berdansa waltz tanpa perlu
bersusah-payah.
“Kau tidak kelihatan seperti berumur lima tahun,” gumamnya, sesaat menarikku lebih rapat, sehingga kakiku
sedikit terangkat dari lantai. Alice dan aku bertemu pandang saat kami berputar dan tersenyum menyemangati—aku balas tersenyum padanya. Aku terkejut menyadari aku menikmatinya... sedikit.
“Oke, ini tidak terlalu buruk,” aku mengakui.
Tapi tatapan Edward kini terarah ke pintu, wajahnya tampak marah.
“Ada apa?” aku bertanya keras-keras. Aku mengikuti arah pandangannya, tidak fokus akibat berputar-putar,
namun akhirnya aku bisa melihat apa yang mengganggunya. Jacob Black, tidak mengenakan tuksedo
melainkan kemeja putih lengan panjang dan dasi, rambutnya ditarik licin dalam kucir kuda. Ia berjalan
menghampiri kami.
Setelah kaget waktu mengenalinya tadi, kini aku merasa kasihan pada Jacob. Ia jelas-jelas merasa tidak nyaman—teramat sangat tidak nyaman. Penyesalan terpancar di matanya saat kami beradu pandang.
Edward menggeram sangat pelan.
“Jaga sikapmu!” desisku.
Suara Edward terdengar sinis. “Dia ingin mengobrol denganmu.”
Jacob sampai di tempat kami, perasaan malu dan menyesal makin jelas di wajahnya.
“Hei, Bella, aku memang berharap kau ada di sini.”
Jacob terdengar seperti mengharapkan sebaliknya. Tapi senyumnya tetap hangat.
“Hai, Jacob.” Aku balas tersenyum. “Apa kabar?”
“Boleh aku meminjamnya?” tanyanya ragu-ragu,
memandang Edward untuk pertama kali. Aku terkejut melihat Jacob tak perlu mendongakkan kepala. Ia pasti
telah bertambah tinggi beberapa senti sejak pertama kali aku melihatnya.
Wajah Edward tenang ekspresinya hampa. Satu-satunya jawabannya adalah dengan hati-hati membiarkanku berdiri di atas kakiku sendiri, lalu mundur selangkah.
“Terima kasih,” kata Jacob ramah.
Edward hanya mengangguk, menatapku lekat-lekat sebelum berbalik menjauh.
Jacob menaruh tangannya di pinggangku, dan aku mengulurkan tangan ke bahunya.
“Wow, Jake, berapa tinggimu sekarang?”
Ia tampak bangga. “Seratus delapan puluh lima senti.”
Kami tidak benar-benar berdansa—mustahil dengan kondisi kakiku saat ini. Sebagai gantinya, dengan canggung
kami bergoyang dari satu sisi ke sisi lain tanpa menggerakkan kaki. Itu bagus juga, dengan tingginya sekarang ia jadi tampak kurus, jangkung dan tak seimbang, hingga barangkali ia bukan pedansa yang lebih baik daripada diriku sendiri.
“Jadi, bagaimana ceritanya kau bisa di sini?” aku bertanya tanpa benar-benar ingin tahu. Melihat reaksi
Edward tadi, aku bisa menduga jawabannya.
“Kau percaya, ayahku memberiku dua puluh dolar supaya aku datang ke prom kalian?” ia mengakui, sedikit
malu-malu.
“Ya, aku percaya,” gumamku. “Well, kuharap setidaknya kau menikmatinya. Ada yang kau suka?” aku
menggodanya, memberi isyarat dengan kepala ke sekelompok cewek yang berbaris di dekat dinding bagai
sekumpulan gaun warna pastel.
“Yeah,” ia mendesah. “Tapi dia sudah bersama seseorang.”
Ia menunduk untuk sesaat melihat tatapan penasaranku— kemudian kami sama-sama berpaling, merasa jengah.
“Omong-omong kau cantik sekali,” ia menambahkan malu-malu.
“Mm, trims. Jadi kenapa Billy membayarmu supaya datang ke sini?” aku buru-buru bertanya, meskipun aku
tahu jawabannya. Jacob tidak kelihatan senang karena topik percakapan kami berubah. Ia memalingkan wajah, sekali lagi merasa jengah.
“Katanya, di sini tempat yang ‘aman’ untuk berbicara denganmu. Aku bersumpah orang tua itu mulai kehilangan akal sehatnya.” Aku ikut tertawa, namun lemah.
“Lagi pula, katanya, kalau aku mengatakan sesuatu padamu dia akan membelikan master cylinder yang
kubutuhkan,” ia mengaku sambil tersenyum malu-malu.
“Kalau begitu, katakan saja padaku. Aku ingin kau bisa menyelesaikan mobilmu.” Aku balas tersenyum. Setidaknya Jacob tidak memercayai satu pun kegilaan ini. Itu membuat keadaan sedikit lebih mudah. Sambil bersandar di dinding Edward memandang wajahku, sementara wajahnya sendiri datar. Aku melihat cewek kelas sophomore bergaun pink mengawasinya malu-malu, namun sepertinya Edward tidak menyadari keberadaan cewek itu. Jacob berpaling lagi, merasa malu. “Jangan marah, oke?”
“Tidak mungkin aku marah padamu, Jacob,” aku meyakinkannya. “Aku bahkan tidak akan marah pada Billy.
Katakan saja apa yang harus kaukatakan.”
“Well—ini bodoh sekali, maafkan aku. Bella—dia ingin kau putus dengan pacarmu. Dia memintaku untuk
memohon padamu.” Ia menggeleng jijik.
“Dia masih percaya takhayul, eh?”
“Yeah. Dia... seperti kebakaran jenggot waktu kau mengalami kecelakaan di Phoenix. Dia tidak percaya...”
Dengan sadar Jacob tidak meneruskan kata-katanya. Mataku menyipit. “Aku terjatuh.”
“Aku tahu itu,” Jacob langsung menyahut.
“Pikirnya, Edward ada kaitannya dengan kecelakaan yang menimpaku.” Itu bukan pertanyaan, dan terlepas dari
janjiku, aku merasa marah. Jacob tak berani menatapku. Kami bahkan tak lagi repotrepot bergoyang mengikuti musik, meskipun tangannya masih di pinggangku, dan tanganku melingkar di lehernya.
“Begini, Jacob, aku tahu Billy barangkali tidak bakal percaya tapi hanya supaya kau tahu”—ia memandangku
sekarang, bereaksi terhadap ketulusan dalam suaraku— “Edward benar-benar telah menyelamatkan nyawaku.
Seandainya bukan karena Edward dan ayahnya, aku pasti sudah mati.”
“Aku tahu,” ujarnya. Sepertinya ucapan tulusku telah sedikit memengaruhinya. Paling tidak mungkin nantinya ia bisa meyakinkan Billy.
“Hei, aku menyesal kau harus datang dan melakukan ini, Jacob,” aku meminta maaf. “Setidaknya, yang penting kau mendapatkan onderdilmu, ya kan?”
“Yeah,” gumamnya. Ia masih tampak canggung...kecewa.
“Ada lagi?” tanyaku tak percaya.
“Lupakan saja,” gumamnya, “aku akan mencari pekerjaan dan menabung sendiri.”
Aku memelototinya sampai kami bertemu pandang.
“Katakan saja, Jacob.”
“Ini buruk sekali.”
“Aku tak peduli. Beritahu aku,” desakku.
“Oke... tapi, hhh, ini kedengarannya buruk sekali.” Ia menggeleng “Dia menyuruhku memberitahumu, bukan,
memperingatkanmu, bahwa – dan ini kata-katanya, bukan aku” – ia mengangkat satu tangannya dari pinggangku dan membuat tanda kutip – “Kami akan mengawasi.” Dengan hati-hati ia menunggu reaksiku.
Kata-katanya terdengar seperti di film-film mafia. Aku tertawa keras-keras.
“Aku menyesal kau harus melakukan ini. Jake,” olokku.
“Aku tidak terlalu keberatan.” Ia tertawa lega.
Pandangannya tampak memuji saat sekilas menelusuri gaunku. “Jadi, haruskah aku menyuruhnya untuk jangan
ikut campur?” tanyanya penuh harap.
