June 20, 2015

The Hunger Games indonesia bagian 27

LAGU kebangsaan berdentam ditelingaku, lalu aku mendengar suara Caesar Flickerman menyambut penonton. Apakah dia tau betapa pentingnya setiap kata yang terucap harus benar dari sekarang? Pasti dia tau. Dia pasti akan membantu kami. Para penonton bertepuk tangan ketika tim persiapan muncul. Aku membayangkan Flavius, Venia dan Octavia berjalan mondar-mandir dan membungkuk-bungkuk konyol. Hampir dipastikan mereka tidak tau apa-apa. Lalu Effie diperkenalkan, entah sudah berapa lama dia menunggu momen ini. Kuharap dia bisa menikmatinya karena sebingung-bingungnya Effie, dia punya insting yang tajam tentang hal-hal tertentu dan pasti dia mengira bahwa kami dalam masalah. Tentu saja, Portia dan Cinna menerima sorak-sorai sambutan yang membahana, mereka brilian. Sekarang aku memahami pilihan gaun Cinna yang kupakai malam ini. Sebisa mungkin aku perlu tampak seremaja dan senaif mungkin. Kemunculan Haymitch menimbulkan rentetan tepuk tangan yang berlangsung paling tidak 5 menit. Bagaimanapun, dia menjadi yang pertama. Bukan hanya menjaga satu peserta tetap hidup, tapi dua. Bagaimana jika dia tidak memperingatkanku tepat pada waktunya? Akankah aku bertindak berbeda? Memamerkan momen dengan buah berry itu ke muka Capitol? Tidak, kurasa tidak. Tapi bisa jadi, aku jauh lebih tak meyakinkan di banding sekarang daripada yang seharusnya. Saat ini juga. Karena aku bisa merasa piringan logam itu mengangkatku ke panggung.
Cahaya yang membutakan. Sorakan yang memekakkan telinga mengguncang logam di bawah kakiku. Lalu kulihat Peeta hanya beberapa meter jauhnya. Dia tampak begitu bersih, sehat dan tampan, aku hampir tidak mengenalinya. Tapi senyumnya tetap sama, baik di lumpur atau di Capitol dan ketika aku melihatnya. Aku berjalan 3 langkah dan berlari ke pelukan Peeta. Dia tertatih mundur, hampir kehilangan keseimbangannya dan pada saat itulah aku menyadari benda logam yang di tangannya, semacam tongkat. Dia meluruskan tubuhnya dan kami berpelukan sementara para penonton menggila.
Peeta menciumku dan sepanjang waktu itu aku berpikir, Apakah kau tau? Apakah kau tau seberapa besar bahaya yang kita hadapi?
Setelah sekitar sepuluh menit, Caesar Flickerman menepuk bahu Peeta untuk melanjutkan acara dan Peeta hanya mendorong lelaki itu ke samping bahkan tanpa meliriknya. Penonton makin menggila. Entah Peeta tahu atau tidak, seperti biasa dia bisa memainkan perannya dengan baik di hadapan penonton.
Akhirnya,  Haymitch  datang  menyela  lalu  mendorong  kami  dengan  manis  menuju kursi pemenang. Biasanya kursi pemenang hanyalah 1 yang dihias, di sana peserta yang menang  menonton film  yang  terdiri  atas potongan-potongan Hunger Games yang  jadi sorotan. Tapi karena pemenangnya ada dua, para juri pertarungan telah menyediakan sofa beludru merah yang empuk. Sofa kecil yang dijuluki ibuku sebagai kursi cinta. Aku duduk amat dekat dengan Peeta hingga bisa dibilang aku duduk di pangkuannya. Tapi ketika aku menoleh memandang Haymitch aku tau usahaku belum cukup. Setelah melepas sandalku, aku melipat kakiku ke samping dan menyandarkan kepalaku di bahu Peeta. Secara otomatis lengannya memelukku dan aku merasa seakan aku kembali berada di gua, meringkuk di sampingnya, berusaha menjaga tubuh kami agar tetap hangat. Kemejanya
terbuat dari bahan berwana kuning yang sama seperti gaunku, tapi Portia menyuruhnya memakai celana panjang hitam. Dia tak mengenakan sandal, tapi sepatu bot hitam yang gagah. Seandainya saja Cinna memberiku pakaian yang sama.. aku merasa amat rapuh dalam gaun halus ini. Tapi kurasa itulah tujuannya.
