September 12, 2015

Motivasi dalam Perilaku Organisasi

PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Setiap orang dalam melakukan suatu tindakan pasti didorong oleh adanya faktor tertentu. Motivasi biasanya timbul karena adanya kebutuhan yang belum terpenuhi, tujuan yang ingin dicapai, atau karena adanya harapan yang diinginkan. Motivasi kerja merupakan kombinasi kekuatan psikologis yang kompleks dalam diri masing-masing orang. Setiap individu mempunyai motivasi sendiri yang mungkin berbeda-beda.
Salah satu tugas menantang seorang manajer adalah menggaransi bahwa tugas atau pekerjaan yang dilimpahkan pada anggota organisasi dikerjakan sesuai dengan yang diinginkan. Umtuk mewujudkan tugas tersebut, para manajer harus mampu mendesain suasana yang dapat memotivasi orang lain.
Setiap manajer dalam level manapun akan senantiasa dituntut untuk berbuat sesuatu yang dapat mempengaruhi orang-orang yang dipimpinnya termotivasi, sehingga para angota organisasi melakuka tugasnya melakukan tugasnya dengan perasaaan gembira, tidak tertekan, dan dalam suasana kegairahan yang tinggi. Sebaliknya semua anggoda dapat terpenuhi semua kebutuhannya. Secara umum dapat dikatakan bahwa semakin terpenuhi kebutuhan seseorang dalam organisasi, semakin termotivasilah ia.[1]
Dalam makalah ini lebih lanjut akan dibahas mengenai pengertian motivasi, bagaimana proses terjadinya motivasi, apa saja faktor-faktor yang dapat mempengaruhi motivasi, apasaja teori-teori motivasi, dan bagaimana hubungan motivasi dengan organisasi.

B.     RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan uraian latar belakang diatas maka rumusan masalah dalam makalah ini antara lain:
1.      Apa yang disebut dengan motivasi?
2.      Bagaimanakah proses terjadinya motivasi?
3.      Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi?
4.      Apa sajakah teori-teori motivasi itu?
5.      Apa hubungan motivasi dengan organisasi?
PEMBAHASAN
1.      Pengertian Motivasi
Terdapat banyak pendapat tentang pengertian motivasi, berikut adalah beberapa pengertian motivasi menurut para ahli, diantaranya:
a)      Menurut Indriyo Giitosudarmo dan Nyoman Sudita (1997) yang dimaksud dengan motivasi adalah faktor-faktor yang ada dalam diri seseorang yang menggerakkan, mengarahkan perilakunya untuk memenuhi tugas tertentu.
b)      Menurut Robbins dan Coulter (2004) motivasi adalah kesediaan untuk mengeluarkan tingkat upaya yang tinggi untuk tujuan organisasi yang dikondisikan oleh kemampuan upaya itu dalam memenuhi beberapa kebutuhan individu tertentu.[2]
c)      Menurut Robert Heller (1998:6) menyatakan bahwa motivasi adalah keinginan untuk bertindak.
d)     McShane dan Von Glinow (2010:132) mengatakan motivasi sebagai kekuatan dalam diri orang yang memengaruhi arah (direction), intensitas (intensity), dan ketekunan  (persistence) perilaku suka rela.[3]
Berdasarkan uraian diatas maka dapat dikatakan bahwa motivasi itu adalah suatu kebutuhan yang mendorong seseorang untuk berbuat “sesuatu”. Adanya kebutuhan ini menyebabkan orang bertingkah laku tertentu dalam usahanya mencapai suatu tujuan.

