January 01, 2016

Gerakan Tradisional Modern Islam

PENDAHULUAN
      A.    Latar Belakang
Dalam kajian tentang Islam di Indonesia, sudah sering kita mendengarkan kategorisasi atau tipologi dalam bentuk oposisi biner antara modernisme Islam dan tradisionalisme Islam; antara golongan Muslim modernis dan yang tradisionalis (lihat misalnya Noer, 1991). Kelompok atau organisasi yang digolongkan sebagai kaum modernis adalah Muhammadiyah atau Persatuan Islam (Persis) sementara kaum tradisionalis adalah Nahdlatul Ulama.
Ketika kita berbibcara mengenai munculnya gerakan Islam semenjak berdirinya Islam yaitu meliputi dua aspek yaitu agama itu sendiri dan msyarakat. Islam tidak pernah memisahkan antara persoalan duniawi dan persoalan ukhrowi tapi Islam menckup kedua-duanya. Karena hukum Islam telah mengatur Hablum Minan Nash dan Hablum Minallah. Dalam makalah ini akan dibahas lebih lanjut mengenai gerakan islam tradisional dan gerakan islam modern.

     B.     Rumusan Masalah
Dari uraian latar belakang diatas maka rumusan masalah dalam makalah ini adalah:
                               I.            Gerakan Islam Tradisional
a.       Apa yang dimaksud dengan gerakan islam tradisional?
b.      Bagaimanakah sejarah perkembangan islam tradisional?
                            II.            Gerakan Islam Modern
a.       Apa yang dimaksud dengan gerakan islam modern?
b.      Bagaimana sejarah perkembangan islam modern?
c.       Bagaimanakah sejarah golongan Muhammadiyah sebagai kelompok gerakan Islam Modern?



PEMBAHASAN
                 I.            Gerakan Islam Tradisional
a.       Gerakan Islam Tradisional
Tradisional berasal dari kata tradisi. Menurut khasanah bahasa Indonesia, tradisi berarti segala sesuatu seperti adat,kebiasaan, ajaran dan sebagainya yang turun-temurun dari nenek moyang.[1] Ada pula yang mengatakan bahwa tradisi berasal dari kata traditum, yaitu segala sesuatu yang ditransmisikan, diwariskan oleh masa lalu ke masa sekarang.[2]
Berdasarkan dua pengertian diatas kita dapat menyimpulkan bahwa inti dari tradisi adalah warisan masa lalu yang terus dilestarikan sampai sekarang , baik berupa nilai,norma social,pola kelakuan dan adat kebiasaan yang merupakan wujud dari berbagai aspek kehidupan.
Sedangkan tradisional  sendiri memiliki arti menurut adat, turun-temurun.[3] Jadi dapat disimpulkan bahwa gerakan islam tradisional adalah suatu gerakan yang masih mempertahankan tradisi-tradisi beragama dalam kehidupan sehari-hari.
Kaum Muslim tradisionalis dipersepsikan sebagai golongan yang berpikiran sempit dan kolot karena mereka hanya ingin mempertahankan tradisi atau khazanah pemikiran Islam dari Abad Pertengahan yang sudah usang dan tidak cocok lagi dengan zaman modern. Mereka hanya ingin bertaklid kepada mazhab-mazhab yang didirikan oleh para Imam dari masa lalu. Kaum Muslim tradisionalis juga dipandang secara negatif karena mereka dianggap telah mencampur begitu saja antara ajaran Islam dengan sisa-sisa budaya lama di Indonesia yang amat kental dipengaruhi oleh agama Hindu-Buddha atau bahkan masih berbau animisme.[4]

