Featured
Showing posts with label Hunger Games. Show all posts
Showing posts with label Hunger Games. Show all posts

June 20, 2015

The Hunger Games indonesia bagian 27

LAGU kebangsaan berdentam ditelingaku, lalu aku mendengar suara Caesar Flickerman menyambut penonton. Apakah dia tau betapa pentingnya setiap kata yang terucap harus benar dari sekarang? Pasti dia tau. Dia pasti akan membantu kami. Para penonton bertepuk tangan ketika tim persiapan muncul. Aku membayangkan Flavius, Venia dan Octavia berjalan mondar-mandir dan membungkuk-bungkuk konyol. Hampir dipastikan mereka tidak tau apa-apa. Lalu Effie diperkenalkan, entah sudah berapa lama dia menunggu momen ini. Kuharap dia bisa menikmatinya karena sebingung-bingungnya Effie, dia punya insting yang tajam tentang hal-hal tertentu dan pasti dia mengira bahwa kami dalam masalah. Tentu saja, Portia dan Cinna menerima sorak-sorai sambutan yang membahana, mereka brilian. Sekarang aku memahami pilihan gaun Cinna yang kupakai malam ini. Sebisa mungkin aku perlu tampak seremaja dan senaif mungkin. Kemunculan Haymitch menimbulkan rentetan tepuk tangan yang berlangsung paling tidak 5 menit. Bagaimanapun, dia menjadi yang pertama. Bukan hanya menjaga satu peserta tetap hidup, tapi dua. Bagaimana jika dia tidak memperingatkanku tepat pada waktunya? Akankah aku bertindak berbeda? Memamerkan momen dengan buah berry itu ke muka Capitol? Tidak, kurasa tidak. Tapi bisa jadi, aku jauh lebih tak meyakinkan di banding sekarang daripada yang seharusnya. Saat ini juga. Karena aku bisa merasa piringan logam itu mengangkatku ke panggung.
Cahaya yang membutakan. Sorakan yang memekakkan telinga mengguncang logam di bawah kakiku. Lalu kulihat Peeta hanya beberapa meter jauhnya. Dia tampak begitu bersih, sehat dan tampan, aku hampir tidak mengenalinya. Tapi senyumnya tetap sama, baik di lumpur atau di Capitol dan ketika aku melihatnya. Aku berjalan 3 langkah dan berlari ke pelukan Peeta. Dia tertatih mundur, hampir kehilangan keseimbangannya dan pada saat itulah aku menyadari benda logam yang di tangannya, semacam tongkat. Dia meluruskan tubuhnya dan kami berpelukan sementara para penonton menggila.
Peeta menciumku dan sepanjang waktu itu aku berpikir, Apakah kau tau? Apakah kau tau seberapa besar bahaya yang kita hadapi?
Setelah sekitar sepuluh menit, Caesar Flickerman menepuk bahu Peeta untuk melanjutkan acara dan Peeta hanya mendorong lelaki itu ke samping bahkan tanpa meliriknya. Penonton makin menggila. Entah Peeta tahu atau tidak, seperti biasa dia bisa memainkan perannya dengan baik di hadapan penonton.
Akhirnya,  Haymitch  datang  menyela  lalu  mendorong  kami  dengan  manis  menuju kursi pemenang. Biasanya kursi pemenang hanyalah 1 yang dihias, di sana peserta yang menang  menonton film  yang  terdiri  atas potongan-potongan Hunger Games yang  jadi sorotan. Tapi karena pemenangnya ada dua, para juri pertarungan telah menyediakan sofa beludru merah yang empuk. Sofa kecil yang dijuluki ibuku sebagai kursi cinta. Aku duduk amat dekat dengan Peeta hingga bisa dibilang aku duduk di pangkuannya. Tapi ketika aku menoleh memandang Haymitch aku tau usahaku belum cukup. Setelah melepas sandalku, aku melipat kakiku ke samping dan menyandarkan kepalaku di bahu Peeta. Secara otomatis lengannya memelukku dan aku merasa seakan aku kembali berada di gua, meringkuk di sampingnya, berusaha menjaga tubuh kami agar tetap hangat. Kemejanya
terbuat dari bahan berwana kuning yang sama seperti gaunku, tapi Portia menyuruhnya memakai celana panjang hitam. Dia tak mengenakan sandal, tapi sepatu bot hitam yang gagah. Seandainya saja Cinna memberiku pakaian yang sama.. aku merasa amat rapuh dalam gaun halus ini. Tapi kurasa itulah tujuannya.
Caesar Flickerman melontarkan beberapa lelucon, lalu tibalah saatnya tayangan utama. Tayangan ini berlangsung selama tiga jam dan harus ditonton di seluruh Panem. Semua lampu meredup dan lambang negara muncul di layar ,aku sadar aku tak siap menghadapi semua ini. Aku tak ingin melihat dua puluh dua peserta lain tewas. Cukup bagiku melihatnya di arena. Jantungku mulai berdebar dan aku merasakan dorongan kuat untuk lari. Bagaimana mungkin para pemenang menghadapi semua ini seorang diri? Selama  tayangan  ini,  sesekali  mereka  menampilkan  reaksi  pemenang  dikotak  kecil  di sudut layar televisi. Kuingat kembali tahun-tahun sebelumnya.. beberapa pemenang menunjukkan reaksi kemenangan, meninju udara, memukul dada mereka. Kebanyakan dari mereka tampak terperangah. Yang kutau, satu satunya yang membuatku tertahan di kursi   ini   hanyalah   Peeta—lengannya   memeluk   bahuku,   tangannya   yang   satu   lagi merangkul  kedua  tanganku.  Tentu  saja,  para  pemenang  sebelum  ini  tak  diintai  oleh Capitol untuk dihancurkan.
Memadatkan kegiatan beberapa minggu dalam satu jam merupakan prestasi tersendiri, terutama jika memperhitungkan berapa banyak kamera yang merekam pada saat yang sama. Siapapun yg menyusun tayangan ini harus memilih cerita apa yang ingin ditampilkannya. Tahun ini, untuk pertama kalinya, mereka menampilkan kisah cinta. Aku tau aku dan Peeta sudah menang, tapi tampak sekali mereka berlebihan menampilkan waktu-waktu kami berduaan sejak awal. Tapi aku lega, karena tayangan ini mendukung konsep jatuh-cinta-setengah-mati yang jadi pembelaanku melawan Capitol, selain itu kami tak perlu berlama-lama melihat kematian demi kematian.
Kurang-lebih setengah jam pertama terpusat pada kegiatan-kegiatan pra-arena, hari pemungutan, naik kereta kuda melintasi Capitol, nilai-nilai latihan kami dan wawancara- wawancara kami. Ada semacam lagu soundtrack dengan nada riang yang membuatnya terdengar jadi 2 kali lebih mengerikan, karena hampir semua yang ada di layar itu sudah
tewas.
Setelah kami di arena, ada liputan pertarungan berdarah yang mendetail lalu para pembuat   film   berganti-ganti   menayangkan   para   peserta   yang   tewas   dan   kami. Kebanyakan yang ditampilkan adalah Peeta, tak diragukan lagi dia memainkan peran asmara ini dengan baik. Sekarang aku melihat apa yang dilihat para penonton, bagaimana dia mengelabui kawanan Karier tentang diriku. Terjaga sepanjang malam dibawah pohon tawon penjejak. Melawan Cato agar aku bisa lolos. Bahkan ketika dia bersembunyi ditepi sungai  berlumpur.  Membisikkan  namaku  dalam  tidurnya.  Sebaliknya,  aku  seperti  tak punya perasaan—menghindari bola-bola api, menjatuhkan sarang tawon dan meledakkan persediaan makanan — sampai aku berburu untuk Rue. Mereka menayangkan kematiannya dengan utuh, tombak menembus tubuhnya, usaha penyelamatanku yang gagal, anak panahku yang menembus leher anak lelaki dariDistrik 1, Rue yang menghembuskan napas terakhirnya dipelukanku. Dan lagunya. Aku menyanyikan setiap nada dalam lagu itu. Ada sesuatu yang mati dalam diriku dan aku terlalu mati rasa untuk
bisa  merasakan  sesuatu.  Aku  seperti  menonton  orang  asing  dalam  tayangan  Hunger Games  yang  lain.  Tapi  aku  perhatikan  mereka  tak  menyertakan  bagian  ketika  aku menghias jasadnya dengan bunga-bungaan.
Benar. Karena itu berarti setitik tanda pemberontakan.
Keadaan berbalik mengarah padaku setelah mereka mengumumkan bahwa dua peserta dari distrik yang sama bisa tetap hidup dan aku menyerukan nama Peeta lalu buru-buru menutup mulutku dengan tangan. Jika awalnya aku tidak peduli dengan Peeta, aku  membayarnya  sekarang,  dengan  mencarinya,  merawatnya  hingga  kembali  sehat, pergi  ke  pesta  untuk  mengambil  obat  dan  menciumnya  tanpa  pikir  panjang.  Secara objektif, aku bisa melihat mutt-mutt itu dan kematian Cato sebagai kejadian mengerikan, tapi aku merasakannya terjadi pada orang-orang yang tak pernah kukenal.
Lalu tibalah momen buah berry itu. Aku bisa mendengar penonton saling menyuruh yang  lain untuk diam,  mereka  tak  mau  melewatkan yang  satu  ini.  Gelombang  syukur untuk para pembuat film mengaliri sekujur tubuhku ketika mereka tak mengakhiri tayangan ini dengan pengumuman nama kami sebagai pemenang, tapi dengan aku memukuli  pintu  kaca  di  pesawat  ringan,  meneriakkan  nama  Peeta  ketika  mereka berusaha menghidupkannya lagi.
Dalam hal bertahan hidup, itu adalah malam terbaikku.
Lagu  kebangsaan  diputar  lagi  dan  kami  berdiri  ketika  Presiden  Snow  naik  ke panggung diiringi gadis kecil yang membawa bantalan yang berisi mahkota. Tapi hanya ada satu mahkota disana, terdengar kebingungan dari penonton—akan dipasang dikepala siapa?—sampai Presiden Snow memutar mahkota itu dan memisahkannya jadi dua. Dia memasang mahkota pertama disekitar alis Peeta sambil tersenyum. Dia masih tersenyum ketika   memasang   mahkota   kedua   dikepalaku,   tapi   matanya,   yang   hanya   berjarak beberapa sentimeter dariku, tampak selicik ular.
Saat itulah aku tahu bahwa meskipun kami berdua makan buah berry itu, akulah yang akan disalahkan karena punya ide semacam itu. Akulah penghasutnya. Akulah yang akan dihukum.
Selanjutnya kami membungkuk memberi hormat dan bersorak gembira. Tanganku hampir   putus   karena   kebanyakan   melambai   ketika   Caesar   Flickerman   akhirnya
menyampaikan ucapan selamat malam pada para penonton, mengingatkan mereka untuk tetap menyaksikan televisi untuk wawancara akhir.
Aku dan Peeta digiring menuju rumah Presiden untuk Makan Malam Kemenangan, disana kami tidak punya banyak waktu untuk makan karena para pejabat Capitol dan para
sponsor  yang  murah  hati  saling  berebutan  untuk  berfoto  bersama  kami.  Wajah  demi
wajah lewat begitu saja dan jadi terasa memabukkan seiring dengan berlalunya malam. Kadang-kadang,sekilas aku melihat Haymitch, yang membuatku tenang atau Presiden Snow, yang membuatku takut, tapi aku tetap tertawa dan berterima kasih pada orang- orang dan tersenyum ketika difoto. Satu-satunya yang tak pernah kulepaskan adalah tangan Peeta.
Matahari sudah mengintip dibalik cakrawala ketika kami kembali ke lantai dua belas di Pusat Latihan. Kupikir akhirnya aku bisa bicara berdua dengan Peeta, tapi Haymitch
mengirimnya ke Portia untuk mencoba pakaian untuk wawancara dan mengawalku menuju pintu kamarku.
"Kenapa aku tak boleh bicara dengannya?" tanyaku.
"Banyak waktu untuk bicara di rumah nanti," sahut Haymitch. "Tidurlah, kau akan masuk televisi jam dua nanti."
Meskipun dihalangi Haymitch, aku bertekad untuk bisa bertemu Peeta berdua saja. Setelah aku berbaring diranjang tanpa bisa memejamkan mata selama beberapa jam, aku
berjalan menuju lorong kamar. Pikiran pertamaku adalah memeriksa atap, tapi tak ada
siapa-siapa disana. Bahkan jalanan di bawah sana tampak kosong setelah perayaan tadi malam. Aku kembali ke kamarku sebentar lalu memutuskan untuk langsung ke kamarnya, tapi ketika aku berusaha memutar kenop pintu ternyata kamarku dikunci dari luar. Awalnya kukira Haymitch pelakunya, tapi ada ketakutan yang tersembunyi bahwa Capitol mungkin mengawasi dan menahanku di sini. Aku tak pernah bisa kabur sejak Hunger Games dimulai, tapi ini lebih personal. Kali ini terasa seperti aku ditahan atas kejahatan yang kulakukan dan menunggu hukuman. Dengan cepat aku kembali ke ranjang dan pura- pura tidur sampai Effie Trinket datang membangunkan dengan sapaan "Hari ini hari besaaaar!"
Aku punya waktu lima menit untuk makan semangkuk bubur panas dan rebusan daging sebelum tim persiapan turun. Yang harus kukatakan adalah, "Para penonton mencintaimu!" dan tak perlu berbicara lagi selama beberapa jam selanjutnya. Ketika Cinna datang, dia mengusir mereka semua dan memakaikanku gaun putih tipis dan sepatu pink. Kemudian dia memperbaiki riasan wajahku sampai aku tampak memancarkan kilau halus kemerahan. Kami ngobrol basa-basi, tapi aku takut menanyakan sesuatu yang sungguh- sungguh penting padanya karena sehabis peristiwa pintu itu, aku tak bisa mengenyahkan perasaan bahwa aku sedang diawasi terus-menerus.
Wawancara berlangsung di ruang duduk. Ruangan itu sudah dibersihkan dan kursi cinta dipindahkan kemari, dikelilingi berbagai vas bunga berisi mawar merah dan pink. Hanya beberapa kamera yang akan merekam acara ini. Tidak ada penonton.
Caesar  Flickerman  memelukku  dengan  hangat  ketika  aku  masuk  ke  ruangan. "Selamat, Katniss. Bagaimana keadaanmu?"
"Baik. Tegang untuk wawancara," kataku.
"Jangan tegang. Kita akan melewati saat yang menyenangkan," katanya. "Aku tak bagus bicara tentang diriku sendiri," kataku.
"Tidak bakal ada perkataanmu yang salah," katanya.
Lalu aku berpikir, Oh, Caesar, seandainya saja apa katamu itu benar. Padahal sesungguhnya, Presiden Snow mungkin merancang semacam "kecelakaan" untukku ketika kita sedang mengobrol.
Lalu Peeta berdiri disana ,tampak tampan dengan pakaian berwarna merah dan putih, menarikku   ke   samping.   "Aku   tak   bisa   bertemu   denganmu.   Haymitch   bertekad
memisahkan kita."
Sesungguhnya Haymitch bertekad menjaga kami tetap hidup, tapi terlalu banyak telinga yang mendengar, jadi aku cuma bilang, "Ya, dia jadi sangat bertanggung jawab belakangan ini."
"Yah, hanya tinggal ini dan kita bisa pulang. Dia tak bisa mengawasi kita terus- menerus," kata Peeta.
Aku merasakan keringat dingin menetes dan tidak ada waktu lagi untuk mencari tau kenapa aku berkeringat, karena mereka sudah siap untuk kami. Kami duduk dalam posisi formal dikursi cinta itu. Tapi, Caesar berkata, "Oh, sana mendekat dan bergelunglah disampingnya kalau kau mau. Tampaknya sangat manis."
Jadi aku berdiri lalu Peeta menarikku mendekat padanya.
Ada  orang  yang  menghitung  mundur dan  tahu-tahu  kami  sudah  disiarkan  secara langsung ke seantero negri. Caesar Flickerman luar biasa, dia menggoda, bercanda dan terharu pada saat-saat yang diperlukan. Dia dan Peeta sudah memiliki hubungan yang terbentuk pada malam wawancara pertama, obrolan santai semacam itu, jadi aku hanya banyak tersenyum dan bicara sesedikit mungkin. Maksudku, aku harus berbicara sedikit,
tapi sebisa mungkin aku segera mengarahkan percakapan kembali ke Peeta.
Namun pada akhirnya, Caesar mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang butuh jawaban lebih lengkap.
"Well,  Peeta,  pada  hari-hari  kalian  di  gua,  kami  tau  bahwa  dia  adalah  cinta pertamamu sejak usia lima tahun, benar?" tanya Caesar.
"Sejak pertama kali aku memandangnya," kata Peeta.
"Tapi  Katniss,  ini  perjalanan  yang  luar  biasa  untukmu,"  kata  Caesar.  "Kurasa  hal paling seru yang dinantikan penonton adalah melihatmu jatuh cinta padanya. Kapan kau sadar bahwa kau jatuh cinta padanya?" tanya Caesar.
"Oh, ini sulit..," aku tertawa dibuat- buat dan menunduk memandangi kedua tanganku. Tolong.
"Yah, aku tau kapan kau sadar. Malam ketika kau meneriakkan namanya dari pohon itu," kata Caesar.
