Featured

June 20, 2015

The Hunger Games indonesia bagian 3

Saat lagu kebangsaan berakhir, kami dibawa untuk diamankan. Kami memang tidak diborgol atau semacamnya, tapi sekelompok Penjaga Perdamaian menggiring kami memasuki pintu depan Gedung Pengadilan. Mungkin dulu banyak peserta yang berusaha melarikan diri. Meskipun aku tak pernah melihat kejadian semacam itu.
Selama berada di dalam, aku dimasukkan ke ruangan dan ditinggal sendirian di sana. Ini tempat termewah yang pernah kumasuki, dengan karpet tebal, kursi-kursi, dan sofa berlapis beludru. Aku tahu seperti apa beludru karena ibuku memiliki gaun dengan kerah berbahan itu. Sewaktu duduk di sofa, aku tidak tahan untuk tidak mengelus beludru itu berkali-kali. Sentuhan itu membantu menenangkanku ketika aku menyiapkan diri untuk menghadapi saat-saat berikutnya. Waktu yang diberikan kepada para peserta untuk mengucapkan salam perpisahan dengan orang-orang yang mereka sayangi. Aku tidak bisa merasa merana, lalu keluar dari ruangan ini dengan mata bengkak dan hidung sembap. Menangis bukanlah pilihan. Akan ada lebih banyak kamera di stasiun kereta api.
Yang pertama datang adalah adik dan ibuku. Kuulurkan tangan pada Prim dan dia naik ke pangkuanku, kedua lengannya memeluk leherku, kepalanya di bahuku, sebagaimana yang sering dilakukannya saat dia masih balita. Ibuku duduk di sampingku dan memeluk kami berdua. Selama beberapa menit, tak ada yang bicara di antara kami. Kemudian aku mulai memberitahu segala hal yang harus mereka ingat untuk dikerjakan, karena sekarang aku takkan berada di sana untuk melakukannya.
Prim  tidak boleh  mengambil  tessera.  Jika mereka  hati-hati  mereka  bisa bertahan hidup dengan menjual keju dan susu kambing milik Prim dan menjalankan usaha toko
obat kecil yang sekarang diurus ibuku untuk penduduk Seam. Gale akan mencarikan tanaman  obat  yang  tidak  bisa  ditanam  sendiri  oleh  ibuku,  tapi  ibuku  harus  hati-hati
menggambarkannya pada Gale karena pemahamannya pada tanaman obat tidak seperti
aku. Gale juga akan membawakan sisa daging buruan untuk mereka-aku dan dia sudah berjanji soal ini sekitar setahun lalu-dan tidak akan meminta bayaran, tapi mereka akan berterima kasih pada Gale dengan memberinya barang-barang seperti susu atau obat- obatan.
Aku tidak mau repot-repot menyarankan Prim untuk belajar berburu. Aku pernah mengajarinya beberapa  kali  dan hasilnya kacau-balau. Dia  ketakutan berada di dalam hutan.  Setiap  kali  aku  memanah  sesuatu,  matanya  berkaca-kaca  dan  dia  mengatakan bahwa kami mungkin bisa mengobati binatang itu jika kami bergegas pulang secepatnya. Tapi dia punya hubungan baik dengan kambingnya, jadi aku berkonsentrasi pada hal itu.
Setelah aku selesai memberi pengarahan tentang bahan makanan, cara berdagang, dan agar Prim tetap bersekolah, aku berpaling pada ibuku dan mencekal lengannya kuat- kuat. "Dengarkan aku. Ibu mendengarku?"
Dia mengangguk, terkejut dengan keseriusanku. Dia pasti tahu apa yang hendak kukatakan.
"Ibu tidak boleh menghilang lagi," kataku.
Mata ibuku tertunduk memandang lantai. "Aku tahu. Aku takkan melakukannya. Aku tidak bisa menahan apa yang-"
"Yah,   kali   ini   ibu   harus   menahannya.   Ibu   tidak   bisa   cabut   begitu   saja   dan meninggalkan Prim sendirian. Sekarang tak ada aku yang bisa menjaga kalian agar tetap hidup. Tak peduli apa pun yang terjadi. Apa pun yang Ibu lihat di layar TV, Ibu harus berjanji padaku bahwa Ibu lihat dilayar TV, Ibu harus berjanji padaku bahwa ibu akan terus berjuang!" Suaraku  meninggi hingga  berteriak. Dalam  suaraku terdapat  segenap kemarahan, segenap ketakutan yang kurasakan ketika dia meninggalkanku.
Ibuku menarik lengannya dari cekalanku, dan jadi ikutan marah. "Dulu aku sakit. Aku bisa mengobati diriku sendiri jika memiliki obat yang kupunyai sekarang."
"Kalau begitu minum obatnya. Dan urus dia!" sergahku.
"Aku akan baik-baik saja, Katniss," kata Prim, seraya menangkup wajahku dengan kedua tangannya. "Kau juga harus jaga diri. Kau sangat cepat dan berani. Mungkin kau bisa menang."
Aku tidak bisa menang. Prim pasti sadar betul hal itu dalam hatinya. Pertarungan pasti akan jauh di atas kemampuanku. Anak-anak dari distrik yang lebih kaya, di mana
kemenangan adalah kehormatan besar, sudah berlatih sepanjang  hidup mereka untuk
pertarungan ini. Anak laki-laki yang ukuran tubuhnya dua kali lebih besar daripada tubuhku. Anak perempuan yang tahu dua puluh cara membunuhmu dengan pisau. Oh, tentu saja bakal ada orang-orang seperti aku nanti. Orang yang dihabisi sebelum pertarungan makin seru.


"Mungkin," jawabku, karena aku tidak mungkin bisa bilang pada ibuku untuk tetap berjuang jika aku sendiri sudah menyerah. Selain itu, bukan sifatku untuk kalah tanpa bertarung, bahkan saat kemungkinan untuk menang tampak begitu tipis. "Lalu kita akan kaya raya seperti Haymitch."
"Aku  tidak  peduli  kita  kaya  atau  tidak.  Aku  hanya  ingin  kau  pulang.  Kau  akan berusaha, kan? Sungguh-sungguh berusaha?" tanya Prim.
"Sungguh-sungguh berusaha. Sumpah," kataku. Dan aku tahu, demi Prim, aku akan harus sungguh berusaha.
Kemudian  Penjaga  Perdamai  berada  di  ambang  pintu,  memberi  tanda  waktunya sudah habis, lalu kami semua berpelukan sangat erat sampai sakit rasanya dan yang terus
ku ucapkan adalah "Aku menyayangimu. Aku menyayangi kalian."
Dan mereka membalas kata-kataku, kemudian Penjaga Perdamaian memerintahkan mereka keluar dan pintu pun tertutup. Kubenamkan kepalaku di salah satu bantal beludru seakan apa yang kulakukan ini bisa membendung segala yang terjadi.
Orang  lain  memasuki  ruangan,  dan  ketika  mendongak,  aku  kaget  saat  melihat ternyata yang datang adalah tukang roti ayah Peeta Mellark. Aku tidak percaya dia datang mengunjungiku. Bisa jadi aku bakalan berusaha membunuh anak lelakinya sebentar lagi. Tapi  kami  lumayan saling  mengenal,  dan dia  bahkan lebih  mengenal  Prim. Saat  Prim
menjual keju kambingnya di Hob, dia selalu menyisakan dua batang untuk tukang roti dan
sebagai gantinya dia memberikan banyak roti. Kalau ingin melakukan pertukaran dengannya, kami selalu menunggu saat istrinya yang jahat sedang tidak ada karena suaminya jauh lebih baik. Aku merasa yakin dia tidak pernah memukul anaknya karena
membuat   roti   hangus   seperti   yang   dilakukan   istrinya.   Tapi   kenapa   dia   datang menemuiku?
Tukang roti itu duduk dengan canggung di salah satu kursi empuk di ruangan ini. Dia lelaki  bertubuh  besar  dengan  bahu  lebar  dan  bekas  luka  bakar  di  tangannya  hasil bertahun-tahun di dekat  oven. Dia pasti baru mengucapkan salam perpisahan dengan putranya.