Caesar Flickerman melontarkan beberapa lelucon, lalu tibalah saatnya tayangan utama. Tayangan ini berlangsung selama tiga jam dan harus ditonton di seluruh Panem. Semua lampu meredup dan lambang negara muncul di layar ,aku sadar aku tak siap menghadapi semua ini. Aku tak ingin melihat dua puluh dua peserta lain tewas. Cukup bagiku melihatnya di arena. Jantungku mulai berdebar dan aku merasakan dorongan kuat untuk lari. Bagaimana mungkin para pemenang menghadapi semua ini seorang diri? Selama  tayangan  ini,  sesekali  mereka  menampilkan  reaksi  pemenang  dikotak  kecil  di sudut layar televisi. Kuingat kembali tahun-tahun sebelumnya.. beberapa pemenang menunjukkan reaksi kemenangan, meninju udara, memukul dada mereka. Kebanyakan dari mereka tampak terperangah. Yang kutau, satu satunya yang membuatku tertahan di kursi   ini   hanyalah   Peeta—lengannya   memeluk   bahuku,   tangannya   yang   satu   lagi merangkul  kedua  tanganku.  Tentu  saja,  para  pemenang  sebelum  ini  tak  diintai  oleh Capitol untuk dihancurkan.
Memadatkan kegiatan beberapa minggu dalam satu jam merupakan prestasi tersendiri, terutama jika memperhitungkan berapa banyak kamera yang merekam pada saat yang sama. Siapapun yg menyusun tayangan ini harus memilih cerita apa yang ingin ditampilkannya. Tahun ini, untuk pertama kalinya, mereka menampilkan kisah cinta. Aku tau aku dan Peeta sudah menang, tapi tampak sekali mereka berlebihan menampilkan waktu-waktu kami berduaan sejak awal. Tapi aku lega, karena tayangan ini mendukung konsep jatuh-cinta-setengah-mati yang jadi pembelaanku melawan Capitol, selain itu kami tak perlu berlama-lama melihat kematian demi kematian.
Kurang-lebih setengah jam pertama terpusat pada kegiatan-kegiatan pra-arena, hari pemungutan, naik kereta kuda melintasi Capitol, nilai-nilai latihan kami dan wawancara- wawancara kami. Ada semacam lagu soundtrack dengan nada riang yang membuatnya terdengar jadi 2 kali lebih mengerikan, karena hampir semua yang ada di layar itu sudah
tewas.
Setelah kami di arena, ada liputan pertarungan berdarah yang mendetail lalu para pembuat   film   berganti-ganti   menayangkan   para   peserta   yang   tewas   dan   kami. Kebanyakan yang ditampilkan adalah Peeta, tak diragukan lagi dia memainkan peran asmara ini dengan baik. Sekarang aku melihat apa yang dilihat para penonton, bagaimana dia mengelabui kawanan Karier tentang diriku. Terjaga sepanjang malam dibawah pohon tawon penjejak. Melawan Cato agar aku bisa lolos. Bahkan ketika dia bersembunyi ditepi sungai  berlumpur.  Membisikkan  namaku  dalam  tidurnya.  Sebaliknya,  aku  seperti  tak punya perasaan—menghindari bola-bola api, menjatuhkan sarang tawon dan meledakkan persediaan makanan — sampai aku berburu untuk Rue. Mereka menayangkan kematiannya dengan utuh, tombak menembus tubuhnya, usaha penyelamatanku yang gagal, anak panahku yang menembus leher anak lelaki dariDistrik 1, Rue yang menghembuskan napas terakhirnya dipelukanku. Dan lagunya. Aku menyanyikan setiap nada dalam lagu itu. Ada sesuatu yang mati dalam diriku dan aku terlalu mati rasa untuk
bisa  merasakan  sesuatu.  Aku  seperti  menonton  orang  asing  dalam  tayangan  Hunger Games  yang  lain.  Tapi  aku  perhatikan  mereka  tak  menyertakan  bagian  ketika  aku menghias jasadnya dengan bunga-bungaan.
Benar. Karena itu berarti setitik tanda pemberontakan.