b.      Sejarah Gerakan Islam Tradisional
Sebelum mendirikan Nahdatul Ulama pada tahun 1926, berbagai gerakan keagamaan (Islam) sudah tersebar diberbagai kota besar maupun kecil di Hindia Belanda sejak dekade 1910an. Tahun 1912 sudah ada gerakan Muhammadiyah di Yogyakarta yang didirikan oleh K.H. Ahmad Dahlan. Sayangnya gerakan Muhamadiyah pimpinan Ahmad Dahlan ini, sebelum wafatnya sang pemimpin tahun 1923, belum mampu menyentuh akar-akar fundamental Islam tradisional. Karena tekanan awal gerakan Islam modern itu bertumpu pada masalah sosial, ekonomi dan politik mengakibatkan munculnya rasa terancam dari para pimpinan Islam tradisional. Meningkatnya jumlah pengikut Sarekat Islam menjelang dekade 1920an dikarenakan karena peran kyai dalam memobilisasi massa pada tingkat masyarakat luas. Didalam Sarekat Islam sendiri terdapat dua kubu: Islam modern maupun Islam tradisional. Sering terjadi perdebatan antar kyai pimpinan pondok pesantran dan para ulama pasca meninggalkan Ahmad Dahlan. Wadah perdebatan mereka adalah organisasi Tashwirul Afkar di Surabaya.[5]
Februari 1923 di kota Bandung, berdirilah Persatuan Islam (Persis). Para anggota Persis sering melontarkan pandangan-pandangan tidak kompromistis yang ditujukan pada pikiran Islam tradisional. Ketika Kongres Al-Islam diselenggarakan di Bandung pada bulan Februari 1926, pemimpin gerakan Islam modern tampil mendominasi forum kongres dan usul-usul pimpinan Islam tradisional diabaikan. Usulan kaum tradisional itu menyangkut terpeliharanya praktek keagamaan tradisional seperti eksistensi empat mazhab dan pemeliharaan kuburan nabi dan empat sahabatnya. Karenanya, Hasyim Asyhari lalu melontarkan kritik pedas pada forum yang dikuasai kaum Islam modern itu.[6]
Permulaan tahun 1926 dengan kota Surabaya sebagai pusat gerakannya, Hasyim Asyhari membentuk dan memimpin Nahdatul Ulama. Dengan pengaruhnya yang besar, terutama di Jawa Tengah dan Jawa Timur, Nahdatul Ulama semakin berkembang dengan banyak pendukung dari dua daerah itu. Dalam anggaran dasar-nya yang dirumuskan tahun 1927, organisasi ini bertujuan memperkuat kesetiaan kaum Muslimin pada salah satu dari empat mazhab yang ada serta melakukan kegiatan-kegiatan yang menguntungkan dalam ajaran Islam. Kegiatan Nahdatul Ulama antara lain: pertama, memperkuat persatuan antara sesama ulama yang masih setia pada empat mazhab; kedua, memberi bimbingan tentang kitab-kitab yang diajarkan pada lembaga pendidikan Islam; ketiga, menyebarkan ajaran-ajaran Islam; keempat, menyebarkan ajaran-ajaran Islam yang sesuai dengan tuntutan empat mazhab; kelima, memperluas jumlah madrasah dan membantu organisasinya; keenam, membantu pembangunan masjid, langgar dan pondok pesantran; ketujuh,membantu anak-anak yatim piatu dan fakir miskin serta mendirikan badan-badan usaha untuk memajukan kehidupan ekonomi anggota.[7]
Sejak berdirinya, Nahdatul Ulama terbilang mampu membendung masuknya ide-ide Islam modern ke desa-desa Jawa, khususnya Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sejak akhir dekade 1920an terjadi status quo, dimana kaum Islam modern memusatkan gerakannya dilingkungan perkotaan, sedang Islam tradisional cukup puas dengan menarik pengikut dari lingkungan desa saja. Kendati ada persaingan antara Islam tradisional dengan Islam modern, keduanya bersatu dalam Majelis Ulama A’la Indonesia (MUAI). Kaum Islam modern juga mengakui kharisma dan pengaruh HasyimAsyhari begitu bagi masyarakat Islam tradisional menimbulkan kesepakatan menunjuk HasyimAsyhari dan putranya, Wahin Hasyim, duduk sebagai pimpinan MUAI.[8]
Apa yang dilakukan Hasyim Asyhari selama kurun waktu masa pergerakan nasional adalah membenahi diri dan memperkuat kaum Islam tradisional yang tersebar di pelosok desa dalam gerakan Islam tradisonalnya, Nahdatul Ulama. Hasyim Asyhari berusaha memelihara kekuatan kebangkitan Islam dengan basis kaum Islam tradisonal dimasa pergerakan nasional sebagai kekuatan potensial pergerakan Islam. Kendati tidak tampak, kaum Islam tradisional yang terdiri dari kyai dan santri ini seolah menjadi kekuatan menakutkan bagi pemerintah kolonial dimasa pergerakan dan sebelumnya. Peran kelompok Islam tradisional dalam pergerakan nasional seolah tertutupi dalam lembaran sejarah bangsa ini.