Dia mengeluarkan kantong kertas putih dari saku jaketnya lalu mengulurkannya ke arahku. Kubuka kantong itu dan kulihat ada kue di dalamnya. Kue adalah kemewahan yang takkan pernah bisa kuperoleh.
"Terima kasih," kataku. Tukang roti itu sering kali lebih banyak diam, dan hari ini dia tampak kehabisan kata-kata. "Aku makan roti Anda tadi pagi. Temanku Gale menukarnya dengan tupai pagi ini."
Dia mengangguk, seakan mengingat-ingat tupainya. "Bukan pertukaran yang menguntungkan Anda," kataku.
Lelaki itu mengangkat bahu seakan menganggapnya sebagai hal sepele.
Selanjutnya aku tidak bisa memikirkan topik pembicaraan lainnya, jadi kami duduk dalam keheningan sampai Penjaga Perdamaian memanggilnya. Dia bangkit dan batuk untuk melegakan pernapasannya. "Aku akan mengawasi gadis kecilmu. Memastikan dia bisa tetap kenyang."
Aku merasa beban yang mengimpit dadaku langsung terangkat mendengar perkataannya.  Orang-orang  biasanya  berdagang  denganku,  tapi  mereka  dengan  tulus
menyukai Prim. Mungkin akan ada cukup rasa suka yang mengupayakan Prim tetap hidup.
Tamuku berikutnya juga di luar dugaan. Madge berjalan langsung ke arahku. Dia tidak tampak cengeng atau menghindar, malahan ada ketergesaan dalam nada suaranya yang membuatku terkejut. "Mereka akan mengizinkanmu memakai satu barang dari distrikmu di dalam arena pertarungan. Satu benda yang mengingatkanmu pada rumah. Maukah kau memakai ini?"
Dia mengulurkan pin emas bundar yang tersemat digaunnya tadi siang. Sebelumnya aku tidak terlalu memperhatikannya, tapi sekarang aku melihat lambang burung yang sedang terbang.
"Pin  milikmu?"  tanyaku.  Memakai  tanda  mata  dari  distrikku  nyaris  tak  terlintas dalam benakku.
"Sini kupakaikan di gaunmu ya?" Madge tidak menunggu jawabanku, dia langsung menyematkan pin burung itu di pakaianku.
"Katniss, janji ya kau akan memakainya di arena?" tanya Madge. "Janji?"
"Ya," kataku. Kue. Pin. Aku dapat banyak hadiah hari ini. Madge memberiku hadiah lain. Ciuman di pipi. Kemudian dia pergi dan aku berpikir mungkin selama ini sebenarnya Madge adalah sahabatku.
Akhirnya, Gale datang. Mungkin memang tidak ada unsur romantis dalam hubungan kami, tapi saat dia merentangkan kedua lengannya, aku sama sekali tidak ragu untuk masuk  kepelukannya.  Tubuhnya terasa  tidak asing  lagi-caranya  bergerak, aroma  kayu yang terbakar, bahkan suara detak jantungnya yang kukenal dari momen-momen sunyi
saat berburu-tapi ini pertama kalinya aku sungguh-sungguh merasakannya, otot yang liat dan keras menempel pada tubuhku.
"Dengar," katanya. "Memperoleh pisau seharusnya urusan mudah, tapi kau harus bisa mendapat panah. Itu kemungkinan terbaikmu."
"Mereka  tidak  selalu  punya  panah,"  sahutku,  dan aku  teringat  pada  tahun ketika hanya ada tongkat berduri yang dimiliki para peserta untuk saling menghantam satu sama lain.
"Kalau begitu buat saja sendiri," tukas Gale. "Bahkan busur yang lemah lebih baik
daripada tak memilikinya sama sekali."
Aku pernah mencoba meniru busur panah buatan ayahku tapi hasilnya jelek sekali. Ternyata tidak semudah itu. Bahkan ayahku kadang-kadang harus membuang busur buatannya sendiri.
"Aku juga tidak tahu apakah bakal ada kayu di sana nanti," kataku. Pada tahun yang lain, mereka melempar semua orang ke daerah yang hanya ada batu-batu besar, pasir dan
semak-semak. Aku benci pertarungan tahun itu. Banyak peserta digigit ular berbisa atau
jadi gila karena kehausan.
"Selalu ada kayu," kata Gale. "Sejak tahun itu ketika setengah peserta mati karena kedinginan. Tidak banyak hiburan dari tayangan tahun itu."
Memang   benar.   Kami   pernah   menonton   para   peserta   dalam   Hunger   Games kedinginan sampai mati pada malam hari. Kau nyaris tida kbisa melihat mereka karena mereka hanya berbaring menggelung dan tidak ada kayu untuk dibuat api atau obor atau
apalah. Tahun itu dianggap tahun yang antiklimaks bagi Capitol, hanya melihat kematian-
kematian yang tenang dan tanpa darah. Sejak saat itu, biasanya selalu tersedia kayu untuk membuat api.
"Ya, biasanya memang ada," kataku.
"Katniss, ini hanya perburuan. Kau pemburu terbaik yang kukenal," kata Gale.
"Ini bukan sekedar perburuan. Mereka bersenjata. Dan mereka bisa berpikir," jawabku.
"Kau juga. Dan kau lebih sering latihan. Latihan sungguhan," katanya. "Kau tahu bagaimana membunuh."
"Bukan membunuh manusia," kataku. "Sesulit apa sih?" tanya Gale muram.
Yang membuatku bergidik adalah jika aku bisa lupa bahwa mereka manusia, maka tidak ada bedanya sama sekali.
Para Penjaga Perdamaian datang lebih awal dan Gale minta waktu lebih, tapi mereka
menariknya pergi dan aku mulai panik. "Jangan biarkan mereka kelaparan!" Aku menjerit memegangi tangan Gale.
"Tidak akan pernah! Kau tahu aku takkan membiarkannya. Katniss, ingat aku..." katanya. Kemudian mereka memisahkan kami dengan paksa lalu menutup pintu dan aku takkan pernah tahu apa yang ingin Gale katakan agar bisa kuingat.
Perjalanan dari Gedung Pengadilan sampai stasiun kereta api cukup singkat. Aku tak pernah naik mobil. Naik kereta kuda pun jarang. Di Seam, kami biasanya berjalan kaki.
Tidak menangis adalah keputusan benar. Stasiun kereta api penuh dengan wartawan lengkap dengan kamera mereka yang seperti serangga pengganggu diarahkan padaku. Tapi aku sudah sering berlatih menghapus segala bentuk emosi agar tidak terpampang di wajahku  dan  aku  melakukannya  sekarang.  Sekilas  kulihat  diriku  di  layar  televisi  di dinding yang menyiarkan kedatanganku secara langsung dan aku bersyukur bisa tampil dengan wajah bosan seperti itu.
Sebaliknya, Peeta Mellark jelas habis menangis dan yang menarik darinya adalah dia tidak berusaha menutupinya. Aku langsung berpikir apakah ini strateginya untuk Hunger Games kali ini. Dengan tampil lemah dan ketakutan, dia meyakinkan peserta-peserta lain bahwa dia bukanlah lawan yang patut di perhitungkan, baru kemudian dia muncul sebagai jagoan. Hal ini berhasil buat anak bernama Johanna Mason dari Distrik 7 beberapa tahun lalu. Dia kelihatannya cuma anak pengecut dan cengeng tak di perdulikan oleh semua orang sampai ketika tinggal beberapa peserta yang tersisa. Ternyata anak perempuan itu bisa membunuh dengan keji. Caranya bermain sangat cerdik. Tapi ini tampaknya strategi yang aneh dari Peeta Mellark karena dia putra tukang roti. Selama bertahun-tahun dia mendapatkan cukup makanan, lagi pula mengangkat nampan-nampan roti kesana kemari membuat bahunya kekar dan kuat. Dia harus menangis sampai tersedu-sedu tanpa henti untuk meyakinkan siapa pun agar mau menganggap enteng dirinya.
Kami  harus  berdiri  di  ambang  pintu  kereta  selama  beberapa  menit  sementara kamera televisi melahap wajah kami bulat-bulat, kemudian kami diizinkan masuk dan untunglah pintu segera menutup di belakang kami. Seketika kereta api pun bergerak.
Kecepatan kereta api ini membuatku tercengang. Tentu saja, aku tak pernah naik kereta, karena melakukan perjalanan antar disttik termasuk kegiatan terlarang kecuali
untuk melaksanakan tugas-tugas yang diperintahkan negara. Bagi distrik kami, tugas ini terutama mengangkut batu-bara. Tapi ini bukan kereta batu bara biasa. Ini salah satu
kereta milik Capitol yang berkecepatan tinggi, dengan kecepatan rata-rata 250 mil per jam.
Perjalanan kami ke Capitol akan makan waktu kurang dari sehari.
Di sekolah, mereka memberitahu kami bahwa Capitol dibangun di tempat yang dulu dinamai Pegunungan Rocky. Distrik 12 adalah wilayah yang dikenal sebagai Appalachia. Bahkan ratusan tahun lampau, mereka menambang batu bara disini. Itulah sebabnya para penambang kami harus menggali sangat dalam.
Entah  bagaimana  pelajaran  di  sekolah  selalu  kembali  ke  batu  bara.  Selain  buku bacaan dasar dan matematika kebanyakan pelajaran yang kami terima berhubungan dengan batu bara. Kecuali untuk kelas mingguan tentang sejarah Panem. Kebanyakan sih omong kosong tentang apa saja utang kami terhadap Capitol. Aku tahu pasti banyak yang tidak mereka beritahukan tentang kejadian yang sesungguhnya terjadi pada masa pemberontakan. Tapi aku tidak menghabiskan banyak waktu untuk memikirkannya. Apa pun kebenarannya, aku tidak melihat itu sebagai cara yang bisa membantuku mencari makan.
Kereta peserta ini lebih mewah dibanding ruangan di Gedung Pengadilan. Masing- masing orang diberi kamar sendiri lengkap dengan kamar tidur, ruang pakaian, dan kamar mandi pribadi dengan air keran yang bisa mengucurkan air dingin dan panas. Di rumah kami tidak punya air panas, kecuali kami memasaknya.
Ada laci-laci yang penuh berisi pakaian-pakaian bagus. Effie Trinket memberitahuku agar melakukan apa yang ingin kulakukan, memakai pakaian apa pun yang kuinginkan, segalanya yang ada disini bisa kupakai. Hanya saja kau harus siap untuk makan malam dalam waktu satu jam. Aku melepaskan gaun biru ibuku lalu mandi air hangat dari pancuran. Aku tak pernah mandi dengan air pancuran. Rasanya seperti di bawah siraman hujan, hanya saja lebih hangat. Aku memakai kemeja hijau tua dan celana panjang.
Pada saat terakhir, aku teringat pin emas Madge. Untuk pertama kalinya aku benar- benar memperhatikan pin itu. Ada perhiasan kecil bergambar burung emas dengan lingkaran emas di sekelilingnya. Burung itu menempel dengan lingkaran hanya di bagian ujung sayapnya. Tiba-tiba aku mengenali burung ini. Burung Mockingjay.
Mereka jenis burung yang lucu dan menampar wajah Capitol. Selama masa pemberontakan, Capitol membiakkan serangkaian hewan rekayasa genetika sebagai senjata. Istilah umum bagi hewan-hewan itu adalah mutan, atau kadang-kadang disingkat dengan sebutan mutt. Salah satunya adalah burung istimewa disebut jabberjay yang memiliki kemampuan untuk mengingat dan mengulang seluruh percakapan manusia. Mereka adalah burung yang bisa terbang pulang ke sarang, semuanya jantan, yang dilepaskan  ke  wilayah-wilayah  yang  dikenal  sebagai  tempat  persembunyian  musuh Capitol. Setelah burung-burung itu mengumpulkan kata-kata yang didengarnya, mereka terbang pulang ke markas untuk direkam. Butuh waktu beberapa saat bagi orang-orang untuk menyadari apa yang terjadi pada distrik-distrik tersebut, bagaimana percakapan- percakapan   pribadi   bisa   sampai   ke   telinga   Capitol.   Tentu   saja   kemudian   para pemberontak  mengibuli  Capitol  dengan  kebohongan-kebohongan  besar  dan  mereka tertipu habis-habisan. Sehingga markas yang jadi sarang burung itu pun ditutup dan burung-burung itu dibiarkan begitu saja agar punah di alam liar.
Hanya saja mereka tidak pernah punah. Malahan, burung-burung jabberjay itu kawin dengan mockingbird betina menciptakan spesies baru yang bisa meniru siulan burung dan melodi manusia. Mereka telah kehilangan kemampuan untuk mengulang kata-kata tapi masih  bisa  meniru  suara  manusia  sampai  tingkat  tertentu,  mulai  dari  suara  merdu bernada tinggi milik anak-anak hingga suara berat orang dewasa. Dan burung-burung ini bisa menciptakan ulang lagu. Bukan hanya beberapa nadanya, tapi seluruh lagu dengan berbagai versi berbeda, jika kau punya kesabaran untuk menyanyikannya pada burung- burung itu dan jika mereka menyukai suaramu.
Ayahku sangat menyukai burung mockingjay. Sewaktu kami berburu, biasanya Ayah akan bersiul atau menyanyikan lagu yang rumit pada mereka, dan setelah jeda yang sopan, burung-burung itu selalu balas bernyanyi. Tidak semua orang mendapat kehormatan semacam itu. Tapi setiap kali ayahku bernyanyi, semua burung di sana akan diam dan mendengarkan dengan saksama. Suaranya begitu indah, bernada tinggi dan jernih dan penuh  dengan  getar  kehidupan  sehingga  membuat  orang  yang  mendengarnya  ingin tertawa dan menangis pada saat yang bersamaan. Aku tak pernah sanggup melanjutkan latihan nyanyiku setelah ayahku tewas. Namun, entah bagaimana burung-burung kecil itu memberikan semacam kenangan. Seakan-akan ada bagian dari ayahku yang bersamaku, melindungiku.  Kupasang  pin  itu  ke  kemejaku,  dan  dengan  kain  berwarna  hijau  gelap
sebagai latar belakang,  aku nyaris bisa membayangkan burung mockingjay terbang  di antara pepohonan.
Effie   Trinket   datang   menjemputku   untuk   makan   malam.   Kuikuti   langkahnya melewati koridor sempit dan bergoyang-goyang menuju ruang makan dengan dinding berpanel kayu yang dipelitur. Di sana terdapat meja dengan piring-piring yang mudah pecah. Peeta Mellark duduk menunggu kami kursi di sampingnya kosong.
"Di mana Haymitch?" tanya Effie Trinket dengan nada ceria. "Terakhir kulihat dia, dia bilang mau tidur siang," sahut Peeta.
"Yah, ini memang hari yang melelahkan," kata Effie Trinket. Menurutku dia tampak lega tanpa kehadiran Haymitch, dan aku tidak menyalahkannya.
Makan malam  disajikan  satu  demi  satu.  Sup  wortel  kental,  salad  sayuran,  daging domba dan kentang tumbuk, keju dan buah-buahan, kue cokelat. Sepanjang makan, Effie
Trinket  mengingatkan  kami  untuk  menyisakan  ruang  di  perut  karena  masih  ada  lagi
makanan  yang  akan  disajikan.  Tapi  aku  makan  sebanyak-banyaknya  karena  aku  tak pernah makan makanan seperti ini, begitu lezat dan begitu banyak, dan karena mungkin saja hal terbaik yang bisa kulakukan sampai saat pertarungan tiba adalah menambah bobotku beberapa kilogram.
"Paling tidak kalian berdua masih punya sopan santun," kata Effie saat kami menghabiskan makanan utama. "Pasangan tahun lalu makan segalanya dengan tangan seperti orang-orang tak beradab. Aku sampai tidak nafsu makan melihatnya."
Pasangan tahun lalu adalah dua anak dari Seam yang tak pernah melewati satu hari pun dengan makan kenyang. Dan saat mereka melihat makanan, sopan santun di meja makan pasti sudah tak dipikirkan lagi. Peeta adalah anak tukang roti. Ibuku mengajari aku dan Prim untuk makan dengan benar, jadi ya, aku bisa menggunakan pisau dan garpu dengan baik. Tapi aku amat membenci komentar Effie Trinket sampai-sampai aku sengaja menghabiskan sisa makan malamku  dengan menggunakan tangan. Lalu aku mengelap kedua  tanganku  dengan  taplak  meja.  Perbuatanku  membuat  bibirnya  terkatup  makin rapat.
Kini setelah selesai makan, aku berusaha keras untuk menjaga agar makananku tidak naik lagi. Aku melihat  muka Peeta juga  agak pucat.  Perut kami berdua tidak terbiasa dengan makanan-makanan lezat seperti tadi. Tapi jika aku bisa tahan makan sup dengan daging tikus, jeroan babi, dan kulit pohon-terutama di musim dingin-aku bertekad untuk bisa menahan makananku agar tetap di lambung.
Kami menuju gerbong lain untuk menonton tayangan ulang pemungutan di seantero Panem. Mereka berusaha mengatur acara itu berlangsung sepanjang hari agar satu orang bisa menonton seluruh pemungutan secara langsung, tapi hanya orang-orang yang berada di Capitol yang bisa menonton seluruhnya, karena mereka tidak perlu menghadiri pemungutan.
Satu   demi   satu,   kami   melihat   pemungutan   di   distrik   lain,   nama-nama   yang disebutkan, para sukarelawan yang maju menggantikan, atau lebih seringnya lagi tak ada yang mau menjadi sukarelawan. Kami memperhatikan wajah-wajah mereka yang akan menjadi lawan-lawan kami. Ada beberapa yang sulit kulupakan. Anak lelaki mengerikan yang  berlari  maju  untuk  menjadi  sukarelawan  dari  Distrik  2.  Gadis  berwajah  rubah
dengan  rambut  merah  lurus  dari  Distrik  5.  Anak  laki-laki  yang  kakinya  pincang  dari Distrik 10. Dan yang paling menakutkan, gadis berusia dua belas tahun dari Distrik 11. Dia memiliki mata cokelat gelap, tapi selain itu ukuran tubuh dan tingkah polahnya mirip Prim. Hanya ketika dia naik ke panggung dan mereka bertanya apakah ada sukarelawan, yang bisa kudengar hanyalah embusan angin kencang di antara gedung-gedung kumuh di sekitarnya. Tak ada seorang pun yang mau menggantikan tempatnya.
Terakhir, mereka menampilkan Distrik 12. Nama Prim disebutkan, aku berlari maju untuk menjadi sukarelawan. Kau tidak bisa mendengar keputusasaan dalam suaraku saat mendorong Prim ke belakang tubuhku, seakan aku takut tak seorang pun mendengarku dan mereka akan membawa Prim pergi. Tapi tentu saja mereka mendengarnya. Aku melihat Gale menarik Prim menjauh dariku dan melihat diriku naik ke panggung. Para komentator tidak tahu harus berkata apa ketika melihat kerumunan massa menolak tepuk tangan. Salam hormat tanpa suara. Salah satu komentator mengatakan Distrik 12 selalu ketinggalan zaman tapi kebiasaan masyarakat setempat itu bisa tampak menawan. Seakan mendapat  aba-aba,  Haymitch  jatuh  di  panggung  dan mereka  mengerang  kocak.  Nama Peeta  ditarik,  dan  dengan  tenang  dia  mengambil  tempatnya.  Kami  berjabat  tangan. Mereka sampai ke bagian lagu kebangsaan lagi, dan acara pun berakhir.
Effie Trinket menggurutu tentang keadaan wignya. "Mentor kalian harus belajar banyak tentang penampilan. Juga banyak belajar tentang bagaimana bersikap saat disorot televisi."
Tanpa disangka Peeta tertawa. "Dia mabuk," kata Peeta. "Dia mabuk setiap tahun." "Setiap hari," tambahku. Aku tidak bisa tidak takut menyeringai. Cara Effie Trinket
mengatakannya seakan-akan Haymitch cuma bersikap kasar dan sikap lelaki itu bisa diperbaiki dengan beberapa tips darinya.
"Ya," desis Effie Trinket. "Kalian anggap ini lucu ya. Kalian tahu mentor kalian adalah penyambung  hidup  kalian  kepada  dunia  luar  dalam  Hunger  Games  ini.  Orang  yang
memberi kalian saran, mencarikan sponsor, dan menentukan hadiah-hadiah apa yang diberikan. Haymitch bisa jadi orang yang menentukan hidup dan mati kalian!"
Tepat  pada  saat itu,  Haymitch  terhuyung-huyung  masuk ke dalam  gerbong. "Aku ketinggalan makan malam ya?" katanya dengan suara tidak jelas. Kemudian dia muntah di
atas karpet mahal dan jatuh ke kotorannya sendiri.
"Silahkan tertawa!" kata Effie Trinket. Dia melompat dalam sepatu berhak lancipnya mengitari kubangan muntahan dan meninggalkan ruangan.