Terima kasih, Caesar! pikirku, lalu aku meneruskan idenya. "Ya, kurasa itulah saatnya.
Maksudku, sebelum saat itu aku berusaha tak memikirkan perasaan-perasaanku padanya, sejujurnya karena itu membingungkan dan hanya akan memperburuk keadaan jika aku sungguh-sungguh menyayanginya. Tapi, di pohon pada saat itu, segalanya berubah," kataku.
"Kenapa begitu?" desak Caesar.
"Mungkin.. karena untuk pertama kalinya.. ada kemungkinan aku bisa memilikinya," kataku.
Dibelakang juru kamera, aku melihat Haymitch mendesah lega dan aku tau aku mengatakan hal yang benar.
Caesar mengeluarkan saputangan dan mengambil waktu sejenak karena dia merasa amat terharu.
Aku bisa merasakan dahi Peeta menempel di pelipisku lalu bertanya, "Jadi sekarang setelah kau memilikiku, apa yang akan kaulakukan terhadapku?"
Aku menoleh memandangnya. "Menaruhmu ditempat dimana kau tak bisa dilukai." Dan ketika Peeta menciumku, orang-orang di ruangan terdengar mendesah.
Caesar langsung meneruskan dengan berpindah adegan menanyakan segala macam luka yang kami alami di arena, luka bakar, sengatan tawon dan luka-luka lain. Tapi baru
pada giliran bercerita tentang mutt, aku lupa bahwa aku sedang berada di depan kamera. Ketika Caesar bertanya pada Peeta bagaimana keadaan "kaki baru"nya.
"Kaki baru?" tanyaku, lalu aku tak bisa menahan diri untuk tak mengulurkan tangan dan  menarik  bagian  bawah  celana  Peeta.  "Oh,  tidak,"  bisikku,  sambil  menyentuh  alat logam-dan-plastik yang mengganti dagingnya.
"Tak ada yang memberitahumu?" tanya Caesar dengan lembut. Aku menggeleng.
"Aku belum sempat memberitahunya," kata Peeta sambil mengangkat bahu sedikit. "Ini salahku," kataku. "Karena aku menggunakan turniket itu."
"Ya, salahmu aku hidup." ujar Peeta.
"Peeta benar," kata Caesar. "Dia pasti mati kehabisan darah jika tak kautolong."
Kurasa  pernyataannya  benar,  tapi  aku  tidak  bisa  menahan  perasaan  bingungku hingga kupikir aku bakal menangis, lalu aku teringat pada kenyataan bahwa semua orang di negri ini menontonku jadi segera saja kubenamkan wajahku di kemeja Peeta. Butuh waktu beberapa menit untuk membujukku melepaskan wajahku dari kemeja Peeta karena lebih baik aku menangis disana dan ketika aku akhirnya melepaskan Peeta, Caesar tak lagi menanyaiku agar aku bisa memulihkan diri. Bahkan dia sama sekali tak menanyaiku apa- apa sampai ke kejadian dengan buah berry itu.
"Katniss, aku tau kau shock, tapi aku harus bertanya. Pada saat kau mengeluarkan buah-buah berry itu. Apa yang ada dalam pikiranmu..?" tanyanya.
Aku terdiam lama sebelum menjawab, berusaha mengingat lagi pikiranku. Ini adalah momen penting apakah aku akan menantang Capitol atau melanjutkan gagasan gila bahwa membayangkan Peeta tewas membuatku gila sehingga aku tak bisa mempertanggungjawabkan   perbuatanku.   Rasanya   aku   harus   mengucapkan   pidato panjang yang dramatis, tapi yang terucap dari mulutku adalah satu kalimat pendek yang nyaris tak terdengar. "Aku tak tau, aku hanya.. tidak bisa membayangkan.. hidup tanpa dia."
"Peeta? Ada yang mau kautambahkan?" tanya Caesar.
"Tidak. Kurasa jawaban itu sama untuk kami berdua," jawab Peeta.
Caesar  berpamitan  dan  acarapun  selesai.  Semua  orang  tertawa,  menangis  dan berpelukan, tapi aku masih tak yakin sampai aku mendekat ke Haymitch.
"Oke?" bisikku. "Sempurna," jawabnya.
Aku kembali ke kamarku untuk mengambil beberapa barang dan tak menemukan apapun kecuali pin mockingjay yang diberikan Madge. Ada orang yang mengembalikannya
ke kamarku seusai Hunger Games. Mereka mengantar kami melewati jalanan dikota menuju kereta yang sudah menunggu kami. Kami hampir tak punya waktu untuk mengucapkan selamat tinggal pada Cinna dan Portia, meskipun kami bakalan bertemu
mereka dalam beberapa bulan ke depan, ketika kami melakukan kunjungan keliling ke
distrik-distrik dalam upacara kemenangan. Ini adalah cara Capitol untuk mengingatkan orang bahwa Hunger Games sesungguhnya tak pernah berlalu. Kami semua akan dijejali banyak omong kosong dan semua orang akan berpura-pura menyanjung kami.
Kereta mulai bergerak dan kami menuju kegelapan malam sampai kami keluar dari terowongan dan pada saat itulah aku bisa bernapas lega untuk pertama kalinya sejak hari pemungutan. Effie mendampingi kami kembali ke distrik dan tentu saja, Haymitch ikut serta. Kami makan malam banyak sekali dan duduk tanpa bicara di depan TV untuk menonton siaran ulang wawancara. Sementara Capitol makin menjauh dibelakangku, aku mulai  memikirkan rumah.  Tentang  Prim  dan ibuku.  Tentang  Gale.  Aku  permisi  untuk mengganti gaunku dengan kaus sederhana dan celana panjang. Perlahan-lahan aku membasuh riasan wajahku dan mengepang rambutku. Aku mulai bertransformasi menjadi diriku. Katniss Everdeen. Gadis yang tinggal di Seam. Berburu di hutan. Berdagang di Hob. Aku memandangi cermin sementara aku mengingat siapa aku dan siapa yang bukan aku. Pada saat aku bergabung dengan yang lain, tekanan yang kurasakan dari lengan Peeta yang merangkulku terasa asing.
Ketika kereta berhenti sebentar untuk mengisi bahan bakar, kami diperbolehkan keluar untuk menghirup udara segar. Tak ada gunanya lagi mengawasi kami. Aku dan
Peeta berjalan di sepanjang rel, bergandengan tangan dan kini setelah kami berduaan aku
malah  tidak  tau  ingin  bicara  apa.  Peeta  berhenti  untuk  memetik  bunga-  bunga  liar untukku. Ketika dia memberikan bunga itu padaku, aku berusaha keras untuk tampak senang. Karena dia tak tau bahwa bunga-bunga berwarna pink-putih itu adalah bunga dari bawang liar dan membuatku teringat pada jam-jam yang kuhabiskan bersama Gale untuk mengumpulkannya.
Gale.  memikirkan  diriku  akan  bertemu Gale  beberapa jam  lagi  membuat  perutku mulas.  Tapi  kenapa?  Aku  tidak  bisa  menyusun  alasannya  di  benakku.  Aku  hanya  tau bahwa aku merasa berbohong pada dua orang yang percaya padaku. Sejauh ini aku bisa lolos dalam kebohonganku atas nama Hunger Games. Tapi dirumah tak ada lagi Hunger Games yang bisa jadi tamengku.
"Ada apa?" tanya Peeta.
"Tidak apa-apa," jawabku. Kami terus berjalan, melewati gerbong terakhir, hingga aku yakin tidak ada kamera tersembunyi di semak-semak disepanjang rel. Tapi tidak ada kata terucap dari bibirku.
Haymitch membuatku terlonjak ketika dia menepuk punggungku. Bahkan saat ini, ditempat tersembunyi entah dimana, dia bicara dengan suara rendah.
"Kerja yang bagus, kalian berdua. Tetap teruskan sampai tidak ada kamera lagi. Kita akan baik-baik saja."
Aku mengawasi Haymitch berjalan kembali ke kereta dan menghindari tatapan Peeta. "Apa maksud Haymitch?" Peeta bertanya padaku.
"Capitol. Mereka tidak menyukai aksi kita dengan buah berry itu," jawabku. "Apa? Apa sih yang kaubicarakan?" tanya Peeta.
"Tindakan itu berbau pemberontakan. Jadi, Haymitch sudah mengarahkanku selama beberapa terakhir ini. Agar aku tidak memperburuk keadaan," kataku.
"Mengarahkanmu? Tapi aku tidak," kata Peeta.
"Dia tau kau cukup cerdas untuk melakukannya dengan benar," kataku.
"Aku tak tau ada yang harus dilakukan dengan benar," tukas Peeta. "Jadi maksudmu, beberapa hari terakhir ini dan kupikir.. di arena.. adalah strategi yang kalian rencanakan?"
"Bukan. Maksudku, aku tak bisa bicara dengannya di arena kan?" kataku tergagap. "Tapi  kau  tau  dia  ingin  kau  melakukan  apa,  kan?"  tanya  Peeta.  Kugigit  bibirku.
"Katniss?"
Peeta melepaskan tanganku dan aku berjalan selangkah, seakan ingin menemukan keseimbanganku lagi.
"Itu semua demi Hunger Games," kata Peeta. "Kau cuma berakting." "Tidak semuanya akting," kataku sambil memegangi bungaku erat-erat.
"Seberapa banyak, kalau begitu? Ah, lupakan saja. Kurasa pertanyaan sesungguhnya
adalah seberapa banyak yang tersisa ketika kita di rumah nanti?" tanyanya.
"Aku tidak tau. Distrik 12 makin dekat dan aku jadi makin bingung," kataku. Peeta menunggu penjelasan lebih lanjut, tapi tak ada kata-kata yang keluar.
"Yah, beritahu aku kapan kau tidak bingung lagi," katanya, kepedihan dalam suaranya terdengar jelas.
Aku bisa mendengar langkah kaki Peeta kembali ke gerbong kereta. Pada saat aku naik ke gerbong, Peeta sudah menghilang ke kamarnya sepanjang malam. Keesokan paginya aku juga tak melihatnya. Pada saat Peeta muncul, kami sudah memasuki distrik
12. Dia mengangguk padaku, wajahnya tanpa ekspresi.
Aku ingin bilang padanya bahwa dia bersikap tidak adil. Bahwa kami adalah dua orang yang tak saling mengenal. Bahwa aku melakukan apa yang perlu dilakukan untuk membuat kami tetap hidup, untuk membuat kami berdua tak tewas di arena. Bahwa aku tidak bisa menjelaskan hubunganku dengan Gale karena aku sendiri tidak tahu.   Bahwa tak  ada  gunanya  mencintaiku  karena  aku  juga  takkan  pernah  mau  menikah  dan  dia bakalan membenciku suatu saat nanti. Bahwa jika aku punya perasaan untuknya, semua itu tak penting lagi karena aku takkan pernah bisa punya cinta semacam itu, yang bisa membuatku  membayangkan  keluarga dan anak-anak.  Bagaimana mungkin  Peeta  bisa? Bagaimana bisa setelah semua yang kami alami?
Aku juga ingin memberitahunya bahwa saat ini aku sudah merindukannya. Tapi itu berarti aku bersikap tidak adil.
Jadi kami berdiri tanpa bicara. Melalui jendela, aku bisa melihat peron penuh dengan kamera. Semua orang bersemangat menyambut kepulangan kami.
Dari sudut mataku, kulihat Peeta mengulurkan tangannya. Aku memandangnya, tak yakin dengan apa yang harus kulakukan.
"Sekali lagi? Untuk penonton?" tanya Peeta. Suaranya tak terdengar marah. Suaranya terdengar kosong dan itu lebih buruk kedengarannya. Anak lelaki dengan roti itu sudah
terlepas dari genggamanku.
Kupegang tangan Peeta, kugenggam erat-erat, aku bersiap-siap menghadapi kamera, dan ngeri membayangkan saat ketika aku harus melepaskan genggaman tangan Peeta.



-------AKHIR BUKU SATU-------

The Hunger Games indonesia bagian 26

KULUDAHKAN buah-buah berry dari mulutku, mengelap lidah dengan ujung kausku untuk memastikan tidak ada cairan berry yang menempel. Peeta menarikku ke danau, disana kami membasuh mulut kami dengan air lalu ambruk berpelukan.
"Kau tak menelannya kan?" aku bertanya padanya. Peeta menggeleng. "Kau?"
"Kurasa aku sudah mati kalau ada yang tertelan," kataku.
Aku bisa melihat bibirnya bergerak untuk menjawab, tapi aku tidak bisa mendengarnya   di   antara   gemuruh   raungan   penonton   di   Capitol   yang   mereka perdengarkan langsung ke arena melalui pengeras suara.
Pesawat ringan muncul diatas kepala dan dua tangga turun, hanya saja tak mungkin aku melepaskan Peeta. Satu tanganku masih merangkulnya ketika aku membantunya naik
dan kami berdua menaruh satu kaki di anak tanggapaling bawah. Arus listrik membuat
kami membeku ditempat dan aku lega karena aku tidak yakin Peeta sanggup bertahan sepanjang perjalanan. Karena kami bisa memandang ke bawah sementara otot-otot kami tak bisa bergerak, aku bisa melihat darah mengalir keluar dari kaki Peeta. Tidak heran ketika pintu menutup dibelakang kami dan arus listrik itu berhenti, Peeta langsung tak sadarkan diri dilantai.
Jemariku masih memegang bagian belakang jaketnya kuat-kuat sehingga ketika mereka menariknya pergi, di tanganku terenggut segenggam kain hitam. Dokter dengan pakaian steril putih, bermasker dan sarung tangan, sudah siap untuk mengoperasi Peeta dan langsung beraksi. Peeta tampak begitu pucat dan tenang di atas meja perak, berbagai tabung dan kabel mencelat dari berbagai sisi tubuhnya. Sesaat aku lupa kami sudah tidak lagi berada di Hunger Games dan aku melihat para dokter sebagai salah satu ancaman lain, sekawanan mutt yang dirancang untuk membunuhnya. Dengan ngeri, aku menerjang ke arahnya, tapi aku ditangkap dan ditarik ke ruangan lain, pintu kaca menutup diantara kami. Kugedor-gedor pintu kaca, berteriak sekuat-kuatnya. Semua orang mengabaikanku kecuali beberapa pelayan Capitol yang muncul dari belakangku dan menawariku minum.
Aku terduduk di lantai, wajahku menghadap pintu, memandangi gelas kristal di tanganku. Sedingin es, terisi jus jeruk, sedotan dengan rumbai-rumbai putih. Betapa tidak pasnya  benda  ini  berada  di  tanganku  yang  berdarah,  kotor  dengan  kuku-kuku  penuh tanah dan bekas-bekas luka. Mulutku langsung mengeluarkan liur mencium aroma yang nikmat, tapi kutaruh gelas itu dengan hati-hati ke lantai, aku tidak percaya pada sesuatu yang tampak begitu bersih dan cantik.
Melalui pintu kaca, aku melihat para dokter bekerja giat mengobati Peeta, alis mereka bertautan ketika berkonsentrasi. Aku melihat cairan dipompakan ke tubuhnya melalui tabung-tabung, mengamati deretan tombol dan lampu yang tak berarti apa-apa bagiku. Aku tidak yakin, tapi kupikir jantungnya berhenti dua kali.
Aku serasa berada di rumah lagi, ketika mereka membawa tubuh korban yang hancur
karena ledakan tambang, atau wanita yang sudah tiga hari menunggu persalinannya yang tak kunjung tiba, atau anak kelaparan berusaha melawan pneumonia sementara ibuku dan Prim menunjukan ekspresi yang sama seperti para dokter itu. Sekarang saatnya untuk
berlari ke hutan, bersembunyi di antara pepohonan sampai si pasien itu sudah lama tewas dan di bagian lain Seam peti mati sedang dibuat. Tapi aku tertahan di sini dengan dinding- dinding pesawat ringan dan kekuatan yang sama yang menahan orang-orang yang mencintai mereka yang di ambang batas maut. Entah sudah berapa kali aku melihat mereka, mengelilingi meja dapur kami dan aku pikir, Kenapa mereka tak pergi? Kenapa mereka tetap tinggal untuk melihat?
Dan sekarang aku tau. Itu karena kau tak punya pilihan.
Aku   terkejut   ketika   melihat   ada   yang   memandangku   dalam   jarak   beberapa sentimeter, lalu aku tersadar bahwa aku sedang melihat wajahku sendiri yang terpantul di kaca. Tatapan mata yang liar, pipi yang cekung, rambut kusut. Ganas. Buas. Gila. Tidak heran semua orang menjaga jarak aman denganku.
Selanjutnya  yang kutahu  kami  mendarat  diatap  Pusat Latihan,  mereka  membawa
Peeta tapi meninggalkanku di belakang pintu. Kubenturkan tubuhku ke kaca sambil menjerit-jerit. Kupikir  sekilas  aku  melihat  bayangan  rambut  pink—pasti  rambut  Effie,
pasti Effie datang menyelamatkanku—ketika jarum suntik menusukku dari belakang.