Keadaan berbalik mengarah padaku setelah mereka mengumumkan bahwa dua peserta dari distrik yang sama bisa tetap hidup dan aku menyerukan nama Peeta lalu buru-buru menutup mulutku dengan tangan. Jika awalnya aku tidak peduli dengan Peeta, aku  membayarnya  sekarang,  dengan  mencarinya,  merawatnya  hingga  kembali  sehat, pergi  ke  pesta  untuk  mengambil  obat  dan  menciumnya  tanpa  pikir  panjang.  Secara objektif, aku bisa melihat mutt-mutt itu dan kematian Cato sebagai kejadian mengerikan, tapi aku merasakannya terjadi pada orang-orang yang tak pernah kukenal.
Lalu tibalah momen buah berry itu. Aku bisa mendengar penonton saling menyuruh yang  lain untuk diam,  mereka  tak  mau  melewatkan yang  satu  ini.  Gelombang  syukur untuk para pembuat film mengaliri sekujur tubuhku ketika mereka tak mengakhiri tayangan ini dengan pengumuman nama kami sebagai pemenang, tapi dengan aku memukuli  pintu  kaca  di  pesawat  ringan,  meneriakkan  nama  Peeta  ketika  mereka berusaha menghidupkannya lagi.
Dalam hal bertahan hidup, itu adalah malam terbaikku.
Lagu  kebangsaan  diputar  lagi  dan  kami  berdiri  ketika  Presiden  Snow  naik  ke panggung diiringi gadis kecil yang membawa bantalan yang berisi mahkota. Tapi hanya ada satu mahkota disana, terdengar kebingungan dari penonton—akan dipasang dikepala siapa?—sampai Presiden Snow memutar mahkota itu dan memisahkannya jadi dua. Dia memasang mahkota pertama disekitar alis Peeta sambil tersenyum. Dia masih tersenyum ketika   memasang   mahkota   kedua   dikepalaku,   tapi   matanya,   yang   hanya   berjarak beberapa sentimeter dariku, tampak selicik ular.
Saat itulah aku tahu bahwa meskipun kami berdua makan buah berry itu, akulah yang akan disalahkan karena punya ide semacam itu. Akulah penghasutnya. Akulah yang akan dihukum.
Selanjutnya kami membungkuk memberi hormat dan bersorak gembira. Tanganku hampir   putus   karena   kebanyakan   melambai   ketika   Caesar   Flickerman   akhirnya
menyampaikan ucapan selamat malam pada para penonton, mengingatkan mereka untuk tetap menyaksikan televisi untuk wawancara akhir.
Aku dan Peeta digiring menuju rumah Presiden untuk Makan Malam Kemenangan, disana kami tidak punya banyak waktu untuk makan karena para pejabat Capitol dan para
sponsor  yang  murah  hati  saling  berebutan  untuk  berfoto  bersama  kami.  Wajah  demi
wajah lewat begitu saja dan jadi terasa memabukkan seiring dengan berlalunya malam. Kadang-kadang,sekilas aku melihat Haymitch, yang membuatku tenang atau Presiden Snow, yang membuatku takut, tapi aku tetap tertawa dan berterima kasih pada orang- orang dan tersenyum ketika difoto. Satu-satunya yang tak pernah kulepaskan adalah tangan Peeta.
Matahari sudah mengintip dibalik cakrawala ketika kami kembali ke lantai dua belas di Pusat Latihan. Kupikir akhirnya aku bisa bicara berdua dengan Peeta, tapi Haymitch
mengirimnya ke Portia untuk mencoba pakaian untuk wawancara dan mengawalku menuju pintu kamarku.
"Kenapa aku tak boleh bicara dengannya?" tanyaku.
"Banyak waktu untuk bicara di rumah nanti," sahut Haymitch. "Tidurlah, kau akan masuk televisi jam dua nanti."
Meskipun dihalangi Haymitch, aku bertekad untuk bisa bertemu Peeta berdua saja. Setelah aku berbaring diranjang tanpa bisa memejamkan mata selama beberapa jam, aku
berjalan menuju lorong kamar. Pikiran pertamaku adalah memeriksa atap, tapi tak ada
siapa-siapa disana. Bahkan jalanan di bawah sana tampak kosong setelah perayaan tadi malam. Aku kembali ke kamarku sebentar lalu memutuskan untuk langsung ke kamarnya, tapi ketika aku berusaha memutar kenop pintu ternyata kamarku dikunci dari luar. Awalnya kukira Haymitch pelakunya, tapi ada ketakutan yang tersembunyi bahwa Capitol mungkin mengawasi dan menahanku di sini. Aku tak pernah bisa kabur sejak Hunger Games dimulai, tapi ini lebih personal. Kali ini terasa seperti aku ditahan atas kejahatan yang kulakukan dan menunggu hukuman. Dengan cepat aku kembali ke ranjang dan pura- pura tidur sampai Effie Trinket datang membangunkan dengan sapaan "Hari ini hari besaaaar!"
