Featured
Showing posts with label Novel Terjemahan Online. Show all posts
Showing posts with label Novel Terjemahan Online. Show all posts

September 01, 2015

Baca Online Epilog Twilight

EPILOG: ACARA ISTIMEWA
EDWARD membantuku naik ke mobilnya, sangat berhati-hati dengan sutra dan shiffon-nya, bunga-bunga
yang baru saja disematkannya di rambutku yang ditata ikal penuh gaya, serta tongkat berjalanku. Ia mengabaikan bibirku yang cemberut sangat marah. Setelah aku duduk nyaman, ia menyelinap ke jok
pengemudi, dan melaju mundur dari jalanan sempit dan panjang itu.
“Kapan tepatnya kau akan memberitahuku apa yang terjadi?” gerutuku. Aku benar-benar tidak suka kejutan.
Dan ia tahu itu.
“Aku benar-benar terkejut kau belum mengetahuinya juga.” Ia tersenyum mengejek, dan aku tercekat. Apakah
aku bakal terbiasa dengan kesempurnaannya? “Aku sudah bilang kau terlihat sangat tampan, bukan?”
ujarku.
“Sudah.” Ia tersenyum. Aku belum pernah melihatnya mengenakan hitam. Warna itu sangat kontras dengan
kulitnya yang pucat, membuat ketampanannya benar-benar bagaikan mimpi. Itu tak dapat kusangkal, bahkan kalaupun kenyataan dirinya mengenakan tuksedo membuatku sangat gugup.
Tidak segugup yang ditimbulkan gaunku. Atau sepatu yang kukenakan. Sepatuku hanya satu, berhubung kakiku
yang lain masih rapat terbalut gips. Tapi hak stiletto yang kukenakan hanya dipegangi tali sutra, dan itu jelas takkan membantuku saat berjalan terpincang-pincang begini.
“Aku takkan bertamu lagi kalau Alice akan memperlakukanku seperti Barbie Percobaan,” sahutku
seraya mencengkeram jok kursi. Aku menghabiskan sebagian besar hariku di kamar Alice yang sangat luas,
menjadi korban tak berdaya saat ia berperan jadi penata rambut dan penata rias. Setiap kali aku merasa tak nyaman atau mengeluh, ia mengingatkanku bahwa ia sama sekali tidak ingat bagaimana rasanya menjadi manusia, dan memintaku tidak menghancurkan kesenangannya. Kemudian ia memakaikan gaun paling konyol— warna biru gelap, berimpel, dan tanpa lengan, dengan label berbahasa Prancis yang tak kumengerti—gaun yang lebih cocok dikenakan dalam peragaan busana daripada di Forks. Tak ada yang bagus dari pakaian formal kami, aku yakin itu. Kecuali... tapi aku takut menguraikan kecurigaanku, bahkan dalam pikiranku sendiri.
Perhatianku teralih dering telepon. Edward mengeluarkan ponsel dari saku dalam jasnya, melihat
sebentar ke layar sebelum menjawab.
“Halo, Charlie,” sahutnya hati-hati.
“Charlie?” Dahiku berkerut.
Charlie... agak sedikit kurang bersahabat sejak kepulangan-ku ke Forks. Ia menyikapi pengalaman burukku
dalam dua sikap. Terhadap Carlisle, ia teramat sangat bersyukur dan berterima kasih. Di sisi lain ia sangat yakin
semua ini salah Edward—sebab kalau bukan karena Edward, aku tidak akan meninggalkan rumah. Dan Edward
sama sekali tidak menentangnya. Belakangan ini Charlie memberlakukan beberapa peraturan yang tak pernah
diterapkannya padaku sebelumnya: jam malam... jam berkunjung. Sesuatu yang dikatakan Charlie membuat mata Edward membelalak rak percaya, kemudian senyuman langsung mengembang di wajahnya.
“Kau bercanda!” Ia tertawa.
“Ada apa?” desakku.
Ia mengabaikanku. “Biarkan aku bicara padanya,” saran Edward, kegembiraannya tampak nyata. Ia menunggu
sebentar.
“Halo, Tyler, ini Edward Cullen.” Suaranya sangat ramah, tapi hanya di permukaan. Aku mengenalnya cukup
baik untuk menangkap kejailan di baliknya. Apa yang dilakukan Tyler di rumahku? Kebenaran mengerikan mulai terbentuk di benakku. Sekali lagi aku memandang gaun yang kukenakan atas paksaan Alice itu.
“Aku menyesal kalau ada semacam kesalah pahaman, tapi Bella sudah punya teman kencan malam ini.” Nada
suara Edward berubah, dan ancaman dalam suaranya tibatiba jauh lebih nyata saat ia melanjutkan kata-katanya.
“Dan sejujurnya dia tidak akan punya waktu untuk siapa pun kecuali aku, setiap malam. Jangan tersinggung. Aku menyesal malammu tidak menyenangkan.” Ia sama sekali tidak terdengar menyesal. Kemudian ia menutup telepon, senyum lebar menghiasi wajahnya.
Wajah dan leherku merah padam karena marah. Aku bisa merasakan air mata kemarahan menggenangi mataku.
Ia terkejut melihatku. “Apakah bagian terakhir tadi kelewatan? Aku tak bermaksud menyinggung perasaanmu.”
Aku mengabaikan kata-katanya.
“Kau mengajakku ke prom!” teriakku.
Sekarang semua sudah jelas. Kalau saja aku memerhatikan sejak awal, aku yakin pasti bisa melihat
tanggal di poster-posrer di seluruh penjuru sekolah. Tapi aku tak pernah menyangka ia bakal mengajakku. Tidakkah Edward mengenalku sama sekali? Ia tidak mengira reaksiku bakal begitu, itu sudah jelas. Ia
mengatupkan bibir dan matanya menyipit. “Jangan mempersulit keadaan. Bella.”
Aku menoleh ke luar jendela; kami sudah setengah jalan menuju sekolah.
“Kenapa kau melakukan ini padaku?” tanyaku cemas.
Ia menunjuk tuksedonya. “Sungguh, Bella, menurutmu apa yang kita lakukan?”
Aku merasa dipermalukan. Pertama, karena aku tidak melihat apa yang tampak jelas di depan mata. Juga karena
kecurigaan samar—sebenarnya harapan—yang berkembang di hatiku seharian ini, mengingat Alice mencoba
mengubahku jadi ratu kecantikan, benar-benar jauh melenceng. Harapanku yang setengah mengerikan
kelihatannya sangat konyol sekarang.
Aku sudah menduga sesuatu sedang terjadi. Tapi prom, yang benar saja! Itu sama sekali tak terpikirkan olehku.
Air mata kemarahan menetes di pipiku. Aku cemas mengingat aku tak terbiasa mengenakan maskara. Bergegas
kuusap bagian bawah mataku agar maskaranya tidak belepotan. Tanganku tidak hitam ketika kutarik; barangkali
Alice tahu aku membutuhkan makeup antiair.
“Ini benar-benar konyol. Kenapa kau menangis?” tanya Edward kesal.
“Karena aku marah!”
“Bella.” Mata keemasannya menatapku lekat-lekat.
“Apa?” gumamku, bingung.
“Ayolah,” desaknya.
Tatapannya mencairkan segenap amarahku. Mustahil bertengkar dengannya kalau ia bersikap curang seperti itu.
Aku menyerah.
“Baiklah.” Bibirku mencebik, aku tak mampu memelototinya segalak yang kuinginkan. “Aku akan ikuti
maumu. Tapi nanti akan kaulihat. Nasib burukku belum berakhir. Barangkali aku akan mematahkan kakiku yang lain. Lihat sepatu ini! Ini jerat kematian!” Aku menjulurkan kakiku yang sehat sebagai buktinya.
“Hmmm.” Ia memandangi kakiku lebih lama dari seharusnya. “Ingatkan aku untuk berterima kasih pada
Alice untuk hal itu nanti malam.”
“Alice akan datang?” Ini sedikit menenangkan.
“Bersama Jasper, dan Emmett... dan Rosalie,” ia mengakui.
Perasaan tenang itu langsung lenyap. Hubunganku dengan Rosalie tidak mengalami kemajuan, meskipun
hubunganku dengan suami-sesekali-waktunya bisa dibilang baik. Emmett senang berada di dekatku—menurut dia, reaksi manusiaku sangat menghiburnya... atau barangkali kenyataan aku sering kali terjatuh itu yang membuatnya menganggapku sangat lucu. Rosalie bersikap seakan-akan aku tidak ada. Setelah menggeleng-gelengkan kepala untuk mengenyahkan pikiran itu, terpikir olehku hal lain.
“Apakah Charlie terlibat?” aku bertanya, tiba-tiba curiga.
“Tentu saja.” Ia nyengir, lalu tergelak. “Meski begitu, kelihatannya Tyler tidak.”
Kukertakkan gigiku. Aku benar-benar tidak mengerti mengapa Tyler bisa punya pikiran konyol seperti itu. Di
sekolah, tempat Charlie tak bisa ikut campur, Edward dan aku tak terpisahkan—kecuali pada hari-hari cerah yang sangat jarang terjadi.
Kami sudah di sekolah sekarang; mobil Rosalie tampak mencolok di lapangan parkir. Hari ini langit berawan tipis, secercah sinar matahari tampak jauh di sebelah barat. Edward keluar dan mengitari mobil untuk membukakan pintuku. Ia mengulurkan tangan. Aku tak bergerak dari tempat duduk, tangan terlipat,
diam-diam berpuas diri. Lapangan parkir dipenuhi orang berpakaian formal: para saksi. Ia tak dapat memindahkanku secara paksa dari mobil seperti yang mungkin dilakukannya seandainya kami hanya berdua.
Ia mendesah. “Waktu seseorang hendak membunuhmu, kau seberani singa—kemudian saat seseorang menyebutnyebut soal dansa... “ Ia menggeleng. Aku menelan liurku. Berdansa.
“Bella, aku takkan membiarkan apa pun melukaimu—bahkan tidak dirimu sendiri. Aku takkan pernah
melepaskanmu, aku janji.”
Aku mempertimbangkannya dan tiba-tiba merasa jauh lebih baik. Ia bisa melihatnya di wajahku.
“Sudah, sudah,” katanya lembut, “takkan seburuk itu.” Ia membungkuk dan memeluk pinggangku. Aku
menggenggam tangannya yang lain dan membiarkannya mengangkatku dari mobil.
Ia tetap memelukku erat-erat, menyokongku saat aku terpincang-pincang menuju sekolah ......Di Phoenix, prom diadakan di ballroom hotel. Di sini, pestanya berlangsung di ruang gym. Barangkali itulah satusatunya ruangan di kota ini yang cukup luas untuk pesta dansa. Ketika kami sampai di dalam, aku tertawa geli melihat balon-balon dan pita-pita krep pastel yang menghiasi dinding.
“Ini seperti film horor yang menunggu saatnya dimulai,” olokku.
“Well” gumamnya saat kami pelan-pelan mendekati meja
tempat penjualan karcis—meskipun ia praktis menggendongku, tapi aku masih harus melangkah tertatihtatih—“
ada lebih dari cukup vampir hadir di sini.”
Aku melihat ke arah lantai dansa; bagian tengah lantai tampak lengang hanya ada dua pasangan berputar-putar
anggun. Pasangan-pasangan lain merapat di pinggir lantai untuk memberi mereka ruang—tak ada yang ingin tampak kontras di dekat kedua pasangan yang memukau itu. Emmett dan Jasper tampak mengintimidasi dan tanpa cela dalam balutan tuksedo klasik. Alice rampak memukau dalam gaun satin hitam berpotongan leher V yang memamerkan kulitnya yang putih bagai salju. Dan Rosalie... Well, ya Rosalie. Penampilannya sungguh di
luar dugaan. Gaun merah menyalanya berpunggung terbuka, melekat ketat sampai ke betis yang kemudian
melebar jadi tumpukan rimpel yang memanjang di belakangnya. Garis leher gaunnya jatuh hingga ke
pinggang. Aku mengasihani semua gadis di ruangan itu, termasuk diriku sendiri.
“Kau mau aku mengunci pintu-pintu supaya kau bisa membantai orang-orang kota tak berdosa ini?” bisikku
penuh konspirasi.
“Dan apa peranmu dalam adegan itu?” Ia menatapku geram.
“Oh, tentu saja aku bersama kelompok vampir.” Ia tersenyum enggan.
“Apa pun asal kau tak perlu berdansa.”
“Apa pun.”
Ia membayar tiket kami, kemudian membimbingku ke lantai dansa. Kupeluk lengannya, dan menyeret kakiku.
“Aku punya waktu semalaman,” ia mengingatkan. Akhirnya ia menarikku ke tempat keluarganya sedang
berdansa elegan—boleh dibilang dengan gaya yang sangat tidak sesuai dengan musik masa kini. Aku memerhatikan mereka dengan ngeri.
“Edward.” Tenggorokanku sangat kering hingga aku hanya bisa berbisik. “Aku benar-benar tidak bisa berdansa!”
Bisa kurasakan rasa panik bergejolak dalam dadaku.“Jangan khawatir, bodoh,” ia balas berbisik. “Aku bisa.”
Ia melingkarkan tanganku di lehernya, mengangkatku, lalu meletakkan kakinya di bawah kakiku.
Kemudian kami pun berdansa.
“Aku merasa seperti berumur lima tahun,” aku tertawa setelah beberapa menit berdansa waltz tanpa perlu
bersusah-payah.
“Kau tidak kelihatan seperti berumur lima tahun,” gumamnya, sesaat menarikku lebih rapat, sehingga kakiku
sedikit terangkat dari lantai. Alice dan aku bertemu pandang saat kami berputar dan tersenyum menyemangati—aku balas tersenyum padanya. Aku terkejut menyadari aku menikmatinya... sedikit.
“Oke, ini tidak terlalu buruk,” aku mengakui.
Tapi tatapan Edward kini terarah ke pintu, wajahnya tampak marah.
“Ada apa?” aku bertanya keras-keras. Aku mengikuti arah pandangannya, tidak fokus akibat berputar-putar,
namun akhirnya aku bisa melihat apa yang mengganggunya. Jacob Black, tidak mengenakan tuksedo
melainkan kemeja putih lengan panjang dan dasi, rambutnya ditarik licin dalam kucir kuda. Ia berjalan
menghampiri kami.
Setelah kaget waktu mengenalinya tadi, kini aku merasa kasihan pada Jacob. Ia jelas-jelas merasa tidak nyaman—teramat sangat tidak nyaman. Penyesalan terpancar di matanya saat kami beradu pandang.
Edward menggeram sangat pelan.
“Jaga sikapmu!” desisku.
Suara Edward terdengar sinis. “Dia ingin mengobrol denganmu.”
Jacob sampai di tempat kami, perasaan malu dan menyesal makin jelas di wajahnya.
“Hei, Bella, aku memang berharap kau ada di sini.”
Jacob terdengar seperti mengharapkan sebaliknya. Tapi senyumnya tetap hangat.
“Hai, Jacob.” Aku balas tersenyum. “Apa kabar?”
“Boleh aku meminjamnya?” tanyanya ragu-ragu,
memandang Edward untuk pertama kali. Aku terkejut melihat Jacob tak perlu mendongakkan kepala. Ia pasti
telah bertambah tinggi beberapa senti sejak pertama kali aku melihatnya.
Wajah Edward tenang ekspresinya hampa. Satu-satunya jawabannya adalah dengan hati-hati membiarkanku berdiri di atas kakiku sendiri, lalu mundur selangkah.
“Terima kasih,” kata Jacob ramah.
Edward hanya mengangguk, menatapku lekat-lekat sebelum berbalik menjauh.
Jacob menaruh tangannya di pinggangku, dan aku mengulurkan tangan ke bahunya.
“Wow, Jake, berapa tinggimu sekarang?”
Ia tampak bangga. “Seratus delapan puluh lima senti.”
Kami tidak benar-benar berdansa—mustahil dengan kondisi kakiku saat ini. Sebagai gantinya, dengan canggung
kami bergoyang dari satu sisi ke sisi lain tanpa menggerakkan kaki. Itu bagus juga, dengan tingginya sekarang ia jadi tampak kurus, jangkung dan tak seimbang, hingga barangkali ia bukan pedansa yang lebih baik daripada diriku sendiri.
“Jadi, bagaimana ceritanya kau bisa di sini?” aku bertanya tanpa benar-benar ingin tahu. Melihat reaksi
Edward tadi, aku bisa menduga jawabannya.
“Kau percaya, ayahku memberiku dua puluh dolar supaya aku datang ke prom kalian?” ia mengakui, sedikit
malu-malu.
“Ya, aku percaya,” gumamku. “Well, kuharap setidaknya kau menikmatinya. Ada yang kau suka?” aku
menggodanya, memberi isyarat dengan kepala ke sekelompok cewek yang berbaris di dekat dinding bagai
sekumpulan gaun warna pastel.
“Yeah,” ia mendesah. “Tapi dia sudah bersama seseorang.”
Ia menunduk untuk sesaat melihat tatapan penasaranku— kemudian kami sama-sama berpaling, merasa jengah.
“Omong-omong kau cantik sekali,” ia menambahkan malu-malu.
“Mm, trims. Jadi kenapa Billy membayarmu supaya datang ke sini?” aku buru-buru bertanya, meskipun aku
tahu jawabannya. Jacob tidak kelihatan senang karena topik percakapan kami berubah. Ia memalingkan wajah, sekali lagi merasa jengah.
“Katanya, di sini tempat yang ‘aman’ untuk berbicara denganmu. Aku bersumpah orang tua itu mulai kehilangan akal sehatnya.” Aku ikut tertawa, namun lemah.
“Lagi pula, katanya, kalau aku mengatakan sesuatu padamu dia akan membelikan master cylinder yang
kubutuhkan,” ia mengaku sambil tersenyum malu-malu.
“Kalau begitu, katakan saja padaku. Aku ingin kau bisa menyelesaikan mobilmu.” Aku balas tersenyum. Setidaknya Jacob tidak memercayai satu pun kegilaan ini. Itu membuat keadaan sedikit lebih mudah. Sambil bersandar di dinding Edward memandang wajahku, sementara wajahnya sendiri datar. Aku melihat cewek kelas sophomore bergaun pink mengawasinya malu-malu, namun sepertinya Edward tidak menyadari keberadaan cewek itu. Jacob berpaling lagi, merasa malu. “Jangan marah, oke?”
“Tidak mungkin aku marah padamu, Jacob,” aku meyakinkannya. “Aku bahkan tidak akan marah pada Billy.
Katakan saja apa yang harus kaukatakan.”
“Well—ini bodoh sekali, maafkan aku. Bella—dia ingin kau putus dengan pacarmu. Dia memintaku untuk
memohon padamu.” Ia menggeleng jijik.
“Dia masih percaya takhayul, eh?”
“Yeah. Dia... seperti kebakaran jenggot waktu kau mengalami kecelakaan di Phoenix. Dia tidak percaya...”
Dengan sadar Jacob tidak meneruskan kata-katanya. Mataku menyipit. “Aku terjatuh.”
“Aku tahu itu,” Jacob langsung menyahut.
“Pikirnya, Edward ada kaitannya dengan kecelakaan yang menimpaku.” Itu bukan pertanyaan, dan terlepas dari
janjiku, aku merasa marah. Jacob tak berani menatapku. Kami bahkan tak lagi repotrepot bergoyang mengikuti musik, meskipun tangannya masih di pinggangku, dan tanganku melingkar di lehernya.
“Begini, Jacob, aku tahu Billy barangkali tidak bakal percaya tapi hanya supaya kau tahu”—ia memandangku
sekarang, bereaksi terhadap ketulusan dalam suaraku— “Edward benar-benar telah menyelamatkan nyawaku.
Seandainya bukan karena Edward dan ayahnya, aku pasti sudah mati.”
“Aku tahu,” ujarnya. Sepertinya ucapan tulusku telah sedikit memengaruhinya. Paling tidak mungkin nantinya ia bisa meyakinkan Billy.
“Hei, aku menyesal kau harus datang dan melakukan ini, Jacob,” aku meminta maaf. “Setidaknya, yang penting kau mendapatkan onderdilmu, ya kan?”
“Yeah,” gumamnya. Ia masih tampak canggung...kecewa.
“Ada lagi?” tanyaku tak percaya.
“Lupakan saja,” gumamnya, “aku akan mencari pekerjaan dan menabung sendiri.”
Aku memelototinya sampai kami bertemu pandang.
“Katakan saja, Jacob.”
“Ini buruk sekali.”
“Aku tak peduli. Beritahu aku,” desakku.
“Oke... tapi, hhh, ini kedengarannya buruk sekali.” Ia menggeleng “Dia menyuruhku memberitahumu, bukan,
memperingatkanmu, bahwa – dan ini kata-katanya, bukan aku” – ia mengangkat satu tangannya dari pinggangku dan membuat tanda kutip – “Kami akan mengawasi.” Dengan hati-hati ia menunggu reaksiku.
Kata-katanya terdengar seperti di film-film mafia. Aku tertawa keras-keras.
“Aku menyesal kau harus melakukan ini. Jake,” olokku.
“Aku tidak terlalu keberatan.” Ia tertawa lega.
Pandangannya tampak memuji saat sekilas menelusuri gaunku. “Jadi, haruskah aku menyuruhnya untuk jangan
ikut campur?” tanyanya penuh harap.
“Tidak,” desahku. “Bilang padanya aku berterima kasih. Aku tahu dia bermaksud baik.”
Musiknya berhenti, dan kulepaskan lenganku dari lehernya.
Tangannya masih di pinggangku, dan ia memandang kakiku yang digips. “Kau mau berdansa lagi? Atau bisakah
aku membantumu bergerak ke suatu tempat?”
Edward menjawabnya untukku. “Tidak apa-apa, Jacob. Aku yang mengambil alih.”
Jacob berjengit dan dengan mata terbelalak menatap Edward yang tahu-tahu muncul di sebelah kami.
“Hei, aku tidak melihatmu di situ,” gumam Jacob.
“Kalau begitu, sampai ketemu, Bella.” Ia melangkah mundur, melambai dengan setengah hati.
Aku tersenyum. “Yeah, sampai ketemu.”
“Maaf,” katanya lagi sebelum berbalik menuju pintu. Lengan Edward telah memelukku saat lagu berikut mulai
dimainkan. Iramanya sedikit cepat untuk berdansa lambat, tapi sepertinya itu tidak mengganggunya. Kusandarkan kepalaku di dadanya, merasa senang.
“Merasa lebih baik?” godaku.
“Tidak juga,” katanya singkat.
“Jangan marah pada Billy,” desahku. “Dia hanya mengkhawatirkan diriku demi kebaikan Charlie. Bukan
apa-apa.”
“Aku tidak marah pada Billy,” ia meralat tajam. “Tapi anak laki-lakinya membuatku jengkel.”
Aku menarik tubuhku agar bisa memandangnya. Wajahnya sangat serius. “Kenapa?”
“Pertama-tama dia membuatku mengingkari janjiku sendiri.” Aku menatapnya tidak mengerti.
Ia setengah tersenyum. “Aku sudah berjanji takkan melepaskanmu malam ini,” ia menjelaskan.
“Oh. Well, aku memaafkanmu.”
“Terima kasih. Tapi ada hal lain.” Wajah Edward cemberut. Aku menunggu dengan sabar.
“Dia menyebutmu cantik,” akhirnya ia meneruskan katakatanya, kerutan di wajahnya semakin nyata. “Mengingat penampilanmu saat ini, itu bisa dibilang menghina. Kau lebih dari sekadar cantik.”
Aku tertawa. “Kau mungkin sedikit bias.”
“Kurasa tidak. Lagi pula, aku punya daya lihat yang sempurna.”
Kami kembali berdansa, kakiku di atas kakinya saat ia menarikku lebih dekat.
“Jadi, apakah kau akan menjelaskan alasan untuk semua ini?” aku bertanya-tanya.
Ia menunduk menatapku, bingung, dan aku memandang pita kertas krep dengan penuh arti. Ia berpikir sebentar kemudian mengubah arah, memutarmutar tubuhku melewati keramaian menuju pintu belakang gym. Sekilas aku sempat melihat Jessica dan Mike yang sedang berdansa sambil memandangiku penasaran. Jessica melambai, dan aku balas tersenyum padanya. Angela juga ada di sana, tampak luar biasa bahagia dalam pelukan si
kecil Ben Cheney; Angela tak pernah melepaskan pandangannya dari Ben, yang sedikit lebih pendek daripadanya. Lee, Samantha, Lauren, dan Conner menatap kami geram; aku bisa menyebutkan semua orang yang menari melewatiku. Kemudian kami sampai di luar, di bawah cahaya temaram matahari terbenam serta udara sejuk.