2.      Proses Terjadinya Motivasi
Proses timbulnya motivasi seseorang antara lain adalah:
a.       Kebutuhan yang belum terpenuhi
b.      Mencari dan memilih cara-cara untuk memuaskan kebutuhan
c.       Perilaku yang diarahkan pada tujuan
d.      Evaluasi prestasi
e.       Imbalan atau hukuman
f.       Kepuasan
g.      Menilai kembali kebutuhan yang belum terpenuhi.[4]
Newstrom (2011:111)  yang bersumber pada penelitian McClelland melihat bahwa dorongan motivasi memfokuskan pada achievement, affilation, dan power. Berikut adalah penjelasan lebih lanjutnya.
a)      Achievement Motivation
Motivasi berprestasi adalah suatu dorongan yang dimiliki banyak orang untuk mengejar dan mencapai tujuan menantang. Individu dengan dorongan ini mengharapkan mencapai sasaran dan menaiki tangga keberhasilan.
Karakteristik pekerjaan yang berorientasi pada prestasi antara lain mereka bekerja lebih keras bila mereka merasa akan mendapatkan penghargaan pribadi atas usahanya, apabila resiko kegagalannya hanya sedang dan apabila mereka menerima umpan balik atas kinerja masa lalunya.
b)      Affiliation Motivation
Motivasi untuk berafiliasi merupakan suatu dorongan untuk berhubungan dengan orang atas dasar sosial, bekerja dengan orang yang cocok dan berpengalaman dengan perasaan sebagai komunitas.Orang dengan motif aliansi akan bekerja lebih baik apabila mereka dilengkapi dengan sikap dan kerjasama yang menyenangkan.
c)      Power Motivation
Motivasi akan kekuasaan merupakan suatu dorongan untuk memengaruhi orang, melakukan pengawasan, dan mengubah situasi. Orang yang termotivasi atas dasar kekuasaan mengharapkan menciptakan dampak pada organisasi dan bersedia mengambil resiko dengan melakukannya. Apabila kekuasaan telah diperoleh, mungkin akan dipergunakan secara konstruktif dan destruktif.
Otrang yang termotivasi oleh kekuasaan menjadi manajer cerdas apabila dorongannya ditunjukan pada kekuasaan institusional daripada personal. Kekuasaan institusional adalah merupakan kebutuhan untuk mempengaruhi perilaku orang lain untuk kebaikan seluruh organisasi. Tetapi apabila dorongan bekerja ditujukan pada kekuasaan personal, maka orang tersebut cenderung kehilangan kepercayaan dan penghargaan pekerja dan rekan kerja dan menjadi pemimpin organisasi yang tidak berhasil.[5]


3.      Faktor-faktor yang Mempengaruhi Motivasi
A.    Karakteristik individu
-          Minat
-          Sikap terhadap diri sendiri, pekerjaan, dan situasi pekerjaan
-          Kebutuhan individual
-          Kemampuan atau kompetensi
-          Pengetahuan tentang pekerjaan
-          Emosi, suasana hati, perasaan keyakinan dan nilai-nilai.
B.     Faktor-faktor pekerjaan
a.       Faktor lingkungan pekerjaan
§  Gaji dan benefit yang diterima
§  Kebijakan-kebijakan perusahaan
§  Supervisi
§  Hubungan antar manusia
§  Kondisi pekerjaan seperti jam kerja, lingkungan fisik dan sebagainya.
§  Budaya organisasi
b.      Faktor dalam pekerjaan
§  Sifat pekerjaan
§  Rancangan tugas/pekerjaan
§  Pemberian pengakuan terhadap prestasi
§  Tingkat/besarnya tanggung jawab yang diberikan
§  Adanya perkembangan dan kemajuan dalam pekerjaan
§  Adanya kepuasan dari pekerjaan[6]