                        II.            Gerakan islam modern
a.    Gerakan Islam Modern
Istilah “modern” dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia diartikan sebagai yang terbaru, cara baru, mutakhir. Setelah menjadi istilah yang merupakan predikat sesuatu, istilah tersebut akan mempunyai pengertian akan mempunyai arti tersendiri pula. Istilah “modernisme” ini bisa diberikan definisi dengan “fase sejarah dunia yang paling akhir yang ditandai dengan kepercayaaan terhadap sains, perencanaan, sekularisem dan kemajuan”. Istilah itu kemudian menjadi “modernisasi” (suatu proses untuk menjadikan sesuatu itu modern) mempunyai pengertian yang spesifik lagi.[9]
Kaum Muslim modernis biasanya diartikan sebagai golongan yang ingin memperbarui Islam dari kejumudan dan mengajak mereka untuk melepaskan diri dari belenggu taklid. Itulah sebabnya mereka menekankan pentingnya ijtihad atau pemikiran mandiri tanpa terikat kepada mazhab apapun. Mereka juga mengajak kaum Muslim untuk “kembali kepada Qur’an dan Hadis” sebagai dua sumber utama dan otentik Islam, alih-alih bertaklid kepada ulama atau Imam. Misi mereka yang lain tentu saja adalah membersihkan atau “memurnikan” Islam dari praktik-praktik animistik atau yang berbau Hindu-Buddha. [10]
b.    Sejarah Gerakan Islam Modern
Di indonesia gerakan Islam dapat tercermin dalam pemilihan umum pertama pada tahun 1955. Pada pemilihan tersebut muncul empat partai besar yaiut: partai Nasional Indonesia   dengan jumlah 8,5  juta (22,3%). Masjumi dengan 8juta suara (20,9%), Nadlatu Ulama dengan 7 juta suara (18,4%)dan partai Komunis Indonesia dengan 6,1 juta suara (16,4%). Keempat partai  berturut-turut memperoleh 57,57,45 dan 39 kursi di perlemin yang terdiri 257 orang anggota. Semua partai diatas terserbut adalah merupakan suatu kenyataan bahwa gerakan Islam telah menjadi warna yang sangat tampak dalam kancah politik walau tidak semuanya beragam Islam, namun 95% adalah beragama Islam itu menurut sensus 1970.
Hal ini merupakan suatu kenyataan bahwa gerakan Islam telah tumbuh besar. Menelaah kembali perkembanagan organisasi dalam bidang sosial dan pendidikan dapat di katakan bahwa setiap organisasi tersebut mempunyai krakteristik yang berbeda kerena dia telah di bentuk oleh golongan dan lingkungan yang berbeda pula. Seperti berdirnya Jamiat Khair di jakarta organisasi tersebut berdiri di mulai oleh keperluan pendidikan dalam masyarakat. berdiriynya Jamiat Khair sebenarnya lebih didorong oleh pertimbangan-pertimbangan praktis dari pada kesadaran filosofis ataupun agama. Ini adalah merupakan cerminan dari keengganan pendirinya dari ketertinggalan  dari kemajuan yang di capai oleh orang-orang barat yaitu oleh orang-orang Belanda dan Cina yag juga telah mendirikan organisasi sosial dikalangan mereka. Pendirian  Hollan Chinese School (HCS) pada tahun 1909 oleh pemerintah Belanda dianggap bukti yang sangat nampak adanya diskriminasi orang Islam indonesia. Dan juga berdirinya Hollands  Inlandse Schoool (HIS) 1914 juga menimbulkan kekecewaan sangat besar dalam masyarakat Indonesia.
Pada umumnya sekolah yang didirikan oleh pemeirintah Belanda di indonisia adalah merupakan sekolah yang di dalamnya tidak ada ajaran keagamaan sehingga hal tersebut memicu keresahan masyarakat pribumi untuk mendirikan lembga sekolah yang ada pelajaran keagamaanya. Organisasi Islam yang ada di Yogyakarta pada saat itu juga di tentanag oleh kehadaira kristen yang ada disana. Daerah yang biasanya ada di bawah kekuasaan raja-raja pribumi , yaitu Sultan dan Sunan dianggap mereka pelindung agama Islam oleh maysrakat kristen yang ada disana. Melihat gerakan yang demikian organisasi Islam yang ada di Yogyakarta melancarkan kegiatan-kegiatan sosial yang berwawasan keagamaan. Pihak Muhammadiyah berusaha menghentikana missi bejata yang di lakukan  oleh orang di luar Islam tersebut.
Gerakan Muhammadiyah yang ada di yogyakarta tersebut juga menjadi pemicu gerakan di minangkabau  dan di majalengka adalah yang memicu gerakan disana juga akibat tidak adanya pelajaran-pelajaran. Agama di sekolah yang didirikan oleh pemerintah . apa yang di sebut politik neteral terahadap agama di sekolah-sekolah pemerintah, akan meyebabkan murid-murid tidak tahu tentang kegamaan dan kepercayaan. Oleh sebah itu hal tersebut akan melahirkan” emansipasi orang-orang indonesia dari Islam”  hal ini juga menyababkan terjalinya hubungan Muhmmad Dahlan dengan guru-guru dari seolah-sekolah pemeirintah Yogyakarta. Hubungan Hajji Abdullah Ahmad di Padang dan Syaikh Djamil Djabek di bukit tiggi dengan murid-urid Mulo dan sekolah guru. Dan hubungan Hassan di Bandung dengan guru-guru setempat.[11]
