Featured

December 03, 2013

Eclipse Indonesia 25

25. CERMIN
KUPAKSA mataku yang membeku dalam keadaan membelalak saking syoknya – bergerak, sehingga aku tak
lagi bisa melihat benda oval yang terbungkus balutan rambut berwarna terang itu menggeletar. Edward kembali bergerak. Dengan gerakan cepat dan tenang, ia memisah-misahkan mayat tanpa kepala itu. Aku tak sanggup mendekatinya – aku tak mampu membuat kakiku bergerak; keduanya terpaku ke batu di bawahnya. Tapi aku mengawasi setiap tindakannya dengan saksama, mencari bukti apakah ia terluka. Debar jantungku
melambat ke irama yang lebih normal setelah tidak menemukan tanda-tanda cedera sedikit pun. Ia tetap
setangkas dan seanggun biasanya. Aku bahkan tidak melihat robekan sedikit pun di bajunya.
Edward tidak menatapku, di tempat aku berdiri kaku di dinding tebing, ngeri, sementara ia menumpuk potongan
kaki dan badan yang masih menggeletar dan berkedut-kedut itu, kemudian menutupinya dengan daun-daun pinus kering.
Ia masih tidak mau membalas tatapanku yang syok sementara ia berlari memasuki hutan menyusul Seth.
Aku belum pulih sepenuhnya dari keterkejutan saat ia dan Seth kembali, Edward membawa Riley dalam
dekapannya. Seth membawa potongan yang besar – badan Riley – dengan mulut. Mereka menaruh bawaan mereka ke onggokan yang sudah ada, dan Edward mengeluarkan benda segi empat perak dari saku bajunya. Dibukanya tutup korek butan itu dan disulutnya sebarang ranting kering. Api langsung menyala, lidah apinya yang berwarna jingga dengan cepat menjilat onggokan.
"Ambil semua potongan,” kata Edward dengan suara pelan kepada Seth.
Bersama-sama, vampir dan werewolf menyusuri kawasan perkemahan, sesekali melempar onggokan kecil batu putih ke kobaran api. Seth membawa potongan-potongan itu dengan moncongnya. Otakku tidak bekerja cukup baik untuk memahami mengapa ia tidak mengubah diri untuk membawa potongan-potongan itu dengan tangannya. Edward tetap berkonsentrasi pada pekerjaannya. Kemudian selesailah semuanya, dan api yang berkobar mengirimkan asap ungu menyesakkan ke langit. Asap tebal bergulung-gulung lambat, tampak lebih padat daripada seharusnya; baunya seperti dupa yang terbakar, dan aromanya sangat tidak enak. Berat, terlalu menyengat.
Seth mengeluarkan suara seperti tertawa mengejek lagi, jauh di dalam dadanya. Senyum berkelebat di wajah Edward yang tegang. Edward mengulurkan tangan – telapak tangannya mengepal. Seth menyeringai, memamerkan sederet gigi panjang-panjang dan tajam, lalu menyundulkan hidungnya ke tangan Edward.
"Kerja tim yang bagus," gumam Edward. Seth menggonggong tertawa.
Kemudian Edward menghela napas dalam-dalam, dan berbalik perlahan-lahan untuk menghadapku.
Aku tidak memahami ekspresinya. Sorot matanya sinis seolah-olah aku musuh lain, lebih dari sinis; takut. Padahal ia tadi tidak menunjukkan ketakutan sama sekali saat menghadapi Victoria dan Riley... Pikiranku buntu,
terperangah dan tak berdaya, seperti tubuhku. Kupandangi dia, bingung.
"Bella sayang,” ujarnya dengan nada paling lembut berjalan menghampiriku dengan kelambanan dilebihlebihkan.
Kedua tangan terangkat, telapak tangan menghadap ke depan Meski bingung, sikap Edward itu anehnya membuatku teringat tersangka yang mendekati polisi, menunjukkan dirinya tidak bersenjata...
"Bella, bisa tolong jatuhkan batu itu, please? Hati-hati. Jangan lukai dirimu sendiri."
Aku sudah lupa sama sekali pada senjataku, walaupun sekarang aku sadar telah menggenggamnya kuat sekali
sampai-sampai buku jariku menjerit protes. Apakah buku jariku patah lagi, Carlisle jelas akan menggipsku kali ini.
Beberapa meter dariku, Edward ragu-ragu, kedua tangannya masih terangkat, matanya masih memancarkan
sorot takut. Baru beberapa detik kemudian aku ingat bagaimana caranya menggerakkan jari-jariku. Kemudian batu itu jatuh berkeletak ke tanah, sementara tanganku tetap membeku dalam posisi yang sama.
Edward sedikit lebih rileks setelah tanganku kosong, tapi tak juga mendekat.
"Kau tidak perlu takut, Bella,” bisik Edward. "Kau aman. Aku tidak akan menyakitimu."
Janji membingungkan itu malah semakin membuatku bingung. Kupandangi ia seperti anak imbesil, berusaha
memahami.
"Semua baik-baik saja Bella. Aku tahu sekarang kau ketakutan,tapi semua sudah berakhir. Tidak ada yang akan
menyakitimu. Aku takkan menyentuhmu. Aku tidak akan menyakitimu,” ucapnya lagi.
Mataku mengerjap-ngerjap hebat, dan akhirnya aku bisa bicara juga. "Kenapa kau bicara begitu terus?"
Aku maju selangkah menghampirinya, tapi Edward malah menjauhiku.
"Ada apa?" bisikku. "Apa maksudmu?"
"Apa kau..." Mata keemasan Edward tiba-tiba sama bingungnya dengan aku. "apa kau tidak takut padaku?"
"Takut padamu? Kenapa?"
Aku maju selangkah lagi dengan kaki goyah, kemudian tersandung sesuatu, mungkin kakiku sendiri. Edward
menangkap tubuhku, dan aku menyembunyikan wajahku di dadanya lalu mulai tersedu.
"Bella, Bella, maafkan aku. Semua sudah berakhir, sudah berakhir."
"Aku baik-baik saja," aku terkesiap. "Aku tidak apa-apa. Aku hanya. Kalut. Beri aku waktu sebentar."
Kedua lengan Edward memelukku erat. "Aku benarbenar minta maaf,” gumamnya berkali-kali.
Aku terus memeluknya sampai akhirnya bisa bernapas, kemudian aku menciumnya, dadanya, bahunya, lehernya, setiap bagian dirinya yang bisa kuraih. Perlahan-lahan, otakku mulai bekerja lagi.
"Kau baik-baik saja?" tanyaku di sela-sela ciumanku."Apakah dia melukaimu?"
"Aku benar-benar tidak apa-apa,” Edward meyakinkanku, membenamkan wajahnya di rambutku.
“Seth?”
Edward terkekeh. "Lebih dari baik-baik saja. Sangat bangga pada dirinya sendiri bahkan."
"Yang lain-lain? Alice. Esme? Serigala-serigala?"
"Semuanya baik-baik saja. Di sana juga sudah selesai. Semua berjalan lancar seperti yang kujanjikan. Bagian
terburuk justru terjadi di sini."
Sesaat aku membiarkan diriku mencerna keterangan itu, membiarkan otakku menyerapnya hingga berdiam di
kepalaku. Keluarga dan teman-temanku aman. Victoria takkan pernah memburuku lagi. Semua telah berakhir.
Kami semua akan baik-baik saja. Tapi aku tak sepenuhnya mampu menyerap kabar baik itu saat sedang bingung seperti ini.
"Katakan padaku kenapa,” desakku. "Kenapa kau kira aku akan takut padamu!'
"Maafkan aku,” kata Edward, lagi-lagi meminta maaf – untuk apa? Aku tidak mengerti. "Maafkan aku. Aku tidak mau kau melihat itu tadi. Melihatku dalam keadaan seperti tadi. Aku tahu aku pasti membuatmu takut."
Aku harus memikirkan perkataannya itu sebentar, bagaimana ia tadi ragu-ragu mendekatiku, kedua tangan
terangkat. Seolah-olah aku bakal lari bila ia bergerak terlalu cepat...
"Kau serius?" tanyaku akhirnya. "Kau... apa? Kaukira kau membuatku takut sehingga aku bakal lari?" dengusku.
Mendengus itu bagus; suara tidak bisa bergetar atau pecah saat mendengus. Kedengarannya lumayan tak peduli. Edward memegang daguku dan mengangkat kepalaku untuk membaca ekspresiku.
"Bella, aku hanya.” Edward ragu-ragu, kemudian memaksakan perkataan itu keluar dari mulutnya. “aku baru
saja memenggal dan mencabik-cabik tubuh makhluk hidup hanya dalam jarak delapan belas meter darimu. Itu tidak membuatmu merasa terganggu?"
Edward mengerutkan kening padaku. Aku mengangkat bahu. Mengangkat bahu juga bagus.
Sangat bosan kelihatannya. "Tidak juga. Aku hanya takut kau dan Seth bakal terluka. Aku ingin membantu, tapi tidak banyak yang bisa kulakukan.."
Ekspresi Edward yang tiba-tiba marah membuat suaraku menghilang.
"Ya." sergahnya, nadanya ketus. "Aksimu dengan batu itu. Kau tahu kau nyaris membuatku terkena serangan
jantung? Padahal bagiku bukan perkara mudah untuk terkena serangan jantung." Tatapan Edward membuatku sulit menjawabnya.
''Aku ingin membantu... Seth terluka.."
"Seth hanya pura-pura terluka Bella. Itu tipuan. Tapi lalu kau..!" Ia menggeleng-gelengkan kepala, tak mampu
menyelesaikan kalimatnya. "Seth tidak bisa melihat apa yang kau lakukan. Jadi aku harus turun tangan. Seth agak kesal karena tidak bisa mengklaim kemenangan ini sebagai usahanya sendiri."
"Jadi Seth hanya... pura-pura?"
Edward mengangguk dengan tegas.
"Oh."
Kami memandangi Seth,yang mengabaikan kami dan memandangi kobaran api. Perasaan puas terpancar dari
setiap helai bulunya.
"Well, aku kan tidak tahu.” tukasku,merasa kesal sekarang. "Lagi pula, tidak mudah menjadi satu-satunya
pihak yang tidak berdaya di sini. Tunggu saja sampai aku menjadi vampire nanti! Aku tidak akan duduk-duduk
bengong lagi lain kali."
Emosi campur aduk melintas di wajah Edward sebelum akhirnya menunjukkan sikap geli. "Lain kali? Memangnya kau mengantisipasi perang lagi?"
"Dengan kesialanku? Siapa tahu?"
Edward memutar bola matanya. tapi bisa kulihat ia gembira, kelegaan membuat kepala kami ringan. Semua
sudah berakhir. Atau... benarkah begitu?
"Tunggu dulu. Bukankah kau mengatakan sesuatu sebelumnya..?" Aku tersentak. teringat persis bagaimana
kejadiannya tadi, apa yang akan kukatakan pada Jacob nanti? Hatiku yang terpecah berdenyut-denyut sakit. Sulit dipercaya, nyaris mustahil, tapi bagian terberat hari ini belum berakhir bagiku, kemudian aku menguatkan diri.
"Tentang masalah tadi. Dan Alice, yang harus memberikan perkiraan waktu yang tepat kepada Sam. Katamu waktunya bakal berdekatan. Apanya yang berdekatan?"
Mata Edward kembali melirik Seth, dan mereka berpandangan.
"Well?" tanyaku.
“Tidak ada apa-apa, sungguh.” Edward buru-buru menjawab. "Tapi kita benar-benar harus segera
berangkat....." Ia mulai menarik untuk menaikkanku ke punggungnya, tapi aku mengejang dan menolak.
"Jelaskan maksudmu." Edward merengkuh wajahku dengan kedua tangannya.
"Waktu kita sangat sedikit, jadi jangan panik, oke? Sudah ku bilang tak ada alasan untuk takut. Percayalah padaku, please?"
Aku mengangguk, berusaha menyembunyikan kengerian yang mendadak muncul, sebanyak apa lagi yang bisa
kutanggung tanpa membuat ku pingsan? "Tidak ada alasan untuk takut. Baiklah."
Edward mengerucutkan bibir sejenak, memutuskan apa yang harus disampaikan. Kemudian ia melirik Seth sekilas, seolah-olah serigala itu memanggilnya.
"Apa yang dia lakukan?" tanya Edward.
Seth mendengking; nadanya gugup dan cemas. Membuat bulu kudukku meremang. Semuanya sunyi selama sedetik yang terasa sangat panjang.
Kemudian Edward terkesiap. "Tidak!"dan sebelah tangannya melayang seolah ingin menyambar sesuatu yang
tidak bisa kulihat. "Jangan...!"
Entakan mengguncang tubuh Seth, dan lolongan panjang yang memilukan mengoyak paru-parunya. Pada saat bersamaan Edward jatuh berlutut, mencengkeram kedua sisi kepala dengan dua tangan, wajahnya mengernyit sakit. Aku menjerit, hatiku disergap perasaan takut,lalu jatuh berlutut di sampingnya. Bodohnya, aku berusaha menarik tangan Edward yang menutupi wajah, telapak tanganku yang basah oleh keringat, menggelincir di kulitnya yang licin bagaikan marmer.
"Edward! Edward!"
Mata Edward terfokus padaku, setelah mengerahkan segenap daya, akhirnya ia juga bisa membuka mulut.
"Tidak apa-apa. Kita akan baik-baik saja. Itu.." Ia terdiam dan kembali meringis.
"Apa yang terjadi?" pekikku saat Seth melolong karena penderitaan yang dalam.
"Semua beres. Kita akan baik-baik saja," sergah Edward.
"Sam.. bantu dia.."
Dan detik itulah aku menyadari, ketika Edward menyebut nama Sam, bahwa bukan ia atau Seth yang
dimaksudkannya. Tak ada kekuatan tak kasatmata yang menyerang mereka. Kali ini krisis itu tidak terjadi di sini.
Ia menggunakan kata ganti orang ketiga jamak untuk menyebut kawanan serigala itu.
Adrenalinku sudah terkuras habis. Tak ada lagi yang tersisa. Aku merosot lemas, dan Edward menangkapku
sebelum tubuhku membentur bebatuan. Ia melesat berdiri, aku berada dalam dekapannya.
"Seth!" teriak Edward.
Seth masih membungkuk, tubuhnya masih mengejang sedih, terlihat seperti hendak menerjang masuk ke hutan.
"Tidak!" Edward memerintahkan. "kau harus langsung pulang. Sekarang. Secepat kau bisa!"
Seth mendengking-dengking, menggelengkan kepalanya yang besar.
"Seth, percayalah padaku."
Serigala besar itu menatap mata Edward yang sedih selama satu detik yang panjang, kemudian meluruskan
tubuhnya dan melesat memasuki pepohonan, lenyap seperti hantu. Edward mendekapku erat-erat di dadanya, kemudian kami juga meleset menembus hutan yang dipenuhi bayangbayang mengambil jalan yang berbeda dengan si serigala.
"Edward." Susah payah kukeluarkan suara dari tenggorokanku yang tercekat. "Apa yang terjadi Edward?
Apa yang terjadi pada Sam? Kita mau ke mana? apa yang terjadi?"
"Kita harus kembali ke lapangan,” jawab Edward dengan suara pelan. “Kami sudah tahu besar kemungkinan ini
bakal terjadi. Pagi-pagi sekali tadi, Alice melihatnya dan menyampaikannya melalui Sam kepada Seth. Keluarga
Volturi memutuskan sekaranglah waktunya untuk turun tangan." Keluarga Volturi.
Terlalu banyak. Pikiranku menolak mencerna keterangan itu, pura-pura tidak bisa mengerti. Pohon-pohon melesat melewati kami. Begitu cepatnya Edward berlari menuruni bukit hingga rasanya seolah-olah
kami terjun bebas, jatuh tak terkendali.