4.      Teori-teori Motivasi
Setiap pimpinan organisasi pasti mendambakan suatu situasi di mana seluruh anggota punya gairah kerja dan produktivitas yang tinggi. Untuk mewujudkan situasi tersebut, berbagai upaya sering telah dilakukan namun dambaan tetap tinggal dambaan, realitas yang ada jauh dari kenyataan.
Teori motivasi yang telah banyak dicetuskan para pakar pada hakekatnya mengupas tentang mengapa dan bagaimana orang terlibat dalam perilaku kerja tertentu dan telah berkembang dari waktu ke waktu.
Robbins (2001) membagi teori motivasi itu menjadi dua bagian yakni teori dini tentang motivasi, yakni teori-teori yang lahirnya lebih awal, dan teori kontemporer tentang motivasi adalah deretan teori motivasi yang lebih baru :
1.      Teori-Teori Dini tentang Motivasi
a.       Teori Hierarki Kebutuhan dari Abraham Maslow yang menghipotesiskan bahwa pada diri manusia ada lima jenjang kebutuhan, yaitu :
                                       i.          Kebutuhan fisiologis (Faali) seperti sandang, pangan, papan, seks, dan kebutuhan pokok ragawi lainnya.
                                     ii.          Kebutuhan rasa aman (Keselamatan dan Perlindungan) terhadap ancaman fisik dan emosional seperti keamanan, kemerdekaan dan perlindungan.
                                   iii.          Kebutuhan sosial seperti berkumpul dan berkawan.
                                   iv.          Kebutuhan penghargaan seperti harga diri, otonomi, prestasi, status, pengakuan dan perhatian.
                                     v.          Kebutuhan aktualisasi diri seperti pengembangan potensi secara maksimal.
Terlepas dari kritik yang dijatuhkan, teori jenjang kebutuhan Maslow memiliki implikasi praktis bagi manajer, karena mampu menawarkan suatu pola yang mudah  dipahami dalam menangani persoalan motivasi di tempat kerja.[7]
b.      Teori X dan Teori Y
Douglas Mc.Gregor mengemukakan dua pandangan yang berbeda tentang manusia, yang satu pada dasarnya negatif (teori X), sementara yang lain adalah positif (teori Y).
Menurut teori X, manajer mengandaikan karyawan/manusia itu negatif, seperti:
                                  i.     Tidak suka pekerjaan
                                ii.     Malas
                              iii.     Tak suka tanggung jawab
                              iv.     Mengedepankan keamanan di atas semua faktor lain. Maka karyawan harus dipaksa agar diprestasi.
Menurut teori Y, karyawan cenderung positif, seperti :
                                  i.     Suka pekerjaan
                                ii.     Kreatif
                              iii.     Bertanggung jawab
                              iv.     Inovatif
Menghadapi tipe karyawan seperti ini manajer tak perlu bertindak otoriter, akan lebih baik bergaya demokratis.
Suatu kesan yang bisa ditangkap dari teori X dan Y ini ialah bahwa para manajer yang menerima asumsi teori X tentang manusia dapat mempergunakan pendekatan langsung, mengendalikan dan mengawasi secara ketat bawahan. Untuk asumsi teori Y para manajer dapat menawarka sikap membantu, mendukung, dan mempermudah orang-orang dalam mengembangkan kreativitas.[8]

c.       Teori Motivasi Higiene / Teori Dua Faktor
Frederick Herzberg mengembangkan suatu teori yang disebut Teori Dua Faktor, yang terdiri atas :
                                            i.            Faktor Higiene, yaitu faktor-faktor  yang dapat menyebabkan ataupun mencegah ketidakpuasan, yang pada hakekatnya terdiri atas faktor ekstrinsik dari pekerjaan. Faktor-faktor ini antara lain gaji, jaminan pekerjaan, kondisi kerja, status, kebijakan perusahaan, kualitas supervisi, kualitas hubungan antar pribadi dengan atasan, bawahan dan sesama pekerja, serta jaminan sosial.
                                          ii.            Faktor motivator, faktor-faktor yang betul-betul membawa pada pengembangan sikap positif dan pendorong pribadi (bersifat intrinsik).
Kontribusi utama teori ini adalah dapat meningkatkan sensitivitas/kepekaan manajer terhadap fakta bahwa memperlakukan anggota secara baiksemata belumlah cukup untuk memotivasi mereka. Pimpinan arus dapat memanfaatkan kapasitas, keterampilan serta bakat dari anggota melalui desain kerja secara efektif. Pekerjaan yang ditawarkan pasti menantang dan menggairahkan.

