Featured

December 02, 2015

Konsep Manusia Menurut Psikologi dan Islam

A.    Latar Belakang Masalah
Manusia memiliki banyak keistimewaan baik struktur dan fungsi-fungsi tubuhnya, manusia juga memiliki kualitas-kualitas insani yang unik. Manusia adalah makhluk yang asadar akan minat,bakat,sifat dan sikap serta kemampuan dan ketrampilan, tahu apa yang dilakukannya sekarang, memahami sejarah hidupnya, serta mempunyai gambaran apa yang didambakannya dimasa yang akan datang.
Sejak awal manusia tidak pernah terlepas dari makhluk lain. Manusia senantiasa berhubungan dengan manusia-manusia lain dalam wadah keluarga, persahabatan, lingkungan kerja, rukun warga dan rukun tetangga, dan masih banyak relasi-relasi hubungan sosial yang lainnya. Dan sebagai partisipan kebersamaan sudah pasti dia mendapat pengaruh dari lingkungannya. Tetapi sebaliknya ia pun dapat mempengaruhi dan memberi corak pada lingkungan sekitarnya.
Manusia merupak misteri. Maka dari itu dalam makalh ini akan dibahas kebih lanjut mengenai bagaimana psikologi memandang manusia dan bagaimana islam memandang manusia serta bagaimana perbandingan konsep manusia menurut psikologi dan menurut islam.

    B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan masalah yang diangkat dalam makalah ini antara lain adalah:
1.      Bagaimana konsep manusia menurut psikologi?
2.      Bagaimana konsep manusia menurut islam?
3.      Bagaimana perbandingan konsep manusia menurut psikologi dan islam?