"Jangan panik. Mereka bukan datang untuk mencari kita. Hanya kontingen normal yang terdiri atas para pengawal yang biasa membersihkan kekacauan seperti ini. Bukan sesuatu di luar kewajaran, mereka hanya melaksanakan tugas. Tentu saja, sepertinya mereka begitu cermat memilih waktu kedatangan. Dan itu membuatku yakin bahwa tak seorang pun di Italia akan berduka cita bila para vampire baru itu berhasil mengurangi jumlah keluarga Cullen."
Kata-kata itu meluncur dari sela-sela rahang Edward yang terkatup rapat, keras dan muram. "Aku akan mengetahui secara persis apa yang mereka pikirkan kalau mereka sudah sampai di lapangan nanti."
"Karena itukah kita kembali?" bisikku. Sanggupkah aku menghadapi hal ini? Bayangan jubah hitam berkibar-kibar merayap masuk ke otakku yang tak ingin mengingat mereka, dan aku tersentak, menepis pikiran itu jauh-jauh. Pertahanan diriku nyaris jebol.
"Itu sebagian alasannya. Kebanyakan, akan lebih aman jika kita bersatu menyambut kedatangan mereka saat ini. Mereka tidak punya alasan untuk mengusik kita, tapi...ada Jane bersama mereka. Kalau dia tahu kita sendirian di suatu tempat, jauh dari yang lain, bisa-bisa itu akan membuatnya tergoda. Seperti Victoria, Jane mungkin bisa menebak aku pasti bersamamu. Demetri, tentu saja, pasti bersamanya. Kalau Jane memintanya."
Aku tak ingin memikirkan nama itu. Aku tidak mengingat wajah polos kekanakan yang rupawan itu dibenakku. Suara aneh keluar dan kerongkonganku.
"Ssstt, Bella. ssstt. Semua akan baik-baik saja. Alice bisa melihat kalau semua akan baik-baik saja."
Alice bisa melihatnya? "Tapi... kalau begitu di mana serigala-serigala? Di mana kawanan itu?”
"Kawanan?"
"Mereka harus buru-buru menyingkir. Keluarga Volturi tidak suka bila kita melakukan gencatan senjata dengan
werewolf."
Bisa kudengar napasku memburu semakin cepat. Tapi aku tak kuasa mengendalikannya. Aku mulai terengahengah.
"Aku bersumpah, mereka akan baik-baik saja.” Edward berjanji. "Keluarga Volturi tidak akan mengenali baunya,
mereka tidak akan menyadari tadi ada serigala di sini, mereka tidak familier dengan spesies ini. Mereka akan baikbaik saja."
Aku tidak bisa memproses penjelasannya. Konsentrasiku tercabik-cabik perasaan takut. Kita akan baik-baik saja.
begitu katanya tadi... dan Serth, melolong sedih... Edward menghindari pertanyaan pertamaku, mengalihkan
perhatianku ke keluarga Volturi... Aku sudah dekat sekali dengan tepian tebing, hanya mencengkeram dengan ujung-ujung jemariku. Pohon-pohon melesat lewat begitu cepat dan kabur hingga Edward tampak seperti dikelilingi air berwarna hijau zambrud.
"Apa yang terjadi?" Bisikku lagi. "Sebelumnya. Waktu Seth melolong? Waktu kau kesakitan?"
Edward ragu-ragu.
"Edward! Ceritakan padaku!"
"Semuanya sudah berakhir,” bisik Edward. Aku nyaris tak bisa mendengar suaranya karena desir angin yang
diakibatkan larinya yang begitu cepat. "serigala-serigala itu tidak menghitung jumlah musuh mereka...mereka
menyangka semua sudah dihabisi. Tentu saja, Alice tak bisa melihat.."
"Apa yang terjadi?”
"Salah satu vampire baru ada yang bersembunyi... Leah menemukannya.. dia melakukan tindakan bodoh, berlagak bisa, ingin membuktikan sesuatu. Dia menghadapi vampire itu sendirian.."
"Leah,” ulangku, dan aku kelewat lemah untuk merasa malu atas perasaan lega yang membanjiriku. "Apakah dia
akan baik-baik saja?"
"Leah tidak terluka,” gumam Edward.
Kupandangi dia selama satu detik yang panjang. Sam... bantu dia...Edward tadi terkesiap. Dia laki-laki,
bukan perempuan.