Begitu kami sendirian, ia menggendong dan membawaku melintasi halaman yang gelap ke bangku di
bawah bayangan pepohonan madrone. Ia duduk di sana, sambil terus memelukku erat di dadanya. Bulan telah
muncul di langir, rampak jelas di antara awan-awan tipis, dan wajahnya bertambah pucat dalam cahaya putih.
Mulutnya tegang, matanya resah.

“Intinya?” aku memulai dengan lembut. Ia mengabaikanku, menatap bulan.
“Twilight, lagi,” gumamnya. “Akhir yang lain. Tak peduli berapa sempurna sebuah hari, toh harus berakhir
juga.”
“Beberapa hal tak perlu berakhir,” gumamku setengah mendesis, langsung tegang. Ia mendesah.
“Aku membawamu ke prom,” katanya pelan, akhirnya menjawab pertanyaanku, “karena aku tak ingin kau
kehilangan momen apa pun. Aku tak ingin kehadiranku menjauhkanmu dan segala peluang kalau aku bisa
membuatnya terjadi. Aku ingin kau menjadi manusia. Aku ingin hidupmu berjalan seperti seharusnya seandainya aku mati pada tahun 1918.”
Aku bergidik mendengar kata-katanya, lalu menggeleng marah. “Dalam dimensi paralel aneh manakah aku bakal pernah mau pergi ke prom atas keinginanku sendiri?
Seandainya kau tidak seribu kali lebih kuat dariku, aku takkan pernah membiarkanmu membawaku kemari.”
Ia tersenyum sekilas, tapi senyum itu tidak menyentuh matanya. “Kau sendiri yang bilang ini tidak terlalu buruk.”
“Itu karena aku bersamamu.”
Beberapa saat kami terdiam. Ia menatap bulan dan aku menatapnya. Kuharap ada cara untuk menjelaskan betapa
aku sama sekali tidak tertarik pada kehidupan manusia yang normal.
“Maukah kau memberirahuku sesuatu?” tanyanya, menunduk, menatapku seraya tersenyum simpul.
“Bukankah aku selalu melakukannya?”
“Berjanjilah kau akan memberitahuku,” desaknya, tersenyum.
Aku tahu aku bakal langsung menyesalinya. “Baiklah.”
“Kau sepertinya benar-benar terkejut saat mengetahui aku akan membawamu ke sini,” ia memulai.
“Memang” selaku.
“Tepat,” ia menyetujui. “Tapi kau pasti sudah punya teori lain... aku penasaran—kaupikir kenapa aku
mendandanimu seperti ini?” Benar, aku langsung menyesal. Kucibirkan bibirku, raguragu.
“Aku tidak ingin memberitahumu.”
“Kau sudah berjanji,” tukasnya keberatan.
“Aku tahu.” “Apa masalahnya?” Aku tahu ia mengira perasaan malulah yang menahanku.
“Kurasa itu akan membuatmu marah—atau sedih.” Alisnya bertaut di atas matanya saat ia memikirkannya.
“Aku masih ingin tahu. Kumohon.” Aku mendesah. Ia menunggu.
“Well. Aku menduga itu semacam... acara istimewa. Tapi aku tidak berpikir ini kegiatan manusia biasa... prom!” ejekku.
“Manusia?” tanyanya datar. Ia memilih kata kuncinya. Aku memandangi gaunku, memainkan chiffon-nya. Ia
menunggu dalam diam.
“Oke,” aku buru-buru mengaku. “Aku berharap kau mungkin berubah pikiran... bahwa kau akan mengubahku,
akhirnya.”
Berbagai emosi muncul bergantian di wajahnya. Aku mengenali beberapa di antaranya: amarah... sedih...
kemudian ia tampak senang.
“Kaupikir itu sejenis acara resmi, ya?” godanya sambil menyentuh kerah tuksedonya. Aku cemberut untuk menyembunyikan rasa maluku.
“Aku kan tidak tahu. Setidaknya bagiku ini lebih masuk akal daripada prom.”
Ia masih nyengir.
“Tidak lucu, tahu,” kataku.
“Tidak, kau benar, ini tidak lucu,” ia menimpali, senyumnya memudar. “Meskipun begitu aku lebih suka menganggapnya lelucon, daripada percaya bahwa kau serius.”
“Tapi aku memang serius.”
Ia menghela napas dalam. “Aku tahu. Dan kau benarbenar menginginkannya?”
Kepedihan itu kembali tampak di matanya. Kugigit bibirku dan mengangguk
“Kau siap mengakhiri semua ini,” gumamnya, nyaris kepada dirinya sendiri, “siap menjadikan ini akhir
hidupmu, meskipun hidupmu bahkan belum dimulai. Kau siap merelakan semuanya.”
“Ini bukan akhir, ini baru permulaan,” sergahku, suaraku berbisik.
“Aku tidak pantas mendapatkannya,” katanya sedih.
“Kau ingat waktu kaubilang aku tidak melihat diriku sendiri dengan sangat jelas?” tanyaku, satu alisku terangkat.
“Kau sama butanya denganku.”
“Aku tahu siapa diriku.” Aku mendesah.
Tapi suasana hatinya yang berubah-ubah memengaruhiku. Ia mengerutkan bibir dan matanya
mencari-cari. Ia mengamati wajahku lama sekali.
“Kalau begitu, kau sudah siap?” tanyanya.
“Mmm.” Kutelan liurku. “Ya?”
Ia tersenyum, lalu perlahan-lahan menunduk hingga bibirnya yang dingin menyapu kulitku tepat di sudut
rahang.
“Sekarang juga?” ia berbisik, napasnya terasa sejuk di kulitku. Tanpa sadar aku gemetar.
“Ya,” bisikku, jadi suaraku tidak terdengar parau. Kalau dipikirnya aku hanya menggertak, ia bakal kecewa. Aku sudah membuat keputusan ini, dan aku yakin. Tak peduli tubuhku kaku seperti papan, kedua tanganku mengepal, napasku tak beraturan... Ia tergelak misterius, lalu menjauh. Wajahnya memang kelihatan kecewa.
“Kau tak mungkin benar-benar percaya aku bakal menyerah semudah itu,” ejeknya.
“Seorang gadis boleh bermimpi.” Alisnya terangkat. “Itukah yang kauimpikan? Menjadi
monster?”
“Tidak juga,” kataku, cemberut mendengar pilihan katanya. Monster. “Aku lebih sering memimpikan
bersamamu selamanya.” Ekspresinya berubah, melembut, sedih mendengar kepedihan dalam suaraku.
“Bella.” Jari-jarinya menyusuri bentuk bibirku. “Aku akan tinggal bersamamu—tidakkah itu cukup?”
Aku tersenyum di bawah jemarinya. “Untuk sekarang, ya.”
Wajahnya cemberut melihat tekadku. Tak seorang pun bakal mengalah malam ini. Ia menghela napas, dan suara
yang dikeluarkannya jelas geraman. Kusentuh wajahnya. “Dengar,” kataku. “Aku mencintaimu lebih dari semua yang ada di dunia ini bila digabungkan. Tidakkah itu cukup?”
“Ya, itu cukup,” jawabnya, tersenyum. “Cukup untuk selamanya.”
Dan ia pun membungkuk lagi, menekankan bibir dinginnya sekali lagi ke leherku.