The Hunger Games indonesia bagian 2

Pernah dulu ketika aku tidak bisa melihat apa-apa dari pohon, menunggu tanpa bergerak hingga binatang buruanku lewat, aku ketiduran dan jatuh dengan ketinggian 10 kaki (3 meter),  dan  mendarat  dengan  punggungku.  Benturan  itu  seakan  membuat  semua udara tersembur keluar dari paru-paruku, dan aku hanya bisa terbaring di tanah berjuang menarik nafas dan membuang napas, untuk bisa melakukan apa saja. 

Itulah yang kurasakan sekarang, berusaha mengingat bagaimana cara bernapas, tidak dapat berbicara, terpaku mematung ketika nama yang disebutkan memantul dalam tengkorakku. Seseorang memegangi lenganku, anak lelaki dari Seam, rasanya aku pikir aku hampir terjatuh dan dia menangkapku.

Pasti ada kesalahan. Ini tak bisa terjadi. Kertas bertuliskan nama Prim hanya ada satu di antara ribuan! Kemungkinan namanya terpilih sangat kecil sampai aku bahkan tidak repot-repot mengkhawatirkannya. Bukankah aku sudah melakukan segalanya? Aku yang mengambil tessera, dan melarangnya melakukan itu? Selembar nama. Selembar nama di antara ribuan. Probabilitas pemilihan ini sangat menguntungkan baginya. Tapi itu sudah tidak penting lagi.

Jauh di sana, aku bisa mendengar kerumunan massa bergumam tak senag seperti yang selalu mereka lakukan ketika yang terpilih adalah anak berusia dua belas tahun karena tak seorang pun menganggap ini adil. Kemudian aku melihat Prim, darahnya membeku terlihat di wajahnya, kedua telapak tangannya mengepal keras disamping tubuhnya, jalannya kaku, dengan langkah-langkah kecil menuju panggung, melewatiku, kemudian aku melihat bagian belakang blusnya sedikit keluar dan menggantung di atas roknya. Hal kecil inilah, blus yang tak dimasukkan sehingga tampak seperti ekor bebek, yang membuatku kembali ke kenyataan.

"Prim!" Pekikan tertahan keluar dari mulutku, dan otot-ototku mulai bergerak lagi. "Prim!" Aku tidak perlu mendesak kerumunan. Anak-anak lain segera membuka jalan dan membiarkanku langsung berjalan menuju panggung. Aku tiba disamping Prim tepat ketika dia  hendak  menaiki  tangga.  Dengan  sekali  dorong,  aku  mendesak  Prim  ke  belakang tubuhku.