"Kita sudah hampir sampai,” kata Edward, matanya menatap lurus ke satu titik di langit.
Otomatis, mataku mengikutinya. Tampak gumpalan awan ungu menggelayut rendah di atas pepohonan. Awan?
Padahal, di luar kebiasaan, hari ini justru terik sekali... Tidak, bukan awan, aku mengenali kepulan asap tebal,
persis seperti yang ada di perkemahan tadi.
"Edward,” kataku, suaraku nyaris tak terdengar.
"Edward, ada yang terluka."
Soalnya aku mendengar nada pilu dalam lolongan Seth, melihat kengerian yang terpancar dari wajah Edward.
"Ya" bisiknya.
"Siapa?" tanyaku walaupun tentu saja, aku sudah tahu jawabannya. Tentu saja aku tahu. Tentu saja.
Pohon-pohon melambat di sekeliling kami ketika kami sampai ke tujuan. Lama sekali baru Edward menjawab pertanyaanku.
"Jacob,” jawabnya. Aku masih mampu mengangguk satu kaki.
"Tentu saja,” bisikku.
Kemudian pegangan tanganku terlepas dari bibir tebing dalam benakku. Semuanya berubah gelap gulita.
Pertama-tama aku sadar ada tangan-tangan dingin yang menyentuhku. Lebih dari satu pasang. Lengan-lengan
memelukku, telapak tangan merengkuh pipiku, jari-jari membelai keningku, dan jari-jari lagi menekan pelan
pergelangan tanganku. Berikutnya aku mendengar suara-suara. Awalnya hanya berupa gumaman, kemudian volumenya semakin keras dan jelas, seperti orang yang menyalakan radio.
"Carlisle... sudah lima menit.” Suara Edward, nadanya cemas.
"Dia akan siuman kalau sudah siap, Edward." Suara Carlisle, selalu tenang dan yakin. "Terlalu banyak yang
dialaminya hari ini. Biarkan pikirannya melindungi dirinya sendiri."
Tapi pikiranku tidak terlindungi. Pikiranku terperangkap dalam pengetahuan yang tidak meninggalkanku, bahkan
dalam ketidaksadaran sekalipun... kepedihan yang merupakan bagian dari ketidaksadaran. Aku merasa seperti tidak terhubung dengan ragaku. Seakan-akan terperangkap di sudut kecil dalam kepalaku,tak lagi bisa mengendalikan apa pun. Tapi aku tak bisa melakukan apa-apa untuk mencegahnya. Aku tidak
bisa berpikir. Kepedihan itu terlalu kuat hingga aku tidak bisa berpikir. Aku tidak bisa meloloskan diri darinya.
Jacob.
Jacob.
Tidak,tidak,tidak,tidak,tidak...
"Alice, berapa lama waktu yang kita punya?" tanya Edward, suaranya masih tegang, kata-kata Carlisle yang
bernada menenangkan ternyata tidak membantu. Dari tempat yang agak jauh, terdengar suara Alice.
Nadanya riang gembira. "Lima menit lagi. Dan Bella akan membuka matanya tiga puluh tujuh detik lagi. Aku bahkan yakin dia bisa mendengar kita sekarang."
"Bella Sayang?" Itu suara Esme yang lembut dan menenteramkan. "Kau bisa mendengar suaraku? Kau aman
sekarang sayang."
Ya, aku memang aman. Apakah itu benar-benar berarti? Kemudian bibir yang dingin menempel di telingaku, dan
Edward mengizinkanku keluar dari siksaan yang mengurung ku dalam benakku sendiri.
"Dia akan selamat Bella, saat ini Jacob Black memulihkan diri dari luka-lukanya. Dia akan baik-baik saja.”
Ketika kepedihan dan ketakutan itu mereda, aku menemukan kembali ke tubuhku. Kelopak mataku mengeletar.
"Oh, Bella,” Edward mendesah lega, dan bibirnya menyentuh bibirku.
"Edward.” bisikku.
"Ya, aku di sini."
Aku membuka kelopak mataku, dan menatap sepasang bola emas yang hangat.
"Jacob tidak apa-apa?"tanyaku.
"Ya.” Janjinya.
Kupandangi matanya lekat-lekat untuk mencari tandatanda bahwa ia hanya berusaha menenangkanku. Tapi tak
menemukan apa-apa.
"Aku sendiri yang memeriksanya.” kata Carlisle kemudian, aku memalingkan kepala mencari wajahnya, hanya beberapa meter jauhnya. Ekspresi Carlisle serius sekaligus meyakinkan mustahil meragukannya. "Nyawanya
tidak dalam bahaya. Dia pulih dengan kecepatan luar biasa, walaupun cedera yang dialaminya cukup parah sehingga dibutuhkan beberapa hari baru dia bisa kembali normal, walaupun pemulihannya tetap secepat sekarang. Sam sedang berusaha membuatnya mengubah diri lagi menjadi manusia. Dengan begitu akan lebih mudah mengobatinya."
Carlisle tersenyum kecil. "Aku kan tidak pernah masuk fakultas kedokteran hewan."
"Apa yang terjadi padanya?" bisikku. "Seberapa parah luka-lukanya?"
Wajah Carlisle kembali serius "Serigala lain menghadapi masalah.."
"Leah....” desahku.
"Benar. Jacob berhasil menyingkirkan Leah, tapi tidak sempat membela dirinya. Vampire baru itu memitingnya
sebagian besar tulang di sisi kanan tubuhnya remuk."
"Sam dan Paul sampai di sana tepat waktu. Jacob sudah mulai pulih kembali waktu mereka membawanya kembah ke La Push."
"Dia akan normal kembali?" tanyaku.
"Ya Bella, dia tidak akan mengalami cacat permanen." Aku menghela napas dalam-dalam.
"Tiga menit!" seru Alice pelan.
Aku bangkit dengan susah payah, berusaha berdiri. Edward mengerti maksudku dan membantuku berdiri.
Kutatap pemandangan di depanku. Keluarga Cullen berdiri membentuk setengah lingkaran mengelilingi api unggun. Hampir tak ada lagi nyala api yang terlihat, hanya kepulan asap hitam keunguan yang tebal, menggelayut seperti penyakit di rumput yang cemerlang. Jasper berdiri paling dekat dengan asap yang
terkesan padat itu, di bawah bayang-bayang sehingga kulitnya tidak berkilau gemerlapan di bawah terik matahari
seperti anggota keluarganya yang lain. Ia berdiri memunggungiku, pundaknya tegang, kedua lengan sedikit terulur. Terasa ada sesuatu yang tidak biasa di sana, pada bayangannya. Ia seperti membungkuk dengan sikap
waswas... Aku terlalu kebas untuk merasakan lebih dari syok ringan waktu menyadari masalahnya.
Ternyata ada delapan vampir di lapangan itu. Gadis itu duduk meringkuk di sebelah api unggun, kedua lengannya memeluk kaki. Ia masih sangat muda. Lebih muda dariku – mungkin usianya lima belas tahun, berambut gelap, dan kurus. Matanya tertuju padaku, dan iris matanya, sungguh mengagetkan, berwarna merah cemerlang. Lebih cemerlang daripada mata Riley, nyaris berkilauan. Mata itu jelalatan ke mana-mana, tak terkendali. Edward melihat ekspresiku yang kebingungan.
"Dia menyerah,” Edward menjelaskan dengan suara pelan. "Yang seperti itu belum pernah kulihat sebelumnya.
Hanya Carlisle yang terpikir untuk menawarinya. Jasper sebenarnya tidak setuju."
Aku tak sanggup mengalihkan mataku dari pemandangan di sebelah api unggun. Tampak Jasper mengusap-usap lengan kirinya dengan sikap tak peduli.
"Jasper baik-baik saja?" bisikku.
"Dia tidak apa-apa. Racunnya pedih."
"Dia digigit?" tanyaku, ngeri.
"Dia berusaha menangani semuanya pada saat bersamaan. Berusaha memastikan Alice tidak melakukan
apa-apa, sebenarnya," Edward menggeleng-gelengkan kepala. "Padahal Alice tidak butuh bantuan siapa-siapa."
Alice meringis ke arah cinta sejatinya. "Si bodoh yang kelewat protektif."
Si wanita muda itu tiba-tiba mengedikkan kepalanya. Seperti binatang dan meraung dengan suara melengking.
Jasper menggeram padanya dan ia mengkeret, tapi jarijarinya menusuk ke dalam tanah seperti cakar dan
kepalanya bergoyang-goyang ke depan dan ke belakang dengan sikap menderita. Jasper maju selangkah
menghampirinya, membungkuk semakin dalam. Edward maju dengan sikap sok tenang, membalikkan tubuh kami sehingga ia sekarang berada di antara gadis itu dan aku. Aku mengintip dari balik lengan Edward untuk melihat Jasper dan gadis yang mencakar-cakar itu.
Dalam sekejap Carlisle sudah berada di samping Jasper. Ia meletakkan tangan di bahu putranya, menahannya.
"Kau berubah pikiran, anak muda?" tanya Carlisle, tetap setenang biasanya. "kami tidak ingin menghabisimu, tapi kami akan melakukannya kalau kau tak bisa mengendalikan diri."
"Bagaimana kalian bisa tahan?" erang gadis itu dengan suara jernih melengking. “aku menginginkan dia.” Matanya yang merah cemerlang terfokus kepada Edward, melewatinya, memandang ke balik tubuhnya padaku, dan kuku-kuku gadis itu kembali mencakar-cakar tanah yang keras lagi.
"kau harus bisa tahan.” tukas Carlisle, suaranya berat.
"kau harus bisa mengendalikan diri. Itu bisa dilakukan, dan hanya itu yang bisa menyelamatkanmu sekarang."
Gadis itu mencengkeram tangannya yang berlumuran tanah ke kepalanya, melolong pelan.
"Tidakkah sebaiknya kita menjauh darinya?" aku berbisik, menarik-narik lengan Edward. Gadis itu menyeringai, memamerkan gigi-giginya begitu mendengar suaraku, ekspresinya tersiksa.
"Kita harus tetap di sini.” gumam Edward. “Mereka sudah sampai di ujung utara lapangan sekarang."
Jantungku langsung berpacu liar saat aku menyapukan pandanganku ke seantero lapangan, tapi aku tidak bisa
melihat hal lain selain kepulan asap tebal. Sedetik setelah pencarianku yang tidak membuahkan hasil mataku kembali melirik vampire perempuan muda itu. Ia masih terus menatapku, matanya setengah sinting.
Kubalas tatapan gadis itu beberapa saat. Rambut gelap sedagu membingkai wajahnya yang pucat pasi seperti
mayat. Sulit menilai apakah ia cantik, karena wajahnya berkerut-kerut menahan amarah dan dahaga. Mata
merahnya yang buas mendominasi, sulit mengalihkan pandangan darinya. Ia memelototiku dengan buas,
menggeletar, dan terus menggeliat-geliat. Kupandangi dia, takjub. bertanya-tanya dalam hati apakah aku sedang melihat bayangan diriku sendiri di cermin pada masa yang akan datang.
Kemudian Carlisle dan Jasper mulai mundur menghampiri kami. Emmett, Rosalie, dan Esme buru-buru
berkumpul mengelilingi tempat Edward berdiri bersama aku dan Alice. Bersatu padu, seperti kata Edward tadi, dan berada di tengah-tengahnya, adalah tempat teraman bagiku. Aku mengalihkan pandangan dari gadis buas itu untuk melihat kedatangan para monster.
Tidak terlihat apa-apa. Kulirik Edward, tapi matanya terpancang lurus ke depan. Aku mencoba mengikuti
Pandangannya, tapi yang ada hanya asap, kepulan asap pekat berminyak yang meliuk-liuk rendah di tanah,
membumbung pelan, ombak-ombak di rerumputan. Asap itu menggelembung ke depan, berwarna lebih gelap
di bagian tengah.
"Hmm.” sebuah suara menyeramkan bergumam dari balik kabut. Aku langsung mengenali nada apatis dalam
suara itu.
"Selamat datang, Jane.” Nada Edward sopan namun dingin.
Bentuk-bentuk gelap itu semakin mendekat, memisahkan diri dan kabut asap, semaki n memadat. Aku tahu pasti
Jane yang berada paling depan, jubah yang paling gelap, nyaris hitam, dan sosok yang paling kecil, setengah meter lebih pendek dibanding yang lain-lain. Aku nyaris bisa melihat garis-garis wajah Jane yang seperti malaikat di balik bayangan jubah.
Rasanya aku juga mengenali empat sosok berselubung jubah abu-abu yang melangkah garang di belakangnya. Aku yakin aku mengenali sosok yang paling besar, dan selagi aku menatap, berusaha mengonfirmasi kecurigaan ku, Felix menengadah. Ia membiarkan tudungnya tersingkap sedikit hingga bisa kulihat ia mengedip padaku dan tersenyum. Edward berdiri di sampingku, berusaha keras mengendalikan diri.
Mata Jane bergerak lambat mengamati wajah-wajah anggota keluarga Cullen yang berkilauan, kemudian
tertumbuk pada si gadis vampire baru di sebelah api unggun, si vampire baru memegang kepalanya dengan dua
tangan.
"Aku tidak mengerti,” suara Jane datar, tapi tak lagi terdengar tidak tertarik sebelumnya.
"Dia sudah menyerah,” Edward menjelaskan, menjawab pertanyaan di benak Jane. Bola mata Jane yang gelap berkelebat ke wajah Edward.
"Menyerah?"
Felix dan bayangan yang lain bertukar pandang sekilas. Edward mengangkat bahu. "Carlisle memberinya
pilihan."
"Tidak ada pilihan bagi mereka yang melanggar aturan,” sergah Jane datar.
Carlisle angkat bicara, nadanya lunak. “Itu terserah padamu. Selama dia bersedia menghentikan serangannya
terhadap kami, aku tidak merasa perlu menghabisinya. Dia tidak pernah diajari."
"Itu tidak relevan.” Jane bersikeras.
"Terserah padamu."
Jane menatap Carlise dalam kengerian yang melumpuhkan. Ia menggelengkan kepala sedikit, kemudian
mengubah air mukanya.
"Aro berharap kami mampir ke kawasan barat ini untuk menemuimu, Carlisle. Dia kirim salam."
Carlisle mengangguk. "Aku akan sangat berterima kasih kalau kau menyampaikan salamku juga kepadanya."
"Tentu saja,” Jane tersenyum. Wajahnya nyaris manis bila tersenyum seperti itu. Ia menoleh kembali ke kepulan
asap. "Kelihatannya kalian sudah melakukan tugas kami hari ini... sebagian besar di antaranya." Matanya melirik si sandera. "Demi keingintahuan profesional saja, berapa banyak jumlah mereka tadi? Mereka cukup membuat
gempar Seattle."
"Delapan belas, termasuk yang ini,” Carlisle menjawab. Mata Jane melebar, dan ia berpaling kepada kobaran api, seperti menilai ukurannya. Felix dan bayangan yang lain lagi-lagi bertukar pandang, kali ini lebih lama.
"Delapan belas,” ulang Jane, untuk pertama kali suaranya terdengar tidak yakin.
"Semuanya baru,” ungkap Carlisle dengan nada sambil lalu. "Mereka tidak terlatih."
"Semua?" suara Jane berubah tajam. "kalau begitu siapa yang menciptakan mereka?"
"Namanya Victoria,” jawab Edward, tak ada emosi dalam suaranya.
"Tadinya?" tanya Jane.
Edward menelengkan kepalanya ke arah hutan di sebelah timur. Mata Jane terangkat dan terfokus pada sesuatu nun jauh disana. Kepulan asap lain? Aku tidak menoleh untuk mengecek. Jane memandang ke arah timur beberapa saat, kemudian kembali mengamati api unggun yang lebih dekat dengan lebih saksama.
"Si Victoria ini, dia tidak termasuk dalam jumlah delapan belas ini?"
"Ya. Dia hanya membawa satu lagi bersamanya. Pemuda itu tidak semuda gadis ini, tapi hanya lebih tua
kira-kira setahun.”
"Dua puluh.” Jane menghembuskan napas. "Siapa yang membereskan penciptanya?"
"Aku,” jawab Edward.
Mata Jane menyipit, lalu memalingkan wajahnya kepada gadis di sebelah api unggun.
"Hei kau.” panggilnya, suaranya yang kaku terdengar lebih kasar daripada sebelumnya. "namamu."
Si vampir baru malah melayangkan pandangan garang ke arah Jane, bibirnya terkatup rapat. Jane tersenyum bak malaikat. Jeritan si vampir baru memekakkan telinga; tubuhnya melengkung kaku dalam posisi aneh yang tidak natural. Aku membuang muka, melawan dorongan untuk menutup telinga. Kukertakkan gigiku, berharap bisa mengendalikan perutku. Jeritan itu semakin menjadi-jadi. Aku mencoba berkonsentrasi pada wajah Edward yang tenang dan tanpa emosi, tapi itu malah membuatku teringat saat Edward berada di bawah ratapan Jane yang menyiksa, dan aku merasa semakin mual. Akhirnya aku memandang Alice dan Esme di sebelahnya. Wajah mereka juga sama datarnya dengan wajah Edward. Akhirnya, semua tenang kembali.
"Namamu.” tukas Jane lagi, tak ada perubahan dalam suaranya.
"Bree,” si gadis terkesiap.
Jane tersenyum, dan gadis itu menjerit lagi. Aku menahan napas sampai jerit kesakitannya berhenti.
"Dia akan menceritakan apa saja yang ingin kauketahui,” sergah Edward, menahan gemas. "Kau tak
perlu berbuat begitu."
Jane mendongak, tampak sorot geli di matanya yang biasanya terkesan mati itu. "Oh, aku tahu.” katanya, nyengir kepada Edward sebelum berpaling lagi kepada si Vampir muda, Bree.
"Bree,” ucap Jane, suaranya kembali dingin. "Apakah cerita itu benar? Benarkah jumlah kalian dua puluh?"
Gadis itu terbaring dengan napas terengah-engah, Satu sisi wajahnya menempel ke tanah. Ia berbicara dengan
cepat. "Sembilan belas atau dua puluh, mungkin lebih, aku tidak tahu!" Ia mengkeret. takut ketidaktahuannya akan mendatangkan siksaan lagi baginya. "Sara dan si satu lagi yang aku tidak tahu namanya berkelahi dalam perjalanan ke sini.."
"Dan si Victoria ini.. dia yang menciptakanmu?"
"Aku tidak tahu.” jawabnya, mengkeret lagi. "Riley tidak pernah menyebut namanya. Aku tidak sempat
melihatnya malam itu... soalnya gelap sekali, dan sangat menyakitkan.."
Bree bergidik "Riley tidak mau kami bisa memikirkan wanita itu. Kata Riley, pikiran kami tidak aman..."
Mata Jane melirik Edward, kemudian kembali pada gadis itu. Victoria sudah merencanakan hal ini dengan matang. Seandainya ia tidak mengikuti Edward, tidak akan ada yang tahu pasti ia terlibat...
"Ceritakan tentang Riley.” kata Jane. "Kenapa dia membawamu kemari."
"Riley berkata kami harus menghabisi makhluk-makhluk aneh bermata kuning di sini.” Bree mengoceh dengan cepat dan tanpa paksaan. "Katanya, itu mudah saja dilakukan. Katanya. kota ini milik mereka, dan mereka akan datang untuk menghabisi kami. Katanya, kalau mereka sudah dihabisi semua darah akan jadi milik kami. Dia memberi kami bau gadis itu.” Bree mengangkat satu tangan dan menudingkan jarinya ke arahku. "Menurut dia, kami akan tahu kami telah menemukan kelompok yang tepat, karena gadis itu ada bersama mereka. Menurut Riley, siapa pun yang pertama berhasil mendapatkan dia, bisa memilikinya."
Aku mendengar rahang Edward mengejang di sampingku.
"Kelihatannya Riley keliru soal hal yang mudah itu,” Jane berkomentar.
Bree mengangguk, tampak lega karena tidak disiksa lagi. Dengan hati-hati ia duduk. "Aku tidak tahu apa yang
terjadi. kami berpencar, tapi yang lain-lain tak pernah kembali. Riley meninggalkan kami, dan dia tidak datang
membantu kami seperti yang sudah dijanjikan. Kemudian semuanya sangat membingungkan, dan tahu-tahu semua orang sudah bercerai berai." Lagi-lagi ia bergidik. "Aku takut. Aku ingin kabur, orang itu,"dipandanginya Carlisle.
“bilang mereka tidak akan menyakiti aku kalau aku berhenti menyerang."
"Ah tapi bukan haknya menawarkan hal itu, anak muda,” Gumam Jane, nadanya lembut dan ganjil.
"Melanggar aturan menuntut konsekuensi."
Bree menatap Jane, tidak mengerti. Jane berpaling kepada Carlisle. "kau yakin semua sudah
kau bereskan? Bagaimana dengan sebagian yang berpencar itu?"
Wajah Carlisle tampak sangat tenang ketika mengangguk.
"kami juga berpencar."
Jane separuh tersenyum. "Tak bisa kusangkal aku terkesan." Bayang-bayang besar di belakangnya
menggumam setuju. "Belum pernah aku melihat ada kelompok yang bisa selamat seluruhnya dari pelanggaran
aturan dengan skala besar ini. Kalian tahu masalah apa yang melatarbelakanginya? sepertinya ini perilaku ekstrem, bila mengingat gaya hidup kalian di sini. Dan kenapa gadis itu yang menjadi kunci?" Sekilas matanya menatapku tidak suka.
Aku bergidik.
"Victoria mendendam kepada Bella.” Edward menjawab pertanyaan Jane, suaranya dingin.
Jane tertawa, suaranya renyah, tawa ceria anak kecil yang bahagia. "Gadis satu ini selalu memicu timbulnya
berbagai reaksi kuat tapi aneh bagi jenis kita.” Komentarnya, tersenyum langsung padaku, wajahnya bak malaikat. Edward menegang. Aku menoleh dan tepat pada saat itu ia berpaling, memandang Jane lagi.
"Kumohon, bisakah kau tidak melakukan hal itu?"
tanyanya dengan suara kaku.
Lagi-lagi Jane tertawa renyah. "Hanya mengecek. Tidak menimbulkan reaksi apa pun, ternyata."
Aku bergidik, dalam hati sangat bersyukur kelainan dalam tubuhku yang melindungiku dari pengaruh Jane saat
terakhir kali kami bertemu, ternyata masih berfungsi. Lengan Edward memegangku lebih erat.
"Well, kelihatannya tak banyak lagi yang bisa kami lakukan. Aneh," sergah Jane, nada apatis kembali merayap
memasuki suaranya. “Tidak biasanya kedatangan kami siasia seperti ini. Sayang kami terlambat mengikuti pertempuran. Kedengarannya cukup menghibur untuk disaksikan."
"Benar,” Edward menyahut cepat, suaranya tajam.
"Padahal kalian sudah sangat dekat. Sayang kalian tidak datang setengah jam lebih awal. Mungkin kalau begitu
kalian bisa melaksanakan tugas kalian di sini."
Jane membalas tatapan garang Edward dengan bergeming.
"Benar. Sayang sekali pertempuran itu berakhir seperti ini bukan?"
Edward mengangguk, kecurigaannya terbukti. Jane berpaling dan kembali memandangi Bree, wajahnya
benar-benar bosan. "Felix?" panggilnya dengan suara mengalun.
"Tunggu," sela Edward.
Jane mengangkat sebelah alis, tapi Edward menatap Carlisle sambil berbicara dengan nada mendesak. "Kita bisa menjelaskan aturan-aturan yang ada pada gadis muda ini. Sepertinya dia mau belajar. Dia tidak tahu kalau yang dilakukannya itu salah."
"Tentu saja," jawab Carlisle. “Kami jelas siap bertanggung jawab atas diri Bree."
Ekspresi Jane terbelah antara takjub dan tidak percaya.


