Featured

December 03, 2013

Epilog Eclipse

EPILOG – PILIHAN JACOB BLACK
"Jacob, menurutmu ini akan berlangsung lebih lama lagi?" tuntut Leah. Tidak sabar. Mengeluh.

Aku mengertakkan gigi gemas. Seperti halnya semua orang lain dalam kawanan, Leah tahu segala-galanya. Ia tahu kenapa aku datang ke sini – ke ujung bumi, langit, dan laut. Untuk menyendiri. Ia tahu hanya inilah yang kuinginkan. Sendirian. Namun Leah tetap saja memaksa menemaniku. Selain merasa sangat terganggu, aku sempat merasa puas. Karena aku bahkan tak perlu berpikir bagaimana mengendalikan amarahku. Mudah saja sekarang, aku tinggal melakukannya, begitu saja. Kabut merah itu tidak menggelapkan mataku. Panas tidak menggetarkan tulang belakangku. Suaraku tenang ketika aku menjawab.
“Lompat saja dari tebing, Leah," aku menuding tebing di bawah kakiku.
"Yang benar saja, Nak," Leah mengabaikanku, membaringkan tubuhnya ke tanah di sebelahku. "asal tahu
saja, ini sulit sekali bagiku."
"Bagimu?" Butuh semenit untuk percaya bahwa ia serius.
"Pastilah kau orang paling egois yang pernah hidup, Leah.”
“Sebenarnya aku tak ingin menghancurkan dunia mimpi yang kautinggali – dunia di mana matahari mengorbit
tempatmu berpijak – jadi aku tidak mau repot-repot mengatakan betapa tidak pedulinya aku pada masalahmu.
Pergi. Sana."
"Cobalah melihatnya dari sudut pandangku sebentar, oke?" sambung Leah, seolah-olah aku tak pernah
mengatakan apa-apa. Kalau ia berusaha merusak suasana hariku, ia berhasil. Tawaku pecah. Anehnya, suara itu menyakitkan.
"Berhenti mendengus dan perhatikan,” bentaknya.
"Kalau aku pura-pura mendengarkan, kau mau pergi tidak?'' tanyaku, melirik ekspresi cemberut yang selamanya
menghiasi wajahnya. Tidak tahu apakah ia masih memiliki ekspresi lain. Ingatanku melayang ke masa lalu, saat aku dulu menganggap Leah manis, bahkan mungkin cantik. Itu sudah lama sekali. Tak ada lagi yang menganggapnya begitu sekarang. Kecuali Sam. Sam tak akan pernah memaafkan dirinya sendiri. Seakan-akan, Leah jadi wanita pahit ini karena kesalahan Sam. Wajah cemberut Leah semakin menjadi-jadi, seolah-olah
ia tahu apa yang kupikirkan. Dan mungkin kecurigaanku itu benar.
"Ini membuatku muak, Jacob. Bisakah kaubayangkan bagaimana rasanya bagiku? Aku bahkan tidak menyukai
Bella Swan. Tapi kau membuatku menangisi si pencinta lintah ini, seolah-olah aku juga mencintainya. Bisa kau lihat kan, kalau itu sedikit membingungkan? Masa aku bermimpi menciumnya semalam! Bagaimana aku harus menghadapi hal itu, coba?”
"Memangnya aku peduli?"
"Aku tidak tahan lagi berada dalam pikiranmu! Lupakan dia sekarang juga! Dia akan menikah dengan makhluk itu. Makhluk itu akan berusaha mengubahnya menjadi seperti mereka! Sekarang saatnya melanjutkan hidup, nak."
"Tutup mulut" geramku.
Salah kalau aku balas menyerang. Aku tahu itu. Kugigit lidahku, tapi Leah bakal menyesal kalau tidak menyingkir
dari sini. Sekarang juga.
"Jangan-jangan dia malah akan membunuhnya,” sergah Leah, tersenyum mengejek. "Konon menurut cerita-cerita, lebih seringnya begitu. Mungkin pemakaman akan jadi akhir yang lebih baik daripada pernikahannya."
Kali ini aku harus berusaha keras. Kupejamkan mataku dan berjuang melawan rasa masam dalam mulutku.
Kulawan sekuat tenaga api yang menjalari punggungku, berjuang mempertahankan wujudku sementara tubuhku
bergetar, hendak pecah. Setelah bisa mengendalikan diri lagi, kupelototi Leah. Ia memandangi kedua tanganku saat getarannya mulai melambat.
Tersenyum.
“Apanya yang lucu?”
“Kalau kau kesal karena bingung masalah gender, Leah..,” ujarku. lambat, menekankan setiap kata.
"Bagaimana menurutmu perasaan kami-kami ini, menatap Sam melalui matamu? Emily sudah cukup kewalahan
karena harus menghadapi ngototanmu. Dia tentu tidak suka kalau kami cowok-cowok juga megap-megap merindukan pacarnya.”
Meskipun kesal terap saja aku merasa bersalah waktu kulihat Leah tersentak sedih. Ia buru-buru berdiri berhenti sebentar untuk meludahiku lalu menghambur ke arah pepohonan, bergetar seperti garputala.
Aku tertawa sengit. “Tidak kena.”
Sam pasti akan memarahiku habis-habisan gara-gara itu,tapi itu sebanding dengan kepuasan yang kuperoleh. Leah tidak akan menggangguku lagi. Dan aku akan melakukannya lagi kalau ada kesempatan. Karena katakatanya masih mengendap di sana, menggaruk-garuk di benakku, sangat menyakitkan sampai aku nyaris tidak bisa bernapas.
Aku masih bisa menerima kenyataan bahwa Bella memilih orang lain dan bukan aku. Kepedihan itu bukan
apa-apa. Aku sanggup menanggung kepedihan itu selama sisa hidupku yang tolol, terlalu panjang dan lama ini.
Tapi yang tidak bisa kuterima adalah, Bella rela melepaskan segalanya, bahwa ia akan membiarkan
jantungnya berhenti berdetak dan kulitnya membeku seperti es dan pikirannya terpuntir dan mengkristal menjadi otak predator. Menjadi monster. Menjadi orang asing. Menurutku, tak ada yang lebih buruk daripada itu, tak
ada yang lebih menyakitkan daripada itu di seluruh penjuru dunia.
Tapi, kalau Edward membunuhnya... Lagi-lagi aku harus berusaha keras melawan amarah. Mungkin, kalau bukan karena Leah, akan lebih baik jika aku membiarkan amarah ini mengubahku menjadi makhluk
yang bisa menanganinya dengan lebih baik. Makhluk yang instingnya jauh lebih kuat daripada emosi manusia. Hewan yang tidak bisa merasakan kepedihan dengan cara yang sama. Kepedihan yang berbeda, setidaknya ada variasi. Tapi Leah sedang berlari-lari sekarang dan aku tidak ingin mendengarkan pikirannya. Kumaki dia dalam hati karena merenggut jalan keluar itu dariku. Bertentangan dengan keinginanku, kedua tanganku
bergetar. Apa yang membuatnya gemetar? Amarah? kepedihan? Entah apa yang sedang kulawan saat ini.
Aku harus yakin Bella akan selamat. Tapi itu membutuhkan kepercayaan-kepercayaan yang tidak ingin kurasakan, kepercayaan bahwa penghisap darah itu memiliki kemampuan membuat Bella tetap hidup.
Bella menjadi sosok berbeda, dan aku penasaran bagaimana itu akan mempengaruhiku. Apakah akan sama
dengan bila ia meninggal dunia, melihat Bella berdiri di sana seperti batu? seperti es? Jika bau badannya membakar lubang hidungku dan memicu timbulnya naluri untuk mengoyak, merobek, bagaimana jadinya nanti?
Mungkinkah aku ingin membunuhnya? Mungkinkah aku mampu tidak membunuh salah seorang di antara mereka? Kupandangi ombak yang bergulung-gulung menuju pantai, lenyap dari pandangan di bawah air tebing, tapi aku mendengarnya mengempas pasir. Kupandangi terus sampai jauh malam, lama setelah hari gelap.
Pulang mungkin bukan ide yang baik, tapi aku lapar, dan aku tak punya rencana lain.
Sambil mengernyit aku memasukan lenganku ke penyangga konyol ini dan menyambar krukku. kalau saja
Charlie tidak melihatku hari itu dan menyebarkan kabar tentang 'kecelakaan motor' yang menimpaku, properti
konyol, benci betul aku pada benda-benda ini. Merasa lapar sepertinya lebih baik daripada pulang
begitu aku berjalan memasuki rumah dan melihat wajah ayahku. Pasti ada sesuatu. Mudah saja menebaknya –
ayahku selalu bersikap berlebihan kalau sedang ada masalah. Sok biasa-biasa saja.
Ia juga terlalu banyak bicara. Belum lagi aku sampai ke meja makan, Billy sudah mengoceh tidak karuan tentang
kegiatannya hari itu. Ia tidak pernah mengoceh seperti ini kecuali ada sesuatu yang tidak ingin ia katakan. Sebisa
mungkin kuabaikan dia, berkonsentrasi pada makanan. Semakin cepat aku menelannya...
“...dan Sue datang ke sini hari ini.”
Suara ayahku keras. Sulit diabaikan. Seperti biasa.
"Wanita luar biasa. Lebih perkasa daripada beruang grizzly, wanita satu itu. Tapi entah bagaimana dia menghadapi putrinya. Sebenarnya Sue bisa menjadi serigala yang hebat. Kalau Leah, dia lebih cocok jadi anjing hutan.” Billy terkekeh mendengar leluconnya sendiri. Ayahku menunggu responsku sebentar, tapi sepertinya
tidak melihat ekspresiku yang kosong dan bosan setengah mati. Biasanya itu membuatnya kesal. Aku berharap ayahku tutup mulut dan tidak lagi membicarakan Leah. Aku sedang berusaha untuk tidak memikirkan dia.
"Kalau Seth jauh lebih mudah. Tentu saja, kau juga lebih mudah daripada kakak-kakak perempuanmu, sampai... well, kau harus menghadapi lebih banyak masalah daripada mereka."
Aku mengembuskan napas, panjang dan dalam, lalu memandang ke luar jendela.
Billy terdiam sekali. "kita mendapat surat hari ini.” Aku bisa menebak inilah topik yang sejak tadi dihindari ayahku.
"Surat?”
"Eh... undangan pernikahan.”
Setiap otot tubuhku mengunci di tempat. Secercah perasaan panas seolah menyapu punggungku. Kupegangi
meja dengan kedua tangan untuk menenangkan diri. Billy terus saja bicara seolah tidak memperhatikan. "di
dalamnya ada surat yang ditujukan padamu. Aku tidak membacanya.”
Billy menarik sehelai amplop tebal berwarna putih gading dari tempatnya yang terjepit di antara kaki Billy dan
bagian samping kursi rodanya. Diletakkannya amplop itu di meja di antara kami.
"Mungkin kau tidak perlu membacanya. Isinya mungkin tidak terlalu penting.”
Psikologi terbalik yang konyol. Dengan kasar kurenggut amplop itu dari meja. Kertasnya tebal dan kaku. Mahal. Terlalu mewah untuk ukuran Forks. Undangan di dalamnya juga sama, kelewat mewah dan formal. Pasti bukan pilihan Bella. Tidak ada tanda selera pribadinya di lembaran-lembaran kertas menerawang dengan cetakan berwarna pastel ini. Taruhan, ia pasti tidak menyukainya sama sekali. Aku tidak membaca kata-katanya, bahkan tidak melihat tanggalnya. Aku tidak peduli. Ada selembar kertas tebal berwarna putih gading yang di lipat dua, namaku ditulis tangan dengan tinta hitam di belakangnya. Aku tidak mengenali tulisannya, tapi tampak sama mewahnya dengan semua yang lain. Selama setengah detik aku bertanya-tanya apakah si penghisap darah berniat sesumbar?
Kubuka lipatan kertas itu.