Aku punya waktu lima menit untuk makan semangkuk bubur panas dan rebusan daging sebelum tim persiapan turun. Yang harus kukatakan adalah, "Para penonton mencintaimu!" dan tak perlu berbicara lagi selama beberapa jam selanjutnya. Ketika Cinna datang, dia mengusir mereka semua dan memakaikanku gaun putih tipis dan sepatu pink. Kemudian dia memperbaiki riasan wajahku sampai aku tampak memancarkan kilau halus kemerahan. Kami ngobrol basa-basi, tapi aku takut menanyakan sesuatu yang sungguh- sungguh penting padanya karena sehabis peristiwa pintu itu, aku tak bisa mengenyahkan perasaan bahwa aku sedang diawasi terus-menerus.
Wawancara berlangsung di ruang duduk. Ruangan itu sudah dibersihkan dan kursi cinta dipindahkan kemari, dikelilingi berbagai vas bunga berisi mawar merah dan pink. Hanya beberapa kamera yang akan merekam acara ini. Tidak ada penonton.
Caesar  Flickerman  memelukku  dengan  hangat  ketika  aku  masuk  ke  ruangan. "Selamat, Katniss. Bagaimana keadaanmu?"
"Baik. Tegang untuk wawancara," kataku.
"Jangan tegang. Kita akan melewati saat yang menyenangkan," katanya. "Aku tak bagus bicara tentang diriku sendiri," kataku.
"Tidak bakal ada perkataanmu yang salah," katanya.
Lalu aku berpikir, Oh, Caesar, seandainya saja apa katamu itu benar. Padahal sesungguhnya, Presiden Snow mungkin merancang semacam "kecelakaan" untukku ketika kita sedang mengobrol.
Lalu Peeta berdiri disana ,tampak tampan dengan pakaian berwarna merah dan putih, menarikku   ke   samping.   "Aku   tak   bisa   bertemu   denganmu.   Haymitch   bertekad
memisahkan kita."
Sesungguhnya Haymitch bertekad menjaga kami tetap hidup, tapi terlalu banyak telinga yang mendengar, jadi aku cuma bilang, "Ya, dia jadi sangat bertanggung jawab belakangan ini."
"Yah, hanya tinggal ini dan kita bisa pulang. Dia tak bisa mengawasi kita terus- menerus," kata Peeta.
Aku merasakan keringat dingin menetes dan tidak ada waktu lagi untuk mencari tau kenapa aku berkeringat, karena mereka sudah siap untuk kami. Kami duduk dalam posisi formal dikursi cinta itu. Tapi, Caesar berkata, "Oh, sana mendekat dan bergelunglah disampingnya kalau kau mau. Tampaknya sangat manis."
Jadi aku berdiri lalu Peeta menarikku mendekat padanya.
Ada  orang  yang  menghitung  mundur dan  tahu-tahu  kami  sudah  disiarkan  secara langsung ke seantero negri. Caesar Flickerman luar biasa, dia menggoda, bercanda dan terharu pada saat-saat yang diperlukan. Dia dan Peeta sudah memiliki hubungan yang terbentuk pada malam wawancara pertama, obrolan santai semacam itu, jadi aku hanya banyak tersenyum dan bicara sesedikit mungkin. Maksudku, aku harus berbicara sedikit,
tapi sebisa mungkin aku segera mengarahkan percakapan kembali ke Peeta.
Namun pada akhirnya, Caesar mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang butuh jawaban lebih lengkap.
"Well,  Peeta,  pada  hari-hari  kalian  di  gua,  kami  tau  bahwa  dia  adalah  cinta pertamamu sejak usia lima tahun, benar?" tanya Caesar.
"Sejak pertama kali aku memandangnya," kata Peeta.