"Bagi kami tidak ada pengecualian,” tukasnya. "Dan kami tidak pernah memberi kesempatan kedua. Itu tidak
baik bagi reputasi kami. Dan itu membuatku teringat.."
Tiba-tiba, matanya kembali tertuju padaku, dan wajah malaikatnya terkuak menunjukkan lesung pipinya. "Caius
pasti akan sangat tertarik mendengar bahwa ternyata kau masih manusia, Bella. Mungkin dia akan memutuskan
untuk datang."
"Tanggalnya sudah ditentukan,” Alice memberitahu Jane, berbicara untuk pertama kalinya. "Mungkin kami
akan datang mengunjungi kalian beberapa bulan lagi."
Senyum Jane lenyap, dan ia mengangkat bahu dengan lagak tak peduli, tak melirik Alice sedikit pun. Ia berpaling
kepada Carlisle. "Senang bertemu denganmu, Carlisle...kupikir Aro hanya melebih-lebihkan. Well, sampai ketemu lagi nanti...”Carlisle mengangguk, ekspresinya terluka.
"Urus itu, Felix.” kata Jane, mengangguk ke arah Bree, suaranya sarat nada bosan. "Aku mau pulang."
"Jangan lihat.” bisik Edward di telingaku.
Tanpa diminta pun aku tidak akan mau melihat. Sudah cukup banyak yang kulihat hari ini, lebih dari cukup untuk
seumur hidup. Aku memejamkan mata rapat-rapat dan menyembunyikan wajahku ke dada Edward. Tapi aku masih bisa mendengar. Terdengar suara geraman berat dan dalam, disusul suara jeritan tinggi melengking yang sangat familiar. Suara itu tiba-tiba terputus, kemudian satu-satunya suara yang terdengar hanyalah bunyi mengerikan benda patah dan remuk. Tangan Edward mengusap-usap bahuku dengan cemas.
"Ayo,” seru Jane, dan aku mengangkat wajah, masih sempat melihat jubah-jubah kelabu itu menghilang, menuju
asap yang meliuk-liuk. Bau dupa kembali tercium, kuat. Jubah-jubah kelabu itu lenyap di balik kabut tebal.