2.      Teori Kontemporer tentang Motivasi
a.       Teori ERG oleh Clayton Aldefer
Teori ini adalah modifikasi dan pengurangan dari lima jenjang kebutuhan Maslow menjadi tiga kelompok kebutuhan inti, yaitu :
                                            i.            Existence/Eksistensi, yang oleh Maslow meliputi kebutuhan faali dan rasa aman.
                                          ii.            Relatedness/Hubungan, sama dengan kebutuhan sosial Maslow.
                                        iii.            Growth/Pertumbuhan, mencakup kebutuhan penghargaan serta aktualisasi diri dari Maslow.
Aldefer berdalih seorang individu mungkin saja pada suatu ketika akan berusaha memenuhi beberapa kebutuhannyasecara simultan atau serentak.
b.      Teori Kebutuhan David McClallend
Menurut McClallend bahwa manusia itu mempunyai  tiga kebutuhan, yaitu :
                                            i.            Kebutuhan akan prestasi atau Need for Achievement adalah keinginan untuk melakukan sesuatu dengan lebih baik, lebih efisien, dan lebih unggul.
                                          ii.            Kebutuhan akan kekuasaan atau Need for Power adalah keinginan untuk mengawasi atau mengendalikan orang lain, mempengaruhi perilaku mereka atau bertanggungjawab atas orang lain.
                                        iii.            Kebutuhan akan afiliasi atau Need for Affiliation, yaitu keinginan untuk membangun dan memelihara hubungan yang bersahabat dan hangat dengan orang lain.
Lebih jauh McClallend mengatakan bahwa orang mengembangkan ketiga macam kebutuhan tersebut dari waktu ke waktu sebagai hasil dari pengalaman hidup pribadinya masing-masing. Para manajer sebagai unsur pimpinan organisasi perlu banyak belajar untuk mengenali kekuatan dari tiap macam kebutuhan tersebut yang bersemayam dalam dirinya sendiri maupun dalam diri orang-orang yang dipimpinnya. Preferensi kerja yang ada dalam diri seseorang ditentukan oleh jenis kebutuhan yang dominan.[9]
c.       Teori Penetapan Tujuan
Edwin Locke sekitar tahun 1960an mengatakan bahwa maksud-maksud untuk bekerja ke arah suatu tujuan merupakan sumber utama dari motivasi kerja yang kemudian dikenal sebagai teori penetapan tujuan.
Teori ini menguraikan hubungan antara tujuan dengan prestasi kerja. Konsepnya adalah bahwa karyawan yang memahami tujuan organisasi dapat berpengaruh terhadap perilaku kerjanya.
Dengan menetapkan tujuan yang lebih menantang atau sulit tapi terukur hasilnya akan dapat meningkatkan prestasi. Asumsinya adalah para karyawan  berkomitmen terhadap tujuan, percaya diri atau mempunyai keefektifan diri dan prestasi dianggap penting.
Teori ini menuntun para manajer pada perspektif dimana dengan menetapkan tujuan yang lebih rinci, lebih sulit dan menantang dan bila itu bisa diterima oleh anggota organisasi, akan dapat menghantarkan organisasi-organisasinya mencapai kinerja yang lebih tinggi.[10]
d.      Teori Penguatan
Perilaku adalah fungsi dari konsekuensi yang mengarah kepada konsekuensi yang positif dan menghindari konsekuensi yang tidak menyenangkan. Ada tiga jenis konsekuensi yang dapat dipergunakan manajer untuk memodifikasi motivasi anak buah yaitu sebagai berikut :
                                            i.            Penguatan positif, memberikan penghargaan dan kenaikan imbalan atas prestasi bagus karyawan.
                                          ii.            Penguatan negatif/penghindaran, yaitu mencegah dan menghilangkan akibat yang tidak menyenangkan. Karyawan bekerja keras karena menghindari hal-hal yang bisa membuatnya tidak menyenangkan.
                                        iii.            Hukuman, untuk menghindari pengulangan perilaku yang tidak diinginkan. Misalnya terhadap karyawan yang datang terlambat diberi peringatan agar tidak mengulang lagi.
B.F.Skinner menjelaskan teori penguatan tersebut bahwa orang berkemungkinan besar berperilaku seperti yang dikehendaki apabila ia mendapat imbalan untuk berbuat hal itu. Imbalan-imbalan yang paling efektif apabila imbalan-imbalan itu segera mengikuti tanggapan yang diinginkan. Dan perilaku yang tidak diberi imbalan, atau yang kena hukuman, berkurang kemungkinannya untuk diulangi. Manfaat yang dapat diambil dari teori ini adalah para manajer dapat mempengaruhi perilaku anggota organisasi yang dipimpinnya dengan memperkuat tindakan-tindakan yang mereka anggap menguntungkan.
e.       Teori Keadilan/Kesetaraan
Teori ini dikembangkan oleh J. Stacey Adam, bahwa setiap individu akan membandingkan masukan dan keluaran pekerjaan mereka dengan masukan/keluaran orang lain, dan ia akan berespon untuk menghilangkan setiap ketidakadilan yang dirasakan.
O/IA<O/IB : Penilaiannya adalah tidak adil, karena ganjaran yang diperoleh lebih kecil.
O/IA=O/IB : Penilaiannya adalah adil.
O/IA>O/IB : Penilaiannya tidak adil karena ganjaran yang diterima lebih besar.
Dimana O/IA adalah karyawan itu sendiri dan O/IB adalah orang lain sebagai pembanding. Pembanding itu dapat berupa individu-individu, sistem-sistem yang dijadikan rujukan dalam menilai keadilan.
Teori ini mengatakan lebih jauh bahwa para karyawan dapat mengubah, baik masukan atau keluaran mereka sendiri atau orang lain, berperilaku sedemikian rupa guna mendorong orang-orang lain untuk mengubah masukan atau keluaran mereka, berperilaku sedemikian rupa guna mengubah masukan atau keluaran mereka sendiri, memilih perbandingan lain atau meninggalkan pekerjaannya. Riset telah memperkuat bahwa motivasi karyawan itu sangat dipengaruhi oleh penghargaan-penghargaan relatif atau yang absolut. Bila mereka melihat ketidak adilan terutama dalam upah, mereka akan berusaha membetulkan situasi tersebut. Bila imbalan yang diterima dirasa kurang, motivasinya akan menurun. Tetapi bila memperoleh imbalan yang lebih, terdorong untuk bekerja yang lebih giat untuk menyesuaikan dengan imbalan yang telah didapatkannya.
f.       Teori Harapan (Ekspektasi)
Teori ini dicetuskan oleh Victor Vroom yang menggambarkan bahwa kuatnya kecenderungan seseorang untuk melakukan suatu tindakan tertentu bergantung pada kekuatan yang berupa harapan. Bahwa hasil tindakannya tersebut akan diikuti oleh suatu output tertentu dan daya tarik output tersebut. Suatu pernyataan mendasar yang ingin dijawab oleh teori ini adalah apa yang menentukan kemauan seseorang untuk mencurahkan tenaga dan pikiran dalam menjalankan tugas dari organisasi.
Lebih jauh, teori ini berdalih bahwa motivasi ditentukan oleh pemahaman seorang individu terhadap hubungan antara usaha dengan kinerja, dan oleh keinginan atau dambaan terhadap hasil yang dikaitkan dengan berbagai tingkat kinerja. Boleh dikatakan teori ini melandaskan diri pada suatu logika bahwa orang akan melakukan apa yang mampu dilakukan apabila ia mau untuk melakukan.
Dalam tataran praktis teori ini mengatakan bahwa seorang karyawan termotivasi untuk menjalankan tingkat upaya yang tinggi bila ia yakin bahwa upayanya tersebut akan menghantar ke suatu penilaian kinerja yang baik. Suatu penilaian kerja yang baik akan mendorong ganjaran seperti bonus dan promosi dari organisasi.
Teori ini terfokus pada tiga hubungan, yaitu :
                                            i.            Hubungan upaya-kinerja, bahwa individu berpresepsi upaya yang dilakukan akan mendorong kinerja.
                                          ii.            Hubungan kinerja-ganjaran, berprestasi pada suatu tingkat tertentu akan mendorong tercapainya suatu output yang diinginkan.
                                        iii.            Hubungan ganjaran-tujuan pribadi, sejauh mana ganjaran memenuhi tujuan pribadi individu dan potensi daya tarik dari ganjaran itu kepadanya.
Jadi, untuk menerapkan teori ini seorang pemimpin wajib memahami tiga hal yaitu :
                                            i.             Harapan, bahwa seseorang dengan bekerja ia akan dapat mencapai berbagai tingkatan kerja.
                                          ii.             Instrumentalitas, bahwa berbagai hasil kerja akan timbul sebagai akibat dari pelaksanaan tugas.
                                        iii.             Rounded Rectangle: M = E+ I + VValensi, bahwa nilai yang diberikan seseorang pada hasil kerja tersebut.
Secara ringkas, teori ini dapat dinyatakan dalam formula   
Teori harapan membantu menjelaskan mengapa banyak sekali pekerja tidak termotivasi pada pekerjaan mekera dan melakukan sesuatu yang minimal, semata-mata untuk menyelamatkan diri. Jadi, pemimpin dituntut untuk proaktif dalam teori ini.[11]