"Tapi  Katniss,  ini  perjalanan  yang  luar  biasa  untukmu,"  kata  Caesar.  "Kurasa  hal paling seru yang dinantikan penonton adalah melihatmu jatuh cinta padanya. Kapan kau sadar bahwa kau jatuh cinta padanya?" tanya Caesar.
"Oh, ini sulit..," aku tertawa dibuat- buat dan menunduk memandangi kedua tanganku. Tolong.
"Yah, aku tau kapan kau sadar. Malam ketika kau meneriakkan namanya dari pohon itu," kata Caesar.
Terima kasih, Caesar! pikirku, lalu aku meneruskan idenya. "Ya, kurasa itulah saatnya.
Maksudku, sebelum saat itu aku berusaha tak memikirkan perasaan-perasaanku padanya, sejujurnya karena itu membingungkan dan hanya akan memperburuk keadaan jika aku sungguh-sungguh menyayanginya. Tapi, di pohon pada saat itu, segalanya berubah," kataku.
"Kenapa begitu?" desak Caesar.
"Mungkin.. karena untuk pertama kalinya.. ada kemungkinan aku bisa memilikinya," kataku.
Dibelakang juru kamera, aku melihat Haymitch mendesah lega dan aku tau aku mengatakan hal yang benar.
Caesar mengeluarkan saputangan dan mengambil waktu sejenak karena dia merasa amat terharu.
Aku bisa merasakan dahi Peeta menempel di pelipisku lalu bertanya, "Jadi sekarang setelah kau memilikiku, apa yang akan kaulakukan terhadapku?"
Aku menoleh memandangnya. "Menaruhmu ditempat dimana kau tak bisa dilukai." Dan ketika Peeta menciumku, orang-orang di ruangan terdengar mendesah.
Caesar langsung meneruskan dengan berpindah adegan menanyakan segala macam luka yang kami alami di arena, luka bakar, sengatan tawon dan luka-luka lain. Tapi baru
pada giliran bercerita tentang mutt, aku lupa bahwa aku sedang berada di depan kamera. Ketika Caesar bertanya pada Peeta bagaimana keadaan "kaki baru"nya.
"Kaki baru?" tanyaku, lalu aku tak bisa menahan diri untuk tak mengulurkan tangan dan  menarik  bagian  bawah  celana  Peeta.  "Oh,  tidak,"  bisikku,  sambil  menyentuh  alat logam-dan-plastik yang mengganti dagingnya.
"Tak ada yang memberitahumu?" tanya Caesar dengan lembut. Aku menggeleng.
"Aku belum sempat memberitahunya," kata Peeta sambil mengangkat bahu sedikit. "Ini salahku," kataku. "Karena aku menggunakan turniket itu."
"Ya, salahmu aku hidup." ujar Peeta.
"Peeta benar," kata Caesar. "Dia pasti mati kehabisan darah jika tak kautolong."
Kurasa  pernyataannya  benar,  tapi  aku  tidak  bisa  menahan  perasaan  bingungku hingga kupikir aku bakal menangis, lalu aku teringat pada kenyataan bahwa semua orang di negri ini menontonku jadi segera saja kubenamkan wajahku di kemeja Peeta. Butuh waktu beberapa menit untuk membujukku melepaskan wajahku dari kemeja Peeta karena lebih baik aku menangis disana dan ketika aku akhirnya melepaskan Peeta, Caesar tak lagi menanyaiku agar aku bisa memulihkan diri. Bahkan dia sama sekali tak menanyaiku apa- apa sampai ke kejadian dengan buah berry itu.
"Katniss, aku tau kau shock, tapi aku harus bertanya. Pada saat kau mengeluarkan buah-buah berry itu. Apa yang ada dalam pikiranmu..?" tanyanya.
Aku terdiam lama sebelum menjawab, berusaha mengingat lagi pikiranku. Ini adalah momen penting apakah aku akan menantang Capitol atau melanjutkan gagasan gila bahwa membayangkan Peeta tewas membuatku gila sehingga aku tak bisa mempertanggungjawabkan   perbuatanku.   Rasanya   aku   harus   mengucapkan   pidato panjang yang dramatis, tapi yang terucap dari mulutku adalah satu kalimat pendek yang nyaris tak terdengar. "Aku tak tau, aku hanya.. tidak bisa membayangkan.. hidup tanpa dia."