December 02, 2013

Eclipse Indonesia 19

19. EGOIS
EDWARD menggendongku pulang dalam dekapannya, yakin aku pasti takkan mampu berpegangan padanya. Aku pasti jatuh tertidur dalam perjalanan. Waktu bangun aku sudah berada di tempat tidur dan
cahaya suram menerobos masuk melalui kaca-kaca jendela, miring dan datang dari Sudut yang aneh. Hampir seolaholah hari sudah sore.
Aku menguap dan menggeliat, jari-jariku mencari-cari Edward tapi ia tak ada.
"Edward?' gumamku.
Jemariku yang meraba-raba menyentuh sesuatu yang dingin dan halus. Tangannya.
"Kau sudah benar-benar bangun sekarang," bisik Edward.
"Mmm,” aku mendesah mengiyakan. "Memangnya banyak pertanda palsu?"
"Kau gelisah terus – mengoceh seharian."
"Seharian?” Aku mengerjap-ngerjapkan mata dan menoleh lagi ke jendela.
"Kau habis begadang,” kata Edward menenangkan."Jadi kau pantas tidur seharian."
Aku terduduk, kepalaku pening. Cahaya memang menerobos masuk ke jendelaku dari arah barat. "Wow."
"Lapar?” tebak Edward.” Mau sarapan di tempat tidur?"
"Aku bisa sendiri kok,” erangku, menggeliat lagi. "Aku harus turun dan bergerak."
Edward menggandeng tanganku menuju dapur, mengamatiku dengan waswas, seolah-olah takut aku akan
ambruk. Atau mungkin dikiranya aku melindur. Aku memilih sarapan yang sederhana, memasukkan dua
keping Pop-Tart ke panggangan. Aku melihat bayangan diriku sendiri di lapisan kromnya yang memantulkan
bayangan.

"Ya ampun, aku benar-benar tampak berantakan."
"Semalam memang sangat melelahkan." kata Edward lagi. "Seharusnya kau tinggal saja di sini dan tidur."
"Yang benar saja! Dan ketinggalan semuanya. Kau tahu, kau harus mulai bisa menerima fakta sekarang aku sudah menjadi bagian keluargamu."
Edward tersenyum. "Mungkin lama-lama aku akan terbiasa juga."
Aku duduk menghadapi sarapanku, sementara Edward duduk di sampingku. Ketika kuangkat Pop-Tart untuk
gigitan pertama, kulihat Edward memandangi tanganku. Aku menunduk, dan melihat aku masih mengenakan
hadiah yang diberikan Jacob untukku di pesta.
"Boleh lihat?" tanyanya, meraih bandul serigala kecil dari kayu itu.
Aku menelan dengan suara berisik. "Eh tentu."
Edward menyeimbangkan patung mungil itu di telapak tangannya yang putih. Sesaat, aku sempat takut. Hanya
dengan sedikit remasan jari-jarinya, bandul itu bakal remuk. Tapi tentu saja Edward takkan berbuat begitu. Punya pikiran seperti itu saja sudah membuatku malu. Edward hanya menimang-nimang serigala kecil itu di telapak tangannya berapa saat, lalu melepasnya. Bandul itu berayun pelan di pergelangan tanganku.
Aku mencoba membaca ekspresi di matanya. Yang kulihat hanya ekspresi berpikir, semua yang lain
dipendamnya, kalau memang ada yang lain.
"Jacob Black boleh memberimu hadiah."
Itu bukan pertanyaan, atau tuduhan. Hanya pernyataan fakta. Tapi aku tahu ia merujuk pada hari ulang tahun
terakhirku serta kekesalanku karena diberi berbagai hadiah,waktu itu aku tidak menginginkan apa-apa.
Terutama tidak dari Edward. Memang tidak sepenuhnya logis, dan, tentu saja, semua orang tetap mengabaikan
keinginanku...
"Kau sudah sering memberiku hadiah," aku mengingatkan dia. "Kau tahu aku suka barang-barang
buatan sendiri."
Edward mengerucutkan bibirnya sejenak. "Bagaimana kalau barang yang dulunya milik orang lain Apakah itu bisa diterima?"
"Maksudmu?"
"Gelang ini.” Telunjuk Edward menyusuri gelang yang melingkar di pergelangan tanganku. "Kau akan sering
memakainya?"
Aku mengangkat bahu.
"Karena kau tidak ingin melukai perasaannya," Edward menduga dengan cerdik.
"Tentu, kurasa begitu."
"Adilkah menurutmu, kalau begitu?" tanya Edward, menunduk menatap tanganku sambil bicara. Ia
membalikkan tanganku hingga telapakku menghadap ke atas, lalu ujung jarinya menyusuri urat-urat nadi di
pergelangan tanganku. "Kalau aku juga memberimu sesuatu yang bisa merepresentasikan aku?"
"Merepresentasikanmu?"
"Sebuah bandul, sesuatu yang akan selalu membuatmu teringat padaku."
"Aku selalu mengingatmu. Tidak perlu pengingat lain."
"Kalau aku memberimu sesuatu, maukah kau memakainya? "desak Edward.
"Benda yang pernah dimiliki seseorang?" aku mengecek.
"Ya, sesuatu yang sudah lama kusimpan." Edward menyunggingkan senyum malaikatnya. Kalau hanya ini reaksi Edward terhadap hadiah Jacob, aku akan menerimanya dengan senang hati. “Apa saja asal kau bahagia."
"Kau menyadari ketidakseimbangannya, bukan?" tanyanya, nada suaranya berubah menuduh. "Karena aku
jelas menyadarinya."
"Ketidakseimbangan apa?"
Mata Edward menyipit. "Orang lain boleh memberimu hadiah sesuka mereka. Semua kecuali aku. Aku ingin sekali memberimu hadiah kelulusan tapi itu tidak kulakukan. Aku tahu itu akan membuatmu lebih marah daripada kalau orang lain yang memberimu hadiah. Itu sangat tidak adil. Bagaimana kau menjelaskan alasanmu?"
"Gampang.” Aku mengangkat bahu. "Kau lebih penting dari pada semua orang lain. Dan kau sudah memberiku
dirimu. Itu lebih daripada yang pantas kuterima, dan hadiah lain, apa pun, yang kuterima darimu, hanya akan
membuat posisi kita makin tak seimbang."
Edward mencerna penjelasanku sesaat, kemudian memutar bola matanya. "Caramu menghargaiku benarbenar
konyol."
Aku mengunyah sarapanku dengan tenang. Aku tahu Edward tidak akan mengerti bila kukatakan padanya
pikirannya itu terbalik. Ponsel Edward mendengung. Diperhatikannya dulu nomor yang tertera di sana
sebelum menerimanya. "Ada apa, Alice?"
Edward mendengarkan, dan aku menunggu reaksinya, mendadak gugup. Tapi apa pun yang dikatakan Alice tidak membuat Edward terkejut. Ia mendesah beberapa kali.
"Rasa-rasanya aku sudah menduga akan seperti itu," kata Edward kepada Alice, menatap mataku. alisnya terangkat dengan sikap tidak setuju. "Dia bicara dalam tidurnya."
Pipiku merah padam. Memangnya apa lagi yang kuocehkan?
"Serahkan saja padaku," janjinya.
Edward menatapku garang sambil memutuskan hubungan.
"Apakah ada yang ingin kaubicarakan denganku?"
Aku menimbang-nimbang sesaat. Menilik peringatan Alice semalam, aku bisa menebak maksud Alice menelepon Edward. Kemudian aku teringat mimpi-mimpi mengganggu yang kualami waktu aku tidur seharian, dalam mimpi itu aku mengejar Jasper, berusaha mengikutinya dan menemukan lapangan terbuka di tengah hutan yang berkelok-kelok menyesatkan, tahu aku akan menemukan Edward di sana... Edward. serta para monster yang ingin membunuhku, tapi aku tidak peduli pada mereka karena sudah membuat keputusan, aku sudah bisa menebak apa yang didengar Edward sementara aku tidur."
Aku mengerucutkan bibir sesaat, tak sanggup membalas tatapannya. Edward menunggu.
"Aku suka ide Jasper," kataku akhirnya. Edward mengerang.
"Aku ingin membantu. Aku harus melakukan sesuatu," aku bersikeras.
"Tidak akan membantu kalau kau berada dalam bahaya."
"Menurut Jasper itu bisa membantu. Ini kan keahliannya."
Edward memelototiku.
"Kau tidak bisa membuatku menyingkir," ancamku.
"Aku tidak mau bersembunyi di hutan sementara kalian mempertaruhkan nyawa demi aku."
Tiba-tiba Edward menahan senyumnya yang nyaris terkuak. "Alice tidak melihatmu di lapangan, Bella. Dia
melihatmu tersaruk-saruk di tengah hutan, tersesat. Kau takkan bisa menemukan kami; kau hanya akan membuatku membuang banyak waktu untuk mencarimu sesudahnya."
Aku berusaha tetap bersikap setenang Edward. "Itu karena Alice tidak memperhitungkan faktor Seth
Clearwater,” ujarku sopan. "Kalau dia memperhitungkan hal itu, tentu saja dia tidak akan bisa melihat apa-apa sama sekali. Tapi kedengarannya Seth juga ingin berada di medan pertempuran, sama sepertiku. Jadi pasti tidak terlalu sulit membujuknya untuk menunjukkan jalan padaku."
Amarah melintas di wajah Edward, kemudian ia menarik napas dalam-dalam dan menenangkan diri.
"Mungkin saja itu bisa berhasil... kalau kau tidak memberitahuku. Sekarang. aku tinggal meminta Sam
memberi perintah khusus kepada Seth. Biarpun ingin, Seth tidak mungkin bisa mengabaikan perintah semacam itu."
Aku tetap menyunggingkan senyum ceria. "Tapi untuk apa Sam memberi perintah semacam itu?" Kalau aku bilang padanya kehadiranku di sana justru akan membantu?"
Berani bertaruh, Sam pasti lebih suka meluluskan permintaanku daripada permintaanmu."
Edward berusaha keras menahan diri lagi. "Mungkin kau benar. Tapi aku yakin Jacob pasti juga bersedia memberi perintah yang sama."
Keningku langsung berkerut. "Jacob?"
"Jacob orang kedua. Pernahkah dia memberitahumu hal itu? Perintahnya juga harus ditaati."
Edward berhasil membungkam perlawananku, dan melihat senyumannya, ia pun tahu itu. Keningku berkerut.
Jacob pasti bakal berpihak kepada Edward,dalam urusan yang satu ini,aku betul-betul yakin. Dan Jacob tidak pernah memberi tahu hal itu padaku. Edward memanfaatkan kebingungan sesatku dengan meneruskan kata-katanya dengan nada kalem dan menenangkan yang mencurigakan itu.
"Aku mendapat kesempatan melihat ke dalam pikiran kawanan itu semalam. Ternyata lebih seru daripada cerita
sinetron. Aku sama sekali tidak mengira betapa kompleksnya situasi dalam sebuah kawanan yang begitu
besar. Bagaimana keinginan individual harus berhadapan dengan keinginan kelompok... Menarik sekali."
Edward jelas-jelas berusaha mengalihkan pikiranku. Kupelototi ia dengan galak.
"Jacob menyimpan banyak rahasia.” kata Edward sambil nyengir.
Aku tidak menyahut, aku terus saja memelototinya, mempertahankan argumenku dan menunggu peluang.
"Misalnya saja, kau lihat tidak serigala abu-abu kecil yang ada di sana semalam?" Aku mengangguk kaku.
Edward terkekeh. "Mereka sangat memercayai legenda. Tapi ternyata, terjadi banyak hal baru yang dalam kisahkisah itu justru tidak pernah ada."
Aku mengembuskan napas. "Oke, kumakan umpanmu. Apa maksudmu sebenarnya?"
"Mereka selalu menerima tanpa ragu bahwa hanya cucu lelaki langsung serigala aslilah yang memiliki kemampuan untuk berubah."
"Jadi ada seseorang yang bukan cucu lelaki langsung yang berubah?"
"Ya. Tapi dia memang cucu perempuan langsung."
Aku berkedip, mataku membelalak, "Perempuan?"