PEMBAHASAN
    1. Konsep Manusia Menurut Psikologi
Pertanyaan tentang apa hakikat manusia sebenarnya adalah pertanyaan kuno, karena sepanjang sejarah manusia hal ini selalu ditanyakan. Banyak teori psikologi yang berusaha menjawab tentang pertanyaan hakikat manusia namun setidaknya ada empat pendekatan yang digunakan, yaitu:
a.       Teori Psikoanalisa
Tokoh dari teori ini adalah Sigmund Freud. Fokus perhatian teori psikoanalisa ditunjukkan kepada struktur manusia, yaitu kepada totalitas kepribadian manusia, bukan kepada bagian-bagiannya yang terpisah. Menurut teori ini perilaku manusia merupakan hasil interaksi dari tiga subsistem dalam kepribadian manusia, antara lain:
                                                        i.            Id adalah bagian kepribadian yang menyimpan dorongan-dorongan biologis manusia. Id merupakan pusat instink, atau pusat hawa nafsu menurut bahasa agama. Menurut Freud, ada dua instink id yang dominan pada subsistem id ini, yaitu Libido atau Eros dan Thanatos.
1)      Libido merupakan instink reproduksi yang menyediakan energi dasar untuk kegiatan-kegiatan manusia yang konstruktif.
2)      Thanatos adalah instink destruktif dan agresif. Dorongan-dorongan untuk melawan dan merusak bersumber dari instink ini. Motif-motif manusia sebenarnya merupakan gabungan antara eros dan thanatos, antara instink kehidupan dan instink kematian. Id, seperti halnya hawa nafsu ingin segera memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang bersifat kesenangan.
                                                      ii.            Ego. Ketika seorang pemuda terserempet oleh mobil ugal-ugalan, maka Id-nya (baca: hawa nafsu) ingin memukul kepada sopir yang kurang ajar itu. Tetapi ketika diketahui bahwa supir ugal-ugalan itu ternyata anak dari pak guru yang selama ini menolong membiayai studi anak muda itu maka ketika itu Ego bekerja menjembatani nafsu yang tidak bermoral dan tidak peduli terhadap realitas dengan realitas bahwa supir itu adalah anak dari orang yang dia hormati dan berjasa. Ego memperingatkan bahwa tindakan hakim sendiri terhadap orang yang sudah dikenal akan berakibat serius dibelakang hari. Jadi, Ego adalah subsistem yang berfungsi menjembatani tuntunan Id dengan realitas di dunia luar. Ego menjadi penengah antara dorongan-dorongan hewani manusia dengan pertimbangan-pertingan rasional dan realitas. Ego bekerja berdasarkan prinsip realitas. Dengan Ego maka manusia mampu menundukkan hasrat hewaniyah untuk hidup secara rasional sesuai dengan realitas yang dihadapinya.
                                                    iii.            Superego . Sebagai subsistem yang ketiga ini dapat dikatakan mewakili hal-hal yang ideal. Superego menyerap norma-norma sosial dan kultural masyarakat. Ia bukan hanya rasional tapi juga bekerja atas prinsip-prinsip nilai yang normatif. Oleh karena itu superego dapat disebut sebagai hati nurani dan sebagi pengawas kepribadian. Jika suatu ketika ego seseorang menuntut untuk menikahi seorang gadis karena lamaran sudah diterima dan ia mampu untuk itu, tetapi disisi lain orang itu tahu bahwa gadis itu telah memiliki kekasih yang sangat dicintainya dan bahwa ia hanya terpaksa terpaksa menuruti kemauan ayahnya yang “mata duitan”, maka superego akan menekan hasrat ego ke alam bawah sadar. Meski dengan uang uang dan kekuasaan seseorang akan merasa mampu mengatur perkawinan, tetapi hati nuraninya tidak saanggup menzalimi dua orang yang sedang berkasih- kasihan. Jika ia memaksakan diri menikahi gadis itu tetapi kemudian sang gadis bunuh diri, maka ia akan merasa dihukum superego dengan penyeselan dan perasaan bersalah. Menurut freud, ego terkadang tunduk kepada kemauan id, terkadang kepada superego. Baik id maupun superego berada dialam bawah sadar manusia, ego lah yang berada di tengah, yaitu antara memenuhi tuntutan moral ( hati nurani atau superego ).
Jadi, menurut teori psikoanalisa, tingkah laku manusia itu sebenarnya merupakan interaksi antara tiga subsistem itu, yaitu komponen biologis (hawa nafsu, Id) komponen psikologis (ego) dan komponen sosial (superego), antara unsur hewani, akali dan nilai atau moral.
b.      Teori Behaviourisme
Jika psikoanalisa memfokuskan perhatiannya pada totalitas kepribadian, yakni apa yang ada di balik tingkah laku manusia (yang tidak tampak), maka teori psikologi behaviourisme memfokuskan perhatiannya pada perilaku yang nampak saja, yakni perilaku yang dapat diukur, diramal dan dulukiskan. Jadi, nampak sekali bahwa behaviorisme merupakan reaksi terhadap teori psikoanalisa.
Manusia, oleh teori behaviourisme disebut sebagai Homo Mechanicus, artinya manusia mesin. Mesin adalah suatu benda yang bekerja tanpa ada motif dibelakangnya. Mesin berjalan tidak karena adanya dorongan alam bawah sadar tertentu, ia berjalan semata-mata karena lingkungan sistemnya. Jika mobil kehabisan bensin pasti tidak hidup, jika businya kotor juga mesin mati, jika unsur-unsur lingkungannya lengkap pasti berjalan lancar. Tingkah laku mesin dapat di ukur, diramal, dan dilukiskan. Manusia menurut teori behaviorisme juga demikian. Selain instink, seluruh tingkah lakunya merupakan hasil belajar. Belajar ialah perubahan perilaku organisme sebagai pengaruh lingkungan. Orang batak yang hidupnya dipinggir pantai laut bicaranya selalu keras, karena lingkungan menuntut untuk keras, yakni bersaing dengan suara ombak,sedangkan orang jawa yang hidupnya diperkampungan yang lengang, bicaranya seperti bisik-bisik, karena lingkungan tidak menuntut suara keras, bisik-bisik pun sudah terdengar.
Behaviourisme tidak mempersoalkan apakah manusia itu baik atau jelek, rasional atau emosional. Behaviourisme hanya ingin mengetahui bagaimana perilaku manusia dikendalikan oleh lingkungan. Manusia dalam pandangan teori behaviourisme adalah makhluk yang sangat plastis, yang perilakunya sangat dipengaruhi oleh pengalamannya. Manusia menurut teori ini dapat dibentuk dengan menciptakan lingkungan yang relevan. Seorang anak misalnya dapat dibentuk perilakunya menjadi seorang penakut jika secara sistematis ia ditakut-takuti. Demikian juga manusia dapat dibentuk menjadi pemberani, disiplin, cerdas, dungu dan sebagainya dengan menciptakan lingkungan yang relevan.
Dalam teori ini manusia dipandang sangat rapuh tak berdaya menghadapi lingkungan. Ia dibentuk begitu saja oleh lingkungan tanpa mampu melakukan perlawanan. Aristoteles, yang dianggap sebagai cikal bakal teori behaviourisme memperkenalkan teori tabula rasa, yakni bahwa manusia itu tak ubahnya meja lilin yang siap dilukis dengan tulisan apa saja. Jika kita berpegang kepada teori ini maka kita dapat mengatakan bahwa mahasiswa dapat dibentuk menjadi apa saja (penurut, pemberontak, dan sebagainya) oleh dosennya atau oleh universitasnya, dan untuk itu kurikulum serta alat-alat stilmulasinya bisa dirancang.
Sudah barang tentu teori ini banyak juga yang mengkritik karena teori ini tidak dapat menjawab fenomena perilaku yang hanya bisa diuraikan dengan motif, misalnya bagaimana seorang raja muda yang justru meniggalkan tahta hanya untuk hidup menjadi sufi, (sidarta gautama, atau ibrahim bin adham), atau para pendaki gunung yang mempertaruhkan nyawanya , atau pejuang yang melakukan serangan kamikaze(bunuh diri) dengan meledakkan dirinya bersama bom yang dibawanya.
c.       Teori Psikologi Kognitif
Jika behaviourisme memandang manusia sebagai makhluk yang bersikap terhadap lingkungan maka psikologi kognitif menempatkan manusia sebagai makhluk yang bereaksi secara aktif terhadap lingkungan, yakni dengan cara berpikir. Manusia berusaha memahami lingkungan yang dihadapinya dan meresponnya dengan pikiran yang dimilikinya. Oleh karena itu, maka manusia menurut teori kognitif ini disebut sebagai homo sapien, yakni manusia yang berfikir.
Pusat perhatian teori kognitif adalah pada bagaimana manusia memberi makna kepada stimuli. Orang yang selalu sitakut-takuti, misalnya tidak mesti menjadi penakut seperti yang dikatakan dalam teori behaviourisme tetapi boleh jadi ia akan berpikir bahwa sesuatu yang menakutkan itu harus dilawan. Ia pun mungkin berfikir bahwa ia ingin membalik keadaan yaitu justru ingin membuat takut kepada orang yang suka menakut-nakuti.
Jadi menurut teori ini, manusia tidak secara otomatis memberikan respon kepada stimuli, tidak otomatis takut jika ditakut-takuti, tidak otomatis senang jika ada orang tersenyum kepadanya, tidak otomatis patuh jika atasan menyuruhnya, tetapi ia aktif menafsirkan stimuli yang dihadapinya. Ia berfikir apakah orang yang menakut-nakuti itu memang orangnya kuat, apakah senyuman itu senyuman kasih sayang atau senyuman gombal, apakah perintah atasan itu pantas dikerjakan atau tidak, dan sebagainya. Jadi secara psikologis manusia adalah organisme yang aktif menafsirkan, bahkan mendistorsi lingkungan.
Teori kognitif memang telah menempatkan kembali manusia sebagai makhluk yang berjiwa, yang bukan hanya berfikir, tetapi juga berusaha menemukan identitas dirinya.
d.      Teori psikologi Humanistik
Psikologi humanistik memandang manusia sebagai eksistensi yang positif dan menentukan. Manusia dipandang sebagai makhluk yang unik yang memiliki cinta, kreatifitas, nilai dan makna serta pertumbuhan pribadi. Pusat perhatian teori humanisme adalah pada makna kehidupan, masalah ini dalam psikologi humanistis disebut Homo luden, yaitu manusia yang mengerti makna kehidupan.
Menurut teori psikologi humanistik ini, setiap manusia hidup dalam dunia pengalaman yang bersifat pribadi (unik), dan kehidupannya berpusat pada dirinya itu. Perilaku manusia bukan dikendalikan oleh keinginan bawah sadarnya (seperti teori psikoanalisa), bukan pula tunduk pada lingkungannya ( seperti teori behaviourisme), tetapi berpusat pada konsep diri, yaitu pandangan atau persepsi orang terhadap dirinya yang bisa berubah-ubah dan fleksibel sesuai dengan pengalamannya dengan orang lain.
Psikologi humanistik memandang positif manusia. Menurut teori ini, manusia selalu berusaha untuk mempertahankan dan meningkatkan kualitas dirinya. Manusia juga cenderung ingin selalu mengkatualisasikan dirinya dalam kehidupan yang bermakna. Setiap individu bereaksi terhadap situasi yang dihadapinya (stimuli) sesuai konsep diri yang dimilikinya, an dunia dimana ia hidup. Kecenderungan batiniah manusia selalu menuju kepada kesehatan dan keutuhan diri. Jadi, dalam keadaan normal manusia cenderung berperilaku rasional dan membangun (konstruktif) ia juga cenderung memilih jalan (pekerjaan, karir atas jalan hidup) yang mendukung perkembangan dan aktualisasi dirinya.[1]