June 20, 2015

Breaking Dawn

Sampalah kita Breaking Dawn. Novel ke 4 karya Stephenie Meyer. Kalo di film dibagi 2.


Pendahuluan Film 1. Novel Bagian 1-18  : Aku sudah cukup sering mengalami peristiwa ketika aku nyaris mati, tapi bukan berarti dengan begitu aku jadi terbiasa. Namun anehnya, lagi-lagi aku harus berhadapan dengan kematian, dan tak bisa mengelak darinya. Meski begitu kali ini sangat berbeda dari yang sudah-sudah. Kau bisa melarikan diri dari orang yang kautakuti, kau bisa melawan orang yang kaubenci. Semua reaksiku siap menghadapi pembunuh-pembunuh semacam itupara monster, para musuh. Tapi bila kau mencintai orang yang membunuhmu, kau tak punya pilihan lain. Bagaimana kau bisa melarikan diri, bagaimana kau bisa melawan, jika melakukannya berarti mencelakakan orang yang kaucintai? Bila nyawamu satu-satunya yang harus kauberikan untuk orang yang kaucintai, bagaimana mungkin kau tidak memberikannya? Bila itu orang yang benar-benar kaucintai?
Pendahuluan Film 2. Novel Bagian 19-end : BARISAN hitam yang mendekati kami menembus kabut sedingin es yang terkuak oleh kaki mereka, bukan lagi sekadar mimpi buruk. Kita akan mati, pikirku panik. Aku panik memikirkan hal berharga yang kujaga, tapi aku tak boleh bahkan memikirkannya, karena itu akan mengganggu konsentrasiku. Mereka melayang semakin dekat, jubah gelap mereka berkibar-kibar pelan dengan setiap gerakan. Aku melihat tangan mereka melengkung membentuk cakar sewarna tulang. Mereka berpencar, mendatangi kami dari segala sisi. Jumlah kami kalah banyak. Semua sudah berakhir. Kemudian, bagai diterangi sorot lampu kilat, pemandangan itu jadi berbeda.Namun tak ada yang berubah—keluarga Volturi masih bergerak menghampiri kami, bersiap membunuh. Yang benar-benar berubah hanya bagaimana gambaran itu terlihat olehku. Tiba-tiba hasratku membuncah. Aku ingin mereka menyerang. Kepanikan berubah menjadi haus darah saat aku membungkuk, siap menerjang maju, senyum tersungging di wajahku, dan geraman menyeruak dari sela gigiku yang menyeringai.

Novel ini bersudut pandang ganda Bella - Jacob
  1. Pertunangan
  2. Malam Panjang
  3. Hari H
  4. Kejutan
  5. Pula Esme
  6. Mengalihkan Perhatian
  7. Tak Terduga
  8. Menunggu Pertengkaran Sialan Itu Dimulai
  9. Sungguh Tak Kuduga Sama Sekali
  10. Mengapa Aku Tak Langsung Hengkang Saja ? Oh ya Benar. Aku Idiot
  11. Dua Hal yang Paling Tidak Ingin Kulakukan
  12. Sebagian Orang Memang Tidak Bisa Mengerti Konsep "Tidak Diterima"
  13. Untung Aku Tidak Mudah Jijik
  14. Kau Tau Keadaan Mulai Gawat Waktu Kau Merasa Bersalah Bersikap Kurang Ajar pada Vampir
  15. Tik Tok Tik Tok Tik Tok
  16. Tidak Mau Terlalu Banyak Tahu
  17. Memangnya Kelihatannya Aku Ini Siapa? Wizard Of Oz? Kau Butuh Otak? Kau Butuh Hati? Silahkan Saja Ambil Hatiku. Ambil Segalanya yang Aku Punya.
  18. Tak Ada Kata yang Sanggup Melukiskannya
  19. Panas Membakar
  20. Baru
  21. Perburuan Pertama
  22. Janji
  23. Memori
  24. Kejutan
  25. Bantuan
  26. Berkilau
  27. Rencana Perjalanan
  28. Masa Depan
  29. Ditinggal
  30. Menggemaskan
  31. Berbakat
  32. Para Tamu
  33. Pemalsuan
  34. Deklarasi
  35. Tenggat Waktu
  36. Haus Darah
  37. Penemuan
  38. Kuat
  39. Akhir yang Membahagiakan