“Tidak,” desahku. “Bilang padanya aku berterima kasih. Aku tahu dia bermaksud baik.”
Musiknya berhenti, dan kulepaskan lenganku dari lehernya.
Tangannya masih di pinggangku, dan ia memandang kakiku yang digips. “Kau mau berdansa lagi? Atau bisakah
aku membantumu bergerak ke suatu tempat?”
Edward menjawabnya untukku. “Tidak apa-apa, Jacob. Aku yang mengambil alih.”
Jacob berjengit dan dengan mata terbelalak menatap Edward yang tahu-tahu muncul di sebelah kami.
“Hei, aku tidak melihatmu di situ,” gumam Jacob.
“Kalau begitu, sampai ketemu, Bella.” Ia melangkah mundur, melambai dengan setengah hati.
Aku tersenyum. “Yeah, sampai ketemu.”
“Maaf,” katanya lagi sebelum berbalik menuju pintu. Lengan Edward telah memelukku saat lagu berikut mulai
dimainkan. Iramanya sedikit cepat untuk berdansa lambat, tapi sepertinya itu tidak mengganggunya. Kusandarkan kepalaku di dadanya, merasa senang.
“Merasa lebih baik?” godaku.
“Tidak juga,” katanya singkat.
“Jangan marah pada Billy,” desahku. “Dia hanya mengkhawatirkan diriku demi kebaikan Charlie. Bukan
apa-apa.”
“Aku tidak marah pada Billy,” ia meralat tajam. “Tapi anak laki-lakinya membuatku jengkel.”
Aku menarik tubuhku agar bisa memandangnya. Wajahnya sangat serius. “Kenapa?”
“Pertama-tama dia membuatku mengingkari janjiku sendiri.” Aku menatapnya tidak mengerti.
Ia setengah tersenyum. “Aku sudah berjanji takkan melepaskanmu malam ini,” ia menjelaskan.
“Oh. Well, aku memaafkanmu.”
“Terima kasih. Tapi ada hal lain.” Wajah Edward cemberut. Aku menunggu dengan sabar.
“Dia menyebutmu cantik,” akhirnya ia meneruskan katakatanya, kerutan di wajahnya semakin nyata. “Mengingat penampilanmu saat ini, itu bisa dibilang menghina. Kau lebih dari sekadar cantik.”
Aku tertawa. “Kau mungkin sedikit bias.”
“Kurasa tidak. Lagi pula, aku punya daya lihat yang sempurna.”
Kami kembali berdansa, kakiku di atas kakinya saat ia menarikku lebih dekat.
“Jadi, apakah kau akan menjelaskan alasan untuk semua ini?” aku bertanya-tanya.
Ia menunduk menatapku, bingung, dan aku memandang pita kertas krep dengan penuh arti. Ia berpikir sebentar kemudian mengubah arah, memutarmutar tubuhku melewati keramaian menuju pintu belakang gym. Sekilas aku sempat melihat Jessica dan Mike yang sedang berdansa sambil memandangiku penasaran. Jessica melambai, dan aku balas tersenyum padanya. Angela juga ada di sana, tampak luar biasa bahagia dalam pelukan si
kecil Ben Cheney; Angela tak pernah melepaskan pandangannya dari Ben, yang sedikit lebih pendek daripadanya. Lee, Samantha, Lauren, dan Conner menatap kami geram; aku bisa menyebutkan semua orang yang menari melewatiku. Kemudian kami sampai di luar, di bawah cahaya temaram matahari terbenam serta udara sejuk.

Begitu kami sendirian, ia menggendong dan membawaku melintasi halaman yang gelap ke bangku di
bawah bayangan pepohonan madrone. Ia duduk di sana, sambil terus memelukku erat di dadanya. Bulan telah
muncul di langir, rampak jelas di antara awan-awan tipis, dan wajahnya bertambah pucat dalam cahaya putih.
Mulutnya tegang, matanya resah.

“Intinya?” aku memulai dengan lembut. Ia mengabaikanku, menatap bulan.
“Twilight, lagi,” gumamnya. “Akhir yang lain. Tak peduli berapa sempurna sebuah hari, toh harus berakhir
juga.”
“Beberapa hal tak perlu berakhir,” gumamku setengah mendesis, langsung tegang. Ia mendesah.
“Aku membawamu ke prom,” katanya pelan, akhirnya menjawab pertanyaanku, “karena aku tak ingin kau
kehilangan momen apa pun. Aku tak ingin kehadiranku menjauhkanmu dan segala peluang kalau aku bisa
membuatnya terjadi. Aku ingin kau menjadi manusia. Aku ingin hidupmu berjalan seperti seharusnya seandainya aku mati pada tahun 1918.”
Aku bergidik mendengar kata-katanya, lalu menggeleng marah. “Dalam dimensi paralel aneh manakah aku bakal pernah mau pergi ke prom atas keinginanku sendiri?
Seandainya kau tidak seribu kali lebih kuat dariku, aku takkan pernah membiarkanmu membawaku kemari.”
Ia tersenyum sekilas, tapi senyum itu tidak menyentuh matanya. “Kau sendiri yang bilang ini tidak terlalu buruk.”
“Itu karena aku bersamamu.”
Beberapa saat kami terdiam. Ia menatap bulan dan aku menatapnya. Kuharap ada cara untuk menjelaskan betapa
aku sama sekali tidak tertarik pada kehidupan manusia yang normal.
“Maukah kau memberirahuku sesuatu?” tanyanya, menunduk, menatapku seraya tersenyum simpul.
“Bukankah aku selalu melakukannya?”
“Berjanjilah kau akan memberitahuku,” desaknya, tersenyum.
Aku tahu aku bakal langsung menyesalinya. “Baiklah.”
“Kau sepertinya benar-benar terkejut saat mengetahui aku akan membawamu ke sini,” ia memulai.
“Memang” selaku.
“Tepat,” ia menyetujui. “Tapi kau pasti sudah punya teori lain... aku penasaran—kaupikir kenapa aku
mendandanimu seperti ini?” Benar, aku langsung menyesal. Kucibirkan bibirku, raguragu.
“Aku tidak ingin memberitahumu.”
“Kau sudah berjanji,” tukasnya keberatan.
“Aku tahu.” “Apa masalahnya?” Aku tahu ia mengira perasaan malulah yang menahanku.
“Kurasa itu akan membuatmu marah—atau sedih.” Alisnya bertaut di atas matanya saat ia memikirkannya.
“Aku masih ingin tahu. Kumohon.” Aku mendesah. Ia menunggu.
“Well. Aku menduga itu semacam... acara istimewa. Tapi aku tidak berpikir ini kegiatan manusia biasa... prom!” ejekku.
“Manusia?” tanyanya datar. Ia memilih kata kuncinya. Aku memandangi gaunku, memainkan chiffon-nya. Ia
menunggu dalam diam.
“Oke,” aku buru-buru mengaku. “Aku berharap kau mungkin berubah pikiran... bahwa kau akan mengubahku,
akhirnya.”
Berbagai emosi muncul bergantian di wajahnya. Aku mengenali beberapa di antaranya: amarah... sedih...
kemudian ia tampak senang.
“Kaupikir itu sejenis acara resmi, ya?” godanya sambil menyentuh kerah tuksedonya. Aku cemberut untuk menyembunyikan rasa maluku.
“Aku kan tidak tahu. Setidaknya bagiku ini lebih masuk akal daripada prom.”
Ia masih nyengir.
“Tidak lucu, tahu,” kataku.
“Tidak, kau benar, ini tidak lucu,” ia menimpali, senyumnya memudar. “Meskipun begitu aku lebih suka menganggapnya lelucon, daripada percaya bahwa kau serius.”
“Tapi aku memang serius.”
Ia menghela napas dalam. “Aku tahu. Dan kau benarbenar menginginkannya?”
Kepedihan itu kembali tampak di matanya. Kugigit bibirku dan mengangguk
“Kau siap mengakhiri semua ini,” gumamnya, nyaris kepada dirinya sendiri, “siap menjadikan ini akhir
hidupmu, meskipun hidupmu bahkan belum dimulai. Kau siap merelakan semuanya.”