Jacob
aku melanggar aturan dengan mengirimkan ini kepadamu. Dia takut ini akan melukai hatimu dan dia tidak ingin membuatmu merasa wajib untuk datang. Tapi aku tahu seandainya aku berada dalam posisimu saat ini, aku pasti juga ingin diberi pilihan. Aku berjanji akan menjaganya dengan baik Jacob. terima kasih untuk dia untuk segalanya.
Edward

"Jake, kita hanya punya satu meja,” Billy mengingatkan. Ia memandang tangan kiriku. Jari-jariku begitu kuat mencengkeram kayu meja hingga benda itu terancam pecah berkeping-keping. Kulonggarkan jariku satu persatu, berkonsentrasi melakukannya, kemudian menggenggam telapak tanganku supaya tidak
memecahkan apa pun.
"Yeah, tidak apa-apalah,” gumam Billy

Aku bangkit dari kursi, menggerakkan tubuh untuk membuka baju. mudah-mudahan Leah sudah pulang
sekarang.


"Belum terlambat,” gumam Billy waktu menuju pintu depan yang menghalangi jalanku. Aku sudah berlari sebelum mencapai pepohonan, bajuku mencabik-cabik di belakangku seperti sederet remah-remah roti, padahal aku tak ingin menemukan jalan pulang. sekarang mudah sekali berubah wujud. Aku tak perlu berpikir lagi, tubuhku sudah tau apa yang kuinginkan dan sebelum aku memintanya, sudah memberikan apa yang
kuinginkan. Sekarang aku punya empat kaki, dan aku berlari bagaikan terbang.
Pohon yang tampak kabur bagaikan lautan luas mengambang sekelilingku. Otot-ototku mengeras dan
meregang dalam ritme yang nyaman. aku sanggup berlari seperti ini selama berhari-hari dan tidak merasa lelah.
Mungkin kali ini, aku tidak akan berhenti. Tapi aku tidak sendirian. Aku ikut prihatin, Embry berbisik di kepalaku.
Aku bisa melihat lewat matanya. Ia berada sangat jauh di utara, tapi ia berbalik dan berlari menyongsongku.
Aku mengeram dan berlari lebih cepat. Tunggu kami, Protes Quil. Ia lebih dekat, baru mulai
meninggalkan perkampungan. Jangan ikuti aku, geramku..
Aku bisa merasakan kekhawatiran mereka di kepalaku walaupun sekuat tenaga aku berusaha menenggelamkannya dalam suara angin dan hutan. Inilah yang paling ku benci, melihat diriku dari mata mereka, sekarang lebih parah karena mata mereka dipenuhi perasaan iba. Mereka melihat kebencian itu, tapi tetap berlari mengejarku.
Sebuah suara baru bergema di kepalaku. Biarkan dia pergi. Pikiran Sam lembut, namun tetap bernada perintah. Embry dan Quil memperlambat laju mereka dan mulai berjalan. Seandainya aku bisa berhenti mendengar, berhenti melihat apa yang mereka lihat. kepalaku begitu sesak dan satu-satunya cara untuk sendirian lagi adalah menjadi manusia, tapi aku tidak tahan merasakan kepedihannya.
Ubah wujud kalian lagi. Sam memerintahkan mereka, aku akan menjemputnya Embry. Mula-mula satu, kemudian kesadaran kedua memudar menjadi kebeningan. Hanya Sam yang tertinggal.
Terima kasih, aku bisa juga berpikir.
Pulanglah saat kau bisa. Kata-kata itu samar, semakin lama semakin lenyap ditelan kekosongan saat Sam pun
pergi. Dan aku sendirian. Begini jauh lebih baik. Sekarang aku bisa mendengar gemeresik pelan daun-daun kering di bawah kuku kakiku, kepak sayap burung hantu di atasku, samudra – jauh, nun jauh di barat sana – mengerang di tepi pantai. Mendengar ini, dan tidak ada lagi yang lain. Tidak merasakan apa pun selain kecepatan, selain tarikan orot, urat, dan tulang, bekerja sama dalam keharmonisan sementara kilometer
demi kilometer lenyap di belakangku. Bila keheningan di kepalaku ini terus bertahan, aku takkan pernah kembali. Aku bukan orang pertama yang memilih wujud ini daripada wujud yang lain. Mungkin, kalau aku berlari cukup jauh, aku tidak akan pernah harus mendengar lagi... Kupaksa kakiku berlari lebih cepat, meninggalkan Jacob Black jauh di belakang.

Eclipse Indonesia 27

27. KEBUTUHAN
BELUM terlalu jauh berjalan, aku sudah tak sanggup lagi mengemudi . Setelah aku tak bisa lagi melihat, kubiarkan ban trukku menemukan bahu jalan yang kasar dan menggelinding pelan hingga akhirnya berhenti. Aku merosot lemas di kursi dan membiarkan kelemahan yang kutahan di kamar Jacob tadi menindihku. Ternyata lebih parah daripada perkiraanku, semburannya membuatku terkejut. Ya, tindakanku tepat menyembunyikan ini dari Jacob. Tak seharusnya orang melihat ini.
Tapi aku tidak terlalu lama sendirian – hanya sampai Alice melihatku di sini, dan beberapa menit kemudian,
Edward pun datang. Pintu terbuka, dan ia menarikku ke dalam pelukannya. Mulanya lebih parah. Karena sebagian kecil diriku lebih kecil, tapi semakin lama semakin keras dan semakin marah, meneriaki sebagian diriku yang tersisa, yang mendambakan sepasang lengan lain. Jadi ada perasaan bersalah yang membumbui kesedihanku.
Edward tidak mengatakan apa-apa, hanya membiarkan aku menangis sampai aku menyebut-nyebut nama Charlie.
"Kau benar-benar siap untuk pulang?" tanya Edward ragu.
Aku berhasil menyampaikan, setelah mencoba beberapa kali, bahwa keadaan tidak akan membaik dalam waktu
singkat. Aku harus segera pulang menemui Charlie sebelum malam kelewat larut dan ia menelepon Billy.
Maka Edward pun mengantarku pulang, sekali ini ia bahkan tidak mengemudikan trukku mendekati batas
kecepatan internal, dengan sebelah tangannya memelukku erat-erat. Sepanjang jalan aku berusaha keras
mengendalikan emosiku. Awalnya rasanya mustahil, tapi aku pantang menyerah. Hanya beberapa detik, kataku
dalam hati. Katakan saja beberapa alasan, atau berbohonglah sedikit, dan setelah itu aku bisa menangis
lagi. Aku pasti bisa melakukannya. Aku memeras otak,mencari-cari sesuatu yang bisa dijadikan kekuatan.
Untunglah aku bisa menahan sedu sedanku, menahannya tapi tidak mengakhirinya. Air mataku terus
membanjir. Sepertinya percuma saja mencoba menghentikannya.
"Tunggu aku di atas,” gumamku sesampainya kami di depan rumah.
Edward memelukku lebih erat selama satu menit dan sejurus kemudian lenyap. Begitu masuk ke rumah, aku langsung menuju tangga.
"Bella,” Charlie berseru memanggilku dari tempatnya biasa berselonjor di sofa waktu aku melewatinya.
Aku menoleh padanya tanpa berbicara. Mata Charlie membelalak dan ia buru-buru berdiri.
"Ada apa? apakah Jacob..?" tuntutnya.
Aku menggeleng kuat-kuat, berusaha menemukan suaraku.
“Dia baik-baik saja, dia baik-baik saja,” aku menenangkan Charlie, suaraku rendah dan parau. Jacob
memang baik-baik saja secara fisik dan memang itulah yang dikhawatirkan Charlie saat ini.
"Apa yang terjadi?" Charlie menyambar bahuku, matanya masih membelalak cemas. "Kau kenapa?"
Penampilanku pasti lebih parah daripada yang kubayangkan.
"Tidak apa-apa Dad. Aku... hanya harus berbicara kepada Jacob tentang.... beberapa hal berat. Aku baik-baik
saja."
Kecemasan itu mereda, berganti dengan sikap tidak setuju. "Benarkah ini saat yang tepat?"tanya Charlie.
"Mungkin tidak dari, tapi aku tidak punya pilihan lain, ini sudah sampai pada titik aku harus memilih... terkadang
tidak ada jalan untuk berkompromi."
Charlie menggelengkan kepala lambat-lambat.
"Bagaimana dia menanggapinya?"
Aku tidak menjawab. Charlie menatap wajahku sejenak, kemudian mengangguk. Itu sudah pasti menjawab pertanyaannya.
"Mudah-mudahan kau tidak menyebabkan proses pemulihannya terganggu."
"Dia cepat pulih kok,” gumamku. Charlie mendesah.
Aku merasa pengendalian diriku mulai rapuh.
"Aku akan ke kamarku,” kataku, mengangkat bahu agar pegangan Charlie terlepas.
"Baiklah," Charlie setuju. Mungkin ia bisa melihat air mataku sudah nyaris tumpah. Tak ada yang lebih
menyakitkan Charlie ketimbang air mata. Aku pergi ke kamar, buta dan tersandung-sandung. Sesampainya di dalam, aku berusaha keras membuka kaitan gelangku, mencoba membukanya dengan jari-Jari gemetar.
"Tidak Bella,” bisik Edward, memegang tanganku. "Itu bagian dirimu."
Ia menarikku lagi ke dalam pelukannya sementara sedu sedanku kembali pecah. Hari yang sangat melelahkan ini sepertinya akan terus berjalan terus dan terus dan terus. Entah kapan bakal berakhir.
Tapi meskipun malam berlalu dengan lambat, ini bukanlah malam terburuk dalam hidupku. Kuhibur diriku
dengan kenyataan itu. Dan aku tidak sendirian. Itu sangat menghibur. Ketakutan Charlie pada ledakan emosional membuatnya enggan mengecek keadaanku, padahal suara tangisku lumayan berisik – mungkin ia juga tidak bisa tidur, sama seperti aku.
Malam ini, ingatan masa laluku jelas sekali. Aku bisa melihat setiap kesalahan yang pernah kubuat, setiap
kerusakan yang kuakibatkan, hal-hal kecil maupun besar. Setiap kepedihan yang kutimbulkan di hati Jacob, setiap luka yang kuberikan kepada Edward, bertumpuk dalam tumpukan tapi yang tak mungkin kuabaikan atau
kusangkal. Dan aku sadar selama ini aku keliru mengenai masalah magnet itu. Ternyata bukan Edward dan Jacob yang kupaksakan untuk hidup berdampingan, tapi dua bagian diriku, Bellanya Edward dan Bellanya Jacob. Mereka tidak bisa hidup berdampingan, dan seharusnya aku tak pernah mencoba melakukannya.
Aku telah mengakibatkan banyak sekali kerusakan. Di satu titik pada malam itu, aku teringat janji yang
kubuat sendiri pagi-pagi sekali tadi – bahwa aku takkan pernah membuat Edward melihatku meneteskan air mata lagi untuk Jacob Black. Pikiran itu menimbulkan histeria baru yang membuat Edward ketakutan, lebih daripada tangisanku. Tapi akhirnya histeria itu berlalu juga.
Edward tidak banyak bicara, ia hanya memelukku di tempat tidur dan membiarkan aku menghancurkan
kemejanya, menodainya dengan air mata. Butuh waktu lebih lama daripada yang kukira bagi sebagian kecil hatiku menangisi dirinya. Tapi setelah selesai, akhirnya aku cukup kelelahan untuk tidur. Keadaan
tidak sadar tak lantas membuatku terbebas dari kesedihan, hanya kelegaan tumpul sesaat, seperti obat. Membuatnya lebih tertahankan. Tapi rasa sakit itu masih ada, aku bisa merasakannya, bahkan dalam keadaan tidur, dan itu membantuku membuat beberapa penyesuaian yang perlu kulakukan.
Pagi hari membawa, walaupun bukan suasana hati yang lebih ceria, setidaknya sedikit perasaan terkendali, perasaan bisa menerima. Secara naluriah aku tahu luka baru di hatiku akan selalu terasa sakit. Itu akan menjadi bagian diriku sekarang. Waktu akan membuat keadaan jadi lebih mudah, begitulah yang selalu dikatakan orang. Tapi aku tak peduli apakah waktu akan menyembuhkan aku atau tidak,asal Jacob bisa pulih kembali. Bisa bahagia lagi. Waktu bangun aku tidak mengalami Disorientasi. Kubuka mata, akhirnya kering juga dan mataku tertumbuk pada tatapan Edward yang waswas.
"Hai,” sapaku. Suaraku serak. Aku berdehem-dehem, membersihkan tenggorokanku.
Edward tidak menyahut, ia menatapku. Menunggu tangisku meledak.
"Tidak, aku tidak apa-apa.” janjiku. "Itu tidak akan terjadi lagi."
Matanya mengejang mendengar kata-kataku.
"Maafkan aku karena kau harus melihatnya," ujarku.
“itu tidak adil bagimu."
Edward merengkuh kedua pipiku.
"Bella... apakah kau yakin? Apakah pilihanmu benar? Aku tidak pernah melihatmu sesedih itu..." Suaranya pecah
saat mengucapkan kata terakhir. Tapi aku sudah pernah mengalami yang lebih sedih dari pada ini.
Kusentuh bibirnya. "Ya."
"Entahlah..." Kening Edward berkerut. "Kalau itu sangat menyakitkan bagimu, bagaimana mungkin itu pilihan yang benar?"
"Edward, aku tahu tanpa siapa aku tidak bisa hidup."
''Tapi..."
Aku menggeleng. "Kau tidak mengerti. Kau mungkin cukup tabah atau cukup kuat untuk hidup tanpa aku, kalau
memang itu yang terbaik. Tapi aku takkan pernah sanggup mengorbankan diriku seperti itu. Aku harus bersamamu. Hanya dengan begitu aku bisa hidup."
Edward masih tampak ragu. Seharusnya aku tidak membiarkan ia menemaniku semalam. Tapi semalam aku
sangat membutuhkan dia...

