June 20, 2015

The Hunger Games indonesia bagian 24

BUTUH waktu untuk menjelaskan situasinya pada Peeta. Bagaimana si Muka Rubah mencuri makanan dari tumpukan persediaan kawanan Karier sebelum aku meledakkannya,  bagaimana  dia  mengambil  secukupnya  untuk  bisa  hidup  tapi  tidak banyak hingga ketahuan, bagaimana dia tak mempertanyakan keamanan buah-buah berry yang kami siapkan untuk kami sendiri.
"Aku  penasaran  bagaimana  dia  bisa menemukan kita  ya,"  ujar Peeta.  "Kurasa  ini salahku, jika memang aku seberisik katamu."
Mengikuti kami sama sulitnya seperti mengikuti kawanan ternak, tapi aku berbaik hati. "Dan dia sangat cerdik, Peeta. Yah, sampai kau mempercundanginya."
"Bukan dengan sengaja. Entah bagaimana tampaknya tidak adil. Maksudku, kita juga bisa mati kalau dia tak makan buah itu lebih dulu." Namun mendadak Peeta tersadar.
"Tidak, tentu kita takkan mati. Kau mengenali buah ini kan?"
Aku mengangguk. "Kami menyebutnya nightlock."
"Bahkan namanya terdengar mematikan," katanya. "Maafkan aku, Katniss. Kupikir ini buah berry yang sama seperti yang kaukumpulkan."
"Jangan minta maaf. Ini artinya kita selangkah lebih dekat lagi untuk pulang kan?" tanyaku.
"Akan kubuang sisanya," kata Peeta. Dia mengumpulkan semua berry dalam plastik biru, berhati-hati agar buah berry itu tetap berada di dalam plastik, dan pergi ke hutan untuk membuangnya.
"Tunggu!" aku memekik. Kuambil kantong kulit milik anak lelaki distrik 1 dan kuisi
dengan segenggam berry dari dalam plastik. "Jika buah ini bisa membuat si Muka Rubah tertipu, mungkin bisa membuat  Cato tertipu juga. Kalau dia mengejar kita atau entah bagaimana, kita bisa pura-pura menjatuhkan kantong ini tanpa sengaja dan jika dia makan—"
"Halo Distrik Dua Belas," kata Peeta.
"Itu dia," kataku, sambil mengamankan kantong itu di ikat pinggangku.
"Dia pasti tau dimana kita sekarang," kata Peeta. "Kalau dia berada tak jauh dari sini dan melihat pesawat ringan, dia akan tau kita membunuh gadis itu dan mengejar kita."
Peeta benar. Ini mungkin kesempatan yang ditunggu-tunggu Cato. Tapi jika kami lari sekarang,  masih  ada  daging  yang  harus  dimasak  dan  api  kami  akan  jadi  penanda
keberadaan kami.
"Ayo kita buat api. Sekarang." aku mulai mengumpulkan ranting-ranting semak- semak.
"Apakah kau siap berhadapan dengannya?" tanya Peeta.
"Aku siap untuk makan. Lebih baik kita masak makanan kita mumpung ada kesempatan. Kalau dia tau kita disini, biarlah dia tau. Tapi dia juga tau kita berdua dan mungkin berasumsi bahwa kita memburu si Muka Rubah. Itu berarti kau sudah pulih. Dan api berarti kita tak bersembunyi, kita mengundangnya kemari. Apakah kau bakal datang?" tanyaku.
"Mungkin tidak," jawabnya.
Peeta jago membuat api, dia bahkan bisa menyalakan api dari kayu basah. Dalam waktu singkat, dua ekor kelinci dan tupai sudah terpanggang, umbi-umbian yang terbungkus daun-daunan terpanggang di antara arang. Kami bergantian mengumpulkan daun-daunan dan waspada menunggu kedatangan Cato, tapi sebagaimana yang kuperkirakan, dia tak datang. Ketika makanan masak, kusimpan sebagian besar makanan itu dan kami makan kaki kelinci sambil jalan.
Aku ingin bergerak lebih tinggi didalam hutan, memanjat pohon yang bagus, dan berkemah untuk malam ini, tapi Peeta menolak. "Aku tak bisa memanjat pohon sepertimu Katniss, apalagi kakiku seperti ini, dan rasanya aku tak bisa tidur lima belas meter di atas tanah."