“Ini bukan akhir, ini baru permulaan,” sergahku, suaraku berbisik.
“Aku tidak pantas mendapatkannya,” katanya sedih.
“Kau ingat waktu kaubilang aku tidak melihat diriku sendiri dengan sangat jelas?” tanyaku, satu alisku terangkat.
“Kau sama butanya denganku.”
“Aku tahu siapa diriku.” Aku mendesah.
Tapi suasana hatinya yang berubah-ubah memengaruhiku. Ia mengerutkan bibir dan matanya
mencari-cari. Ia mengamati wajahku lama sekali.
“Kalau begitu, kau sudah siap?” tanyanya.
“Mmm.” Kutelan liurku. “Ya?”
Ia tersenyum, lalu perlahan-lahan menunduk hingga bibirnya yang dingin menyapu kulitku tepat di sudut
rahang.
“Sekarang juga?” ia berbisik, napasnya terasa sejuk di kulitku. Tanpa sadar aku gemetar.
“Ya,” bisikku, jadi suaraku tidak terdengar parau. Kalau dipikirnya aku hanya menggertak, ia bakal kecewa. Aku sudah membuat keputusan ini, dan aku yakin. Tak peduli tubuhku kaku seperti papan, kedua tanganku mengepal, napasku tak beraturan... Ia tergelak misterius, lalu menjauh. Wajahnya memang kelihatan kecewa.
“Kau tak mungkin benar-benar percaya aku bakal menyerah semudah itu,” ejeknya.
“Seorang gadis boleh bermimpi.” Alisnya terangkat. “Itukah yang kauimpikan? Menjadi
monster?”
“Tidak juga,” kataku, cemberut mendengar pilihan katanya. Monster. “Aku lebih sering memimpikan
bersamamu selamanya.” Ekspresinya berubah, melembut, sedih mendengar kepedihan dalam suaraku.
“Bella.” Jari-jarinya menyusuri bentuk bibirku. “Aku akan tinggal bersamamu—tidakkah itu cukup?”
Aku tersenyum di bawah jemarinya. “Untuk sekarang, ya.”
Wajahnya cemberut melihat tekadku. Tak seorang pun bakal mengalah malam ini. Ia menghela napas, dan suara
yang dikeluarkannya jelas geraman. Kusentuh wajahnya. “Dengar,” kataku. “Aku mencintaimu lebih dari semua yang ada di dunia ini bila digabungkan. Tidakkah itu cukup?”
“Ya, itu cukup,” jawabnya, tersenyum. “Cukup untuk selamanya.”
Dan ia pun membungkuk lagi, menekankan bibir dinginnya sekali lagi ke leherku.

June 20, 2015

Breaking Dawn

Sampalah kita Breaking Dawn. Novel ke 4 karya Stephenie Meyer. Kalo di film dibagi 2.


Pendahuluan Film 1. Novel Bagian 1-18  : Aku sudah cukup sering mengalami peristiwa ketika aku nyaris mati, tapi bukan berarti dengan begitu aku jadi terbiasa. Namun anehnya, lagi-lagi aku harus berhadapan dengan kematian, dan tak bisa mengelak darinya. Meski begitu kali ini sangat berbeda dari yang sudah-sudah. Kau bisa melarikan diri dari orang yang kautakuti, kau bisa melawan orang yang kaubenci. Semua reaksiku siap menghadapi pembunuh-pembunuh semacam itupara monster, para musuh. Tapi bila kau mencintai orang yang membunuhmu, kau tak punya pilihan lain. Bagaimana kau bisa melarikan diri, bagaimana kau bisa melawan, jika melakukannya berarti mencelakakan orang yang kaucintai? Bila nyawamu satu-satunya yang harus kauberikan untuk orang yang kaucintai, bagaimana mungkin kau tidak memberikannya? Bila itu orang yang benar-benar kaucintai?
Pendahuluan Film 2. Novel Bagian 19-end : BARISAN hitam yang mendekati kami menembus kabut sedingin es yang terkuak oleh kaki mereka, bukan lagi sekadar mimpi buruk. Kita akan mati, pikirku panik. Aku panik memikirkan hal berharga yang kujaga, tapi aku tak boleh bahkan memikirkannya, karena itu akan mengganggu konsentrasiku. Mereka melayang semakin dekat, jubah gelap mereka berkibar-kibar pelan dengan setiap gerakan. Aku melihat tangan mereka melengkung membentuk cakar sewarna tulang. Mereka berpencar, mendatangi kami dari segala sisi. Jumlah kami kalah banyak. Semua sudah berakhir. Kemudian, bagai diterangi sorot lampu kilat, pemandangan itu jadi berbeda.Namun tak ada yang berubah—keluarga Volturi masih bergerak menghampiri kami, bersiap membunuh. Yang benar-benar berubah hanya bagaimana gambaran itu terlihat olehku. Tiba-tiba hasratku membuncah. Aku ingin mereka menyerang. Kepanikan berubah menjadi haus darah saat aku membungkuk, siap menerjang maju, senyum tersungging di wajahku, dan geraman menyeruak dari sela gigiku yang menyeringai.

Novel ini bersudut pandang ganda Bella - Jacob
  1. Pertunangan
  2. Malam Panjang
  3. Hari H
  4. Kejutan
  5. Pula Esme
  6. Mengalihkan Perhatian
  7. Tak Terduga
  8. Menunggu Pertengkaran Sialan Itu Dimulai
  9. Sungguh Tak Kuduga Sama Sekali
  10. Mengapa Aku Tak Langsung Hengkang Saja ? Oh ya Benar. Aku Idiot
  11. Dua Hal yang Paling Tidak Ingin Kulakukan
  12. Sebagian Orang Memang Tidak Bisa Mengerti Konsep "Tidak Diterima"
  13. Untung Aku Tidak Mudah Jijik
  14. Kau Tau Keadaan Mulai Gawat Waktu Kau Merasa Bersalah Bersikap Kurang Ajar pada Vampir
  15. Tik Tok Tik Tok Tik Tok
  16. Tidak Mau Terlalu Banyak Tahu
  17. Memangnya Kelihatannya Aku Ini Siapa? Wizard Of Oz? Kau Butuh Otak? Kau Butuh Hati? Silahkan Saja Ambil Hatiku. Ambil Segalanya yang Aku Punya.
  18. Tak Ada Kata yang Sanggup Melukiskannya
  19. Panas Membakar
  20. Baru
  21. Perburuan Pertama
  22. Janji
  23. Memori
  24. Kejutan
  25. Bantuan
  26. Berkilau
  27. Rencana Perjalanan
  28. Masa Depan
  29. Ditinggal
  30. Menggemaskan
  31. Berbakat
  32. Para Tamu
  33. Pemalsuan
  34. Deklarasi
  35. Tenggat Waktu
  36. Haus Darah
  37. Penemuan
  38. Kuat
  39. Akhir yang Membahagiakan


October 02, 2014

Baca Online New Moon part 9

 9. KAMBING CONGEK
WAKTU mulai berjalan jauh lebih cepat dibanding sebelumnya. Sekolah, bekerja, dan Jacob—meski tidak selalu dalam urutan itu— membentuk pola yang rapi dan mudah diikuti. Dan keinginan Charlie terwujud: aku tidak merana lagi. Tentu saja. aku tidak bisa sepenuhnya menipu diri
sendiri. Saat berhenti untuk menginventarisasi hidupku, sesuatu yang kuusahakan untuk tidak terlalu sering kulakukan, aku tak bisa mengabaikan implikasinya terhadap tingkah lakuku.
Aku seperu bulan tersesat—planetku hancur dalam skenario film rentang kepedihan hati yang menimbulkan perubahan besar—yang tetap, walau bagaimanapun, bergerak dalam orbitnya yang kecil
dan sempit mengitari ruang angkasa yang kini kosong melompong, mengabaikan hukum gravitasi.