"Bisa tolong ambilkan buku itu?" pintaku, menuding ke balik bahunya.
Alis Edward bertaut bingung, tapi dengan cepat diberikannya buku itu padaku.
"Ini lagi?" tanyanya.
"Aku hanya ingin menemukan satu bagian yang kuingat... untuk melihat bagaimana dia mengatakannya..."
Kubolak-balik halaman buku itu, dengan mudah menemukan halaman yang kuinginkan. Sudut halamannya
sudah kumal, saking seringnya aku berhenti di sana. "Cathy memang monster, tapi dalam beberapa hal ia benar,” ujarku. Ku bacakan kalimat-kalimat itu dengan suara pelan, kebanyakan untuk diriku sendiri. "Jikalau yang lain-lain lenyap. tapi dia tetap ada. aku akan tetap ada. Namun jikalau yang lain-lain bertahan, tapi dia lenyap, jagat raya akan berubah menjadi tempat yang sangat asing." Aku mengangguk, lagi-lagi ditujukan kepada diriku sendiri. "Aku tahu persis maksudnya. Dan aku tahu tanpa siapa aku tidak bisa hidup."
Edward mengambil buku itu dari tanganku dan melemparnya ke ujung ruangan... benda itu mendarat di
meja dengan suara berdebam pelan. Dipeluknya pinggangku. Senyum kecil menghiasi wajahnya yang sempurna, walaupun kekhawatiran masih menggurat di keningnya.
“Heathcliff juga memiliki momen-momen terbaiknya,” kata Edward. Ia tidak membutuhkan buku itu untuk menirukan kalimatnya dengan sempurna. Ia mempererat pelukannya dan berbisik di telingaku, "Aku tak sanggup hidup tanpa hidupku! Aku tak sanggup hidup tanpa jiwaku."
"Benar," ucapku pelan. "Begitulah maksudku."
"Bella, aku tidak tahan melihatmu merana. Mungkin..."
"Tidak, Edward. Aku sudah banyak membuat kekacauan, dan aku harus menanggung semua risikonya.
Tapi aku tahu apa yang kuinginkan dan apa yang kubutuhkan... dan apa yang kulakukan sekarang."
"Apa yang akan kita lakukan sekarang?"
Aku tersenyum mendengar Edward mengoreksi perkataanku tadi, kemudian mendesah, "kita akan pergi
menemui Alice."
Alice duduk di undakan teras paling bawah, terlalu bersemangat untuk menunggu kami di dalam. Ia seperti
hendak melakukan tarian penyambutan, begitu girangnya karena kabar yang ia tahu bakal kusampaikan.
"Terima kasih, Bella!"' Alice berseru begitu Edward dan aku keluar dari truk.
"Tunggu dulu, Alice,” aku mengingatkan, mengangkat tangan untuk menghentikan tawa riangnya. "Aku punya
beberapa batasan."
"Aku tahu, aku tahu, aku tahu. Aku hanya punya waktu sampai tanggal 13 Agustus, kau mendapat hak veto untuk menentukan daftar tamu, dan kalau aku berlebihan melakukan apa saja, kau takkan sudi bicara lagi denganku."
"Oke, oke. well, yeah. Kau sudah tahu aturan-aturannya, kalau begitu."
“Jangan khawatir, Bella, ini pasti akan sempurna. Mau melihat gaunmu tidak!"
Aku sampai harus menarik napas dalam-dalam beberapa kali. Apa saja asal dia bahagia, batinku.
"Tentu." Alice tersenyum menang.
"Ehm, Alice.” ujarku, berusaha tetap memperdengarkan nada tenang dan biasa-biasa saja. "Kapan kau membelikan aku gaun?"
Mungkin gaunnya tidak terlalu heboh. Edward meremas tanganku.
Alice berjalan mendahului menuju tangga. "Hal-hal seperti ini akan butuh waktu, Bella.” Alice menjelaskan.
Nadanya seperti... mengelak. "Maksudku, aku kan tidak yakin keadaan akan jadi seperti ini, tapi ada kemungkinan nyata..."
"Kapan?" tanyaku lagi.
"Di Perrine Bruyere kan ada daftar tunggunya, kau tahu,” sergahnya, sikapnya sekarang defensif. "Gaun
Masterpiece tidak bisa diciptakan hanya semalam. Kalau aku tidak berpikir jauh sebelumnya, bisa-bisa kau memakai gaun pengantin siap pakai!"
Kelihatannya aku tidak akan mendapat jawaban langsung "Per..siapa?"
"Dia bukan perancang besar Bella, jadi kau tidak perlu senewen. Tapi dia sudah berjanji bisa memenuhi
kebutuhanku."
"Aku tidak senewen."
"Tidak, memang tidak." Ia mengawasi wajahku yang tenang dengan sikap curiga. Kemudian saat kami memasuki
kamarnya, ia berpaling kepada Edward.
"Kau... keluar."
"Kenapa?"sergahku
"Bella,” Alice mengerang. "Kau kan tahu aturannya. Dia tidak boleh melihat gaun pengantinmu sampai hari H."
Lagi-lagi aku menghela napas dalam-dalam. "Itu tidak masalah bagiku. Lagi pula dia sudah melihatnya di
kepalamu. Tapi kalau memang itu yang kau inginkan..."
Alice mendorong Edward keluar. Edward bahkan tidak memandang Alice sedikit pun.. matanya tertuju padaku,
cemas, takut meninggalkan aku sendirian. Aku mengangguk, berharap ekspresiku cukup tenang untuk meyakinkannya.
Alice menutup pintu tepat di depan wajah Edward.
"Baiklah!" seru Alice. "Ayo."
Disambarnya tanganku dan ditariknya aku ke ruang penyimpanan pakaiannya yang ukurannya lebih besar
daripada kamar tidurku lalu diseretnya aku ke pojok bagian belakang. Di sana sebuah kantong putih panjang
digantungkan sendiri di rak. Alice membuka ristleting kantong itu dengan sekali tarikan dan dengan hati-hati mengeluarkannya dari gantungan. Ia mundur selangkah, mengacungkan gaun itu seperti pembawa acara kuis.
"Bagaimana?" tanyanya menahan napas.
Aku mengamati gaun itu lama sekali. Sedikit mempermainkan Alice. Ekspresinya berubah waswas.
"Ah,” ujarku, dan aku tersenyum, membiarkannya rileks. "Begitu."
"Bagaimana menurut pendapatmu?" desaknya.
Benar-benar mirip bayanganku tentang gaun dalam kisah Anne of Green Gables.
"Sempurna, tentu saja. Sungguh tepat. Kau memang  genius."
Alice nyengir. "Aku tahu.'"
"Seribu sembilan ratus delapan belas?" tebakku.
"Kurang-lebih.” jawab Alice, mengangguk. "Sebagian rancanganku sendiri, cadarnya.” Disentuhnya satin putih
itu sambil berbicara. "Rendanya vintage lho. Kau suka?"

"Cantik sekali. Sangat tepat untuk Edward.”
“Tapi tepat tidak untukmu?" desak Alice.
"Ya, kurasa ya, Alice. Menurutku, ini tepat sesuai kebutuhanku. Aku tahu kau pasti bisa melakukannya
dengan sangat baik... asal kau bisa menahan diri."
Alice berseri-seri.
"Bolehkah aku melihat gaunmu? tanyaku. Alice mengerjapkan mata, wajahnya kosong.
"Masa kau tidak memesan gaun untukmu juga? aku kan tidak mau pendampingku mengenakan gaun siap pakai," aku pura-pura meringis ngeri.
Alice memeluk pinggangku. "Terima kasih, Bella!"
"Bagaimana mungkin kau tidak bisa memprediksikan hal itu?" godaku, mengecup rambutnya yang jabrik.
"Paranormal apa!"
Alice, mundur sambil menari-nari, wajahnya berseri-seri oleh antusiasme baru. "Banyak sekali yang harus ku
kerjakan! Sana, mainlah dengan Edward. Aku harus bekerja."
Ia menghambur ke luar ruangan, berteriak. “Esme!" lalu langsung lenyap.
Aku mengikutinya keluar tanpa terburu-buru. Edward sudah menunggu di lorong, bersandar di dinding berlapis
panel kayu.

"Kau amat sangat baik,” katanya. "Sepertinya dia bahagia,” aku sependapat.
Edward menyentuh wajahku, matanya terlalu gelap, sudah lama sekali sejak ia meninggalkan aku, mengamati
ekspresiku dengan seksama.