Aku menghela napas. Beberapa jam jalan kaki—atau lebih tepatnya mendentamkan kaki—melintasi hutan untuk tiba ketempat yang cuma kami tempati hingga besok pagi untuk kami tinggalkan berburu. Tapi Peeta tidak meminta banyak. Dia mengikuti perintahku sepanjang hari dan aku yakin jika keadaannya terbalik, dia takkan membuatku tidur di pohon. Barulah aku sadar bahwa sepanjang hari ini aku tidak bersikap baik pada Peeta. Mengocehinya tentang betapa berisik jalannya, berteriak padanya karena menghilang. Permainan asmara yang kami mainkan di gua lenyap tak berbekas di tempat terbuka, di bawa sinar matahari, dengan Cato yang mengancam kami. Haymitch mungkin sudah muak padaku, dan para penonton..
Aku berjinjit dan menciumnya. "Tentu. Ayo kita kembali ke gua." Peeta tampak senang dan lega. "Well, ternyata mudah."
Kucabut anak panahku dari pohon oak, berhati-hati agar tak merusak anak panahnya. Sekarang anak-anak panah ini adalah makanan, keselamatan, hidup itu sendiri.
Kami melemparkan lebih banyak kayu lagi ke api. Kobarannya akan menghasilkan asap selama beberapa jam. Ketika kami tiba di sungai, air sungai sudah jauh lebih surut
dan arusnya juga lebih tenang, jadi aku menyarankan agar kami berjalan disungai untuk
kembali ke gua. Dengan senang hati Peeta mematuhiku, dan karena dia jauh lebih tak bersuara  di  sungai  daripada  ditanah.  Perjalanan  ke  gua  masih  jauh,  meskipun  kami berjalan menurun, dan daging kelinci menambah tenaga kami. Aku dan Peeta kelelahan akibat jalan menanjak yang kami lalui hari ini dan masih kekurangan makan. Kupasang panah dibusurku, bersiaga menghadapi Cato atau ikan yang mungkin bisa kutemui, tapi anehnya sungai ini tak terisi makhluk hidup.
Pada saat kami tiba ditempat tujuan, kami sudah berjalan menyeret dan matahari terbenam di cakrawala. Kami mengisi botol-botol air, lalu menuju gua kami. Tempat ini tidak mewah, tapi di alam liar ini, gua inilah yang paling bisa disebut rumah. Gua juga lebih   hangat   daripada   pohon,   karena   memberikan   perlindungan   dari   angin   yang berembus kencang dari arah barat. Kusiapkan makan malam, tapi baru separo dimakan Peeta  sudah  mengantuk.  Setelah  beberapa  hari  tak  beraktivitas,  kegiatan  berburu membuat kami kelelahan. Kusuruh Peeta masuk ke kantong tidur dan kusimpan sisa makanannya. Peeta langsung tidur. Kutarik kantong tidur hingga dagunya dan kucium dahinya, bukan untuk penonton, tapi untukku. Karena aku bersyukur dia masih di sini, tak tewas seperti yang kukira. Lega karena aku tak harus menghadapi Cato sendirian.
Cato yang brutal dan haus darah,  yang bisa mematahkan leher lawannya dengan sekali puntir, yang punya kekuatan untuk mengalahkan Thresh, sudah mengincarku sejak awal. Dia mungkin memiliki kebencian khusus padaku karena aku mengalahkan nilainya pada saat latihan. Anak lelaki seperti Peeta akan mengabaikannya begitu saja. Aku punya firasat hal itu malah membuat perhatian Cato teralih. Aku teringat pada reaksi konyolnya ketika mendapati persediaan makanannya meledak. Peserta-peserta lain tentunya marah, tapi Cato murka. Aku bertanya-tanya apakah Cato masih waras sekarang.