c.    Perkembangan Muhammadiyah
Bulan Dzulhijjah (8 Dzulhijjah 1330 H) atau November (18 November 1912 M) merupakan momentum penting lahirnya Muhammadiyah. Itulah kelahiran sebuah gerakan Islam modernis terbesar di Indonesia, yang melakukan perintisan atau kepeloporan pemurnian sekaligus pembaruan Islam di negeri berpenduduk terbesar muslim di dunia. Sebuah gerakan yang didirikan oleh seorang kyai alim, cerdas, dan berjiwa pembaru, yakni Kyai Haji Ahmad Dahlan atau Muhammad Darwis dari kota santri Kauman Yogyakarta
 Kata ”Muhammadiyah” secara bahasa berarti ”pengikut Nabi Muhammad”. Penggunaan kata ”Muhammadiyah” dimaksudkan untuk menisbahkan (menghubungkan) dengan ajaran dan jejak perjuangan Nabi Muhammad. Penisbahan nama tersebut menurut H. Djarnawi Hadikusuma mengandung pengertian sebagai berikut: ”Dengan nama itu dia bermaksud untuk menjelaskan bahwa pendukung organisasi itu ialah umat Muhammad, dan asasnya adalah ajaran Nabi Muhammad saw, yaitu Islam. Dan tujuannya ialah memahami dan melaksanakan agama Islam sebagai yang memang ajaran yang serta dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw, agar supaya dapat menjalani kehidupan dunia sepanjang kemauan agama Islam. Dengan demikian ajaran Islam yang suci dan benar itu dapat memberi nafas bagi kemajuan umat Islam dan bangsa Indonesia pada umumnya.”
Muhammadiyah pada mulanya diusulkan oleh kerabat dan sekaligus sahabat Kyai Ahmad Dahlan yang bernama Muhammad Sangidu, seorang Ketib Anom Kraton Yogyakarta dan tokoh pembaruan yang kemudian menjadi penghulu Kraton Yogyakarta, yang kemudian diputuskan Kyai Dahlan setelah melalui shalat istikharah (Darban, 2000: 34). Artinya, pilihan untuk mendirikan Muhammadiyah memiliki dimensi spiritualitas yang tinggi sebagaimana tradisi kyai atau dunia pesantren.
Kelahiran Muhammadiyah dengan gagasan-gagasan cerdas dan pembaruan dari pendirinya, Kyai Haji Ahmad Dahlan, didorong oleh dan atas pergumulannya dalam menghadapi kenyataan hidup umat Islam dan masyarakat Indonesia kala itu, yang juga menjadi tantangan untuk dihadapi dan dipecahkan. Adapun faktor-faktor yang menjadi pendorong lahirnya Muhammadiyah ialah antara lain:
1)      Umat Islam tidak memegang teguh tuntunan Al-Quran dan Sunnah Nabi, sehingga menyebabkan merajalelanya syirik, bid’ah, dan khurafat, yang mengakibatkan umat Islam tidak merupakan golongan yang terhormat dalam masyarakat, demikian pula agama Islam tidak memancarkan sinar kemurniannya lagi;
2)      Ketiadaan persatuan dan kesatuan di antara umat Islam, akibat dari tidak tegaknya ukhuwah Islamiyah serta ketiadaan suatu organisasi yang kuat;
3)      Kegagalan dari sebagian lembaga-lembaga pendidikan Islam dalam memprodusir kader-kader Islam, karena tidak lagi dapat memenuhi tuntutan zaman;
4)      Umat Islam kebanyakan hidup dalam alam fanatisme yang sempit, bertaklid buta serta berpikir secara dogmatis, berada dalam konservatisme, formalisme, dan tradisionalisme;
5)   dan Karena keinsyafan akan bahaya yang mengancam kehidupan dan pengaruh agama Islam, serta berhubung dengan kegiatan misi dan zending Kristen di Indonesia yang semakin menanamkan pengaruhnya di kalangan rakyat. (Junus Salam, 1968: 33).
Jadi dapat disimpulkan, bahwa berdirinya Muhammadiyah adalah karena alasan-alasan dan tujuan-tujuan sebagai berikut: (1) Membersihkan Islam di Indonesia dari pengaruh dan kebiasaan yang bukan Islam; (2) Reformulasi doktrin Islam dengan pandangan alam pikiran modern; (3) Reformulasi ajaran dan pendidikan Islam; dan (4) Mempertahankan Islam dari pengaruh dan serangan luar. (H.A. Mukti Ali, dalam Sujarwanto & Haedar Nasir, 1990:332).
Kelahiran Muhammadiyah secara teologis memang melekat dan memiliki inspirasi pada Islam yang bersifat tajdid, namun secara sosiologis sekaligus memiliki konteks dengan keadaan hidup umat Islam dan masyarakat Indonesia yang berada dalam keterbelakangan. Kyai Dahlan melalui Muhammadiyah sungguh telah memelopori kehadiran Islam yang otentik (murni) dan berorientasi pada kemajuan dalam pembaruannya, yang mengarahkan hidup umat Islam untuk beragama secara benar dan melahirkan rahmat bagi kehidupan. Islam tidak hanya ditampilkan secara otentik dengan jalan kembali kepada sumber ajaran yang aseli yakni Al-Qur‘an dan Sunnah Nabi yang sahih, tetapi juga menjadi kekuatan untuk mengubah kehidupan manusia dari serba ketertinggalan menuju pada dunia kemajuan.[12]