Edward mengangguk. "Dia mengenalmu. Namanya Leah Clearwater."
"Jadi Leah juga werewolf!" pekikku. "Apa?" Sudah berapa lama Kenapa Jacob tidak memberitahuku?"
"Ada hal-hal yang tidak boleh dia ceritakan kepada siapa pun, misalnya saja, berapa jumlah mereka. Seperti
kukatakan tadi, kalau Sam memberi perintah, kawanan itu tidak bisa tidak mematuhi. Jacob sangat berhati-hati untuk memikirkan hal-hal lain bila dia berada di dekatku. Tentu saja, setelah semalam, semuanya terbuka lebar."
"Aku tidak percaya. Leah Clearwater!" Mendadak aku ingat Jacob pernah bercerita tentang Leah dan Sam, serta
bagaimana Jacob mendadak bersikap seolah-olah ia sudah kelepasan omong, setelah berkata Sam harus menatap mata Leah setiap hari dan tahu ia telah melanggar semua janjinya sendiri... Leah di tebing. setetes air mata berkilau di pipinya ketika Quil Tua berbicara tentang beban dan pengorbanan yang dipikul anak-anak lelaki suku Quileute... Dan Billy yang mendadak jadi sering bertandang ke rumah Sue karena ia memiliki masalah dengan anak-anaknya... dan masalah itu ternyata bahwa kedua anaknya sekarang menjadi werewolf!
Sebelumnya aku tidak begitu memikirkan Leah Clearwater, hanya ikut sedih karena ayahnya, Harry,
meninggal dunia, kemudian merasa kasihan padanya waktu Jacob menceritakan padaku tentang kisah cintanya, berapa proses imprint aneh antara Sam dan sepupunya Emily telah menghancurkan hati Leah.
Dan sekarang ia menjadi anggota kawanan Sam, mendengar pikiran-pikirannya... dan tak bisa menyembunyikan pikirannya sendiri. Aku paling tidak menyukai bagian yang itu. Jacob pernah berkata. Semua yang membuatmu malu, terpampang jelas dan bisa diketahui semua orang.
"'Kasihan Leah." bisikku.
Edward mendengus. "Dia membuat hidup jadi sangat tidak menyenangkan bagi yang lain-lain. Aku tak yakin dia
pantas mendapat simpatimu."
"Apa maksudmu?"
"Ini saja sudah sulit bagi mereka, saling mengetahui pikiran masing-masing. Sebagian besar berusaha bekerja
sama, untuk lebih memudahkan keadaan. Karena jika satu orang saja sengaja bersikap jahat, semua ikut merasakan sakitnya."
"Leah punya alasan kuat untuk itu,” gumamku, masih memihak Leah.
"Oh, aku tahu." ucap Edward. "Keharusan imprint adalah satu hal teraneh yang pernah kusaksikan seumur
hidupku. padahal aku sudah melihat hal-hal yang benarbenar aneh."
Edward menggeleng-geleng takjub. "Saat menggambarkan bagaimana Sam terikat kepada Emily-nya
– atau mungkin lebih tepat kukatakan Sam-nya Leah. Sam benar-benar tidak punya pilihan. Itu mengingatkanku pada cerita A Midsummer Night's Dream ketika semua kekacauan disebabkan mantra cinta para peri... seperti sihir saja."
"Kasihan Leah,” ujarku lagi. "Tapi apa maksudmu bersikap jahat?"
"Leah terus-menerus memikirkan hal-hal yang lebih suka mereka lupakan.” Edward menjelaskan. "Misalnya saja,
soal Embry."
"Memangnya ada apa dengan Embry?" tanyaku, terkejut.
"Ibunya pindah dari reservasi Makah tujuh belas tahun lalu, saat Embry masih dalam kandungan. Ibunya bukan
suku Quileute. Semua orang berasumsi ibu Embry meninggalkan ayahnya bersama suku Makah. Tapi
kemudian Embry bergabung dengan kawanan serigala."
"Lantas?"
"Jadi, kandidat utama ayah Embry adalah Quil Ateara, St Joshua Uley, atau Billy Black, yang semuanya masih
beristri saat itu, tentu saja."
“Ah, yang benar,” aku terkesiap. Edward benar, persis seperti cerita sinetron.
"Sekarang Sam, Jacob, dan Quil bertanya-tanya siapa di antara mereka yang memiliki saudara seayah. Mereka
semua berharap Sam-lah saudara seayah Embry, karena bisa dibilang ayah Sam memang tidak baik. Tapi keraguan itu selalu ada. Jacob sendiri tidak berani bertanya kepada Billy tentang hal itu."
"Wow. Bagaimana kau bisa tahu sebanyak itu hanya dalam satu malam?"
"Pikiran kawanan itu menakjubkan. Semua berpikir bersama, sekaligus sendiri-sendiri pada saat bersamaan.
Banyak sekali yang bisa dibaca!"'
Nadanya terdengar sedikit menyesal seperti orang yang terpaksa berhenti membaca buku yang bagus sebelum
klimaks. Aku tertawa.
"Kawanan itu memang menakjubkan," aku sependapat.
"Hampir sama menakjubkannya denganmu saat berusaha mengalihkan pikiranku."
Ekspresi Edward kembali berubah sopan,wajah datar yang sempurna.
"Aku harus berada di sana, Edward.”
"Tidak,” tukas Edward dengan nada tegas yang tak bisa ditawar-tawar lagi.
Saat itulah sebuah ide muncul di benakku. Sebenarnya aku tidak perlu berada di lapangan itu. Aku
hanya perlu berada di tempat yang sama dengan Edward. Kejam, tuduhku pada diri sendiri. Egois. egois, egois!
Jangan lakukan itu! Aku tak memperdulikan akal sehatku. Namun aku juga tidak berani menatap mata Edward saat bicara. Perasaan bersalah membuat mataku terpaku ke meja.
"Oke, begini. Edward,” bisikku. "Masalahnya begini... aku dulu sudah pernah gila. Aku tahu sampai di mana batas kemampuanku. Dan aku tak sanggup kalau kau meninggalkan aku lagi."
Aku tidak mengangkat wajah untuk melihat reaksinya, takut mengetahui betapa menyakitkannya kata-kataku itu
baginya. Aku memang mendengarnya terkesiap kaget dan sejurus kemudian terdiam. Kupandangi daun meja yang terbuat dari kayu berwarna gelap, berharap bisa menarik lagi kata-kataku tadi. Tapi mungkin juga tidak kalau itu bisa membuahkan hasil.
Tiba-tiba Edward memelukku, tangannya membelai wajah dan lenganku. Ia menenangkan aku. Perasaan
bersalahku semakin menjadi-jadi. Tapi naluri menyelamatkan diri lebih kuat. Tidak diragukan lagi Edward merupakan faktor penting keselamatanku.
"Kau tahu tidak akan seperti itu. Bella.” gumamnya.
"Aku tidak akan jauh-jauh darimu, dan sebentar saja aku pasti sudah selesai."
"Aku tidak sanggup,” aku bersikeras, tetap menunduk.
"Tidak tahu apakah kau akan kembali atau tidak. Bagaimana aku bisa menjalaninya, tak peduli betapapun
cepatnya itu berakhir?"
Edward mendesah."Pasti akan berakhir dengan mudah, Bella. Tidak ada alasan untuk takut."
"Tidak ada sama sekali?"
"Sama sekali tidak."
"Dan semua akan baik-baik saja?"
"Semuanya,” janji Edward.
“Jadi aku sama sekali tidak perlu berada di sana?"
"Tentu saja tidak. Alice baru saja memberi tahu jumlahnya berkurang jadi sembilan belas. Kami pasti bisa
menghadapi mereka dengan mudah."
"Benar,kau pernah bilang saking mudahnya, janganjangan ada di antara kalian yang tinggal duduk-duduk
santai," aku mengulangi perkataan Edward semalam.
"Apakah kau sungguh-sungguh dengan ucapanmu."
"Ya."
Rasanya terlalu mudah,Edward pasti sudah bisa menebak maksudku. "Begitu mudahnya hingga kau bisa
tidak ikut?"
Setelah lama tidak terdengar apa-apa, akhirnya aku menengadah untuk melihat ekspresinya.
Wajah Edward kembali datar. Aku menghela napas dalam-dalam. "Jadi harus salah satu. Apakah situasinya lebih berbahaya daripada yang kau ingin kuketahui, dan itu berarti aku berhak berada di sana, melakukan sebisaku untuk membantu. Atau... ini akan sangat mudah sehingga mereka bisa mengatasinya tanpa
kau. Mana yang lebih tepat?"
Edward diam saja.
Aku tahu apa yang ia pikirkan,hal yang sama seperti yang kupikirkan. Carlisle, Esme, Emmett, Rosalie, Jasper.
Dan.... aku memaksa diriku memikirkan nama terakhir, dan Alice. Aku penasaran apakah aku ini monster. Bukan monster seperti anggapan Edward, tapi monster sungguhan. Yang senang menyakiti orang. Yang tidak mempunyai batasan jika itu berkaitan dengan apa yang mereka inginkan.
Yang kuinginkan hanyalah supaya Edward tetap aman, aman bersamaku. Apakah aku memiliki batasan apa yang akan kulakukan, apa yang bersedia kukorbankan demi meraihnya? Entahlah.
"Kau memintaku membiarkan mereka bertempur tanpa bantuanku?"' Tanya Edward pelan.
"Ya," Mengagetkan bagaimana aku bisa menjaga suaraku tetap tenang, padahal dalam hati aku begitu kacau.
“Atau membiarkanku ikut. Yang mana saja, asal kita bisa bersama."
Edward menghela napas dalam-dalam. Kemudian mengembuskannya lambat-lambat. Ia mengulurkan tangan
dan merengkuh kedua pipiku, memaksaku menatapnya. Ditatapnya mataku lama sekali. Aku bertanya-tanya dalam hati apa yang ia cari, dan apa yang ia temukan. Apakah perasaan bersalah terlihat begitu jelas di wajahku seperti halnya itu terasa di perutku – membuatku mual? Matanya mengejang akibat emosi yang tak bisa kubaca,
dan Edward. menurunkan satu tangan untuk mengeluarkan ponselnya lagi.
"Alice.” desahnya. "Bisakah kau datang sebentar untuk menjaga Bella?" Ia mengangkat sebelah alis, menantangku membantah ucapannya. "Aku perlu bicara dengan Jasper."
Alice pasti setuju. Edward menyimpan ponselnya dan kembali memandangi wajahku.
"Apa yang akan kaukatakan kepada Jasper?" bisikku.
"Aku akan mendiskusikan kemungkinan... aku tidak ikut bertempur."
Dari wajahnya kentara sekali sulit bagi Edward mengucapkan kata-kata itu.
"Maafkan aku."
Aku memang menyesal. Aku tidak suka membuatnya melakukan hal ini. Namun sesalku tak cukup besar hingga
aku bisa menyunggingkan senyum palsu dan mengizinkannya pergi tanpa aku. Jelas tidak sebesar itu.
"Jangan meminta maaf," kata Edward, tersenyum sedikit.
"Jangan pernah takut mengungkapkan perasaanmu, Bella. Kalau memang ini yang kaubutuhkan.." Edward
mengangkat bahu. "Kau prioritas utamaku."
"Maksudku bukan begitu,seolah-olah kau harus memilih aku atau keluargamu."
"Aku tahu itu, lagi pula, bukan itu yang kauminta. Kau memberiku dua alternatif yang bisa kauterima, dan aku
memilih salah satu yang bisa kuterima. Itu namanya berkompromi."
Aku mencondongkan tubuh dan meletakkan keningku di dadanya. "Terima kasih," bisikku.
"Tidak apa-apa," sahut Edward, mengecup rambutku.
"Tidak apa-apa."
Lama sekali kami tidak bergerak. Aku tetap menyembunyikan wajahku, membenamkannya di bajunya. Dua suara berebut bicara dalam hatiku. Yang satu ingin aku bersikap baik dan berani, yang lain menyuruh sisi baikku
untuk tidak banyak mulut.
"Siapa itu istri ketiga?" tahu-tahu Edward bertanya.
"Hah?" tukasku, sengaja mengulur-ulur. Aku tidak ingat pernah bermimpi tentang hal itu lagi.
"Kau menyebut-nyebut 'istri ketiga’ semalam. Soal yang lain-lain memang tidak begitu masuk akal, tapi yang satu itu benar-benar membuatku bingung."
Edward menjauhkan tubuhnya dariku dan menggelengkan kepala, mungkin bingung mendengar nada
tidak suka dalam suaraku.
"Oh. Eh, yeah. Itu hanya satu dari beberapa kisah yang kudengar di acara api unggun waktu itu," Aku mengangkat bahu. "Ceritanya jadi menempel di kepalaku."
Belum sempat Edward bertanya, Alice sudah muncul di ambang pintu dapur dengan ekspresi masam.
"Kau akan melewatkan semua yang asyik-asyik." gerutunya.
"Halo, Alice,” Edward menyapanya. Ia meletakkan satu jari di bawah daguku dan menengadahkan wajahku,
menciumku sebelum pergi.
"Aku akan kembali lagi nanti.” janjinya padaku."Aku akan membicarakan masalah ini dengan yang lain,
membuat berapa pengaturan."
"Oke.”
"Tak banyak yang perlu diatur,” tukas Alice. “Aku sudah memberi tahu mereka. Emmett senang sekali.”
Edward mendesah. "Tentu saja dia senang."
Edward berjalan ke luar, meninggalkanku untuk menghadapi Alice. Alice memandangiku marah.
"Maafkan aku,” lagi-lagi aku meminta maaf
"Menurutmu, hal ini akan semakin membahayakan kalian?"
Alice mendengus. "Kau terlalu khawatir, Bella. Bisa-bisa kau cepat ubanan."
"Kenapa kau kesal kalau begitu."
"Edward bersikap sangat menyebalkan jika kemauannya tidak dituruti. Aku hanya mengantisipasi hidup bersamanya selama beberapa bulan ke depan." Alice mengernyit.
"Kurasa, kalau itu membuatmu tetap waras, tak ada salahnya melakukannya. Tapi harapanku kau bisa
mengatasi rasa pesimismu, Bella. Itu sangat tidak perlu."
"Apa kau akan membiarkan Jasper pergi tanpa kau?" tuntutku.
Alice meringis, "Itu lain.”
“Apanya yang lain."
"Cepat bersihkan dirimu,” perintahnya. "lima belas menit lagi Charlie sampai di rumah, dan kalau kau
kelihatan seperi ini, dia pasti tidak akan mengizinkanmu keluar lagi."
Wow, aku benar-benar kehilangan sehari penuh Rasanya benar-benar rugi. Untung nantinya aku tidak selalu harus membuang-buang waktuku dengan tidur. Aku sudah rapi waktu Charlie sampai di rumah, berpakaian lengkap, baju rapi, dan sibuk di dapur memasakkan makan malam untuknya. Alice duduk di tempat Edward biasa duduk dan sepertinya itu langsung membuat Charlie bersikap ceria.
"Halo, Alice! Bagaimana kabarmu, Sayang?"
"Aku baik-baik saja, Charlie, trims.”
"Akhirnya bangun juga kau, tukang tidur,” kata Charlie padaku waktu aku duduk di sebelahnya, sebelum berpaling kembali kepada Alice. "Semua orang ramai membicarakan pesta yang diadakan orangtuamu semalam. Wah, kalian pasti repot sekali membereskan seisi rumah."
Alice mengangkat bahu. Karena sudah mengenal Alice dengan baik, itu pasti sudah selesai dikerjakan.
"Tidak percuma kok,” ujarnya. “Pestanya meriah."
"Mana Edward?" tanya Charlie, sedikit enggan. “Apa dia sedang membantu beres-beres?"
Alice mengembuskan napas dan wajahnya berubah murung. Mungkin itu hanya akting, tapi terlalu sempurna di
mataku sehingga rasanya mengerikan. "Tidak. Dia sedang sibuk merencanakan acara akhir pekan bersama Emmett dan Carlisle."
"Hiking lagi?"
Alice mengangguk, wajahnya mendadak sendu. “Ya. Mereka semua pergi, kecuali aku. Kami selalu pergi
backpacking pada akhir tahun ajaran, semacam perayaan, tapi tahun ini aku memutuskan lebih suka belanja daripada hiking, tapi tak seorang pun mau tinggal untuk menemaniku. Aku sendirian."
Wajah Alice berkerut, ekspresinya begitu sedih sampaisampai Charlie otomatis mencondongkan tubuh ke
arahnya, sebelah tangan terulur, seperti ingin menolong. Kupelototi Alice dengan sikap curiga. Apa lagi yang
dilakukannya sekarang?
"Alice, Sayang, kenapa kau tidak menginap saja di sini bersama kami?" Charlie menawarkan. “Aku tidak suka
membayangkan kau sendirian di rumah besar itu."
Alice mendesah. Sesuatu menginjak kakiku di bawah meja.
"Aduh!" protesku.
Charlie berpaling kepadaku. "Apa?"
Alice melayangkan pandangan frustrasi ke arahku. Kentara sekali ia menganggapku sangat lamban malam ini.
"Jari kakiku terantuk," gumamku.
"Oh," Charlie menoleh lagi kepada Alice. "Jadi.. bagaimana tawaranku tadi?"
Lagi-lagi Alice menginjak kakiku, kali ini tidak terlalu keras.
'"Eh, Dad, Dad kan tahu akomodasi di sini kurang memadai. Berani bertaruh, Alice pasti tidak mau tidur di
lantai kamarku.."
Charlie mengerucutkan bibir. Alice menunjukkan ekspresi murung itu lagi.
'"Kalau begitu, mungkin sebaiknya Bella menemanimu di rumahmu,” Charlie menyarankan. "Hanya sampai
orangtuamu kembali.'"
"Oh, kau mau, tidak, Bella?" Alice tersenyum berseri-seri padaku. “Kau tidak keberatan shopping denganku, kan?"
"Tentu,” aku setuju. "Shopping. Oke.”
"Kapan mereka berangkat?" tanya Charlie.
Lagi-lagi Alice mengernyit. "Besok."
"Kapan kau mau aku datang?" tanyaku.
"Sehabis makan malam, kurasa,” jawabnya, kemudian menempelkan telunjuknya di dagu, berpikir-pikir. "Hari
Sabtu kau tidak ada acara apa-apa, kan? Aku ingin shopping ke luar kota, pergi seharian."
"Jangan ke Seattle,” sela Charlie, alisnya bertaut.
"Tentu saja tidak,” Alice langsung menyanggupi, walaupun kami tahu Seattle justru akan sangat aman pada
hari Sabtu.
"Maksudku ke Olympia, mungkin.."
"Kau pasti senang, Bella.” Charlie riang karena lega. "Pergilah, sekali-sekali menghirup udara kota."
"Yeah, Dad. Pasti asyik."
Dengan satu obrolan ringan, Alice berhasil mendapatkan izin bagiku untuk keluar pada malam terjadinya
pertempuran. Edward kembali tak lama kemudian. Diterimanya saja ucapan selamat bersenang-senang dari Charlie tanpa perasaan terkejut. Ia berkata mereka harus berangkat pagipagi sekali besok, dan berpamitan sebelum waktu biasanya ia pulang.
Alice ikut pulang bersamanya. Aku permisi hendak tidur tak lama setelah mereka pulang.
"Masa kau sudah capek lagi," protes Charlie.
"Sedikit,” dustaku.
"Pantas kau sering mangkir menghadiri pesta,” gerutu Charlie. "Kau butuh waktu yang sangat lama untuk pulih."
Di lantai atas, Edward sudah berbaring melintang di tempat tidurku.
"Jam berapa kita akan bertemu dengan para serigala?" bisikku sambil mendekatinya.
"Satu jam lagi."
"Bagus. Jake dan teman-temannya butuh tidur."
"Mereka tidak butuh tidur sebanyak kau," tukasnya. Aku beralih ke topik lain, berasumsi Edward berniat
membujukku tinggal saja di rumah. "Alice sudah cerita padamu, belum, kalau dia menculikku lagi?"
Edward nyengir. "Sebenarnya, bukan begitu."
Kutatap Edward, bingung, dan ia tertawa pelan melihat ekspresiku.
"Akulah satu-satunya yang diizinkan menyanderamu, ingat?" tanya Edward. "Alice akan pergi berburu bersama
mereka semua." Ia mendesah. "Kurasa aku tidak perlu melakukan itu sekarang."
"Jadi kau yang akan menculikku?" Edward mengangguk.
Aku berpikir sebentar. Tidak ada Charlie yang mendengarkan di lantai bawah, sesekali datang untuk
mengecek. Dan di seantero rumah tidak ada vampir yang tidak pernah tidur dengan pendengaran mereka yang luar biasa sensitif. Hanya dia dan aku – benar-benar sendirian.
"Kau tidak keberatan, kan?" tanya Edward, cemas melihatku terdiam.
"Well... tentu tidak. kecuali satu hal."
"Apa itu?" Mata Edward tampak gelisah. Membingungkan, tapi entah kenapa Edward sepertinya masih merasa tidak yakin ia memilikiku. Mungkin aku perlu lebih memperjelas maksudku.
"Kenapa Alice tidak bilang saja kepada Charlie bahwa kau berangkat malam ini?" tanyaku.
Edward tertawa, lega.
Aku menikmati perjalanan ke lapangan lebih daripada semalam. Aku masih merasa bersalah, masih takut, tapi
tidak ketakutan lagi. Aku bisa berfungsi. Aku bisa melihat melewati apa yang akan terjadi, dan nyaris meyakini bahwa mungkin keadaan akan baik-baik saja. Ternyata Edward bisa menerima usul untuk tidak ikut berperang... dan karena itulah, sulit untuk tidak memercayainya waktu mengatakan mereka bisa memenangkan peperangan ini dengan mudah.
Edward tidak mungkin berani meninggalkan keluarganya kalau ia sendiri tidak percaya. Mungkin Alice benar, aku
terlalu khawatir. Kami yang terakhir sampai di lapangan. Jasper dan Emmett sudah bergulat, hanya pemanasan
kalau mendengar tawa mereka, Alice dan Rosalie duduk di tanah yang keras, menonton. Esme dan Carlisle mengobrol berapa meter dari sana, kepala mereka berdekatan, jari-jari saling bertautan, tak memedulikan sekeliling mereka. Malam ini suasana jauh lebih benderang, cahaya bulan menerobos awan-awan tipis, dan aku bisa dengan mudah melihat tiga serigala duduk mengitari arena latihan, satu sama lain terpisah cukup jauh, supaya bisa menonton dari sudut berbeda.
Aku juga langsung bisa mengenali Jacob; aku pasti akan langsung mengenalinya, walaupun seandainya ia tidak
mendongak dan menengok begitu mendengar kami datang.