Langit benderang dengan lambang negara, dan aku melihat wajah si Muka Rubah bersinar di atas sana lalu menghilang dari dunia selamanya. Peeta tidak mengatakannya, tapi menurutku dia merasa tak enak hati karena membunuh gadis itu, meskipun membunuhnya merupakan tindakan yang diperlukan. Aku tidak bisa berpura-pura akan merindukannya,tapi    aku    harus    mengaguminya.    Tebakanku    adalah    jika    mereka
memberikan  semacam  tes  pada  kami,  hasilnya  dia  pasti  akan  keluar  sebagai  peserta
terpintar. Sesungguhnya, jika kami memasang perangkap untuknya, aku yakin dia pasti bisa menciumnya dan menghindari buah berry tersebut. Ketidaktauan Peeta-lah yang membuat si Muka Rubah tewas. Aku menghabiskan banyak waktuku untuk memastikan aku  tidak  meremehkan  lawan-lawanku sehingga  aku  lupa bahwa  memandang  mereka terlalu tinggi pun sama berbahayanya.
Dan itu membawaku kembali ke Cato. Sementara aku bisa memperkirakan siapa si Muka Rubah dan cara kerjanya, Cato tampaknya lebih licin. Lebih kuat, lebih terlatih, tapi pintar? Aku tak tau. Pasti tak sepintar si Muka Rubah. Dan Cato tidak memiliki kontrol diri seperti yang ditunjukkan si Muka Rubah. Aku yakin Cato bisa dengan mudah kehilangan akal sehatnya dalam keadaan marah. Meskipun tidak berarti aku lebih baik daripada dia untuk urusan itu. Aku teringat ketika kutembakkan anak panah menembus apel dimulut babi ketika aku marah besar. Mungkin aku memahami Cato lebih dari yang kupikirkan.
Meskipun tubuhku kelelahan, pikiranku tetap waspada, jadi kubiarkan Peeta tidur lewat dari jam jaga kami biasanya. Bahkan, warna kelabu samar tanda hari telah dimulai sudah tampak ketika aku mengguncang bahunya. Peeta melihat keluar, nyaris terkejut. "Aku tidur sepanjang malam. Ini tak adil Katniss, kau seharusnya membangunkanku."
Aku meregangkan tubuh lalu meringkuk ke dalam kantong tidur. "Aku akan tidur
sekarang. Bangunkan aku kalau ada kejadian seru."
Ternyata tak terjadi apa-apa, karena ketika aku membuka mata, sinar matahari siang menembus di celah-celah bebatuan.
"Ada tanda-tanda dari teman kita?" tanyaku.
Peeta menggeleng. "Tidak ada, dia sepertinya tak mau tampil menonjol."
"Menurutmu berapa lama lagi waktu kita sebelum juri pertarungan membuat kita bertemu?" tanyaku.
"Hm, si Muka Rubah  tewas hampir sehari lalu, jadi pasti  ada banyak waktu bagi penonton untuk memasang taruhan kemudian merasa bosan. Kurasa bisa terjadi tak lama lagi," kata Peeta.
"Yeah, aku punya firasat hari inilah saatnya," kataku. Aku duduk dan memandang keluar ke pemandangan yang mententramkan. "Aku penasaran, bagaimana cara mereka melakukannya ya?"
Peeta tidak menjawab. Memang tak ada jawaban yang bagus untuk pertanyaan itu. "Yah, sampai mereka melakukannya, tak ada gunanya bagi kita menyia-nyiakan satu
hari berburu. Tapi kita sebaiknya mungkin makan sebanyak yang bisa kita telan untuk berjaga-jaga seandainya kita menghadapi masalah," kataku.
Peeta membereskan perlengkapan kami sementara aku mengeluarkan makanan. Sisa daging kelinci, umbi-umbian, sayuran hijau, roti-roti yang diolesi sisa-sisa keju terakhir. Makanan yang masih kusimpan untuk cadangan adalah tupai dan apel.
Pada saat kami selesai  makan, yang tersisa hanyalah tulang-tulang kelinci. Kedua
tanganku berminyak, yang hanya membuatku merasa makin kotor. Mungkin di Seam kami tak mandi setiap hari, tapi disana kami lebih bersih daripada tubuhku belakangan ini. Kecuali kakiku, yang sudah berjalan disungai, bagian tubuhku yang lain berselimutkan debu.