Ketika aku terbangun, mulanya aku takut bergerak. Seluruh langit-langit berbinar dengan sinar kuning lembut membuatku bisa melihat bahwa aku berada di kamar yang di dalamnya hanya ada ranjangku.Tidak tampak pintu atau jendela. Ada bau menyengat dan bau antiseptik diudara. Dilengan kananku ada beberapa slang yang menjulur hingga ke dinding di belakangku. Aku telanjang, tapi seprai terasa nyaman di kulitku. Ragu-ragu aku mengangkat tangan kiriku diatas selimut. Tidak hanya tanganku sudah digosok hingga bersih, kuku-kukunyapun sudah dibentuk menjadi oval sempurna, bekas luka bakarnya tak tampak terlalu kentara lagi. Kusentuh pipiku, bibirku, luka lama di atas alisku dan jemariku baru saja menyentuh rambutku yang halus ketika aku tercekat. Takut-takut aku menyentuh rambut didekat telinga kiriku. Bukan, ini bukan ilusi. Aku bisa mendengar lagi.
Aku berusaha bangkit dan duduk, tapi ada semacam pengikat yang menahan tubuhku di sekitar pinggang sehingga aku hanya bisa bangkit tak lebih dari beberapa sentimeter. Tubuhku yang tertahan ini membuatku panik dan aku berusaha bergerak duduk, menggoyang-goyangkan  pahaku  keluar  dari  pengikat  ketika  ada  bagian  dinding  yang
terbuka   dan   gadis   Avox   berambut   merah   melangkah   masuk   membawa   nampan.
Melihatnya membuatku tenang dan aku berhenti mencoba melepaskan diri. Aku ingin menanyakan jutaan pertanyaan padanya, tapi aku takut jika aku kelihatan mengenalinya dia malah akan kena bahaya. Saat ini tentu aku diawasi secara ketat. Dia menaruh nampan diatas pahaku dan menekan sesuatu yang membuat ranjangku bergerak hingga aku dalam posisi duduk. Ketika dia mengatur bantal-bantalku, aku memberanikan diri mengajukan satu pertanyaan. Kutanyakan pertanyaan itu dengan lantang, selantang yang bisa kuucapkan dengan suara serakku, jadi tak tampak ada rahasia. "Apakah Peeta selamat?"
Gadis itu mengangguk. Lalu dia menyelipkan sendok ke tanganku dan aku merasakan tekanan persahabatan darinya.
Kurasa dia tidak mengharapkan aku mati. Dan Peeta berhasil selamat. Tentu saja, dia selamat. Dengan segala peralatan canggih dan mahal yang ada ditempat ini. Tapi, aku tidak pernah yakin sampai saat ini.
Ketika si Avox pergi, pintu menutup tanpa suara dibelakangnya lalu aku menyerbu isi nampan dengan rakus. Semangkuk kuah daging yang jernih, sedikit saus apel dan segelas air. Cuma ini? pikirku geram. Bukankah makan malam menyambut kepulanganku seharusnya lebih spektakuler? Tapi ternyata aku harus susah payah menghabiskan sedikit makanan yang tersaji di depanku. Lambungku sepertinya menyusut hingga seukuran kacang, sehingga aku bertanya-tanya sudah berapa lama aku pingsan karena tak sulit bagiku makan sarapan lumayan banyak tadi pagi di arena pertarungan. Biasanya ada jeda beberapa hari antara akhir pertarungan dan tampilnya pemenang, agar mereka bisa mengembalikan pemenang, yang kelaparan, terluka dan kacau hingga utuh lagi. Entah dimana, Cinna dan Portia akan membuat pakaian untuk penampilan kami didepan umum. Haymitch dan Effie akan mengatur pesta untuk para sponsor kami, meninjau pertanyaan- pertanyaan untuk wawancara-wawancara akhir kami. Di kampung halaman, distrik 12 mungkin dalam kondisi  kacau  karena mereka  berusaha mengatur pesta penyambutan untuk aku dan Peeta, mengingat pesta penyambutan terakhir diadakan hampir tiga puluhtahun lalu.
Rumah! Prim dan ibuku! Gale! Bahkan memikirkan kucing tua budukan milik Prim saja membuatku tersenyum. Tak lama lagi aku akan pulang ke rumah!
Aku ingin turun dari  ranjang ini.  Melihat Peeta dan Cinna, mencari tau apa yang terjadi. Dan kenapa aku  tak boleh  melakukannya? Aku merasa sehat. Tapi ketika aku berusaha melepaskan diri dari ikatan, aku merasakan cairan dingin masuk ke pembuluh darahku dari salah satu slang dan seketika aku hilang kesadaran.
Ini terjadi beberapa kali dalam waktu yang tak bisa kuhitung. Aku bangun, makan,
meskipun aku berusaha menolak dengan turun dari ranjang, aku tak sadarkan diri lagi. Seakan-akan aku berada dalam senja yang aneh dan tak berkesudahan. Hanya beberapa hal yg kuingat. Gadis Avox berambut merah tak pernah datang lagi sejak membawakanku makanan, bekas luka-lukaku mulai menghilang dan apakah aku cuma mengkhayalkannya? Atau apakah aku mendengar laki-laki berteriak? Bukan dengan aksen Capitol, tapi dengan irama aksen dirumah yang lebih kasar. Dan aku tak bisa tidak merasakan perasaan menenangkan yang samar bahwa ada seseorang yang menjagaku.
Akhirnya, tiba waktunya ketika aku sadar dan tak ada slang yang menempel dilengan kananku. Ikatan penahan dibagian tengah tubuhku juga sudah lepas dan aku bebas bergerak kemanapun. Aku mulai duduk tapi terpukau melihat kedua tanganku. Kulitku tampak sempurna, halus dan berkilau. Tak hanya luka-luka di arena yang hilang, tapi luka- luka yang terkumpul selama beberapa tahun berburu telah lenyap tanpa bekas. Dahiku
selembut  satin dan ketika  aku  berusaha  mencari bekas luka dibetisku, aku tidak bisa
menemukannya.
Kuturunkan kakiku dari ranjang, gelisah membayangkan bagaimana kakiku sanggup menahan beratku, tapi ternyata kakiku kuat dan mantap. Di kaki ranjang ada pakaian yang membuatku tersentak. Itu pakaian yang dikenakan semua peserta di arena. Kupandangi pakaian itu begitu lama seakan pakaian itu punya gigi, sampai aku ingat bahwa pakaian ini yang akan kupakai untuk menyambut timku.
Aku mengenakan pakaian dalam waktu kurang dari semenit dan berdiri gelisah di depan dinding yang kutau ada pintu disana bahkan jika aku tidak bisa melihatnya dan
mendadak pintu itu terbuka. Aku melangkah ke lorong lebar dan kosong yang tampaknya tak ada pintu lain disana. Tapi seharusnya ada pintu. Dan dibalik salah satu pintu pasti ada Peeta. Sekarang aku sadar dan bergerak, makin lama merasa makin gelisah memikirkannya. Dia pasti baik-baik saja atau gadis Avox itu takkan mengatakannya.
"Peeta!" aku berseru, karena tak ada seorangpun yang bisa kutanyai. Aku mendengar namaku dipanggil, sebagai jawabannya, tapi bukan suara Peeta. Suara itu menimbulkan kekesalan dan keingintahuan. Effie.
Aku menoleh dan melihat mereka semua menunggu diruangan besar diujung lorong, Effie, Haymitch dan Cinna. Kakiku melangkah tanpa ragu. Mungkin pemenang harus menunjukkan lebih banyak menahan diri, superioritas, terutama saat dia tau ini akan direkam kamera, tapi aku tak peduli. Aku berlari ke arah mereka dan bahkan akupun terkejut  ketika  pertama-tama  aku  berlari  ke  pelukan  Haymitch.  Ketika  dia  berbisik
ditelingaku, "Kerja bagus, sweetheart," nadanya tak terdengar sarkastik.
Effie tampak berkaca-kaca sambil menepuk-nepuk rambutku dan berbicara tentang bagaimana dia mengatakan pada semua orang betapa hebatnya kami.
Cinna memelukku erat dan tak mengatakan apa-apa. Lalu kuperhatikan Portia tak bersama kami dan aku jadi punya firasat buruk.
"Dimana Portia? Apakah dia bersama Peeta?" tanyaku tanpa henti. "Peeta baik-baik saja kan? Maksudku, dia masih hidupkan?"
"Dia baik-baik saja. Hanya saja mereka ingin kalian melakukan reuni kalian langsung di upacara," kata Haymitch.
"Oh. Karena itu," kataku. Saat mengerikan ketika memikirkan Peeta tewas kembali
berlalu. "Kurasa aku hanya ingin melihatnya sendiri."
"Pergilah dengan Cinna. Dia harus menyiapkanmu," kata Haymitch.
Lega rasanya bisa berduaan dengan Cinna ,merasakan lengannya yang melindungi di bahuku ketika dia membawaku menjauh dari kamera, melewati jalan dan menuju elevator yang menuju lobi Pusat Latihan. Rumah sakit berada jauh dibawah tanah, bahkan dibawah gym tempat para peserta berlatih. Jendela-jendela lobi digelapkan dan beberapa penjaga berdiri berjaga-jaga. Tidak ada orang lain di sana yang mengantar kami menyebrang menuju elevator peserta. Langkah-langkah kaki kami bergema dalam ruangan kosong. Dan ketika kami naik menuju lantai dua belas, semua wajah peserta yang takkan pernah kembali melintas dibenakku, membuat dadaku berat dan sesak.
Ketika pintu elevator terbuka, Venia, Flavius dan Octavia mengerubungiku, bicara sangat cepat dan girang hingga aku tidak bisa mengerti apa yang mereka ocehkan. Tapi perasaan mereka amat jelas. Mereka sungguh bahagia melihatku dan aku juga bahagia bertemu mereka, meskipun kadarnya tak seperti kebahagiaanku melihat Cinna. Rasanya lebih seperti seseorang yang merasa gembira bisa melihat tiga binatang peliharaannya pada akhir hari yang sulit.
Mereka membawaku menuju ruang makan dan di sana aku mendapat makanan sungguhan—daging sapi panggang, kacang polong dan roti lembut—walaupun porsi makananku masih sedikit dikontrol, karena ketika aku minta tambah, mereka menolak memberikannya.
"Tidak, tidak, tidak. Mereka tak ingin semua makanan ini keluar lagi di panggung," kata Octavia, tapi diam-diam dia menyelipkan roti tambahan untukku dibawah meja agar aku tau dia mendukungnya.
Kami kembali ke kamarku dan Cinna menghilang sejenak ketika tim persiapannya menyiapkanku.
"Oh, mereka melakukan poles satu badan penuh padamu," kata Flavius dengan nada iri. "Tak ada cacat sedikitpun di kulitmu."
Tapi  ketika  aku  melihat  tubuh  telanjangku  dicermin,  aku  hanya  melihat  betapa
kurusnya diriku. Maksudku, aku yakin kondisiku pasti lebih buruk ketika aku keluar dari arena, tapi saat ini aku bisa menghitung jumlah rusukku dengan mudah.
Mereka membereskan pengaturan air pancuran untukku dan mereka menata rambutku, kukuku dan makeup-ku ketika aku selesai. Mereka bicara tanpa henti hingga aku tak perlu menjawab mereka, yang menurutku bagus karena akumerasa tak kepingin bicara. Lucu sebenarnya,  karena walaupun mereka  berceloteh tentang  Hunger Games, semua  yang  mereka  bicarakan  adalah  tentang  dimana  mereka  berada  atau  apa  yang sedang mereka lakukan atau bagaimana perasaan mereka ketika suatu peristiwa khusus terjadi. "Aku masih berbaring di ranjangku!" "Aku baru menyemir alisku!" "Berani sumpah aku nyaris pingsan!" Segalanya tentang mereka, bukan anak-anak lelaki dan perempuan yang tewas di arena.
Kami tidak bicara tentang Hunger Games di Distrik 12. Disana kami mengatupkan gigi dan menontonnya karena kami harus melakukannya lalu berusaha kembali melakukan kegiatan kami sesegera mungkin setelah tanyangan itu usai. Kata-kata mereka hanya masuk kuping kiri keluar kuping kanan, untuk menjaga diriku agar tak membenci tim persiapanku ini.
Cinna masuk membawa gaun kuning sederhana di kedua lengannya.
"Apakah kau sudah menyerah dengan segala konsep 'gadis yang terbakar' itu?" tanyaku.
"Menurutmu bagaimana," kata Cinna dan dia memakaikan gaun itu dari atas kepalaku. Aku segera menyadari ada sumpalan dibagian dadaku, menambah lekuk-lekuk ditubuhku
yang hilang akibat kelaparan. Kedua tanganku memegang dadaku lalu aku mengernyitkan
dahi.
"Aku tau," kata Cinna sebelum aku bisa protes. "Tapi para Juri Pertarungan ingin mengubah bentuk tubuhmu dengan operasi. Haymitch ribut besar dengan mereka karena hal  ini.  Pakaian ini adalah  bentuk  kompromi."  Dia  menghentikanku  sebelum  aku  bisa melihat bayangan diriku. "Tunggu, jangan lupa sepatunya."
Venia membantuku memakai sandal kulit datar lalu aku berpaling ke cermin.
Aku masih 'gadis yang terbakar.' Kain yang halus ini berkilau lembut. Bahkan gerakan samar di udara mengirimkan desiran ke sekujur tubuhku. Kostum kereta tampak berkilauan sementara gaun wawancara terlalu malu-malu. Dalam gaun ini, aku memberi ilusi seakan mengenakan cahaya lilin.
"Bagaimana menurutmu?" tanya Cinna.
"Menurutku ini yang terbaik," kataku. Ketika mataku berpaling dari kain yang berkelap-kelip, aku terkejut. Rambutku tergerai, tertahan dengan ikat rambut sederhana,
riasan  wajahku  mengisi  sudut-sudut  tajam  wajahku,  kuteks  bening  menghias  kukuku. Gaun tanpa lengan ini terpusat di rusukku bukan di pinggangku, menghilangkan kesan sumpalan  pada  bentuk  tubuhku. Ujung  gaun  jatuh  tepat di  lututku.  Sepatu  tanpa  hak membuat orang bisa melihat sosokku yang sesungguhnya. Aku terlihat sederhana, seperti anak perempuan. Gadis muda. Paling banter empat belas tahun. Lugu. Tak berbahaya. Ya mengejutkan, Cinna berhasil menampilkanku seperti ini padahal aku baru saja menang Hunger Games.
Ini adalah penampilan yang penuh perhitungan. Tak ada satupun rancangan Cinna yang tak punya tujuan. Kugigit bibirku berusaha mencari tau motivasinya.
"Kupikir tadinya lebih.. anggun," kataku.
"Kupikir Peeta akan lebih menyukai yang ini," jawab Cinna hati-hati.
Peeta? Bukan, ini bukan tentang Peeta. Ini tentang Capitol, para juri pertarungan dan penonton. Walaupun aku tidak memahami rancangan Cinna, gaun ini mengingatkanku bahwa Hunger Games belumlah berakhir. Dan dibalik jawabannya yang sambil lalu ini, aku merasakan adanya bahaya. Sesuatu yang tak bisa diungkapkan Cinna di depan timnya sendiri.
Kami masuk ke elevator menuju lantai tempat kami latihan. Sudah jadi kebiasaan bagi pemenang dan tim pendukungnya untuk muncul dari bawah panggung. Pertama tim persiapan, diikuti pendamping. Penata gaya. mentor. Dan akhirnya sang pemenang. Tapi tahun  ini,  dengan  dua  pemenang  yang  memiliki  pendamping  dan  mentor  yang  sama, semua ini harus dipikirkan ulang. Aku berdiri di ruangan temaram dibawah panggung.
Piringan logam baru sudah terpasang untuk membawaku keatas. Aku masih bisa mencium
bau serbuk gergaji dan cat yang masih baru. Cinna bersama tim persiapannya mengganti pakaian dan mengenakan kostum mereka sendiri lalu mengambil tempat,meninggalkanku seorang  diri.  Dalam  keremangan,  aku  melihat  dinding  buatan  yang  jaraknya  sekitar sepuluh meter dan aku menduga Peeta ada dibaliknya.
Sorak-sorai   penonton   sangat   ribut,   sehingga   aku   tidak   menyadari   kehadiran Haymitch   sampai  dia   menyentuh   bahuku.   Aku   terlonjak,   terkejut,   kurasa  separuh pikiranku masih berada di arena pertarungan.
"Tenang, ini aku. Sini kulihat dulu," kata Haymitch. Aku mengulurkan lenganku dan berputar sekali. "Cukup bagus."
Kata-katanya tak terdengar seperti pujian. "Tapi apa?" tanyaku.
Mata Haymitch memandangi ruang pengap diantara kedua tanganku yang terbuka dan dia tampaknya mengambil keputusan. "Tapi tidak apa-apa. Bagaimana kalau pelukan
untuk keberuntungan?"
Oke,   ini   permintaan   janggal   dari   Haymitch,   tapi   bagaimanapun   kami   adalah pemenang. Mungkin pelukan untuk keberuntungan adalah wajib. Namun ketika aku merangkulnya,  aku  merasa  terperangkap  dalam  pelukannya.  Dia  mulai  bicara,  sangat cepat, sangat pelan di telingaku, rambutku menutupi bibirnya.
"Dengar. Kau dalam masalah. Katanya Capitol murka karena kau melawan mereka di arena. Mereka tak tahan ditertawai dan jadi bahan olokan Panem," kata Haymitch.