   2. Konsep Manusia Menurut Islam
Dalam al-Qur’an dan Hadist banyak disebut tentang manusia menyangkut statusnya, hak, dan kewajibannya serta sifat dan kecenderungannya. Dalam konteks Psikologi Dakwah, pembahasan yang relevan adalah sisi dalam yang ada pada manusia yang mempengaruhi perilaku, baik akal, hati, maupun tabiat-tabiat dasar manusia lainnya.
Sangat menarik dalam al-Qur’an manusia disebut dengan nama insan (mahluk psikologis), basyar (sebutan umum minus karakteristik), bani adam (biologis). Nama Insan berasal dari kata nasiya-yansa (lupa), uns (mesra) dan nasa yanusu (bergejolak). Insan mengadung pengertian makhluk psikologis yang memiliki tabiat kemesraan, lupa dan bergejolak. Jadi dari segi bahasa saja sudah tergambar kualitas psikologis manusia yang dinamis antara sadar dan lupa, mesra dan benci dan bergejolak dan tenang. Sinergi dari positif dan negatifnya potensi itu menentukan tingkat kemartabatan manusia. Sehingga dapat dijumpai ada orang yang cinta buta, ada orang yang secara sadar melakukan kejahatan karena didorong oleh kebencian, ada orang yang gelisah karena terlanjur berbuat salah, dan ada juga yang dengan tenang melakukan kejahatan.
Ada dua status yang disandang manusia seperti yang dimaksud dalam al-Qur’an menggambarkan kebesaran sekaligus kelemahan manusia, yaitu status sebagai kholifah Allah dan sebagai hamba-Nya atau ‘abdullah. Jadi manusia menurut al-Qur’an adalah besar padasatu dimensi, tetapi juga kecil menurut dimensi yang lain. Barangkali karena dua dimensi yang bertentangan ini lah maka manusia dalam merespon masalah terkadang berjiwa besar, sportif, namun dilain kesempatan dia memiliki sifat penakut, curang, putus asa dan lain-lain.[2]
Manusia sebagai makhluk psikologis adalah makhluk yang berfikir, merasakan, dan berkehendak. Manusia adalah makhluk yang memiliki dua dimensi, lahir dan batin, jiwa dan raga. Nafs (jiwa) sebagai sisi dalam manusia disebut al-Qur’an sebagai sistem, (boleh disebut sistem nafsani) yang memiliki subsistem qalb (hati) ‘aql (akal), bashiroh (hati nurani), syahwat (penggerak perilaku) dan hawa (hawa nafsu sebagai kekuatan penguji).
1)      Tentang Nafs (Jiwa) atau Sistem Nafsani
Dalam bahasa Indonesia nafsu dikatakan sebagai dorongan nafsu yang kuat untuk berbuat kurang baik. Al-Qur’an menjelaskan bahwa nafs diciptakan Tuhan dalam keadaan sempurna, lengkap dan mampu menengarai keburukan dan kebaikan.

2)      Kualitas Nafs dan Tingkatannya
Kualitas Nafs seseorang bisa meningkat dan menurun, berkaitan dengan sistem yang melibatkan tabiat dan fitrah. Secara eksplisit al-Qur’an menyebut ada empat jenis nafs, yaitu:
a)      Ketika bayi manusia lahir jiwa bayi itu dalam keadaan suci bersih secara fitri. Nah jiwanya disebut nafzakiyyah, jiwa yang suci secara suci.
b)      Ketika seseorang mencapai tingkat kesadarannya, dan berjumpa dengan realitas hidup berupa kebaikan dan keburukan, hati kecilnya tetap ingin berada di jalur kebenaran, tetapi daya tarik keburukan sangat kuat sehingga suka tergoda, terjebak dalam keburukan. Ia sangat menyesali perbuatannya, tetapi masih terulng pula perbuatan buruk itu. jiwa dalam keadaan demikian disebut nafs lawwamah, yaitu jiwa yang selalu menyesali dirinya terjerumus kedalam keburukan.
c)      Ketika kesadaran terkalahkan oleh godaan keburukan, ketika akal sehatnya terkalahkan oleh hawa nafsu bahkan dikendalikan oleh keburukan maka nafs dalam keadaan seperti itu disebut an nafs al ammarah bissu’, yaitu jiwa yang selalu cenderung kepada keburukan.
d)     Ketika seseorang kesadarannya meningkat tinggi dan orientasinya hanya kepada kebaikan, tetapi dalam satu dua hal masih tak tahan godaan, maka jiwa dalam keadaan seperti itu disebut nafs musawwilah, yaitu jiwa yang bersih tetapi masih tak tahan denga satu atau dua godaan.
e)      Jika seseorang sudah sepenuhnya dikendalikan oleh kesadaran dan perilakunya konsisten dan istiqomah terhadap kebenaran serta alergi terhadap keburukan baik horisontal maupun vertikal, maka jiwa seperti itu disebut nafs mutmainah, yakni jiwa yang tenang.
3)      Sistem Kerja Nafs
Kerja nafs  itu bersistem dan memiliki subsistem dengan qalb (hati) menjadi manajernya. Oleh karena itu sering dikatakan, orang itu bergantung hatinya, jika hatinya baik maka perbuatannya baik, jika hatinya buruk maka perbuatannya buruk. Nafs menampung apa yang sudah tidak disadari (alam bawah sadar) sedangkan hal-hal yang disadari berada dalam kendali qalb (hati), oleh karena itu pahala dan dosa dihitung dari perbuatan yang disadari oleh hati.
4)      Tentang Qalb (Hati)
Secara lughawi qalbu artinya bolak bailik, merujuk pada hati manusia yang tidak konsisten atau bolak-balik. Dalam perspektif psikologi, qalbu atau kalbu atau hati adalah bagaikan kamar yang berada didalam ruang nafs yang luas. Berbeda dengan nafs yang hanya menampung hal-hal yang sudah tidak disadari, maka memori qalb atau hati menampung hal-hal yang sepenuhnya disadari.
5)      Tentang Nurani
Nurani berasal dari kata arab nur (nuraniyyun) yang artinya cahaya. Jadi hati nurani dapat disebut sebagai cahaya hati sebagai lubuk hati yang dalam dan ia bersifat cahaya yang menerangi. 
6)      Tentang Akal
Akal yang berasal dari bahasa arab aqala artinya adalah mengikat atau menahan tetapi secara umum akal itu dipahami sebagai potensi yang disiapkan untuk menerima ilmu pengetahuan. Namun menurut al-qur’an manusia dalam aktifitas berfikit dan merasa tidak mesti hanya menggunakan akal atau hanya hati, tetapi seperti kesemuanya (a’ql, nafs, qalb, basyirah).
7)      Tentang Syahwat
Secara lughawi syahwat artinya menyukai dan menyenangi, sedangkan maknanya adalah kecenderungan jiwa terhadap apa yang dikehendakinya.
8)      Tentang Hawa (Hawa Nafsu)
Hawa mengandung arti kecenderungan kepada syahwat, juga mengandung arti turun dari atas kebawah. Jadi hawa (hawa nafsu) adalah dorongan kepada syahwat yang bersifat rendah.[3]