5.      Hubungan Motivasi dengan Organisasi
Di pekerjaan, kita perlu memengaruhi bawahan untuk menyelaraskan motivasinya dengan kebutuhan organisasi.
Motivasi kerja adalah hasil dari kumpulan kekuatan internal dan eksternal yang menyebabkan pekerja memilih jalan bertindak yang sesuai dan menggunakan perilaku tertentu. Idealnya, perilaku ini akan diarahkan pada pencapaian tujuan organisasi (newstrom, 2011 : 109). Sementara itu, newstrom mengemukakan bahwa sebagai indikator motivasi adalah :
1.      Engagement. Engagement merupakan janji pekerja untuk menunjukan tingkat antusiasme, inisiatif, dan usaha untuk meneruskan.
2.      Commitment. Komitmen adalah suatu tingkatan di mana pekerja mengikat dengan organisasi dan menunjukan tindakan organizational citizenship.
3.      Satisfaction. Kepuasan merupakan refleksi pemenuhan kontrak psikologis dan memenuhi harapan di tempat kerja.
4.      Turnover. Turnover merupakan kehilangan pekerja yang dihargai.
Pendapat lain menyatakan bahwa motivasisebagai proses yang memperhitungkan intensitas, arah dan ketekunan usaha individual terhadap pencapaian tujuan. Motivasi pada umumnya berkaitan dengan setiap tujuan, sedangkan tujuan organisasional memfokuskan pada perilaku yang berkaitan dengan pekerjaan (robbins dan judge,2011:238).[12]