"Ayo kita pergi dari sini,” usulnya tiba-tiba. "Kita pergi ke padang rumput kita."
Kedengarannya sangat menarik. "Kurasa aku tidak perlu bersembunyi lagi, ya?"
"Tidak, bahaya sudah lewat."
Edward terdiam, merenung, saat ia berlari. Angin berhembus kencang di wajahku, cuaca sekarang lebih
hangat karena badai sudah benar-benar berlalu. Awan-awan menutupi langit seperti biasa.
Hari ini padang rumput menjadi tempat yang tenang dan membahagiakan. Perak-perak bunga aster musim panas menyelingi rerumputan dengan semburat warna putih dan kuning. Aku berbaring telentang, tak memedulikan tanah yang agak basah, dan memandangi bentuk-bentuk di awan, namun awan terlalu datar, kelewat mulus. Tidak ada gambar, yang ada hanya selimut kelabu lembur. Edward berbaring di sebelahku dan menggenggam tanganku.
"Tiga belas Agustus!" tanya Edward dengan nada sambil lalu setelah beberapa menit berdiam diri, menikmati
kedamaian.
"Itu tepat satu bulan sebelum ulang tahunku. Aku tidak mau umur kita terpaut terlalu jauh."
Edward mendesah. "Esme tiga tahun lebih tua daripada Carlisle secara teknis. Kau tahu itu"
Aku menggeleng.
"Tak ada bedanya bagi mereka."
Suaraku tenang, berlawanan dengan kegelisahannya.
"Berapa umurku tidaklah terlalu penting. Edward, aku sudah siap. Aku sudah memilih hidupku – sekarang aku
ingin mulai menjalaninya."
Edward mengelus-elus rambutku. "Hak veto menentukan daftar tamu?"
'Sebenarnya aku tidak terlalu peduli, tapi aku.." Aku ragu-ragu, tidak ingin menjelaskan masalah yang satu ini.
Tapi lebih baik menuntaskannya saja sekalian. "Aku tak yakin apakah Alice akan merasa perlu mengundang...
beberapa werewolf. Aku tidak tahu apakah Jake akan merasa apakah... apakah sebaiknya dia datang. Apakah itu hal yang benar yang harus dilakukan, atau apakah aku akan merasa terluka jika dia tidak datang. Seharusnya Jacob tidak perlu mengalami hal itu."
Sesaat Edward terdiam. Aku memandangi pucuk-pucuk pohon, nyaris hitam dengan latar belakan langit yang abuabu muda. Tiba-tiba Edward meraih pinggangku dan menarikku ke dadanya. "Katakan padaku, kenapa kau melakukan hal ini Bella. Kenapa justru sekarang kau memutuskan memberi keleluasaan kepada Alice?"
Aku mengulangi pembicaraanku dengan Charlie semalam, sebelum pergi menemui Jacob.
"Tidak adil kalau aku tidak melibatkan Charlie dalam hal ini,” aku menyimpulkan. "Dan itu juga berarti Renee dan
Phil. Jadi sekalian saja membuat Alice senang. Mungkin akan lebih mudah bagi Charlie jika dia bisa mengucapkan selamat berpisah secara benar. Walaupun dia menganggap ini terlalu dini, aku tidak mau merenggut kesempatannya berjalan mendampingiku menuju altar." Aku meringis saat mengucapkan kata-kata itu, lalu kembali menghela napas dalam-dalam. "Paling tidak ayah, ibu, dan teman-temanku akan mengetahui bagian terbaik pilihanku, bagian terbesar yang bisa kukatakan kepada mereka. Mereka akan tahu aku memilihmu, dan mereka akan tahu bahwa kita bersama- sama. Mereka akan tahu aku bahagia, di mana pun aku
berada. Menurutku, itu hal terbaik yang bisa kulakukan untuk mereka."
Edward memegangi wajahku, mengamatinya sebentar.
"Kesepakatan batal,” tukasnya tiba-tiba.
"Apa?" aku terkesiap. "kau mau mundur sekarang? Tidak!”
"aku bukan mau mundur, Bella. Aku akan tetap menepati kesepakatan yang menjadi bagianku, tapi kau
bebas, apa pun yang kau inginkan, tanpa ikatan."
"Kenapa?"
"Bella, aku melihat apa yang kaulakukan. Kau berusaha membuat semua orang lain bahagia, padahal aku tidak
peduli perasan orang lain. Aku hanya ingin kau bahagia. Jangan bingung memikirkan bagaimana menyampaikan
kabar ini kepada Alice. Biar aku yang melakukannya. Aku berjanji dia tidak akan membuatmu merasa bersalah."
"Tapi aku...”
"Tidak. kita akan melakukannya dengan caramu. Karena caraku ternyata tidak berhasil. Aku menyebutmu keras
kepala, tapi lihat apa yang telah kulakukan. Aku begitu ngotot mempertahankan apa yang kuanggap terbaik
untukmu, meskipun itu hanya menyakiti hatimu. Sangat menyakitimu, berulang kali. Aku tidak percaya lagi pada
diriku sendiri. Kau boleh memiliki kebahagiaan sesuai caramu. Caraku selalu saja salah.
"Jadi..." Edward bergerak ke bawah tubuhku, menegakkan bahunya. "kita akan melakukannya sesuai
caramu, Bella. Malam ini. Hari ini. Semakin cepat semakin baik. Aku akan bicara dengan Carlise. Kupikir mungkin kalau kami memberimu morfin cukup banyak kau tidak akan merasa terlalu kesakitan. Patut dicoba," Edward menggertakkan giginya.
"Edward, tidak. "
Edward menempelkan jarinya di bibirku. “Jangan khawatir, Bella sayang. Aku tidak melupakan tuntutanmu
yang lain."
Tangan Edward menyusup ke dalam rambutku, bibirnya bergerak lembut, tapi sangat serius – di bibirku, sebelum aku menyadari apa yang dikatakannya. Apa yang dilakukannya. Tak banyak waktu untuk bertindak. Kalau terlalu lama menunggu aku tidak akan mampu mengingat kenapa aku harus menghentikan Edward. Sekarang saja aku sudah tidak bisa bernapas dengan benar. Tanganku mencengkeram lengannya, menempelkan tubuhku lebih erat lagi ke tubuhnya, bibirku menempel di bibirnya dan menyahuti setiap pertanyaan yang tak terucapkan olehnya. Aku berusaha menjernihkan isi kepalaku, mencari cara untuk berbicara. Edward berguling pelan, menindihku di rerumputan yang sejuk.
“Oh masa bodohlah!” sorak sisi lain diriku kegirangan. Kepalaku dipenuhi wangi napasnya. Tidak, tidak. tidak. aku berdebat dengan diriku sendiri. Aku menggeleng, dan bibir Edward beralih ke leherku, memberiku kesempatan untuk bernapas.
"Hentikan. Edward. Tunggu." Suaraku sama lemahnya dengan tekadku.
"Kenapa?” bisik Edward di cekungan leherku.
Aku berusaha keras memperdengarkan nada penuh tekad dalam suaraku. “aku tidak mau melakukan ini sekarang."
"ah, masa?" tanyanya. suaranya mengandung senyum. Bibirnya kembali beralih ke bibirku sehingga membuatku
tak bisa bernapas. Gairah menderas di pembuluh darahku, membakar kulitku yang bersentuhan dengan kulitnya.
Aku memaksa diriku untuk berkonsentrasi. Dibutuhkan usaha yang lumayan keras hanya untuk memaksa tanganku meninggalkan rambutnya. memindahkannya ke dada Edward. Tapi aku berhasil melakukannya. Kemudian aku mendorongnya berusaha menjauhkannya dariku. Aku tidak mungkin bisa melakukannya sendirian, tapi seperti kuduga, Edward meresponsku.
Ia mundur beberapa sentimeter untuk memandangiku, dan sorot matanya tidak membantu sama sekali. mata itu
hitam berapi-api. Menyala-nyala.


"Kenapa?" tanyanya lagi. suaranya rendah dan parau. "aku mencintaimu. Aku menginginkanmu. Sekarang juga."
Kupu-kupu di perutku membanjiri kerongkongan.
Edward memanfaatkan kebisuanku. "Tunggu, tunggu,” aku berusaha berbicara di sela-sela ciumannya.
“Tidak untukku,” bisik Edward tidak setuju.
"Please?" aku terkesiap.
Edward mengerang, dan menjauhkan dirinya dariku, berguling dan kembali telentang. Kami berbaring di sana beberapa saat, berusaha menenangkan napas yang memburu.
"Katakan padaku kenapa tidak sekarang, Bella,” tuntut Edward. "Sebaiknya alasannya bukan karena aku."
Segala sesuatu di duniaku adalah karena dia. Sungguh konyol bila berharap lain.
"Edward, ini sangat penting bagiku. Aku akan melakukannya dengan benar."
"Benar menurut definisi siapa?"
"Definisiku."
Edward berguling dan bertumpu pada sikunya, memandangiku, ekspresinya tidak setuju.
"Bagaimana kau akan melakukannya dengan benar?" Aku menarik napas dalam-dalam. "Dengan bertanggung
jawab. Semuanya dalam urutan yang benar. Aku tidak akan meninggalkan Charlie dan Renee tanpa resolusi terbaik yang bisa kuberikan pada mereka. Aku juga tidak akan merenggut kebahagiaan Alice, bahwa aku tetap akan menikah. Dan aku akan mengikatkan diriku padamu dalam setiap cara manusia yang mungkin dilakukan, sebelum aku memintamu membuatku menjadi abadi. Aku akan mengikuti aturan yang ada, Edward. Jiwamu jauh terlalu penting bagiku untuk dipertaruhkan. Kau tidak akan bisa menggoyahkan keputusanku ini.”
"Berani bertaruh, aku pasti bisa,” bisik Edward, matanya kembali menyala-nyala.
"Tapi kau tidak akan melakukannya,” kataku, berusaha agar suaraku tetap tenang. "Tidak karena kau tahu inilah
yang benar-benar kuinginkan.”
"Kau tidak bertarung secara adil,” tuduh Edward.
Aku nyengir, "Aku memang tidak pernah bilang begitu.” Edward membalas senyumku, sendu, "kalau kau berubah pikiran .."
"Kau akan jadi orang pertama yang tahu,” janjiku. Hujan mulai menetes menerobos awan,beberapa butir
airnya menimbulkan bunyi tes-tes pelan begitu menyentuh rumput. Aku memandang sebal ke langit.
"Kuantar kau pulang. Edward menyapu beberapa butir air dari pipiku.
"Hujan bukan masalah,” gerutuku. "itu hanya berarti sekarang saatnya pergi untuk melakukan sesuatu yang
sangat tidak menyenangkan dan bahkan mungkin sangat berbahaya.”
Mata Edward membelalak panik.
"Untung saja kau antipeluru," aku mendesah. "aku membutuhkan cincin itu. sekarang saatnya memberitahu
Charlie.”
Edward tertawa melihat ekspresiku. "sangat berbahaya,” ia sependapat/lagi-lagi ia tertawa, lalu merogoh saku
jinsnya.
"Tapi paling tidak sekarang tidak perlu lagi melakukan perjalanan sampingan.”
Sekali lagi Edward menyelipkan cincin itu ke jari manis tangan kiriku. Cincin itu akan selalu berada di sana selamalamanya.