    3. Perbandingan Konsep Manusia Menurut Psikologi dan Islam
Konsep manusia menurut psikologi sekurang-kurangnya ada empat pendekatan yaitu teori psikoanalisa yang mengatakan bahwa manusia disebut sebagai Homo Volens, artinya manusia berkeinginan, yakni makhluk yang perilakunya digerakkan oleh keinginan-keinginan yang terpendam, yang terpendam dialam bawah sadar. Teori psikoanalisa memfokuskan perhatiannya pada totalitas kepribadian, yakni apa yang dibalik tingkah laku manusia (yang tidak tampak). Menurut teori Behaviourisme  manusia disebut sebagai Homo Mechanicus, artinya manusia mesin. Mesin berjalan tidak karena adanya dorongan alam bawah sadar tertentu, ia berjalan semata-mata karena lingkungan sistemnya. Teori behaviourisme memandang manusia sebagai makhluk yang bersikap pasif terhadap lingkungan. Menurut teori psikologi kognitif disebut sebagai Homo Sapiens, yakni manusia yang berfikir. Disini manusia sebagai makhluk yang bereaksi secara aktif dan meresponnya dengan pikiran yang dimilikinya.
Islam memandang manusia sebagai makhluk tuhan yang memiliki keunikan dan keistimewaan tertentu. Sebagai salah satu makhlukNya karakteristik eksistensi manusia harus dicari dalam relasi dengan sang pencipta dan makhluk-makhluk Tuhan lainnnya. Sekurang-kurangnya terdapat empat ragam relasi manusia yang masing-masing memiliki kutub positif dan negatif, yaitu :
                                i.            Hubungan manusia dengan dirinya sendiri (hablun minannas) yang ditandai oleh kesadaran untuk melakukan ‘amal ma’ruf nahi munkar atau sebaliknya mengumbar nafsu-nafsu rendah.
                              ii.            Hubungan antar manusia (hablun minannas) dengan usaha membina silaturrahmi atau memutuskannya.
                            iii.            Hubungan manusia dengan alam sekitar (hablun minal ‘alam) yang ditandai upaya pelestarian dan pemanfaatn alam dengan sebaik-baiknya atau sebaliknya menimbulkan kerusakan alam.
                            iv.            Hubungan manusia dengan sang pencipta (bablun minallah) dengan kewajiban ibadah kepadanya atau menjadi ingkar dan syirik kepadaNya.
Mengenai ragam dan corak relasi-relasi itu perlu dijelaskan bahwa sekalipun manusia seakan-akan merupakan pusat hubungan-hubungan (center of relatedness), tetapi dalam ajaran islam pusat segalanya bukanlah manusia, melainkan sang pencipta sendiri yaitu Allahu Rabbal ‘alamin. Dengan demikian landasan filsafat mengenai manusia dalam ajaran islam bukan antroposentrisme, melainkan Theosentrisme, atau lebih tepat Allah sentrisme.[4]

DAFTAR PUSTAKA
Bastaman,Hanna Djumhana . Integrasi Psikologi dengan Islam ,(Jakarta: pustaka pelajar,2011).
Mubarok, Achmad. Psikologi Dakwah, (Malang:Madani Press, 2014) .



[1] Prof. Dr.H.achmad Mubarok, MA, Psikologi Dakwah, (Malang:Madani Press, 2014) hal. 44-54.
[2] Prof. Dr.H.achmad Mubarok, MA, Psikologi Dakwah, (Malang:Madani Press, 2014) hal.55-56
[3] Prof. Dr.H.achmad Mubarok, MA, Psikologi Dakwah, (Malang:Madani Press, 2014) hal.62-71
[4] Hanna Djumhana Bastaman, Integrasi Psikologi dengan Islam ,(Jakarta: pustaka pelajar,2011)hal.54