Saat ini rasa takut mengalir disekujur tubuhku, tapi aku tertawa seakan-akan Haymitch   mengatakan   sesuatu   yang   menyenangkan   karena   tak   ada   apapun   yang menutupi mulutku. "Lalu apa?"
"Satu-satunya perlindunganmu adalah kau sedang kasmaran dan tidak bertanggung jawab atas tindakan-tindakanmu." Haymitch mundur dan memperbaiki ikat rambutku. "Jelas Sweetheart?"
Orang tak bisa menduga Haymitch bicara tentang apa. "Jelas," kataku. "Kau sudah bilang pada Peeta tentang ini?"
"Tidak perlu," sahut Haymitch. "Dia sudah paham."
"Dan  kaupikir  aku  tak  paham?"  tanyaku,  sembari  menggunakan  kesempatan  ini untuk  meluruskan  dasi  kupu-kupu  merah  cerah  yang  pasti  dipasangkan  oleh  Cinna dengan susah payah.
"Sejak kapan apa yang kupikirkan penting untukmu?" tanya Haymitch. "Lebih baik kita bersiap-siap diposisi."
Dia membawaku ke lingkaran logam. "Ini malammu, sweetheart. Nikmatilah."
Dia mencium keningku lalu menghilang dalam keremangan.
Kutarik rokku, berharap gaunku lebih panjang, berharap gaun ini bisa menutupi lututku yang goyah. Lalu aku sadar tindakanku tak ada gunanya. Seluruh tubuhku gemetar seperti daun. Aku berharap ini bisa diartikan sebagai rasa grogi karena terlalu senang. Lagipula, ini kan malamku.
Bau apak dan lembab di bawah panggung membuatku tercekik. Keringat dingin mengalir  deras  dan  aku  tak  bisa  menghalau  pikiranku  bahwa  papan-papan  diatas
kepalaku bakalan runtuh, menguburku. Ketika aku meninggalkan arena, ketika trompet dimainkan, seharusnya aku merasa aman. Sejak saat itu. Selama sisa hidupku. Tapi, jika
yang  dikatakan  Haymitch  benar,  saat  ini  aku  berada  ditempat  yang  paling  berbahaya sepanjang hidupku.
Jauh lebih buruk daripada diburu di arena. Di sana aku paling hanya tewas. Habis cerita. Tapi disini ada Prim, ibuku, Gale, penduduk Distrik 12, semua orang yang kusayangi bisa dihukum jika aku tidak bisa tampil sesuai skenario sebagai gadis-yang-sedang-jatuh-
cinta-setengah-mati seperti yang disarankan Haymitch.
Tapi aku masih punya kesempatan. Lucunya, di arena, ketika aku menuangkan buah- buah berry itu, aku hanya berpikir untuk mempercundangi para Juri Pertarungan, tak memikirkan  bagaimana  pengaruh  tindakanku  terhadap  Capitol.  Tapi  Hunger  Games adalah senjata mereka dan kau tak seharusnya mengalahkannya. Jadi sekarang Capitol akan bertindak seolah-olah mereka yang mengontrol semua ini sepanjang waktu. Seakan mereka yang mengatur semua kejadian ini, bahkan pada usaha bunuh diri bersama kami. Tapi hal itu hanya akan berhasil jika aku bekerja sama dengan mereka.
Dan Peeta... Peeta juga akan menderita jika semua ini gagal. Tapi tadi apa kata Haymitch ketika aku bertanya apakah dia sudah memberitahu Peeta tentang keadaan ini? Bahwa dia harus berpura-pura jatuh cinta?
"Tidak perlu. Dia sudah paham."
Sudah paham dan berpikir lebih maju daripada pikiranku dalam Hunger Games dan menyadari betapa berbahayanya keadaan kami? Atau sudah paham bahwa kami sedang
jatuh cinta setengah mati? Aku tak tau. Aku belum memilah-milah beragam perasaanku tentang Peeta. Semuanya terlalu rumit. Apa yang kulakukan adalah bagian dari Hunger Games dan kebalikannya adalah kemarahanku pada Capitol. Atau karena aku memikirkan seperti  apa  tindakanku  akan  dilihat  oleh  mereka  di  Distrik  12.  Atau  karena  itu  satu- satunya hal yang layak dilakukan. Atau aku melakukannya karena aku menyayanginya.
Pertanyaan-pertanyaan  ini  harus  kurenungkan  lagi  dirumah,  dalam  hutan  yang tenang dan damai, tanpa diawasi seorang pun. Bukan pada saat ini ketika semua mata tertuju padaku. Tapi entah berapa lama aku bisa punya kemewahan itu. Dan saat ini, bagian paling berbahaya dari Hunger Games segera dimulai.

The Hunger Games indonesia bagian 25

MUTAN. Tidak ada keraguan lagi. Aku pernah melihat mutt ini, tapi mereka bukan binatang-binatang yang lahir secara alami. Mereka mirip serigala-serigala raksasa, tapi serigala apa yang berdiri mantap dengan kedua kaki belakangnya? Serigala apa yang melambai pada kawanannya dengan cakar depannya seakan punya pergelangan tangan? Aku bisa melihat makhluk-makhluk ini dari jauh. Dari jarak dekat, aku yakin tampilan mereka yang lebih menakutkan akan lebih jelas terlihat.
Cato langsung berlari lurus menuju Cornucopia, dan tanpa bertanya lagi aku mengikutinya. Jika Cato berpikir Cornucopia adalah tempat yang paling aman, aku tak mau  menentang  pendapatnya.  Selain  itu,  jika aku  bisa memanjat  pohon,  tak mungkin Peeta bisa lari lebih cepat dari mereka dengan kakinya yang luka—Peeta! Kedua tanganku baru saja mendarat di logam yang menjadi bagian dari ekor runcing Cornucopia ketika
aku ingat Peeta  adalah  bagian dari  timku.  Dia berada lima belas meter dibelakangku,
tertatih-tatih secepat yang dia bisa, tapi mutt-mutt itu mendekat dengan amat cepat. Kutembakkan anak panahku ke kawanan binatang itu dan satu tumbang kena panahku, tapi masih banyak yang menggantikan tempatnya.
Peeta melambai menyuruhku naik keatas trompet. "Sana, Katniss! Pergi!"
Peeta benar. Aku tak bisa melindungi kami berdua dengan tetap berada di atas tanah. Aku mulai memanjat, menapaki Cornucopia dengan kedua tangan dan kakiku. Permukaannya yang terbuat dari emas murni di desain agar bentuknya serupa dengan trompet anyaman yang kami isi pada saat memungut hasil panen, jadi ada bagian-bagian yang menonjol dan lipatan yang bisa untuk tempat berpegangan. Tapi setelah sehari terpanggang matahari di arena pertarungan ini, logam itu cukup panas untuk bisa membuat tanganku melepuh.
Cato berbaring miring dipuncak trompet, enam meter diatas tanah, terengah-engah sambil muntah diujung trompet. Sekarang kesempatanku untuk menghabisinya. Aku berhenti di tengah jalan menuju trompet dan menyiapkan anak panah, tapi ketika aku hendak menembakkannya, aku mendengar jeritan Peeta. Aku menoleh dan melihatnya baru tiba di ekor Cornucopia, dan mutt itu berada di tumitnya.
"Panjat!" teriakku. Peeta mulai memanjat, tapi gerakannya tak hanya terhalang kakinya  yang  luka  tapi  juga  pisau  ditangannya.  Kutembakkan  panah  ke  leher  mutt pertama yang sudah menancapkan cakarnya di ekor logam itu. Sebelum mati binatang itu menyambar   teman-temannya,   tanpa   bisa   dihindari   cakarnya   menimbulkan   luka menganga pada tubuh beberapa mutt lain. Saat itulah aku sempat melihat cakarnya. Panjangnya sepuluh sentimeter dan setajam silet.
Peeta sampai di kakiku dan kupegang lengannya lalu kutarik dia. Kemudian aku ingat Cato menunggu dipuncak trompet, tapi dia sedang meringkuk kesakitan dan lebih disibukkan dengan mutt daripada kami. Cato mengucapkan sesuatu yang tak bisa kupahami. Suara dengusan dan raungan mutt-mutt membuatku makin tak mengerti apa yang diucapkannya.
"Dia bilang, 'Apa mereka bisa memanjat?'" jawab Peeta, dan mengembalikan fokusku ke dasar trompet.
Mutt-mutt  itu  mulai  berkumpul.  Ketika  mereka  bergabung,  mereka  bangkit  dan berdiri  dengan  kaki  belakang  dengan  mudah,  membuat  mereka  secara  mengerikan tampak  seperti  manusia.  Masing-masing  binatang  itu  memiliki  bulu  lebat,  ada  yang bulunya lurus, ada yang keriting, warnanya pun beragam mulai dari hitam legam sampai pirang. Ada sesuatu dari mereka yang membuat bulu kudukku berdiri, tapi aku tak tau apa yang salah.
Moncong  mereka  mengendus  dan  merasakan  trompet,  mencium  dan  merasakan logam itu, mengais-ngais permukaan logam itu lalu memekik dengan nada tinggi terhadap satu sama lain. Ini pasti cara mereka berkomunikasi karena kawanan mutt itu mundur seakan memberikan ruang. Lalu salah satu dari mereka, mutt berukuran besar dengan bulu pirang dan halus berlari dari jauh lalu melompat ke trompet. Kedua kaki belakangnya sangat kuat karena dia mendarat hanya tiga meter di bawah kami, bibirnya yang pink membentuk seringai. Selama sesaat binatang itu bertahan disana dan ketika itulah aku sadar apa yang membuatku gelisah memandang mutt itu. Mata hijaunya memandangku tidak seperti mata anjing atau serigala atau mata binatang lain yang pernah kulihat. Mata itu tak salah lagi mata manusia. Kesadaran itu baru saja kucerna ketika kuperhatikan ada kalung leher dengan angka 1 tertera disana dengan perhiasan dan semua itu menghantamku. Rambut pirang, mata hijau dan angka itu... Glimmer.
Aku memekik kecil dan kesulitan memegang panahku. Aku sudah menunggu untuk menembakkan panah, dan makin menyadari menipisnya jumlah anak panahku. Aku menunggu apakah makhluk itu bisa memanjat. Tapi sekarang, ketika mutt itu mulai meluncur mundur, tidak mampu berpegangan pada logam itu, meskipun aku bisa mendengar suara cakaran pelan seperti kuku yang digeruskan di papan tulis, aku menembakkan anak panah ke lehernya. Tubuh mutt itu berkelojotan lalu jatuh berdebum di tanah.
"Katniss?" aku bisa merasakan genggaman Peeta dilenganku. "Itu dia!" aku berseru.
"Siapa?" tanya Peeta.
Kepalaku menoleh kesana kemari melihat kawanan itu, memperhatikan berbagai ukuran dan warna kawanan itu. Mutt yang kecil dengan bulu merah dan mata kekuningan.. si Muka Rubah! Dan disana, rambut kelabu dan mata hijau kecoklatan anak lelaki dari distrik 9 yang tewas ketika kami berebutan ransel! Dan yang terburuk dari semuanya, mutt terkecil, dengan bulu gelap berkilau, mata coklat besar dan kalung yg tertulis angka
11. Giginya dipamerkan dengan penuh kebencian. Rue... "Ada apa Katniss?" Peeta mengguncang bahuku.
"Itu mereka. Mereka semua. Yang lain-lain. Rue dan si Muka Rubah dan.. peserta- peserta lain," aku tercekat.
Aku mendengar Peeta terkesiap ketika mengenali mereka. "Apa yang mereka lakukan pada mereka? Kaupikir.. itu mata asli mereka?"
Mata mereka adalah kekuatiran terakhirku. Bagaimana dengan otak mereka? Apakah mereka  diberi  ingatan  peserta  yang  sesungguhnya? Apakah  mereka  diprogram  secara khusus untuk membenci wajah kami karena kami selamat dan mereka tewas terbunuh
dengan keji? Dan mereka yang kami bunuh... apakah mereka percaya bahwa mereka membalaskan kematian mereka?
Sebelum aku bisa menemukan jawabannya, mutt-mutt itu mulai menyerang trompet. Mereka  terbagi  dalam  duakelompok  di  kedua  sisi  trompet  dan  menggunakan  bagian bawah  tubuh  mereka  yang  kuat  untuk  menghantamkan  diri  mereka  ke  arah  kami. Sergapan gigi tak jauh dari tanganku lalu aku mendengar Peeta berteriak, kurasakan tubuhnya ditarik, beratnya tubuh anak lelaki dan mutt membuatku tertarik ke kesamping. Jika bukan karena pegangan dengan lenganku, Peeta sudah terjatuh ke tanah, tapi karena itu juga butuh seluruh kekuatanku untuk membuat kami tetap berada di lekukan trompet. Dan lebih banyak lagi peserta yang datang.
"Bunuh dia, Peeta! Bunuh dia!" aku berteriak, meskipun aku tidak bisa melihat apa yang terjadi, aku tau Peeta pasti menusuk binatang itu karena tarikannya melemah. Aku berhasil menarik Peeta kembali ke trompet dan menyeret tubuh kami ke puncak. Disana musuh kami yang tidak sekeji musuh kami di bawah sudah menunggu.
Cato belum bangkit berdiri, tapi napasnya sudah teratur dan aku tahu tidak lama lagi dia akan pulih dan bisa mendatangi kami, mendorong kami kesamping agar jatuh menuju kematian kami. Kusiapkan busurku, tapi anak panahku berakhir ke mutt yang kemungkinan besar adalah Thresh. Siapa lagi yang bisa melompat setinggi itu? Sejenak aku merasa lega karena akhirnya kami bisa lebih tinggi daripada lompatan mutt itu dan aku baru saja hendak menoleh ke Cato ketika Peeta terlonjak dari sisiku. Aku yakin kawanan binatang itu berhasil menariknya sampai darahnya muncrat mengenai wajahku.
Cato  berdiri  dihadapanku,  nyaris  dimulut  trompet,  mengunci  Peeta  dan  menutup jalan  pernapasannya.  Peeta  mencakar-cakar  lengan  Cato,  tapi  dengan  lemah,  seakan
bingung   apakah   jauh   lebih   penting   untuk   bernapas   atau   berusaha   membendung semburan darah dari lubang terbuka yang ditimbulkan mutt di betisnya.
Kuarahkan satu dari dua sisa anak panah ke kepala Cato, tahu bahwa panahku takkan
ada efeknya pada tubuhnya atau lengan dan kakinya, yang kini bisa kulihat tubuhnya tertutup semacam jala berwarna kulit yang pas badan. Semacam baju pelindung canggih dari Capitol. Apakah itu yang terdapat di ranselnya sewaktu pesta? Baju pelindung dari serangan panahku? Yah, mereka lupa mengirimkan pelindung wajah.
Cato hanya tertawa. "Tembak aku dan dia ikut jatuh bersamaku."
Dia benar. Jika aku memanahnya dan dia jatuh ke kawanan mutt itu, Peeta pasti akan tewas bersamanya. Kami tiba dijalan buntu. Aku tidak bisa memanah Cato tanpa membunuh Peeta juga. Dia tidak bisa membunuh Peeta tanpa memastikan otaknya akan kena panah. Kami berdiri seperti patung, kami semua mencari jalan keluar.
Otot-ototku menegang, rasanya otot-ototku bisa putus kapan saja. Gigiku bergemeletuk. Kawanan mutt itu terdiam dan satu-satunya hal yang bisa kudengar adalah darah yang berdentam di telingaku yang masih bagus.
Bibir Peeta membiru. Jika aku tak melakukan sesuatu dengan cepat, dia akan mati kehabisan napas dan aku juga akan kehilangan dia dan Cato mungkin akan menggunakan tubuh  Peeta  sebagai  senjata  melawanku.  Sesungguhnya,  aku  yakin  ini  rencana  Cato. Karena ketika dia berhenti tertawa, bibirnya menyunggingkan senyum kemenangan.
Seakan ini usaha terakhirnya, Peeta mengangkat jemarinya, yang meneteskan darah dari kakinya, ke arah lengan Cato. Bukannya berusaha meloloskan diri, telunjuknya tiba- tiba berbelok dan dengan sengaja membuat tanda Xdipunggung tangan Cato. Cato menyadari apa artinya sedetik setelah aku sadar. Aku bisa melihat dari senyumnya yang hilang dari bibirnya. Tapi kesadarannya terlambat sedetik karena pada saat itu anak panahku menembus tangannya. Cato menjerit dan secara naluriah melepaskan Peeta yang menghantamkan punggungnya ke Cato. Selama sesaat yang mengerikan, kupikir mereka akan jatuh bersama. Aku meluncur ke depan memegangi Peeta ketika Cato kehilangan pijakannya diatas trompet yang licin kena darah dan terjerembap ke tanah.
Kami mendengarnya menghantam tanah, udara mengembus keluar dari tubuhnya, lalu kawanan mutt menyerangnya. Aku dan Peeta berpegangan, menunggu tembakan meriam.  Menunggu  kompetisi  ini  berakhir.  Menunggu  dibebaskan.  Tapi  semua  tidak terjadi. Belum. Karena ini klimaks Hunger Games dan penonton menunggu tayangan yang tak terlupakan.