The Hunger Games indonesia bagian 27

LAGU kebangsaan berdentam ditelingaku, lalu aku mendengar suara Caesar Flickerman menyambut penonton. Apakah dia tau betapa pentingnya setiap kata yang terucap harus benar dari sekarang? Pasti dia tau. Dia pasti akan membantu kami. Para penonton bertepuk tangan ketika tim persiapan muncul. Aku membayangkan Flavius, Venia dan Octavia berjalan mondar-mandir dan membungkuk-bungkuk konyol. Hampir dipastikan mereka tidak tau apa-apa. Lalu Effie diperkenalkan, entah sudah berapa lama dia menunggu momen ini. Kuharap dia bisa menikmatinya karena sebingung-bingungnya Effie, dia punya insting yang tajam tentang hal-hal tertentu dan pasti dia mengira bahwa kami dalam masalah. Tentu saja, Portia dan Cinna menerima sorak-sorai sambutan yang membahana, mereka brilian. Sekarang aku memahami pilihan gaun Cinna yang kupakai malam ini. Sebisa mungkin aku perlu tampak seremaja dan senaif mungkin. Kemunculan Haymitch menimbulkan rentetan tepuk tangan yang berlangsung paling tidak 5 menit. Bagaimanapun, dia menjadi yang pertama. Bukan hanya menjaga satu peserta tetap hidup, tapi dua. Bagaimana jika dia tidak memperingatkanku tepat pada waktunya? Akankah aku bertindak berbeda? Memamerkan momen dengan buah berry itu ke muka Capitol? Tidak, kurasa tidak. Tapi bisa jadi, aku jauh lebih tak meyakinkan di banding sekarang daripada yang seharusnya. Saat ini juga. Karena aku bisa merasa piringan logam itu mengangkatku ke panggung.
Cahaya yang membutakan. Sorakan yang memekakkan telinga mengguncang logam di bawah kakiku. Lalu kulihat Peeta hanya beberapa meter jauhnya. Dia tampak begitu bersih, sehat dan tampan, aku hampir tidak mengenalinya. Tapi senyumnya tetap sama, baik di lumpur atau di Capitol dan ketika aku melihatnya. Aku berjalan 3 langkah dan berlari ke pelukan Peeta. Dia tertatih mundur, hampir kehilangan keseimbangannya dan pada saat itulah aku menyadari benda logam yang di tangannya, semacam tongkat. Dia meluruskan tubuhnya dan kami berpelukan sementara para penonton menggila.
Peeta menciumku dan sepanjang waktu itu aku berpikir, Apakah kau tau? Apakah kau tau seberapa besar bahaya yang kita hadapi?
Setelah sekitar sepuluh menit, Caesar Flickerman menepuk bahu Peeta untuk melanjutkan acara dan Peeta hanya mendorong lelaki itu ke samping bahkan tanpa meliriknya. Penonton makin menggila. Entah Peeta tahu atau tidak, seperti biasa dia bisa memainkan perannya dengan baik di hadapan penonton.
Akhirnya,  Haymitch  datang  menyela  lalu  mendorong  kami  dengan  manis  menuju kursi pemenang. Biasanya kursi pemenang hanyalah 1 yang dihias, di sana peserta yang menang  menonton film  yang  terdiri  atas potongan-potongan Hunger Games yang  jadi sorotan. Tapi karena pemenangnya ada dua, para juri pertarungan telah menyediakan sofa beludru merah yang empuk. Sofa kecil yang dijuluki ibuku sebagai kursi cinta. Aku duduk amat dekat dengan Peeta hingga bisa dibilang aku duduk di pangkuannya. Tapi ketika aku menoleh memandang Haymitch aku tau usahaku belum cukup. Setelah melepas sandalku, aku melipat kakiku ke samping dan menyandarkan kepalaku di bahu Peeta. Secara otomatis lengannya memelukku dan aku merasa seakan aku kembali berada di gua, meringkuk di sampingnya, berusaha menjaga tubuh kami agar tetap hangat. Kemejanya
terbuat dari bahan berwana kuning yang sama seperti gaunku, tapi Portia menyuruhnya memakai celana panjang hitam. Dia tak mengenakan sandal, tapi sepatu bot hitam yang gagah. Seandainya saja Cinna memberiku pakaian yang sama.. aku merasa amat rapuh dalam gaun halus ini. Tapi kurasa itulah tujuannya.
Caesar Flickerman melontarkan beberapa lelucon, lalu tibalah saatnya tayangan utama. Tayangan ini berlangsung selama tiga jam dan harus ditonton di seluruh Panem. Semua lampu meredup dan lambang negara muncul di layar ,aku sadar aku tak siap menghadapi semua ini. Aku tak ingin melihat dua puluh dua peserta lain tewas. Cukup bagiku melihatnya di arena. Jantungku mulai berdebar dan aku merasakan dorongan kuat untuk lari. Bagaimana mungkin para pemenang menghadapi semua ini seorang diri? Selama  tayangan  ini,  sesekali  mereka  menampilkan  reaksi  pemenang  dikotak  kecil  di sudut layar televisi. Kuingat kembali tahun-tahun sebelumnya.. beberapa pemenang menunjukkan reaksi kemenangan, meninju udara, memukul dada mereka. Kebanyakan dari mereka tampak terperangah. Yang kutau, satu satunya yang membuatku tertahan di kursi   ini   hanyalah   Peeta—lengannya   memeluk   bahuku,   tangannya   yang   satu   lagi merangkul  kedua  tanganku.  Tentu  saja,  para  pemenang  sebelum  ini  tak  diintai  oleh Capitol untuk dihancurkan.
Memadatkan kegiatan beberapa minggu dalam satu jam merupakan prestasi tersendiri, terutama jika memperhitungkan berapa banyak kamera yang merekam pada saat yang sama. Siapapun yg menyusun tayangan ini harus memilih cerita apa yang ingin ditampilkannya. Tahun ini, untuk pertama kalinya, mereka menampilkan kisah cinta. Aku tau aku dan Peeta sudah menang, tapi tampak sekali mereka berlebihan menampilkan waktu-waktu kami berduaan sejak awal. Tapi aku lega, karena tayangan ini mendukung konsep jatuh-cinta-setengah-mati yang jadi pembelaanku melawan Capitol, selain itu kami tak perlu berlama-lama melihat kematian demi kematian.
Kurang-lebih setengah jam pertama terpusat pada kegiatan-kegiatan pra-arena, hari pemungutan, naik kereta kuda melintasi Capitol, nilai-nilai latihan kami dan wawancara- wawancara kami. Ada semacam lagu soundtrack dengan nada riang yang membuatnya terdengar jadi 2 kali lebih mengerikan, karena hampir semua yang ada di layar itu sudah
tewas.
Setelah kami di arena, ada liputan pertarungan berdarah yang mendetail lalu para pembuat   film   berganti-ganti   menayangkan   para   peserta   yang   tewas   dan   kami. Kebanyakan yang ditampilkan adalah Peeta, tak diragukan lagi dia memainkan peran asmara ini dengan baik. Sekarang aku melihat apa yang dilihat para penonton, bagaimana dia mengelabui kawanan Karier tentang diriku. Terjaga sepanjang malam dibawah pohon tawon penjejak. Melawan Cato agar aku bisa lolos. Bahkan ketika dia bersembunyi ditepi sungai  berlumpur.  Membisikkan  namaku  dalam  tidurnya.  Sebaliknya,  aku  seperti  tak punya perasaan—menghindari bola-bola api, menjatuhkan sarang tawon dan meledakkan persediaan makanan — sampai aku berburu untuk Rue. Mereka menayangkan kematiannya dengan utuh, tombak menembus tubuhnya, usaha penyelamatanku yang gagal, anak panahku yang menembus leher anak lelaki dariDistrik 1, Rue yang menghembuskan napas terakhirnya dipelukanku. Dan lagunya. Aku menyanyikan setiap nada dalam lagu itu. Ada sesuatu yang mati dalam diriku dan aku terlalu mati rasa untuk
bisa  merasakan  sesuatu.  Aku  seperti  menonton  orang  asing  dalam  tayangan  Hunger Games  yang  lain.  Tapi  aku  perhatikan  mereka  tak  menyertakan  bagian  ketika  aku menghias jasadnya dengan bunga-bungaan.
Benar. Karena itu berarti setitik tanda pemberontakan.
Keadaan berbalik mengarah padaku setelah mereka mengumumkan bahwa dua peserta dari distrik yang sama bisa tetap hidup dan aku menyerukan nama Peeta lalu buru-buru menutup mulutku dengan tangan. Jika awalnya aku tidak peduli dengan Peeta, aku  membayarnya  sekarang,  dengan  mencarinya,  merawatnya  hingga  kembali  sehat, pergi  ke  pesta  untuk  mengambil  obat  dan  menciumnya  tanpa  pikir  panjang.  Secara objektif, aku bisa melihat mutt-mutt itu dan kematian Cato sebagai kejadian mengerikan, tapi aku merasakannya terjadi pada orang-orang yang tak pernah kukenal.
Lalu tibalah momen buah berry itu. Aku bisa mendengar penonton saling menyuruh yang  lain untuk diam,  mereka  tak  mau  melewatkan yang  satu  ini.  Gelombang  syukur untuk para pembuat film mengaliri sekujur tubuhku ketika mereka tak mengakhiri tayangan ini dengan pengumuman nama kami sebagai pemenang, tapi dengan aku memukuli  pintu  kaca  di  pesawat  ringan,  meneriakkan  nama  Peeta  ketika  mereka berusaha menghidupkannya lagi.
Dalam hal bertahan hidup, itu adalah malam terbaikku.
Lagu  kebangsaan  diputar  lagi  dan  kami  berdiri  ketika  Presiden  Snow  naik  ke panggung diiringi gadis kecil yang membawa bantalan yang berisi mahkota. Tapi hanya ada satu mahkota disana, terdengar kebingungan dari penonton—akan dipasang dikepala siapa?—sampai Presiden Snow memutar mahkota itu dan memisahkannya jadi dua. Dia memasang mahkota pertama disekitar alis Peeta sambil tersenyum. Dia masih tersenyum ketika   memasang   mahkota   kedua   dikepalaku,   tapi   matanya,   yang   hanya   berjarak beberapa sentimeter dariku, tampak selicik ular.
Saat itulah aku tahu bahwa meskipun kami berdua makan buah berry itu, akulah yang akan disalahkan karena punya ide semacam itu. Akulah penghasutnya. Akulah yang akan dihukum.
Selanjutnya kami membungkuk memberi hormat dan bersorak gembira. Tanganku hampir   putus   karena   kebanyakan   melambai   ketika   Caesar   Flickerman   akhirnya
menyampaikan ucapan selamat malam pada para penonton, mengingatkan mereka untuk tetap menyaksikan televisi untuk wawancara akhir.
Aku dan Peeta digiring menuju rumah Presiden untuk Makan Malam Kemenangan, disana kami tidak punya banyak waktu untuk makan karena para pejabat Capitol dan para
sponsor  yang  murah  hati  saling  berebutan  untuk  berfoto  bersama  kami.  Wajah  demi
wajah lewat begitu saja dan jadi terasa memabukkan seiring dengan berlalunya malam. Kadang-kadang,sekilas aku melihat Haymitch, yang membuatku tenang atau Presiden Snow, yang membuatku takut, tapi aku tetap tertawa dan berterima kasih pada orang- orang dan tersenyum ketika difoto. Satu-satunya yang tak pernah kulepaskan adalah tangan Peeta.
Matahari sudah mengintip dibalik cakrawala ketika kami kembali ke lantai dua belas di Pusat Latihan. Kupikir akhirnya aku bisa bicara berdua dengan Peeta, tapi Haymitch
mengirimnya ke Portia untuk mencoba pakaian untuk wawancara dan mengawalku menuju pintu kamarku.
"Kenapa aku tak boleh bicara dengannya?" tanyaku.
"Banyak waktu untuk bicara di rumah nanti," sahut Haymitch. "Tidurlah, kau akan masuk televisi jam dua nanti."
Meskipun dihalangi Haymitch, aku bertekad untuk bisa bertemu Peeta berdua saja. Setelah aku berbaring diranjang tanpa bisa memejamkan mata selama beberapa jam, aku
berjalan menuju lorong kamar. Pikiran pertamaku adalah memeriksa atap, tapi tak ada
siapa-siapa disana. Bahkan jalanan di bawah sana tampak kosong setelah perayaan tadi malam. Aku kembali ke kamarku sebentar lalu memutuskan untuk langsung ke kamarnya, tapi ketika aku berusaha memutar kenop pintu ternyata kamarku dikunci dari luar. Awalnya kukira Haymitch pelakunya, tapi ada ketakutan yang tersembunyi bahwa Capitol mungkin mengawasi dan menahanku di sini. Aku tak pernah bisa kabur sejak Hunger Games dimulai, tapi ini lebih personal. Kali ini terasa seperti aku ditahan atas kejahatan yang kulakukan dan menunggu hukuman. Dengan cepat aku kembali ke ranjang dan pura- pura tidur sampai Effie Trinket datang membangunkan dengan sapaan "Hari ini hari besaaaar!"
Aku punya waktu lima menit untuk makan semangkuk bubur panas dan rebusan daging sebelum tim persiapan turun. Yang harus kukatakan adalah, "Para penonton mencintaimu!" dan tak perlu berbicara lagi selama beberapa jam selanjutnya. Ketika Cinna datang, dia mengusir mereka semua dan memakaikanku gaun putih tipis dan sepatu pink. Kemudian dia memperbaiki riasan wajahku sampai aku tampak memancarkan kilau halus kemerahan. Kami ngobrol basa-basi, tapi aku takut menanyakan sesuatu yang sungguh- sungguh penting padanya karena sehabis peristiwa pintu itu, aku tak bisa mengenyahkan perasaan bahwa aku sedang diawasi terus-menerus.
Wawancara berlangsung di ruang duduk. Ruangan itu sudah dibersihkan dan kursi cinta dipindahkan kemari, dikelilingi berbagai vas bunga berisi mawar merah dan pink. Hanya beberapa kamera yang akan merekam acara ini. Tidak ada penonton.
Caesar  Flickerman  memelukku  dengan  hangat  ketika  aku  masuk  ke  ruangan. "Selamat, Katniss. Bagaimana keadaanmu?"
"Baik. Tegang untuk wawancara," kataku.
