December 02, 2015

Dakwah terhadap Lansia Ditinjau dari Psikologi

          A. Pendahulua
  Proses menua yang dialami orang lanjut usia (lansia)  adalah proses alami yang disertai adanya penurunan kondisi fisik, psikologis maupun sosial yang saling ber interaksi satu sama lain. Keadaan itu cenderung berpotensi menimbulkan masalah kesehatan secara umum maupun kesehatan jiwa secara khusus pada lansia.  Proses menua yang  dialami oleh lansia menyebabkan mereka mengalami berbagai macam perasaan seperti sedih, cemas, kesepian dan mudah tersinggung. Perasaan tersebut merupakan masalah kesehatan jiwa pada lansia. Jika lansia mengalami gangguan kesehatan jiwa, maka kondisi tersebut dapat memengaruhi kegiatan sehari-hari lansia.
    Saat memasuki fase lanjut usia, seseorang bukan berarti tidak butuh lagi dengan dakwah kepada kebaikan, mungkin saja karena anggapan bahwa orang tua sudah lebih tahu dan mampu mengamalkan kebaikan itu dengan baik. Semakin berumur seseorang, itu artinya manusia sudah sangat dekat dengan kematian dan saat proses kematian nanti tiba, Rasulullah sangat menganjurkan orang yang lagi sakarat agar dituntun melafadzkan tahlil. Sehingga semua amal perbuatan hendaklah tidak dilakukan kecuali benar-benar berorientasi pada harapan mendapatkan keberkahan, restu dan pahala dari Allah SWT semata.  Dengan kesadaran akan dekatnya akhir usia, lansia memprioritaskan hidupnya agar dapat menutup lembaran kehidupan dengan baik (khusnul khatimah).  Untuk alasan keselamatan hidup inilah, dakwah menjadi sangat penting bagi umat manusia utamanya para lansia.
    B. Landasan Teori
Menurut Elizabeth Hurlock, masa lansia adalah masa dimana seseorang mengalami perubahan fisik dan psikologis. Bahkan ketika masa tua disebut sebagai masa yang mudah dihinggapi segala macam penyakit dan akan mengalami kemunduran mental seperti menurunnya daya ingat dan pikiran.[1]
Dari berbagai penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa lanjut usia merupakan periode di mana seorang individu telah mencapai kemasakan dalam proses kehidupan, serta telah menunjukan kemunduran fungsi organ tubuh sejalan dengan waktu, tahapan ini dapat mulai dari usia 55 tahun sampai meninggal. Tetapi bagi orang lain, periode ini adalah permulaan kemunduran. Usia tua dipandang sebagai masa kemunduran, masa kelemahan manusiawi dan sosial sangat tersebar luas dewasa ini. Pandangan ini tidak memperhitungkan bahwa kelompok lanjut usia bukanlah kelompok orang yang homogen . Usia tua dialami dengan cara yang berbeda-beda.
Pada umumnya setelah orang memasuki lansia maka ia mengalami penurunan fungsi kognitif dan psikomotor. Fungsi kognitif meliputi proses belajar, persepsi, pemahaman, pengertian, perhatian dan lain-lain sehingga menyebabkan reaksi dan perilaku lansia menjadi makin lambat. Sementara fungsi psikomotorik (konatif) meliputi hal-hal yang berhubungan dengan dorongan kehendak seperti gerakan, tindakan, koordinasi, yang berakibat bahwa lansia menjadi kurang cekatan. Dengan adanya penurunan kedua fungsi tersebut, lansia juga mengalami perubahan aspek psikososial yang berkaitan dengan keadaan kepribadian lansia. Beberapa perubahan tersebut dapat dibedakan berdasarkan 5 tipe kepribadian lansia sebagai berikut:
1.      Tipe Kepribadian Konstruktif (Construction personalitiy), biasanya tipe ini tidak banyak mengalami gejolak, tenang dan mantap sampai sangat tua.
2.      Tipe Kepribadian Mandiri (Independent personality), pada tipe ini ada kecenderungan mengalami post power sindrome, apalagi jika pada masa lansia tidak diisi dengan kegiatan yang dapat memberikan otonomi pada dirinya.