"Aku mengajukan diri!" pekikku. "Aku mengajukan diri sebagai peserta!"
Ada sedikit kekacauan dipanggung. Sudah berpuluh-puluh tahun tidak ada yang mengajukan diri jadi peserta di Distrik 12 dan protokolnya agak berkarat. Peraturannya adalah setelah nama peserta ditarik dari bola, anak lelaki lain, jika anak lelaki yang baru dibacakan, atau anak perempuan lain, jika nama anak perempuan yang baru dibacakan, bisa maju dan menggantikan tempat anak yang disebutkan namanya. Di beberapa distrik yang  menganggap  memenangkan  pemilihan  ini  adalah  kehormatan  besar,  dan  orang- orang bernafsu untuk mengorbankan diri, adanya orang yang sukarela mengajukan diri jadi peserta malah menjadi masalah rumit. Tapi di Distrik 12, dimana kata peserta kurang lebih  sinonim  dengan  kata  mayat,  orang  yang  mengajukan diri bisa dibilang mahkluk langka.
"Bagus sekali!" kata Effie Trinket. "Tapi menurutku ada masalah kecil antara memperkenalkan pemenang terpilih dan menanyakan apakah ada yang mau jadi sukarela jadi peserta, dan jika ada yang mau sukarela jadi peserta kemudian kita, hmm..." Suaranya perlahan-lahan menghilang, bingung harus bicara apa lagi.
"Apa masalahnya?" tanya sang wali kota. Dia memandangku dengan ekspresi sedih di wajahnya. Sebenarnya dia tidak mengenalku, tapi samar-samar dia tahu siapa aku. Akulah anak perempuan yang membawakannya stroberi. Anak perempuan yang kadang-kadang diajak ngobrol oleh putrinya. Anak perempuan yang berdiri berdempetan dengan ibu dan adik perempuannya lima tahun lalu. Dan sebagai anak tertua, anak perempuan itu menerima medali tanda keberanian dari sang wali kota. Medali atas nama ayahnya, yang tewas menguap di tambang. Apakah wali kota mengingat semua itu?
"Apa masalahnya?" ulang sang wali kota dengan suara serak. "Biarkan saja dia maju." Prim menjerit histeris di belakangku. Kedua lengannya yang kurus memelukku tak mau lepas. "Jangan, Katniss! Jangan! Kau tidak boleh pergi!"
"Prim, lepaskan aku," bentakku kasar, karena hal ini membuatku gusar dan aku tidak mau menangis. Nanti malam saat mereka menayangkan ulang acara pemilihan, semua orang akan mengingat tangisanku, dan aku akan di cap sebagai sasaran mudah. Orang lemah. Aku tak mau memberi mereka kepuasan itu. "Lepaskan!"
Aku bisa merasa ada orang yang menarik Prim dari punggungku. Aku menoleh dan melihat Gale menarik Prim hingga kakinya terangkat dari tanah sambil meronta-ronta dalam pelukan Gale.
"Naik sana, Catnip," katanya, dengan suara yang berusaha ditagannya agar tetap tegar, kemudian dia membopong Prim ke ibuku. Kukuatkan diriku dan kunaiki tangga menuju panggung.
Aku menelan ludah dengan susah payah. "Katniss Everdeen." kataku.
"Aku berani taruhan tadi adik perempuanmu. Kau tidak mau dia jadi jagoan ya? Ayo, semuanya!  Berikan tepuk  tangan  yang  meriah  untuk  peserta  terbaru  kita!"  seru  Effie Trinket.
Penduduk Distrik 12 memang patut dipuji, karena tak ada seorang pun bertepuk tangan. Bahkan orang-orang yang memegang kertas taruhan pun tidak ada yang bertepuk tangan, padahal mereka biasanya paling tidak pedulian. Mungkin karena mereka mengenalku dari Hob, atau mengenal ayahku atau pernah bertemu dengan Prim, yang selalu disukai semua orang. Jadi bukannya menerima tepuk tangan, aku berdiri tak bergerak di panggung sementara mereka menunjukkan penolakan terberani yang bisa mereka lakukan. Diam. Mereka menyatakan bahwa mereka tidak setuju. Mereka tidak memaafkan. Semua ini salah.
Kemudian  terjadi  sesuatu  yang  tak  terduga.  Paling  tidak  aku  tidak menduganya karena aku tidak menganggap Distrik 12 sebagai tempat yang peduli padaku. Tapi terjadi perubahan  sejak  aku  menggatikan  posisi  Prim, dan sekarang  aku  tampaknya  menjadi seseorang yang berharga. Mulanya hanya satu orang, kemudian ada yang lain, lalu hampir semua orang yang ada di kerukunan menyentuhkan tiga jemari tengah kanan kiri ke bibir mereka kemudian mengulurkan jemari mereka ke arahku.
Gerakan  ini  adalah  gerakan  lama  dan  jarang  di  gunakan  di  distril  kami, kadang- kadang dilakukan oleh beberapa orang di pemakaman. Gerakan ini artinya terimakasih, penghormatan, salam selamat tinggal pada orang yang kau kasihi.
Sekarang aku benar-benar tidak bisa menahan tangis, tapi untungnya Haymitch memilih saat ini untuk terhuyung-huyung melintasi panggung dan memberikan selamat padaku.
"Lihat dia. Lihat yang satu ini!" teriaknya, satu lengannya memeluk bahuku. Untuk pemabuk lusuh, pegangannya ternyata kuat. "Aku menyukainya!"
Napasnya bau minuman keras dan entah kapan terakhir kalinya dia mandi. "Banyak... " Sejenak dia tidak bisa memikirkan kata apa yang hendak diucapkannya.
"Nyali!" katanya dengan penuh kemenangan. "Lebih dari kalian!" Haymitch melepasku dan menuju bagian depan panggung.
"Lebih dari kalian!" teriaknya, menunjuk langsung ke arah kamera.
Apakah ucapannya ditujukan untuk penonton atau saking mabuknya dia sesungguhnya mengejek Capitol? Aku tak pernah tahu apa maksudnya karena ketika Haymitch membuka mulut untuk melanjutkan, dia ambruk di panggung dan langsung tak sadarkan diri.
Pria itu menjijikan, tapi aku bersyukur. Karena kamera mereka tertuju padanya, aku jadi punya waktu berdeham kecil mengeluarkan rasa sesak di tenggorokanku dan menenangkan diriku  kembali. Kulipat tanganku ke belakang  dan tatapanku tertuju  ke kejauhan, masih bisa kulihat perbukitan yang kudaki bersama Gale pagi tadi.
Sesaat, aku mendambakan sesuatu... gagasan bahwa kami meninggalkan distrik... hidup  mandiri  di  hutan...  tapi  aku  benar  dengan  memilih  untuk  tidak melarikan  diri.
Karena siapa lagi yang mau sukarela menggantikan Prim?
Haymitch  dibawa  pergi  dengan usungan,  dan Effie  Trinket  berusaha  melanjutkan acara. "Hari yang  seru!"  ocehnya  sambil  berusaha meluruskan rambut palsunya, yang terlalu miring ke kanan. "
Tapi masih ada yang lebih seru lagi! Waktunya memilih peserta laki-laki! Wanita itu jelas masih berusaha memperbaiki keadaan rambutnya, dengan satu tangan di kepala dia berjalan menuju bola yang berisi nama anak laki-laki dan mencomot kertas pertama yang disentuhnya. Dia bergegas kembali ke podium, dan aku bahkan tidak sempat berharpa semoga Gale anan ketika dia membacakan nama di kertas. "Peeta Mellark!"
Peeta Mellark!
Oh  tidak, pikirku. Jangan  dia. Karena aku  mengenali  namanya, meskipun aku tak pernah bicara langsung dengan pemilik nama itu. Peeta Mellark.
Ternyata, keberuntungan tak di pihakku hari ini.
Kuperhatikan dia saat berjalan menuju panggung. Tinggi tubuhnya sedang, sedikit gempal, rambutnya pirang abu yang jatuh bergelombang di dahinya. Keterkejutan yang dirasakan Peeta atas kejadian ini tertera di wajahnya, aku bisa melihat perjuangannya untuk memperlihatkan wajah tanpa emosi, tapi mata birunya menunjukkan kewaspadaan yang sering kulihat di mata mangsa buruan. Namun dia tetap naik ke panggung dengan langkah mantap dan mengambil tempat yang disediakan untuknya.
Effie Trinket bertanya apakah ada yang mau sukarela menggantilan Peeta, tak ada serorang  pun  yang  muncul.  Aku  tahu  dia  punya  dua  kakak  laki-laki. Aku  pernah melihatnya di toko roti, tapi  salah  satu  kakaknya  mungkin terlalu tua untuk sukarela menggantikannya dan satu lagi tidak mau melakukannya. Bagi kebanyakan orang rasa bakti terhadap keluarga ada batasnya pada hari pemungutan. Apa yang kulakukan adalah perbuatan radikal.
Wali kota mulai membacakan Perjanjian Pengkhianatan yang panjang dan membosankan sebagaimana  yang  selalu  di lakukannya setiap tahun-bacaan ini  adalah keharusan-tapi tidak sepatah kata pun masuk ke telingaku.
Kenapa dia? Pikirku. Lalu aku berusaha meyakinkan diriku sendjri bahwa tidak ada masalah. Aku tidak bersahabat dengan Peeta Mellark. Bahkan kami tidak hidup bertetangga. Kami tidak saling bicara. Satu-satunya hubungan nyata antara kami terjadi beberapa tahun lalu. Dia mungkin sudah melupakannya. Tapi aku tidak lupa dan aku tahu akan takkan pernah melupakannya...
Kejadiannya berlangsung pada masa terburuk. Ayahku tewas dalam kecelakaan di tambang tiga bulan sebelumnya pada bulan Januari dalam musim dingin terparah yang bisa diingat semua orang. Perasaanku yang mati rasa atas kematian ayahku sudah berlalu, dan  rasa  sakit  itu  mendadak  menyerangku  entah  dari  mana,  dalam  kepedihan  yang berlipat ganda, dan mengguncang tubuhku dengan isakan. Dimana kau? Jeritku dalam hati. Ke mana kau pergu? Tentu saja tak pernah ada jawaban atas pertanyaan-pertanyaanku.
Distrik  memberi  kami  sedikit  uang  sebagai  jasa  kematian  ayahku,  cukup  untuk sebagai biaya hidup selama satu bulan masa dukacita, dan setelah itu ibuku diharapkan sudah memperoleh pekerjaan. Namun ternyata dia tidak melakukannya. Ibuku tidak melakukan apa-apa selain duduk bersandar di kursi, atau lebih sering lagi, berbaring di tempat tidur meringkuk di bawah selimut, matanya tertuju pada titik di kejauhan. Sesekali ibuku bergerak, terbangun seolah karena ada urusan penting, namun kemudian jatuh lagi dalam diamnya. Permohonan Prim yang bertubi-tubi tampaknya tidak berpengaruh padanya.
Aku ketakutan setengah mati. Sekarang aku bisa berpikir bahwa ibuku mungkin terkunci dalam semacam dunia kesedihan yang kelam, tapi pada saat itu, yang kutahu adalah aku tidak hanya kehilangan ayahku, tapi juga ibuku. Pada usia sebelas tahun, dan Prim baru berusia tujuh tahun, aku mengambil peran sebagai kepala keluarga. Tidak ada pilihan lain. Aku membeli makanan di pasar dan memasaknya sesanggup yang bisa aku lakukan dan berusaha menjaga diriku dan Prim agar berpenampilan layak. Karena jika ketahuan bahwa ibuku tidak bisa merawat kami lagi, distrik akan mengambil kami dari ibuku dan menempatkan aku dan Prim di rumah komunitas.
Di sekolah, aku melihat anak-anak yang tinggal di rumah itu. Aku melihat kesedihan, tangan yang marah menyisakan bekas di wajah mereka, ketidakberdayaan yang membuat mereka lemah lunglai. Aku tidak bisa membiarkan itu terjadi pada Prim. Prim yang manis dan mungil, yang ikut menangis saat aku menangis bahkan sebelum dia tahu alasanku menangis, yang menyikat dan mengepang rambut ibuku sebelum kami berangkat ke sekolah,  yang  setiap  malam  masih  memoles  cermin  yang  digunakan  ayahku  untuk bercukur karena ayahku tidak suka melihat lapisan debu batu bara yang menempel di
segala penjuru Seam. Rumah komunitas akan menghancurkan Prim seperti serangga yang remuk. Jadi aku menyimpan rahasia kesulitan hidup kami rapat-rapat.
Tapi kami kehabisan uang dan perlahan-lahan kami kelaparan hingga nyaris mati. Tidak ada cara lain untuk menjelaskannya. Aku terus-menerus mengatakan pada diriku sendiri  agar  aku  bisa  bertahan  sampai  bulan  Mei,  hanya  sampai tanggal  8  Mei,  saat umurku tepat dua belas tahun dan aku bisa mendaftar untuk tessera lalu memperoleh gandum dan minyak yang berharga itu agar kami bisa makan. Akan tetapi aku masih harus melewati beberapa minggu lagi. Pada saat itu kami mungkin sudah mati.
Kelaparan bukanlah kejadian yang biasa di Distrik 12. Siapa yang tak pernah melihat korban-korban kelaparan? Orang-orang tua yang tidak bisa bekerja. Anak-anak dari keluarga yang memiliki terlalu banyak mulut untuk diberi makan. Mereka yang terluka di tambang.  Berusaha  mengais-ngais  di  jalanan.  Dan  suatu  hari  kau  akan  menemukan mereka sedang duduk tak bergerak bersandar pada dinding atau berbaring di padang rumput, kau mendengar tangisan dari rumah, dan Penjaga Perdamaian di panggil untuk mengambil jenazah itu. Kelaparan tak pernah jadi penyebab kematian secara resmi. Selalu ada penyebab lain seperti flu, terlalu lama berada di udara terbuka, atau pneumonia. Tapi penyebab bohongan itu tidak bisa menipu siapapun.
Pada sore hari pertemuan pertamaku dengan Peeta Mellark, hujan deras sedingin es menghantam bumi dengan bengis. Aku sedang berada di kota, berusaha menukar pakaian bayi milik Prim yang sudah tipis kainnya di pasar umum, tapi tidak ada seorang pun yang mau. Walaupun aku pernah ke Hob beberapa kali bersama ayahku, aku terlalu takut untuk pergi menjelajah ke tempat yang kasar dan keras itu seorang diri. Hujan sudah menembus hingga ke balik jaket berburu ayahku, dan membuatku menggigil kedinginan hingga ke tulang. Selama tiga hari, kami hanya minum air yang dididihkan dengan daun-daun mint kering yang kutemukan dibelakang  lemari dapur. Pada saat pasar tutup, aku gemetar begitu hebat sehingga menjatuhkan buntalan pakaian bayi itu ke genangan lumpur. Aku tidak memungutnya karena takut aku bakal jatuh terjungkal dan tak bakalan sanggup lagi bangkit berdiri. Selain itu, tak ada seorang pun yang menginginkan pakaian tersebut.
Aku tidak bisa pulang. Karena di rumah ada ibuku yang matanya tidak menunjukkan tanda kehidupan dan adik perempuanku, dengan pipinya yang cekung dan bibir pecah- pecah. Aku tidak bisa melangkah masuk ke dalam ruangan dengan api berasap tebal dari ranting-ranting lembap yang berhasil kupungut dari tepi hutan setelah kami kehabisan batu bara, dan tanganku sudah kosong kehabisan harapan.
Aku   berjalan  terhuyung-huyung   di   jalanan  becek   di  belakang  toko-toko  yang melayani orang-orang terkaya di kota. Para pedagang biasanya tinggal di bagian atas tempat usaha mereka. Aku ingat pokok-pokok tanah di kebun mereka belum ditanami untuk musim semi, ada satu atau dua ekor kambing di kurungan, seekor anjing yang basah kuyup terikat di tiang, duduk membungkuk dalam keadaan kotor.
Segala  bentuk pencurian  dilarang  di  Distrik  12.  Pencuri  bisa dihukum  mati.  Tapi terlintas di pikiranku mungkin ada sisa-sisa makanan di tong sampah, dan mengais tong sampah bukan perbuatan terlarang. Mungkin sisa tulang hasil sampah tukang daging atau sayuran busuk di tong sampah penjual barang pokok, sisa-sisa yang tak mau dimakan oleh
siapa pun kecuali keluargaku yang sudah putus asa untuk makan apa saja. Sialnya, tong- tong sampah itu baru saja di kosongkan.
Ketika melewati  toko  roti, aroma  roti segar  memenuhi udara  sampai-sampai  aku merasa pusing. Panggangan roti berada di belakang dan kilau keemasan mengintip dari pintu dapur yang terbuka. Aku mengangkat penutup tong sampah tukang roti dan melihat isinya kosong melompong.
Tiba-tiba aku mendengar orang berteriak kepadaku dan aku melihat istri tukang roti, menyuruhku pergi dari sana atau dia akan menghubungi Penjaga Perdamaian dan betapa menjijikkan baginya melihat anak nakal dari Seam mengorek-ngorek tempat sampahnya. Kata-kata yang diucapkannya tidak enak didengar dan aku tidak bisa membela diri. Ketika aku menutup tong sampah dan mundur dengan hati-hati, aku memperhatikannya, seorang anak laki-laki beramput pirang mengintip dari belakang punggung ibunya. Aku pernah melihatnya di sekolah. Dia seangkatan denganku, tapi aku tidak tahu siapa namanya. Dia biasa  bermain  bersama  anak-anak  dari  kota,  jadi  bagaimana  aku  bisa  mengenalnya? Ibunya masuk lagi ke toko roti sambil menggerutu, tapi anak lelaki itu pasti memperhatikanku ketika aku berjalan ke belakang kurungan babi milik mereka dan bersandar di bawah pohon apel yang sudah tua. Kesadaran bahwa aku tidak punya apa- apa  untuk  di  bawa  pulang  akhirnya  menghantamku.  Kedua  lututku  goyah  dan  aku merosot dari sandaranku di batang pohon hingga jatuh ke akarnya. Aku tak sanggup lagi. Aku terlalu sakit, lemah, dan letih, oh, betapa letihnya aku. Biar saja mereka menghubungi Penjaga Perdamaian dan membawa kamu ke rumah komunitas, pikirku. Atau lebih baik lagi, biarkan aku mati di sini di bawah siraman hujan.
Terdengar suara berkelontangan di dalam toko roti dan aku mendengar wanita itu berteriak lagi diiringi suara pukulan, dan samar-samar aku penasaran dengan peristiwa yang  sedang  berlangsung.  Kudengar  langkah  kaki  menginjak  lumpur  ke  arahku  dan kupikir, Dia datang. Wanita itu datang untuk mengusirku dengan kayu. Tapi bukan wanita itu yang datang. Ternyata anak lelakinya. Dia membawa dua roti berukuran besar yang pasti jatuh ke dalam api karena kulitnya hangus kehitaman.
Ibunya berteriak, "Beri makan babi sana, dasar anak tolol! Sekalian saja! Tak ada orang yang mau membeli roti hangus!"
Anak lelaki itu mulai mencungkil bongkahan roti di tangannya dan melemparkannya ke antara jeruji kurungan kemudian bel pintu toko roti berdentang dan sang ibu menghilang masuk ke toko untuk melayani pembeli.
Tak sekalipun anak lelaki itu melirik ke arahku, tapi aku memperhatikannya lekat- lekat. Karena roti di tangannya, karena tanda berwarna merah di pipinya. Dengan apa
wanita itu memukul anaknya? Orangtua kami tak pernah memukul. Aku bahkan tak bisa membayangkannya. Anak lelaki itu menoleh sekali ke toko roti seakan memastikan bahwa situasi   sudah   aman,    kemudian   sembari    memperhatikan   babi   di   kurungan   dia
melemparkan roti ke arahku. Diikuti roti kedua dengan cepat, lalu dia berjalan lambat ke
toko roti, dan menutup pintu dapur rapat-rapat di belakangnya.
Aku tidak percaya memandangi dua roti besar yang di lemparnya. Roti-roti ini bagus, sempurna sebenarnya, kecuali bagian yang hangus. Apakah dia sengaja membuangnya untukku? Pasti begitu. Karena roti ini sekarang ada di dekat kakiku. Sebelum ada orang
yang menyaksikan kejadian ini aku buru-buru menyelipkan dua roti ini ke balik kausku, membungkus tubuhku rapat-rapat dengan jaket berburu ayahku, dan bergegas menjauh pergi. Panasnya roti ini membakar kulitku, tapi aku memeganginya makin erat, berpegangan padanya seperti menggantungkan nyawaku.
Pada saat aku tiba di rumah, entah bagaiamana roti-roti itu sudah mendingin, tapi bagian dalamnya masih hangat. Saat aku menaruh roti itu di meja, tangan Prim sudah terulur untuk menyobek sepotong besar roti itu, tapi aku menyuruhnya duduk dulu, memaksa ibuku untuk bergabung di meja makan dan menuangkan teh hangat. Kukorek lalu  kubuang  bagian  hangus  dan  kupotong  roti  itu.  Kami  makan  satu  roti  besar  itu sepotong demi sepotong. Roti yang lezat mengenyangkan, di dalamnya ada kismis dan kacang.
Aku mengeringkan pakaianku di dekat api, naik ke ranjang dan tidur nyenyak tanpa mimpi. Baru keesokan paginya terlintas dalam pikiranku bahwa anak lelaki itu mungkin sengaja menghanguskan roti-roti itu kedalam api, walaupun tahu dia bakal dihukum, lalu memberikannya padaku. Tapi aku mengenyahkan pikiran ini. Pasti roti itu hangus tanpa sengaja.  Buat  apa  dia  melakukannya?  Dia  bahkan  tidak  mengenalku.  Namun, melemparkan roti-roti itu kepadaku adalah kebaikan tak terkira yang bisa membuatnya dipukul jika ketahuan. Aku tidak bisa membuatnya dipukul jika ketahuan. Aku tidak bisa menjelaskan alasan perbuatannya.
Kami makan beberapa potong roti untuk sarapan lalu berangkat ke sekolah. Seolah- olah  musim semi tiba  dalam semalam. Udara hangat  yang  manis. Awan-awan empuk. Disekolah, aku melewati anak lelaki itu di lorong, pipinya bengkak dan matanya memar kehitaman. Dia bersama teman-temannya dan tampak tidak mengenaliku. Tapi saat aku menjemput Prim dan berjalan pulang pada siang itu, kulihat dia memandangiku dari seberang   lapangan   sekolah.   Hanya   sedetik   mata   kami   bertemu,   kemudian   dia memalingkan wajahnya.  Aku  menunduk, malu,  dan saat itulah  aku  melihatnya.  Bunga dandelion pertama tahun itu. Bunyi peringatan berdentang dalam benakku. Aku teringat pada waktu yang kuhabiskan di hutan bersama ayahku dan aku tahu bagaimana kami akan bertahan hidup.
Hingga hari ini, aku takkan pernah bisa menghilangkan hubungan antara lelaki ini, Peeta Mellark, dan roti yang memberiku harapan, serta dandelion yang mengingatkanku bahwa  aku  belum  sampai  ajal.  Beberapa  kali,  aku  menoleh  di  lorong  sekolah  dan mendapati tatapannya sedang tertuju padaku, tapi kemudian buru-buru dialihkannya. Aku merasa seperti berutang seperti itu. Mungkin jika aku sempat berterima kasih padanya,
aku  tidak  akan merasa  sebingung sekarang.  Aku  pernah berniat  mengucapkan terima
kasih padanya satu-dua kali, tapi tak pernah ada kesempatan untuk itu. Dan sekarang kesempatan itu takkan pernah ada lagi. Karena kami akan dilempar di arena pertarungan untuk bertarung sampai mati. Bagaimana aku bisa bilang terima kasih dalam situasi semacam itu? Entah ya, tapi terima kasihku bakal tampak tidak tulus jika aku mengatakannya sembari hendak menggorok lehernya.
Wali kota akhirnya selesai juga membacakan Perjanjian Pengkhianatan dan mengisyaratkan  aku  dan  Peeta  agar  berjabat  tangan.  Jabatan  tangannya  mantap  dan hangat seperti roti-roti yang diberikannya padaku. Peeta memandang mataku lekat-lekat
dan meremas tanganku, kupikir maksud remasan itu adalah untuk menentramkan hatiku. Atau mungkin juga tangannya kedutan karena tegang.
Kamu kembali berdiri menghadap kerumunan massa ketika lagu kebangsaan Panem dinyanyikan.
Ya sudahlah, pikirku. Ada dua puluh empat orang nanti. Kemungkinan ada orang lain yang lebih dulu membunuhnya.
Akan   tetapi,   belakangan   ini   segala   bentuk   hitungan   kemungkinan   tidak   bisa diandalkan lagi.