Aku tidak melihat, tapi aku bisa mendengar gerunan, raungan dan lolongan kesakitan dari manusia dan binatang ketika Cato menghajar kawanan mutt. Aku tak mengerti bagaimana dia bisa selamat sampai aku teringat pada baju pelindung yang melindunginya dari pergelangan kaki sampai leher. Cato pasti juga punya pisau atau pedang atau semacamnya,   sesuatu   yang  dia   sembunyikan  di   balik  pakaiannya,  karena   sesekali terdengar jeritan kematian mutt atau suara logam beradu ketika mata pisau itu beradu dengan  trompet  emas.  Pertarungan  berpindah  ke  samping  Cornucopia  dan Cato  pasti berusaha  mencoba  satu  cara  yang  bisa  menyelamatkan  nyawanya-kembali  ke  ekor trompet lalu bergabung  bersama  kami.  Tapi,  dia  tak sanggup lagi  melawan meskipun memiliki kekuatan dan keahlian luar biasa.
Aku tidak tahu sudah lewat berapa lama, mungkin sekitar satu jam, ketika Cato terjatuh  ke tanah. Kami  mendengar  para  mutt  menyeretnya, menyeretnya kembali  ke Cornucopia. Sekarang mereka akan menghabisinya, pikirku. Tapi tidak terdengar suara meriam.
Malam tiba dan lagu kebangsaan terdengar tapi tak ada foto Cato di angkasa, hanya ada erangan-erangan samar yang terdengar dari logam dibawah kami. Udara dingin yang berhembus dari tanah lapang mengingatkanku bahwa Hunger Games belum berakhir dan mungkin akan berlangsung sampai entah kapan, dan tidak ada jaminan siapa yang bakal jadi pemenangnya.
Aku  mengalihkan  perhatianku  pada  Peeta  dan  melihat  kakinya  berdarah  parah. Semua  persediaan  kami,  ransel  kami,  berada  didekat  danau  tempat  kami meninggalkannya ketika melarikan diri dari kawanan mutt. Aku tidak punya perban, tidak ada yang bisa kupakai untuk menghambat aliran darah dari betisnya. Walaupun menggigil, aku membuka jaketku, melepaskan kausku dan menutup ritsleting jaketku secepat mungkin. Hanya sebentar saja terkena udara dingin gigiku sudah bergemeletuk tanpa terkendali.
Wajah Peeta tampak kelabu dalam cahaya bulan yang pucat. Aku menyuruhnya berbaring sebelum aku memeriksa lukanya. Darah yang licin dan hangat mengalir dijemariku.  Aku  pernah  beberapa  kali  melihat  ibuku  mengikat  turniket  dan  kini  aku
berusaha meniru ikatannya. Aku memotong bagian lengan kausku, membungkusnya dua kali dikakinya tepat dibawah lutut dan kubuat simpul setengah. Aku tak punya kayu, jadi kupakai  anak  panahku  yang  tersisa  dan  kuselipkan  di  dalam  simpul,  lalu  kuputar ikatannya sejauh yang bisa kulakukan dengan aman. Tindakanku amat beresiko—Peeta bisa saja kehilangan kakinya—tapi ketika aku menimbang kemungkinan Peeta kehilangan kaki dengan kemungkinan kehilangan nyawa, pilihan apalagi yang kumiliki? Kuperban lukanya dengan sisa kausku lalu aku berbaring disisinya.
"Jangan tidur," kataku padanya. Aku tidak yakin apakah ini protokol medis yang tepat, tapi aku takut jika dia tertidur dia takkan bangun lagi.
"Kau kedinginan?" tanya Peeta. Dia membuka ritsleting jaketnya dan aku melekatkan tubuhku padanya, Peeta memelukku erat. Rasanya sedikit lebih hangat, bisa berbagi panas tubuh di dalam dua lapis jaketku, tapi malam belum larut. Suhu udara masih akan terus
turun. Bahkan sekarang aku bisa merasakan Cornucopia, yang panas membakar ketika
aku mendakinya pertama kali, perlahan-lahan jadi sedingin es.
"Cato masih bisa memenangkan pertarungan ini," aku berbisik pada Peeta.
"Jangan berpikir seperti itu," sahut Peeta, menarik tutup kepalaku, tapi dia gemetar lebih hebat dari aku.
Jam-jam selanjutnya adalah masa terburuk dalam hidupku, dan apa yang kumaksud buruk ini pasti sudah jelas jika memikirkan apa yang telah kulewati sepanjang hidupku. Dinginnya sudah cukup menyiksa, tapi mimpi buruk yang sesungguhnya adalah mendengarkan Cato mengerang, memohon dan akhirnya merengek ketika kawanan mutt
menjauh darinya. Tidak lama kemudian, aku tidak peduli lagi siapa dia atau apa yang telah
dia lakukan, aku hanya ingin penderitaannya segera berakhir.
"Kenapa mereka tak langsung membunuhnya?" aku bertanya pada Peeta. "Kau tau kenapa," katanya, lalu dia menarikku makin dekat padanya.
Dan aku  paham  kenapa.  Tak  ada  seorang  penonton pun yang  bisa meninggalkan tayangan ini sekarang. Dari sudut pandang juri pertarungan, ini adalah kata penghabisan dalam dunia hiburan.
Suara Cato terus-menerus terdengar hingga akhirnya menguasai pikiranku, menghalangi  berbagai  kenangan  dan  harapan  akan  hari  esok,  menghapus  segalanya
kecuali yang terjadi saat ini, yang mulai kuyakini takkan pernah berubah. Takkan ada apapun kecuali rasa dingin dan takut serta suara-suara memilukan dari anak lelaki yang menjelang kematiannya ditrompet Cornucopia.
Peeta mulai tertidur sekarang, dan setiapkali dia tertidur, aku meneriakkan namanya makin lama makin keras karena jika dia tidur lalu mati, aku yakin aku pasti bakalan gila.
Peeta melawannya, mungkin lebih untukku daripada untuk dirinya sendiri, dan aku tau itu pasti sulit karena ketidaksadaran pasti merupakan salah satu bentuk pelarian. Tapi adrenalin dalam tubuhku tak mengizinkanku mengikutinya, jadi aku tak bisa membiarkan
Peeta tertidur. Aku tidak bisa membiarkannya.
Satu-satunya petunjuk berlalunya waktu tampak di langit, dengan perubahan bulan yang nyaris tak kentara. Jadi Peeta mulai menunjukkannya padaku lagi, berkeras agar aku menyadari pergerakannya dan kadang-kadang, selama sesaat aku merasakan sepercik harapan sebelum penderitaan malam itu melahapku bulat-bulat sekali lagi.
Akhirnya, aku mendengar Peeta berbisik bahwa matahari sudah terbit. Kubuka mataku dan kulihat bintang-bintang tampak memudar dalam cahaya dini hari yang pucat. Aku juga bisa melihat betapa piasnya wajah Peeta. Waktu yang tersisa untuknya juga tak banyak lagi. Dan aku tau aku harus segera membawanya kembali ke Capitol.
Namun, tetap tak terdengar dentuman meriam. Kutempelkan telingaku yang masih bisa mendengar pada trompet dan samar-samar kudengar suara Cato.
"Rasanya dia lebih dekat sekarang. Katniss, kau bisa memanahnya?" tanya Peeta.
Jika dia berada dimulut trompet, aku mungkin bisa menghabisinya. Pada titik ini, membunuhnya adalah tindakan yang kulakukan karena belas kasihan.
"Panah terakhir ada di turniketmu," kataku.
"Ambil saja," kata Peeta, membuka ritsleting jaketnya dan melepaskanku dari pelukannya.
Kemudian kulepaskan anak panah di kakinya, kuikat turniket itu lagi seerat yang bisa kulakukan dengan kedua tanganku yang beku. Kugosok-gosokan kedua tanganku. Ketika
aku merangkak ke mulut trompet dan berpegangan diujungnya, aku merasakan tangan
Peeta memegangiku.
Perlu beberapa saat untuk melihat Cato dalam cahaya temaram ini, dalam genangan darah. Onggokan daging mentah yang dulunya adalah musuhku mengeluarkan suara, aku tau di mana letak mulutnya. Dan menurutku kata yang hendak diucapkannya adalah kumohon.
Rasa kasihan, bukan balas dendam, yang membuat anak panahku melayang ke tengkoraknya. Peeta menarikku ke atas, busur di tangan, tak ada anak panah tersisa.
"Kau berhasil menembaknya?" bisik Peeta. Meriam berdentam sebagai jawabannya.
"Kalau begitu kita menang, Katniss," kata Peeta tanpa semangat.
"Hore untuk kita," kataku, tapi dalam suaraku tak tersirat kegembiraan karena menang.
Ada lubang terbuka ditanah lapang dan seakan ada aba-aba mutt yang tersisa melompat ke dalamnya,menghilang ke dalam tanah yang kemudian menutup.
Kami   menunggu   pesawat   ringan   mengambil   mayat   Cato.   Menunggu   trompet
kemenangan yang seharusnya akan mengikuti, tapi tak ada yang terjadi.
"Hei!" aku berteriak ke udara. "Apa yang terjadi?" hanya terdengar celoteh burung- burung.
"Mungkin karena mayatnya. Mungkin kita harus menjauh darinya," kata Peeta.
Aku berusaha mengingatnya. Apakah kami harus menjauhkan diri dari peserta yang tewas pada pembunuhan terakhir? Otakku terlalu keruh untuk bisa yakin, tapi apalagi yang bisa menjadi alasan penundaan ini?
"Oke, apakah kau bisa berjalan sampai danau?" tanyaku.
"Rasanya bisa kucoba," kata Peeta. Kami meluncur turun menuju ekor trompet dan terjatuh ke tanah. Kalau sendi-sendiku saja sekaku ini, bagaimana Peeta bisa bergerak? Aku bangkit lebih dulu, mengoyang-goyangkan dan menekuk-nekukan kedua lengan dan kakiku sampai kupikir bisa membantunya berdiri. Entah bagaimana kami berhasil sampai ke danau. Kedua tanganku meraup air dingin untuk Peeta dan satu lagi untukku.
Seekor   mockingjay   bersiul   panjang   dan   rendah   membuat   air   mata   kelegaan memenuhi mataku ketika pesawat ringan mengambil mayat Cato. Sekarang mereka akan membawa kami. Sekarang kami bisa pulang.
Tapi sekali lagi tak ada kelanjutannya.
"Apalagi yang mereka tunggu?" tanya Peeta dengan suara lemah. Ikatan turniket yang mengendur dan usaha yang dihabiskannya untuk berjalan ke danau ini membuat lukanya terbuka lagi.
"Aku tidak tau," jawabku. Apapun yang menyebabkan penundaan ini, aku tidak sanggup melihat Peeta kehilangan lebih banyak darah lagi. Aku berdiri untuk mencari kayu tapi aku melihat anak panahku yang terpantul dari baju pelindung Cato. Anak panah ini akan bisa dipakai seperti sebelumnya. Aku membungkuk untuk mengambilnya, ketika suara Claudius Templesmith membahana di arena.
"Salam  untuk  para  peserta  terakhir  dari  Hunger  Games  ke  tujuh  puluh  empat.
Perubahan peraturan sebelumnya telah dicabut. Setelah membaca buku peraturan dengan lebih seksama, dinyatakan bahwa hanya satu pemenang yang diizinkan dalam acara ini," katanya. "Semoga beruntung dan semoga keberuntungan ada di pihakmu."
Terdengar  ledakan  statis  kecil  lalu  hening.  Kutatap  Peeta  tak  percaya  ketika kenyataan itu  meresap  dalam  benakku.  Mereka  tak pernah  berniat  membiarkan kami berdua hidup. Ini cuma cara juri pertarungan untuk memastikan bahwa Hunger Games kali ini menjadi tayangan paling dramastis dalam sejarah. Dan tololnya, aku percaya.
"Kalau kaupikirkan lagi, sebenarnya tak terlalu mengejutkan kok," kata Peeta pelan. Kuperhatikan Peeta ketika dengan susah payah dan kesakitan berusaha berdiri. Lalu dia
bergerak menghampiriku, seakan dalam gerakan lambat, tangannya mengeluarkan pisau dari ikat pinggangnya...
Sebelum aku sempat menyadari tindakanku, busurku langsung siaga dengan anak panah yang tertuju ke jantung Peeta. Dia mengangkat alis dan kulihat pisau sudah terlepas
dari tangannya menuju danau dan tercemplung di air. Aku menjatuhkan senjataku lalu melangkah mundur, wajahku terbakar malu.
"Tidak," kata Peeta. "Lakukanlah." Peeta tertatih-tatih berjalan mendekatiku dan mendesakkan senjataku ke tanganku.
"Aku tidak bisa," kataku. "Aku tidak mau."
"Lakukanlah. Sebelum mereka mengirim mutt-mutt itu kembali atau apalah. Aku tak mau mati seperti Cato," katanya.
"Kalau  begitu,  kau  saja  yang  panah,"  kataku  marah,  mendorongkan  senjata  itu kembali padanya. "Kaupanah aku lalu kau pulang dan jalani hidupmu!" lalu ketika aku mengucapkannya, aku tau kematian disini, sekarang, akan jauh lebih mudah bagi kami berdua.
"Kau tau aku tak bisa melakukannya," kata Peeta, membuang senjata itu. "Baiklah, aku yang akan mati lebih dulu."
Dia menunduk dan merobek perban dari kakinya, melepaskan penghalang antara darahnya dan tanah.
"Tidak, kau tak boleh bunuh diri," kataku. Aku berlutut, putus asa berusaha menempelkan kembali perban ke lukanya.
"Katniss," katanya. "Ini yang kumau."
"Kau takkan meninggalkanku sendiri disini," kataku. Karena jika dia mati, aku takkan pernah benar-benar pulang. Aku akan menghabiskan sisa hidupku di arena ini, berusaha memikirkan jalan pulang.
"Dengar," kata Peeta, menarikku berdiri. "Kita sama-sama tahu mereka harus punya pemenang. Dan hanya salah satu dari kita yang akan jadi pemenangnya. Tolong jadilah pemenang. Demi aku."
Kemudian dia mengoceh tentang betapa dia mencintaiku, seperti apa hidupnya tanpaku, tapi aku sudah tak mendengarnya karena kata-kata Peeta sebelumnya terngiang dalam kepalaku.
Kita sama-sama tau mereka harus punya pemenang.
Ya, mereka harus punya pemenang. Tanpa pemenang, semua ini akan mempermalukan Juri Pertarungan.Mereka akan mengecewakan Capitol. Kemungkinan mereka akan dihukum mati, secara perlahan dan menyakitkan sementara kamera-kamera akan menyiarkannya ke seantero negeri.
Jika aku dan Peeta mati, atau mereka pikir kami...
Jemariku  meraba-raba  kantong  di  ikat  pinggangku,  lalu  melepaskannya.  Peeta melihat apa yang kulakukandan segera mencengkeram pergelangan tanganku. "Tidak, aku takkan membiarkanmu."
"Percayalah," aku berbisik. Dia menatapku lama sebelum melepaskan cengkeramannya.  Kubuka  kantong  itu  dan  kutuang  segenggam  kecil  buah  berry  itu
ditelapak tangannya. Lalu aku menuangnya ketanganku sendiri. "Pada hitungan ketiga?"
Peeta menunduk dan menciumku sekali, sangat lembut. "Pada hitungan ketiga," katanya.
Kami berdiri, berpunggungan, dua tangan kami yang kosong bergenggaman erat. "Ulurkan tanganmu. Aku ingin semua orang melihatnya," kata Peeta.
Kubuka telapak tanganku, buah-buah berry yang hitam berkilau ditimpa matahari. Kugenggam tangan Peeta sebagai pertanda, sebagai salam perpisahan, lalu kami mulai menghitung.
"Satu," mungkin aku salah. "Dua," mungkin mereka tak peduli jika kami mati. "Tiga!"
sudah terlambat untuk berubah pikiran. Kuangkat tanganku kemulut, kupandangi dunia terakhir kalinya. Berry-berry itu baru saja melewati mulutku ketika suara trompet menggelegar.
Suara Claudius yang panik menyela suara trompet. "Stop! Stop! Bapak-ibu sekalian, dengan ini kupersembahkan para pemenang Hunger Games ke 74, Katniss Everdeen dan Peeta Mellark!" "Kupersembahkan pada kalian—para peserta dari Distrik Dua Belas!"

The Hunger Games indonesia bagian 24

BUTUH waktu untuk menjelaskan situasinya pada Peeta. Bagaimana si Muka Rubah mencuri makanan dari tumpukan persediaan kawanan Karier sebelum aku meledakkannya,  bagaimana  dia  mengambil  secukupnya  untuk  bisa  hidup  tapi  tidak banyak hingga ketahuan, bagaimana dia tak mempertanyakan keamanan buah-buah berry yang kami siapkan untuk kami sendiri.
"Aku  penasaran  bagaimana  dia  bisa menemukan kita  ya,"  ujar Peeta.  "Kurasa  ini salahku, jika memang aku seberisik katamu."
Mengikuti kami sama sulitnya seperti mengikuti kawanan ternak, tapi aku berbaik hati. "Dan dia sangat cerdik, Peeta. Yah, sampai kau mempercundanginya."
"Bukan dengan sengaja. Entah bagaimana tampaknya tidak adil. Maksudku, kita juga bisa mati kalau dia tak makan buah itu lebih dulu." Namun mendadak Peeta tersadar.