"Jangan tegang. Kita akan melewati saat yang menyenangkan," katanya. "Aku tak bagus bicara tentang diriku sendiri," kataku.
"Tidak bakal ada perkataanmu yang salah," katanya.
Lalu aku berpikir, Oh, Caesar, seandainya saja apa katamu itu benar. Padahal sesungguhnya, Presiden Snow mungkin merancang semacam "kecelakaan" untukku ketika kita sedang mengobrol.
Lalu Peeta berdiri disana ,tampak tampan dengan pakaian berwarna merah dan putih, menarikku   ke   samping.   "Aku   tak   bisa   bertemu   denganmu.   Haymitch   bertekad
memisahkan kita."
Sesungguhnya Haymitch bertekad menjaga kami tetap hidup, tapi terlalu banyak telinga yang mendengar, jadi aku cuma bilang, "Ya, dia jadi sangat bertanggung jawab belakangan ini."
"Yah, hanya tinggal ini dan kita bisa pulang. Dia tak bisa mengawasi kita terus- menerus," kata Peeta.
Aku merasakan keringat dingin menetes dan tidak ada waktu lagi untuk mencari tau kenapa aku berkeringat, karena mereka sudah siap untuk kami. Kami duduk dalam posisi formal dikursi cinta itu. Tapi, Caesar berkata, "Oh, sana mendekat dan bergelunglah disampingnya kalau kau mau. Tampaknya sangat manis."
Jadi aku berdiri lalu Peeta menarikku mendekat padanya.
Ada  orang  yang  menghitung  mundur dan  tahu-tahu  kami  sudah  disiarkan  secara langsung ke seantero negri. Caesar Flickerman luar biasa, dia menggoda, bercanda dan terharu pada saat-saat yang diperlukan. Dia dan Peeta sudah memiliki hubungan yang terbentuk pada malam wawancara pertama, obrolan santai semacam itu, jadi aku hanya banyak tersenyum dan bicara sesedikit mungkin. Maksudku, aku harus berbicara sedikit,
tapi sebisa mungkin aku segera mengarahkan percakapan kembali ke Peeta.
Namun pada akhirnya, Caesar mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang butuh jawaban lebih lengkap.
"Well,  Peeta,  pada  hari-hari  kalian  di  gua,  kami  tau  bahwa  dia  adalah  cinta pertamamu sejak usia lima tahun, benar?" tanya Caesar.
"Sejak pertama kali aku memandangnya," kata Peeta.
"Tapi  Katniss,  ini  perjalanan  yang  luar  biasa  untukmu,"  kata  Caesar.  "Kurasa  hal paling seru yang dinantikan penonton adalah melihatmu jatuh cinta padanya. Kapan kau sadar bahwa kau jatuh cinta padanya?" tanya Caesar.
"Oh, ini sulit..," aku tertawa dibuat- buat dan menunduk memandangi kedua tanganku. Tolong.
"Yah, aku tau kapan kau sadar. Malam ketika kau meneriakkan namanya dari pohon itu," kata Caesar.
Terima kasih, Caesar! pikirku, lalu aku meneruskan idenya. "Ya, kurasa itulah saatnya.
Maksudku, sebelum saat itu aku berusaha tak memikirkan perasaan-perasaanku padanya, sejujurnya karena itu membingungkan dan hanya akan memperburuk keadaan jika aku sungguh-sungguh menyayanginya. Tapi, di pohon pada saat itu, segalanya berubah," kataku.
"Kenapa begitu?" desak Caesar.
"Mungkin.. karena untuk pertama kalinya.. ada kemungkinan aku bisa memilikinya," kataku.
Dibelakang juru kamera, aku melihat Haymitch mendesah lega dan aku tau aku mengatakan hal yang benar.
Caesar mengeluarkan saputangan dan mengambil waktu sejenak karena dia merasa amat terharu.
Aku bisa merasakan dahi Peeta menempel di pelipisku lalu bertanya, "Jadi sekarang setelah kau memilikiku, apa yang akan kaulakukan terhadapku?"
Aku menoleh memandangnya. "Menaruhmu ditempat dimana kau tak bisa dilukai." Dan ketika Peeta menciumku, orang-orang di ruangan terdengar mendesah.
Caesar langsung meneruskan dengan berpindah adegan menanyakan segala macam luka yang kami alami di arena, luka bakar, sengatan tawon dan luka-luka lain. Tapi baru
pada giliran bercerita tentang mutt, aku lupa bahwa aku sedang berada di depan kamera. Ketika Caesar bertanya pada Peeta bagaimana keadaan "kaki baru"nya.
"Kaki baru?" tanyaku, lalu aku tak bisa menahan diri untuk tak mengulurkan tangan dan  menarik  bagian  bawah  celana  Peeta.  "Oh,  tidak,"  bisikku,  sambil  menyentuh  alat logam-dan-plastik yang mengganti dagingnya.
"Tak ada yang memberitahumu?" tanya Caesar dengan lembut. Aku menggeleng.
"Aku belum sempat memberitahunya," kata Peeta sambil mengangkat bahu sedikit. "Ini salahku," kataku. "Karena aku menggunakan turniket itu."
"Ya, salahmu aku hidup." ujar Peeta.
"Peeta benar," kata Caesar. "Dia pasti mati kehabisan darah jika tak kautolong."
Kurasa  pernyataannya  benar,  tapi  aku  tidak  bisa  menahan  perasaan  bingungku hingga kupikir aku bakal menangis, lalu aku teringat pada kenyataan bahwa semua orang di negri ini menontonku jadi segera saja kubenamkan wajahku di kemeja Peeta. Butuh waktu beberapa menit untuk membujukku melepaskan wajahku dari kemeja Peeta karena lebih baik aku menangis disana dan ketika aku akhirnya melepaskan Peeta, Caesar tak lagi menanyaiku agar aku bisa memulihkan diri. Bahkan dia sama sekali tak menanyaiku apa- apa sampai ke kejadian dengan buah berry itu.
"Katniss, aku tau kau shock, tapi aku harus bertanya. Pada saat kau mengeluarkan buah-buah berry itu. Apa yang ada dalam pikiranmu..?" tanyanya.
Aku terdiam lama sebelum menjawab, berusaha mengingat lagi pikiranku. Ini adalah momen penting apakah aku akan menantang Capitol atau melanjutkan gagasan gila bahwa membayangkan Peeta tewas membuatku gila sehingga aku tak bisa mempertanggungjawabkan   perbuatanku.   Rasanya   aku   harus   mengucapkan   pidato panjang yang dramatis, tapi yang terucap dari mulutku adalah satu kalimat pendek yang nyaris tak terdengar. "Aku tak tau, aku hanya.. tidak bisa membayangkan.. hidup tanpa dia."
"Peeta? Ada yang mau kautambahkan?" tanya Caesar.
"Tidak. Kurasa jawaban itu sama untuk kami berdua," jawab Peeta.
Caesar  berpamitan  dan  acarapun  selesai.  Semua  orang  tertawa,  menangis  dan berpelukan, tapi aku masih tak yakin sampai aku mendekat ke Haymitch.
"Oke?" bisikku. "Sempurna," jawabnya.
Aku kembali ke kamarku untuk mengambil beberapa barang dan tak menemukan apapun kecuali pin mockingjay yang diberikan Madge. Ada orang yang mengembalikannya
ke kamarku seusai Hunger Games. Mereka mengantar kami melewati jalanan dikota menuju kereta yang sudah menunggu kami. Kami hampir tak punya waktu untuk mengucapkan selamat tinggal pada Cinna dan Portia, meskipun kami bakalan bertemu
mereka dalam beberapa bulan ke depan, ketika kami melakukan kunjungan keliling ke
distrik-distrik dalam upacara kemenangan. Ini adalah cara Capitol untuk mengingatkan orang bahwa Hunger Games sesungguhnya tak pernah berlalu. Kami semua akan dijejali banyak omong kosong dan semua orang akan berpura-pura menyanjung kami.
Kereta mulai bergerak dan kami menuju kegelapan malam sampai kami keluar dari terowongan dan pada saat itulah aku bisa bernapas lega untuk pertama kalinya sejak hari pemungutan. Effie mendampingi kami kembali ke distrik dan tentu saja, Haymitch ikut serta. Kami makan malam banyak sekali dan duduk tanpa bicara di depan TV untuk menonton siaran ulang wawancara. Sementara Capitol makin menjauh dibelakangku, aku mulai  memikirkan rumah.  Tentang  Prim  dan ibuku.  Tentang  Gale.  Aku  permisi  untuk mengganti gaunku dengan kaus sederhana dan celana panjang. Perlahan-lahan aku membasuh riasan wajahku dan mengepang rambutku. Aku mulai bertransformasi menjadi diriku. Katniss Everdeen. Gadis yang tinggal di Seam. Berburu di hutan. Berdagang di Hob. Aku memandangi cermin sementara aku mengingat siapa aku dan siapa yang bukan aku. Pada saat aku bergabung dengan yang lain, tekanan yang kurasakan dari lengan Peeta yang merangkulku terasa asing.
Ketika kereta berhenti sebentar untuk mengisi bahan bakar, kami diperbolehkan keluar untuk menghirup udara segar. Tak ada gunanya lagi mengawasi kami. Aku dan
Peeta berjalan di sepanjang rel, bergandengan tangan dan kini setelah kami berduaan aku
malah  tidak  tau  ingin  bicara  apa.  Peeta  berhenti  untuk  memetik  bunga-  bunga  liar untukku. Ketika dia memberikan bunga itu padaku, aku berusaha keras untuk tampak senang. Karena dia tak tau bahwa bunga-bunga berwarna pink-putih itu adalah bunga dari bawang liar dan membuatku teringat pada jam-jam yang kuhabiskan bersama Gale untuk mengumpulkannya.
Gale.  memikirkan  diriku  akan  bertemu Gale  beberapa jam  lagi  membuat  perutku mulas.  Tapi  kenapa?  Aku  tidak  bisa  menyusun  alasannya  di  benakku.  Aku  hanya  tau bahwa aku merasa berbohong pada dua orang yang percaya padaku. Sejauh ini aku bisa lolos dalam kebohonganku atas nama Hunger Games. Tapi dirumah tak ada lagi Hunger Games yang bisa jadi tamengku.
"Ada apa?" tanya Peeta.
"Tidak apa-apa," jawabku. Kami terus berjalan, melewati gerbong terakhir, hingga aku yakin tidak ada kamera tersembunyi di semak-semak disepanjang rel. Tapi tidak ada kata terucap dari bibirku.
Haymitch membuatku terlonjak ketika dia menepuk punggungku. Bahkan saat ini, ditempat tersembunyi entah dimana, dia bicara dengan suara rendah.
"Kerja yang bagus, kalian berdua. Tetap teruskan sampai tidak ada kamera lagi. Kita akan baik-baik saja."
Aku mengawasi Haymitch berjalan kembali ke kereta dan menghindari tatapan Peeta. "Apa maksud Haymitch?" Peeta bertanya padaku.
"Capitol. Mereka tidak menyukai aksi kita dengan buah berry itu," jawabku. "Apa? Apa sih yang kaubicarakan?" tanya Peeta.
"Tindakan itu berbau pemberontakan. Jadi, Haymitch sudah mengarahkanku selama beberapa terakhir ini. Agar aku tidak memperburuk keadaan," kataku.
"Mengarahkanmu? Tapi aku tidak," kata Peeta.
"Dia tau kau cukup cerdas untuk melakukannya dengan benar," kataku.
"Aku tak tau ada yang harus dilakukan dengan benar," tukas Peeta. "Jadi maksudmu, beberapa hari terakhir ini dan kupikir.. di arena.. adalah strategi yang kalian rencanakan?"
"Bukan. Maksudku, aku tak bisa bicara dengannya di arena kan?" kataku tergagap. "Tapi  kau  tau  dia  ingin  kau  melakukan  apa,  kan?"  tanya  Peeta.  Kugigit  bibirku.
"Katniss?"
Peeta melepaskan tanganku dan aku berjalan selangkah, seakan ingin menemukan keseimbanganku lagi.
"Itu semua demi Hunger Games," kata Peeta. "Kau cuma berakting." "Tidak semuanya akting," kataku sambil memegangi bungaku erat-erat.
"Seberapa banyak, kalau begitu? Ah, lupakan saja. Kurasa pertanyaan sesungguhnya
adalah seberapa banyak yang tersisa ketika kita di rumah nanti?" tanyanya.
"Aku tidak tau. Distrik 12 makin dekat dan aku jadi makin bingung," kataku. Peeta menunggu penjelasan lebih lanjut, tapi tak ada kata-kata yang keluar.
"Yah, beritahu aku kapan kau tidak bingung lagi," katanya, kepedihan dalam suaranya terdengar jelas.
Aku bisa mendengar langkah kaki Peeta kembali ke gerbong kereta. Pada saat aku naik ke gerbong, Peeta sudah menghilang ke kamarnya sepanjang malam. Keesokan paginya aku juga tak melihatnya. Pada saat Peeta muncul, kami sudah memasuki distrik
12. Dia mengangguk padaku, wajahnya tanpa ekspresi.
Aku ingin bilang padanya bahwa dia bersikap tidak adil. Bahwa kami adalah dua orang yang tak saling mengenal. Bahwa aku melakukan apa yang perlu dilakukan untuk membuat kami tetap hidup, untuk membuat kami berdua tak tewas di arena. Bahwa aku tidak bisa menjelaskan hubunganku dengan Gale karena aku sendiri tidak tahu.   Bahwa tak  ada  gunanya  mencintaiku  karena  aku  juga  takkan  pernah  mau  menikah  dan  dia bakalan membenciku suatu saat nanti. Bahwa jika aku punya perasaan untuknya, semua itu tak penting lagi karena aku takkan pernah bisa punya cinta semacam itu, yang bisa membuatku  membayangkan  keluarga dan anak-anak.  Bagaimana mungkin  Peeta  bisa? Bagaimana bisa setelah semua yang kami alami?
Aku juga ingin memberitahunya bahwa saat ini aku sudah merindukannya. Tapi itu berarti aku bersikap tidak adil.
Jadi kami berdiri tanpa bicara. Melalui jendela, aku bisa melihat peron penuh dengan kamera. Semua orang bersemangat menyambut kepulangan kami.
Dari sudut mataku, kulihat Peeta mengulurkan tangannya. Aku memandangnya, tak yakin dengan apa yang harus kulakukan.
"Sekali lagi? Untuk penonton?" tanya Peeta. Suaranya tak terdengar marah. Suaranya terdengar kosong dan itu lebih buruk kedengarannya. Anak lelaki dengan roti itu sudah
terlepas dari genggamanku.
Kupegang tangan Peeta, kugenggam erat-erat, aku bersiap-siap menghadapi kamera, dan ngeri membayangkan saat ketika aku harus melepaskan genggaman tangan Peeta.