Aku semakin piawai naik motor, dan itu berarti aku tidak membuat Charlie khawatir lagi karena terlalu sering jatuh. Tapi itu juga berarti suara di kepalaku mulai menghilang, sampai aku tidak mendengarnya lagi sama sekali. Diam-diam aku panik. Aku semakin kalap mencari padang rumput itu. Aku memeras otak mencari aktivitas lain yang
bisa memicu idrenalin.
Aku tak lagi memerhatikan hari-hari yang berlalu – tidak ada alasan untuk itu. karena aku berusaha sebisa mungkin hidup di masa kini,
tanpa masa lalu yang menghilang, atau masa depan yang menjelang. Karena itulah aku terkejut waktu Jacob mengungkit tanggal berapa sekarang saat kami bertemu untuk mengerjakan PR. Ia sudah menungguku waktu aku berhenti di depan rumahnya.
"Selamat Hari Valentine," kata Jacob, tersenyum, tapi menunduk saat menyapaku.
Ia mengulurkan kotak kecil berwarna pink, menaruhnya di telapak tangan.
"Well, aku merasa tolol sekali," gumamku. "Ini Hari Valentine?”
Jacob menggeleng dengan lagak pura-pura sedih. "Terkadang kau ini seperti tidak ada di sini saja. Ya, sekarang tanggal 14 Februari. Nah,
maukah kau menjadi Valentine-ku? Berhubung kau tidak membelikan sekotak cokelat seharga lima puluh sen, paling tidak itulah yang bisa
kaulakukan."
Aku mulai merasa tidak enak. Kata-katanya bernada menyindir, tapi hanya di permukaan. "Apa tepatnya kewajiban menjadi Valentine?"
aku mengelak.
"Biasalah—menjadi budak seumur hidup, semacam itu."
"Oh, Well, kalau hanya itu." Kuterima kotak cokelat itu. Tapi aku berusaha memikirkan cara untuk menegaskan batas-batas itu. Lagi. Bersama Jacob, sepertinya batas-batas itu sering kali kabur.
"Jadi, apa yang akan kita lakukan besok? Hiking, atau UGD?"
"Hiking,” aku memutuskan. "Bukan hanya kau yang bisa obsesif. Aku mulai berpikir janganjangan tempat itu hanya khayalanku saja." Aku
mengerutkan kening dan menerawang.
"Kita pasti bisa menemukannya,” Jacob meyakinkanku. "Sepeda motor hari Jumat?” ia menawarkan.
Aku melihat kesempatan dan langsung menyambarnya tanpa meluangkan waktu untuk memikirkannya masak-masak lebih dulu.
"Jumat nanti aku akan pergi nonton film. Sudah lama sekali aku berjanji pada teman-teman sekafeteriaku untuk pergi bareng." Mike pasti
senang. Tapi wajah Jacob langsung berubah. Aku sempat menangkap secercah ekspresi di matanya yang gelap sebelum ia menunduk dan memandang tanah.
“Kau ikut, kan?" aku cepat-cepat menambahkan.
"Atau kau merasa bergaul dengan serombongan murid senior itu sangat membosankan?" Ternyata aku tetap tak bisa menjaga jarak dengannya. Aku tidak tega melukai hati Jacob; kami seperti memiliki hubungan khusus yang aneh, dan kesedihannya menusuk hatiku juga. Apalagi, aku senang membayangkan diriku ditemani olehnya melewati "cobaan" ini—aku memang sudah berjanji pada Mike, tapi tidak merasa terlalu antusias melakukannya.
“Kau ingin aku ikut, bersama teman-temanmu yang lain?"
“Ya," dengan jujur aku mengakui, meski dalam hati tahu ini hanya akan membuat masalah. "Aku akan lebih senang kalau ada kau. Ajak Quil
sekalian, biar lebih ramai."
"Quil bakal kalang-kabut. Cewek-cewek senior."
Jacob terkekeh dan memutar bola matanya. Aku tidak menyebut nama Embry, begitu juga dia. Aku ikut tertawa. "Akan kucoba memberinya
pilihan yang cantik-cantik."
Aku mengutarakan maksudku pada Mike di kelas Bahasa Inggris.
"Hei, Mike," sapaku setelah kelas berakhir. "Kau tidak ada acara Jumat malam nanti?"
Mike mengangkat wajah, mata birunya langsung penuh harap. "Tidak ada. Mau pergi bareng?"
Aku menyusun kalimatku dengan hati-hati. "Aku sedang berpikir-pikir untuk pergi beramai-ramai"—aku menekankan kata itu—"nonton Crosshairs"
Sebelumnya aku sudah melakukan penelitian lebih dulu—bahkan sampai membaca resensi film segala untuk memastikan aku tidak bakal kecele nanti. Konon katanya film itu bergelimang darah dari awal sampai akhir. Aku belum begitu pulih untuk tahan menyaksikan film cinta-cintaan.
"Kedengarannya asyik, kan?"
"Tentu," sahut Mike, kentara sekali kurang bersemangat.
"Asyik."
Sedetik kemudian, wajahnya kembali ceria hingga hampir mendekati level kegembiraannya tadi. "Bagaimana kalau kita ajak Angela dan Ben?
Atau Eric dan Katie?"
Ia bertekad membuat acara jalan-jalan ini menjadi semacam kencan ganda rupanya.
"Bagaimana kalau dua-duanya?" saranku. "Dan Jessica juga. tentu saja. Juga Tyler dan Conner, dan mungkin Lauren,” aku menambahkan dengan enggan. Aku kan sudah berjanji akan membawa banyak pilihan untuk Quil.
"Oke," gumam Mike, usahanya gagal.
"Dan," lanjutku, "aku juga akan mengajak beberapa teman dari La Push. Jadi sepertinya kita membutuhkan Suburban-mu kalau semua ikut."
Mata Mike menyipit curiga.
"Ini teman-temanmu yang selama ini sering belajar bareng kau?"
“Yep, tepat sekali," jawabku riang. "Walaupun kau bisa menganggapnya tutoring—mereka baru kelas dua SMA"
"Oh," kata Mike terkejut. Setelah berpikir sedetik, ia tersenyum.
Namun akhirnya Suburban itu tidak diperlukan. Jessica dan Lauren langsung bilang sibuk begitu Mike mengatakan akulah yang merencanakan acara pergi bareng ini. Eric dan Katie sudah punya
rencana sendiri—mau merayakan tiga minggu mereka pacaran atau apa. Lauren sudah lebih dulu menyatroni Tyler dan Conner sebelum Mike, jadi mereka juga bilang sibuk. Bahkan Quil pun batal ikut—dihukum tidak boleh keluar rumah gara-gara berkelahi di sekolah. Akhirnya, hanya Angela dan Ben yang bersedia, juga Jacob tentu saja.
Meski begitu, jumlah pengikut yang berkurang banyak itu tidak mengurangi kegembiraan Mike. Yang ia ocehkan melulu tentang hari Jumat.
"Kau yakin tidak mau menonton Tomorrow and Forever saja?" tanyanya saat makan siang, menyebut judul film komedi romantis yang sedang
menduduki peringkat teratas dalam deretan filmfilm box office. "Menurut resensi Rotten Tomatoes, filmnya bagus banget lho."
"Aku ingin nonton Crosshairs? aku bersikeras.
"Aku sedang mood nonton film-film action. Yang banyak darah dan isi perutnya!''
"Oke." Mike berpaling, tapi aku masih sempat melihat ekspresinya yang menganggapku sinting.
Sesampainya di rumah sepulang sekolah, sebuah mobil yang sangat familier terparkir di depan rumahku. Jacob berdiri bersandar di kap
mesin, seringai lebar menghiasi wajahnya.
"Tidak mungkin!" teriakku sambil melompat turun dari truk. "Kau sudah selesai! Aku tidak percaya! Kau sudah selesai memermak si Rabbit!"
Jacob berseri-seri. "Baru semalam. Ini perjalanan pertamanya."
"Luar biasa." Kuangkat tanganku untuk ber-high five.
Jacob memukulkan telapak tangannya ke telapak tanganku, tapi membiarkannya tetap menempel di sana, memilin jari-jarinya dengan jari
jariku.
"Jadi, boleh tidak aku mengendarainya malam ini?"
