November 02, 2014

Filsafat Pra-Socrates

PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
Orang-orang Yunani sebelum abad ke-6 SM masih mempercayai dongeng-dongeng atau mitos dari nenek moyang mereka. Segala sesuatunya harus diterima sebagai suatu kebenaran dan tidak perlu dibuktikan lagi. Saat itu, logos atau akal tidak berbicara. Segala sesuatunya harus diyakini dengan iman. Kemudian pada abad ke-6 SM muncul para pemikir yang tidak puas dengan dongeng-dongeng tersebut. Mereka menginginkan jawaban yang rasional. Ini merupakan awal kebangkitan pemikiran filsafat Yunani, dimana orang-orang mulai mencari kebenaran dengan menggunakan akal. Pada saat itu, mereka sudah mengenal dan menganut asas demokraso. Kebebasan berpikir yang diterapkan menyuburkan pemikiran filsafat disana. Mereka berpikir secara murni karena senang berpikir. Jadi mereka berpikir bukan dibebani tujuan praktis demi penerapan oleh apa yang ingin mereka ketahui maupun atas perintah raja. Dalam makalah ini, kami akan membahas tentang filsafat pra-Socrates yang bermula dari para filsuf di Miletos.

RUMUSAN MASALAH
1.      Bagaimana perkembangan fisafat pada masa pra-socrates ?

TUJUAN MASALAH
1.      Untuk mengetahui perkembangan filsafat pada masa pra-socrates.

PEMBAHASAN
1.      FILSAFAT PRA SOCRATES
A.    FILSUF FILSUF PEMBAHAS ALAM
Karena tokoh-tokohnya merupakan warga asli Miletos di Asia Kecil, yang merupakan sebuah kota niaga yang maju kadang filsuf filsuf ini dikelompokkan sebagai aliran Miletos. Berikut beberapa tokoh yang termasuk kedalam Aliran Miletos atau dikenal pula dengan istilah Madzhab Milesian:

THALES (624 -546 SM)
Thales dari Miletos termasuk dalam orang yang disebut “tujuh orang bijak”. Thales adalah orang pertama kali menghadapi masalah alam semesta. Thales adalah orang yang pernah berhasil meramalkan gerhana matahari pada tanggal 28 Mei tahun 585  walaupun dia belum menganal gejala fisis dari kejadian ini. Thales meramalkan kejadian ini setahun sebelum gerhana terjadi karena dia memiliki penanggalan-penanggalan dari Babylonia.
Filosifi Thales diajarkan lewat mulut saja, dan dikembangkan oleh murid-muridnya dari mulut ke mulut pula. Barulah Aristoteles menuliskannya kemudian. Menurut keterangan Aristoteles, kesimpulan ajaran Thales adalah air.
Berikut adalah ajarannya :
1.      Segala sesuatu berasal dari air dan semuanya kembali lagi menjadi air.
Menurut Aristoteles, penemuan Thales  didasarkan pada kenyataan bahwa air dapat diamati dalam bentuknya yang bermacam-macam. Air tampak seperti benda halus (uap), benda cair (air), dan benda keras (es). Ia berpendapat seperti itu karena semua bahan makanan makhluk memiliki zat lembab dan terdapat juga dengan benih pada semua makhluk  hidup.
2.      Bumi terletak diatas air.
Hal ini berhubungan dengan ajaran yang pertama. Di pantai Miletos, air tampak sebagai lautan yang luas. Kemudian dia berpikir bahwa bumi adalah benda yang keluar dari laut dan sekarang sedang terapung-apung diatasnya.
3.      Jagat raya mempunyai jiwa (hylezoisme)[1]
Aristoteles memberitahukan pendapat Thales yang lain yaitu “kesemuanya penuh dengan allah-allah”. Dari perkataan itu, menurut Aristoteles adalah bahwa jagat raya mempunyai jiwa. [2]
Dari ajaran Thales ini, belum jelas kesimpulan-kesimpulan mana yang memiliki kepastian untuk digabungkan dengan teori di kemudian hari. Pandangan pada filsuf petama ini belum jelas. Namun, Thales membuktikan bahwa sudah ada yang berfikir menghadapi masalah-masalah dengan menggunakan akal yang rasional.