PENUTUP
A.    KESIMPULAN
Motivasi merupakan dorongan untuk bertindak terhadap serangkaian proses perilku manusia dengan mempertimbangkan arah intensitas dan ketekunan pada pencapaian tujuan. Sedangkan elemen yang terkandung dalam motivasi meliputi unsur membangkitkan, mengarahkan, menjaga, menunjukan intensitas, bersifat terus-terusan dan adanya tujuan.
Ada beberapa proses yang dapat menimbulkan motivasi seseorang yaitu diawali dengan adanya kebutuhan yang belum terpenuhi, adanya pencarian cara-cara untuk memuaskan kebutuhan, kemudian perilaku yang mengarah pada tujuan, evaluasi prestasi, imbalan atau hukuman, kepuasan, dan kembali lagi pada kebutuhan yang belum terpenuhi.
Secara garis besar faktor-faktor yang mempengaruhi adanya motivasi dibagi menjadi dua yaitu karakteristik individi dan faktor-fakor pekerjaan.
Secara garis besar pua teori-teori yang terdapat dalam motivasi terbagi menjadi dua yaitu teori-teori awal tentang motivasi dan toeri-teori komtemporer tentang motivasi.
Motivasi memiliki hubungan erat dengan organisasi. Hal ini dikarenakan apabila anggota organisasi memiliki motivasi yang tinggi untuk mencapai tujuan-tujuan organisasi yang telah ditetapkan maka organisasi tersebut akan lebih mudah untuk mencapai tujuan yang ingin dicapai.