"Jelas boleh," jawabku, lalu mendesah.
"Ada apa?"
"Aku menyerah—aku tidak bisa mengungguli ini. Jadi kau menang. Kau yang paling tua."
Jacob mengangkat bahu, tidak terkejut melihatku menyerah. "Itu sudah jelas."
Suburban Mike muncul di tikungan, berdegukdeguk. Kutarik tanganku dari tangan Jacob, dan kulihat ia mengernyit.
"Aku ingat cowok ini," katanya pelan ketika Mike memarkir mobilnya di seberang jalan. "Dia cowok yang mengira kau pacarnya. Dia masih salah sangka?"
Aku mengangkat sebelah alisku. "Sebagian orang sulit menerima penolakan."
"Bagaimanapun," kata Jacob sambil merenung,
"terkadang kegigihan bisa membuahkan hasil."
"Lebih sering menjengkelkan, tapi."
Mike turun dari mobil dan menyeberang jalan. "Hai, Bella,” ia menyapaku, kemudian matanya berubah waswas pada waktu menengadah memandangi Jacob. Kulirik Jacob sebias berusaha
objektif. Ia sama sekali tidak mirip anak kelas 2 SMA. Badannya besar sekali—kepala Mike nyaris tidak sampai sebahu Jacob; aku bahkan tak ingin membayangkan tinggi, ku kalau aku berdiri di sebelahnya—dan wajahnya juga tampak lebih tua daripada biasa, bahkan sebulan yang lalu sekalipun.
"Hai. Mike! Kau masih ingat Jacob Black?"
“Tidak juga.” Mike mengulurkan tangan.
"Teman lama keluarga,” Jacob memperkenalkan diri, menjabat tangan Mike. Mereka bersalaman dengan keras. Setelah melepaskan genggamannya. Mike meregangkan jari-jarinya. Kudengar telepon berdering dari dapur.
“Kuangkat dulu ya— siapa tahu dari Charlie," kataku pada mereka, lalu berlari masuk. Ternyata Ben. Angela terserang flu perut, dan ia
enggan pergi sendiri tanpa Angela. Ia meminta maaf karena batal pergi dengan kami. Aku berjalan lambat-lambat menghampiri kedua cowok yang sedang menunggu itu, menggelengkan kepala. Aku benar-benar berharap Angela cepat sembuh, tapi harus kuakui aku agak kesal oleh
perkembangan tak terduga ini. Jadi sekarang hanya tinggal kami bertiga, Mike, Jacob, dan aku—benar-benar menyenangkan, pikirku, sinis bercampur muram.
Keliatannya Jake dan Mike tidak berusaha mengakrabkan diri selama kepergianku. Mereka berdiri terpisah beberapa meter, saling
memunggungi sambil menungguku; ekspresi Mike masam, meski Jacob tetap seceria biasa.
“Ang sakit,” aku memberi tahu dengan muram.
"Dia dan Ben tidak bisa ikut.”
“Kurasa flu itu mulai menulari anak-anak lain. Austin dan Conner hari ini juga tidak masuk. Mungkin lain kali saja kita pergi," Mike
menyarankan.
Sebelum aku sempat mengiyakan, Jacob sudah angkat bicara.
"Aku sih masih tetap ingin pergi. Tapi kalau kau lebih suka tidak pergi, Mike—"
"Tidak, aku ikut," potong Mike. "Aku hanya memikirkan Angela dan Ben. Ayo kita pergi," Ia mulai berjalan menghampiri Suburban-nya.
"Hei, kau keberatan tidak kalau Jacob yang menyetir?" tanyaku. "Aku sudah bilang dia boleh menyetir tadi—dia baru saja selesai memperbaiki
mobilnya. Dia memermaknya dari nol lho," pamerku, bangga seperti ibu yang anaknya juara kelas.
"Terserah," bentak Mike.
"Baiklah kalau begitu," sahut Jacob, seakanakan semua beres. Di antara kami bertiga, dialah yang kelihatannya paling santai. Mike naik ke kursi belakang Rabbit dengan ekspresi jijik.
Jacob, seperti biasa, bersikap riang, mengobrol ramai sampai aku sama sekali lupa pada Mike yang merajuk tanpa suara di kursi belakang.
Kemudian Mike mengubah strategi. Ia mencondongkan tubuh, meletakkan dagunya di bahu kursi; pipinya nyaris menyentuh pipiku. Aku bergeser sedikit, memunggungi jendela.
"Radionya rusak, ya?" tanya Mike, nadanya sedikit marah, memotong omongan Jacob.
"Tidak," jawab Jacob "Tapi Bella tidak suka musik."
Kupandangi Jacob, terkejut. Aku tidak pernah bilang begitu padanya.
"Bella?" tanya Mike, jengkel.
Dia benar gumamku, sambil masih terus memandangi profil Jacob yang tenang.
"Kok bisa kau tidak suka musik?" tuntut Mike
Aku mengangkat bahu. "Entahlah. Jengkel saja mendengarnya.”
“Hmph,” Mike duduk bersandar. Waktu kami sampai di bioskop, Jacob
mengulurkan selembar sepuluh dolar.
“Apa ini?” tolakku.
“Aku belum cukup umur untuk nonton film ini," ia mengingatkanku.
“Aku tertawa keras-keras. "Jadi usia relatif tak ada gunanya, ya. Apakah Billy akan membunuhku kalau aku menyelundupkanmu masuk?”
“Tidak. Aku sudah bilang padanya kau berencana mengorupsi keluguanku "
Aku terkikik, dan Mike mempercepat langkah untuk mengimbangi kami.
Aku nyaris berharap Mike memutuskan untuk tidak ikut saja. Ia masih terus merajuk—merusak suasana saja. Tapi aku juga tak ingin berkencan sendirian dengan Jacob. Itu tidak akan membantu apa-apa.
Filmnya tepat seperti yang diramalkan. Di bagian awalnya saja sudah empat orang yang ditembak dan satu dipenggal kepalanya. Cewek di depanku menutup mata dan memalingkan wajah ke dada teman kencannya. Si cowok menepuk-nepuk bahu si cewek, sambil sesekali nyengir. Mike sepertinya tidak menonton. Wajahnya kaku sementara
matanya memelototi tirai di aras layar. Aku menyiapkan diri untuk bertahan selama dua jam, menonton warna-warna dan gerakangerakan
di layar, bukannya melihat bentuk-bentuk orang, mobil, dan rumah. Tapi kemudian Jacob mulai tertawa.
"Apa?" bisikku.
"Oh, ayolah!" Jacob balas mendesis. "Masa darah menyembur sejauh itu. Ketahuan banget bohongnya!"
Lagi-lagi ia tertawa, saat tiang bendera menombak seorang pria ke tembok beton. Sesudah itu aku benar-benar menonton filmnya, tertawa bersamanya saat adegannya makin lama makin konyol. Bagaimana aku bisa melawan garis batas dalam hubungan kami yang makin lama
makin kabur ini kalau aku sangat menikmati kebersamaanku dengannya?
Baik Jacob maupun Mike sama-sama menumpangkan lengannya di lengan kursiku, satu di kiri, satu di kanan. Tangan mereka sama-sama
ditumpangkan dengan sikap santai, telapak tangan menghadap ke atas, dalam posisi yang kelihatannya tidak natural. Seperti jebakan beruang dari baja, terbuka dan siap menjerat mangsa. Jacob punya kebiasaan meraih tanganku setiap kali ada kesempatan, tapi di sini, di dalam
bioskop yang gelap, dengan Mike melihat, hal itu bisa diartikan berbeda—dan aku yakin ia tahu itu.
Aku tidak percaya Mike memikirkan hal yang sama, tapi tangannya melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Jacob.
Kulipat kedua tanganku erat-erat di dada dan berharap tangan mereka akan berhenti beraksi. Mike-lah yang pertama menyerah. Ketika film
sudah berjalan kira-kira setengahnya, ia menarik lengannya dan nun condongkan tubuh ke depan, memegang kepalanya dengan tangan. Mulanya kukira ia bereaksi pada sesuatu yang ada di layat,
tapi kemudian ia mengerang.