Ketika meninggalkan gua, aku merasakan saat akhir menjelang. Entah bagaimana aku merasa tak akan ada satu malam lagi di arena. Dengan satu atau lain cara, hidup atau mati,
aku punya firasat akan keluar dari arena hari ini. Kutepuk batu-batu menyampaikan salam
perpisahan dan kami berjalan menuju sungai untuk bersih-bersih. Aku bisa merasakan kulitku gatal kepingin kena air dingin. Aku bisa menata rambutku dan mengepangnya kebelakang dalam keadaan basah. Kupikir kami mungkin bisa menggosok pakaian kami dengan cepat disungai. Atau tempat yang tadinya sungai itu. Sekarang tempat itu kering kerontang. Aku menurunkan tanganku untuk menyentuhnya.
"Bahkan tak ada bekas lembap sama sekali. Mereka pasti mengeringkannya ketika kita tidur," kataku. Rasa takut membayangkan bibir pecah-pecah, tubuh yang sakit, dan pikiran berkabut akibat dehidrasi pertamaku merasuk kedalam kesadaranku. Botol-botol air kami masih lumayan penuh, tapi dengan matahari seterik ini, air kami takkan bertahan lama.
"Danau," kata Peeta. "Mereka ingin kita kesana." "Mungkin masih ada air di kolam," kataku penuh harap.
"Kita bisa memeriksanya," kata Peeta, tapi dia hanya menghiburku. Aku juga menghibur diriku karena aku tau apa yang akan kutemukan saat kami kembali kekolam
tempat aku merendam kakiku. Tapi kami tetap berjalan kesana hanya untuk memastikan
apa yang kami ketahui.
"Kau   benar.   Mereka   menggiring   kita   ke   danau,"   kataku.   Disana   tidak   ada perlindungan. Disana mereka menjamin adanya pertarungan berdarah tanpa ada apapun yang menghalangi pandangan mereka. "Kau mau kesana sekarang atau menunggu sampai air kita kita habis?"


"Ayo kesana sekarang, mumpung kita punya makanan dan sudah beristirahat. Mari kita akhiri semua ini," kata Peeta.
Aku mengangguk. Lucu rasanya. Aku merasa seolah-olah berada di hari pertama Hunger Games lagi. Dua puluh satu peserta sudah tewas, tapi aku masih harus membunuh Cato.   Sesungguhnya,   bukankah   dia   selalu   jadi   satu-satunya   orang   yang   harusnya kubunuh? Sekarang tampaknya peserta-peserta lain hanyalah rintangan-rintangan kecil,
pengalih perhatian, yang menjauhkan kami dari pertarungan Hunger Games yang sesungguhnya. Cato dan aku.
Tapi tunggu, ada anak lelaki yang menunggu disampingku. Aku merasakan kedua lengannya memelukku.
"Dua lawan satu. Seharusnya mudah," kata Peeta. "Makan kita berikutnya akan di Capitol," sahutku. "Pastinya," timpal Peeta.
Kami berdiri sesaat, berpelukan erat, merasakan keberadaan satu sama lain, sinar
matahari, gemerisik daun-daunan dibawah kaki kami. Lalu tanpa kata-kata, kami melepaskan pelukan dan berjalan ke danau.
Saat ini aku tak peduli jika langkah kaki Peeta membuat binatang-binatang pengerat kabur, membuat burung-burung terbang. Kami harus melawan Cato dan sama saja melakukannya sekarang atau nanti ditanah lapang. Tapi aku tidak yakin kami punya pilihan. Jika para juri pertarungan ingin kami melakukannya di tempat terbuka, maka tempat terbukalah pilihannya.
Kami berhenti sejenak untuk beristirahat di bawah pohon tempat kawanan Karier memerangkapku. Serpihan-serpihan kulit sarang tawon penjejak, hancur karena hujan lebat dan kering karena sengatan matahari, menegaskan bahwa ini memang tempatnya. Kusentuh serpihan kulit itu dengan ujung sepatu botku, dan segera serpihan itu berubah jadi debu yang terriup terbawa angin. Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak melihat pohon tempat Rue hinggap diam-diam, menunggu untuk menyelamatkanku. Tawon penjejak. Mayat Glimmer yang menggembung. Halusinasi-halusinasi yang menakutkan.