B.     SARAN
Dengan adanya makalah ini penulis berharap dapat memenuhi tugas mata kuliah Pengantar Organisasi dengan baik. Penulis berharap makalah ini bisa menjadi bacaan dan inspirasi yang baik khususnya mahasiswa dan kalangan akademika. Penulis menyadari makalah ini banyak kekurangan. Untuk itu kritik dan saran penulis harapkan untuk memperbaiki makalah ini.

DAFTAR PUSTAKA
Ardana,Komang, dkk. Perilaku Keorganisasian. Edisi kedua.Yogyakarta: Graha Ilmu.2009.
Reksohadiprodjo,dkk. Organisasi Perusahaan, Edisi kedua. Yogyakarta:BPFE.1987.
Stephen P. Robbins, Timothy A.Judge. Perilaku Organisasi. Jakarta:Salembe Empat.2015.
Wibowo. Perilaku dalam Organisasi. Edisi 1 cet.1. Jakarta: Rajawali Pers. 2013.




[1] Komang Ardana, dkk, Perilaku Keorganisasian, Edisi kedua, Yogyakarta: Graha Ilmu, 2009, hlm.29
[2] Komang Ardana, dkk, Perilaku Keorganisasian, Edisi kedua, Yogyakarta: Graha Ilmu, 2009, hlm.30
[3] Wibowo, Perilaku dalam Organisasi, Edisi 1 cet.1, Jakarta: Rajawali Pers, 2013, hlm.109-110
[4] Komang Ardana, dkk, Perilaku Keorganisasian, Edisi kedua, Yogyakarta: Graha Ilmu, 2009, hlm.31
[5] Wibowo, Perilaku dalam Organisasi, Edisi 1 cet.1, Jakarta: Rajawali Pers, 2013, hlm.112-113
[6] Komang Ardana, dkk, Perilaku Keorganisasian, Edisi kedua, Yogyakarta: Graha Ilmu, 2009, hlm.32
[7] Komang Ardana, dkk, Perilaku Keorganisasian, Edisi kedua, Yogyakarta: Graha Ilmu, 2009, hlm.33
[8] Komang Ardana, dkk, Perilaku Keorganisasian, Edisi kedua, Yogyakarta: Graha Ilmu, 2009, hlm.33-34
[9] Komang Ardana, dkk, Perilaku Keorganisasian, Edisi kedua, Yogyakarta: Graha Ilmu, 2009, hlm.35
[10] Komang Ardana, dkk, Perilaku Keorganisasian, Edisi kedua, Yogyakarta: Graha Ilmu, 2009, hlm.36
[11] Komang Ardana, dkk, Perilaku Keorganisasian, Edisi kedua, Yogyakarta: Graha Ilmu, 2009, hlm.36-40
[12] Wibowo, Perilaku dalam Organisasi, Edisi 1 cet.1, Jakarta: Rajawali Pers, 2013, hlm.110

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © 2015 Baca Online dan Seputar Blog
| Distributed By Gooyaabi Templates