January 02, 2016

Penggerakan Dakwah

I.                    PENDAHULUAN

Usaha untuk menyebarluaskan Islam di tengah-tengah kehidupan umat manusia adalah usaha dakwah, yang dalam keadaan bagaimanapun dan dimanapun harus dilaksanakan oleh umat islam. Penyelenggaraan usaha dakwah islam pada masa depan akan semakin bertambah berat. Hal ini disebabkan karena masalah-masalah yang dihadapi oleh dakwah semakin berkembang. Penyelenggaraan dakwah akan dapat berjalan secara efektif dan efesien, apabila terlebih dulu dapat mengidentifikasi dan mengantisipasi masalah-masalah yang akan dihadapi.
Kemampuan untuk mengidentifikasi masalah, kemudian menyusun rencana yang tepat, mengatur dan mengorganisir para pelaksana dakwah dalam kesatuan- kesatuan tertentu, selanjutnya mengerahkan dan menggerakkannya pada tujuan yang dikehendaki, begitu pula kemampuan untuk mengawasi. Salah satu materi yang sangat penting untuk dipahami dalam manajemen dakwah adalah penggerakan dakwah, oleh sebab itu  makalah ini secara khusus membahas tentang penggerakan dakwah agar dapat diketahui peran penting seorang pemimpin terhadap  anggota-anggotanya dalam memberikan motivasi, bimbingan dan lain-lain untuk dapat  mencapai tujuan dakwah yang telah disepakati bersama.

II.                 RUMUSAN MASALAH
1.      Apakah yang dimaksud dengan penggerakan dakwah?
2.      Langkah- langkah apa saja yang harus dilakukan dalam penggerakan dakwah?



III.               PEMBAHASAN
1.      Pengertian penggerakan dakwah
Penggerakan dakwah merupakan inti dari manajemen dakwah. Sedangkan pengertian penggerakan adalah suatu usaha membujuk orang lain untuk melaksanakan tugas-tugas dalam rangka mencapai tujuan suatu organisasi. Penggerakan juga dapat didefinisikan sebagai keseluruhan usaha, cara, teknik dan metode untuk mendorong para anggota organisasi agar mau dan ikhlas bekerjasama dengan sebaik mungkin  demi tercapainya tujuan organisasi dengan efektif, efisien, dan ekonomis[1].                                         
 Penggerakan diarahkan untuk merangsang anggota-anggota kelompok untuk melaksanakan tugas-tugas secara antusias dan penuh semangat sebagai wujud dari kemauan yang baik .
Yang dimaksud dengan penggerakan dakwah adalah meminta pengurbanan para pelaksana untuk melakukan kegiatan-kegiatan dalam rangka da’wah. Hal ini hanya mungkin terjadi bila pemimpin da’wah (da’i) mampu memberikan motivasi, bimbingan, mengkoordinir dan menjalin pengertian diantara mereka serta selalu meningkatkan kemampuan dan keahlian mereka[2].
Dalam proses da’wah, penggerakan da’wah (Actuating) mempunyai fungsi yang secara langsung berhubungan dengan teknis pelaksanaan. Maka, dengan adanya fungsi penggerakan inilah ketiga fungsi da’wah yang lain – Planing, Organizing and Controlling – ­baru akan efektif[3].
Agar fungsi dari penggerakan dakwah ini dapat berjalan secara optimal, maka harus menggunakan teknik-teknik tertentu yang meliputi :
Ø  Memberikan penjelasan secara komprehensif kepada seluruh elemen dakwah yang ada dalam organisasi dakwah.
Ø  Usahakan agara setiap pelaku dakwah menyadari, memahami, dan menerima baik tujuan yang telah diterapkan.
Ø  Setiap pelaku dakwah mengerti struktur organisasi yang di bentuk.
Ø  Memperlakukan secara baik bawahan dan memberikan pnghargaan yang diiringi dengan bimbingan dan petunjuk ntuk semua anggota.