3.      Tipe Kepribadian Tergantung (Dependent personalitiy), pada tipe ini biasanya sangat dipengaruhi kehidupan keluarga, apabila kehidupan keluarga selalu harmonis maka pada masa lansia tidak bergejolak, tetapi jika pasangan hidup meninggal maka pasangan yang ditinggalkan akan menjadi merana, apalagi jika tidak segera bangkit dari kedukaannya.
4.      Tipe Kepribadian Bermusuhan (Hostility personality), pada tipe ini setelah memasuki lansia tetap merasa tidak puas dengan kehidupannya, banyak keinginan yang kadang-kadang tidak diperhitungkan secara seksama sehingga menyebabkan kondisi ekonominya menjadi morat-marit.
5.      Tipe Kepribadian Kritik Diri (Self Hate personality), pada lansia tipe ini umumnya terlihat sengsara, karena perilakunya sendiri sulit dibantu orang lain atau cenderung membuat susah dirinya.[2]
Hurlock melihat kepribadian orang lanjut usia dapat ditinjau dari berbagai aspek, di antaranya:
1.      Biasanya orang yang berusia lanjut lebih berhati-hati dalam belajar, memerlukan waktu yang lebih banyak untuk dapat mengintegrasikan jawaban mereka, kurang mampu mempelajari hal-hal baru yang tidak mudah diintegrasikan dengan pengalaman masa lalu, dan hasilnya kurang tepat dibanding orang yang lebih muda.
2.      Secara umum terdapat penurunan kecepatan dalam mencapai kesimpulan, baik dalam alasan induktif maupun deduktif. Sebagian dari hal ini, merupakan akibat dari sikap yang terlalu hati-hati dalam mengungkapkan alasan, yang gradasinya cenderung meningkat sejalan dengan pertambahan usia.
3.      Kapasitas atau keinginan yang diperlukan untuk berfikir kreatif bagi orang berusia lanjut cenderung berkurang. Dengan demikian prestasi-kreativitas dalam menciptakan hal-hal penting pada orang berusia lanjut secara umum relatif kurang dibanding mereka yang lebih muda.
4.      Orang berusia lanjut pada umumnya cenderung lemah dalam mengingat hal-hal yang baru dipelajari dan sebaliknya baik terhadap hal-hal yang telah lama dipelajari. Sebagian dari ini disebabkan oleh fakta bahwa mereka tidak selalu termotivasi dengan kuat untuk mengingat-ingat sesuatu, sebagian disebabkan oleh kurangnya perhatian, dan sebagian lagi disebabkan oleh pendengaran yang kurang jelas serta apa yang didengarnya berbeda dengan yang diucapkan orang.
5.      Kemampuan dalam mengingat ulang banyak dipengaruhi oleh faktor usia dibanding pemahaman terhadap objek yang ingin diungkapkan kembali. Banyak orang berusia lanjut yang menggunakan tanda-tanda, terutama simbol visual, suara, dan gerakan (kinesthetic), untuk membantu kemampuan mereka dalam mengingat kembali.
6.      Kecenderungan untuk mengenang sesuatu yang terjadi pada masa lalu meningkat semakin tajam sejalan dengan bertambahnya usia. Seberapa besar kecenderungan seseorang dalam mengingat kembali masa lalunya terutama tergantung pada kondisi hidup seseorang pada usia lanjut. Makin senang kehidupan seseorang pada usia lanjut makin kecil waktu yang digunakan untuk mengenang masa lalu dan sebaliknya.
7.      Pendapat umum yang sudah klise tetapi banyak dipercaya orang, bahwa orang berusia lanjut kehilangan rasa dan keinginannya terhadap hal yang lucu-lucu. Pendapat seperti ini benar dalam hal kemampuan mereka untuk membaca komik berkurang, dan perhatian terhadap komik yang dapat mereka baca bertambah dengan bertambahnya usia.
8.      Menurunnya perbendaharaan kata yang dimiliki orang berusia lanjut menurun sangat kecil, karena mereka secara konstan menggunakan sebagian besar kata yang pernah dipelajari pada masa anak-anak dan remajanya. Sedang untuk belajar kata-kata pada usia lanjut lebih jarang dilakukan.