Eclipse Indonesia 26

26. ETIKA

KONTER di kamar mandi Alice dipenuhi ribuan jenis produk berbeda, semuanya mengklaim bisa mempercantik
tampilan luar seseorang. Berhubung semua orang di rumah ini sempurna dan tak mungkin berubah, aku hanya bisa berasumsi ia membeli sebagian besar produk kecantikan ini untukku.
Dengan perasaan kelu kubaca labelnya satu per satu, terkejut saat menyadari membeli produk-produk semacam
itu hanya membuang-buang uang. Aku berhati-hati untuk tidak pernah memandang ke cermin yang panjang.
Alice menyisir rambutku dengan gerak lambat dan berirama.
"Cukup, Alice,” sergahku datar. "Aku ingin kembali ke La Push."
Sudah berapa jam lamanya aku menunggu sampai akhirnya Charlie meninggalkan rumah Billy supaya aku
bisa menengok Jacob? Setiap menit, tidak mengetahui apakah Jacob masih bernapas atau tidak, rasanya bagaikan seumur hidup. Kemudian, waktu akhirnya aku diizinkan pergi, untuk melihat sendiri Jacob masih hidup, waktu justru berlalu begitu cepat. Rasanya baru saja menarik napas Alice sudah menelepon Edward lagi, memaksa supaya aku tetap melanjutkan sandiwara menginap yang konyol ini. Seperti itu sama sekali tidak penting..
"Jacob masih belum sadar,” Alice menjawab. "Carlisle atau Edward akan menelepon kalau dia siuman.
Bagaimanapun kau perlu menemui Charlie. Dia tadi di rumah Billy, jadi ia tahu Carlisle dan Edward sudah
kembali dari berburu dan dia bakal curiga kalau kau pulang nanti."
Aku sudah menghafal dan menyamakan ceritaku. "Aku tidak peduli. Pokoknya aku ingin berada di sana kalau
Jacob siuman nanti."
"Kau perlu memikirkan Charlie sekarang. Ini hari yang sangat melelahkan, maaf aku tahu itu penggambaran yang sangat tidak tepat, tapi itu bukan berarti kau bisa meremehkan tanggung jawabmu," Nadanya serius, nyaris
mengecam. "Yang terpenting sekarang menjaga supaya Charlie tetap aman dengan ketidaktahuannya. Mainkan
peranmu dulu Bella, baru kau bisa melakukan apa yang kauinginkan. Bagian dari menjadi anggota keluarga Cullen adalah bersikap penuh tanggung jawab."
Tentu saja Alice benar. Dan kalau bukan karena alasan yang sama, alasan yang jauh lebih kuat daripada semua
ketakutan, kepedihan, dan rasa bersalahku, Carlisle tidak akan pernah bisa membujukku meninggalkan Jacob,
pingsan maupun tidak.
"Pulanglah,” Alice memerintahkan. "Bicaralah dengan Charlie. Sampaikan alibimu. Amankan dia."
Aku berdiri, dan darah mengalir menuruni kakiku, menusuk-nusuk bagaikan ribuan jarum suntik. Aku sudah
terlalu lama duduk diam tak bergerak.
"Gaun itu cocok sekali di tubuhmu,” rayu Alice.
"Hah? Oh. Eh terima kasih sekali lagi untuk baju-baju ini,” gumamku, lebih demi kesopanan ketimbang karena
benar-benar ingin berterima kasih.
"Kau butuh bukti,” kata Alice, matanya lugu dan membelalak.” Apa gunanya shopping kalau tidak membeli baju baru? Sangat mengesankan, kalau boleh kukatakan sendiri."
Aku mengerjap, tidak ingat baju apa yang dipakaikannya padaku. Aku tak mampu mencegah pikiranku melantur ke mana-mana, seperti serangga yang merubungi lampu...
"Jacob baik-baik saja Bella,” kata Alice, dengan mudah menerjemahkan pikiranku. "Tak perlu buru-buru. Kalau
kau menyadari betapa banyaknya morfin ekstra yang diberikan Carlisle padanya, karena suhu tubuhnya yang
tinggi membakar habis morfin dengan cepat, kau pasti tahu dia akan tidak sadarkan diri beberapa saat."
Setidaknya ia tidak kesakitan. Belum.
"Apakah ada yang ingin kaubicarakan sebelum pergi?" tanya Alice dengan sikap bersimpati. ”Kau pasti lebih dari
sekedar agak traumatis."
Aku tahu apa yang ingin diketahui Alice. Tapi aku punya pertanyaan-pertanyaan lain.
"Apakah aku akan menjadi seperti itu?" tanyaku, suaraku muram. "Seperti si Bree yang di padang rumput?"
Meski banyak hal lain yang perlu kupikirkan, tapi sepertinya aku tak mampu mengenyahkan gadis itu dari
ingatanku, si vampir baru yang kehidupannya barunya begitu cepat berakhir. Wajahnya, berkerut-kerut
mendambakan darahku terus terbayang di balik kelopak mataku.
Alice mengelus-elus lenganku. "Setiap orang berbeda, tapi kurang lebih memang seperti itu."
Aku diam bergeming, mencoba membayangkan.
"Masa-masa seperti itu akan berlalu.” janjinya.
"Berapa lama?"
Alice mengangkat bahu. “Beberapa tahun, mungkin kurang. Bisa jadi berbeda bagimu. Aku belum pernah
melihat bagaimana orang yang memilih jalan hidup seperti ini menjalani kehidupan barunya. Bakal menarik melihat bagaimana itu mempengaruhimu."
"Menarik.” Aku menirukan.
"Kami akan menjagamu agar kau tidak terkena masalah."
"Aku tahu itu, aku percaya padamu." Suaraku monoton, mati.
Kening Alice berkerut. "Kalau kau mengkhawatirkan Carlisle dan Edward aku yakin mereka baik-baik saja. Aku
yakin Sam sudah mulai mempercayai kami.. well, setidaknya mempercayai Carlisle. Baguslah kalau begitu.
Dugaanku suasana pasti sedikit tegang waktu Carlisle harus mematahkan kembali beberapa tulang Jacob.."
"Please, Alice."
"Maaf."
Aku menghela napas dalam-dalam untuk menenangkan diri. Tubuh Jacob sudah mulai pulih dengan cepat, tapi
beberapa tulangnya tidak tersambung dengan benar. Untuk memperbaikinya, ia sengaja dibuat pingsan, namun masih sulit rasanya membayangkan hal itu.
"Alice, bolehkah aku bertanya? Tentang masa depan?"
Alice mendadak waswas. ”Kau kan tahu aku tidak bisa melihat semuanya."
"Bukan itu, tepatnya. Tapi kadang-kadang kau bisa melihat masa depanku. Menurutmu. kenapa hal-hal lain
tidak berpengaruh padaku? Baik yang dilakukan Jane, atau Edward atau Aro.." Suaraku menghilang seiring dengan tingkat ketertarikanku. Keingintahuanku saat ini hanya sekilas. Jauh dikalahkan oleh emosi-emosi lain yang lebih mendesak.
Namun Alice Justru menganggap pertanyaanku sangat menarik. "Jasper juga Bella, bakatnya bisa mempengaruhi tubuhmu sama seperti dia mempengaruhi orang lain. Di situlah perbedaannya, kau mengerti? Kemampuan Jasper mempengaruhi tubuh secara fisik. Dia benar-benar bisa menenangkan sistemmu, atau membuatnya bergairah. Itu bukan ilusi. Dan aku melihat visi dari sesuatu yang dihasilkan, bukan alasan dan pikiran di balik keputusan yang menyebabkannya. Semua itu bekerja di luar pikiran, bukan ilusi juga; tapi realita, atau setidaknya salah satu versi realita. Sementara Jane, Edward, Aro, dan Demetri, mereka bekerja di dalam pikiran. Jane hanya menciptakan ilusi kesakitan. Dia tidak benar-benar menyakiti tubuhmu, kau hanya mengira merasakannya. Kau mengerti, Bella? Kau aman dalam pikiranmu. Tidak ada yang bisa mencapaimu di sana. Tak heran Aro sangat penasaran tentang kemampuanmu di masa depan."
Alice mengamati wajahku untuk mengetahui apakah bisa mengikuti logikanya. Sebenarnya, kata-katanya mulai
terdengar sambung-menyambung, silabel dan suaranya kehilangan arti. Aku tidak bisa berkonsentrasi. Meski begitu aku mengangguk. Berlagak mengerti . Alice tidak terkecoh. Ia mengelus-elus pipiku dan bergumam.” Dia akan baik-baik saja, Bella. Aku tidak perlu itu untuk mengetahuinya. Kau sudah siap pergi."
"Satu lagi. Bolehkah aku mengajukan pertanyaan lagi tentang masa depanku? Bukan yang spesifik, hanya
pandangan umum saja.”
"Akan kuusahakan semampuku,” jawab Alice, kembali ragu.
"Apakah kau masih bisa melihatku menjadi vampir?"
"Oh, itu sih gampang. Tentu, bisa."
Aku mengangguk lambat-lambat. Alice mengamati wajahku, matanya tak bisa diterka.
"Tidakkah kau mengetahui pikiranmu sendiri Bella?"
"Tahu. Aku hanya ingin memastikan."
"Aku hanya yakin kalau kau sendiri yakin, Bella. Kau tahu itu. Kalau kau berubah pikiran, apa yang kulihat akan
berubah... atau lenyap, dalam kasusmu."
Aku mendesah. "Tapi itu takkan terjadi."
Alice memeluk bahuku. "Maafkan aku. Aku tidak benarbenar bisa berempati. Ingatan pertamaku adalah melihat
wajah Jasper di masa depan; sejak dulu aku sudah tahu dia ada di tempat hidupku menuju. Tapi aku bisa bersimpati. Aku kasihan padamu karena kau harus memilih satu di antara dua hal yang sama baiknya."
Aku menggerakkan bahuku, melepaskan pelukannya.
"Jangan merasa kasihan padaku." Ada orang-orang yang pantas mendapatkan simpati. Aku bukan salah satunya. Dan aku tidak punya pilihan lain, harus ada hati yang disakiti dalam hal ini. "Aku akan menemui Charlie
sekarang."
Aku mengendarai trukku pulang. Charlie sudah menunggu dengan sikap curiga, tepat seperti dugaan Alice.
"Hai Bella. Bagaimana acara shopping-nya?" sapa Charlie begitu aku melangkah memasuki dapur. ia melipat
lengannya di dada, matanya menatap wajahku.
"Lama,” jawabku muram. "Kami baru sampai." Charlie menilai suasana hatiku. “Kurasa kau sudah
mendengar kabar tentang Jake, kalau begitu?"
"Sudah, anggota keluarga Cullen yang lain sudah lebih dulu sampai di rumah. Esme memberi tahu kami di mana
Carlisle dan Edward berada."
"Kau baik-baik saja?"
"Mengkhawatirkan Jake. Setelah selesai memasak makan malam, aku akan langsung berangkat ke La Push."
"Sudah kubilang, sepeda motor itu berbahaya. Kuharap kau tahu aku tidak main-main."
Aku mengangguk sambil mulai mengeluarkan bahanbahan dari kulkas. Charlie duduk di meja. Tidak seperti
biasa,hari ini sepertinya ia sedang ingin mengobrol.
"Kurasa kau tidak perlu terlalu mengkhawatirkan Jake. Siapa pun yang bisa memaki dengan energi sedahsyat itu