ANAXIMANDROS (610 – 546 SM)
Anaximandros dikenal lebih besar dari Thales, gurunya. Ia lebih muda lima belas tahun dari Thales namun lebih dulu meninggal. Dia juga mencari prinsip terakhir yang dapat memberikan pengertian mengenai kejadia alam semesta. Berbeda dengan Thales, dia memilih unsur yang tidak dapat dilihat oleh pancaindera.
Berikut adalah ajarannya :
1.      Asas pertama adalah to apeiron
Asas to apeiron (yang tak terbatas) disebut demikian karena tidak memiliki sifat-sifat benda yang dikenal manusia. Seandainya air adalah asas pertama dari segala sesuatu, air harus bisa didapatkan dimana-mana dan juga dapat meresapi api yang merupakan lawan dari air. Barang yang dapat ditentukan oleh pancaindera kita adalah barang yang mempunyai akhir. Segala yang tampak, dibatasi oleh lawannya. Seperti panas dibatasi  yang dingin, terang dibatasi oleh  gelap, cair dibatasi oleh beku, dan lain-lain.[3] Unsur-unsur ini seimbang dan tidak bisa menjadi dominan. Jadi, ada satu hukum yang menguasai unsur-unsur dunia.
Terjadinya dunia menurut Anaximandros terjadi setelah penceraian berikut. Hal itu menyebabkan adanya gerak puting beliung yang memisahkan dingin dari panas. Yang panas membalut yang dingin, sehingga membentuk sebuah bola raksasa. Karena panas itu, air lepas dari tanah dan menjadi kabut. Udara menekan bola itu hingga meletus menjadi sejumlah lingkaran yang berpusat di satu titik. Tiap lingkaran terdiri dari api yang dibalut udara yang memiliki lubang sehingga api yang ada didalam lingkaran itu terlihat seperti bintang, bulan, dan matahari.

2.    Menurut Anaximandros, bumi terletak di pusat jagat raya dan bukan di atas air. Digambarkan langit itu bulat seperti bola dan bumi terkandung ditengah-tengahnya. Bumi berbentuk silinder yang lebarnya tiga kali lebih besar dari tingginya. Bumi tidak jatuh karena kedudukannya berada di pusat jagat raya dengan jarak yang sama terhadap semua badan lain. Akibatnya, tidak ada alasan yang menyebabkan dia jatuh.       

3.    Semua makhluk hidup berasal dari air.Bentuk hidup yang pertama adalah ikan. Saat tanah menjadi semakin kering, maka makhluk hidup mulai berkembang di atas bumi. Dan dia beranggapan bahwa manusia-manusia yang pertama, tumbuh di dalam tubuh ikan. Dasar dari anggapan ini adalah observasinya pada ikan hiu yang melindungi anaknya di dalam badannya dan ketika manusia mampu menjadi mandiri, manusia tersebut dilemparkannya ke daratan.

Dari ajaran-ajaran ini, dapat diketahui bahwa Anaximandros memiliki daya pikir dan membuka jalan baru untuk mengerti dunia yang sangat mempengaruhi sejarah filsafat selanjutnya. Misalnya, ajaran tentangunsur yang berlawanan dan pendapat yang didasarkan pada observasi.

ANAXIMENES (585 – 528 SM)
Anaximenes lahir lebih muda daripada Anaximandros. Dan dia tidak dapat menerima pendapat Anaximandros. Dia berpendapat bahwa seperti jiwa menjamin kesatuan tubuh kita, demikianpun udara melengkapi segala-galanya.