9.      Kekerasan mental sangat tidak bersifat universal bagi usia lanjut. Hal ini bertentangan dengan pendapat klise yang mengatakan bahwa orang berusia lanjut mempunyai mental yang keras. Apabila kekerasan mental terjadi selama usia madya, hal ini cenderung menjadi semakin tampak sejalan dengan bertambahnya usia, yang umumnya karena orang berusia lanjut lebih lambat dan lebih sulit dalam belajar daripada yang pernah dilakukan sebelumnya dan mereka percaya bahwa nilai-nilai dan cara-cara lama dalam melakukan sesuatu lebih baik daripada cara dan nilai yang baru.[3]
Kubler-Ross membagi perilaku dan proses berpikir seseorang yang menghadapi kematian menjadi 5 fase: penolakan dan isolasi, kemarahan, tawar menawar, depresi, dan penerimaan. Tidak semua individu melewati urutan yang sama. Beberapa individu berjuang hingga akhir.
1.         Penolakan merupakan fase pertama yang di usulkan Kubler-Ross dimana orang menolak kematian benar-benar ada. Mereka belum ingin meninggal. Karena mereka tidak mampu menolak, maka mereka menjadi marah.
2.         Kemarahan merupakan fase kedua dimana orang yang menjelang kematian menyadari bahwa penolakan tidak dapat lagi dipertahankan. Marah mengikuti penolakan yang tidak mungkin terjadi. Mereka marah kepada dokter atau orang lain yang ingin menolong mereka.
3.         Tawar-menawar dengan maut merupakan fase ketiga menjelang kematian dimana seseorang mengembangkan harapan bahwa kematian sewaktu-waktu dapat ditunda atau diundur. Mereka tawar menawar dengan Tuhan agar waku hidup mereka sedikit lagi diperpanjang.
4.         Depresi merupakan fase keempat menjelang kematian dimana orang yang sekarat akhirnya menerima kematian. Pada titik ini, suatu periode depresi atau persiapan berduka mungkin muncul. Orang yang menghadapi maut mengalami depresi  karena kesedihan yang mendalam dan akhirnya pasrah.
5.         Menerima merupakan fase kelima menjelang kematian, dimana seorang mengembangkan rasa damai, menerima takdir dan dalam beberapa hal, ingin ditinggal sendiri. Pada fase ini perasaan dan rasa sakit pada fisik mungkin hilang. Kubler-Ross menggambarkan fase kelima ini sebagai akhir perjuangan menjelang kematian. Mereka menyadari bahwa mereka pasti mati dan waktunya sudah sangat dekat.[4]
           C. Alternatif Dakwah
1.      Materi Dakwah
a.       Tauhid. Materi keimanan / tauhid meliputi rukun iman, hal-hal yang berkaitan dengan keimanan, kematian, ketenangan hati dan sebagainya. Islam mengajarkan bahwa kepercayaan/iman seseorang harus dibuktikan dengan jalan melaksanakan penyembahan (ibadah) dan mentaati segala hukum Allah (syari'ah) yang telah digariskan lewat wahyu-Nya yang diturunkan kepada Rasulullah SAW. Maka pelaksanaan ibadah dan syari'ah itu adalah manifestasi dari iman seseorang.  Dengan memiliki iman yang kuat maka para lansia selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dengan rasa kepercayaan kepada Allah dan yakin bahwa setiap manusia itu tidak ada yang sempurna, maka para lansia tidak merasa rendah diri dan selalu berkeluh kesah.
b.      Syari’ah.  Materi syari'ah yang dimaksud adalah fiqih. Para lansia akan dapat melaksanakan ibadah kepada Allah SWT sesuai dengan apa yang disyari'atkan agama Islam, ibadah merupakan bakti manusia kepada Allah SWT yang didorong dan dibangkitkan oleh akidah tauhid. Dalam menjalankan ibadah itu ada tata caranya, sehingga untuk melaksanakannya para lansia perlu tahu tentang hukum fiqih terlebih dahulu.
c.       Akhlak. Lansia dapat pula diberikan materi tentang akhlak, diantaranya melalui contoh perbuatan yang mengarah pada tingkah laku yang baik. Selain itu setiap anggota panti juga disarankan untuk saling membantu antara sesama lansia terutama sesama yang masih mampu memberikan bantuan kepada lansia yang membutuhkan bantuan.