"Tidak, tentu kita takkan mati. Kau mengenali buah ini kan?"
Aku mengangguk. "Kami menyebutnya nightlock."
"Bahkan namanya terdengar mematikan," katanya. "Maafkan aku, Katniss. Kupikir ini buah berry yang sama seperti yang kaukumpulkan."
"Jangan minta maaf. Ini artinya kita selangkah lebih dekat lagi untuk pulang kan?" tanyaku.
"Akan kubuang sisanya," kata Peeta. Dia mengumpulkan semua berry dalam plastik biru, berhati-hati agar buah berry itu tetap berada di dalam plastik, dan pergi ke hutan untuk membuangnya.
"Tunggu!" aku memekik. Kuambil kantong kulit milik anak lelaki distrik 1 dan kuisi
dengan segenggam berry dari dalam plastik. "Jika buah ini bisa membuat si Muka Rubah tertipu, mungkin bisa membuat  Cato tertipu juga. Kalau dia mengejar kita atau entah bagaimana, kita bisa pura-pura menjatuhkan kantong ini tanpa sengaja dan jika dia makan—"
"Halo Distrik Dua Belas," kata Peeta.
"Itu dia," kataku, sambil mengamankan kantong itu di ikat pinggangku.
"Dia pasti tau dimana kita sekarang," kata Peeta. "Kalau dia berada tak jauh dari sini dan melihat pesawat ringan, dia akan tau kita membunuh gadis itu dan mengejar kita."
Peeta benar. Ini mungkin kesempatan yang ditunggu-tunggu Cato. Tapi jika kami lari sekarang,  masih  ada  daging  yang  harus  dimasak  dan  api  kami  akan  jadi  penanda
keberadaan kami.
"Ayo kita buat api. Sekarang." aku mulai mengumpulkan ranting-ranting semak- semak.
"Apakah kau siap berhadapan dengannya?" tanya Peeta.
"Aku siap untuk makan. Lebih baik kita masak makanan kita mumpung ada kesempatan. Kalau dia tau kita disini, biarlah dia tau. Tapi dia juga tau kita berdua dan mungkin berasumsi bahwa kita memburu si Muka Rubah. Itu berarti kau sudah pulih. Dan api berarti kita tak bersembunyi, kita mengundangnya kemari. Apakah kau bakal datang?" tanyaku.
"Mungkin tidak," jawabnya.
Peeta jago membuat api, dia bahkan bisa menyalakan api dari kayu basah. Dalam waktu singkat, dua ekor kelinci dan tupai sudah terpanggang, umbi-umbian yang terbungkus daun-daunan terpanggang di antara arang. Kami bergantian mengumpulkan daun-daunan dan waspada menunggu kedatangan Cato, tapi sebagaimana yang kuperkirakan, dia tak datang. Ketika makanan masak, kusimpan sebagian besar makanan itu dan kami makan kaki kelinci sambil jalan.
Aku ingin bergerak lebih tinggi didalam hutan, memanjat pohon yang bagus, dan berkemah untuk malam ini, tapi Peeta menolak. "Aku tak bisa memanjat pohon sepertimu Katniss, apalagi kakiku seperti ini, dan rasanya aku tak bisa tidur lima belas meter di atas tanah."
Aku menghela napas. Beberapa jam jalan kaki—atau lebih tepatnya mendentamkan kaki—melintasi hutan untuk tiba ketempat yang cuma kami tempati hingga besok pagi untuk kami tinggalkan berburu. Tapi Peeta tidak meminta banyak. Dia mengikuti perintahku sepanjang hari dan aku yakin jika keadaannya terbalik, dia takkan membuatku tidur di pohon. Barulah aku sadar bahwa sepanjang hari ini aku tidak bersikap baik pada Peeta. Mengocehinya tentang betapa berisik jalannya, berteriak padanya karena menghilang. Permainan asmara yang kami mainkan di gua lenyap tak berbekas di tempat terbuka, di bawa sinar matahari, dengan Cato yang mengancam kami. Haymitch mungkin sudah muak padaku, dan para penonton..
Aku berjinjit dan menciumnya. "Tentu. Ayo kita kembali ke gua." Peeta tampak senang dan lega. "Well, ternyata mudah."
Kucabut anak panahku dari pohon oak, berhati-hati agar tak merusak anak panahnya. Sekarang anak-anak panah ini adalah makanan, keselamatan, hidup itu sendiri.
Kami melemparkan lebih banyak kayu lagi ke api. Kobarannya akan menghasilkan asap selama beberapa jam. Ketika kami tiba di sungai, air sungai sudah jauh lebih surut
dan arusnya juga lebih tenang, jadi aku menyarankan agar kami berjalan disungai untuk
kembali ke gua. Dengan senang hati Peeta mematuhiku, dan karena dia jauh lebih tak bersuara  di  sungai  daripada  ditanah.  Perjalanan  ke  gua  masih  jauh,  meskipun  kami berjalan menurun, dan daging kelinci menambah tenaga kami. Aku dan Peeta kelelahan akibat jalan menanjak yang kami lalui hari ini dan masih kekurangan makan. Kupasang panah dibusurku, bersiaga menghadapi Cato atau ikan yang mungkin bisa kutemui, tapi anehnya sungai ini tak terisi makhluk hidup.
Pada saat kami tiba ditempat tujuan, kami sudah berjalan menyeret dan matahari terbenam di cakrawala. Kami mengisi botol-botol air, lalu menuju gua kami. Tempat ini tidak mewah, tapi di alam liar ini, gua inilah yang paling bisa disebut rumah. Gua juga lebih   hangat   daripada   pohon,   karena   memberikan   perlindungan   dari   angin   yang berembus kencang dari arah barat. Kusiapkan makan malam, tapi baru separo dimakan Peeta  sudah  mengantuk.  Setelah  beberapa  hari  tak  beraktivitas,  kegiatan  berburu membuat kami kelelahan. Kusuruh Peeta masuk ke kantong tidur dan kusimpan sisa makanannya. Peeta langsung tidur. Kutarik kantong tidur hingga dagunya dan kucium dahinya, bukan untuk penonton, tapi untukku. Karena aku bersyukur dia masih di sini, tak tewas seperti yang kukira. Lega karena aku tak harus menghadapi Cato sendirian.
Cato yang brutal dan haus darah,  yang bisa mematahkan leher lawannya dengan sekali puntir, yang punya kekuatan untuk mengalahkan Thresh, sudah mengincarku sejak awal. Dia mungkin memiliki kebencian khusus padaku karena aku mengalahkan nilainya pada saat latihan. Anak lelaki seperti Peeta akan mengabaikannya begitu saja. Aku punya firasat hal itu malah membuat perhatian Cato teralih. Aku teringat pada reaksi konyolnya ketika mendapati persediaan makanannya meledak. Peserta-peserta lain tentunya marah, tapi Cato murka. Aku bertanya-tanya apakah Cato masih waras sekarang.
Langit benderang dengan lambang negara, dan aku melihat wajah si Muka Rubah bersinar di atas sana lalu menghilang dari dunia selamanya. Peeta tidak mengatakannya, tapi menurutku dia merasa tak enak hati karena membunuh gadis itu, meskipun membunuhnya merupakan tindakan yang diperlukan. Aku tidak bisa berpura-pura akan merindukannya,tapi    aku    harus    mengaguminya.    Tebakanku    adalah    jika    mereka
memberikan  semacam  tes  pada  kami,  hasilnya  dia  pasti  akan  keluar  sebagai  peserta
terpintar. Sesungguhnya, jika kami memasang perangkap untuknya, aku yakin dia pasti bisa menciumnya dan menghindari buah berry tersebut. Ketidaktauan Peeta-lah yang membuat si Muka Rubah tewas. Aku menghabiskan banyak waktuku untuk memastikan aku  tidak  meremehkan  lawan-lawanku sehingga  aku  lupa bahwa  memandang  mereka terlalu tinggi pun sama berbahayanya.
Dan itu membawaku kembali ke Cato. Sementara aku bisa memperkirakan siapa si Muka Rubah dan cara kerjanya, Cato tampaknya lebih licin. Lebih kuat, lebih terlatih, tapi pintar? Aku tak tau. Pasti tak sepintar si Muka Rubah. Dan Cato tidak memiliki kontrol diri seperti yang ditunjukkan si Muka Rubah. Aku yakin Cato bisa dengan mudah kehilangan akal sehatnya dalam keadaan marah. Meskipun tidak berarti aku lebih baik daripada dia untuk urusan itu. Aku teringat ketika kutembakkan anak panah menembus apel dimulut babi ketika aku marah besar. Mungkin aku memahami Cato lebih dari yang kupikirkan.
Meskipun tubuhku kelelahan, pikiranku tetap waspada, jadi kubiarkan Peeta tidur lewat dari jam jaga kami biasanya. Bahkan, warna kelabu samar tanda hari telah dimulai sudah tampak ketika aku mengguncang bahunya. Peeta melihat keluar, nyaris terkejut. "Aku tidur sepanjang malam. Ini tak adil Katniss, kau seharusnya membangunkanku."
Aku meregangkan tubuh lalu meringkuk ke dalam kantong tidur. "Aku akan tidur
sekarang. Bangunkan aku kalau ada kejadian seru."
Ternyata tak terjadi apa-apa, karena ketika aku membuka mata, sinar matahari siang menembus di celah-celah bebatuan.
"Ada tanda-tanda dari teman kita?" tanyaku.
Peeta menggeleng. "Tidak ada, dia sepertinya tak mau tampil menonjol."
"Menurutmu berapa lama lagi waktu kita sebelum juri pertarungan membuat kita bertemu?" tanyaku.
"Hm, si Muka Rubah  tewas hampir sehari lalu, jadi pasti  ada banyak waktu bagi penonton untuk memasang taruhan kemudian merasa bosan. Kurasa bisa terjadi tak lama lagi," kata Peeta.
"Yeah, aku punya firasat hari inilah saatnya," kataku. Aku duduk dan memandang keluar ke pemandangan yang mententramkan. "Aku penasaran, bagaimana cara mereka melakukannya ya?"
Peeta tidak menjawab. Memang tak ada jawaban yang bagus untuk pertanyaan itu. "Yah, sampai mereka melakukannya, tak ada gunanya bagi kita menyia-nyiakan satu
hari berburu. Tapi kita sebaiknya mungkin makan sebanyak yang bisa kita telan untuk berjaga-jaga seandainya kita menghadapi masalah," kataku.
Peeta membereskan perlengkapan kami sementara aku mengeluarkan makanan. Sisa daging kelinci, umbi-umbian, sayuran hijau, roti-roti yang diolesi sisa-sisa keju terakhir. Makanan yang masih kusimpan untuk cadangan adalah tupai dan apel.
Pada saat kami selesai  makan, yang tersisa hanyalah tulang-tulang kelinci. Kedua
tanganku berminyak, yang hanya membuatku merasa makin kotor. Mungkin di Seam kami tak mandi setiap hari, tapi disana kami lebih bersih daripada tubuhku belakangan ini. Kecuali kakiku, yang sudah berjalan disungai, bagian tubuhku yang lain berselimutkan debu.
Ketika meninggalkan gua, aku merasakan saat akhir menjelang. Entah bagaimana aku merasa tak akan ada satu malam lagi di arena. Dengan satu atau lain cara, hidup atau mati,
aku punya firasat akan keluar dari arena hari ini. Kutepuk batu-batu menyampaikan salam
perpisahan dan kami berjalan menuju sungai untuk bersih-bersih. Aku bisa merasakan kulitku gatal kepingin kena air dingin. Aku bisa menata rambutku dan mengepangnya kebelakang dalam keadaan basah. Kupikir kami mungkin bisa menggosok pakaian kami dengan cepat disungai. Atau tempat yang tadinya sungai itu. Sekarang tempat itu kering kerontang. Aku menurunkan tanganku untuk menyentuhnya.
"Bahkan tak ada bekas lembap sama sekali. Mereka pasti mengeringkannya ketika kita tidur," kataku. Rasa takut membayangkan bibir pecah-pecah, tubuh yang sakit, dan pikiran berkabut akibat dehidrasi pertamaku merasuk kedalam kesadaranku. Botol-botol air kami masih lumayan penuh, tapi dengan matahari seterik ini, air kami takkan bertahan lama.
"Danau," kata Peeta. "Mereka ingin kita kesana." "Mungkin masih ada air di kolam," kataku penuh harap.
"Kita bisa memeriksanya," kata Peeta, tapi dia hanya menghiburku. Aku juga menghibur diriku karena aku tau apa yang akan kutemukan saat kami kembali kekolam
tempat aku merendam kakiku. Tapi kami tetap berjalan kesana hanya untuk memastikan
apa yang kami ketahui.
"Kau   benar.   Mereka   menggiring   kita   ke   danau,"   kataku.   Disana   tidak   ada perlindungan. Disana mereka menjamin adanya pertarungan berdarah tanpa ada apapun yang menghalangi pandangan mereka. "Kau mau kesana sekarang atau menunggu sampai air kita kita habis?"


"Ayo kesana sekarang, mumpung kita punya makanan dan sudah beristirahat. Mari kita akhiri semua ini," kata Peeta.
Aku mengangguk. Lucu rasanya. Aku merasa seolah-olah berada di hari pertama Hunger Games lagi. Dua puluh satu peserta sudah tewas, tapi aku masih harus membunuh Cato.   Sesungguhnya,   bukankah   dia   selalu   jadi   satu-satunya   orang   yang   harusnya kubunuh? Sekarang tampaknya peserta-peserta lain hanyalah rintangan-rintangan kecil,
pengalih perhatian, yang menjauhkan kami dari pertarungan Hunger Games yang sesungguhnya. Cato dan aku.
Tapi tunggu, ada anak lelaki yang menunggu disampingku. Aku merasakan kedua lengannya memelukku.
"Dua lawan satu. Seharusnya mudah," kata Peeta. "Makan kita berikutnya akan di Capitol," sahutku. "Pastinya," timpal Peeta.
Kami berdiri sesaat, berpelukan erat, merasakan keberadaan satu sama lain, sinar
matahari, gemerisik daun-daunan dibawah kaki kami. Lalu tanpa kata-kata, kami melepaskan pelukan dan berjalan ke danau.
Saat ini aku tak peduli jika langkah kaki Peeta membuat binatang-binatang pengerat kabur, membuat burung-burung terbang. Kami harus melawan Cato dan sama saja melakukannya sekarang atau nanti ditanah lapang. Tapi aku tidak yakin kami punya pilihan. Jika para juri pertarungan ingin kami melakukannya di tempat terbuka, maka tempat terbukalah pilihannya.
Kami berhenti sejenak untuk beristirahat di bawah pohon tempat kawanan Karier memerangkapku. Serpihan-serpihan kulit sarang tawon penjejak, hancur karena hujan lebat dan kering karena sengatan matahari, menegaskan bahwa ini memang tempatnya. Kusentuh serpihan kulit itu dengan ujung sepatu botku, dan segera serpihan itu berubah jadi debu yang terriup terbawa angin. Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak melihat pohon tempat Rue hinggap diam-diam, menunggu untuk menyelamatkanku. Tawon penjejak. Mayat Glimmer yang menggembung. Halusinasi-halusinasi yang menakutkan.
"Ayo terus bergerak," kataku, ingin melepaskan diri dari kegelapan yang melingkupi tempat ini. Peeta tak membantah.
Sudah   menjelang   malam   ketika   kami   tiba   ditanah   lapang.   Tidak   ada   tanda keberadaan Cato. Tiak ada tanda apapun selain emas Cornucopia berkilau di bawah sinar matahari yang menyilaukan. Untuk berjaga-jaga seandainya Cato akan menyerang kami
dengan cara yang dilakukan si Muka Rubah ketika merebut ranselnya, kami mengelilingi Cornucopia untuk memastikan tempat ini kosong. Lalu dengan patuh, seakan mengikuti perintah, kami berjalan ke danau dan mengisi tempat air kami.
Aku mengernyit memandang matahari yang terbenam. "Kita tak mau melawannya setelah hari gelap. Hanya ada satu kacamata malam."
Dengan hati-hati Peeta meneteskan iodine ke dalam air. "Mungkin itu yang ditunggunya. Kau ingin melakukan apa sekarang? Kembali ke gua?"
"Itu, atau mencari pohon. Tapi kita beri dia waktu setengah jam lagi. Kemudian kita cari tempat sembunyi," jawabku.
Kami  duduk  didekat  danau,  sengaja  membiarkan  diri  kami  terlihat.  Tidak  ada gunanya bersembunyi sekarang. Di pepohonan di ujung tanah lapang, aku bisa melihat
burung-burung mockingjay hinggap disana-sini. Saling bertukar melodi diantara mereka
seperti saling melempar bola-bola berwarna cerah. Aku menyanyikan empat not lagu Rue.Aku bisa merasakan burung-burung itu diam menunggu penuh rasa ingin tau mendengar  suaraku  dan  menyimak  lebih  seksama.  Kuulang  nada  itu  dalam  suasana
hening.  Pertama  seekor  mockingjay  balas  melantunkannya,  lalu  diikuti  mockingjay lainnya.
"Sama seperti ayahmu," kata Peeta.
Jemariku menyentuh pin di kausku. "Itu lagu Rue," kataku. "Menurutku mereka mengingatnya."