Islam sebagai Agama Dakwah Universal

I.                   PENDAHULUAN
Islam adalah agama risalah yang dikembangkan oleh Nabi Muhamad SAW dari sudut kota Mekkah Almukaromah yang kemudian diteruskan oleh para Sahabat, Aulia, Waliyullah dan Para Ulama dan sampailah kepada kita semua. Perkembangan Islam di Indonesia yang dibawa oleh para Waliyullah menyebar dengan pesatnya, penyebaran agama Islam di Indonesia pada khususnya dan di Bumi Nusantara pada umumnya dilakukan dengan cinta kasih tanpa sedikit pun prilaku kekerasan dalam menyampaikan ajaran ajarannya. Selain Islam sebagai agama tauhid Islam juga sebagai agama akhlak atau agama budhi atau dalam istilah Jawa adalah “Budhi Pekerti” Prilaku yang baik yang merupakan cerminan dari hubungan ketauhidan seseorang dalam menetapi kewajibannya menegakan syariat Islam.Sehingga dalam perkembangannya Islam sangat mudah diterima dikalangan masyarakat khususnya diwilayah  Nusantara ini. Dan Islam diIndonesia adalah mayoritas dari agama-agama yang berkembang di Indonesia, Namun dari banyaknya pemeluk agama Islam di Indonesia, Pemeluk agama Islam tidak semena-mena terhadap pemeluk agama lain.
II.                RUMUSAN MASALAH
1.      Bagaimana makna islam sebagai agama dakwah?
2.      Bagaimana dakwah dan universalisme islam?
3.      Bagaimana konsekuensi universalisme dakwah terhadap peradaban umat manusia?
III.             PEMBAHASAN
A.    Makna islam sebagai agama dakwah
    Menurut Thomas W. Arnold, agama dakwah ialah agama yang memiliki kepentingan suci untuk menyebarkan kebenaran dan menyadarkan orang kafir sebagaimana dicontohkan sendiri oleh penggagas agama itu dan diteruskan oleh para penggantinya. Agama Islam, Kristen dan budha termasuk agama dakwah. Sedangkan agama yahudi, majusi, dan hindu termasuk agama non dakwah.
 Doktrin dakwah dalam Islam, diungkap Al-Qur’an sendiri dan dibuktikan melalui jejak rekam sejarah Rasulullah saw, sahabat, dan para ulama. Dalam literatur-literatur dakwah, argument tekstual yang merujuk hal tersebut biasanya dimuat dalam bahasan mengenai kewajiban dakwah. Al-qur’an misalnya menyuruh umat Islam untuk menyiapkan komite khusus yang berprofesi sebagai da’I, atau mensyaratkan dakwah sebagai jalan untuk mewujudkan sebuah masyarakat ideal. Disisi lain, hidup rosul sendiri secara praktis dibaktikan untuk mengajak orang untuk masuk islam (beriman, mengimani kenabian Muhammad) atau minimal agar mereka bersikap Islam (berIslam, hidup secara damai).
Dakwah Islam bukansebuah propaganda, baik dalam niat, cara maupun tujuanya. Niat dakwah adalah ikhlas, tulus karena Allah SWT, serta bebas dari unsur-unsur subjektivitas. Dakwah tidak boleh dikotori oleh kepentingan-kepentingan tertanam. Demikian itu didasari oleh watak keuniversal Tuhan, menjadi tidak relevan.
 Dakwah harus disampaikan secara jujur, terbuka, dan bebas. Kata jujur dalam dakwah setara dengan kata al-ballagh dalam al-Qur’an, yaitu menyampaikan kebenaran secara transparan, apa adanya, tanpa unsure kebohongan dan manipulasi. Adapun terbuka dalam dakwah, mengacu pada sikap rendah hati, mengakui keterbatasan, bersedia menerima kritik dan menerima perbaikan dari luar.
Tujuan dakwah pada hakikatnya adalah mencapai kebenaran tertinggi, yaitu beriman dan lalu berserah diri secara total kepada kehendak Allah. Kebenaran yang dituju dakwah adalah kebenaran yang tertanam sejak manusia lahir sebagai bawaan (nature, fithrah) yang inheren dan intrinsic dalam diri setiap orang. Kebenaran itu, pada awalnya, dengan identitas dan atribut-atribut social dan biologis manusia seperti jenis kelamin, agama, ras, dan warna kulit.
Jadi, Islam sebetulnya tidak lain dari sikap hidup yang condong kepada kebenaran dan kemanusiaan. [1]
B.     Dakwah dan Universalisme Islam
Islam dalam pengertianya yang esensial adalah sebuah sikap hidup yang berpihak kepada kebenaran dan keluhuran budi pekerti. Sebagai pengusung kebenaran dan nilai-nilai universal, Islam dengan sendirinya berwatak inklusif dan terbuka, serta diharapkan menjadi milik semua komunitas umat manusia dimuka bumi. Inilah salah satu makna dari universalisme Islam yang ternyata tak hanya bersifat keluar, tetapi juga kedalam.Dalam al-Qur’an misalnya, Rasulullah disuruh menyampaikan bahwa ia bukan seorang rasul yang terpisah dari rasul-rasul lainya.
Manifestasi Islam sendiri dapat beraneka ragam, mengikuti zaman dan tempat. Kendati beragam, tetapi keragaman manifestasi Islam itu diikat oleh komitmen untuk berbagi kepada wujud yang satu, yaitu Allah SWT, antara lain dengan sikap pasrah kepada-Nya. Jadi Islam itu universal, karena ia merupakan titik temu dari semua ajaran agama yang benar. Sementara itu, tugas umat Nabi Muhammad dalam konteks keuniversalan ini, menurut al-Qur’an adalah menjadi umat penengah dan saksi atas sekalian umat manusia.
Makna lain dari universalisme Islam dapat di telusuri dari watak kelenturan ajaran Islam sendiri. Ajaran Islam mengklaim sebagai yang melampaui jangkauan tutorial dan waktu. Dasar dari keyakinan ini adalah kenyataan bahwa al-Qur’an hanya member ketentuan-ketentuan yang bersifat umum dan global atas persoalan kemanusiaan yang selalu berubah. Jika ditemukan penjelasan al-Qur’an yang terperinci, biasanya hal demikian hanya sedikit dan itupun yang berkaitan dengan watak dasar manusia yang tidak mungkin berubah.
Makna berikutnya dari universalisme dakwah adalah menjadikan Islam sebagai agama universal-kosmopolitan. Artinya tujuan dakwah adalah menjadikan agar seruannya diterima oleh semua manusia, terlepas dari ikatan-ikatan territorial dan waktu. Kehidupan manusia itu amat dinamis yaitu cepat berubah, dan plural yaitu amat beraam. Menjadikan dakwah universal berarti mengharuskan Islam untuk dapat disesuaikan dengan dinamika kehidupan manusia. Jika demikian, berarti dakwah harus berwatak progresif dan antisipatif dalam arti berorientasi kedepan, dan mampu menjawab persoalan-persoalan yang dihadapi oleh umat manusia secara keseluruhan.[2]
C.     Konsekuensi universalisme dakwah terhadap peradaban umat manusia
Konsekuensi berarti akibat yang akan terjadi jika ada/terjadi sesuatu keadaan tertentu. Yang dimaksud keadaan tertentu. Sedangkan universalisme aliran yg meliputi segala-galanya, penerapan nilai dan norma secara umum.[3]
Peradaban, paling tidak pada implikasinya dapat dimaknai sebagai kemakmuran dan kesejahteraan. Hal ini demikian, karena sebuah peradaban mengharuskan adanya aspek kemajuan dan perbaikan taraf hidup kemanusiaan, baik dari segi materi maupun pengetahuan. Tradisi masyarakat dalam sebuah komunitas berperadaban, juga berbeda secara kontras dengan masyarakat primitif (badui). Dalam masyarakat beradab, dikenal adanya norma-norma hidup bersama, keteraturan hidup, dan kesetiaan kepada pemimpin. Berbeda dengan masyarakat badui, masyarakat berperadaban menilai bahwa hidup bersosial adalah suatu kebutuhan yang tidak dapat ditolak (al-insan madaniyyun bi al-tab’i). dalam hidup masyarakat sosial, ada hak dan kewajiban antar individu yang mesti didistribusikan secara merata agar tidak terjadi konflik. Untuk itu, perlu disusun sebuah norma-norma hidup bersama yang dikelola oleh sebuah keteraturan sistem dibawah naungan pemimpin.
Masyarakat memberikan loyalitasnya kepada pemimpin selama ia mampu menjamin berjalannya norma-norma itu dan memelihara stabilitas masyarakat. Kehidupan masyarakat dengan norma dan sistem nilai yang dianutnya, serta puncak-puncak kemajuan yang dicapainya baik material maupun intelektual disebut dan dinamakan budaya atau peradaban (arab: tamaddun, dari akar kata din dan/atau madinah).
Dakwah menyeru pada umat manusia agar hidup dalam sebuah masyarakat yang berkeadaban. Untuk mencapai cita-cita ini, paling tidak dakwah harus dimaknai sebagai rekayasa melahirkan masa depan peradaban islam dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1.      Dakwah mengajak umat manusia agar membangun kehidupan yang damai.
2.      Untuk menuju damai tersebut, diperlukan suatu norma atau hukum, agar yang kuat tidak menindas yang lemah.
3.      Dakwah menyeru kepada kesadaran moral manusia.
4.      Dakwah menyeru kepada egalitarianism, emansipasi, dan kesetaraan gender.
            Untuk mencapai harapan maupun cita-cita diatas, dengan sendirinya dakwah islam, seperti doktrin islam itu sendiri, haruslah bersifat terbuka dan bukan tertutup. Ini berarti, dakwah harus membuka ruang yang lebar untuk adanya kritik konstruktif dari pihak manapun di satu sisi, dan perlunya inovasi dan penyempurnaan yang terus menerus dan berkelanjutan di sisi yang lain. [4]

IV.             KESIMPULAN
Islam sebagai agama dakwah harus dipahami oleh seluruh lapisan umat Islam, karena itu pemahaman mengenai hal ini harus disampaikan secara terarah, terkoordinasi, terpadu dan berkelanjutan. Tugas ini terutama sekali harus dilaksanakan oleh para ulama, juru dakwah, cendekiawan, praktisi dan pengamat dakwah. Bila ini bisa direalisasikan, niscaya cepat atau lambat akan tumbuh kesadaran untuk melaksanakan dakwah secara pribadi, walau menurut kemampuan masing-masing.
V.                PENUTUP
Demikianlah makalah ini kami sampaikan. Semoga dapat bermanfaat bagi pembaca. Apabila ada kesalahan, penulis mohon maaf sebesar-besarnya.