PENUTUP
Dari uraian diatas kitak dapat mengambil kesimpulan bahwa gerakan islam tradisional adalah gerakan islam yang masih mempertahankan tradisi-tradisi yang dianut oleh leluhur mereka dalam kehidupan sehari-hari. Golongan yang termasuk kedalam gerakan islam tradisional adalah Nahdhatul Ulama (NU).
Sedangkan gerakan islam modern adalah gerakan islam yang menekankan pentingnya ijtihad atau pemikiran mandiri tanpa terikat kepada mazhab apapun. Mereka juga mengajak kaum Muslim untuk “kembali kepada Qur’an dan Hadis” sebagai dua sumber utama dan otentik Islam, alih-alih bertaklid kepada ulama atau Imam. Misi mereka yang lain tentu saja adalah membersihkan atau “memurnikan” Islam dari praktik-praktik animistik atau yang berbau Hindu-Buddha.
Islam tampil dalam sistem religuisitas dan gerakan-gerakan sosial yang beragam itu diakibatkan dari kemajemukan pemahaman serta lingkungan sosial, budaya dan politik masyarakat pemeluknya. Pola pemikiran keislaman yang diikuti gerakan-gerakan umat menunjukkan relevansinya dengan gerak langkah pembangunan bangsa. Terlihat jelas partisipasi umat Islam yang didalamnya terbingkai oleh nilai-nilai agama, meskipun ia tidak serta merta dapat membingkai  kesatuan pandangan dan gerakan Islam. Gerakan-gerakan  keagamaan, baik yang tradisional, modern, neo-modernis, fundametnalis, militan maupun ekstern, semuanya merupakan isyarat tentang sikap dan respon umat Islam terhadap kepentingan-kepentingan bangsa.