"Mana serigala-serigala yang lain?" tanyaku.
"Tidak semuanya perlu datang ke sini. Satu saja sudah cukup, tapi Sam tidak terlalu percaya kepada kita sehingga berani mengirim Jacob sendirian, walaupun Jacob bersedia. Quil dan Embry adalah... kurasa kau bisa menyebut mereka pendamping Jacob."
"Jacob percaya padamu.”
Edward mengangguk. "Dia percaya kami tidak akan mencoba membunuhnya. Hanya itu, tapi."
"Apakah kau akan ikut berpartisipasi malam ini?" tanyaku, ragu-ragu. Aku tahu hampir sama sulitnya bagi
Edward ditinggal sendirian, sama seperti aku sulit ditinggal olehnya. Mungkin malah lebih sulit.
"Aku akan membantu Jasper kalau dia membutuhkan. Dia ingin mencoba beberapa pengelompokan yang tidak
seimbang. mengajari mereka caranya menghadapi beberapa penyerang sekaligus."
Edward mengangkat bahu.
Gelombang kepanikan baru langsung menghancurkan rasa percaya diriku yang singkat tadi.
Mereka terap kalah banyak. Aku malah semakin memperparah keadaan. Mataku menatap lapangan, berusaha menyembunyikan kepanikanku. Ternyata aku memandang ke tempat yang salah, sementara aku berusaha keras membohongi diri sendiri, meyakinkan diriku segala sesuatu akan berjalan seperti kemauanku. Karena ketika aku memaksa mataku berpaling dari keluarga Cullen,mengalihkan pandangan dari latihan perang-perangan yang beberapa hari lagi akan menjadi nyata dan mematikan, mataku tertumbuk kepada Jacob dan ia tersenyum.
Lagi-lagi seringaian khas serigala seperti yang ditunjukkannya kemarin, matanya menyipit seperti yang
biasa dilakukannya saat berwujud manusia.
Sulit dipercaya bahwa, belum lama berselang, aku menganggap serigala-serigala itu mengerikan, sampaisampai
aku tidak bisa tidur karena terganggu mimpi buruk mengenai mereka. Aku tahu, tanpa bertanya, yang mana Embry dan yang mana Quil. Karena Embry jelas-jelas serigala kelabu kurus dengan bercak-bercak gelap di punggungnya, yang duduk menonton dengan sabar, sementara Quil-bulunya cokelat tua, dengan warna lebih terang di daerah sekitar wajah, bergerak-gerak terus, sepertinya sangat ingin bergabung dengan perang-perangan itu. Mereka bukan monster, bahkan dalam keadaan seperti ini. Mereka teman.
Teman yang tidak terlihat tak terkalahkan seperti Emmett dan Jasper, yang bergerak lebih cepat daripada
pagutan kobra, dengan cahaya bulan memantul berkilauan di kulit mereka yang sekeras granit. Teman yang
kelihatannya tidak memahami bahaya yang mengancam di sini. Teman yang tidak abadi, yang bisa berdarah, yang bisa tewas....
Rasa percaya diri Edward memang meyakinkan, karena kentara sekali ia tidak terlalu mengkhawatirkan
keselamatan keluarganya. Tapi apakah ia akan sedih jika sesuatu terjadi pada serigala-serigala itu? Adakah alasan baginya untuk merasa cemas, bila kemungkinan itu tidak mengganggunya sama sekali? Rasa percaya diri Edward hanya berlaku untuk satu sisi ketakutanku.
Aku berusaha membalas senyum Jacob, menelan ludah dengan susah payah karena tenggorokanku bagai tersumbat. Sepertinya aku tidak berhasil menyunggingkan senyum yang wajar. Jacob melompat ringan, kelincahannya tampak tak sepadan dengan tubuhnya yang besar, dan ia berlari-lari kecil menghampiri Edward dan aku yang berdiri di pinggir arena.
"Jacob," Edward menyapanya sopan.
Jacob tidak menggubrisnya, mata hitamnya tertuju padaku, ia merendahkan kepalanya hingga sejajar
denganku, seperti yang dilakukannya kemarin. menelengkannya ke satu sisi.
Dengkingan pelan keluar dari moncongnya.
“Aku baik-baik saja." jawabku. tanpa perlu diterjemahkan Edward. "Hanya khawatir."
Jacob terus memandangiku.
"Dia ingin tahu kenapa." gumam Edward. Jacob menggeram – nadanya tidak mengancam, hanya
kesal – dan bibir Edward bergerak-gerak.
"Apa?" tanyaku.
"Dia menganggap terjemahanku tidak tepat. Sebenarnya yang dia pikirkan adalah, ‘itu benar-benar bodoh. Apa yang perlu dikhawatirkan?’ Aku mengeditnya karena menurutku itu kasar."
Aku tersenyum setengah hati, kelewat cemas untuk benar-benar merasa geli. "Justru banyak sekali yang perlu
dikhawatirkan,” kataku kepada Jacob. "Seperti misalnya, segerombolan serigala bodoh mencelakakan diri sendiri."
Jacob mengumandangkan tawanya yang menggonggong itu. Edward mendesah. "Jasper minta bantuan. Kau bisa kan tanpa penerjemah?"
"Bisa."
Sejenak Edward menatapku sendu, ekspresinya sulit dimengerti, lalu ia berbalik dan berjalan ke tempat Jasper
sudah menunggu. Aku duduk di tempatku berdiri tadi. Tanah dingin dan tidak nyaman. Jacob maju selangkah, lalu berpaling menatapku, dan dengkingan pelan keluar dari tenggorokannya. Ia maju lagi setengah langkah.
"Tontonlah tanpa aku," kataku. "Aku tidak ingin menonton."
Jacob Mencondongkan kepalanya lagi ke satu sisi, kemudian melipat tubuhnya dan duduk di tanah dengan
embusan napas yang menggetarkan tubuhnya.