"Mike, kau tidak apa apa?" bisikku. Pasangan di depan kami menoleh dan memandangi Mike waktu ia mengerang lagi.
“Tidak,” jawabnya terengah. “Sepertinya aku sakit."
Aku bisa melihat kilauan keringat di wajahnya dengan bantuan cahaya dari layar. Mike mengerang lagi, lalu bangkit dan menghambur ke pintu. Aku berdiri untuk mengikutinya, dan Jacob langsung meniruku.
“Kau tidak perlu ikut. Jangan biarkan delapan dolarmu terbuang sia-sia," desakku saat berjalan menyusuri gang di tengah deretan kursi bioskop.
"Tidak apa-apa. Kau benar-benar jago memilih film, Bella. Filmnya konyol banget,” Suara Jacob berubah dari berbisik menjadi normal, begitu kami keluar dari teater.
Tidak tampak tanda-tanda Mike di ruang tunggu, dan aku senang Jacob tadi memutuskan keluar bersamaku—ia bisa menyelinap ke toilet
cowok untuk mengecek keberadaan Mike di sana. Beberapa detik kemudian, Jacob kembali.
“Oh, memang benar dia ada di sana," katanya, memutar bola matanya. "Dasar lembek. Seharusnya kau mengajak orang yang perutnya lebih kuat. Orang yang tertawa kalau melihat darah membuat cowok lembek muntah."
"Akan kubuka mataku lebar-lebar, kalau-kalau ada orang seperti itu."
Kami hanya berdua di ruang tunggu. Kedua teater sedang memutar film, jadi ruang tunggu kosong melompong—cukup sunyi sehingga kami
bisa mendengar bunyi berondong jagung meletupletup di kios makanan di lobi.
Jacob duduk di bangku berlapis beledu yang menempel di dinding, menepuk-nepuk tempat kosong di sebelahnya.
"Kedengarannya dia bakal lama di dalam sana," katanya, menjulurkan kakinya yang panjang, bersiap-siap menunggu. Sambil mendesah aku ikut duduk bersamanya. Tampaknya Jacob berpikir untuk mengaburkan
garis batas di antara kami lagi. Benar saja, begitu aku duduk, ia membuat gerakan untuk merangkul pundakku.
"Jake," protesku, berkelit. Jacob menurunkan tangannya, tidak tampak tersinggung oleh penolakanku tadi. Ia mengulurkan tangan dan
dengan mantap meraih tanganku, menarik pinggangku waktu aku berusaha berkelit lagi. Dari mana ia memperoleh kepercayaan dirinya itu?
"Tunggu sebentar, Bella," katanya, suaranya tenang. "Jawab dulu pertanyaanku."
Aku meringis. Aku tidak ingin melakukan ini. Tidak sekarang, tidak nanti. Tidak ada hal lain yang tersisa dalam hidupku saat ini yang lebih penting daripada Jacob Black. Tapi sepertinya ia bertekad ingin mengacaukan semuanya.
"Apa?" gerutuku masam.
"Kau suka padaku, kan?"
"Kau tahu aku suka padamu."
"Lebih daripada badut yang sedang muntahmuntah di dalam sana itu, kan?" Jacob menuding pintu toilet.
"Ya," aku mendesah.
"Lebih daripada cowok-cowok yang kaukcnal?"
Sikapnya kalem, tenang—seolah-olah jawabanku tidak penting, atau ia sudah tahu jawabannya.
"Lebih daripada cewek-cewek juga," jawabku.
"Tapi hanya itu," katanya, dan itu bukan pertanyaan.
Sulit sekali menjawabnya, sulit mengucapkan kata itu. Apakah ia bakal sakit hati dan menghindariku? Bagaimana aku bisa kuat menghadapinya?
"Ya," bisikku.
Jacob nyengir. "Itu tidak apa-apa, tahu. Asalkan kau paling suka padaku. Dan kau menganggapku ganteng—kayaknya Aku siap menjadi orang yang gigih dan menjengkelkan."
"Perasaanku tidak akan berubah,” kataku, dan meski berusaha agar suaraku tetap normal, aku bisa mendengar nada sedih di dalamnya.
Ekspresinya seperti berpikir, tak lagi menggoda.
"Pasti masih karena yang satu itu, kan?"
Aku meringis. Lucu juga bagaimana ia seolah tahu untuk tidak mengucapkan namanya—seperti sebelumnya di mobil mengenai musik. Jacob menangkap banyak hal tentang aku tanpa aku perlu menjelaskannya.
"Kau tidak perlu membicarakannya," kata Jacob. Aku mengangguk, bersyukur.
"Tapi jangan marah padaku kalau aku mendekatimu terus, oke?" Jacob menepuk-nepuk punggung tanganku. "Karena aku tidak mau menyerah. Aku masih punya banyak waktu."
Aku mendesah. "Seharusnya kau tidak menyianyiakannya
untukku," kataku, meski aku menginginkannya. Apalagi karena ia mau
menerimaku dalam keadaanku yang seperti ini—barang rusak, apa adanya.
"Aku memang ingin melakukannya, selama kau masih suka bersamaku."
"Aku tidak bisa membayangkan aku tidak suka bersamamu,” ungkapku jujur.
Jacob berseri-seri. "Itu sudah cukup buatku."
"Hanya saja jangan berharap lebih," aku mengingatkan, mencoba menarik tanganku. Jacob terus memeganginya dengan gigih.
"Ini tidak membuatmu rikuh, kan?" tanyanya, meremas jari-jariku.
"Tidak," desahku. Sejujurnya, rasanya menyenangkan. Tangannya jauh lebih hangat daripada tanganku; aku selalu merasa kedinginan
belakangan ini.
"Dan kau tidak peduli pada apa yang dia pikirkan." Jacob menyentakkan ibu jarinya ke arah toilet.
"Kurasa tidak."
"Kalau begitu apa masalahnya?"
"Masalahnya," ujarku, "karena ini artinya berbeda bagiku dan bagimu."
"Well," Jacob mempererat genggamannya. "Itu masalahku, kan?"
"Terserahlah," gerutuku. "Jangan lupa, tapi."
"Aku tidak akan lupa. Pin-nya sudah dilepaskan dari granatnya, sekarang, he?" Ia menohokkan jarinya ke rusukku.
Aku memutar bola mata. Kurasa kalau ia ingin menjadikan masalah ini sebagai lelucon, itu haknya. Jacob berdecak pelan sebentar waktu jari
manisnya menelusuri bekas luka di sisi tanganku. "Lucu juga bekas lukamu di sini ini," katanya tiba-tiba, memuntir tanganku untuk
mengamatinya. "Bagaimana kejadiannya?”
Telunjuk tangannya yang satu lagi menyusuri tepian bekas luka panjang berbentuk bulan sabit keperakan yang nyaris tak terlihat di kulitku yang
pucat.
Aku merengut. "Masa aku harus mengingat dari mana saja semua bekas lukaku berasal?"
Aku menunggu kenangan itu menghantamku— membuka lubang yang menganga. Tapi seperti yang sudah sering kali terjadi, kehadiran Jacob
menjagaku tetap utuh.
"Bekas luka ini dingin," gumamnya, menekan pelan tempat James dulu melukaiku dengan giginya.
Kemudian Mike tersaruk saruk keluar dari toilet, wajahnya kelabu dan berkeringat. Ia tampak kepayahan.
“Oh, Mike," aku kaget.
“Keberatan tidak kalau kita pulang lebih cepat?" bisiknya.
"Tidak, tentu saja tidak.” Kutarik tanganku dan berdiri untuk membantu Mike berjalan. Ia tampak limbung.
“Filmnya terlalu sadis untukmu?" tanya Jacob tanpa perasaan.
Pelototan Mike garang sekali. "Aku bahkan tidak sempat melihatnya," gumamnya. "Aku sudah mual sejak sebelum lampu-lampu dimatikan."
“Kenapa kau diam saja?" kumarahi dia sementara kami berjalan sempoyongan menuju pintu keluar.
“Aku berharap nanti akan hilang sendiri," jawab Mike.