DAFTAR PUSTAKA
Bashri, Yantho & Retno Suffatni. Sejarah Tokoh Bangsa. Yogyakarta.LKiS. 2004.

Peransi,D.A..“Retradisionalisasi dalam Kebudyaan,” Majalah Prisma. No.6. 1985.

Poerwadarminta,WJB. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta : Penerbit Balai Pustaka, cet.VI.1982.

S.Wojowasito & WJS. Poerwadarminta,.Kamus Lengkap : Inggris-Indonesia, Indonesia-Inggris. Jakarta : Penerbit Hasta.cet.III.1972.






[1] WJB Poerwadarmita, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Jakarta : Penerbit Balai Pustaka, cet.VI,1982, hal.1088.
[2] D.A.Peransi, “Retradisionalisasi dalam Kebudyaan,” Majalah Prisma, No.6, 1985, hal.9.
[3] S.Wojowasito & WJS. Poerwadarminta, Kamus Lengkap : Inggris-Indonesia, Indonesia-Inggris, Jakarta : Penerbit Hasta, cet.III,1972, hal.215.
[5] Yantho Bashri & Retno Suffatni, Sejarah Tokoh Bangsa, Yogyakarta, LKiS, 2004. Hal.367.
[6] Yantho Bashri & Retno Suffatni, Sejarah Tokoh Bangsa, Yogyakarta, LKiS, 2004. Hal.367-368.
[7] Yantho Bashri & Retno Suffatni, Sejarah Tokoh Bangsa, Yogyakarta, LKiS, 2004. Hal.367-368.
[8] Yantho Bashri & Retno Suffatni, Sejarah Tokoh Bangsa, Yogyakarta, LKiS, 2004. Hal.369.

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © 2015 Baca Online dan Seputar Blog
| Distributed By Gooyaabi Templates