-------AKHIR BUKU SATU-------

The Hunger Games indonesia bagian 26

KULUDAHKAN buah-buah berry dari mulutku, mengelap lidah dengan ujung kausku untuk memastikan tidak ada cairan berry yang menempel. Peeta menarikku ke danau, disana kami membasuh mulut kami dengan air lalu ambruk berpelukan.
"Kau tak menelannya kan?" aku bertanya padanya. Peeta menggeleng. "Kau?"
"Kurasa aku sudah mati kalau ada yang tertelan," kataku.
Aku bisa melihat bibirnya bergerak untuk menjawab, tapi aku tidak bisa mendengarnya   di   antara   gemuruh   raungan   penonton   di   Capitol   yang   mereka perdengarkan langsung ke arena melalui pengeras suara.
Pesawat ringan muncul diatas kepala dan dua tangga turun, hanya saja tak mungkin aku melepaskan Peeta. Satu tanganku masih merangkulnya ketika aku membantunya naik
dan kami berdua menaruh satu kaki di anak tanggapaling bawah. Arus listrik membuat
kami membeku ditempat dan aku lega karena aku tidak yakin Peeta sanggup bertahan sepanjang perjalanan. Karena kami bisa memandang ke bawah sementara otot-otot kami tak bisa bergerak, aku bisa melihat darah mengalir keluar dari kaki Peeta. Tidak heran ketika pintu menutup dibelakang kami dan arus listrik itu berhenti, Peeta langsung tak sadarkan diri dilantai.
Jemariku masih memegang bagian belakang jaketnya kuat-kuat sehingga ketika mereka menariknya pergi, di tanganku terenggut segenggam kain hitam. Dokter dengan pakaian steril putih, bermasker dan sarung tangan, sudah siap untuk mengoperasi Peeta dan langsung beraksi. Peeta tampak begitu pucat dan tenang di atas meja perak, berbagai tabung dan kabel mencelat dari berbagai sisi tubuhnya. Sesaat aku lupa kami sudah tidak lagi berada di Hunger Games dan aku melihat para dokter sebagai salah satu ancaman lain, sekawanan mutt yang dirancang untuk membunuhnya. Dengan ngeri, aku menerjang ke arahnya, tapi aku ditangkap dan ditarik ke ruangan lain, pintu kaca menutup diantara kami. Kugedor-gedor pintu kaca, berteriak sekuat-kuatnya. Semua orang mengabaikanku kecuali beberapa pelayan Capitol yang muncul dari belakangku dan menawariku minum.
Aku terduduk di lantai, wajahku menghadap pintu, memandangi gelas kristal di tanganku. Sedingin es, terisi jus jeruk, sedotan dengan rumbai-rumbai putih. Betapa tidak pasnya  benda  ini  berada  di  tanganku  yang  berdarah,  kotor  dengan  kuku-kuku  penuh tanah dan bekas-bekas luka. Mulutku langsung mengeluarkan liur mencium aroma yang nikmat, tapi kutaruh gelas itu dengan hati-hati ke lantai, aku tidak percaya pada sesuatu yang tampak begitu bersih dan cantik.
Melalui pintu kaca, aku melihat para dokter bekerja giat mengobati Peeta, alis mereka bertautan ketika berkonsentrasi. Aku melihat cairan dipompakan ke tubuhnya melalui tabung-tabung, mengamati deretan tombol dan lampu yang tak berarti apa-apa bagiku. Aku tidak yakin, tapi kupikir jantungnya berhenti dua kali.
Aku serasa berada di rumah lagi, ketika mereka membawa tubuh korban yang hancur
karena ledakan tambang, atau wanita yang sudah tiga hari menunggu persalinannya yang tak kunjung tiba, atau anak kelaparan berusaha melawan pneumonia sementara ibuku dan Prim menunjukan ekspresi yang sama seperti para dokter itu. Sekarang saatnya untuk
berlari ke hutan, bersembunyi di antara pepohonan sampai si pasien itu sudah lama tewas dan di bagian lain Seam peti mati sedang dibuat. Tapi aku tertahan di sini dengan dinding- dinding pesawat ringan dan kekuatan yang sama yang menahan orang-orang yang mencintai mereka yang di ambang batas maut. Entah sudah berapa kali aku melihat mereka, mengelilingi meja dapur kami dan aku pikir, Kenapa mereka tak pergi? Kenapa mereka tetap tinggal untuk melihat?
Dan sekarang aku tau. Itu karena kau tak punya pilihan.
Aku   terkejut   ketika   melihat   ada   yang   memandangku   dalam   jarak   beberapa sentimeter, lalu aku tersadar bahwa aku sedang melihat wajahku sendiri yang terpantul di kaca. Tatapan mata yang liar, pipi yang cekung, rambut kusut. Ganas. Buas. Gila. Tidak heran semua orang menjaga jarak aman denganku.
Selanjutnya  yang kutahu  kami  mendarat  diatap  Pusat Latihan,  mereka  membawa
Peeta tapi meninggalkanku di belakang pintu. Kubenturkan tubuhku ke kaca sambil menjerit-jerit. Kupikir  sekilas  aku  melihat  bayangan  rambut  pink—pasti  rambut  Effie,
pasti Effie datang menyelamatkanku—ketika jarum suntik menusukku dari belakang.
Ketika aku terbangun, mulanya aku takut bergerak. Seluruh langit-langit berbinar dengan sinar kuning lembut membuatku bisa melihat bahwa aku berada di kamar yang di dalamnya hanya ada ranjangku.Tidak tampak pintu atau jendela. Ada bau menyengat dan bau antiseptik diudara. Dilengan kananku ada beberapa slang yang menjulur hingga ke dinding di belakangku. Aku telanjang, tapi seprai terasa nyaman di kulitku. Ragu-ragu aku mengangkat tangan kiriku diatas selimut. Tidak hanya tanganku sudah digosok hingga bersih, kuku-kukunyapun sudah dibentuk menjadi oval sempurna, bekas luka bakarnya tak tampak terlalu kentara lagi. Kusentuh pipiku, bibirku, luka lama di atas alisku dan jemariku baru saja menyentuh rambutku yang halus ketika aku tercekat. Takut-takut aku menyentuh rambut didekat telinga kiriku. Bukan, ini bukan ilusi. Aku bisa mendengar lagi.
Aku berusaha bangkit dan duduk, tapi ada semacam pengikat yang menahan tubuhku di sekitar pinggang sehingga aku hanya bisa bangkit tak lebih dari beberapa sentimeter. Tubuhku yang tertahan ini membuatku panik dan aku berusaha bergerak duduk, menggoyang-goyangkan  pahaku  keluar  dari  pengikat  ketika  ada  bagian  dinding  yang
terbuka   dan   gadis   Avox   berambut   merah   melangkah   masuk   membawa   nampan.
Melihatnya membuatku tenang dan aku berhenti mencoba melepaskan diri. Aku ingin menanyakan jutaan pertanyaan padanya, tapi aku takut jika aku kelihatan mengenalinya dia malah akan kena bahaya. Saat ini tentu aku diawasi secara ketat. Dia menaruh nampan diatas pahaku dan menekan sesuatu yang membuat ranjangku bergerak hingga aku dalam posisi duduk. Ketika dia mengatur bantal-bantalku, aku memberanikan diri mengajukan satu pertanyaan. Kutanyakan pertanyaan itu dengan lantang, selantang yang bisa kuucapkan dengan suara serakku, jadi tak tampak ada rahasia. "Apakah Peeta selamat?"
Gadis itu mengangguk. Lalu dia menyelipkan sendok ke tanganku dan aku merasakan tekanan persahabatan darinya.
Kurasa dia tidak mengharapkan aku mati. Dan Peeta berhasil selamat. Tentu saja, dia selamat. Dengan segala peralatan canggih dan mahal yang ada ditempat ini. Tapi, aku tidak pernah yakin sampai saat ini.
Ketika si Avox pergi, pintu menutup tanpa suara dibelakangnya lalu aku menyerbu isi nampan dengan rakus. Semangkuk kuah daging yang jernih, sedikit saus apel dan segelas air. Cuma ini? pikirku geram. Bukankah makan malam menyambut kepulanganku seharusnya lebih spektakuler? Tapi ternyata aku harus susah payah menghabiskan sedikit makanan yang tersaji di depanku. Lambungku sepertinya menyusut hingga seukuran kacang, sehingga aku bertanya-tanya sudah berapa lama aku pingsan karena tak sulit bagiku makan sarapan lumayan banyak tadi pagi di arena pertarungan. Biasanya ada jeda beberapa hari antara akhir pertarungan dan tampilnya pemenang, agar mereka bisa mengembalikan pemenang, yang kelaparan, terluka dan kacau hingga utuh lagi. Entah dimana, Cinna dan Portia akan membuat pakaian untuk penampilan kami didepan umum. Haymitch dan Effie akan mengatur pesta untuk para sponsor kami, meninjau pertanyaan- pertanyaan untuk wawancara-wawancara akhir kami. Di kampung halaman, distrik 12 mungkin dalam kondisi  kacau  karena mereka  berusaha mengatur pesta penyambutan untuk aku dan Peeta, mengingat pesta penyambutan terakhir diadakan hampir tiga puluhtahun lalu.
Rumah! Prim dan ibuku! Gale! Bahkan memikirkan kucing tua budukan milik Prim saja membuatku tersenyum. Tak lama lagi aku akan pulang ke rumah!
Aku ingin turun dari  ranjang ini.  Melihat Peeta dan Cinna, mencari tau apa yang terjadi. Dan kenapa aku  tak boleh  melakukannya? Aku merasa sehat. Tapi ketika aku berusaha melepaskan diri dari ikatan, aku merasakan cairan dingin masuk ke pembuluh darahku dari salah satu slang dan seketika aku hilang kesadaran.
Ini terjadi beberapa kali dalam waktu yang tak bisa kuhitung. Aku bangun, makan,
meskipun aku berusaha menolak dengan turun dari ranjang, aku tak sadarkan diri lagi. Seakan-akan aku berada dalam senja yang aneh dan tak berkesudahan. Hanya beberapa hal yg kuingat. Gadis Avox berambut merah tak pernah datang lagi sejak membawakanku makanan, bekas luka-lukaku mulai menghilang dan apakah aku cuma mengkhayalkannya? Atau apakah aku mendengar laki-laki berteriak? Bukan dengan aksen Capitol, tapi dengan irama aksen dirumah yang lebih kasar. Dan aku tak bisa tidak merasakan perasaan menenangkan yang samar bahwa ada seseorang yang menjagaku.
Akhirnya, tiba waktunya ketika aku sadar dan tak ada slang yang menempel dilengan kananku. Ikatan penahan dibagian tengah tubuhku juga sudah lepas dan aku bebas bergerak kemanapun. Aku mulai duduk tapi terpukau melihat kedua tanganku. Kulitku tampak sempurna, halus dan berkilau. Tak hanya luka-luka di arena yang hilang, tapi luka- luka yang terkumpul selama beberapa tahun berburu telah lenyap tanpa bekas. Dahiku
selembut  satin dan ketika  aku  berusaha  mencari bekas luka dibetisku, aku tidak bisa
menemukannya.
Kuturunkan kakiku dari ranjang, gelisah membayangkan bagaimana kakiku sanggup menahan beratku, tapi ternyata kakiku kuat dan mantap. Di kaki ranjang ada pakaian yang membuatku tersentak. Itu pakaian yang dikenakan semua peserta di arena. Kupandangi pakaian itu begitu lama seakan pakaian itu punya gigi, sampai aku ingat bahwa pakaian ini yang akan kupakai untuk menyambut timku.
Aku mengenakan pakaian dalam waktu kurang dari semenit dan berdiri gelisah di depan dinding yang kutau ada pintu disana bahkan jika aku tidak bisa melihatnya dan
mendadak pintu itu terbuka. Aku melangkah ke lorong lebar dan kosong yang tampaknya tak ada pintu lain disana. Tapi seharusnya ada pintu. Dan dibalik salah satu pintu pasti ada Peeta. Sekarang aku sadar dan bergerak, makin lama merasa makin gelisah memikirkannya. Dia pasti baik-baik saja atau gadis Avox itu takkan mengatakannya.
"Peeta!" aku berseru, karena tak ada seorangpun yang bisa kutanyai. Aku mendengar namaku dipanggil, sebagai jawabannya, tapi bukan suara Peeta. Suara itu menimbulkan kekesalan dan keingintahuan. Effie.
Aku menoleh dan melihat mereka semua menunggu diruangan besar diujung lorong, Effie, Haymitch dan Cinna. Kakiku melangkah tanpa ragu. Mungkin pemenang harus menunjukkan lebih banyak menahan diri, superioritas, terutama saat dia tau ini akan direkam kamera, tapi aku tak peduli. Aku berlari ke arah mereka dan bahkan akupun terkejut  ketika  pertama-tama  aku  berlari  ke  pelukan  Haymitch.  Ketika  dia  berbisik
ditelingaku, "Kerja bagus, sweetheart," nadanya tak terdengar sarkastik.
Effie tampak berkaca-kaca sambil menepuk-nepuk rambutku dan berbicara tentang bagaimana dia mengatakan pada semua orang betapa hebatnya kami.
Cinna memelukku erat dan tak mengatakan apa-apa. Lalu kuperhatikan Portia tak bersama kami dan aku jadi punya firasat buruk.
"Dimana Portia? Apakah dia bersama Peeta?" tanyaku tanpa henti. "Peeta baik-baik saja kan? Maksudku, dia masih hidupkan?"
"Dia baik-baik saja. Hanya saja mereka ingin kalian melakukan reuni kalian langsung di upacara," kata Haymitch.
"Oh. Karena itu," kataku. Saat mengerikan ketika memikirkan Peeta tewas kembali
berlalu. "Kurasa aku hanya ingin melihatnya sendiri."
"Pergilah dengan Cinna. Dia harus menyiapkanmu," kata Haymitch.
Lega rasanya bisa berduaan dengan Cinna ,merasakan lengannya yang melindungi di bahuku ketika dia membawaku menjauh dari kamera, melewati jalan dan menuju elevator yang menuju lobi Pusat Latihan. Rumah sakit berada jauh dibawah tanah, bahkan dibawah gym tempat para peserta berlatih. Jendela-jendela lobi digelapkan dan beberapa penjaga berdiri berjaga-jaga. Tidak ada orang lain di sana yang mengantar kami menyebrang menuju elevator peserta. Langkah-langkah kaki kami bergema dalam ruangan kosong. Dan ketika kami naik menuju lantai dua belas, semua wajah peserta yang takkan pernah kembali melintas dibenakku, membuat dadaku berat dan sesak.
Ketika pintu elevator terbuka, Venia, Flavius dan Octavia mengerubungiku, bicara sangat cepat dan girang hingga aku tidak bisa mengerti apa yang mereka ocehkan. Tapi perasaan mereka amat jelas. Mereka sungguh bahagia melihatku dan aku juga bahagia bertemu mereka, meskipun kadarnya tak seperti kebahagiaanku melihat Cinna. Rasanya lebih seperti seseorang yang merasa gembira bisa melihat tiga binatang peliharaannya pada akhir hari yang sulit.
Mereka membawaku menuju ruang makan dan di sana aku mendapat makanan sungguhan—daging sapi panggang, kacang polong dan roti lembut—walaupun porsi makananku masih sedikit dikontrol, karena ketika aku minta tambah, mereka menolak memberikannya.
"Tidak, tidak, tidak. Mereka tak ingin semua makanan ini keluar lagi di panggung," kata Octavia, tapi diam-diam dia menyelipkan roti tambahan untukku dibawah meja agar aku tau dia mendukungnya.
Kami kembali ke kamarku dan Cinna menghilang sejenak ketika tim persiapannya menyiapkanku.
"Oh, mereka melakukan poles satu badan penuh padamu," kata Flavius dengan nada iri. "Tak ada cacat sedikitpun di kulitmu."
Tapi  ketika  aku  melihat  tubuh  telanjangku  dicermin,  aku  hanya  melihat  betapa
kurusnya diriku. Maksudku, aku yakin kondisiku pasti lebih buruk ketika aku keluar dari arena, tapi saat ini aku bisa menghitung jumlah rusukku dengan mudah.
Mereka membereskan pengaturan air pancuran untukku dan mereka menata rambutku, kukuku dan makeup-ku ketika aku selesai. Mereka bicara tanpa henti hingga aku tak perlu menjawab mereka, yang menurutku bagus karena akumerasa tak kepingin bicara. Lucu sebenarnya,  karena walaupun mereka  berceloteh tentang  Hunger Games, semua  yang  mereka  bicarakan  adalah  tentang  dimana  mereka  berada  atau  apa  yang sedang mereka lakukan atau bagaimana perasaan mereka ketika suatu peristiwa khusus terjadi. "Aku masih berbaring di ranjangku!" "Aku baru menyemir alisku!" "Berani sumpah aku nyaris pingsan!" Segalanya tentang mereka, bukan anak-anak lelaki dan perempuan yang tewas di arena.
Kami tidak bicara tentang Hunger Games di Distrik 12. Disana kami mengatupkan gigi dan menontonnya karena kami harus melakukannya lalu berusaha kembali melakukan kegiatan kami sesegera mungkin setelah tanyangan itu usai. Kata-kata mereka hanya masuk kuping kiri keluar kuping kanan, untuk menjaga diriku agar tak membenci tim persiapanku ini.
Cinna masuk membawa gaun kuning sederhana di kedua lengannya.
"Apakah kau sudah menyerah dengan segala konsep 'gadis yang terbakar' itu?" tanyaku.
"Menurutmu bagaimana," kata Cinna dan dia memakaikan gaun itu dari atas kepalaku. Aku segera menyadari ada sumpalan dibagian dadaku, menambah lekuk-lekuk ditubuhku
yang hilang akibat kelaparan. Kedua tanganku memegang dadaku lalu aku mengernyitkan
dahi.
"Aku tau," kata Cinna sebelum aku bisa protes. "Tapi para Juri Pertarungan ingin mengubah bentuk tubuhmu dengan operasi. Haymitch ribut besar dengan mereka karena hal  ini.  Pakaian ini adalah  bentuk  kompromi."  Dia  menghentikanku  sebelum  aku  bisa melihat bayangan diriku. "Tunggu, jangan lupa sepatunya."
Venia membantuku memakai sandal kulit datar lalu aku berpaling ke cermin.
Aku masih 'gadis yang terbakar.' Kain yang halus ini berkilau lembut. Bahkan gerakan samar di udara mengirimkan desiran ke sekujur tubuhku. Kostum kereta tampak berkilauan sementara gaun wawancara terlalu malu-malu. Dalam gaun ini, aku memberi ilusi seakan mengenakan cahaya lilin.
"Bagaimana menurutmu?" tanya Cinna.
"Menurutku ini yang terbaik," kataku. Ketika mataku berpaling dari kain yang berkelap-kelip, aku terkejut. Rambutku tergerai, tertahan dengan ikat rambut sederhana,
riasan  wajahku  mengisi  sudut-sudut  tajam  wajahku,  kuteks  bening  menghias  kukuku. Gaun tanpa lengan ini terpusat di rusukku bukan di pinggangku, menghilangkan kesan sumpalan  pada  bentuk  tubuhku. Ujung  gaun  jatuh  tepat di  lututku.  Sepatu  tanpa  hak membuat orang bisa melihat sosokku yang sesungguhnya. Aku terlihat sederhana, seperti anak perempuan. Gadis muda. Paling banter empat belas tahun. Lugu. Tak berbahaya. Ya mengejutkan, Cinna berhasil menampilkanku seperti ini padahal aku baru saja menang Hunger Games.
Ini adalah penampilan yang penuh perhitungan. Tak ada satupun rancangan Cinna yang tak punya tujuan. Kugigit bibirku berusaha mencari tau motivasinya.
"Kupikir tadinya lebih.. anggun," kataku.
"Kupikir Peeta akan lebih menyukai yang ini," jawab Cinna hati-hati.
Peeta? Bukan, ini bukan tentang Peeta. Ini tentang Capitol, para juri pertarungan dan penonton. Walaupun aku tidak memahami rancangan Cinna, gaun ini mengingatkanku bahwa Hunger Games belumlah berakhir. Dan dibalik jawabannya yang sambil lalu ini, aku merasakan adanya bahaya. Sesuatu yang tak bisa diungkapkan Cinna di depan timnya sendiri.
Kami masuk ke elevator menuju lantai tempat kami latihan. Sudah jadi kebiasaan bagi pemenang dan tim pendukungnya untuk muncul dari bawah panggung. Pertama tim persiapan, diikuti pendamping. Penata gaya. mentor. Dan akhirnya sang pemenang. Tapi tahun  ini,  dengan  dua  pemenang  yang  memiliki  pendamping  dan  mentor  yang  sama, semua ini harus dipikirkan ulang. Aku berdiri di ruangan temaram dibawah panggung.
Piringan logam baru sudah terpasang untuk membawaku keatas. Aku masih bisa mencium
bau serbuk gergaji dan cat yang masih baru. Cinna bersama tim persiapannya mengganti pakaian dan mengenakan kostum mereka sendiri lalu mengambil tempat,meninggalkanku seorang  diri.  Dalam  keremangan,  aku  melihat  dinding  buatan  yang  jaraknya  sekitar sepuluh meter dan aku menduga Peeta ada dibaliknya.
Sorak-sorai   penonton   sangat   ribut,   sehingga   aku   tidak   menyadari   kehadiran Haymitch   sampai  dia   menyentuh   bahuku.   Aku   terlonjak,   terkejut,   kurasa  separuh pikiranku masih berada di arena pertarungan.
"Tenang, ini aku. Sini kulihat dulu," kata Haymitch. Aku mengulurkan lenganku dan berputar sekali. "Cukup bagus."
Kata-katanya tak terdengar seperti pujian. "Tapi apa?" tanyaku.
Mata Haymitch memandangi ruang pengap diantara kedua tanganku yang terbuka dan dia tampaknya mengambil keputusan. "Tapi tidak apa-apa. Bagaimana kalau pelukan
untuk keberuntungan?"
Oke,   ini   permintaan   janggal   dari   Haymitch,   tapi   bagaimanapun   kami   adalah pemenang. Mungkin pelukan untuk keberuntungan adalah wajib. Namun ketika aku merangkulnya,  aku  merasa  terperangkap  dalam  pelukannya.  Dia  mulai  bicara,  sangat cepat, sangat pelan di telingaku, rambutku menutupi bibirnya.
"Dengar. Kau dalam masalah. Katanya Capitol murka karena kau melawan mereka di arena. Mereka tak tahan ditertawai dan jadi bahan olokan Panem," kata Haymitch.
Saat ini rasa takut mengalir disekujur tubuhku, tapi aku tertawa seakan-akan Haymitch   mengatakan   sesuatu   yang   menyenangkan   karena   tak   ada   apapun   yang menutupi mulutku. "Lalu apa?"
"Satu-satunya perlindunganmu adalah kau sedang kasmaran dan tidak bertanggung jawab atas tindakan-tindakanmu." Haymitch mundur dan memperbaiki ikat rambutku. "Jelas Sweetheart?"
Orang tak bisa menduga Haymitch bicara tentang apa. "Jelas," kataku. "Kau sudah bilang pada Peeta tentang ini?"
"Tidak perlu," sahut Haymitch. "Dia sudah paham."
"Dan  kaupikir  aku  tak  paham?"  tanyaku,  sembari  menggunakan  kesempatan  ini untuk  meluruskan  dasi  kupu-kupu  merah  cerah  yang  pasti  dipasangkan  oleh  Cinna dengan susah payah.
"Sejak kapan apa yang kupikirkan penting untukmu?" tanya Haymitch. "Lebih baik kita bersiap-siap diposisi."
Dia membawaku ke lingkaran logam. "Ini malammu, sweetheart. Nikmatilah."
Dia mencium keningku lalu menghilang dalam keremangan.
Kutarik rokku, berharap gaunku lebih panjang, berharap gaun ini bisa menutupi lututku yang goyah. Lalu aku sadar tindakanku tak ada gunanya. Seluruh tubuhku gemetar seperti daun. Aku berharap ini bisa diartikan sebagai rasa grogi karena terlalu senang. Lagipula, ini kan malamku.
Bau apak dan lembab di bawah panggung membuatku tercekik. Keringat dingin mengalir  deras  dan  aku  tak  bisa  menghalau  pikiranku  bahwa  papan-papan  diatas
kepalaku bakalan runtuh, menguburku. Ketika aku meninggalkan arena, ketika trompet dimainkan, seharusnya aku merasa aman. Sejak saat itu. Selama sisa hidupku. Tapi, jika
yang  dikatakan  Haymitch  benar,  saat  ini  aku  berada  ditempat  yang  paling  berbahaya sepanjang hidupku.
Jauh lebih buruk daripada diburu di arena. Di sana aku paling hanya tewas. Habis cerita. Tapi disini ada Prim, ibuku, Gale, penduduk Distrik 12, semua orang yang kusayangi bisa dihukum jika aku tidak bisa tampil sesuai skenario sebagai gadis-yang-sedang-jatuh-
cinta-setengah-mati seperti yang disarankan Haymitch.
Tapi aku masih punya kesempatan. Lucunya, di arena, ketika aku menuangkan buah- buah berry itu, aku hanya berpikir untuk mempercundangi para Juri Pertarungan, tak memikirkan  bagaimana  pengaruh  tindakanku  terhadap  Capitol.  Tapi  Hunger  Games adalah senjata mereka dan kau tak seharusnya mengalahkannya. Jadi sekarang Capitol akan bertindak seolah-olah mereka yang mengontrol semua ini sepanjang waktu. Seakan mereka yang mengatur semua kejadian ini, bahkan pada usaha bunuh diri bersama kami. Tapi hal itu hanya akan berhasil jika aku bekerja sama dengan mereka.
Dan Peeta... Peeta juga akan menderita jika semua ini gagal. Tapi tadi apa kata Haymitch ketika aku bertanya apakah dia sudah memberitahu Peeta tentang keadaan ini? Bahwa dia harus berpura-pura jatuh cinta?
"Tidak perlu. Dia sudah paham."
Sudah paham dan berpikir lebih maju daripada pikiranku dalam Hunger Games dan menyadari betapa berbahayanya keadaan kami? Atau sudah paham bahwa kami sedang
jatuh cinta setengah mati? Aku tak tau. Aku belum memilah-milah beragam perasaanku tentang Peeta. Semuanya terlalu rumit. Apa yang kulakukan adalah bagian dari Hunger Games dan kebalikannya adalah kemarahanku pada Capitol. Atau karena aku memikirkan seperti  apa  tindakanku  akan  dilihat  oleh  mereka  di  Distrik  12.  Atau  karena  itu  satu- satunya hal yang layak dilakukan. Atau aku melakukannya karena aku menyayanginya.
Pertanyaan-pertanyaan  ini  harus  kurenungkan  lagi  dirumah,  dalam  hutan  yang tenang dan damai, tanpa diawasi seorang pun. Bukan pada saat ini ketika semua mata tertuju padaku. Tapi entah berapa lama aku bisa punya kemewahan itu. Dan saat ini, bagian paling berbahaya dari Hunger Games segera dimulai.