The Hunger Games indonesia bagian 1

Ketika aku bangun, bagian tempat tidur di sebelahku terasa dingin. Jari-jariku terulur, mencari kehangatan tubuh Prim, tapi hanya menemukan sebuah kanvas kasar yang menutupi kasur. Dia pasti mengalami mimpi buruk dan naik ke tempat tidur ibu kami. Tentu saja, dia pasti mengalaminya. Hari ini hari penuaian.

Aku menyokong tubuhku dengan sikuku. Ada cahaya yang cukup di kamar tidur untuk bisa melihat mereka. Adik perempuanku Prim, berbaring menyamping, meringkuk seperti kepompong pada  tubuh ibuku,  pipi mereka  bersentuhan.  Dalam  tidur, ibuku terlihat lebih muda, kelihatan lelah tapi tidak terlihat begitu kelelahan. Wajah Prim sesegar tetesan hujan, seindah bunga Primrose, seperti nama yang diberikan padanya. Ibu ku dulu juga sangat cantik. Atau seperti itulah yang mereka ceritakan.

Adalah  kucing paling  jelek  di  dunia yang duduk  dilutut  Prim,  menjaganya. Hidungnya pesek, setengah dari salah satu telinganya hilang, matanya berwarna seperti labu busuk. Prim menamainya Buttercup, bersikeras bahwa warna bulunya yang berwarna kuning lumpur seperti warna bunga yang cerah. Buttercup membenci ku. Setidaknya tidak percaya padaku. Meski sudah beberapa tahun yang lalu, aku rasa dia masih ingat bagaimana aku mencoba menenggelamkannya  ke  dalam  ember  ketika  Prim membawanya pulang. Anak kucing yang kurus, dengan perut penuh cacing dan digerogoti kutu. Hal terakhir yang kubutuhkan adalah mulut lain yang harus diberi makan. Tapi Prim memohon dengan sangat, bahkan menangis, aku harus membiarkan kucing itu tinggal. Hasilnya baik-baik saja. Ibuku berhasil membuang kuman dari tubuhnya dan kucing itu terlahir sebagai pemburu tikus. Bahkan bisa menangkap tikus besar. Kadang-kadang, sehabis aku berburu, aku memberi makan Buttercup isi perut. Dia sudah berhenti mendesis padaku.

Isi perut binatang. Tidak ada desisan. Ini adalah jalan terdekat kami untuk sebuah kasih sayang.

Aku  mengayunkan kedua  kakiku  turun  dari  tempat tidur dan  memakai  sepatu  boot berburuku. Berbahan kulit lentur yang membentuk kakiku. Aku memaakai celana panjang, kemeja, dan kuselipkan rambut kepang panjangku yang gelap kedalam topi, lalu kuambil tas berburuku. Di atas meja, dibawah mangkuk kayu yang melindunginya dari tikus dan kucing kelaparan, tersembunyi sepotong kecil keju kambing yang terbungkus daun basil. Hadiah Prim untukku pada hari penuaian. Aku masukkan keju itu dengan hati-hati ke dalam sakuku ketika aku diam-diam keluar.

Bagian wilayah kami di Distrik 12 dinamakan Seam, biasanya disesaki para penambang batu bara yang sedang menuju tempat kerja memulai shift pagi di jam seperti ini. Pria dan wanita dengan bahu-bahu bungkuk, buku-buku tangan yang bengkak, banyak diantara mereka yang sudah lama berhenti berusaha mencungkil sisa-sisa lapisan arang batu bara yang terselip di antara kuku mereka yang patah, atau di garis-garis wajah mereka yang cekung. Tapi hari ini jalan yang hitam karena arang terlihat kosong. Daun-daun jendela di rumah-rumah kelabu kecil tampak kosong. Daun-daun jendela di rumah-rumah kelabu tertutup. Penuaian diadakan jam dua siang. Lebih baik tidur selagi bisa.

Rumah kami berada nyaris di pinggiran Seam. Aku hanya perlu melewati beberapa pagar untuk tiba dilapangan tak  terurus  yang  disebut  The Meadow.  Adalah rangkaian pagar besi tinggi yang puncaknya dipasangi kawat berduri, memisahkan The Meadow dari hutan, mengelilingi seluruh Distrik 12. Secara teori, seharusnya pagar itu dialiri arus listrik 24  jam per hari untuk menghalangi binatang-binatang pemangsa yang hidup  dihutan  seperti kawanan  anjing  liar,  macan  kumbang  yang  berburu  sendirian,  dan beruang yang dulu mengancam jalanan kota kami. Tapi sejak kami beruntung mendapatkan aliran listrik selama dua atau tiga jam pada malam hari, pagar ini biasanya jadi aman untuk dipegang. Walaupun begitu, aku selalu menunggu sebentar mendengarkan apakah ada dengungan yang berarti pagar ini dialiri listrik. Sekarang, pagar ini setenang batu. Kukempiskan perutku dan kusorongkan tubuhku ke bawah bagian pagar yang longgar sekitar setengah meter. Celah itu sudah ada selama bertahun-tahun, namun tertutup dibawah sesemakan. Masih ada beberapa bagian longgar di pagar ini, tapi celah yang satu ini paling dekat dengan rumah sehingga aku hampir selalu masuk ke hutan lewat sini.

Secepatnya ketika aku berada di pepohonan, aku mengambil busur dan anak-anak panah dari batang kayu yang berongga. Berlistrik atau tidak, pagar itu berhasil menjaga binatang pemakan daging agar tetap berada diluar Distrik 12. Di hutan, mereka berkeliaran bebas dan ada kekhawatiran lain seperti ular-ular berbisa, anjing-anjing gila, dan tak ada jejak untuk bisa diikuti. Tapi disana ada makanan juga jika kau tahu bagaimana menemukannya. Ayahku tahu dan dia mengajariku sebagian caranya sebelum dia meledak berkeping-keping dalam ledakan di tambang. Tidak ada yang bisa dikuburkan. Umurku sebelas tahun saat itu. Lima tahun kemudian, aku masih terbangun sambil berteriak pada ayahku agar lari dari tambang.

Walaupun melanggar batas dan memasuki hutan adalah ilegal dan berburu tanpa izin bisa dihukum berat, tapi banyak orang berani mengambil risiko jika mereka memiliki senjata. Tapi kebanyakan tidak punya cukup keberanian hanya bermodalkan pisau. Panahku adalah sesuatu yang langka, dibuat oleh ayahku bersama dengan beberapa benda lain yang kusembunyikan dengan baik di hutan, yang dengan hati-hati dibungkus dengan pembungkus tahan air. Ayahku bisa mendapat uang banyak jika dia mau menjualnya, tapi jika pihak yang berwenang mengetahuinya dia bisa dieksekusi didepan umum karena menghasut pemberontakan. Sebagian besar Penjaga Perdamaian menutup mata pada segilintir kami yang berburu karena mereka juga lapar daging sama seperti semua orang. Sesungguhnya, mereka pelanggan-pelanggan terbaik kami. Tapi gagasan bahwa ada orang yang mungkin saja bisa mempersenjatai Seam selamanya takkan pernah diperbolehkan.

Pada musim gugur, beberapa orang yang berjiwa pemberani menyelinap ke hutan untuk memanen apel. Tapi masih dalam jarak pandang The Meadow. Selalu cukup dekat untuk bisa berlari pulang ke dalam Distrik 12 yang aman jika masalah datang. "Distrik Dua Belas. Dimana kau bisa mati kelaparan dalam keadaan aman," gumamku. Kemudian aku menoleh cepat kebelakang. Bahkan disini, bahkan ditengah antah berantah, kau mengkhawatirkan seseorang yang bisa mendengarmu.

Ketika  aku masih  muda,  aku benar-benar membuat  ibuku ketakutan, dengan kata-kata yang kuocehkan tentang Distrik 12, tentang orang-orang yang mengatur negara kami, Panem, dari kota yang jauh di sana bernama Capitol. Pada akhirnya aku paham bahwa kata-kata ini hanya akan menuntun kami dalam masalah yang lebih besar. Jadi aku belajar untuk menahan lidahku kemudian berubah menjadi orang yang tak pedulian agar tidak ada seorang pun yang bisa mendengar pikiranku. Melakukan pekerjaanku dengan tenang disekolah. Hanya bicara sedikit dengan sopan di pasar. Mendiskusikan lebih banyak tentang hal di luar perdagangan di Hob, pasar gelap dimana aku bisa banyak menghasilkan uang. Bahkan di rumah, di tempat yang tidak terlalu menyenangkan buatku, aku menghindari obrolan tentang topik-topik yang rumit, seperti penuaian, atau kekurangan makanan, atau The Hunger Games. Prim mungkin saja mengulangi kata-kata yang kuucapkan dan kemudian apa yang terjadi.

Di dalam hutan, menunggu satu-satunya orang yang bisa membuatku menjadi diriku sendiri. Gale. Aku bisa merasakan otot-otot wajahku mulai santai, langkahku semakin cepat ketika aku mendaki perbukitan menuju birai batu tempat pertemuan kami. Semak-semak berry yang tebal melindunginya dari mata-mata orang-orang yang tidak di inginkan. Melihatnya berdiri menunggu di sana membuatku tersenyum. Gale bilang aku tak pernah tersenyum kecuali saat ada di hutan.

"Hey, Catnip," panggil Gale. Nama asliku Katniss, tapi ketika aku menyebutkannya pertama kali, suaraku hampir seperti bisikan. Jadi dia pikir aku bilang Catnip. Kemudian ketika ada lynx gila yang mulai mengikutiku selama di hutan menunggu sisa buruanku, Catnip resmi jadi nama julukanku. Aku akhirnya terpaksa membunuh lynx itu karena dia menakuti buruanku. Aku nyaris menyesalinya karena binatang itu teman yang lumayan. Tapi aku memperoleh harga yang memadai atas kulit bulunya.

"Lihat apa yang kupanah." Gale mengangkat sebongkah roti dengan panah di tengahnya,  dan aku tertawa. Itu  roti  sungguhan buatan tukang  roti,  bukan roti  tawar bantat dan keras yang kami buat dari gandum hasil ransum kami. Kuambil roti itu, kutarik lepas panahnya, dan kutempelkan hidungku pada bagian roti yang berlubang, kuhirup aroma yang membuat mulutku dibanjiri liur. Roti enak seperti ini untuk acara khusus.
"Mm, masih hangat," kataku. Gale pasti sudah ada di toko roti subuh dini hari untuk membarternya. "Apa yang kautukar untuk mendapatkannya?"

"Hanya seekor tupai. Kurasa lelaki tua itu agak sentimental pagi ini," kata Gale. "Bahkan mengucapkan semoga beruntung padaku."

"Yah,  kita  semua  merasa  nyaris  habis  keberuntungan  hari  ini,  ya  kan?"  kataku, bahkan tanpa perlu repot untuk memutar bola mataku. "Prim menyisakan keju untuk kita."
Aku mengeluarkan kejuku.

Ekspresinya menjadi cerah "Terima kasih, Prim. Kita akan pesta sungguhan." Mendadak aksen Gale berubah menjadi aksen Capitol ketika dia meniru Effie Trinket, wanita heboh penuh semangat  yang datang setahun sekali untuk membacakan nama-nama saat penuaian "Aku hampir lupa! Happy Hunger Games!" Dia memetik beberapa buah blackberry di sekitar kami, "Dan semoga keburuntungan-" Dia melempar sebutir berry dalam lemparan yang sangat tinggi kearahku.

Kutangkap  buah  itu  dengan  mulutku  dan  memecahkan kulit  buah  yang  tipis  itu dengan gigiku. Rasa pahit-manis yang tajam meledak di lidahku. "-selalu berpihak padamu!". Kuselesaikan kalimatnya  dengan semangat  yang  sama.  Kami  harus  bisa bercanda tentang hal ini karena pilihan lain selain bercanda adalah merasa ketakutan setengah mati. Disamping itu, aksen Capitol sangat dibuat-buat, hampir semua kata terdengar lucu.

Aku memperhatikan Gale mengeluarkan pisaunya dan memotong roti. Dia bisa menjadi kakakku. Rambutnya hitam lurus dengan kulit putih kuning pucat, kami bahkan sama-sama memiliki  warna  mata kelabu.  Tapi  kami tidak saling berhubungan,  setidaknya tidak dekat. Kebanyakan keluarga yang bekerja di tambang mirip satu sama lain seperti ini.