pasti akan pulih."
"Jadi Jake sadar waktu Dad melihatnya?" tanyaku, berbalik untuk memandangi Charlie.
"Oh, yeah, dia sadar. Coba kau dengar makiannya, tidak lebih baik kau tidak mendengarnya. Kurasa tak seorang pun di La Push yang tidak bisa mendengarnya. Entah dari mana dia mempelajari kosakata sekasar itu,tapi kuharap dia tidak menggunakan bahasa sekasar itu jika sedang bersamamu."
"Wajar saja dia bersikap begitu hari ini. Bagaimana keadaannya?"
"Berantakan. Dia dibawa teamn-temannya.Untung tubuh mereka besar-besar, karena anak itu kan bongsor
sekali. Menurut Carlisle, kaki kanannya patah, begitu pula lengan kanannya. Bisa dibilang hampir seluruh sisi kanan tubuhnya patah waktu motornya jatuh." Charlie menggeleng-gelengkan kepala. "Kalau aku sampai
mendengar kau naik motor lagi Bella?"
"Tidak bakal Dad. Dad tidak akan mendengarnya. Sungguh Jake tidak apa-apa?"
"Tentu Bella, jangan khawatir. Dia masih seperti biasa, bahkan sempat menggodaku."
"Menggoda Dad?" ulangku,syok.
"Yeah... di sela-sela memaki ibu seseorang dan menyebut nama Tuhan dengan tidak hormat, dia berkata, ‘taruhan, kau pasti senang dia mencintai Cullen dan bukan aku hari ini kan Charlie?’"
Aku berbalik ke kulkas supaya Charlie tidak melihat ekspresiku.
"Dan itu benar, Edward lebih dewasa dibandingkan Jacob soal keselamatanmu, itu harus kuakui."
"Jake lumayan dewasa kok.” gumamku dengan sikap defensif. "Aku yakin ini bukan salahnya."
"Hari ini aneh sekali,” Charlie merenung beberapa saat kemudian. “kau tahu aku sebenarnya tidak begitu percaya pada tahayul, tapi sungguh ganjil... Sepertinya Billy tahu sesuatu yang buruk akan menimpa Jake. Sepagian dia gelisah seperti kalkun akan disembelih untuk perayaan thanksgiving. Menurutku dia bahkan tidak mendengarkan omonganku sama sekali."
"Kemudian, lebih anehnya lagi, kau ingat tidak, di bulan Februari dan Maret dulu, waktu ada gangguan serigala liar di sekitar sini?"
Aku membungkuk untuk mengambil wajan dari rak, dan bersembunyi di sana satu dua detik lebih lama.
"Yeah.” gumamku.
"Mudah-mudahan saja tidak muncul lagi gangguan yang sama. Pagi tadi, saat kami sedang di perahu, dan Billy tidak begitu memperhatikanku maupun perahu yang kami naiki, tiba-tiba terdengar lolongan serigala-serigala di hutan. Lebih dari satu dan astaga nyaringnya bukan main. Kedengarannya seperti berasal dari tengah perkampungan. Yang paling aneh lagi, Billy memutar perahu dan langsung kembali ke dermaga, seolah-olah serigala-serigala itu memang memanggilnya. Dia bahkan tidak menggubris pertanyaanku yang heran melihat kelakuannya.
"Suara itu berhenti begitu kami menambatkan perahu.
Tapi tiba-tiba Billy seperti terburu-buru tidak ingin ketinggalan nonton pertandingan, padahal waktunya masih
beberapa jam lagi. Dia menggumamkan omong kosong tentang pertunjukan dimulai lebih awal, masa pertandingan live disiarkan lebih awal? Sungguh, Bella, aneh sekali."
"Well, lalu dia menemukan pertandingan yang katanya ingin dia tonton, tapi kemudian dia mengabaikannya. Dia
malahan menelepon terus, menelepon Sue, Emily, dan kakek temanmu Quil. Entah apa yang dicarinya... dia
mengobrol biasa saja dengan mereka.
"Kemudian lolongan itu terdengar lagi, tepat di luar rumah. Belum pernah aku mendengar suara seperti itu, bulu
lenganku sampai berdiri semua. Kutanya Billy – aku sampai harus berteriak untuk mengalahkan lolongan itu – apakah dia memasang perangkap di halamannya. Kedengarannya hewan itu benar-benar kesakitan."
Aku meringis, tapi Charlie begitu terhanyut ceritanya sendiri sehingga tidak memperhatikan.
"Tentu saja aku lupa sama sekali tentang hal itu dan baru ingat lagi sekarang, karena saat itulah Jake pulang, satu menit yang lalu aku mendengar serigala melolong. Tapi kemudian tiba-tiba suara itu hilang... makian Jake
mengalahkan semua suara. Kuat sekali paru-paru anak itu.”
Charlie menghentikan ceritanya sejenak,wajahnya seperti berpikir. "lucu juga bahwa ada hikmah dibalik segala
kekacauan ini. Kupikir mereka takkan pernah bisa mengenyahkan prasangka konyol mereka terhadap keluarga
Cullen di sana. Tapi seseorang menghubungi Carlisle, dan Billy sangat bersyukur dia datang. Kukira kami harus
membawa Jake ke rumah sakit, tapi Billy ingin dia tetap di rumah, dan Carlisle setuju. Kurasa Carlisle tahu yang
terbaik. Baik sekali dia, mau repot-repot datang memeriksa pasien yang tinggal sejauh itu."
"Dan..."Charlie terdiam sejenak, seperti tak rela mengatakan sesuatu. Ia menghela napas, lalu melanjutkan
kata-katanya. “dan Edward benar-benar... baik. Kelihatannya dia sama khawatirnya memikirkan Jacob
seperti kau, seolah-olah yang terbaring itu saudaranya sendiri. Sorot matanya..." Charlie menggeleng-geleng. "Dia pemuda yang baik Bella. Aku akan berusaha mengingatnya. Tidak janji, tapi." ia nyengir padaku.
"Aku takkan menagihnya,"gumamku.
Charlie meluruskan kakinya dan mengerang. "Senang rasanya berada di rumah kembali. Kau pasti tak percaya
betapa sesaknya di rumah Billy yang kecil itu. Tujuh teman Jacob berdesak-desakan di ruang depan kecil itu, aku sampai nyaris tak bisa bernapas. Kau sadar tidak betapa besarnya anak-anak Quileute itu sekarang Bella?'
"Yeah, memang."
Charlie menatapku, matanya tiba-tiba terfokus. “sungguh Bella,” kata Carlisle, “sebentar lagi Jake akan pulih dan
sehat kembali. Katanya luka-lukanya terlihat lebih parah daripada sebenarnya. Dia akan baik-baik saja."
Aku hanya mengangguk. Anehnya, Jacob tadi terlihat sangat.. rapuh waktu aku bergegas pergi ke rumahnya segera setelah Charlie pulang. Di sekujur tubuhnya terpasang penyangga, menurut Carlisle tak ada gunanya digips, karena begitu cepatnya dia pulih. Wajahnya pucat dan letih, walaupun saat itu ia sedang
tidak sadar. Rapuh. Meskipun bertubuh besar, ia tampak sangat rapuh. Mungkin hanya imajinasiku, ditambah lagi aku tahu aku harus menyakiti hatinya.
Kalau saja ada kilat yang bisa menyambarku dan membelahku menjadi dua. Lebih disukai lagi jika prosesnya
menyakitkan. Untuk pertama kalinya, berhenti menjadi manusia terasa bagaikan pengobatan sejati. Seolah-olah ada terlalu banyak hal yang tak ingin kulepaskan. Kuletakkan piring berisi makanan untuk Chaarlie ke
meja di samping sikunya, lalu berjalan ke pintu.
"Eh Bella? bisa tunggu sebentar?”
"Apakah aku melupakan sesuatu?" tanyaku, mengarahkan mataku ke piringnya.
"Tidak, tidak. Aku hanya... ingin minta tolong," Charlie mengerutkan kening dan menunduk memandangi lantai.
"Duduklah... tidak lama kok."
Aku duduk berhadap-hadapan dengan ayahku, agak bingung. Aku mencoba berkonsentrasi. "Ada apa Dad?"
"Masalahnya begini Bella,” wajah Charlie memerah.
"Mungkin aku hanya merasa... terpengaruh takhayul setelah nongkrong bersama Billy yang bersikap sangat aneh seharian. Tapi aku punya... firasat. Aku merasa sepertinya... aku akan kehilanganmu sebentar lagi."
"Jangan konyol Dad,” gumamku dengan perasaan bersalah.
"Dad ingin aku kuliah kan?"
"Pokoknya berjanjilah padaku.”
Aku ragu-ragu, siap mengelak."Oke.."
"Maukah kau memberitahuku sebelum melakukan sesuatu yang besar? Sebelum kau kawin lari dengannya atau
semacamnya?"
"Dad....” erangku.
"Aku serius. Aku tidak bakal ribut-ribut hanya saja beri tahu aku sebelumnya. Beri aku kesempatan untuk memeluk dan mengucapkan selamat berpisah denganmu."
Meringis dalam hati, aku mengangkat tanganku.
"Konyol benar. Tapi kalau itu membuat Dad senang... aku janji."
"Trims Bella.” kata Charlie."Aku sayang padamu, nak."
"Aku juga sayang padamu Dad." Kusentuh pundaknya, lalu kudorong kursi menjauhi meja. "kalau Dad butuh apaapa, aku ada di rumah Billy."
Tanpa menoleh lagi, aku berlari keluar. Sempurna, ini benar-benar yang kubutuhkan. Aku menggerutu sendiri
sepanjang perjalanan menuju La Push. Mercedes hitam Carlise tidak ada di depan rumah Billy.
Itu berarti baik dan buruk. Jelas aku perlu bicara berdua saja dengan Jacob. Meski begitu, aku berharap kalau saja aku bisa menggenggam tangan Edward, tapi sebelumnya, ketika Jacob tidak sadar. Mustahil. Tapi aku merindukan Edward, siangku bersama Alice tadi terasa sangat lama. Kurasa, dari situ saja sudah jelas jawabanku bakal seperti apa. Aku sudah tahu aku tak sanggup hidup tanpa Edward. Namun tetap saja fakta itu takkan membuat ini menjadi lebih mudah. Pelan-pelan kuketuk pintu depan.
"Masuklah Bella,” seru Billy. "raungan mesin trukmu gampang dikenali."
Aku pun masuk, “hai Billy, dia sudah bangun?"tanyaku.
"Dia bangun kira-kira setengah jam yang lalu, tepat sebelum dokter pulang. Masuklah. Kurasa dia menunggu
kedatanganmu."
Aku tersentak, kemudian menghela napas dalam-dalam.
"Trims. "
Aku ragu-ragu di depan pintu kamar Jacob, tidak yakin apakah harus mengetuk. Kuputuskan untuk mengintip
dulu, berharap – dasar pengecut – siapa tahu dia tidur lagi. Rasanya aku butuh waktu beberapa menit lagi.
Kubuka pintu secelah dan ragu-ragu kulongokkan kepalaku ke dalam. Jacob menungguku, wajahnya kalem dan tenang. Ekspresi kuyu dan letih telah hilang, digantikan ekspresi kosong dan hati-hati. Tidak ada kilauan di matanya yang gelap.
Sulit rasanya menatap wajahnya, tahu bahwa aku mencintainya. Ternyata itu membawa lebih banyak