"Ayo terus bergerak," kataku, ingin melepaskan diri dari kegelapan yang melingkupi tempat ini. Peeta tak membantah.
Sudah   menjelang   malam   ketika   kami   tiba   ditanah   lapang.   Tidak   ada   tanda keberadaan Cato. Tiak ada tanda apapun selain emas Cornucopia berkilau di bawah sinar matahari yang menyilaukan. Untuk berjaga-jaga seandainya Cato akan menyerang kami
dengan cara yang dilakukan si Muka Rubah ketika merebut ranselnya, kami mengelilingi Cornucopia untuk memastikan tempat ini kosong. Lalu dengan patuh, seakan mengikuti perintah, kami berjalan ke danau dan mengisi tempat air kami.
Aku mengernyit memandang matahari yang terbenam. "Kita tak mau melawannya setelah hari gelap. Hanya ada satu kacamata malam."
Dengan hati-hati Peeta meneteskan iodine ke dalam air. "Mungkin itu yang ditunggunya. Kau ingin melakukan apa sekarang? Kembali ke gua?"
"Itu, atau mencari pohon. Tapi kita beri dia waktu setengah jam lagi. Kemudian kita cari tempat sembunyi," jawabku.
Kami  duduk  didekat  danau,  sengaja  membiarkan  diri  kami  terlihat.  Tidak  ada gunanya bersembunyi sekarang. Di pepohonan di ujung tanah lapang, aku bisa melihat
burung-burung mockingjay hinggap disana-sini. Saling bertukar melodi diantara mereka
seperti saling melempar bola-bola berwarna cerah. Aku menyanyikan empat not lagu Rue.Aku bisa merasakan burung-burung itu diam menunggu penuh rasa ingin tau mendengar  suaraku  dan  menyimak  lebih  seksama.  Kuulang  nada  itu  dalam  suasana
hening.  Pertama  seekor  mockingjay  balas  melantunkannya,  lalu  diikuti  mockingjay lainnya.
"Sama seperti ayahmu," kata Peeta.
Jemariku menyentuh pin di kausku. "Itu lagu Rue," kataku. "Menurutku mereka mengingatnya."
Musik bergema dan aku mengenali keindahannya. Not-not itu saling tumpang tindih, membentuk  nada  yang  saling  mengisi,  membentuk  harmoni  yang  indah  dan  bagai
nyanyian bidadari. Berkat Rue, suara inilah yang mengirim para pekerja dikebun buah di
distrik 11 pulang kerumah setiap malam. Apakah ada yang menyanyikannya pada jam pulang, kini setelah Rue meninggal?
Selama sesaat, aku memejamkan mataku dan mendengarkan, terpukau dengan keindahan lagu itu. Kemudian ada sesuatu yang mengganggu irama musik. Iramanya terpotong secara kasar dan tak beraturan. Nada-nada sumbang bercampur dengan melodi. Mockingjay itu memekikkan kengerian.
Kami langsung berdiri, Peeta menghunus pedangnya, aku bersiap memanah, ketika Cato berlari melintasi pepohonan. Dia tak membawa tombak. Bahkan, kedua tangannya kosong, tapi dia terus berlari ke arah kami. Panah pertamaku mengenai dadanya, yang anehnya langsung jatuh tanpa menembus tubuh Cato.
"Dia memakai semacam perisai!" aku berteriak pada Peeta.
Teriakanku tepat pada waktunya, karena Cato sudah mendatangi kami. Aku menguatkan diri, tapi dia menerjang diantara kami tanpa mengurangi kecepatannya. Dari dengus napasnya, keringat yang membanjiri wajahnya yang pias,Cato sudah berlari cukup lama. Bukan kearah kami. Tapi lari dari sesuatu. Tapi apa?
Mataku mengamati hutan tepat ketika makhluk pertama melompat ke tanah lapang. Ketika aku berpaling, aku melihat enam makhluk lain mengikutinya. Kemudian aku lari tunggang  langgang mengejar  Cato  tanpa  ada  tujuan  lain selain  menyelamatkan  diriku sendiri.

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © 2015 Baca Online dan Seputar Blog
| Distributed By Gooyaabi Templates