"Benar kok. kauperhatikan latihannya saja," aku meyakinkan dia. Jacob tidak menyahut, hanya Meletakkan
kepalanya di kedua kaki depannya. Aku menengadah, memandangi awan-awan yang perak cemerlang, tidak ingin menonton pertempuran. Imajinasiku sudah cukup liar. Angin sepoi-sepoi bertiup ke lapangan.
dan aku menggigil. Jacob beringsut lebih dekat kepadaku, mendesakkan bulu-bulunya yang hangat ke sisi kiri tubuhku.
"Eh, trims." gumamku.
Beberapa menit kemudian aku bersandar di bahunya yang lebar. Jauh lebih nyaman seperti itu.
Awan-awan bergerak lambat di langit, suasana berubah redup kemudian cerah kembali saat gumpalan-gumpalan tebal melewati bulan dan terus melaju. Tanpa berpikir aku mulai menyusupkan jari-jariku ke
bulu lehernya. Suara dengkuran aneh seperti kemarin menggeletar di kerongkongannya. Suaranya terdengar
akrab. Lebih kasar, lebih liar daripada dengkuran kucing tapi sama-sama menunjukkan suasana hati yang senang dan gembira.
"Kau tahu, aku tidak pernah punya anjing," renungku.
"Sebenarnya aku ingin memelihara anjing. tapi Renee alergi."
Jacob tertawa, tubuhnya bergetar di bawah tanganku.


"Kau sama sekali tidak khawatir mengenai hari Sabtu?" tanyaku.
Jacob memalingkan kepalanya yang besar ke arahku sehingga aku bisa melihat satu bola matanya berputar.
"Kalau saja aku bisa seyakin itu."
Jacob menyandarkan kepalanya ke kakiku, dan mulai mendengkur lagi. Itu benar-benar membuat perasaanku
sedikit lebih enak.
"Jadi besok kita akan pergi hiking, kurasa." Jacob menggeram; nadanya antusias.
"Mungkin akan jauh sekali,” Aku mewanti-wanti Jacob.
"Edward tidak menilai jarak seperti manusia normal umumnya."
Lagi-lagi Jacob menggonggong tertawa. Aku semakin merapat ke bulunya yang hangat, menyandarkan kepalaku ke lehernya. Aneh. Meski Jacob sedang dalam wujud aneh seperti sekarang. tapi kami tetap seperti Jake dan aku dulu – persahabatan yang damai dan tenteram, yang sama alaminya dengan bernapas – dibandingkan dengan beberapa saat terakhir aku bersama-sama Jacob saat ia dalam wujud manusia. Sungguh ganjil, aku justru menemukan perasaan itu lagi di sini, padahal kukira wujud serigala merupakan penyebab hilangnya perasaan itu. Perang-perangan berlanjut di lapangan, dan mataku menerawang ke bulan yang berkabut.


Copyright © 2015 Baca Online dan Seputar Blog
| Distributed By Gooyaabi Templates