Berikut adalah ajarannya :
1.    Asal-usul segala sesuatu adalah udara atau hawa.[4] Pemikiran ini muncul dari pandangannya terhadap udara. Karena udara meliputi seluruh jagat raya dan manusia akan mati jika tidak ada udara. Udara melahirkan semua benda dalam alam semesta karena suatu proses. Jika udara bertambah kepadatannya, maka akan muncul secara urut angin, air, tanah, dan batu. Namun jika bertambah encer, maka akan muncul api.
2.    Bumi bagaikan meja bundar yang melayang di udara. Demikian pula matahari dan bintang-bintang. Jadi, badan jagat raya itu tidak terbenam dibawah bumi seperti yang dipikirkan Anaximandros namun mengelili bumi yang datar tersebut. Hal ini yang menyebabkan matahari lenyap pada waktu malam karena tertutup oleh bagian-bagian yang tinggi.

Pandangan Anaximenes mengalami kemrosotan dibandingkan dengan Anaximandros tentang susunan jagat raya karena lebih bersifat spekulatif. Tetapi ada yang mengatakan ajaran ini mengalami kemajuan karena proses pemadatan dan pengenceran yang dikemukakan Anaximenes adalah pertama kalinya suatu hukum fisis diterapkan dalam alam semesta.

B.     FILSUF FILSUF PEMBAHAS ILMU PASTI DAN METAFISIKA
PYTHAGORAS ( 570 – 490 SM)
Pythagoras mendirikan suatu tarekat beragama.Dia tidak menulis apapun karena dia mengajarkan secara lisan dan rahasia. Ada dua hal yang berpengaruh besar yaitu : suatu ajaran rahasia dengan suatu kepercayaan bahwa jiwa tidak dapat mati dan usaha mempelajari ilmu pasti.

Berikut adalah ajarannya :
1.      Jiwa tidak dapat mati.
Menurut pendapat pythagoras, sesudah kematian manusia jiwanya berpindah ke bentuk hewan. Dan jika hewan itu mati lagi maka berpindah ke bentuk manusia dan begitu seterusnya.Namun, penyucian diri dengan berpantang memakan daging hewan dan kacang dapat terhindar dari nasib perpindahan jiwa itu.
2.      Jiwa adalah penjelmaan dari Tuhan yang jatuh ke dunia karena berdosa, dan akan kembali ke langit apabila sudah dicuci dosanya. Adapun cara menyucikan jiwa dari dosa tersebut adalah dengan hidup murni, tetapi hidup murni itu harus dilakukan secara berangsur-angsur.[5] Menurutnya hidup di dunia ini adalah persediaan untuk hidup di akhirat. Oleh sebab itu semua dari sini dikerjakan untuk hidup di hari kemudian.
3.      Alam ini menurutnya tersusun sebagai angka-angka dimana ada matematika, ada susunan dan ada kesejahteraan. Tetapi tidak di alam saja berkuasa matematika, ia juga berkuasa dalam segala barang. Dengan jalan ini Pytagoras sampai kepada pokok ajarannya yang menyatakan bahwa “segala barang adalah angka-angka.”

Dari sini dapat dilihat kecakapan dia dalam matematik mempengaruhi terhadap pemikiran filsafatnya, sehingga pada segala keadaan ia melihat dari angka-angka dan segala keadaan merupakan paduan dari unsur angka. Angka adalah asal dari segalanya dan segala macam perhubungan dapat dilihat dari angka-angka.

HERAKLEITOS (535 – 475 SM )
1.      Herakleitos mempercayai bahwa asas yang pertama dari alam semesta adalah api. Api dianggapnya sebagai lambang perubahan dan kesatuan. Api mempunyai sifat memusnahkan segala yang ada, dan mengubahnya sesuatu itu menjadi abu atau asap. Walaupun sesuatu itu apabila dibakar menjadi abu atau asap, adanya api tetap ada. Segala sesuatunya berasal dari api, dan akan kembali ke api.
2.      Menurut pendapatnya, di dalam tiap unsur terkandung sesuatu yang hidup (seperti roh) yang disebutnya sebagai logos (akal atau semacam wahyu). Logos inilah yang menguasai dan sekaligus mengendalikaan keberadaan segala sesuatu. Hidup manusia akan selamat apabila sesuai dengan logos.
3.      Menurutnya, segala sesuatu yang ada di dalam alam semesta itu mengalir atau berubah-ubah. Tidak ada suatupun yang tinggal mantap tanpa mengalami perubahan.[6]

PARMENIDES (abad ke-5 SM)
Parmenides lahir di Elea sekitar tahun 515. Tahun ini dapat ditentukan dari keterangan Plato yang menceritakan bahwa Parmenides pada usia 65 tahun bersama dengan muridnya berkunjung ke Athene bercakap-cakap dengan Sokrates. Dia mengarang filsafatnya dalam bentuk puisi.