2.      Cara Berdakwah
a.       Asy Syukru (balas budi). Bertolak dari kondisi lansia yang cenderung membutuhkan pengakuan dan perlakuan serta peng hargaan yang setimpal, maka strategi balas budi lebih dikedepankan dalam dakwah. Balas budi dapat diartikan menampakkan kegembiraan dan menghaturkan terimakasih terhadap jasa-jasa di saat mereka belum membutuhkan bantuan kita. Namun ketika tiba masa mereka membutuhkan, maka membantu  dan memenuhi kebutuhan mereka termasuk kategori balas budi.
b.      Qaulan karima (perkataan yang mulia). Dakwah dengan qaulan kariman sasarannya adalah orang yang telah lanjut usia. Jika dikaji lebih jauh, sasaran qaulan karima adalah orang yang memiliki derajat lebih tinggi dari kita dengan pendekatan perkataan yang mulia, santun, penuh hormat, dan penghargaan, tidak menggurui, sebab kondisi fisik mereka yang mulai melemah membuat mudah tersinggung apabila menerima perkataan yang keras dan terkesan menggurui. Psikologi orang usia lanjut biasanya sangat peka terhadap kata-kata yang bersifat menggurui, menyalahkan apalagi kasar. Karena mereka merasa lebih banyak pengalaman hidupnya dan merasa dalam kondisi telah banyak kehilangan kekuatan fisiknya.  Oleh karenanya, da’i harus bersikap hormat terhadap mad’u yang tergolong usia lanjut seperti memperlakukan pada orang tua sendiri.
c.       Qaulan layyina (perkataan yang lemah lembut). Sesuai firman Allah “Maka disebabkan rahmat dari  Allah lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu” (Q.S. Ali Imron : 159), maka untuk berdakwah kepada lansia harus menggunakan perkataan yang lembut. Menurut Asfihani dalam Mu’jam-nya, qaulan layyina mengandung arti lawan dari kasar, yakni halus dan lembut. Pada dasarnya halus dan lembut itu dipergunakan untuk mensifati benda oleh indera peraba, tetapi kata-kata ini kemudian dipinjam untuk menyebut sifat-sifat akhlak dan arti-arti bagi lansia sebagai sentuhan yang halus tanpa mengusik atau menyentuh kepekaan perasaannya sehingga tidak menimbulkan gangguan pikiran dan perasaan.
d.      Qaulan Baligha (perkataan yang membekas pada jiwa). Suatu perkataan dianggap baligh manakala berkumpul pada tiga sifat, yaitu memiliki kebenaran dari sudut bahasa, mempunyai kesesuaian dengan apa yang dimaksudkan dan mengandung kebenaran secara subtansial. Suatu perkataan dinilai baligh jika perkataan itu membuat lawan bicaranya terpaksa mempersepsi perkataan itu sama dengan apa yang dimaksudkan oleh pembicara, sehingga tidak ada celah untuk mengalihkan perhatian kepermasalahan lain.
e.       Qaulan Syadida (perkataan yang benar). Term qaulan syadida, menurut ibn Manshur dalam lisan al-a’rabnya kata sadid diyang dihubungkan dengan qaul (perkataan) mengandung arti mengenai sasaran (yusib al-qashda). Jadi pesan dakwah yang secara psikologis menyentuh hati mad’u  siapa pun mad’unya termasuk lansia, adalah jika materi yang disampaikan itu benar baik dari segi bahasa atau pun logika dan disampaikan dengan pijakan takwa.
f.       Qaulan Maisura (perkataan yang ringan). Maisura adalah perkataan yang mudah diterima, yang ringan, yang pantas, yang tidak berliku-liku. Dakwah dengan qaulan maisura artinya pesan yang disampaikan itu sederhana, mudah dimengerti dan dapat difahami secara spontan tanpa harus berfikir dua kali.[5] Teknik ini sangat sesuai dengan lansia karena saat menjadi tua, kemampuan menyerap informasi melemah.
3.      Kegiatan Dakwah
a.       Dzikir. Sadarnya  lansia akan dekatnya kematian, sering menimbulkan ketakutan dan kegelisahan. Hal ini harus segera diatasi salah satunya dengan berdzikir. Dzikir adalah amalan yang mudah dan ringan untuk dikerjakan. Dzikir ini pun tidak diikuti aturan mengenai batas minimal atau maksimal untuk melakukannya, intinya adalah niat dan keikhlasan kita. Tetapi dzikir memiliki manfaat yang baik untuk menenangkan jiwa.
b.      Seni pertunjukkan. Untuk mengurangi tingkat stress yang dialami lansia tentang kematian, seni pertunjukkan adalah pilihan yang tepat. Dalam pertunjukkan tersebut, dapat dimasukkan nilai-nilai islam didalamnya sehingga para lansia dapat mengambil hikmah dari pertunjukkan tersebut. Seni pertunjukkan ini juga mempermudah lansia menerima materi dakwah yang diberikan tanpa berfikir berat.