Musik bergema dan aku mengenali keindahannya. Not-not itu saling tumpang tindih, membentuk  nada  yang  saling  mengisi,  membentuk  harmoni  yang  indah  dan  bagai
nyanyian bidadari. Berkat Rue, suara inilah yang mengirim para pekerja dikebun buah di
distrik 11 pulang kerumah setiap malam. Apakah ada yang menyanyikannya pada jam pulang, kini setelah Rue meninggal?
Selama sesaat, aku memejamkan mataku dan mendengarkan, terpukau dengan keindahan lagu itu. Kemudian ada sesuatu yang mengganggu irama musik. Iramanya terpotong secara kasar dan tak beraturan. Nada-nada sumbang bercampur dengan melodi. Mockingjay itu memekikkan kengerian.
Kami langsung berdiri, Peeta menghunus pedangnya, aku bersiap memanah, ketika Cato berlari melintasi pepohonan. Dia tak membawa tombak. Bahkan, kedua tangannya kosong, tapi dia terus berlari ke arah kami. Panah pertamaku mengenai dadanya, yang anehnya langsung jatuh tanpa menembus tubuh Cato.
"Dia memakai semacam perisai!" aku berteriak pada Peeta.
Teriakanku tepat pada waktunya, karena Cato sudah mendatangi kami. Aku menguatkan diri, tapi dia menerjang diantara kami tanpa mengurangi kecepatannya. Dari dengus napasnya, keringat yang membanjiri wajahnya yang pias,Cato sudah berlari cukup lama. Bukan kearah kami. Tapi lari dari sesuatu. Tapi apa?
Mataku mengamati hutan tepat ketika makhluk pertama melompat ke tanah lapang. Ketika aku berpaling, aku melihat enam makhluk lain mengikutinya. Kemudian aku lari tunggang  langgang mengejar  Cato  tanpa  ada  tujuan  lain selain  menyelamatkan  diriku sendiri.

The Hunger Games indonesia bagian 23

SEMUA sel tubuhku ingin aku melahap rebusan daging domba dan menjejalkannya ke mulutku, langsung dengan tangan. Tapi suara Peeta menghentikanku. "Lebih baik kita makan rebusan daging itu pelan-pelan. Ingat malam pertama kita di kereta? Makanan berlemak membuatku mual padahal saat itu aku tak sedang kelaparan."
"Kau benar. Padahal sekarang aku bisa menghirup semuanya!" kataku penuh penyesalan.
Tapi aku tak melakukannya. Kami bersikap logis. Kami makan sepotong roti, setengah apel, serta nasi dan rebusan daging yang besarnya seukuran telur ayam. Kupaksa diriku makan rebusan daging itu dalam sendokan-sendokan kecil—mereka bahkan mengirimi kami piring-piring dan peralatan makan dari perak—menikmati setiap gigitanku. Setelah kami selesai makan, aku memandangi piring berisi makanan dengan penuh harap. "Aku
masih mau tambah."
"Aku juga. Begini saja.. kita tunggu selama satu jam," kata Peeta. "Kalau makanan kita tetap di perut, kita makan seporsi lagi."
"Setuju," kataku. "Dan ini akan jadi satu jam yang panjang."
"Mungkin tak selama itu," kata Peeta. "Kaubilang apa tadi sebelum makanan turun? Sesuatu tentang... aku... tak ada pesaing... hal terbaik yang pernah terjadi padamu.."
"Aku tak ingat bagian terakhir itu," kataku, berharap cahaya disini terlalu temaram sehingga kamera tak bisa menangkap wajahku yang merona.
"Oh, betul juga. Itu memang cuma ada dalam pikiranku," kata Peeta. "Geser sedikit, aku kedinginan."
Aku memberinya ruang didalam kantong tidur. Kami bersandar di dinding gua, kepalaku di bahunya, kedua lengannya membungkus tubuhku. Aku bisa merasakan Haymitch mendorongku untuk terus berakting.
"Jadi  sejak  umur  lima  tahun,  kau  tak  pernah  memperhatikan  gadis  lain?"  aku
bertanya padanya.
"Tidak juga, aku memperhatikan hampir semua gadis, tapi tak ada yang memberi kesan abadi seperti dirimu," kata Peeta.
"Aku yakin orangtuamu akan girang mendengarmu menyukai gadis dari Seam," kataku.
"Aku tak peduli. Lagipula, kalau kita berhasil pulang, kau tak lagi menjadi gadis dari
Seam, kau akan jadi gadis dari Desa Pemenang," katanya.
Itu benar. Kalau kami menang, kami masing-masing akan mendapat rumah di sisi kota yang disediakan untuk para pemenang Hunger Games. Dulu, ketika Hunger Games dimulai, Capitol membangun 12 rumah bagus di masing-masing distrik. Tentu saja, di distrik kami hanya satu yang dihuni. Sebagian besar rumah itu tak pernah dihuni sama sekali.
Pikiran  yang  mengganggu  menghantamku.  "Tapi  tetangga  kita  satu-satunya  cuma
Haymitch!
"Ah, itu bakal menyenangkan," ujar Peeta, sambil mempererat pelukannya. "Kau, aku dan Haymitch. Sangat nyaman. Piknik, ulangtahun, duduk di dekat perapian pada malam- malam musim panas sambil mengulang cerita tentang Hunger Games."
"Sudah kubilang, dia membenciku!" kataku, tapi aku tak bisa menahan diri untuk tidak tertawa membayangkan Haymitch jadi sahabat baruku.
"Kadang-kadang saja. Saat dia tak mabuk, aku tak pernah mendengarnya bicara jelek tentang dirimu," kata Peeta.
"Dia selalu mabuk!" aku protes.
"Betul juga. Siapa yang kupikirkan? Oh, aku tau. Cinna yang menyukaimu. Tapi itu terutama karena kau tak berusaha kabur ketika dia membakarmu," ujar Peeta.
"Sebaliknya, Haymitch.. well, kalau aku jadi kau, aku akan menghindari Haymitch sepenuhnya. Dia membencimu."
"Seingatku kau bilang aku favoritnya," kataku.
"Dia  membenciku  lebih  daripada  dia membencimu,"  kata Peeta.  "Kurasa  manusia secara umum bukanlah sesuatu yang dia sukai."
Aku tahu penonton akan menikmati ejekan kami terhadap Haymitch. Dia sudah lama ikut Hunger Games dan bisa di bilang dia seperti sahabat lama bagi sebagian penonton. Dan setelah dia meluncur jatuh dipanggung pada hari pemungutan, semua orang mengenalnya. Pada saat ini, mereka akan menyeretnya keluar dari ruang kontrol untuk diwawancarai tentang kami. Entah dusta apa yang dikatakannya tentang kami. Haymitch memiliki kekurangan karena kebanyakan mentor memiliki partner, pemenang lain yang membantu mereka, sementara Haymitch harus selalu siaga sepanjang waktu. Serupa seperti apa yang kurasakan ketika sendirian di arena. Aku ingin tau bagaimana cara Haymitch bertahan, dengan minuman, perhatian dan tekanan untuk menjaga kami tetap hidup.
Lucu rasanya. Secara pribadi aku dan Haymitch tak bisa terlalu akrab, tapi mungkin Peeta  tak  salah  menyebut  kami   mirip   karena  dia  tampaknya  bisa  berkomunikasi denganku melalui ketepatan waktu pemberian hadiah-hadiahnya. Seperti bagaimana dia menahan diri untuk tak memberiku air karena tahu aku sudah dekat sumber air dan
bagaimana   aku   tahu   sirup   obat   tidur   itu   bukan   sesuatu   yang   diperlukan   untuk
mengurangi  rasa  sakit  Peeta  dan  bagaimana  aku  tau  sekarang  aku  harus  mengikuti peranku dalam urusan asmara ini. Sesungguhnya dia tak berusaha terlalu keras untuk berhubungan dengan Peeta. Mungkin dia pikir kuah daging cuma menjadi semangkuk kuah daging bagi Peeta, sementara aku melihat ada maksud lain dibalik semua semangkuk kuah daging.
Sebuah  pemikiran  menghantamku,  dan  aku  heran  kenapa  pernyataan  ini  butuh waktu lama untuk muncul ke permukaan. Mungkin karena baru belakangan ini aku memandang  Haymitch  dengan  rasa  ingin  tau.  "Menurutmu  bagaimana  dia melakukannya?"
"Siapa? Melakukan apa?" tanya Peeta.
"Haymitch. Menurutmu bagaimana caranya hingga dia bisa menang Hunger Games?" tanyaku.
Peeta berpikir sebelum menjawab. Tubuh Haymitch kekar, meskipun tak sekekar Cato dan Thresh. Dia juga tidak terlalu tampan sampai para sponsor menghujaninya dengan hadiah. Dan mukanya selalu masam, sulit membayangkan ada orang yang mau bersekutu dengannya. Hanya ada satu cara Haymitch bisa menang, dan Peeta mengucapkannya tepat ketika aku menemukan jawabannya.
"Dia lebih cerdik dari peserta-peserta lain," kata Peeta.
Aku mengangguk, membiarkan pembicaraan terhenti begitu saja. Aku penasaran apakah Haymitch sadar cukup lama untuk bisa membantuku dan Peeta. Karena dia pikir kami punya kecerdasan yang cukup untuk bertahan hidup. Mungkin dia tidak selalu jadi pemabuk. Mungkin, pada mulanya, dia berusaha membantu para peserta. Tapi keadaan kemudian jadi tak tertahankan. Pasti buruk rasanya menjadi mentor dua anak kemudian kau melihatnya mati. Tahun demi tahun. Aku tersadar jika aku berhasil lolos dari sini, aku juga akan menjadi mentor. Menjadi mentor bagi anak perempuan dari distrik 12. Gagasan itu begitu menjijikkan, sehingga aku mengenyahkannya dari otakku.
Sekitar setengah jam berlalu sebelum aku memutuskan untuk makan lagi. Peeta juga terlalu  lapar  untuk  berdebat.  Saat  aku  menghabiskan  2  sendok  kecil  rebusan  daging domba dan nasi, kami mendengar lagu kebangsaan mulai dinyanyikan. Peeta mengintip ke langit melalui celah di bebatuan.
"Tak bakal ada yang bisa dilihat dilangit malam ini," kataku, jauh lebih tertarik pada rebusan dagingnya. "Tidak terjadi apa-apa, kalau tidak kita pasti sudah mendengar bunyi meriam."
"Katniss," kata Peeta perlahan.
"Apa? Rotinya juga harus dibagi dua?" tanyaku.
"Katniss," panggilnya sekali lagi, tapi aku ingin bisa tak menggubrisnya.
"Aku akan bagi dua satu roti ini. Tapi kejunya kusimpan untuk besok ya," kataku. Kulihat Peeta sedang memandangiku lekat-lekat. "Apa?"
"Thresh tewas," kata Peeta. "Tidak mungkin," kataku.
"Mereka pasti menembakkan meriam saat guntur dan kita tak mendengarnya," kata
Peeta.
"Kau yakin? Maksudku, diluar hujan deras. Mungkin kau salah liat," kataku. Kudorong dia menjauh dari bebatuan dan mengintip kelangit yang gelap dan berhujan. Selama 10 detik, aku melihat cuplikan foto Thresh lalu dia menghilang. Cuma itu. Aku merosot duduk tersandar di bebatuan, sejenak lupa pada tugas yang ada di tanganku. Thresh tewas. Seharusnya aku gembira, kan? Berkurang satu lagi peserta yang harus dihadapi. Peserta yang kuat pula. Tapi aku tak gembira. Yang bisa kupikirkan tentang Thresh adalah bagaimana dia melepaskanku, membiarkanku lari karena Rue, yang tewas karena tombak di perutnya...
"Kau baik-baik saja?" tanya Peeta.
Aku mengangkat bahu dengan gaya tak peduli dan memeluk kedua sikuku, mendekapnya erat-erat. Aku harus mengubur rasa sakit yang sesungguhnya kurasakan, karena siapa yang akan memasang taruhan pada peserta yang menangisi kematian lawan- lawannya?   Rue   berbeda.   Kami   bersekutu.   Dia   juga   masih   sangat   muda.  Tapi   tak
seorangpun akan memahami kesedihanku pada pembunuhan terhadap Thresh. Kata itu membuatku tersentak. Pembunuhan! Untungnya, aku tak mengucapkannya keras-keras. Kata itu takkan memberiku poin lebih di arena pertarungan. Malahan aku berkata, "Hanya saja... kalau kita tak menang... aku ingin Thresh yang menang. Karena dia melepasku. Dan karena Rue."
"Yeah, aku tau," kata Peeta. "Tapi ini berarti kita selangkah lebih dekat menuju distrik
12." Dia mendorong makanan ketanganku. "Makan. Masih hangat."
Kugigit sepotong daging untuk menunjukkan aku tak peduli, tapi rasanya seperti lem di  mulutku  dan dengan  susah  payah  aku  menelannya.  "Itu  berarti  Cato  akan kembali memburu kita," kataku.
"Dan dia mendapat persediaan barangnya lagi," kata Peeta. "Aku berani taruhan, dia pasti terluka," kataku.
"Kenapa kau bilang begitu?" tanya Peeta.
"Karena Thresh tak bakal menyerah tanpa melawan. Dia sangat kuat, maksudku, dulunya dia sangat kuat. Dan mereka berada di teritori Thresh," kataku menjelaskan.
"Bagus," kata Peeta. "Semakin terluka Cato, semakin baik. Kira-kira bagaimana keadaan si Muka Rubah ya?"
"Oh, dia baik-baik saja," kataku dengan jengkel. Aku masih marah karena dia bisa- bisanya berpikir untuk bersembunyi di Cornucopia sementara aku tidak. "Mungkin lebih mudah menangkap Cato daripada dia."
"Mungkin mereka akan saling mengejar dan kita bisa pulang," kata Peeta. "Tapi lebih baik kita ekstra waspada dalam berjaga-jaga. Aku tertidur beberapa kali."
"Aku juga," kataku mengakui. "Tapi tidak malam ini."
Kami menghabiskan makanan tanpa bicara lalu Peeta menawarkan diri untuk berjaga lebih dulu. Aku tidur di dalam kantong tidur di samping Peeta, menarik tudung kepalaku menutupi  wajahku agar  tersembunyi  dari  kamera.  Aku  butuh  ruang  privasi  agar  bisa mengeluarkan segala  bentuk  emosi  di wajahku tanpa terlihat semua orang. Di  bawah tudung, dalam hati aku mengucapkan selamat tinggal pada Thresh dan berterima kasih padanya karena membiarkanku hidup. Aku berjanji untuk mengenangnya, dan jika bisa, aku ingin melakukan sesuatu untuk membantu keluarganya dan keluarga Rue kalau aku menang. Lalu aku tertidur, nyaman karena perutku kenyang dan kehangatan Peeta yang berada disampingku.
Saat Peeta membangunkanku, yang terekam dalam otakku adalah aroma keju kambing. Dia memegang setengah potong roti dengan olesan krim putih dan potongan- potongan apel diatasnya.
"Jangan marah," katanya. "Aku harus makan lagi. Ini setengah bagianmu."
"Oh, baguslah," kataku dan langsung melahapnya dalam gigitan besar. Rasa keju yang berlemak sama seperti yang dibuat Prim, sementara apelnya manis dan garing. "Mmm"
"Kami membuat keju kambing dan kue tar apel ditoko roti," katanya. "Pasti mahal," kataku.
"Terlalu mahal untuk di makan keluargaku. Kecuali makanannya sudah basi. Tentu saja, nyaris semua yang kami makan sudah basi," kata Peeta, menarik kantong tidur membungkus tubuhnya. Kurang dari semenit, dia sudah mendengkur.
Huh. Aku selalu berpikir pemilik toko memiliki hidup yang lebih ringan. Memang benar, Peeta selalu punya makanan. Tapi menjalani hidupmu dengan roti basi, roti tawar yang keras dan kering, yang tak diinginkan orang lain sepertinya menimbulkan perasaan tertekan. Berbeda dengan kami, karena aku membawa makanan setiap hari, kebanyakan makananku masih segar dan hijau.
Pada jam jagaku, hujan akhirnya berhenti, tak berhenti pelan-pelan tapi berhenti mendadak. Air berhenti turun dan hanya ada sisa-sisa tetesan air dari cabang-cabang pohon dan suara aliran air sungai yang deras dibawah kami. Bulan purnama yang indah muncul, bahkan tanpa kacamata malam aku bisa melihat pemandangan di luar. Aku tidak bisa memutuskan apakah bulan itu sungguhan atau hanya proyeksi buatan juri pertarungan.
Sudah berapa lama aku pergi? Kuperkirakan sudah dua minggu aku berada di arena dan ada seminggu persiapan di Capitol. Mungkin bulan sudah menyelesaikan putarannya. Entah kenapa aku ingin sekali bulan itu menjadi bulanku, bulan yang sama yang kulihat dari hutan di sekitar distrik 12. Bulan itu akan jadi sesuatu yang bisa menjadi tempatku berpegangan dalam dunia sureal di arena ini, dimana keaslian segalanya harus diragukan.
Tinggal kami berempat yang tersisa.