1.      Parmenides bersama muridnya yaitu Zeno dan Ela mengubah fokus perhatian filsafat tertuju pada teknik argumentasi sebagai pokok pendiriannya, disebutnya bahwa ada kebenaran yang sepenuh-penuhnya. Parmenides membulatkan keterangannya dengan semboyannya yang pendek yaitu: “Hanya yang ada itu ada, dan yang tiada itu tiada.” Bahwa kebenaran terdapat pada pengakuan bahwa yang ada itu ada. Ia memandang bahwa semuanya itu satu dan tetap. Ajaran Parmenides yang pokok kepada yang satu dan tetap bertentangan dengan ajaran Heraklitos.

C.     FILSUF FIlSUF ELEA
Filosofi Elea mengajarkan bahwa unsur dari semua unsur adalah satu. Penganut filosofi ini adalah Xenophanes, Zeno dan Parmenides. Namun disini, Parmenides seperti yang tertulis diatas masuk dalam kategori filsuf yang membahas metafisika.

XENOPHANES (580 – 470 SM)
Nama Xenophanes menjadi masyhur, karena untuk pertama kali dalam sejarah Yunani, dialah yang mensianyalir konflik yang sedang berlangsung antara pemikiran filsafat dan tanggapan-tanggapan mitologis tradisional.
1.     Xenophanes menegaskan bahwa Tuhan bersifat kekal dan tidak memiliki permulaan.
Hal itu karena kenyataan menunjukkan apabila semua orang memberikan konsep ketuhanan sesuai dengan masing-masing orang, maka hasilnya akan bertentangan dan kabur. Pendapat ini disimpulkan dari kritiknya yang membantah antropomorfisme allah allah yang artinya tanggapan seakan Tuhan berupa manusia. Ia mengatakan bahwa manusia selalu cenderung berpikir bahwa allah allah dilahirkan. Bahkan “kuda menggambarkan Tuhan menurut konsep kuda, sapi demikian juga” kata Xenophanes.

ZENO (sekitar akhir abad ke-5)
Zeno adalah murid setia dan murid terpintar dari Parmenides. Dia membela gurunya dalam perbedaan pendapat tentang gerak dan perubahan dengan Herakleitos.
1.      Argumentasi melawan gerak
Untuk membuktikan bahwa gerak tidaklah mungkin, dia mengemukakan argumen, contohnya adalah Akhiless dan kura-kura. Akhiless adalah jago lari dalam mitologi Yunani dan dia dalam larinya tidak dapat melewati kura-kura. Karena kura-kura lebiih dulu berjalan didepan Akhiless, maka Akhiless harus mencapai titik dimana kura-kura berada sesaat dia berangkat. Setibanya disitu, kura-kura sudah lebih jauh lagi dan seterusnya. Hal ini menjadikan jarak kura-kura dan Akhiless selalu berkurang, namun tak pernah habis.
2.      Argumentasi melawan pluralitas
Dimisalkan suatu potongan garis memiliki titik-titik, maka potongan garis itu dapat dibagi-bagi. Karena tiap bagian setidaknya memiliki dua titik, maka pembagian dapat diteruskan sampai tak terhingga. Timbul pertanyaan kalau titik-titik ini memiliki panjang atau tidak. Jika punya, dapat disimpulkan bahwa potongan garis itu tak berhingga panjangnya. Jika tidak, dapat disimpulkan bahwa panjang garis sama dengan nol. Kedua kesimpulan ini sama mustahilnya karena suatu garis memiliki panjang yang berhingga. Dengan keadaan ini, suatu benda tidak terdiri dari banyak unsur. Atau kata lain, pluralitas tidak mungkin.
3.      Argumentasi melawan ruang kosong
Andaikan ruang kosong itu ada, ruang itu pasti berada di tempat atau ruang lain yang harus ditempatkan pada ruang lain lagi sampai tak terhingga. Menurutnya itu mustahil, dan dapat disimpulkan bahwa ruang kosong tidak ada.