Itulah sebabnya mengapa ibuku dan Prim, dengan rambut mereka yang berwarna pirang  dan  bermata  biru, selalu  tampak  salah  tempat.  Begitulah mereka. Orangtua ibuku merupakan kelas pedagang kecil yang melayani pejabat, Peacekeepers, dan kadang-kadang pelanggan dari Seam. Mereka memiliki toko obat-obatan di  wilayah  yang  lebih  bagus  dari Distrik  12.  Karena  nyaris  tak  seorangpun  sanggup membayar dokter, ahli obat-obatan ini menjadi dokter kami. Ayahku mengenal ibuku karena dalam perburuannya kadang-kadang dia menemukan tumbuh-tumbuhan obat dan dia menjualnya di toko ibuku agar bisa diramu jadi obat. Ibuku pasti sangat mencintai ayahku hingga rela meninggalkan rumahnya untuk tinggal di Seam. Aku berusaha mengingat semua itu ketika aku hanya bisa melihat wanita yang duduk diam,  kosong,  dan tak terjangkau,  sementara  anak-anaknya  kelaparan  hingga  tinggal tulang berbalut kulit. Aku berusaha memaafkannya demi ayahku. Tapi sejujurnya, aku bukan tipe orang yang pemaaf.

Gale mengoleskan keju kambing yang halus di atas potongan-potongan roti, dengan hati-hati menaruh daun basil di atas setiap roti sementara aku mengobrak-abrik sesemakan untuk mencari buah berry. Kami duduk santai di celah di antara bebatuan. Dari tempat ini, kami tidak kelihatan tapi bisa mendapat sudut pandang yang jelas ke arah lembah, penuh  dengan  kehidupan  musim  panas, ikan berwarna-warni di bawah sinar matahari. Hari tampak cemerlang, dengan langit biru dan embusan angin sepoi-sepoi. Makanannya lezat, dengan keju yang meresap kedalam roti yang hangat dan buah-buah berry yang meletup didalam mulut kami. Segalanya akan sempurna jika ini benar-benar liburan, jika sepanjang hari libur ini berarti menjelajahi pegunungan bersama Gale, berburu untuk makan malam. Tapi kami harus berdiri di alun-alun pada jam dua siang menantikan nama-nama yang akan disebutkan.

"Kau tahu, kita bisa melakukannya," kata Gale pelan. "Apa?" tanyaku
"Meninggalkan distrik. Lari. Tinggal di hutan. Kau dan aku, kita bisa berhasil," sahut
Gale

Aku tidak tahu harus menjawab apa. Gagasan ini terlalu gila. "Jika saja kita tidak punya begitu banyak anak," imbuh Gale cepat. Tentu saja, mereka bukan anak-anak kandung kami. Tapi bisa kami anggap seperti itu. Dua adik lelaki dan satu adik perempuan Gale. Prim. Dan sekalian juga tambahkan ibu-ibu kami, karena bagaimana mungkin mereka bisa bertahan hidup tanpa kami? Siapa yang bisa mengisi perut mereka yang selalu minta tambah? Meskipun kamu berburu setiap hari, masih saja ada malam-malam ketika hasil buruan kami harus ditukar dengan minyak, tali sepatu,  atau  kain  wol,   masih   ada  malam-malam  ketika   kami  tidur  dengan   perur berkeruyuk.

"Aku tidak kepingin punya anak," kataku
"Aku mungkin saja kepingin. Jika aku tidak tinggal di sini," ujar Gale. "Tapi kau tinggal disini," tukasku kesal.
"Lupakan saja," sahutnya.
Semua percakapan ini terasa salah. Pergi? Bagaimana aku bisa pergi meninggalkan Prim, yang merupakan satu-satunya orang di dunia yang tanpa keraguan sedikitpun kucintai setengah mati? Dan Gale berbakti pada keluarganya. Kami tidak bisa pergi, jadi kenapa repot membicarakannya? Bahkan jika kami melakukannya. darimana asal omongan tentang kepingin punya anak ini? Antara aku dan  Gale  tak  pernah  ada  hibungan  romantis.  Saat  kami  pertama  kali  bertemu,  aku hanyalah anak kurus berusia dua belas tahun, dan walaupun Gale hanya dua tahun lebih tua daripadaku, dia sudah tampak seperti lelaki dewasa. Butuh waktu lama bagi kami untuk bisa berteman, untuk berhenti saling menawar atas setiap pertukaran dan mulai saling membantu.

Lagi pula, kalau dia kepingin punya anak, Gale tidak akan kesulitan mencari istri. Dia tampan, cukup kuat untuk bekerja di tambang, dan bisa berburu. Kau bisa melihat bagaimana gadis-gadis bergosip tentang Gale ketika melihatnya berjalan di sekolah dan betapa mereka menginginkannya. Hal itu membuatku cemburu tapi bukan dengan alasan yang dipikirkan orang-orang. Pasangan berburu yang baik sukar ditemukan.

"Apa yang ingin kau lakukan?" tanyaku.
Kami bisa berburu menangkap ikan, atau mengumpulkan makanan.
"Ayo kita menangkap ikan di danau. Kita tinggalkan galah kita dan mengumpulkan makanan di hutan. Mencari sesuatu yang enak untuk nanti malam," kata Gale.

Malam ini. Setelah hari penuaian, semua orang seharusnya merayakan hari ini. Dan banyak orang yang memang melakukannya, karena lega anak mereka lolos dari maut selama setahun lagi. Tapi paling tidak ada dua keluarga yang akan menutup daun jendela mereka, mengunci pintu, dan berusaha mencari tahu bagaimana mereka bisa melewati minggu-minggu menyakitkan yang akan datang.

Hasil kami lumayan bagus. Binatang pemangsa mengabaikan kami pada hari ketika mangsa yang lebih mudah dan lebih nikmat berlimpah. Menjelang siang, kami berhasil mengumpulkan selusin ikan, sekantong sayuran hijau, dan yang terbaik di antara segalanya, segalon stroberi. Aku menemukan sebidang tanah beberapa tahun lalu, tapi Gale yang punya ide untuk mengikat mata jala di sekelilingnya untuk menjaga binatang agar tidak masuk.

Dalam perjalanan pulang, kami mampir di Hob, pasar gelap yang terdapat di gudang terbengkalai yang dulu jadi tempat penyimpanan batu bara. Ketika mereka menemukan sistem yang lebih efisien untuk mengangkut batu bara langsung dari tambang ke kereta api, gudang itu perlahan-lahan menjadi Hob. Sebagian besar toko tutup pada hari penuaian, tapi pasar gelap masihlah sibuk. Dengan mudah kami menukar enam ekor ikan dengan roti lezat, dan dua ekor lainnya dengan garam. Greasy Sae, wanita tua bertubuh kurus yang menyediakan sup panas dalam ceret besar dan menjualnya dalam mangkuk-mangkuk, mau menerima setengah sayuran hijau kami dan menukarnya dengan bongkahan-bongkahan lilin. Di tempat lain kami mungkin bisa melakukan pertukaran dengan lebih baik, tapi kami berusaha untuk menjaga hubungan baik dengan Greasy Sae. Dia satu-satunya orang yang bisa diharapkan untuk membeli anjing liar. Kami tidak melukainya secara sengaja, tapi kalau kau diserang dan kau membunuh satu atau dua ekor anjing, daging tetaplah daging.

"Kalau sudah di dalam sup, aku menamainya daging sapi," kata Greasy Sae sambil mengedipkan mata.
Tak ada seorang pun di Seam yang jijik makan daging paha anjing liar, tapi para
Penjaga Perdamaian yang datang ke Hob punya uang lebih untuk memilih makanan lain.
Ketika  urusan  kami  dipasar  telah  selesai,  kami  berjalan  menuju  pintu  belakang rumah Wali Kota untuk menjual setengah buah stroberi kami, karena kami tahu dia menggemarinya dan sanggup membayar harga yang kami minta.

Putri Wali Kota, Madge, membuka pintu untuk kami. Dia berada di angkatan yang sama denganku disekolah. Dengan menjadi putri Wali Kota, orang-orang pasti mengira dia bakalan sombong, tapi dia ternyata menyenangkan. Dia penyendiri dan tidak suka ikut campur urusan orang. Seperti aku.
Karena tak satupun dari kami benar-benar memiliki kelompok teman, tampaknya kami jadi sering bersama-sama di sekolah. Makan siang, duduk berdampingan di ruang pertemuan, berpasangan untuk kegiatan olahraga. Kami jarang bicara, dan itu cocok buat kami.

Hari ini seragam sekolahnya yang membosankan sudah diganti dengan gaun putih mahal,   dan   rambut   pirangnya   di   gelung   ke   atas   dengan   pita   pink.   Pakaian   hari penuaian.
"Gaun yang cantik," kata Gale.
Madge melotot memandangnya, berusaha mencari tahu apakah pujian tadi tulus atau Gale hanya menyindir. Gaun itu memang cantik, tapi dia takkan memakainya pada hari biasa. Madge mengatupkan kedua bibirnya rapat-rapat kemudian tersenyum. "Yah, jika aku akhirnya harus pergi ke Capitol, aku ingin kelihatan cantik, kan?"

Sekarang giliran Gale yang kebingungan. Apakah Madge serius dengan perkataannya? Atau Madge hanya menggodanya. Kurasa gadis itu hanya mengejek.
"Kau takkan pergi ke Capitol," kata Gale tenang. Matanya tertuju pada pin bundar kecil yang menghiasi gaun Madge. Emas sungguhan. Perhiasan yang terukir indah. Benda itu bisa membeli roti untuk sebuah keluarga selama berbulan-bulan. "Kau memasukkan berapa nama? Lima? Aku memasukkan enam nama saat umurku baru dua belas."
"Itu bukan salahnya," kataku.
"Ya, itu bukan salah siapa pun. Karena memang aturannya begitu," tukas Gale.
Wajah Madge tampak gusar. Dia menaruh uang untuk membayar stoberi ke tangabku. "Semoga beruntung, Katniss."
"Kau juga," kataku, lalu menutup pintu.

Kami  berjalan  menuju  Seam  tanpa  bicara.  Aku  tidak  suka  Gale  menusuk  Madge seperti tadi, tapi dia benar. Sistem penuaian ini tidak adil, karena orang miskin mendapat kemungkinan terburuk dari penuaian ini. Namamu disertakan dalam pemilihan   pada   saat   kau   berulang   tahun   kedua   belas.   Pada   tahun   itu,   namamu dimasukkan satu kali. Pada umur tiga belas, namamu dimasukkan dua kali. Dan begitu seterusnya sampai umurmu delapan belas, tahun terakhir kau bisa ikut penuaian, saat namamu tujuh kali masuk ke undian. Itulah yang terjadi pada semua warga di dua belas distrik dalam seantero negara Panem.

Tapi ada udang dibalik batu. Misalkan kau miskin dan kelaparan seperti kami, kau bisa memasukkan namamu lebih banyak untuk ditukar dengan tessera. Setiap tessera bisa ditukar dengan persediaan setahun gandum dan minyak untuk satu orang. Kau juga bisa melakukan  ini  untuk  anggota  keluargamu  yang  lain.  Jadi  pada  usia  dua  belas  tahun, namaku dimasukkan empat kali. Satu, karena memang diharuskan, dan tiga nama lagi untuk tessera untuk gandum dan minyak bagiku, Prim, dan ibuku. Sesungguhnya, setiap tahun aku harus melakukan hal ini. Dan setiap tahun nama yang dimasukkan bersifat kumulatif. Jadi kali ini, pada usia enam belas tahun, namaku dimasukkan dua puluh kali dalam penuaian. Gale, yang berusia delapan belas dan membantu atau bisa dibilang seorang  diri  menafkahi  keluarganya  yang  terdiri  atas  lima  orang  selama  tujuh  tahun, tahun ini akan memasukkan namanya 42 kali.

Yah, jadi bisa dimaklumi kenapa orang seperti Madge, yang tak pernah membutuhkan tessera, bisa membuat Gale naik darah. Kemungkinan nama Madge terambil dalam penuaian sangat kecil dibanding dengan kami yang tinggal di Seam. Bukannya tidak mungkin,   tapi   kecil   sekali.   Walaupun   peraturan   tersebut   diterapkan   oleh   Capitol, bukannya oleh distrik masing-masing dan jelas bukan oleh keluarga Madge, sulit rasanya untuk tidak kesal pada mereka yang tidak perlu mendaftar untuk tessera.

Gale tahu kemarahannya pada Madge salah alamat. Pernah dulu, jauh di dalam hutan, aku mendengarnya mengoceh tentang tessera sebagai cara lain untuk menimbulkan penderitaan  di  distrik  kami.  Suatu  cara  untuk  menananmkan  kebencian  antara  para
pekerja yang kelaparan di Seam dengan mereka yang tiap malam bisa makan dan pada akhirnya membuat kami takkan bisa saling percaya.

"Memecah belah kita adalah demi keuntungan Capitol," katanya hanya kepadaku, itu pun setelah memastikan tak ada telinga lain yang mendengarkan.

Jika saja hari ini bukan hari penuaian. Jika saja gadis dengan pin emas dan tidak perlu mendaftar untuk tessera tidak perlu mengatakan apa yang kuyakini sebagai komentar tanpa maksut jahat. Saat  kami 
berjalan,  aku  menoleh  memandang  wajah  Gale  yang  tampak  masih membara dengan kejengkelan di balik ekspresinya yang tegar. Kemarahannya tampak tak ada gunanya bagiku, meskipun aku tak pernah mengatakannya. Bukannya aku tak sependapat  dengannya.  Aku  setuju dengannya.  Tapi  apa  gunanya berteriak  tentang Capitol di tengah hutan. Itu takkan mengubah apa pun. Itu juga tidak membuat keadaan jadi adil. Itu tidak membuat perut kami kenyang. Nyatanya, teriakan itu membuat takut buruan kami. Tapi kubiarkan saja dia berteriak. Lebih baik dia berteriak di hutan dari pada di distrik.