Untuk pertama kalinya aku membiarkan diriku sungguh-sungguh berpikir tentang kemungkinan bahwa aku mungkin bisa pulang. Menuju ketenaran. Memperoleh kekayaan. Kerumahku di Desa Pemenang. Ibuku dan Prim akan tinggal bersamaku. Tidak ada lagi rasa takut kelaparan. Semacam rasa kebebasan. Tapi.. lalu apa? Seperti apa kujalani hidupku setiap hari? Kebanyakan hariku dihabiskan dengan mencari makanan. Bila itu direnggut dariku, aku tak tau lagi siapa diriku, apa identitasku. Pemikiran itu agak membuatku takut. Aku memikirkan Haymitch, dengan semua uang yang dimilikinya. Hidupnya telah menjadi apa? Dia tinggal sendirian, tanpa istri dan anak, menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mabuk-mabukan. Aku tak ingin berakhir seperti itu.
"Tapi kau takkan sendirian," aku berbisik pada diriku sendiri. Aku punya ibuku dan Prim. Yah, untuk sementara. Kemudian... aku tak ingin memikirkan saat itu, ketika Prim tumbuh dewasa, ibuku telah meninggal. Aku tau aku takkan pernah menikah, karena aku tak mau mengambil resiko untuk membawa anak ke dunia ini. Karena satu-satunya hal yang tak bisa dijamin oleh pemenang adalah keselamatan anak-anakmu sendiri. Nama anak-anakku akan masuk kedalam pemungutan seperti nama anak-anak lain. Dan aku bersumpah takkan pernah membiarkannya terjadi.
Matahari  akhirnya  bersinar,  cahayanya  menerobos  diantara  celah-celah  bebatuan dan menyinari wajah Peeta. Kalau kami berhasil pulang, akan berubah seperti apakah Peeta? Anak lelaki yang baik hati dan membingungkan ini, yang bisa menghasilkan kebohongan dengan begitu meyakinkan ke seantero Panem sehingga percaya bahwa dia jatuh cinta setengah mati padaku dan aku harus mengakui bahwa ada momen-momen ketika dia juga membuatku percaya. Paling tidak, kami akan berteman, pikirku. Tak ada yang akan mengubah kenyataan bahwa kami saling menyelamatkan satu sama lain disini. Dan diluar semua itu, dia selalu menjadi anak lelaki dengan roti. Sahabat baik. Apapun diluar persahabatan... dan aku merasa mata kelabu Gale mengawasiku mengawasi Peeta, nun jauh dari Distrik 12.
Rasa tak nyaman membuatku bergerak. Aku bergerak mendekat dan mengguncang- guncangkan bahu Peeta. Matanya membuka setengah mengantuk dan ketika terfokus padaku, dia menarikku kebawah lalu memberiku ciuman panjang.
"Kita menyia-nyiakan waktu berburu," kataku ketika akhirnya ciuman kami terlepas. "Aku tak akan menyebut ini sia-sia," katanya seraya meregangkan tubuhnya sembari
duduk. "Jadi kita berburu dengan perut kosong agar lebih bersemangat?" "Bukan kita," kataku. "Kita makan kenyang agar punya tenaga."
"Aku ikut," kata Peeta. Tapi aku bisa melihat dia terkejut ketika aku membagi semua
sisa rebusan daging domba dan menyerahkan sepiring besar dengan makanan bertumpuk padanya. "Semua ini?"
"Kita akan mendapat makanan hari ini," kataku dan kami berdua menghabiskan isi piring kami. Meskipun sudah dingin, makanan ini adalah makanan terlezat yang pernah kucicipi. Kutaruh garpuku dan kubersihkan sisa-sisa kuah dipiring dengan jariku.
"Aku bisa merasakan Effie Trinket bergidik melihat tingkahku."
"Hei, Effie, lihat ini!" seru Peeta. Dia melempar garpunya kebelakang dan menjilati piringnya hingga bersih  sambil membuat suara-suara berisik dan puas. Kemudian dia meniupkan ciuman kepadanya dan berseru, "Kami merindukanmu, Effie!"
Kututup mulutnya dengan tanganku, tapi aku tertawa. "Hentikan! Bisa saja Cato ada diluar gua ini."
Peeta menyambar tanganku menjauh.
"Aku tak peduli. Kau ada disini untuk melindungiku sekarang," kata Peeta dan menarikku mendekat.
Setelah kami berberes dan berdiri diluar gua kami, suasana hati kami langsung berubah serius. Seakan-akan selama beberapa hari terakhir, terlindung dibalik bebatuan
dan hujan serta Cato yang disibukkan dengan Thresh, kami diberi kelonggaran, semacam liburan. Sekarang, meskipun hari ini cerah dan hangat, kami sama-sama merasakan bahwa
kami sudah kembali ke Hunger Games sepenuhnya. Kuberikan pisauku pada Peeta, karena senjata apapun yang pernah di milikinya sekarang sudah tak ada lagi, dia menyelipkan pisau  itu  di  ikat  pinggangnya.  Tujuh  anak  panahku  yang  tersisa  bergoyang-goyang  di
wadahnya. Aku tak boleh kehilangan anak panah lagi.
"Dia akan memburu kita sekarang," kata Peeta. "Cato bukanlah orang yang akan menunggu mangsanya lewat."
"Kalau dia terluka...," kataku.
"Tak masalah," kata Peeta. "Kalau dia bisa bergerak, dia akan datang."
Hujan lebat membuat air sungai lebih tinggi 1-2 meter. Kami berhenti disana untuk mengisi air kami. Kuperiksa jerat yang kupasang beberapa hari lalu dan ternyata kosong. Tak mengherankan dalam cuaca buruk sebelumnya. Selain itu, aku belum melihat banyak binatang atau tanda-tanda keberadaan mereka di area ini.
"Kalau kita ingin makanan, sebaiknya kita pergi ke wilayah berburuku yang lama,"
kataku.
"Terserah. Beritahu aku apa yang harus kulakukan," kata Peeta.
"Buka matamu," kataku. "Sebisa mungkin berjalanlah di atas batu-batu, tak perlu meninggalkan jejak yang bisa diikutinya. Dan pasang telinga buat kita berdua."
Sudah jelas bahwa ledakan itu merusak pendengaran sebelah kiriku secara permanen. Aku berjalan di dalam air untuk menutup jejak kami sepenuhnya, tapi aku tak yakin
kaki Peeta sanggup menghadapi arus air. Walaupun obat itu bisa menyembuhkan infeksinya, kondisinya masih lemah. Dahiku yang luka kena pisau terasa sakit, tapi pendarahan sudah berhenti setelah tiga hari. Tapi aku memakai perban di kepalaku, seandainya saja kelelahan fisik membuat lukaku berdarah lagi.
Saat kami menuju hulu sungai, kami melewati tempat aku menemukan Peeta yang berkamuflase waktu itu. Untungnya, hujan deras dan sungai yang meluap membuat tanda- tanda tempat persembunyian Peeta tak kelihatan lagi. Itu berarti, jika diperlukan kami bisa kembali ke gua kami. Kalau tidak, aku tak berani mengambil resiko itu jika Cato mengejar kami.
Batu-batu besar berubah jadi batu-batu berukuran sedang dan akhirnya menjadi kerikil, kemudian, aku lega ketika kami kembali ke rumpun-rumpun pohon pinus dan dasar hutan yang menanjak yang menanjak perlahan. Untuk pertama kalinya, aku sadar kami punya masalah. Berjalan d iwilayah berbatu-batu dengan kaki yang terluka pastinya akan menimbulkan suara. Bahkan saat menginjak rumpun pohon yang paling halus pun, Peeta  berisik. Maksudku  berisik, seakan  dia  menghentakkan kakinya keras-keras.  Aku menoleh dan memandangnya.
"Apa?" tanyanya.
"Jangan terlalu berisik saat berjalan," kataku. "Lupakan Cato, kau membuat kabur semua kelinci dalam radius tiga kilometer."
"Benarkah?" tanya Peeta. "Maaf, aku tak tau."
Kemudian kami berjalan lagi dan Peeta sedikit lebih baik, tapi meskipun dengan satu telinga saja, Peeta membuatku terlonjak.
"Bisa kaulepas sepatu botmu?" aku memberi usul.
"Disini?" tanya Peeta tak percaya, seakan aku menyuruhnya berjalan telanjang kaki diatas arang panas. Aku harus mengingatkan diriku bahwa dia tak terbiasa dengan hutan dan itu menakutkan, tempat terlarang diluar distrik 12. Aku teringat Gale, dengan langkah kakinya yang lembut. Kadang-kadang mengerikan bila membayangkan betapa minimalnya
suara yang dihasilkan Gale, bahkan ketika daun-daun sudah berguguran di tanah  dan
menjadi tantangan sendiri bagi kami untuk bergerak tanpa membuat takut buruan.
"Ya," kataku dengan sabar. "Aku juga akan melepas sepatuku. Jadi kita berdua akan lebih tak bersuara."
Seolah-olah aku juga berisik. Jadi kami berdua melepas sepatu dan kaus kaki kami. Meskipun lebih baik, tapi aku berani sumpah Peeta sepertinya berusaha untuk menginjak patah setiap ranting yang ada di bawah kakinya.
Tidak heran, meskipun butuh waktu beberapa jam untuk tiba di kampku dan Rue, aku tidak berhasil memanah satu pun buruan. Kalau arus air sungai lebih tenang, aku mungkin bisa menangkap ikan, tapi arus masih deras. Ketika kami beristirahat dan minum air, aku berusaha memikirkan solusi masalah ini. Idealnya, aku meninggalkan Peeta sekarang  dan  menyuruhnya  melakukan  tugas  mudah  seperti  mengumpulkan  umbi- umbian lalu aku pergi berburu, tapi dia akan sendirian hanya berbekal pisau untuk membela dirinya melawan tombak Cato dan kekuatan supernya. Jadi aku ingin sekali bisa
menyembunyikannya di tempat yang aman, lalu berburu, kemudian kembali menemuinya. Tapi aku punya firasat egonya takkan mau menerima usulan itu.
"Katniss," katanya. "Kita perlu berpencar. Aku tahu aku membuat takut buruan." "Hanya karena kakimu sakit," kataku, karena menurutku ini hanya bagian kecil dari
masalah kami.
"Aku  tahu,"  kata  Peeta.  "Kenapa  kau  tidak  terus  bergerak?  Tunjukkan  padaku tumbuh-tumbuhan   yang  harus   kukumpulkan,   dengan  begitu   kita   berdua   bisa   ada gunanya."
"Tidak ada gunanya jika Cato datang dan membunuhmu." Aku berusaha mengatakannya baik-baik, tapi masih terdengar seolah-olah aku menganggapnya manusia lemah.
Yang mengejutkan Peeta malah tertawa. "Dengar, aku bisa menangani Cato. Aku pernah melawannya, ingat?"
Yeah, dan hasilnya hebat. Kau berakhir sekarat di lumpur sungai. Itu sebenarnya yang ingin  kuucapkan  tapi  aku  tak  bisa  mengatakannya.  Lagipula  dia  memang menyelamatkanku melawan Cato. Aku mencoba taktik lain.
"Bagaimana jika kau  memanjat  pohon dan berjaga-jaga  sementara  aku  berburu?"
kataku, berusaha membuatnya seperti pekerjaan yang maha penting.
"Bagaimana jika kau menunjukkan padaku apa saja tanaman yang bisa dimakan di sekitar sini dan pergilah cari daging untuk kita," kata Peeta, meniru nada suaraku.
Aku mendesah dan menunjukkan umbi-umbian apa yang bisa digalinya. Kami butuh makanan, itu tak bisa diganggu gugat lagi. Sebuah apel, dua potong roti dan keju seukuran buah plum takkan bisa bertahan lama. Aku akan berada di dekat-dekat sini dan berharap jarak Cato masih jauh.
Kuajari   Peeta   bersiul—bukan   melodi   seperti   yang   diajarkan   Rue   tapi   siulan sederhana 2 not—yang bisa kami gunakan untuk saling memberitahukan bahwa kami baik-baik saja. Untungnya, Peeta pandai dalam hal ini. Kutinggalkan Peeta bersama ransel, lalu aku pergi.
Aku merasa seakan umurku sebelas tahun lagi, menambatkan keselamatan bukan pada pagar tapi pada Peeta, menahan diri untuk menjaga batas wilayah buruanku hanya sekitar dua puluh atau tiga puluh meter. Jauh dari Peeta, hutan-hutan jadi hidup dengan berbagai suara binatang. Dengan perasaan tenang karena Peeta bersiul secara teratur, tanpa sadar aku berjalan makin jauh dan tak lama kemudian aku sudah mendapat 2 ekor kelinci  dan  seekor  tupai  gemuk  yang  bisa  kupamerkan.  Kuputuskan  buruanku  sudah cukup. Aku bisa memasang jerat dan mungkin menangkap ikan. Dengan umbi-umbian yang dikumpulkan Peeta, makanan kami untuk sementara sudah cukup.
Ketika aku berjalan kembali, aku sadar bahwa kami sudah cukup lama tak saling bersiul. Ketika siulanku tak dijawab, aku langsung berlari. Segera, aku menemukan ransel, dengan umbi-umbian yang tertumpuk rapi disampingnya. Selembar plastik diletakkan di
2tanah  sementara  matahari  menyinari  =deretan  buah  berry  yang  ada  diatasnya.  Tapi dimana Peeta?
"Peeta!" Aku memanggil namanya dengan panik. "Peeta!"
Aku menoleh ke arah suara dari sesemakan dan hampir menembakkan panah menembus tubuhnya. Untungnya, aku menggeser arah panahku pada detik terakhir sehingga anak panah itu menancap di dahan pohon oak yang ada disebelah kirinya. Dia terlonjak, melempar segenggam buah berry ke arah daun-daunan.
Ketakutanku  berubah  jadi  kemarahan.  "Apa  yang  kau  lakukan?  Kau  seharusnya berada di sini, bukan berlarian di hutan!"
"Aku menemukan buah berry di sungai," kata Peeta, tampak bingung melihat ledakan kemarahanku.
"Aku bersiul. Kenapa kau tak balas bersiul?" bentakku.
"Aku tak dengar. Kurasa, suara airnya terlalu keras," kata Peeta. Dia menyebrang dan menaruh dua tangannya di bahuku. Pada saat itulah aku merasakan tubuhku gemetar.
"Kupikir Cato membunuhmu!" Aku nyaris berteriak.
"Tidak, aku baik-baik saja," Peeta memelukku, tapi aku tak balas memeluknya. "Katniss?"
Aku mendorongnya, berusaha memilah-milah perasaanku. "Kalau dua orang sudah
setuju dengan sinyal yang disepakati bersama, mereka seharusnya berada dalam jarak pendengaran.  Karena  kalau  salah  satu  tak  menjawab,  artinya  mereka  dalam  masalah, benar kan?"
"Benar!" sahut Peeta.
"Benar. Karena itulah yang terjadi pada Rue, dan aku melihatnya mati!" kataku.
Aku menjauh dari Peeta, ke arah ransel dan membuka sebotol air lagi walaupun botol airku masih terisi. Tapi aku masih belum siap memaafkan Peeta. Aku memerhatikan makanan disana. Roti dan apelnya masih utuh tapi seseorang mencungkil kejunya.
"Dan kau makan tanpa menungguku!" Aku sungguh-sungguh tak peduli. Aku hanya ingin bisa meluapkan kemarahanku.
"Apa? Tidak, aku tak melakukannya," kata Peeta. "Oh, jadi apel yang makan kejunya?" aku menyindir.
"Aku tak tau apa yang makan kejunya," kata Peeta perlahan dan tegas, seakan berusaha  untuk  tak  kehilangan  kesabarannya,  "tapi  bukan  aku.  Aku  ada  di  sungai
mengumpulkan buah berry. Kau mau?"
Aku mau, tapi aku tak mau buru-buru melunak. Aku berjalan mendekat dan melihat buah-buah berry itu. Aku tak pernah melihat berry jenis ini. Oh, pernah kulihat. Tapi bukan di arena. Ini bukan berry Rue, meskipun mirip bentuknya. Juga bukan jenis berry yang kupelajari saat latihan. Aku membungkuk dan mengambil beberapa butir berry, menggelindingkannya di antara jemariku.
Suara ayahku terngiang. "Jangan yang ini, Katniss. Jangan pernah makan yang ini. ini berry nightlock. Kau akan mati bahkan sebelum berry ini sampai di perutmu."
Tepat pada saat itu, meriam berbunyi. Aku berputar balik. Mengira Peeta bakal jatuh ke tanah, tapi dia hanya mengangkat alis. Pesawat ringan muncul sekitar seratus meter jauhnya. Apa yang tersisa dari tubuh kerempeng si Muka Rubah terangkat ke udara. Aku bisa melihat rambut merahnya dibawah sinar matahari.
Seharusnya aku tau saat melihat keju yang hilang...
Peeta menarik lenganku, mendorongku ke pohon. "Cepat, panjat pohonnya. Dia akan datang sebentar lagi. Kesempatan kita lebih baik jika melawannya dari atas."
Kuhentikan Peeta. "Tidak, Peeta, kaulah yang membunuhnya, bukan Cato."
"Apa?   Aku   bahkan   tak   pernah   melihatnya   sejak   hari   pertama,"   kata   Peeta. "Bagaimana mungkin aku membunuhnya?"
Kuulurkan tanganku yang berisi buah-buah berry sebagai jawabannya.

Copyright © 2015 Baca Online dan Seputar Blog
| Distributed By Gooyaabi Templates