VI.             DAFTAR PUSTAKA
Ismail, Ilyas. Filsafat Dakwah, Jakarta : Prenada group, 2011




[1]Dr. A. Ilyas Ismail M.A., Filsafat Dakwah, Jakarta : prenada media group, 2011 hal 12-14
[2] Dr. A. Ilyas Ismail M.A., Filsafat Dakwah, Jakarta : prenada media group, 2011 hal 15-17
[4] Dr. A. Ilyas Ismail M.A., Filsafat Dakwah, Jakarta : prenada media group, 2011 hal 20-23

Dakwah terhadap Lansia Ditinjau dari Psikologi

          A. Pendahulua
  Proses menua yang dialami orang lanjut usia (lansia)  adalah proses alami yang disertai adanya penurunan kondisi fisik, psikologis maupun sosial yang saling ber interaksi satu sama lain. Keadaan itu cenderung berpotensi menimbulkan masalah kesehatan secara umum maupun kesehatan jiwa secara khusus pada lansia.  Proses menua yang  dialami oleh lansia menyebabkan mereka mengalami berbagai macam perasaan seperti sedih, cemas, kesepian dan mudah tersinggung. Perasaan tersebut merupakan masalah kesehatan jiwa pada lansia. Jika lansia mengalami gangguan kesehatan jiwa, maka kondisi tersebut dapat memengaruhi kegiatan sehari-hari lansia.
    Saat memasuki fase lanjut usia, seseorang bukan berarti tidak butuh lagi dengan dakwah kepada kebaikan, mungkin saja karena anggapan bahwa orang tua sudah lebih tahu dan mampu mengamalkan kebaikan itu dengan baik. Semakin berumur seseorang, itu artinya manusia sudah sangat dekat dengan kematian dan saat proses kematian nanti tiba, Rasulullah sangat menganjurkan orang yang lagi sakarat agar dituntun melafadzkan tahlil. Sehingga semua amal perbuatan hendaklah tidak dilakukan kecuali benar-benar berorientasi pada harapan mendapatkan keberkahan, restu dan pahala dari Allah SWT semata.  Dengan kesadaran akan dekatnya akhir usia, lansia memprioritaskan hidupnya agar dapat menutup lembaran kehidupan dengan baik (khusnul khatimah).  Untuk alasan keselamatan hidup inilah, dakwah menjadi sangat penting bagi umat manusia utamanya para lansia.
    B. Landasan Teori
Menurut Elizabeth Hurlock, masa lansia adalah masa dimana seseorang mengalami perubahan fisik dan psikologis. Bahkan ketika masa tua disebut sebagai masa yang mudah dihinggapi segala macam penyakit dan akan mengalami kemunduran mental seperti menurunnya daya ingat dan pikiran.[1]
Dari berbagai penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa lanjut usia merupakan periode di mana seorang individu telah mencapai kemasakan dalam proses kehidupan, serta telah menunjukan kemunduran fungsi organ tubuh sejalan dengan waktu, tahapan ini dapat mulai dari usia 55 tahun sampai meninggal. Tetapi bagi orang lain, periode ini adalah permulaan kemunduran. Usia tua dipandang sebagai masa kemunduran, masa kelemahan manusiawi dan sosial sangat tersebar luas dewasa ini. Pandangan ini tidak memperhitungkan bahwa kelompok lanjut usia bukanlah kelompok orang yang homogen . Usia tua dialami dengan cara yang berbeda-beda.
Pada umumnya setelah orang memasuki lansia maka ia mengalami penurunan fungsi kognitif dan psikomotor. Fungsi kognitif meliputi proses belajar, persepsi, pemahaman, pengertian, perhatian dan lain-lain sehingga menyebabkan reaksi dan perilaku lansia menjadi makin lambat. Sementara fungsi psikomotorik (konatif) meliputi hal-hal yang berhubungan dengan dorongan kehendak seperti gerakan, tindakan, koordinasi, yang berakibat bahwa lansia menjadi kurang cekatan. Dengan adanya penurunan kedua fungsi tersebut, lansia juga mengalami perubahan aspek psikososial yang berkaitan dengan keadaan kepribadian lansia. Beberapa perubahan tersebut dapat dibedakan berdasarkan 5 tipe kepribadian lansia sebagai berikut:
1.      Tipe Kepribadian Konstruktif (Construction personalitiy), biasanya tipe ini tidak banyak mengalami gejolak, tenang dan mantap sampai sangat tua.
2.      Tipe Kepribadian Mandiri (Independent personality), pada tipe ini ada kecenderungan mengalami post power sindrome, apalagi jika pada masa lansia tidak diisi dengan kegiatan yang dapat memberikan otonomi pada dirinya.
3.      Tipe Kepribadian Tergantung (Dependent personalitiy), pada tipe ini biasanya sangat dipengaruhi kehidupan keluarga, apabila kehidupan keluarga selalu harmonis maka pada masa lansia tidak bergejolak, tetapi jika pasangan hidup meninggal maka pasangan yang ditinggalkan akan menjadi merana, apalagi jika tidak segera bangkit dari kedukaannya.
4.      Tipe Kepribadian Bermusuhan (Hostility personality), pada tipe ini setelah memasuki lansia tetap merasa tidak puas dengan kehidupannya, banyak keinginan yang kadang-kadang tidak diperhitungkan secara seksama sehingga menyebabkan kondisi ekonominya menjadi morat-marit.
5.      Tipe Kepribadian Kritik Diri (Self Hate personality), pada lansia tipe ini umumnya terlihat sengsara, karena perilakunya sendiri sulit dibantu orang lain atau cenderung membuat susah dirinya.[2]
Hurlock melihat kepribadian orang lanjut usia dapat ditinjau dari berbagai aspek, di antaranya:
1.      Biasanya orang yang berusia lanjut lebih berhati-hati dalam belajar, memerlukan waktu yang lebih banyak untuk dapat mengintegrasikan jawaban mereka, kurang mampu mempelajari hal-hal baru yang tidak mudah diintegrasikan dengan pengalaman masa lalu, dan hasilnya kurang tepat dibanding orang yang lebih muda.
2.      Secara umum terdapat penurunan kecepatan dalam mencapai kesimpulan, baik dalam alasan induktif maupun deduktif. Sebagian dari hal ini, merupakan akibat dari sikap yang terlalu hati-hati dalam mengungkapkan alasan, yang gradasinya cenderung meningkat sejalan dengan pertambahan usia.
3.      Kapasitas atau keinginan yang diperlukan untuk berfikir kreatif bagi orang berusia lanjut cenderung berkurang. Dengan demikian prestasi-kreativitas dalam menciptakan hal-hal penting pada orang berusia lanjut secara umum relatif kurang dibanding mereka yang lebih muda.
4.      Orang berusia lanjut pada umumnya cenderung lemah dalam mengingat hal-hal yang baru dipelajari dan sebaliknya baik terhadap hal-hal yang telah lama dipelajari. Sebagian dari ini disebabkan oleh fakta bahwa mereka tidak selalu termotivasi dengan kuat untuk mengingat-ingat sesuatu, sebagian disebabkan oleh kurangnya perhatian, dan sebagian lagi disebabkan oleh pendengaran yang kurang jelas serta apa yang didengarnya berbeda dengan yang diucapkan orang.
5.      Kemampuan dalam mengingat ulang banyak dipengaruhi oleh faktor usia dibanding pemahaman terhadap objek yang ingin diungkapkan kembali. Banyak orang berusia lanjut yang menggunakan tanda-tanda, terutama simbol visual, suara, dan gerakan (kinesthetic), untuk membantu kemampuan mereka dalam mengingat kembali.
6.      Kecenderungan untuk mengenang sesuatu yang terjadi pada masa lalu meningkat semakin tajam sejalan dengan bertambahnya usia. Seberapa besar kecenderungan seseorang dalam mengingat kembali masa lalunya terutama tergantung pada kondisi hidup seseorang pada usia lanjut. Makin senang kehidupan seseorang pada usia lanjut makin kecil waktu yang digunakan untuk mengenang masa lalu dan sebaliknya.
7.      Pendapat umum yang sudah klise tetapi banyak dipercaya orang, bahwa orang berusia lanjut kehilangan rasa dan keinginannya terhadap hal yang lucu-lucu. Pendapat seperti ini benar dalam hal kemampuan mereka untuk membaca komik berkurang, dan perhatian terhadap komik yang dapat mereka baca bertambah dengan bertambahnya usia.
8.      Menurunnya perbendaharaan kata yang dimiliki orang berusia lanjut menurun sangat kecil, karena mereka secara konstan menggunakan sebagian besar kata yang pernah dipelajari pada masa anak-anak dan remajanya. Sedang untuk belajar kata-kata pada usia lanjut lebih jarang dilakukan.
9.      Kekerasan mental sangat tidak bersifat universal bagi usia lanjut. Hal ini bertentangan dengan pendapat klise yang mengatakan bahwa orang berusia lanjut mempunyai mental yang keras. Apabila kekerasan mental terjadi selama usia madya, hal ini cenderung menjadi semakin tampak sejalan dengan bertambahnya usia, yang umumnya karena orang berusia lanjut lebih lambat dan lebih sulit dalam belajar daripada yang pernah dilakukan sebelumnya dan mereka percaya bahwa nilai-nilai dan cara-cara lama dalam melakukan sesuatu lebih baik daripada cara dan nilai yang baru.[3]
Kubler-Ross membagi perilaku dan proses berpikir seseorang yang menghadapi kematian menjadi 5 fase: penolakan dan isolasi, kemarahan, tawar menawar, depresi, dan penerimaan. Tidak semua individu melewati urutan yang sama. Beberapa individu berjuang hingga akhir.
1.         Penolakan merupakan fase pertama yang di usulkan Kubler-Ross dimana orang menolak kematian benar-benar ada. Mereka belum ingin meninggal. Karena mereka tidak mampu menolak, maka mereka menjadi marah.
2.         Kemarahan merupakan fase kedua dimana orang yang menjelang kematian menyadari bahwa penolakan tidak dapat lagi dipertahankan. Marah mengikuti penolakan yang tidak mungkin terjadi. Mereka marah kepada dokter atau orang lain yang ingin menolong mereka.
3.         Tawar-menawar dengan maut merupakan fase ketiga menjelang kematian dimana seseorang mengembangkan harapan bahwa kematian sewaktu-waktu dapat ditunda atau diundur. Mereka tawar menawar dengan Tuhan agar waku hidup mereka sedikit lagi diperpanjang.
4.         Depresi merupakan fase keempat menjelang kematian dimana orang yang sekarat akhirnya menerima kematian. Pada titik ini, suatu periode depresi atau persiapan berduka mungkin muncul. Orang yang menghadapi maut mengalami depresi  karena kesedihan yang mendalam dan akhirnya pasrah.
5.         Menerima merupakan fase kelima menjelang kematian, dimana seorang mengembangkan rasa damai, menerima takdir dan dalam beberapa hal, ingin ditinggal sendiri. Pada fase ini perasaan dan rasa sakit pada fisik mungkin hilang. Kubler-Ross menggambarkan fase kelima ini sebagai akhir perjuangan menjelang kematian. Mereka menyadari bahwa mereka pasti mati dan waktunya sudah sangat dekat.[4]
           C. Alternatif Dakwah
1.      Materi Dakwah
a.       Tauhid. Materi keimanan / tauhid meliputi rukun iman, hal-hal yang berkaitan dengan keimanan, kematian, ketenangan hati dan sebagainya. Islam mengajarkan bahwa kepercayaan/iman seseorang harus dibuktikan dengan jalan melaksanakan penyembahan (ibadah) dan mentaati segala hukum Allah (syari'ah) yang telah digariskan lewat wahyu-Nya yang diturunkan kepada Rasulullah SAW. Maka pelaksanaan ibadah dan syari'ah itu adalah manifestasi dari iman seseorang.  Dengan memiliki iman yang kuat maka para lansia selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dengan rasa kepercayaan kepada Allah dan yakin bahwa setiap manusia itu tidak ada yang sempurna, maka para lansia tidak merasa rendah diri dan selalu berkeluh kesah.
b.      Syari’ah.  Materi syari'ah yang dimaksud adalah fiqih. Para lansia akan dapat melaksanakan ibadah kepada Allah SWT sesuai dengan apa yang disyari'atkan agama Islam, ibadah merupakan bakti manusia kepada Allah SWT yang didorong dan dibangkitkan oleh akidah tauhid. Dalam menjalankan ibadah itu ada tata caranya, sehingga untuk melaksanakannya para lansia perlu tahu tentang hukum fiqih terlebih dahulu.
c.       Akhlak. Lansia dapat pula diberikan materi tentang akhlak, diantaranya melalui contoh perbuatan yang mengarah pada tingkah laku yang baik. Selain itu setiap anggota panti juga disarankan untuk saling membantu antara sesama lansia terutama sesama yang masih mampu memberikan bantuan kepada lansia yang membutuhkan bantuan.