The Hunger Games indonesia bagian 25

MUTAN. Tidak ada keraguan lagi. Aku pernah melihat mutt ini, tapi mereka bukan binatang-binatang yang lahir secara alami. Mereka mirip serigala-serigala raksasa, tapi serigala apa yang berdiri mantap dengan kedua kaki belakangnya? Serigala apa yang melambai pada kawanannya dengan cakar depannya seakan punya pergelangan tangan? Aku bisa melihat makhluk-makhluk ini dari jauh. Dari jarak dekat, aku yakin tampilan mereka yang lebih menakutkan akan lebih jelas terlihat.
Cato langsung berlari lurus menuju Cornucopia, dan tanpa bertanya lagi aku mengikutinya. Jika Cato berpikir Cornucopia adalah tempat yang paling aman, aku tak mau  menentang  pendapatnya.  Selain  itu,  jika aku  bisa memanjat  pohon,  tak mungkin Peeta bisa lari lebih cepat dari mereka dengan kakinya yang luka—Peeta! Kedua tanganku baru saja mendarat di logam yang menjadi bagian dari ekor runcing Cornucopia ketika
aku ingat Peeta  adalah  bagian dari  timku.  Dia berada lima belas meter dibelakangku,
tertatih-tatih secepat yang dia bisa, tapi mutt-mutt itu mendekat dengan amat cepat. Kutembakkan anak panahku ke kawanan binatang itu dan satu tumbang kena panahku, tapi masih banyak yang menggantikan tempatnya.
Peeta melambai menyuruhku naik keatas trompet. "Sana, Katniss! Pergi!"
Peeta benar. Aku tak bisa melindungi kami berdua dengan tetap berada di atas tanah. Aku mulai memanjat, menapaki Cornucopia dengan kedua tangan dan kakiku. Permukaannya yang terbuat dari emas murni di desain agar bentuknya serupa dengan trompet anyaman yang kami isi pada saat memungut hasil panen, jadi ada bagian-bagian yang menonjol dan lipatan yang bisa untuk tempat berpegangan. Tapi setelah sehari terpanggang matahari di arena pertarungan ini, logam itu cukup panas untuk bisa membuat tanganku melepuh.
Cato berbaring miring dipuncak trompet, enam meter diatas tanah, terengah-engah sambil muntah diujung trompet. Sekarang kesempatanku untuk menghabisinya. Aku berhenti di tengah jalan menuju trompet dan menyiapkan anak panah, tapi ketika aku hendak menembakkannya, aku mendengar jeritan Peeta. Aku menoleh dan melihatnya baru tiba di ekor Cornucopia, dan mutt itu berada di tumitnya.
"Panjat!" teriakku. Peeta mulai memanjat, tapi gerakannya tak hanya terhalang kakinya  yang  luka  tapi  juga  pisau  ditangannya.  Kutembakkan  panah  ke  leher  mutt pertama yang sudah menancapkan cakarnya di ekor logam itu. Sebelum mati binatang itu menyambar   teman-temannya,   tanpa   bisa   dihindari   cakarnya   menimbulkan   luka menganga pada tubuh beberapa mutt lain. Saat itulah aku sempat melihat cakarnya. Panjangnya sepuluh sentimeter dan setajam silet.
Peeta sampai di kakiku dan kupegang lengannya lalu kutarik dia. Kemudian aku ingat Cato menunggu dipuncak trompet, tapi dia sedang meringkuk kesakitan dan lebih disibukkan dengan mutt daripada kami. Cato mengucapkan sesuatu yang tak bisa kupahami. Suara dengusan dan raungan mutt-mutt membuatku makin tak mengerti apa yang diucapkannya.
"Dia bilang, 'Apa mereka bisa memanjat?'" jawab Peeta, dan mengembalikan fokusku ke dasar trompet.
Mutt-mutt  itu  mulai  berkumpul.  Ketika  mereka  bergabung,  mereka  bangkit  dan berdiri  dengan  kaki  belakang  dengan  mudah,  membuat  mereka  secara  mengerikan tampak  seperti  manusia.  Masing-masing  binatang  itu  memiliki  bulu  lebat,  ada  yang bulunya lurus, ada yang keriting, warnanya pun beragam mulai dari hitam legam sampai pirang. Ada sesuatu dari mereka yang membuat bulu kudukku berdiri, tapi aku tak tau apa yang salah.
Moncong  mereka  mengendus  dan  merasakan  trompet,  mencium  dan  merasakan logam itu, mengais-ngais permukaan logam itu lalu memekik dengan nada tinggi terhadap satu sama lain. Ini pasti cara mereka berkomunikasi karena kawanan mutt itu mundur seakan memberikan ruang. Lalu salah satu dari mereka, mutt berukuran besar dengan bulu pirang dan halus berlari dari jauh lalu melompat ke trompet. Kedua kaki belakangnya sangat kuat karena dia mendarat hanya tiga meter di bawah kami, bibirnya yang pink membentuk seringai. Selama sesaat binatang itu bertahan disana dan ketika itulah aku sadar apa yang membuatku gelisah memandang mutt itu. Mata hijaunya memandangku tidak seperti mata anjing atau serigala atau mata binatang lain yang pernah kulihat. Mata itu tak salah lagi mata manusia. Kesadaran itu baru saja kucerna ketika kuperhatikan ada kalung leher dengan angka 1 tertera disana dengan perhiasan dan semua itu menghantamku. Rambut pirang, mata hijau dan angka itu... Glimmer.
Aku memekik kecil dan kesulitan memegang panahku. Aku sudah menunggu untuk menembakkan panah, dan makin menyadari menipisnya jumlah anak panahku. Aku menunggu apakah makhluk itu bisa memanjat. Tapi sekarang, ketika mutt itu mulai meluncur mundur, tidak mampu berpegangan pada logam itu, meskipun aku bisa mendengar suara cakaran pelan seperti kuku yang digeruskan di papan tulis, aku menembakkan anak panah ke lehernya. Tubuh mutt itu berkelojotan lalu jatuh berdebum di tanah.
"Katniss?" aku bisa merasakan genggaman Peeta dilenganku. "Itu dia!" aku berseru.
"Siapa?" tanya Peeta.
Kepalaku menoleh kesana kemari melihat kawanan itu, memperhatikan berbagai ukuran dan warna kawanan itu. Mutt yang kecil dengan bulu merah dan mata kekuningan.. si Muka Rubah! Dan disana, rambut kelabu dan mata hijau kecoklatan anak lelaki dari distrik 9 yang tewas ketika kami berebutan ransel! Dan yang terburuk dari semuanya, mutt terkecil, dengan bulu gelap berkilau, mata coklat besar dan kalung yg tertulis angka
11. Giginya dipamerkan dengan penuh kebencian. Rue... "Ada apa Katniss?" Peeta mengguncang bahuku.
"Itu mereka. Mereka semua. Yang lain-lain. Rue dan si Muka Rubah dan.. peserta- peserta lain," aku tercekat.
Aku mendengar Peeta terkesiap ketika mengenali mereka. "Apa yang mereka lakukan pada mereka? Kaupikir.. itu mata asli mereka?"
Mata mereka adalah kekuatiran terakhirku. Bagaimana dengan otak mereka? Apakah mereka  diberi  ingatan  peserta  yang  sesungguhnya? Apakah  mereka  diprogram  secara khusus untuk membenci wajah kami karena kami selamat dan mereka tewas terbunuh
dengan keji? Dan mereka yang kami bunuh... apakah mereka percaya bahwa mereka membalaskan kematian mereka?
Sebelum aku bisa menemukan jawabannya, mutt-mutt itu mulai menyerang trompet. Mereka  terbagi  dalam  duakelompok  di  kedua  sisi  trompet  dan  menggunakan  bagian bawah  tubuh  mereka  yang  kuat  untuk  menghantamkan  diri  mereka  ke  arah  kami. Sergapan gigi tak jauh dari tanganku lalu aku mendengar Peeta berteriak, kurasakan tubuhnya ditarik, beratnya tubuh anak lelaki dan mutt membuatku tertarik ke kesamping. Jika bukan karena pegangan dengan lenganku, Peeta sudah terjatuh ke tanah, tapi karena itu juga butuh seluruh kekuatanku untuk membuat kami tetap berada di lekukan trompet. Dan lebih banyak lagi peserta yang datang.
"Bunuh dia, Peeta! Bunuh dia!" aku berteriak, meskipun aku tidak bisa melihat apa yang terjadi, aku tau Peeta pasti menusuk binatang itu karena tarikannya melemah. Aku berhasil menarik Peeta kembali ke trompet dan menyeret tubuh kami ke puncak. Disana musuh kami yang tidak sekeji musuh kami di bawah sudah menunggu.
Cato belum bangkit berdiri, tapi napasnya sudah teratur dan aku tahu tidak lama lagi dia akan pulih dan bisa mendatangi kami, mendorong kami kesamping agar jatuh menuju kematian kami. Kusiapkan busurku, tapi anak panahku berakhir ke mutt yang kemungkinan besar adalah Thresh. Siapa lagi yang bisa melompat setinggi itu? Sejenak aku merasa lega karena akhirnya kami bisa lebih tinggi daripada lompatan mutt itu dan aku baru saja hendak menoleh ke Cato ketika Peeta terlonjak dari sisiku. Aku yakin kawanan binatang itu berhasil menariknya sampai darahnya muncrat mengenai wajahku.
Cato  berdiri  dihadapanku,  nyaris  dimulut  trompet,  mengunci  Peeta  dan  menutup jalan  pernapasannya.  Peeta  mencakar-cakar  lengan  Cato,  tapi  dengan  lemah,  seakan
bingung   apakah   jauh   lebih   penting   untuk   bernapas   atau   berusaha   membendung semburan darah dari lubang terbuka yang ditimbulkan mutt di betisnya.
Kuarahkan satu dari dua sisa anak panah ke kepala Cato, tahu bahwa panahku takkan
ada efeknya pada tubuhnya atau lengan dan kakinya, yang kini bisa kulihat tubuhnya tertutup semacam jala berwarna kulit yang pas badan. Semacam baju pelindung canggih dari Capitol. Apakah itu yang terdapat di ranselnya sewaktu pesta? Baju pelindung dari serangan panahku? Yah, mereka lupa mengirimkan pelindung wajah.
Cato hanya tertawa. "Tembak aku dan dia ikut jatuh bersamaku."
Dia benar. Jika aku memanahnya dan dia jatuh ke kawanan mutt itu, Peeta pasti akan tewas bersamanya. Kami tiba dijalan buntu. Aku tidak bisa memanah Cato tanpa membunuh Peeta juga. Dia tidak bisa membunuh Peeta tanpa memastikan otaknya akan kena panah. Kami berdiri seperti patung, kami semua mencari jalan keluar.
Otot-ototku menegang, rasanya otot-ototku bisa putus kapan saja. Gigiku bergemeletuk. Kawanan mutt itu terdiam dan satu-satunya hal yang bisa kudengar adalah darah yang berdentam di telingaku yang masih bagus.
Bibir Peeta membiru. Jika aku tak melakukan sesuatu dengan cepat, dia akan mati kehabisan napas dan aku juga akan kehilangan dia dan Cato mungkin akan menggunakan tubuh  Peeta  sebagai  senjata  melawanku.  Sesungguhnya,  aku  yakin  ini  rencana  Cato. Karena ketika dia berhenti tertawa, bibirnya menyunggingkan senyum kemenangan.
Seakan ini usaha terakhirnya, Peeta mengangkat jemarinya, yang meneteskan darah dari kakinya, ke arah lengan Cato. Bukannya berusaha meloloskan diri, telunjuknya tiba- tiba berbelok dan dengan sengaja membuat tanda Xdipunggung tangan Cato. Cato menyadari apa artinya sedetik setelah aku sadar. Aku bisa melihat dari senyumnya yang hilang dari bibirnya. Tapi kesadarannya terlambat sedetik karena pada saat itu anak panahku menembus tangannya. Cato menjerit dan secara naluriah melepaskan Peeta yang menghantamkan punggungnya ke Cato. Selama sesaat yang mengerikan, kupikir mereka akan jatuh bersama. Aku meluncur ke depan memegangi Peeta ketika Cato kehilangan pijakannya diatas trompet yang licin kena darah dan terjerembap ke tanah.
Kami mendengarnya menghantam tanah, udara mengembus keluar dari tubuhnya, lalu kawanan mutt menyerangnya. Aku dan Peeta berpegangan, menunggu tembakan meriam.  Menunggu  kompetisi  ini  berakhir.  Menunggu  dibebaskan.  Tapi  semua  tidak terjadi. Belum. Karena ini klimaks Hunger Games dan penonton menunggu tayangan yang tak terlupakan.
Aku tidak melihat, tapi aku bisa mendengar gerunan, raungan dan lolongan kesakitan dari manusia dan binatang ketika Cato menghajar kawanan mutt. Aku tak mengerti bagaimana dia bisa selamat sampai aku teringat pada baju pelindung yang melindunginya dari pergelangan kaki sampai leher. Cato pasti juga punya pisau atau pedang atau semacamnya,   sesuatu   yang  dia   sembunyikan  di   balik  pakaiannya,  karena   sesekali terdengar jeritan kematian mutt atau suara logam beradu ketika mata pisau itu beradu dengan  trompet  emas.  Pertarungan  berpindah  ke  samping  Cornucopia  dan Cato  pasti berusaha  mencoba  satu  cara  yang  bisa  menyelamatkan  nyawanya-kembali  ke  ekor trompet lalu bergabung  bersama  kami.  Tapi,  dia  tak sanggup lagi  melawan meskipun memiliki kekuatan dan keahlian luar biasa.
Aku tidak tahu sudah lewat berapa lama, mungkin sekitar satu jam, ketika Cato terjatuh  ke tanah. Kami  mendengar  para  mutt  menyeretnya, menyeretnya kembali  ke Cornucopia. Sekarang mereka akan menghabisinya, pikirku. Tapi tidak terdengar suara meriam.
Malam tiba dan lagu kebangsaan terdengar tapi tak ada foto Cato di angkasa, hanya ada erangan-erangan samar yang terdengar dari logam dibawah kami. Udara dingin yang berhembus dari tanah lapang mengingatkanku bahwa Hunger Games belum berakhir dan mungkin akan berlangsung sampai entah kapan, dan tidak ada jaminan siapa yang bakal jadi pemenangnya.