"Tunggu sebentar," kata Jacob sesampainya kami di pintu. Ia cepat-cepat berjalan kembali ke kios makanan.
"Boleh minta wadah popcorn kosong?" tanyanya pada cewek penjaga kios. Cewek itu memandang Mike satu kali, lalu langsung menyodorkan wadah kosong pada Jacob.
“Bawa dia keluar, please," pinta si penjaga kios.
Jelas, cewek itulah yang kebagian tugas mengepel. Kuseret Mike ke udara luar yang dingin dan basah. Ia menghela napas dalam-dalam. Jacob berjalan tepat di belakang kami. Ia membantuku menaikkan Mike ke kursi belakang, lalu menyodorkan wadah itu padanya dengan mimik
serius. "Please,” hanya itu yang Jacob katakan.
Kami membuka semua jendela, supaya udara malam yang dingin berembus masuk, berharap itu bisa membantu Mike merasa lebih sehat. Aku memeluk kedua kakiku dengan kedua tangan agar tetap hangat.
"Kedinginan lagi?" tanya Jacob, merangkul pundakku sebelum aku sempat menjawab.
"Kau tidak?" Jacob menggeleng.
"Kau pasti demam atau sebangsanya," gerutuku.
Aku sendiri membeku kedinginan. Kusentuh keningnya dengan jari-jariku, dan kepalanya memang panas.
"Astaga, Jake—badanmu panas sekali!"
"Aku merasa baik-baik saja." Ia mengangkat bahu. "Sehat walafiat."
Aku mengerutkan kening dan menyentuh kepalanya lagi. Kulitnya membara di bawah jarijariku.
"Tanganmu sedingin es," protes Jacob.
"Mungkin memang aku yang kedinginan," aku mengalah.
Mike mengerang di kursi belakang, lalu muntah ke dalam wadah. Aku meringis, berharap perutku tahan mendengar dan mencium baunya. Jacob menoleh cemas untuk memastikan mobilnya tidak terkena muntahan.
Jarak terasa semakin panjang dalam perjalanan pulang. Jacob diam, merenung. Ia membiarkan lengannya tetap melingkari pundakku, dan rasanya begitu hangat hingga angin dingin terasa nyaman. Aku memandang ke luar kaca depan, hatiku diliputi perasaan bersalah.
Seharusnya aku tidak memberi harapan pada Jacob. Itu kulakukan murni karena egois. Tak peduli aku sudah berusaha memperjelas posisiku. Kalau ia merasa masih ada harapan, meskipun sedikit, untuk mengubah hubungan ini menjadi lebih dari sekadar persahabatan, itu berarti aku masih kurang jelas dalam memberinya penjelasan.
Bagaimana caraku menjelaskan supaya ia mengerti? Aku ini cangkang kosong. Ibarat rumah tak berpenghuni—ditinggalkan— selama berbulanbulan aku tak bisa didiami. Sekarang aku sedikit lebih baik. Ruang depan sudah diperbaiki. Tapi hanya itu—hanya satu ruang kecil. Padahal Jacob pantas mendapatkan lebih baik daripada itu—lebih
baik daripada sekadar satu ruangan yang sudah nyaris ambruk dan kemudian dibetulkan.
Sebanyak apa pun yang ia lakukan tidak akan bisa membuatku berfungsi kembali. Namun aku tahu aku takkan mau menjauhinya,
bagaimanapun juga. Aku terlalu membutuhkannya, dan aku egois. Mungkin aku bisa lebih memperjelas sisiku, supaya ia mau
meninggalkan aku. Pikiran itu membuatku bergidik, dan Jacob mempererat rangkulannya. Aku mengantar Mike pulang dengan Suburbannya, sementara Jacob mengikuti di belakang untuk
mengantarku pulang. Jacob lebih banyak diam sepanjang perjalanan menuju rumahku, dan aku bertanya-tanya dalam hati apakah ia memikirkan hal-hal yang sama seperti yang kupikirkan.
Mungkin saja ia berubah pikiran.
“Sebenarnya aku ingin mampir, karena kita pulang lebih cepat," kata Jacob sambil menghentikan mobilnya di samping trukku. "Tapi kurasa kau benar bahwa aku demam. Aku mulai merasa sedikit. aneh."
"Oh tidak, jangan sampai kau sakit juga! Kau mau aku mengantarmu pulang?"
"Tidak" Jacob menggeleng, alisnya bertaut. “Aku belum merasa sakit. Hanya. tidak enak badan. Kalau terpaksa sekali, aku akan berhenti di pinggir jalan."
"Maukah kau meneleponku begitu sampai di rumah?" tanyaku cemas.
"Tentu, tentu." Jacob mengerutkan kening, memandang lurus ke kegelapan, dan menggigit bibir.
Kubuka pintu untuk turun, tapi Jacob meraih
pergelangan tanganku dengan lembut dan memeganginya. Aku kembali merasakan betapa panas kulitnya bersentuhan dengan kulitku.
"Ada apa, Jake?" tanyaku.
"Ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu, Bella. tapi kurasa ini akan terdengar gombal." Aku mendesah. Ini pasti kelanjutan pembicaraan
di teater tadi. "Silakan."
"Begini, aku tahu kau sering merasa tidak bahagia. Dan mungkin ini tidak membantu apaapa, tapi aku ingin kau tahu aku akan selalu
mendampingimu. Aku tidak akan mengecewakanmu—aku berjanji kau akan selalu bisa mengandalkan aku. Wow, kedengarannya benar-benar gombal. Tapi kau tahu itu, kan? Bahwa aku tidak akan pernah, tidak sekali pun, menyakitimu?"
"Yeah, Jake. Aku tahu itu. Dan aku memang sudah mengandalkanmu, mungkin lebih daripada yang kau tahu."
Senyum merekah di wajahnya, seperti matahari terbit merekah merah di awan-awan, dan aku ingin memotong lidahku sendiri. Semua yang kukatakan memang benar, tapi seharusnya aku berbohong. Mengatakan hal sebenarnya adalah salah, itu hanya akan menyakiti hatinya. Aku akan mengecewakannya.
Mimik aneh melintas di wajahnya. "Kurasa aku benar-benar harus pulang sekarang," katanya. Aku cepat-cepat turun.
"Telepon aku!" teriakku begitu ia beranjak pergi.
Kupandangi mobilnya berlalu, dan sepertinya ia masih bisa mengemudikan mobilnya dengan baik, paling tidak. Kupandangi jalanan yang kosong setelah mobilnya lenyap, perasaanku juga sedikit tidak enak, tapi bukan karena alasan fisik.
Kalau saja Jacob Black terlahir sebagai saudara lelakiku, saudara laki-laki kandung, sehingga aku memiliki hak hukum atas dirinya yang membuatku bebas dari perasaan bersalah. Tuhan tahu aku tidak pernah berniat memanfaatkan Jacob, tapi perasaan bersalah yang kurasakan saat ini mau tak mau membuatku berpikir bahwa jangan-jangan memang itulah yang kulakukan. Terlebih lagi, aku tidak pernah berniat mencintai dia. Satu hal yang kuketahui benar—dan aku meyakininya dari lubuk hatiku yang terdalam, dari pusat tulang-tulangku, dari puncak kepala hingga ujung kaki, dari dalam dadaku yang hampa— cinta
memberi orang kekuatan untuk menghancurkanmu. Aku hancur luluh dan tidak bisa diperbaiki lagi. Tapi aku membutuhkan Jacob sekarang, membutuhkannya seperti obat. Aku sudah terlalu lama memanfaatkannya sebagai kruk, dan aku terjerumus lebih dalam daripada yang awalnya kurencanakan dengan orang lain.
Sekarang aku tak tega menyakiti hatinya, tapi aku juga tak bisa menahan diri untuk terus-menerus menyakitinya. Ia mengira waktu dan kesabaran akan mengubahku, dan, walaupun aku tahu ia salah besar, tapi aku juga tahu aku akan membiarkannya mencoba.
Ia sahabatku. Aku akan selalu sayang padanya, tapi itu takkan pernah cukup. Aku masuk untuk menunggu telepon dan menggigiti kuku.