"Peeta? Ada yang mau kautambahkan?" tanya Caesar.
"Tidak. Kurasa jawaban itu sama untuk kami berdua," jawab Peeta.
Caesar  berpamitan  dan  acarapun  selesai.  Semua  orang  tertawa,  menangis  dan berpelukan, tapi aku masih tak yakin sampai aku mendekat ke Haymitch.
"Oke?" bisikku. "Sempurna," jawabnya.
Aku kembali ke kamarku untuk mengambil beberapa barang dan tak menemukan apapun kecuali pin mockingjay yang diberikan Madge. Ada orang yang mengembalikannya
ke kamarku seusai Hunger Games. Mereka mengantar kami melewati jalanan dikota menuju kereta yang sudah menunggu kami. Kami hampir tak punya waktu untuk mengucapkan selamat tinggal pada Cinna dan Portia, meskipun kami bakalan bertemu
mereka dalam beberapa bulan ke depan, ketika kami melakukan kunjungan keliling ke
distrik-distrik dalam upacara kemenangan. Ini adalah cara Capitol untuk mengingatkan orang bahwa Hunger Games sesungguhnya tak pernah berlalu. Kami semua akan dijejali banyak omong kosong dan semua orang akan berpura-pura menyanjung kami.
Kereta mulai bergerak dan kami menuju kegelapan malam sampai kami keluar dari terowongan dan pada saat itulah aku bisa bernapas lega untuk pertama kalinya sejak hari pemungutan. Effie mendampingi kami kembali ke distrik dan tentu saja, Haymitch ikut serta. Kami makan malam banyak sekali dan duduk tanpa bicara di depan TV untuk menonton siaran ulang wawancara. Sementara Capitol makin menjauh dibelakangku, aku mulai  memikirkan rumah.  Tentang  Prim  dan ibuku.  Tentang  Gale.  Aku  permisi  untuk mengganti gaunku dengan kaus sederhana dan celana panjang. Perlahan-lahan aku membasuh riasan wajahku dan mengepang rambutku. Aku mulai bertransformasi menjadi diriku. Katniss Everdeen. Gadis yang tinggal di Seam. Berburu di hutan. Berdagang di Hob. Aku memandangi cermin sementara aku mengingat siapa aku dan siapa yang bukan aku. Pada saat aku bergabung dengan yang lain, tekanan yang kurasakan dari lengan Peeta yang merangkulku terasa asing.
Ketika kereta berhenti sebentar untuk mengisi bahan bakar, kami diperbolehkan keluar untuk menghirup udara segar. Tak ada gunanya lagi mengawasi kami. Aku dan
Peeta berjalan di sepanjang rel, bergandengan tangan dan kini setelah kami berduaan aku
malah  tidak  tau  ingin  bicara  apa.  Peeta  berhenti  untuk  memetik  bunga-  bunga  liar untukku. Ketika dia memberikan bunga itu padaku, aku berusaha keras untuk tampak senang. Karena dia tak tau bahwa bunga-bunga berwarna pink-putih itu adalah bunga dari bawang liar dan membuatku teringat pada jam-jam yang kuhabiskan bersama Gale untuk mengumpulkannya.
Gale.  memikirkan  diriku  akan  bertemu Gale  beberapa jam  lagi  membuat  perutku mulas.  Tapi  kenapa?  Aku  tidak  bisa  menyusun  alasannya  di  benakku.  Aku  hanya  tau bahwa aku merasa berbohong pada dua orang yang percaya padaku. Sejauh ini aku bisa lolos dalam kebohonganku atas nama Hunger Games. Tapi dirumah tak ada lagi Hunger Games yang bisa jadi tamengku.
"Ada apa?" tanya Peeta.
"Tidak apa-apa," jawabku. Kami terus berjalan, melewati gerbong terakhir, hingga aku yakin tidak ada kamera tersembunyi di semak-semak disepanjang rel. Tapi tidak ada kata terucap dari bibirku.
Haymitch membuatku terlonjak ketika dia menepuk punggungku. Bahkan saat ini, ditempat tersembunyi entah dimana, dia bicara dengan suara rendah.
"Kerja yang bagus, kalian berdua. Tetap teruskan sampai tidak ada kamera lagi. Kita akan baik-baik saja."