2.      Cara Berdakwah
a.       Asy Syukru (balas budi). Bertolak dari kondisi lansia yang cenderung membutuhkan pengakuan dan perlakuan serta peng hargaan yang setimpal, maka strategi balas budi lebih dikedepankan dalam dakwah. Balas budi dapat diartikan menampakkan kegembiraan dan menghaturkan terimakasih terhadap jasa-jasa di saat mereka belum membutuhkan bantuan kita. Namun ketika tiba masa mereka membutuhkan, maka membantu  dan memenuhi kebutuhan mereka termasuk kategori balas budi.
b.      Qaulan karima (perkataan yang mulia). Dakwah dengan qaulan kariman sasarannya adalah orang yang telah lanjut usia. Jika dikaji lebih jauh, sasaran qaulan karima adalah orang yang memiliki derajat lebih tinggi dari kita dengan pendekatan perkataan yang mulia, santun, penuh hormat, dan penghargaan, tidak menggurui, sebab kondisi fisik mereka yang mulai melemah membuat mudah tersinggung apabila menerima perkataan yang keras dan terkesan menggurui. Psikologi orang usia lanjut biasanya sangat peka terhadap kata-kata yang bersifat menggurui, menyalahkan apalagi kasar. Karena mereka merasa lebih banyak pengalaman hidupnya dan merasa dalam kondisi telah banyak kehilangan kekuatan fisiknya.  Oleh karenanya, da’i harus bersikap hormat terhadap mad’u yang tergolong usia lanjut seperti memperlakukan pada orang tua sendiri.
c.       Qaulan layyina (perkataan yang lemah lembut). Sesuai firman Allah “Maka disebabkan rahmat dari  Allah lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu” (Q.S. Ali Imron : 159), maka untuk berdakwah kepada lansia harus menggunakan perkataan yang lembut. Menurut Asfihani dalam Mu’jam-nya, qaulan layyina mengandung arti lawan dari kasar, yakni halus dan lembut. Pada dasarnya halus dan lembut itu dipergunakan untuk mensifati benda oleh indera peraba, tetapi kata-kata ini kemudian dipinjam untuk menyebut sifat-sifat akhlak dan arti-arti bagi lansia sebagai sentuhan yang halus tanpa mengusik atau menyentuh kepekaan perasaannya sehingga tidak menimbulkan gangguan pikiran dan perasaan.
d.      Qaulan Baligha (perkataan yang membekas pada jiwa). Suatu perkataan dianggap baligh manakala berkumpul pada tiga sifat, yaitu memiliki kebenaran dari sudut bahasa, mempunyai kesesuaian dengan apa yang dimaksudkan dan mengandung kebenaran secara subtansial. Suatu perkataan dinilai baligh jika perkataan itu membuat lawan bicaranya terpaksa mempersepsi perkataan itu sama dengan apa yang dimaksudkan oleh pembicara, sehingga tidak ada celah untuk mengalihkan perhatian kepermasalahan lain.
e.       Qaulan Syadida (perkataan yang benar). Term qaulan syadida, menurut ibn Manshur dalam lisan al-a’rabnya kata sadid diyang dihubungkan dengan qaul (perkataan) mengandung arti mengenai sasaran (yusib al-qashda). Jadi pesan dakwah yang secara psikologis menyentuh hati mad’u  siapa pun mad’unya termasuk lansia, adalah jika materi yang disampaikan itu benar baik dari segi bahasa atau pun logika dan disampaikan dengan pijakan takwa.
f.       Qaulan Maisura (perkataan yang ringan). Maisura adalah perkataan yang mudah diterima, yang ringan, yang pantas, yang tidak berliku-liku. Dakwah dengan qaulan maisura artinya pesan yang disampaikan itu sederhana, mudah dimengerti dan dapat difahami secara spontan tanpa harus berfikir dua kali.[5] Teknik ini sangat sesuai dengan lansia karena saat menjadi tua, kemampuan menyerap informasi melemah.
3.      Kegiatan Dakwah
a.       Dzikir. Sadarnya  lansia akan dekatnya kematian, sering menimbulkan ketakutan dan kegelisahan. Hal ini harus segera diatasi salah satunya dengan berdzikir. Dzikir adalah amalan yang mudah dan ringan untuk dikerjakan. Dzikir ini pun tidak diikuti aturan mengenai batas minimal atau maksimal untuk melakukannya, intinya adalah niat dan keikhlasan kita. Tetapi dzikir memiliki manfaat yang baik untuk menenangkan jiwa.
b.      Seni pertunjukkan. Untuk mengurangi tingkat stress yang dialami lansia tentang kematian, seni pertunjukkan adalah pilihan yang tepat. Dalam pertunjukkan tersebut, dapat dimasukkan nilai-nilai islam didalamnya sehingga para lansia dapat mengambil hikmah dari pertunjukkan tersebut. Seni pertunjukkan ini juga mempermudah lansia menerima materi dakwah yang diberikan tanpa berfikir berat.