2.      Langkah-langkah penggerakan dakwah
Peranan seorang pemimpin sangat menentukan keberhasilan dari kegiatan-kegiatan yang akan dilaksankan, karena pemimpin ditutuntut mampu memberi motivasi, bimbingan, mengoordinasikan serta menciptakan suasana sejuk dalam membentuk kepercayaan diri yang akhirnya dapat mengoptimalkan semua anggotanya. Ada beberapa point dari peroses penggerakan dakwah yang menjadi kunci dari kegiatan dakwah yaitu :
a.      Pemberian motivasi (Motivating)
b.      Pembimbingan (Directing)
c.      Penjalinan hubungan (Coordinating)
d.      Penyelenggaraan komunikasi (Communicating)
e.      Pengembangan atau peningkatan pelaksana (Developping people)[4].
Langkah-langkah penggerakan dakwah dapat diuraikan sebagai berikut:
a.      Pemberian motivasi ( Motivating )
Motivasi diartikan sebagai kemampuan seseorang manajer atau pemimpin dakwah dalam memberikan sebuah kegairahan, kegiatan dan pengertian, sehingga para anggotanya mampu untuk mendukung dan bekerja secara ikhlas untuk mencapai tujuan organisasi sesuai dengan tugas yang dibebankan kepadanya[5]. Menurut Ngalim Purwanto menjelaskan bahwa “motivasi adalah suatu pernyataan yang kompleks didalam suatu organisme yang mengarahkan tingkah laku ke suatu tujuan atau perangsang”[6]. Suatu organisme yang dimotivasi akan melakukan aktifitasnya secara lebih giat dan lebih efisien dibandingkan dengan organisme yang beraktifitas tanpa motifasi. Selain itu, motifasi cenderung mengarahkan kepada suatu tingkah laku tertentu[7]. Dengan demikian, motivasi merupakan dinamisator bagi para elemen dakwah yang secara ikhlas dapat merasakan, bahwa pekerjaan itu adalah kewajiban yang harus dilaksanakan. Dengan kata lain, bahwa motivasi adalah memberikan semangat atau dorongan kepada para pekerja untuk mencapai tujuan bersama dengan cara memenuhi kebutuhan dan harapan mereka serta memberikan sebuah penghargaan (reward). Dengan adanya rasa memiliki (sense of belonging) dan rasa tanggung jawab (sense of responsibility), maka akan menumbuhkan rasa kecewa jika gagal dan merasa bahagia jika tujuannya berhasil. Selanjutnya jika perasaan itu sudah mengakar, maka fungsi motivasi sudah berhasil. Motivasi sebagai suatu yang dirasakan sangat penting, akan tetapi ia juga sulit dirasakan, karena disebabkan oleh beberapa alasan, yaitu :
Ø  Motivasi itu penting ( important subject )
Ø  Motivasi itu sulit ( puzzling subject ),                                                                                          Melihat sisi psikologis manusia yang berbeda-beda, ada beberapa cara untuk membangkitkan semangat kerja dan pengabdian. Diantaranya adalah:
§  Mengikut sertakan dalam proses pengambilan keputusan;
§  Memberikan informasi yang lengkap;
§  Memberikan penghargaan terhadap sumbangan yang telah diberikan.
§  Menciptakan suasana yang kondusif dan menyenangkan;
§  Penempatan yang tepat;
§  Pemberian wewenang.
b.      Pembimbingan ( Directing )
Selain memberikan motivasi untuk melakukan tugas-tugas da’wah, para pelaksana juga perlu dibimbing dan dijuruskan kearah pencapaian sasaran da’wah yang telah ditetapkan. Sebab pimpinan da’wah adalah orang yang dapat melihat medan secara lebih luas dan mengetahui jalan-jalan mana yang harus ditempuh[8].

Pembimbingan yang dilakukan oleh pimpinan terhadap pelaksana dilakukan dengan jalan memberikan perintah atau petunjuk yang bersifat mempengaruhi dan menetapkan arah tindakan mereka. Sebab kepemimpinan dalam da’wah adalah sifat dan ciri tingkah laku pemimpin yang mengandung kemampuan untuk memengaruhi dan mengarahkan daya kemampuan seseorang atau kelompok guna mencapai tujuan da’wah yang telah ditetapkan sehingga terciptalah suatu dinamika dikalangan pengikutnya yang terarah dan bertujuan. Maka atas dasar ini usaha-usaha da’wah akan berjalan dan terealisasikan dengan baik dan efektif bilamana pimpinan da’wah dapat memberikan perintah-perintah yang tepat[9].
Dalam hal pemberian perintah, baik dalam bentuk lisan maupun tertulis, yang perlu diperhatikan adalah maksud dikeluarkannya perintah itu, yang tidak lain adalah dalam rangka pencapaian sasaran dakwah yang telah ditetapkan. Untuk itu beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu :
-         Perintah harus jelas.
-         Perintah itu mungkin dan dapat dikerjakan.
-         Perintah hendaknya diberikan satu persatu.
-         Perintah harus diberikan pada orang yang tepat.
-         Perintah harus diberikan oleh satu tangan[10].tetapi tidak semua sekumpulan orang dapat dikatakan tim, untuk dapat dianggap sebagai tim maka harus memiliki karakteristik sebagai berikut:

c.      Penjalinan hubungan
Organisasi dakwah merupakan sebuah organisasi yang berbentuk sebuah tim atau kelompok. Tim adalah sebagai dua orang atau lebih yang berinteraksi dan saling mempengaruhi arah tujuan bersama. Akan tetapi tidak semua sekumpulan orang dikatakan tim, maka harus memiliki karakteristik sebagai berikut:
·        Ada berbagai kesepakatan terhadap misi tim
·        Semua anggota harus mentaati peraturan tim yang berlaku
·        Ada pembagian tanggung jawab dan wewenang yang adil
·        Orang yang beradaptasi terhadap perubahan[11]
Secara mendasar terdapat beberapa alasan mengapa diperlukan hubungan antar kelompok, yaitu:
o   Keamanan
o   Status
o   Pertalian
o   Kekuasaan
o   Prestasi baik.
Untuk menciptakan sebuah kerja sama yang solid dalam organisasi maka dituntut sebuah kecerdasan dan kerja sama yang baik oleh para pemimpin dakwah.  Dalam hal ini pemimpin dakwah harus dapat memberikan seperangkat tujuan dakwah yang memungkinkan untuk dicapai, juga dapat dijadikan tujuan masa depan.[12]

d.      Penyelenggaraan komunikasi
Dalam proses      kelancaran dakwah komunikasi, yakni suatu proses yang digunakan oleh manusia dalam usaha untuk membagi aksi lewat transmisi pesan simbolis merupakan hal yang sangat penting. Karna tanpa komunikasi yang efektif antara pemimpin dengan pelaksana dakwah, maka pola hubungan dalam sebuah organisasi dakwah akan mandek, sebab komunikasi akan mempengaruhi seluruh sendi organisasi dakwah.
Kinerja komunikasi sangat penting dalam sebuah organisasi termasuk organisasi dakwah. Adapun manfaat dari penyelenggaraan komunikasi sebagai sarana yang efektif dalam sebuah organisasi adalah:
§  Komunikasi dapat menempatkan orang-orang pada tempat yang seharusnya
§  Komunikasi menempatkan orang-orang untuk terlibat dalam organisasi
§  Komunikasi menghasilkan hubungan dan pengertian lebih baik antara atasan dan bawahan
§  Menolong orang-orang untuk mengerti perubahan.[13]
Dalam aktivitas dakwah, komunikasi yang efektif dan efisien dapat dimanfaatkan untuk mempengaruhi tindakan manusia kearah yang diharapkan.
Paling tidak, ada dua alas an mengapa diperlakukan sebuah komunikasi yang efektif para pemimpin dakwah terhadap para anggotanya, yaitu:
-         Komunikasi akan menyediakan sebuah chanel umum dalam proses manajemen
-         Ketrampilan komunikasi yang efektif dapat membuat para pemimpin dakwah menggunakan berbagai ketrampilan serta bakat yang dimilinya.

Menurut Minzeberg ada tiga komponen peran komunikasi dalam manajerial, yaitu:
·        Dalam peran antar pribadi mereka, pemimpin berrtindak sebagai tokoh dari unit organisasi, berinteraksi dengan karyawan, pelanggan, dan rekan sejawat dalam organisasi
·        Dalam peran informal mereka, manajer mencari informasi dari rekan sejawat karyawan dan kontak pribadi yang lain mengenai segala sesuatu yang mungkin mempengaruhi pekerjaan dan tanggungjawab mereka.
·        Dalam peran mengambil keputusan mereka, manajer mengimplentasikan proyek baru, menangani gangguan, dan mengalokasikan sumber daya kepada anggota unit dan manajemen.[14]


[2]. A.Rosyad Salaeh. Management Da’wah Islam. 1977. Jakarta: Bulan Bintang. Hlm. 113

[3] . A. Rosyad Salaeh, op. Cit. hal 112
[4] A. Rosyad Shaleh. Op. cit . hal123
[5] Ek. Mochtar Effendy, Manajemen suatu pendekatan berdasarkan ajaran Islam, 1986  Jakarta: Bhratara Karya Aksara hal 105
[6] Ngalim Purwanto. Psikologi Pendidikan. Hlm 60

[7]. Faizah dan Lalu Muchsin Effendi. Psikologi Da’wah. 2006. Jakarta: Kencana. Hlm. 103.

[8].A. Rasyad Saleh Op. Cit. hlm. 128
[9] Faizah dan Lalu Muchsin Effendi Op. Cit. hlm. 170
[10] .A.Rosyad Shaleh. Op.cit hal: 132-134
[11] M N Nasution, Manajemen mutu terbaru,(Jakarta: galia Indonesia, 2001), hal. 166-167
[12] Yunan yusuf, manajemen dakwah(Jakarta: rahmad semesta,2006), hal. 158
[13] Ron loudlow, Fergus panton, the essence of effective communication; komunikasi efektif, (Yogyakarta: andi, 2000), hal. 4-5
[14] Henny mintzberg, the manager’s job;folklore and fa, (Harvand: bussines reviuw 53, no. 4, juli- agustus 1975)

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © 2015 Baca Online dan Seputar Blog
| Distributed By Gooyaabi Templates