"Filmnya sudah selesai?" tanya Charlie kaget waktu aku berjalan masuk. Ia duduk di lantai, tak sampai setengah meter dari TV. Pasti pertandingannya seru sekali.
"Mike tiba-tiba sakit," aku menjelaskan.
"Semacam flu perut.”
"Kau tidak apa-apa?"
"Sekarang sih aku baik-baik saja," jawabku ragu. Jelas, aku juga sudah tertular.
Aku bersandar di konter dapur, tanganku hanya beberapa sentimeter dari telepon, berusaha menunggu dengan sabar. Aku teringat mimik aneh di wajah Jacob sebelum pulang tadi, dan jari-jariku mengetuk-ngetuk konter. Seharusnya aku tadi memaksanya supaya mau diantar pulang. Kupandangi jam dinding sementara menit-menit berlalu. Sepuluh. Lima belas. Bahkan kalau aku yang menyetir, hanya butuh waktu lima belas menit untuk sampai ke sana, dan Jacob menyetir
mobilnya lebih cepat daripada aku. Delapan belas menit. Kuangkat telepon dan kuhubungi nomornya.
Teleponku berdering dan berdering. Mungkin Billy sudah tidur. Mungkin aku salah menekan nomor. Kucoba lagi. Pada deringan kedelapan, saat aku sudah hampir menyerah, Billy menjawab.
"Halo?" tanyanya. Suaranya waswas, seperti mengharapkan kabar buruk.
"Billy, ini aku, Bella—Jake sudah sampai di rumah belum? Dia berangkat dari sini dua puluh menit yang lalu."
"Dia sudah sampai," jawab Billy datar.
"Seharusnya dia meneleponku." Aku agak kesal.
"Dia merasa tidak enak badan waktu berangkat tadi, jadi aku khawatir."
"Dia. terlalu sakit sehingga tidak bisa menelepon. Dia sedang kurang sehat sekarang.”
Nada suara Billy seperti berjarak. Aku sadar ia pasti ingin menemani Jacob.
"Beritahu aku bila butuh bantuan,” aku menawarkan. "Aku bisa datang ke sana." Aku teringat pada Billy, terikat pada kursi rodanya, sementara Jake mengurus dirinya sendiri.
"Tidak, tidak," tolak Billy cepat-cepat. "Kami baik-baik saja. Kau di rumah saja."
Caranya mengatakan itu nyaris kasar.
“Oke "jawabku.
"Bye, Bella."
Well, paling tidak ia sudah sampai di rumah. Anehnya, kekhawatiranku tak kunjung mereda. Aku menaiki tangga dengan langkah-langkah berat,
cemas. Mungkin aku bisa ke rumahnya besok sebelum bekerja, untuk mengecek keadaannya. Aku bisa membawakan sup—kalau tidak salah
masih ada sekaleng sup Campbells tersimpan di suatu tempat.
Aku sadar semua rencana itu buyar ketika mendadak terjaga jauh lebih awal—jamku menunjukkan pukul setengah lima pagi—dan bergegas ke kamar mandi. Charlie menemukanku di sana setengah jam kemudian, terbaring di lantai, pipiku menempel di pinggir bak mandi yang dingin.
Ia menatapku lama sekali.
"Flu perut," akhirnya ia berkata.
"Ya," erangku.
“Kau butuh sesuatu?" tanyanya.
"Hubungi keluarga Newton, please?” pintaku dengan suara serak. "Katakan aku ketularan Mike, jadi tidak bisa masuk hari ini. Sampaikan juga permintaan maafku."
"Tentu, bukan masalah," Charlie meyakinkanku. Sepanjang sisa hari itu kuhabiskan di lantai kamar mandi, tidur beberapa jam dengan kepala
dibaringkan di atas handuk. Charlie mengatakan dirinya harus bekerja, tapi aku curiga itu hanya alasan karena ia butuh akses ke kamar mandi. Ia meninggalkan segelas air di lantai agar aku tidak dehidrasi.
Aku terbangun waktu ia datang. Kulihat hari sudah gelap di kamarku—hari sudah malam. Charlie menaiki tangga untuk mengecek kondisiku.
"Masih hidup?"
"Begitulah," jawabku.
"Kau menginginkan sesuatu?"
"Tidak, trims."
Charlie ragu-ragu sejenak, jelas bingung harus melakukan apa. "Oke, kalau begitu," katanya, lalu turun lagi ke dapur. Kudengar telepon berdering beberapa menit kemudian. Charlie berbicara dengan seseorang dengan suara pelan, lalu menutup telepon.
"Mike sudah sembuh," serunya padaku.
Well, pertanda bagus. Dia jatuh sakit kurang lebih delapan jam sebelum aku. Jadi tinggal delapan jam lagi. Pikiran itu membuat perutku mual, dan kuangkat tubuhku untuk membungkuk di atas toilet.
Aku ketiduran lagi di atas handuk, tapi waktu terbangun aku sudah berbaring di tempat tidur dan di luar jendela tampak terang. Aku tidak ingat pindah; Charlie pasti menggendongku ke kamar—ia juga meninggalkan segelas air di atas nakas.
Tenggorokanku kering kerontang. Kureguk habis isi gelasku, meski rasanya aneh. Perlahan-lahan aku bangkit, berusaha untuk tidak memicu timbulnya rasa mual lagi. Aku lemah, dan mulutku tidak enak, tapi perutku baikbaik saja. Kulirik jam.
Dua puluh empat jamku sudah berlalu. Aku tidak memaksakan diri, dan hanya makan biskuit asin untuk sarapan. Charlie tampak lega melihatku pulih. Begitu yakin tidak akan tergeletak lagi seharian di lantai kamar mandi, kutelepon Jacob.
Jacob sendiri yang menjawab, tapi begitu mendengar suaranya, aku tahu ia belum sembuh.
"Halo?" Suaranya serak, parau.
"Oh, Jake," aku mengerang bersimpati.
"Suaramu aneh."
"Aku memang merasa aneh," bisiknya.
“Aku sangat menyesal mengajakmu pergi denganku. Ini menyebalkan."
"Aku senang kok pergi." Suaranya masih berbisik. "Jangan salahkan dirimu. Ini bukan salahmu."
"Kau pasti sembuh sebentar lagi," aku meyakinkannya. "Waktu aku bangun tadi pagi, ternyata aku sudah sembuh."
"Memangnya kau sakit?" tanyanya datar.
"Ya, aku juga ketularan. Tapi sekarang aku sudah sembuh."
"Baguslah," Suaranya hampa.
"Jadi kau pasti juga akan sembuh dalam beberapa jam," aku menyemangatinya. Aku nyaris tidak mendengar jawabannya.
"Kurasa sakitku tidak sama denganmu."
"Kau bukannya flu perut?" tanyaku, bingung.
"Bukan. Ini lain."
“Apa yang terasa tidak enak?"
"Semuanya," bisik Jacob. "Sekujur tubuhku sakit."
Kesakitan di suaranya nyaris nyata.
"Apa yang bisa kubantu, Jake? Aku bisa membawakan apa untukmu?"
"Tidak ada. Kau tidak bisa datang ke sini."
Sikapnya kasar. Aku jadi teringat sikap Billy tempo hari.
"Aku kan sudah terekspos dengan penyakit apa pun yang merongrongmu saat ini," aku mengingatkan.
Jacob mengabaikan perkataanku. "Aku akan meneleponmu kalau bisa. Aku akan memberi tahu kapan kau bisa datang lagi."
"Jacob—"
"Aku harus pergi," katanya, mendadak buruburu.
"Telepon aku kalau kau sudah merasa lebih sehat."
"Baiklah," sahutnya, tapi suaranya terdengar pahit dan aneh.
Ia terdiam beberapa saat. Aku menunggunya mengucapkan selamat berpisah, tapi ia juga menunggu.
"Sampai ketemu lagi," kataku akhirnya.
"Tunggu sampai aku menelepon," katanya lagi.
"Oke. Bye, Jacob."
"Bella," ia membisikkan namaku, kemudian menutup telepon.


Copyright © 2015 Baca Online dan Seputar Blog
| Distributed By Gooyaabi Templates