    D. Kesimpulan
Lanjut usia merupakan periode di mana seorang individu telah mencapai kemasakan dalam proses kehidupan, serta telah menunjukan kemunduran fungsi organ tubuh sejalan dengan waktu. Pada umumnya setelah orang memasuki lansia maka ia mengalami penurunan fungsi kognitif dan psikomotor. Beberapa perubahan tersebut dapat dibedakan berdasarkan 5 tipe kepribadian lansia, yaitu Tipe Kepribadian Konstruktif (Construction personalitiy), Tipe Kepribadian Mandiri (Independent personality), Tipe Kepribadian Tergantung (Dependent personalitiy), Tipe Kepribadian Bermusuhan (Hostility personality), Tipe Kepribadian Kritik Diri (Self Hate personalitiy). Kubler-Ross membagi perilaku dan proses berpikir seseorang yang menghadapi kematian menjadi 5 fase: penolakan dan isolasi, kemarahan, tawar menawar, depresi, dan penerimaan.
Materi dakwah yang  dapat diberikan adalah tauhid, syari’ah dan akhlak. Cara berdakwah agar mudah diterima lansia yaitu Asy Syukru (balas budi), Qaulan karima (perkataan yang mulia), Qaulan layyina (perkataan yang lemah lembut). Qaulan Baligha (perkataan yang membekas pada jiwa). Qaulan Syadida (perkataan yang benar. Qaulan Maisura (perkataan yang ringan). Kegiatan dakwah yang dapat dilakukan diantaranya zikir dan seni pertunjukkan
    E.  Penutup
Penulis berharap dengan adanya karya ilmiah ini, dapat memenuhi mata kuliah Psikologi Dakwah dengan baik dan benar. Di sisi lain, penulis berharap makalah ini dapat dijadikan bahan bacaan yang bermutu, baik bagi kalangan mahasiswa maupun kalangan akademika pada umumnya sebagai motivasi atau inspirasi dalam mengembangkan kreatifitasnya.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini tidak luput dari kesalahan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan untuk lebih menyempurnakan makalah ini dan seterusnya.

    F.  Daftar Pustaka
Hurlock , Elizabeth B., Psikologi Perkembangan, (Jakarta : Erlangga, 1998)
Gitta , Mauren. Psikologi Lansia, (28 Maret 2012), diakses dari http://maurengitta.blogspot.co.id/2012/03/psikologi-lansia.html pada tanggal 22 November 2015 pukul 12:22.
Trizeta , Leviatan. Psikologi Orang Dewasa, (28 November 2012) diakses dari http://levianatrizeta.blogspot.co.id/2012/11/makalah-psikologi-orang-dewasa-lansia.html pada tanggal 22 November 2015 pukul 13:00.
Ariani , Ririn Dwi. Dakwah Persuasif Perspektif Al-Qur’an, diakses dari http://berbagiituindah021996.blogspot.co.id/2015/02/normal-0-false-false-false-in-x-none-ar.html pada tanggal 22 November pukul 13:10.


[1] Elizabeth B. Hurlock, Psikologi Perkembangan, (Jakarta : Erlangga, 1998), hlm.30.
[2] Mauren Gitta, Psikologi Lansia, (28 Maret 2012), diakses dari http://maurengitta.blogspot.co.id/2012/03/psikologi-lansia.html pada tanggal 22 November 2015 pukul 12:22.
[3] Elizabeth B. Hurlock, Psikologi Perkembangan, hlm. 394.
[4]Leviatan Trizeta, Psikologi Orang Dewasa, (28 November 2012) diakses dari http://levianatrizeta.blogspot.co.id/2012/11/makalah-psikologi-orang-dewasa-lansia.html pada tanggal 22 November 2015 pukul 13:00.
[5] Ririn Dwi Ariani, Dakwah Persuasif Perspektif Al-Qur’an, diakses dari http://berbagiituindah021996.blogspot.co.id/2015/02/normal-0-false-false-false-in-x-none-ar.html pada tanggal 22 November pukul 13:10.
Copyright © 2015 Baca Online dan Seputar Blog
| Distributed By Gooyaabi Templates