Aku mengawasi Haymitch berjalan kembali ke kereta dan menghindari tatapan Peeta. "Apa maksud Haymitch?" Peeta bertanya padaku.
"Capitol. Mereka tidak menyukai aksi kita dengan buah berry itu," jawabku. "Apa? Apa sih yang kaubicarakan?" tanya Peeta.
"Tindakan itu berbau pemberontakan. Jadi, Haymitch sudah mengarahkanku selama beberapa terakhir ini. Agar aku tidak memperburuk keadaan," kataku.
"Mengarahkanmu? Tapi aku tidak," kata Peeta.
"Dia tau kau cukup cerdas untuk melakukannya dengan benar," kataku.
"Aku tak tau ada yang harus dilakukan dengan benar," tukas Peeta. "Jadi maksudmu, beberapa hari terakhir ini dan kupikir.. di arena.. adalah strategi yang kalian rencanakan?"
"Bukan. Maksudku, aku tak bisa bicara dengannya di arena kan?" kataku tergagap. "Tapi  kau  tau  dia  ingin  kau  melakukan  apa,  kan?"  tanya  Peeta.  Kugigit  bibirku.
"Katniss?"
Peeta melepaskan tanganku dan aku berjalan selangkah, seakan ingin menemukan keseimbanganku lagi.
"Itu semua demi Hunger Games," kata Peeta. "Kau cuma berakting." "Tidak semuanya akting," kataku sambil memegangi bungaku erat-erat.
"Seberapa banyak, kalau begitu? Ah, lupakan saja. Kurasa pertanyaan sesungguhnya
adalah seberapa banyak yang tersisa ketika kita di rumah nanti?" tanyanya.
"Aku tidak tau. Distrik 12 makin dekat dan aku jadi makin bingung," kataku. Peeta menunggu penjelasan lebih lanjut, tapi tak ada kata-kata yang keluar.
"Yah, beritahu aku kapan kau tidak bingung lagi," katanya, kepedihan dalam suaranya terdengar jelas.
Aku bisa mendengar langkah kaki Peeta kembali ke gerbong kereta. Pada saat aku naik ke gerbong, Peeta sudah menghilang ke kamarnya sepanjang malam. Keesokan paginya aku juga tak melihatnya. Pada saat Peeta muncul, kami sudah memasuki distrik
12. Dia mengangguk padaku, wajahnya tanpa ekspresi.
Aku ingin bilang padanya bahwa dia bersikap tidak adil. Bahwa kami adalah dua orang yang tak saling mengenal. Bahwa aku melakukan apa yang perlu dilakukan untuk membuat kami tetap hidup, untuk membuat kami berdua tak tewas di arena. Bahwa aku tidak bisa menjelaskan hubunganku dengan Gale karena aku sendiri tidak tahu.   Bahwa tak  ada  gunanya  mencintaiku  karena  aku  juga  takkan  pernah  mau  menikah  dan  dia bakalan membenciku suatu saat nanti. Bahwa jika aku punya perasaan untuknya, semua itu tak penting lagi karena aku takkan pernah bisa punya cinta semacam itu, yang bisa membuatku  membayangkan  keluarga dan anak-anak.  Bagaimana mungkin  Peeta  bisa? Bagaimana bisa setelah semua yang kami alami?
Aku juga ingin memberitahunya bahwa saat ini aku sudah merindukannya. Tapi itu berarti aku bersikap tidak adil.
Jadi kami berdiri tanpa bicara. Melalui jendela, aku bisa melihat peron penuh dengan kamera. Semua orang bersemangat menyambut kepulangan kami.
Dari sudut mataku, kulihat Peeta mengulurkan tangannya. Aku memandangnya, tak yakin dengan apa yang harus kulakukan.
"Sekali lagi? Untuk penonton?" tanya Peeta. Suaranya tak terdengar marah. Suaranya terdengar kosong dan itu lebih buruk kedengarannya. Anak lelaki dengan roti itu sudah
terlepas dari genggamanku.
Kupegang tangan Peeta, kugenggam erat-erat, aku bersiap-siap menghadapi kamera, dan ngeri membayangkan saat ketika aku harus melepaskan genggaman tangan Peeta.



-------AKHIR BUKU SATU-------

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © 2015 Baca Online dan Seputar Blog
| Distributed By Gooyaabi Templates