Aku  mengalihkan  perhatianku  pada  Peeta  dan  melihat  kakinya  berdarah  parah. Semua  persediaan  kami,  ransel  kami,  berada  didekat  danau  tempat  kami meninggalkannya ketika melarikan diri dari kawanan mutt. Aku tidak punya perban, tidak ada yang bisa kupakai untuk menghambat aliran darah dari betisnya. Walaupun menggigil, aku membuka jaketku, melepaskan kausku dan menutup ritsleting jaketku secepat mungkin. Hanya sebentar saja terkena udara dingin gigiku sudah bergemeletuk tanpa terkendali.
Wajah Peeta tampak kelabu dalam cahaya bulan yang pucat. Aku menyuruhnya berbaring sebelum aku memeriksa lukanya. Darah yang licin dan hangat mengalir dijemariku.  Aku  pernah  beberapa  kali  melihat  ibuku  mengikat  turniket  dan  kini  aku
berusaha meniru ikatannya. Aku memotong bagian lengan kausku, membungkusnya dua kali dikakinya tepat dibawah lutut dan kubuat simpul setengah. Aku tak punya kayu, jadi kupakai  anak  panahku  yang  tersisa  dan  kuselipkan  di  dalam  simpul,  lalu  kuputar ikatannya sejauh yang bisa kulakukan dengan aman. Tindakanku amat beresiko—Peeta bisa saja kehilangan kakinya—tapi ketika aku menimbang kemungkinan Peeta kehilangan kaki dengan kemungkinan kehilangan nyawa, pilihan apalagi yang kumiliki? Kuperban lukanya dengan sisa kausku lalu aku berbaring disisinya.
"Jangan tidur," kataku padanya. Aku tidak yakin apakah ini protokol medis yang tepat, tapi aku takut jika dia tertidur dia takkan bangun lagi.
"Kau kedinginan?" tanya Peeta. Dia membuka ritsleting jaketnya dan aku melekatkan tubuhku padanya, Peeta memelukku erat. Rasanya sedikit lebih hangat, bisa berbagi panas tubuh di dalam dua lapis jaketku, tapi malam belum larut. Suhu udara masih akan terus
turun. Bahkan sekarang aku bisa merasakan Cornucopia, yang panas membakar ketika
aku mendakinya pertama kali, perlahan-lahan jadi sedingin es.
"Cato masih bisa memenangkan pertarungan ini," aku berbisik pada Peeta.
"Jangan berpikir seperti itu," sahut Peeta, menarik tutup kepalaku, tapi dia gemetar lebih hebat dari aku.
Jam-jam selanjutnya adalah masa terburuk dalam hidupku, dan apa yang kumaksud buruk ini pasti sudah jelas jika memikirkan apa yang telah kulewati sepanjang hidupku. Dinginnya sudah cukup menyiksa, tapi mimpi buruk yang sesungguhnya adalah mendengarkan Cato mengerang, memohon dan akhirnya merengek ketika kawanan mutt
menjauh darinya. Tidak lama kemudian, aku tidak peduli lagi siapa dia atau apa yang telah
dia lakukan, aku hanya ingin penderitaannya segera berakhir.
"Kenapa mereka tak langsung membunuhnya?" aku bertanya pada Peeta. "Kau tau kenapa," katanya, lalu dia menarikku makin dekat padanya.
Dan aku  paham  kenapa.  Tak  ada  seorang  penonton pun yang  bisa meninggalkan tayangan ini sekarang. Dari sudut pandang juri pertarungan, ini adalah kata penghabisan dalam dunia hiburan.
Suara Cato terus-menerus terdengar hingga akhirnya menguasai pikiranku, menghalangi  berbagai  kenangan  dan  harapan  akan  hari  esok,  menghapus  segalanya
kecuali yang terjadi saat ini, yang mulai kuyakini takkan pernah berubah. Takkan ada apapun kecuali rasa dingin dan takut serta suara-suara memilukan dari anak lelaki yang menjelang kematiannya ditrompet Cornucopia.
Peeta mulai tertidur sekarang, dan setiapkali dia tertidur, aku meneriakkan namanya makin lama makin keras karena jika dia tidur lalu mati, aku yakin aku pasti bakalan gila.
Peeta melawannya, mungkin lebih untukku daripada untuk dirinya sendiri, dan aku tau itu pasti sulit karena ketidaksadaran pasti merupakan salah satu bentuk pelarian. Tapi adrenalin dalam tubuhku tak mengizinkanku mengikutinya, jadi aku tak bisa membiarkan
Peeta tertidur. Aku tidak bisa membiarkannya.
Satu-satunya petunjuk berlalunya waktu tampak di langit, dengan perubahan bulan yang nyaris tak kentara. Jadi Peeta mulai menunjukkannya padaku lagi, berkeras agar aku menyadari pergerakannya dan kadang-kadang, selama sesaat aku merasakan sepercik harapan sebelum penderitaan malam itu melahapku bulat-bulat sekali lagi.
Akhirnya, aku mendengar Peeta berbisik bahwa matahari sudah terbit. Kubuka mataku dan kulihat bintang-bintang tampak memudar dalam cahaya dini hari yang pucat. Aku juga bisa melihat betapa piasnya wajah Peeta. Waktu yang tersisa untuknya juga tak banyak lagi. Dan aku tau aku harus segera membawanya kembali ke Capitol.
Namun, tetap tak terdengar dentuman meriam. Kutempelkan telingaku yang masih bisa mendengar pada trompet dan samar-samar kudengar suara Cato.
"Rasanya dia lebih dekat sekarang. Katniss, kau bisa memanahnya?" tanya Peeta.
Jika dia berada dimulut trompet, aku mungkin bisa menghabisinya. Pada titik ini, membunuhnya adalah tindakan yang kulakukan karena belas kasihan.
"Panah terakhir ada di turniketmu," kataku.
"Ambil saja," kata Peeta, membuka ritsleting jaketnya dan melepaskanku dari pelukannya.
Kemudian kulepaskan anak panah di kakinya, kuikat turniket itu lagi seerat yang bisa kulakukan dengan kedua tanganku yang beku. Kugosok-gosokan kedua tanganku. Ketika
aku merangkak ke mulut trompet dan berpegangan diujungnya, aku merasakan tangan
Peeta memegangiku.
Perlu beberapa saat untuk melihat Cato dalam cahaya temaram ini, dalam genangan darah. Onggokan daging mentah yang dulunya adalah musuhku mengeluarkan suara, aku tau di mana letak mulutnya. Dan menurutku kata yang hendak diucapkannya adalah kumohon.
Rasa kasihan, bukan balas dendam, yang membuat anak panahku melayang ke tengkoraknya. Peeta menarikku ke atas, busur di tangan, tak ada anak panah tersisa.
"Kau berhasil menembaknya?" bisik Peeta. Meriam berdentam sebagai jawabannya.
"Kalau begitu kita menang, Katniss," kata Peeta tanpa semangat.
"Hore untuk kita," kataku, tapi dalam suaraku tak tersirat kegembiraan karena menang.
Ada lubang terbuka ditanah lapang dan seakan ada aba-aba mutt yang tersisa melompat ke dalamnya,menghilang ke dalam tanah yang kemudian menutup.
Kami   menunggu   pesawat   ringan   mengambil   mayat   Cato.   Menunggu   trompet
kemenangan yang seharusnya akan mengikuti, tapi tak ada yang terjadi.
"Hei!" aku berteriak ke udara. "Apa yang terjadi?" hanya terdengar celoteh burung- burung.
"Mungkin karena mayatnya. Mungkin kita harus menjauh darinya," kata Peeta.
Aku berusaha mengingatnya. Apakah kami harus menjauhkan diri dari peserta yang tewas pada pembunuhan terakhir? Otakku terlalu keruh untuk bisa yakin, tapi apalagi yang bisa menjadi alasan penundaan ini?
"Oke, apakah kau bisa berjalan sampai danau?" tanyaku.
"Rasanya bisa kucoba," kata Peeta. Kami meluncur turun menuju ekor trompet dan terjatuh ke tanah. Kalau sendi-sendiku saja sekaku ini, bagaimana Peeta bisa bergerak? Aku bangkit lebih dulu, mengoyang-goyangkan dan menekuk-nekukan kedua lengan dan kakiku sampai kupikir bisa membantunya berdiri. Entah bagaimana kami berhasil sampai ke danau. Kedua tanganku meraup air dingin untuk Peeta dan satu lagi untukku.
Seekor   mockingjay   bersiul   panjang   dan   rendah   membuat   air   mata   kelegaan memenuhi mataku ketika pesawat ringan mengambil mayat Cato. Sekarang mereka akan membawa kami. Sekarang kami bisa pulang.
Tapi sekali lagi tak ada kelanjutannya.
"Apalagi yang mereka tunggu?" tanya Peeta dengan suara lemah. Ikatan turniket yang mengendur dan usaha yang dihabiskannya untuk berjalan ke danau ini membuat lukanya terbuka lagi.
"Aku tidak tau," jawabku. Apapun yang menyebabkan penundaan ini, aku tidak sanggup melihat Peeta kehilangan lebih banyak darah lagi. Aku berdiri untuk mencari kayu tapi aku melihat anak panahku yang terpantul dari baju pelindung Cato. Anak panah ini akan bisa dipakai seperti sebelumnya. Aku membungkuk untuk mengambilnya, ketika suara Claudius Templesmith membahana di arena.
"Salam  untuk  para  peserta  terakhir  dari  Hunger  Games  ke  tujuh  puluh  empat.
Perubahan peraturan sebelumnya telah dicabut. Setelah membaca buku peraturan dengan lebih seksama, dinyatakan bahwa hanya satu pemenang yang diizinkan dalam acara ini," katanya. "Semoga beruntung dan semoga keberuntungan ada di pihakmu."
Terdengar  ledakan  statis  kecil  lalu  hening.  Kutatap  Peeta  tak  percaya  ketika kenyataan itu  meresap  dalam  benakku.  Mereka  tak pernah  berniat  membiarkan kami berdua hidup. Ini cuma cara juri pertarungan untuk memastikan bahwa Hunger Games kali ini menjadi tayangan paling dramastis dalam sejarah. Dan tololnya, aku percaya.
"Kalau kaupikirkan lagi, sebenarnya tak terlalu mengejutkan kok," kata Peeta pelan. Kuperhatikan Peeta ketika dengan susah payah dan kesakitan berusaha berdiri. Lalu dia
bergerak menghampiriku, seakan dalam gerakan lambat, tangannya mengeluarkan pisau dari ikat pinggangnya...
Sebelum aku sempat menyadari tindakanku, busurku langsung siaga dengan anak panah yang tertuju ke jantung Peeta. Dia mengangkat alis dan kulihat pisau sudah terlepas
dari tangannya menuju danau dan tercemplung di air. Aku menjatuhkan senjataku lalu melangkah mundur, wajahku terbakar malu.
"Tidak," kata Peeta. "Lakukanlah." Peeta tertatih-tatih berjalan mendekatiku dan mendesakkan senjataku ke tanganku.
"Aku tidak bisa," kataku. "Aku tidak mau."
"Lakukanlah. Sebelum mereka mengirim mutt-mutt itu kembali atau apalah. Aku tak mau mati seperti Cato," katanya.
"Kalau  begitu,  kau  saja  yang  panah,"  kataku  marah,  mendorongkan  senjata  itu kembali padanya. "Kaupanah aku lalu kau pulang dan jalani hidupmu!" lalu ketika aku mengucapkannya, aku tau kematian disini, sekarang, akan jauh lebih mudah bagi kami berdua.
"Kau tau aku tak bisa melakukannya," kata Peeta, membuang senjata itu. "Baiklah, aku yang akan mati lebih dulu."
Dia menunduk dan merobek perban dari kakinya, melepaskan penghalang antara darahnya dan tanah.
"Tidak, kau tak boleh bunuh diri," kataku. Aku berlutut, putus asa berusaha menempelkan kembali perban ke lukanya.
"Katniss," katanya. "Ini yang kumau."
"Kau takkan meninggalkanku sendiri disini," kataku. Karena jika dia mati, aku takkan pernah benar-benar pulang. Aku akan menghabiskan sisa hidupku di arena ini, berusaha memikirkan jalan pulang.
"Dengar," kata Peeta, menarikku berdiri. "Kita sama-sama tahu mereka harus punya pemenang. Dan hanya salah satu dari kita yang akan jadi pemenangnya. Tolong jadilah pemenang. Demi aku."
Kemudian dia mengoceh tentang betapa dia mencintaiku, seperti apa hidupnya tanpaku, tapi aku sudah tak mendengarnya karena kata-kata Peeta sebelumnya terngiang dalam kepalaku.
Kita sama-sama tau mereka harus punya pemenang.
Ya, mereka harus punya pemenang. Tanpa pemenang, semua ini akan mempermalukan Juri Pertarungan.Mereka akan mengecewakan Capitol. Kemungkinan mereka akan dihukum mati, secara perlahan dan menyakitkan sementara kamera-kamera akan menyiarkannya ke seantero negeri.
Jika aku dan Peeta mati, atau mereka pikir kami...
Jemariku  meraba-raba  kantong  di  ikat  pinggangku,  lalu  melepaskannya.  Peeta melihat apa yang kulakukandan segera mencengkeram pergelangan tanganku. "Tidak, aku takkan membiarkanmu."
"Percayalah," aku berbisik. Dia menatapku lama sebelum melepaskan cengkeramannya.  Kubuka  kantong  itu  dan  kutuang  segenggam  kecil  buah  berry  itu
ditelapak tangannya. Lalu aku menuangnya ketanganku sendiri. "Pada hitungan ketiga?"
Peeta menunduk dan menciumku sekali, sangat lembut. "Pada hitungan ketiga," katanya.
Kami berdiri, berpunggungan, dua tangan kami yang kosong bergenggaman erat. "Ulurkan tanganmu. Aku ingin semua orang melihatnya," kata Peeta.
Kubuka telapak tanganku, buah-buah berry yang hitam berkilau ditimpa matahari. Kugenggam tangan Peeta sebagai pertanda, sebagai salam perpisahan, lalu kami mulai menghitung.
"Satu," mungkin aku salah. "Dua," mungkin mereka tak peduli jika kami mati. "Tiga!"
sudah terlambat untuk berubah pikiran. Kuangkat tanganku kemulut, kupandangi dunia terakhir kalinya. Berry-berry itu baru saja melewati mulutku ketika suara trompet menggelegar.
Suara Claudius yang panik menyela suara trompet. "Stop! Stop! Bapak-ibu sekalian, dengan ini kupersembahkan para pemenang Hunger Games ke 74, Katniss Everdeen dan Peeta Mellark!" "Kupersembahkan pada kalian—para peserta dari Distrik Dua Belas!"

Copyright © 2015 Baca Online dan Seputar Blog
| Distributed By Gooyaabi Templates