perbedaan daripada yang kukira pada awalnya. Aku bertanya-tanya sendiri dalam hati, apakah selama ini Jacob
selalu merasa sesulit ini. Syukurlah, ada yang menyelubungi tubuh Jacob dengan selimut. Lega rasanya tak perlu melihat seberapa parah cedera yang dialaminya. Aku melangkah masuk dan menutup pintu pelan di
belakangku.
"Hai, Jake." bisikku.
Mulanya Jake tidak menyahut. Ia menatap wajahku lama sekali. Kemudian, dengan sedikit usaha, ia mengubah
ekspresinya menjadi senyum mengejek.
"Yeah. aku sedikit sudah bisa menduga bakal seperti ini."
Jacob mendesah. "Hari ini keadaan benar-benar berubah jadi lebih buruk. Mula-mula aku memilih tempat yang
salah, melewatkan pertarungan dan Setlah yang akhirnya diagung-agungkan. Sudah begitu Leah harus pula jadi idiot dengan berusaha membuktikan dirinya sama kuatnya dengan kami semua, dan aku harus menjadi idiot yang menyelamatkannya. Dan sekarang ini." Jacob melambaikan tangan kirinya ke arahku, ke tempat aku berdiri ragu-ragu di dekat pintu.
"Bagaimana perasaanmu?" gumamku. Pertanyaanku benar-benar bodoh.
“Agak teler. Dr. Taring kurang yakin seberapa besar obat penghilang sakit yang kubutuhkan, jadi dia coba-coba saja. Kurasa dia memberi terlalu banyak."
"Tapi kau tidak merasa sakit."
"Tidak. Setidaknya, aku tidak bisa merasakan cederaku," jawab Jacob, lagi-lagi tersenyum mengejek. Aku menggigit bibir. Entah bagaimana aku bisa menuntaskan masalah ini. Kenapa tidak ada yang mencoba membunuhku di saat aku kepingin mati?
Humor kecut itu lenyap dari wajah Jacob, dan sorot matanya menghangat, keningnya berkerut seperti khawatir.
"Bagaimana denganmu?" tanyanya, kedengarannya benar-benar prihatin. "kau baik-baik saja?"
"Aku?"kupandangi dia. Mungkin memang benar Jacob kebanyakan menelan obat. "kenapa?"
"Well, maksudku, aku sangat yakin dia tidak akan benarbenar menyakitimu, tapi aku tidak yakin bakal seberapa
parah reaksinya. Aku sampai agak gila karena mengkhawatirkanmu sejak terbangun tadi. Aku tidak tahu
apakah kau akan diizinkan datang atau tidak. Tegang sekali rasanya. Bagaimana reaksinya? Apakah dia mengamuk? Maafkan aku kalau keadaannya buruk. Aku tidak bermaksud membiarkanmu menghadapinya sendirian. Kupikir aku akan berada di sana.."
Baru beberapa saat kemudian aku mengerti. Jacob mengoceh terus, semakin lama tampak semakin canggung,
sampai Aku memahami apa yang dikatakannya. Lalu aku buru-buru meyakinkannya.
"Tidak, tidak, Jake! Aku baik-baik saja. Terlalu baik, malah. Tentu saja dia tidak mengamuk. Kalau saja begitu!"
Mata Jacob membelalak seperti ketakutan. "Apa?"
"Dia bahkan tidak marah padaku – dia bahkan tidak marah padamu! Dia sangat tidak egois hingga membuatku
semakin merasa tidak enak. Kalau saja dia memarahiku atau bagaimana. Bukan berarti aku tidak pantas... well, jauh lebih buruk daripada dimarahi. Tapi dia tidak peduli. Dia hanya ingin aku bahagia."
"Jadi dia tidak marah?" tanya Jacob, tak percaya.
"Tidak. Dia... terlalu baik."
Jacob menatapku beberapa saat, kemudian tiba-tiba mengerutkan keningnya. "Well, brengsek!" geramnya.
"Kenapa, Jake? Ada yang sakit?” Kedua tanganku menggapai-gapai mencari-cari obatnya.
"Tidak.” gerutu Jacob dengan nada jijik. "Sulit dipercaya! Dia sama sekali tidak memberimu ultimatum
atau apa pun?"
"Mendekati itu pun tidak... kau kenapa?" Jacob merengut dan menggeleng. "Padahal aku
menantikan reaksinya. Benar-benar brengsek. Dia lebih baik daripada yang kuduga."
Dari cara Jacob mengatakannya, meski dengan nada lebih marah, mengingatkanku pada komentar Edward di
tenda tadi pagi tentang Jacob yang kurang memiliki etika dalam bersaing. Dan itu berarti Jake masih berharap, masih berjuang. Aku meringis saat kenyataan itu menohok hatiku dalam-dalam.
"Dia tidak main-main, Jake," ucapku pelan.
"Berani bertaruh, kau keliru. Ia memainkan permainan ini sama kerasnya denganku, tapi dia tahu apa yang dia
lakukan, sedangkan aku tidak. Jangan salahkan aku karena dia lebih pintar memanipulasi orang ketimbang aku... aku belum hidup terlalu lama untuk mempelajari semua triknya."
"Edward tidak memanipulasi aku!"
"Siapa bilang! Kapan kau akan bangun dan menyadari dia tidak sesempurna yang kau kira!"
"Paling tidak dia mengancam akan bunuh diri untuk membuatku menciumnya.” bentakku. Begitu kata-kata itu
terlontar, wajahku merah padam karena menyesal. "Tunggu. Anggap saja kata-kata itu tidak pernah terlontar. Aku sudah bersumpah pada diriku sendiri untuk tidak pernah mengungkit hal itu."
Jacob menghela napas dalam-dalam. Ketika berbicara, ia sudah lebih tenang. "Kenapa tidak?"
"Karena kedatanganku ke sini bukan untuk menyalahkanmu atas apa pun juga."
"Tapi itu benar,” tukas Jacob datar. "Memang itu yang kulakukan."
"Aku tak peduli Jake. Aku tidak marah."
Jacob tersenyum. "Aku juga tidak peduli. Aku tahu kau pasti akan memaafkanku, dan aku senang telah
melakukannya. Aku mau melakukannya lagi. Setidaknya aku memiliki hal itu. Setidaknya aku membuatmu
menyadari bahwa kau memang mencintaiku. Itu memiliki arti tersendiri."
"Benarkah? Apakah itu benar-benar lebih baik daripada kalau aku tidak tahu?"
“Tidakkah menurutmu sebaiknya kau tahu bagaimana perasaanmu... supaya kau tidak terkejut lagi kelak, ketika
semuanya sudah terlambat dan kau sudah menikah dengan vampir?"
Aku menggeleng, "Tidak... maksudku bukan lebih baik untukku. Maksudku lebih baik untukmu. Apakah keadaan
baik atau lebih buruk, membuatku tahu bahwa aku mencintaimu? Padahal itu tidak membuat perbedaan apa
pun. Bukankah akan lebih baik, lebih mudah bagimu, kalau aku tak pernah tahu?"
Jacob memikirkan pertanyaanku dengan serius, seperti yang kumaksudkan, berpikir dengan hati-hati sebelum
menjawab.
"Ya, lebih baik kalau kau tahu,” Jacob akhirnya memutuskan.
"Kalau kau tak pernah tahu... aku akan selalu bertanyatanya apakah keputusanmu akan berbeda seandainya kau tahu. Sekarang aku tahu. Aku sudah melakukan semua yang bisa kulakukan." Jacob menarik napas panjang dan goyah, lalu memejamkan mata.
Kali ini aku tidak – tidak bisa – menolak dorongan untuk menghiburnya. Aku melintasi kamar yang kecil itu,
lalu berlutut di dekat kepalanya, tidak berani duduk di tempat tidur karena takut akan mengguncangnya dan
membuat Jacob kesakitan, dan mencondongkan tubuh untuk menempelkan keningku di pipinya. Jacob mendesah, dan meletakkan tangannya di rambutku, memelukku di sana.
"Maafkan aku, Jake."
"Sudah kukira kemungkinannya kecil. Ini bukan salahmu, Bella."
"Jangan kau juga,” erangku. "Please."
Jacob meregangkan pelukannya untuk menatapku.
"Apa?"
"Ini memang salahku. Dan aku sudah muak mendengar orang mengatakan sebaliknya." Jacob nyengir. Cengiran itu tidak menyentuh matanya.
"jadi kau mau aku menyeretmu ke atas arang panas?"
"sebenarnya... kurasa begitu."
Jacob mengerucutkan bibir sementara ia menilai apakah aku sungguh-sungguh dengan ucapanku. Senyum
berkelebat sekilas di wajahnya, kemudian ia mengerutkan wajah, memberengut garang.
"Membalas ciumanku seperti itu tak bisa dimaafkan!" sembur Jacob. "Kalau kau sudah tahu akan menariknya
kembali, mungkin seharusnya kau tidak perlu bersikap kelewat meyakinkan."
Aku meringis dan mengangguk. "Maafkan aku."
"Maaf tidak akan memperbaiki keadaan Bella. Apa yang kau pikirkan saat itu?"
"Aku tidak berpikir,” bisikku.
"Seharusnya kau suruh aku mati sekalian. Memang itulah yang kau inginkan."
"Tidak Jacob.” rintihku, melawan air mata yang mulai menggenang. "Tidak! Tidak pernah."
"Kau tidak menangis kan?" tuntutnya, suaranya tiba-tiba kembali ke nadanya yang normal. Ia bergerak-gerak tidak sabar di tempat tidur.
"Yeah,” gerutuku, tertawa lemah, menertawakan diriku sendiri di sela-sela air mata yang mendadak berubah
menjadi sedu sedan. Jacob mengubah posisi, mengayunkan kakinya yang sehat turun dari tempat tidur, seolah-olah berusaha sendiri.
"Apa-apaan kau?" bentakku di sela-sela air mata."berbaringlah idiot, nanti cederamu makin parah!”
Aku melompat berdiri dan mendorong bahunya yang sehat dengan dua tangan.
Jacob menyerah, berbaring lagi sambil menahan napas kesakitan, tapi ia menyambar pinggangku dan menarikku ke tempat tidur, ke sisi tubuhnya yang tidak cedera. Aku bergelung di sana, berusaha meredam sedu sedan konyol itu di kulitnya yang panas.
"Aku tidak percaya kau menangis,” gumamnya. "Kau tahu berkata begitu hanya karena kau ingin aku
mengatakannya. Aku tidak sungguh-sungguh." Tangannya mengusap-usap bahuku.
"Aku tahu," Aku menghela napas dalam-dalam dan goyah, berusaha menguasai diri. Bagaimana bisa justru
akulah yang menangis sementara ia menghiburku? "Tapi semua itu toh benar. Terima kasih karena mengatakannya.”
"Apakah aku mendapat nilai karena membuatmu menangis?"
"Tentu, Jake," Aku berusaha tersenyum. "Sebanyak yang kauinginkan.”
"Jangan khawatir, Bella, Sayang. Semua pasti beres."
"Aku tidak melihat bagaimana caranya semua bisa beres,"gerutuku.
Jacob menepuk-nepuk puncak kepalaku. "Aku akan mengalah dan bersikap baik."
“Permainan lagi,” aku penasaran, menelengkan daguku supaya bisa melihat wajahnya.
"Mungkin," Jacob tertawa walaupun sedikit memaksa diri, kemudian meringis. "Tapi aku akan berusaha."
Aku mengerutkan kening.