Aku dan Gale membagi hasil buruan kami, sisa dua ekor ikan, beberapa potong roti bagus, sayuran, seperempat bagian stroberi, garam, parafin, dan sedikit uang kami bagi dua.
"Sampai bertemu di alun-alun," kataku
"Pakai baju yang cantik," sahut Gale datar.

Di rumah, aku melihat ibuku dam adikku sudah siap berangkat. Ibuku mengenakan gaun indah bekas peninggalan masa ketika dia bekerja di toko obat. Prim mengenakan pakaian hari penuaian yang pertama, rok dan blus berkerut-kerut. Pakaian itu agak terlalu besar untuknya, tapi ibuku membuatnya pas dengan peniti. Meski begitu, bagian belakang blus Prim masih tampak longgar.

Seember  air  hangat  sudah  disiapkan  untukku.  Aku  menyeka  debu  dan  keringat sehabis dari hutan, bahkan sempat  mencuci rambut. Yang membuatku terkejut, ibuku sudah mengeluarkan salah satu gaun indahnya untukku. Gaun biru yang halus lengkap dengan sepatu yang serasi.
"Ibu  yakin?"  aku  bertanya.  Aku  berusaha  melewati  keingiman  untuk  menolak
tawaran bantuan dari ibuku. Sesaat, aku merasa sangat marah, aku tidak membiarkan ibuku melakukan apa pun untukku. Dan gaun ini merupakan benda istimewa. Pakaian- pakaian ibuku dari masa lalu sangat berharga untuknya.
"Tentu saja. Ayo kita gelung rambutmu juga," kata ibuku.
Kubiarkan ibuku mengeringkan rambutku dengam handuk, mengepangnya, lalu menggelungnya ke atas. Aku nyaris tidak mengenali diriku sendiri saat memandang bayanganku di cermin retak yang disandarkan di dinding.
"Kau tampak cantik," ujar Prim dengan suara berbisik.
"Dan  sama  sekali  tidak  mirip  diriku,"  jawabku.  Kupeluk  Prim,  karena  kutahu beberapa jam berikutnya akan sangat sulit dan berat. Hari penuaian pertamanya. Dia bisa dibilang aman, karena namanya hanya dimasukkan satu kali. Aku tidak mengizinkannya menukar tessera. Tapi Prim menguatirkanku. Dan membayangkan kejadian terburuk yang mungkin saja terjadi. Aku melindungi Prim dengan segala cara yang bisa kulakukan, tapi aku tak berdaya melawan   penuaian. 

Kemarahan   yang   selalu   kurasakan   saat   Prim   menderita membuncah  dalam  dadaku  dan  sebentar lagi  akan  tampak  di  wajahku.  Kuperhatikan bahwa bagian belakang blusnya keluar dari roknya dan kutahan diriku agar tetap tenang.
"Masukkan ekormu, bebek kecil," kataku, seraya meluruskan blusnya ke dalam rok. Prim tergelak dan berkata pelan, "Kwek."
"Kwek sendiri sana," sahutku sambil tertawa kecil. Jenis tawa yang hanya bisa dihasilkan Prim pada diriku.
"Ayo kita makan," kataku dan kucium puncak kepalanya dengan cepat.
Ikan dan sayuran sudah direbus, tapi itu disimpan untuk makan malam. Kami memutuskan untuk menyimpan stroberi dan roti tukang roti untuk makanan malam nanti, supaya makan malam jadi istimewa. Kami minum susu Lady, kambing milik Prim, dan makan roti kasar yang dibuat dari gandum tessera, meskipun tak satupun dari kami masih punya nafsu makan.

Pada pukul satu, kami menuju alun-alun. Kehadiran kami di sini wajib hukumnya kecuali kau dalam keadaan sekarat. Nanti malam, para petugas akan datang memeriksa apakah kau hadir atau tidak. Jika tidak, kau akan dipenjara.

Sungguh sayang mereka mengadakan penuaian di alun-alun-satu dari sedikit tempat di distrik 12 yang bisa jadi tempat menyenangkan. Alun-alun dikelilingi banyak toko, dan pada hari pasar, terutama saat cuaca cerah, suasananya terasa seperti liburan. Tapi hari ini, walaupun banyak umbul-umbul cerah yang digantung di gedung-gedung, ada nuansa suram di udara. Kru-kru kamera yang nangkring di atap-atap seperti elang menambah efek suram yang ada.

Orang-orang mendaftar dan masuk tanpa bicara. Hari penuaian juga kesempatan yang baik bagi Capitol untuk mengetahui jumlah penduduk. Pemuda-pemudi berusia dua belas hingga delaban belas tahun digiring menuju area yang sudah dibatasi berdasarkan usia,  mereka  yang  paling  tua  berada  di  depan,  sementara yang  muda,  seperti  Prim, berbaris di belakang. Anggota-anggota keluarga berkerumun di dekat garis batas, berpegangan tangan dengan orang-orang disebelah mereka. Tapi ada juga orang-orang yang tidak memiliki orang yang mereka cintai dalam undian penuaian itu, atau mereka yang tidak lagi peduli, yang berada di antara kerumunan, bertaruh pada nama dua anak yang akan diambil dalam penuaian. Kemungkinan selalu lebih besar pada mereka yang usianya lebih tua, tidak peduli mereka warga Seam atau pedagang, apakah mereka luluh dan menangis. Banyak orang yang menolak berurusan dengan pemeras tapi mereka juga harus hati-hati dan waspada. Orang-orang ini biasanya juga informan, dan siapa yang tak pernah melanggar hukum tinggal di tempat ini? Aku bisa ditebak setiap hari karena berburu, tapi nafsu makan mereka berusaha melindungiku. Tidak semua orang bisa mendapat perlakuan yang sama.

Aku dan Gale sependapat bahwa jika kami harus memilih antara mati kelaparan dan mati karena peluru di kepala, peluru akan jadi kematian yang jauh lebih cepat. Tempat   ini   jadi   seolah   makin   sempit,   semakin   banyak   orang   yang   datang membuatnya  sesak. 

Alun-alun  ini  lumayan  luas,  tapi  tidak  cukup  untuk  menampung sekitar delapan ribuan warga Distrik 12. Orang-orang yang datang belakangan diarahkan menuju  jalan-jalan  di  dekat  alun-alun,  di  sana  mereka  bisa  menonton  peristiwa  yang berlangsung di layar-layar televisi karena acara ini disiarkan secara langsung oleh negara.

Aku berdiri di antara gerombolan remaja berusia enam belas tahun dari Seam. Kami saling mengangguk cepat lalu memusatkan perhatian kami pada panggung non-permanen yang dibangun di depan gedung pengadilan. Di sana ada tiga kursi, podium, dan bola kaca ukuran besar, satu bola untuk nama lelaki dan satu lagi untuk anak perempuan. Ku perhatikan baik-baik kertas-kertas nama dalam bola anak perempuan. Dua puluh diantaranya bertuliskan nama Katniss Everdeen dengan tulisan tangan yang indah.

Dua dari tiga kursi itu diisi oleh ayah Madge, Wali Kota Undersee-yang bertubuh jangkung dan mulai botak, dan Effie Trinket, pengiring Distrik 12, dikirim langsung dari Capitol  lengkap dengan  seringainya  yang putih menakutkan,  rambut  berwarna  merah jambu, dan pakaian berwarna hijau cerah. Mereka bergumam pada satu sama lain kemudian memandang kursi kosong yang tersisa dengan pandangan cemas.

Ketika jam kota menunjukkan tepat pukul dua, sang wali kota melangkah ke podium dan mulai membaca. Kisah yang sama setiap tahunnya. Dia menceritakan sejarah Panem, negara yang muncul dari sisa-sisa tempat yang dulunya bernama Amerika Utara. Dia mengurutkan daftar malapetaka, kekeringan, badai, kebakaran, perang brutal demi memperebutkan sedikit makanan yang tersisa. Hasilnya adalah Panem, Capitol yang bersinar dikelilingi tiga belas distrik, yang membawa perdamaian dan kemakmuran pada warga negaranya. Kemudian tiba Masa Kegelapan, gejolak kebangkitan perlawanan distrik terhadap  Capitol.  Dua  belas  distrik  dikalahkan,  dan distrik  ketiga  belas  dimusnahkan. Perjanjian Pengkhianatan memberi kami undang-undang baru untuk menjamin perdamaian, dan sebagai pengingat setiap tahunnya agar Masa Kegelapan itu tak terulang lagi, Capitol memberi kami Hunger Games.

Peraturan Hunger Games sebenarnya sederhana. Sebagai hukuman atas perlawanan kami,   masing-masing   distrik   harus   menyediakan   satu   anak   lelaki   dan   satu   anak perempuan, yang dinamakan sebagai para peserta, untuk berpatisipasi. Dua puluh empat peserta akan dipersenjatai di arena luar yang luas, yang berupa padang pasir tandus yang panas menyengat hingga tanah pembuangan yang dingin membeku. Selama beberapa minggu, mereka harus bersaing dalam pertarungan sampai mati. Peserta terakhir yang masih hidup adalah pemenangnya.

Mengambil anak-anak dari distrik kami, memaksa mereka untuk saling membunuh sementara kami menontonnya- ini adalah cara Capitol untuk mengingatkan kami betapa sesungguhnya kami berada dibawah belas kasihan mereka. Betapa kecil kemungkinan kami  bisa  selamat  jika  timbul  pemberontakan  lain. Apapun  kata-kata  yang  mereka gunakan pesan yang mereka sampaikan jelas.

"Lihat bagaimana kami mengambil anak-anakmu dan mengorbankan mereka, dan tak ada yang bisa kau lakukan untuk menghalanginya. Kalau kau sampai berani mengangkat satu jari saja, kami akan menghancurkan semuanya. Sebagaimana yang kami lakukan di Distrik Tiga Belas."

Untuk membuatnya lebih memalukan dan menyiksa, Capitol memaksa kami memperlakukan Hunger Games sebagai perayaan, peristiwa olahraga yang membuat satu distrik berkompetisi dengan distrik lainnya. Peserta terakhir yang hidup akan menikmati hidup enak saat pulang nanti, dan distrik mereka akan dilimpahi berbagai hadiah, yang kebanyakan berupa makanan. Sepanjang  tahun, Capitol akan menunjukkan bagaimana distrik yang jadi pemenang menerima hadiah gandum, minyak, bahkan makanan lezat seperti gula sementara distrik-distrik lain harus berjuang agar tidak mati kelaparan.

"Waktunya untuk penyesalan dan berterimakasih," kata Wali Kota dengan nada mendayu.
Kemudian  dia  membacakan  daftar  pemenang  tahun  sebelumnya  dari  Distrik  12. Dalam 74 tahun, distrik kami hanya pernah dua kali menang. Hanya tinggal satu yang masih hidup. Haymitch Abernathy, lelaki gendut setengah baya, yang pada saat ini sedang mengoceh tidak jelas, terhuyung-huyung naik ke panggung, dan jatuh terduduk di kursi ketiga. Dia mabuk. Teler berat. Kerumunan orang menyambutnya dengan tepuk tangan, tapi dia kebingungan dan berusaha memeluk Effie Trinket erat-erat, sementara wanita itu berusaha mengenyahkannya.

Effie Trinket yang selalu cerah ceria menjejakkan kaki ke podium dan menyampaikan salamnya yang terkenal, "Selamat mengikuti Hunger Games! Semoga keberuntungan menyertaimu selalu!" Rambutnya yang berwarna merah jambu pasti cuma wig karena ikalnya agak berubah letak sejak dia ditabrak Haymitch. Dia masih berceloteh tentang betapa terhormatnya dia bisa berada di sini, meskipun semua orang tahu bahwa Effie sebenarnya sudah tidak sabar untuk bisa pindah ke distrik lain dengan pemenang- pemenang yang layak tampil sebagai pemenang, bukan pemabuk-pemabuk yang melecehkannya di depan sepenjuru negeri.

Di antara kerumunan massa, aku melihat Gale memandangku dengan senyum samar. Sepanjang berlangsungnya penuaian, ada sedikit hiburan dalam penuaian kali ini.
Tapi mendadak aku memikirkan Gale dan 42 namanya yang terdapat dalam bola kaca besar  itu  dan betapa  probabilitas  tidak  berpihak  padanya,  apalagi  jika  dibandingkan dengan banyak anak lelaki lain. Mungkin dia juga memikirkan hal yang sama tentang diriku karena wajahnya berubah muram dan dia memalingkan wajah.

"Tapi masih ada ribuan kertas disana." Aku berharap bisa membisikkan kata-kata itu di telinganya.
Waktunya menarik undian. Effie Trinket mengucapkan kalimat yang selalu diucapkannya, "Anak perempuan lebih dulu!" dan berjalan menuju bola kaca yang berisi nama anak perempuan. Dia mengulurkan tangan, mengaduk-aduk ke dalam bola kaca, dan menarik selembar kertas. Kerumunan massa sama-sama menahan napas dan heningnya bisa membuat kau mendengar suara peniti jatuh, dan aku merasa mual saat mati-matian
berharap semoga bukan namaku, bukan namaku, bukan namaku.
Effie Trinket kembali ke podium, meluruskan kertas itu, dan membacakan nama yang tertera di sana dengan lantang. Dan memang bukan namaku.

Itu adalah Primrose Everdeen.