    D. Kesimpulan
Lanjut usia merupakan periode di mana seorang individu telah mencapai kemasakan dalam proses kehidupan, serta telah menunjukan kemunduran fungsi organ tubuh sejalan dengan waktu. Pada umumnya setelah orang memasuki lansia maka ia mengalami penurunan fungsi kognitif dan psikomotor. Beberapa perubahan tersebut dapat dibedakan berdasarkan 5 tipe kepribadian lansia, yaitu Tipe Kepribadian Konstruktif (Construction personalitiy), Tipe Kepribadian Mandiri (Independent personality), Tipe Kepribadian Tergantung (Dependent personalitiy), Tipe Kepribadian Bermusuhan (Hostility personality), Tipe Kepribadian Kritik Diri (Self Hate personalitiy). Kubler-Ross membagi perilaku dan proses berpikir seseorang yang menghadapi kematian menjadi 5 fase: penolakan dan isolasi, kemarahan, tawar menawar, depresi, dan penerimaan.
Materi dakwah yang  dapat diberikan adalah tauhid, syari’ah dan akhlak. Cara berdakwah agar mudah diterima lansia yaitu Asy Syukru (balas budi), Qaulan karima (perkataan yang mulia), Qaulan layyina (perkataan yang lemah lembut). Qaulan Baligha (perkataan yang membekas pada jiwa). Qaulan Syadida (perkataan yang benar. Qaulan Maisura (perkataan yang ringan). Kegiatan dakwah yang dapat dilakukan diantaranya zikir dan seni pertunjukkan
    E.  Penutup
Penulis berharap dengan adanya karya ilmiah ini, dapat memenuhi mata kuliah Psikologi Dakwah dengan baik dan benar. Di sisi lain, penulis berharap makalah ini dapat dijadikan bahan bacaan yang bermutu, baik bagi kalangan mahasiswa maupun kalangan akademika pada umumnya sebagai motivasi atau inspirasi dalam mengembangkan kreatifitasnya.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini tidak luput dari kesalahan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan untuk lebih menyempurnakan makalah ini dan seterusnya.

    F.  Daftar Pustaka
Hurlock , Elizabeth B., Psikologi Perkembangan, (Jakarta : Erlangga, 1998)
Gitta , Mauren. Psikologi Lansia, (28 Maret 2012), diakses dari http://maurengitta.blogspot.co.id/2012/03/psikologi-lansia.html pada tanggal 22 November 2015 pukul 12:22.
Trizeta , Leviatan. Psikologi Orang Dewasa, (28 November 2012) diakses dari http://levianatrizeta.blogspot.co.id/2012/11/makalah-psikologi-orang-dewasa-lansia.html pada tanggal 22 November 2015 pukul 13:00.
Ariani , Ririn Dwi. Dakwah Persuasif Perspektif Al-Qur’an, diakses dari http://berbagiituindah021996.blogspot.co.id/2015/02/normal-0-false-false-false-in-x-none-ar.html pada tanggal 22 November pukul 13:10.


[1] Elizabeth B. Hurlock, Psikologi Perkembangan, (Jakarta : Erlangga, 1998), hlm.30.
[2] Mauren Gitta, Psikologi Lansia, (28 Maret 2012), diakses dari http://maurengitta.blogspot.co.id/2012/03/psikologi-lansia.html pada tanggal 22 November 2015 pukul 12:22.
[3] Elizabeth B. Hurlock, Psikologi Perkembangan, hlm. 394.
[4]Leviatan Trizeta, Psikologi Orang Dewasa, (28 November 2012) diakses dari http://levianatrizeta.blogspot.co.id/2012/11/makalah-psikologi-orang-dewasa-lansia.html pada tanggal 22 November 2015 pukul 13:00.
[5] Ririn Dwi Ariani, Dakwah Persuasif Perspektif Al-Qur’an, diakses dari http://berbagiituindah021996.blogspot.co.id/2015/02/normal-0-false-false-false-in-x-none-ar.html pada tanggal 22 November pukul 13:10.

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © 2015 Baca Online dan Seputar Blog
| Distributed By Gooyaabi Templates