"Jangan pesimis begitu," keluhnya. "Beri aku penghargaan sedikit."

"Apa yang kaumaksud dengan bersikap baik?"
"Aku akan menjadi temanmu, Bella,” kata Jacob pelan. "Aku takkan meminta lebih dari itu."
"Kurasa itu sudah terlambat, Jake. Bagaimana mungkin bisa berteman, kalau kita saling mencintai seperti ini?"
Jacob mendongak memandangi langit-langit, sorot matanya tajam, seakan-akan membaca sesuatu yang tertulis
di sana. "Mungkin... ini bisa menjadi pertemanan jarak jauh."
Aku mengatupkan rahang, senang ia tidak bisa melihat wajahku, sebab aku sedang melawan sedu sedan yang
mengancam melandaku lagi. Aku harus kuat, tapi aku tidak tahu bagaimana..
"Kau tahu kan kisah di alkitab?" tanya Jacob tiba-tiba, matanya masih menatap kosong langit-langit. "Kisah
tentang seorang raja dan dua wanita yang memperebutkan seorang bayi?"
"Tentu, Raja Solomon."
"Ya, benar. Raja Solomon,” ulang Jacob. "Raja itu berkata, belah anak itu menjadi dua... padahal itu hanya
ujian. Hanya untuk melihat siapa yang bakal mengalah dan menyerahkan bagiannya dengan maksud melindungi bayi itu."
“Ya, aku ingat."
Jacob menatap wajahku lagi. "Aku tidak akan membelahmu menjadi dua lagi Bella."
Aku mengerti maksudnya. Ia mengatakan dialah yang paling mencintaiku, dan dengan rela melepaskan aku, dan
ia membuktikannya. Aku ingin membela Edward, mengatakan kepada Jacob Bahwa Edward juga akan melakukan hal yang sama jika aku menginginkannya,jika aku mengizinkannya melakukan itu. Akulah yang tak ingin Edward melakukannya. Tapi tak ada gunanya memulai argumen yang hanya akan semakin melukai hati Jacob. Aku memejamkan mata, memaksa diriku menguasai pembicaraan. Aku tak boleh membuatnya merasa terbebani. Kami berdiam diri beberapa saat. Sepertinya Jacob menungguku mengatakan sesuatu,aku berusaha
memikirkan apa yang bisa dikatakan.
"Bolehkah aku memberitahumu bagian terburuk?" tanya Jacob ragu-ragu ketika aku tidak mengatakan apa-apa. "Kau keberatan? aku akan bersikap baik kok."
"Apakah itu akan membantu?" bisikku.
"Bisa jadi. Tak ada ruginya."
"Apa bagian terburuk, kalau begitu?"
"Bagian terburuk adalah mengetahui apa yang seharusnya akan terjadi."
"Apa yang seharusnya mungkin terjadi." Aku mendesah.
"Tidak." Jacob menggeleng. "aku sangat tepat untukmu Bella. Kita tidak perlu melakukan apa-apa...nyaman,
semudah menarik napas. Aku jalan alami yang seharusnya kau ambil dalam hidupmu..." Mata Jacob menerawang jauh beberapa saat, dan aku menunggu. "seandainya dunia seperti seharusnya, bila tidak ada monster dan tidak ada hal-hal magis..."
Aku bisa melihat apa yang dilihatnya, dan aku tahu ia benar. Seandainya dunia adalah tempat yang waras seperti seharusnya, Jacob dan aku pasti akan bersatu. Dan kami akan hidup bahagia. Ia akan menjadi belahan jiwaku di dunia itu, akan menjadi belahan jiwaku kalau saja hal itu tidak dibayang-bayangi sesuatu yang lebih kuat, sesuatu yang sangat kuat hingga tak mungkin ada di dunia yang rasional.
Apakah Jacob akan memiliki kesempatan yang sama juga. Sesuatu yang bisa digolongkan sebagai belahan jiwa? aku harus percaya bahwa itu ada. Dua masa depan. Dua belahan jiwa... itu terlalu berat untuk ditanggung siapa pun. Dan sangat tidak adil karena bukan satu-satunya yang harus membayar harganya.
Kepedihan hati Jacob sepertinya harga yang kelewat mahal. Meringis membayangkan harga itu, aku bertanya-tanya dalam hati apakah aku bakal ragu seandainya aku tak pernah kehilangan Edward dulu. Seandainya aku tak tahu bagaimana rasanya hidup tanpa dia. Entahlah. Pengetahuan itu menjadi bagian yang sangat dalam dari
diriku, aku tak bisa membayangkan bagaimana perasaanku tanpa itu.
"Dia itu seperti candu bagimu, Bella,” Suara Jacob masih lembut, sama sekali tanpa nada mengkritik. "Bisa kulihat kau tidak bisa hidup tanpa dia sekarang. Padahal aku lebih bagimu. Bukan candu, tapi aku seharusnya bisa menjadi udara, matahari."
Sudut mulutku terangkat, membentuk senyum separuh.
"Dulu aku memang menganggapmu seperti itu, tahu. Seperti matahari. Matahari pribadiku. Kau menyeimbangkan awan-awan dalam hidupku."
Jacob mendesah. "Kalau awan-awan, aku masih sanggup menghadapinya. Tapi aku tak bisa melawan gerhana."
Aku menyentuh wajahnya, menempelkan tanganku di pipinya. Jacob mengembuskan napas, merasakan
sentuhanku, dan memejamkan matanya. Suasana begitu hening. Sejenak aku bisa mendengar degup jantungnya, lambat dan teratur.
"Ceritakan padaku bagian terburuk menurutmu,” bisiknya.
"Mungkin sebaiknya tidak usah.”
"Please."
"Menurutku itu hanya akan melukai hatimu.”
"Please,”
Bagaimana mungkin aku tega menolak permintaannya?
"Bagian terburuk adalah...” aku ragu-ragu, kemudian membiarkan kata-kata berhamburan dari mulutku,
mengungkapkan hal sebenarnya. "Bagian terburuk adalah melihat semuanya, seluruh hidup kita. Dan aku sangat
menginginkannya Jake, aku menginginkan semuanya. Aku ingin tetap tinggal di sini dan tidak pernah pindah. Aku ingin mencintaimu dan membuatmu bahagia. Tapi aku tidak bisa, dan itu membuatku sangat sedih... sama seperti Sam dan Emily, Jake, aku tak pernah punya pilihan. Sejak dulu ku tahu tidak ada yang bakal berubah. Mungkin itulah sebabnya aku sangat keras melawanmu."

Jacob seperti memusatkan segenap konsentrasinya untuk bernapas secara teratur.

"Tuh kan sudah kukira seharusnya aku tidak menceritakannya padamu."
Jacob menggeleng pelan. "Tidak, aku justru senang kau menceritakannya. Terima kasih," ia mengecup pucuk
kepalaku, kemudian menarik napas. "Aku lega sekarang."
Aku mendongak, dan ia tersenyum.
"Jadi kau akan menikah heh?"
"Kita tidak perlu membicarakan hal itu."
"Aku ingin mengetahui sebagian detailnya. Aku kan tidak tahu kapan bisa mengobrol denganmu lagi."
Aku harus menunggu dulu satu menit sebelum bisa bicara. Setelah yakin suaraku tidak akan tersendat, aku
menjawab pertanyaannya.


"Sebenarnya itu bukan ideku... tapi, ya benar itu sangat berarti bagi dia. Jadi aku lantas berpikir, kenapa tidak?"
Jake mengangguk. "Memang benar... itu sih bukan hal yang terlalu besar... kalau dibandingkan...."

Suara jacob sangat tenang, sangat apa adanya. Kupandangi dia, ingin tahu bagaimana dia bisa tahan
menghadapi semua ini, tapi itu sangat sulit baginya. Ia menatap wajahku sedetik, kemudian berpaling menjauhiku. Aku menunda berbicara sampai tarikan napas Jake kembali terkendali.
"Ya. Kalau dibandingkan,” aku sependapat.
"Berapa lama lagi?"
“Tergantung berapa lama Alice bisa menyiapkan pernikahan," Aku menahan erangan. membayangkan apa
saja yang bakal dilakukan Alice.
"Sebelum atau sesudah?" tanyanya pelan. Aku mengerti maksudnya. "Sesudah."
“Kau takut?" bisiknya.
“Ya,” aku balas berbisik.
"Apa yang kautakutkan?” Aku hampir-hampir tak bisa mendengar suaranya sekarang. Ia menunduk memandangi
tanganku.
"Banyak hal," Aku berusaha membuat suaraku terdengar lebih ringan, tapi tetap jujur. "Aku bukan orang yang suka menyiksa diri sendiri, jadi aku tidak suka membayangkan sakitnya. Dan aku ingin ada cara untuk menjauhkan dia dariku, aku tidak ingin dia ikut menderita bersamaku. Tapi kurasa tak ada cara lain. Lalu hal-hal yang berkaitan dengan Charlie juga, dan Renee... Kemudian sesudahnya, aku berharap mudah-mudahan aku bisa mengendalikan diri dalam waktu singkat. Mungkin aku akan menjadi ancaman besar sehingga kawanan harus menghabisi aku."
Jacob mendongak dengan ekspresi tidak setuju. "Akan kulumpuhkan sendiri saudaraku yang berani coba-coba
melakukannya."
"Trims."
Jacob tersenyum setengah hati. Kemudian ia mengerutkan kening. "Tapi bukankah itu lebih berbahaya?
Konon, katanya terlalu sulit... mereka bisa kehilangan kendali... orang-orang meninggal," Jacob menelan ludah.
"Tidak, bukan itu yang kutakutkan. Konyol, Jacob masa kau percaya cerita-cerita vampir?"
Tapi Jacob tidak menanggapi leluconku.
"Well, bagaimanapun, banyak yang harus dikhawatirkan. Tapi sepadan dengan apa yang akan dicapai pada
akhirnya."
Jacob mengangguk meskipun tak ingin, dan aku tahu ia sama sekali tidak sependapat denganku. Aku menjulurkan leher panjang-panjang untuk berbisik di telinganya,menempelkan pipiku di kulitnya yang panas.
"Kau tahu aku mencintaimu."
"Aku tahu,” Jacob mendesah, lengannya semakin erat memeluk pinggangku. "Kau tahu betapa aku sangat
berharap itu cukup."
"Ya."
"Aku akan selalu menunggu Bella,” janjinya, nadanya terdengar lebih ringan. Ia mengendurkan pelukannya.
Kutarik lenganku dengan perasaan kehilangan yang tumpul, merasakan perpisahan yang menyakitkan waktu aku meninggalkan sebagian diriku di tempat tidur di sebelahnya.
"Kau akan selalu memiliki pilihan cadangan itu kalau kau menginginkannya."
Aku mencoba tersenyum. "Sampai jantungku berhenti berdetak."
Jacob balas menyeringai. "Kau tahu, kurasa mungkin aku akan tetap menerimamu... mungkin. Kurasa itu
tergantung seberapa menyengat baumu nanti."
"Apakah sebaiknya aku kembali untuk menengokmu. Atau kau lebih suka aku tidak melakukannya?"
"Aku harus memikirkannya dulu masak-masak,” jawab Jacob, “mungkin aku akan membutuhkan teman untuk
mencegahku melakukan hal-hal sinting. Dokter bedah vampir yang sangat pintar itu bilang aku tidak bisa berubah bentuk sampai dia mengizinkannya, itu bisa membuat sambungan tulang-tulangku jadi kacau," Jacob mengernyit.
"Bersikaplah baik dan turuti apa kata Carlise. Kau akan pulih lebih cepat."
"Tentu, tentu."
"Aku ingin tahu kapan itu terjadi.” kataku. "Saat gadis yang tepat datang menarik perhatianmu."
"Jangan berharap yang muluk-muluk Bella." Suara Jacob mendadak terdengar masam. "Walaupun aku yakin itu pasti akan membuatmu lega."
"Mungkin ya, mungkin tidak. Mungkin aku akan menganggap dia tidak pantas untukmu. Entah akan
secemburu apa aku nanti."
"Asyik juga ya membayangkan bagian yang itu,” Jacob mengakui.
"Beritahu aku kapan kau ingin aku datang lagi, dan aku akan datang,” aku berjanji.
Sambil menghembuskan napas, Jacob menyodorkan pipinya dengan lembut.
"Aku mencintaimu, Jacob."
Jacob tertawa renyah. "Aku mencintaimu lebih lagi." Ia mengawasiku meninggalkan kamarnya dengan
ekspresi tak tertebak terpancar dari bola matanya yang hitam.



Copyright © 2015 Baca Online dan Seputar Blog
| Distributed By Gooyaabi Templates