March 16, 2015

Kisah Nabi Saleh

Nabi Saleh AS, menurut silsilah, beliau adalah putra dari 'Ubaidahbin Tsamud bin 'Amir bin Iram bin Sam bin Nuh AS. Ia diutus ke tengah-tengah bangsa Tsamud yang hidup di bekas reruntuhan kaum Aad. Bangsa Tsamud ternyata lebih pandai daripada kaum Aad. Setelah kaum Aad binasa, negeri mereka menjadi tandus dan kering. 

Kemudian negeri ini dibangun kembali olehkaum Tsamud, sehingga bagai disulap menjadi negeri yang hijau dan makmur. Akan tetapi seperti kaum pendahulunya, kaum Tsamud pun menjadi sombong dan lupa diri. Hukum rimba berlaku lagi, mereka yang kuat menekan mereka yang lemah. Mereka pun tidak mau mendengarkan dakwah Nabi Saleh AS. Mukjizat Nabi Saleh AS Kaum Tsamud menantang Nabi Saleh AS menunjukkan mukjizat yang dikaruniakan Tuhan kepadanya. Menghadapi tuntutan yang demikian, tak adajalan lain bagi Nabi Saleh kecuali memohon kepada Allah SWT agar memberikan mukjizat kepadanya. Allah mengabulkan doanya.
Nabi Saleh AS kemudian mengajak kaumnya pergi ke kaki gunung. Orang-orang itu mengikuti ajakan Nabi Saleh, tapisebenarnya bukan karena mereka mempercayai Nabi Saleh,melainkan karena mereka berharap agar Nabi Saleh tak dapat mengeluarkan mukjizat, dengan demikian mereka dapat mengolok-olok dan menghina Nabi Saleh. Tetapi betapa terkejutnya orang-orang kafir itu.

Tak lama setelah mereka berkumpul di kaki gunung, muncullah seekor unta betina dari perut sebuah batu karang besar. Unta itu besar dan gemuk, belum pernah mereka melihat unta sebagus itu.

"Inilah unta mukjizat dari Tuhanku. Unta ini boleh kalian peras susunya setiap hari. Susunya tidak akan habis-habis. Tetapi perhatikan pesanku, unta ini harus dibiarkan berkeliaran bebas, tak seorang pun boleh mengganggunya. Unta ini berhak meminum air di sumur, bergantian dengan penduduk. Jika hari ini unta ini minum, maka tak seorang pun dari penduduk boleh mengambil air sumur. Sebaliknya esok harinya, para penduduk boleh mengambilair sumur dan unta ini tidak minum air itu sedikit pun juga."

Kedurhakaan kaum Tsamud Tetapi rupanya keberadaan untayang membawa berkah air susu ini membuat orang-orang kafir menjadi iri kepada Nabi Saleh. Mereka lalu mengadakan sayembara, siapa yang berani membunuh unta Nabi Saleh akanmendapatkan hadiah berupa gadis cantik.
Tersebutlah dua orang pemuda yang nekad mengikuti sayembara ini. Mereka sudah sepakat akan menikmati hadiah gadis cantik itu bersama-sama. Sungguh mesum niat kedua pemuda ini. Demikianlah ketika unta itu baru saja minum di salah satu sumur penduduk, salah seorang dari pemuda itu melepaskan anak panah, tepat mengenai kaki unta. Unta itu berlari kesakitan, namun pemuda yang seorang lagi yang sudah siap dengan golok di tangan segera menghabisi unta itu. Mereka berhasil membunuh unta itu, dan memperoleh hadiah yang sudah dijanjikan.

Setelah unta itu mati, orang-orang kafir merasa lega. Mereka dengan berani menantang Nabi Saleh, "Hai Saleh, unta yang kau banggakan itu sekarang sudah kami bunuh. Kenapa tidak ada balasan siksa bagi kami? Kalau kau memang utusan Allah, tentunya kau dapat mendatangkan siksa yang kau ancamkan kepada kami!" Berkata Nabi Saleh, "Kalian benar-benar telah berbuat dosa. Sekarang kalian boleh bersenang-senang selama 3 hari. Sesudah lewat 3 hari, maka datanglah ancaman yang dijanjikan Allah kepadamu."

Waktu 3 hari itu sebenarnya adalah kesempatan bagi bangsa Tsamud untuk bertobat, tetapi mereka malah mengejek Nabi Saleh dan menganggapnya hanya membual. Belum sampai 3 hari mereka datang lagi kepada Nabi Saleh dan berkata, "Hai Saleh, kenapa tidak kau percepat datangnya kesombongan Kaum Tsamud. Diam-diam orang-orang kafir itu merasa takut. Bukankah ucapan Nabi Saleh selalu terbukti kebenarannya? Bagaimana kalau siksa itu benar-benar datang kepada mereka? Maka untuk mencegah datangnya siksa itu, sehari sebelum waktu yang dijanjikan, mereka mengadakan rapat gelap. Mereka bermaksud membunuh Nabi Saleh agar siksaitu tak jadi diturunkan.
Sungguh bodoh akal mereka dan sungguh keji tindakan mereka. Apakah mereka mengira siksaan Allah dapat dibatalkan hanya karena mereka membunuh utusan-Nya? Maha Suci Allah yang Maha Pengasih, Dia melindungi hamba-Nya, Nabi Saleh AS. Beliau selamat dari rencana pembunuhan yang keji itu.


Sedang untuk kaum Tsamud sendiri, akibat kedurhakaan mereka, Allah SWT menurunkan azab yang sangat mengerikan. Bangsa Tsamud disambar petir yang meledak dan menggelegar membelah angkasa. Bumi juga ikut murka atas kesombongan bangsa yang ingkar itu. Gempa yang dahsyat telah menghancurkan dan memporak-porandakan tempat tinggal mereka yang megah dan besar. Sebelum azab diturunkan, atas kuasa Allah Nabi Saleh AS dan keluarnya mengungsi ke Ramlah,sebuah tempat di Palestina

March 09, 2015

Kisah Nabi Musa

Nabi Musa a.s. adalah anak laki-laki Imran dan bersaudara dengan Nabi Harun a.s. Nabi Musa a.s. dilahirkan sewaktu Raja Fir'aun lah yang memegang kekuasaan pemerintahan di negri Mesir pada waktu itu. Dimasa itu Raja Fir'aun mengeluarkan undang-undangnya setiap bayi laki-laki lahir dari Bani Israil harus segera dibunuh. Pemerintahan Fir'aun sangat zhalim, dan dia mengaku dirinya adalah Tuhan. Kalau tidak mau menuruti perintahnya maka akan dihukum mati.

Pada suatu hari Fir'aun bermimpi bahwa negri Mesir terbakar habis, rakyatnya banyak yang mati, kecuali orang-orang Bani Israil yang tinggal saja. Setelah itu Fir'aun memerintahkan ahli-ahli nujumnya untuk menta'wilkan mimpinya itu. Dan setelah mendengar arti mimpinya itu bahwa negri Mesir akan dijatuhkan kekuasaanya dengan seorang laki-laki dari Bani Israil. Kemudian Raja Fir'aun memerintahkan petugas-petugasnya untuk memeriksa setiap rumah dan mengeluarkan undang-undangnya untuk membunuh setiap bayi laki-laki Bani Israil.

Pada masa itulah Nabi Musa a.s. dilahirkan, Allah s.w.t. menurunkan ilham kepada ibu Nabi Musa agar menghayutkan anaknya yang masih bayi itu kesungai Nil dengan sebuah peti. Dengan kodrat Allah s.w.t. peti itu ditemukan oleh istri Fir'aun yang sedang mandi ditepian sungai itu.

Siti Asiah istri Fir'aun sangat gembira dan menunjukan Musa yang masih bayi itu kepada suaminya. Fir'aun yang curiga bahwa bayi itu yang akan meruntuhkan kerajaannya bermaksud akan membunuhnya, akan tetapi dicegah oleh istrinya sendiri.

Setelah Musa menjadi dewasa, Allah s.w.t. menganugrahkan kepadanya pangkat kenabian, kecerdasan dan pengetahuan yang banyak. Suatu hari ketika Nabi Musa a.s. sedang berada  didalam kota dimana penduduknya tidak mengenal akan dirinya, bertemulah beliau dengan dua orang yang sedang berkelahi, yaitu seorang Bani Israil dan seorang Qubti. Nabi Musa a.s. berusaha mendamaikan namun si Qubti tidak mau, dan Nabi Musa memukul si Qubti itu, langsung mati hanya dengan sekali pukul.

Dalam pada itu datanglah seorang lelaki dengan tergesa-gesa dan memberitahukan Musa bahwa para pembesar Mesir telah bersepakat untuk membunuh Musa, karena rahasianya membunuh orang telah diketahui. Maka Musa dengan penuh kekhawatiran keluarlah dari negri Mesir. 

Singkat cerita bertemulah Nabi Musa dengan Nabi Syu'aib, dan Pada suatu hari Nabi Syu'aib a.s. berkata "Aku bermaksud akan menikahkan kau dengan salah seorang anakku. Yang menjadi maskawinmu adalah pekerjaan mu selama delapan tahun, tetapi terserah jika kau akan mencukupkannya menjadi sepuluh tahun, aku tidak akan memaksa dan memberatkanmu" Musa menyetujui perjanjian itu, maka menikahlah beliau dengan seorang anak dari Nabi Syu'aib a.s.

Suatu ketika, pada saat Nabi Musa a.s. sedang melakukan perjalanan malam beserta istrinya menuju Mesir, dari kejauhan Nabi Musa a.s. melihat api. Dan setelah Nabi Musa a.s. mendekati api tersebut, beliau sangat heran karena api tersebut melekat pada sebuah pohon, sedangkan pohon tersebut tidak terbakar dan api pun tidak padam.

Ketika itu Nabi Musa a.s. mendengar suara yang merupakan wahyu Illahi "Takala Musa sampai ketempat api itu, lalu dia diseru dari tepi lembah sebelah kanan ditempat yang diberkahi dari sebatang pohon kayu yaitu "Hai Musa! sesungguhnya Aku adalah Allah Tuhan semesta alam" ( s. Al-Qashash ayat 30 )

Peristiwa tersebut terjadi dibukit Thursina, dibukit itu pulalah Nabi Musa a.s. menerima mukjizat dari Allah s.w.t. yaitu tongkat yang bisa berubah menjadi ular bila dilemparkan dan tanganya yang bisa bercahaya putih. Kedua mukjizat itulah nantinya yang akan dipergunakan melawan Fir'aun. Dan Allah pun mengangkat Harun saudara dari Nabi Musa a.s. menjadi Nabi pula untuk membantu Musa dalam menegakan kebenaran Allah s.w.t.

Bilamana Nabi Musa a.s. melemparkan tongkatnya, maka berubahlah menjadi ular besar yang menelan habis ular-ular ciptaan para ahli sihir Fir'aun. 

Menyaksikan kejadian itu, maka bersujudlah para ahli sihir itu kepada Musa dan menyatakan bahwa mereka beriman kepada Allah s.w.t. Dan diantara mereka yang beriman itu termasuk juga Siti Asiah yang merupakan istri Fir'aun itu sendiri. Bukan main murkanya Fir'aun, orang-orang yang beriman itu disiksanya sampai menemui ajal.

Nabi Musa a.s. bersama pengikutnya lari meninggalkan mesir dikejar oleh balatentara Fir'aun. Ketika sampai dilaut merah, Nabi Musa a.s. memukulkan tongkatnya sehingga laut terbelah dua. 

Nabi Musa a.s. dan pengikutnya berhasil menyebrangi Laut Merah melalui jalan yang tersibak itu sehingga menjadi jalan darat. Sementara itu Fir'aun dan balatentaranya terus mengejar, namun sampai dipertengahan laut, air lautpun bertemu kembali. Maka binasalah Fir'aun dan balatentaranya.

Walaupun Fir'aun telah binasa, namun banyak jiwa rakyatnya yang masih kafir. Pada waktu Nabi Musa a.s. pergi ke bukit Thursina untuk menerima wahyu Allah selama 40 malam, maka dipercayakan para pengikutnya kepada Nabi Harun a.s. Dan diantara mereka ada seorang yang bernama Samiri yang membuat patung sapi dari emas. Kedalam mulut patung sapi itu dimasukannya tanah bekas tapak kaki kuda Malaikat Jibril sehingga patung sapi tersebut dapat berbicara. Lalu Samiri berkata kepada kaumnya "Hai kaumku! inilah Tuhan kita yang patut kita sembah!" lalu merekapun tersesat karena menyembah patung sapi tersebut.

Lalu Nabi Musa a.s. kembali kepada kaumnya dengan marah dan bersedih "Aku sudah melarang mereka berkali-kali" sahut Nabi Harun a.s. Kemarahan Nabi Musa a.s. pun hilang, lalu beliau mengusir Samiri dan membakar patung anak Sapi itu.

Mereka baru akan percaya bila mereka telah melihat dengan jelas, lalu Nabi Musa a.s. memilih tujuh puluh orang laki-laki untuk mengikuti-nya kebukit Thursina untuk menerima wahyu Allah. Namun disana petir menyambar mereka, sehingga mereka semua mati. Lalu Allah s.w.t. menghidupkan mereka kembali.

Suatu ketika, umat Nabi Musa a.s. merasa kehausan dipadang pasir. Setelah mencari kesana kemari tidak juga didapatkan, merekapun meminta tolong kepada Nabi Musa a.s. agar memintakan air kepada Tuhan. Lalu Nabi Musa a.s. memukulkan tongkatnya keatas batu, maka terpancarlah 12 mata air untuk 12 kaum.

Nabi Musa a.s. meninggal dunia di padang Tih pada usia 120 tahun, setelah sebelumnya telah meninggal dunia terlebih dahulu Nabi Harun a.s.
Copyright © 2015 Baca Online dan Seputar Blog
| Distributed By Gooyaabi Templates