D.    FILSUF FILSUF PLURALIS
Filsafat Thales, Anaximandros dan Anaximenes dapat dikategorikan sebagai filsafat monisme. Monisme adalah pandangan filsafat yang mengandaikan prinsip alam semesta ke dalam satu unsur saja. Namun, para filsuf pluralis berkeyakinan bahwa unsur alam semesta bukan satu, melainkan banyak.

EMPEDOKLES (490-430  SM)
Lahir di Akragas Sisislia awal abad ke-5 SM. ia menulis buah pikirannya dalam bentuk puisi.
1.      Ia mengajarkan bahwa alam ini pada mulanya satu yaitu disatukan oleh cinta. Cinta merupakan kodrat yang membawa bersatu dan bercampur. Tetapi alam yang satu tadi dipecah oleh benci yang mana benci membalikan semua keadaan tersebut sehingga semua terpisah-pisah dan tidak ada yang bercampur lagi. Dalam keadaan yang dikuasai oleh benci tersebut barang satu-satunya pun tidak ada, yang ada hanyalah unsur yang empat yang tidak bercampur sedikitpun juga.
2.      Menurutnya ada empat unsur yang terdapat dalam alam semesta, yaitu : tanah, api, udara dan air. Dia menyebut unsur tersebut “akar-akar”. Setiap benda berasal dari kombinasi keempat unsur tersebut. Komposisi unsur tersebut menghasilkan benda yang berbeda-beda. Misalnya, benda hidup memiliki lebih banyak unsur lain dari pada benda mati.

ANAXAGORAS (500-428 SM)
Lahir di Ionia di Italia Selatan. Ia berpendapat bahwa realitas seluruhnya bukan satu tetapi banyak. Yang banyak itu tidak dijadikan, tidak berubah, dan tidak berada dalam satu ruang yang kosong. Anaxagoras menyebut yang banyak itu dengan spermata (benih).
1.      Dia tidak setuju dengan pendapat Empedokles dengan hanya mengemukakan empat unsur. Menurutnya, unsur-unsur itu jumlahnya tak terhingga dan masing-masing unsur bercampur baur dengan unsur  yang lain. Alam semesta terbentuk karena pencampuran semua unsur tersebut. Terbentuknya benda baru disebabkan oleh pemisahan unsur tertentu dari pencampuran unsur sebelumnya.

E.     FILSUF FILSUF ATOMIS
Pelopor atomisme ada dua yaitu Leukippos dan Demokritos. Ajaran aliran filsafat ini ikut berusaha memecahkan masalah yang pernah diajukan oleh aliran Elea. Aliran ini mengajukan konsep mereka dengan menyatakan bahwa realitas seluruhnya bukan satu melainkan terdiri dari banyak unsur. Dalam hal ini berbeda dengan aliran pluralisme maka aliran atomisme berpendapat bahwa yang banyak itu adalah “atom” (a = tidak, tomos = terbagi).

LEUKIPPOS ( pertengahan abad ke-5 SM)
1.      Menurut pendapatnya tiap benda terdiri dari atom. Yang dipakai sebagai dasar teorinya tentang atom ialah yang penuh dan kosong. Atom dinamainya yang penuh sebagai benda betapapun kecilnya dan bertubuh. Dan setiap yang bertubuh mengisi lapangan yang kosong. Jadi di sebelah yang penuh dan yang kosong itulah kejadian alam ini. Keduandan yang penuh dan yang kosong mesti ada sebab kalau tak ada yang kosong atom itu tidak dapat bergerak.
2.      Dia menyatakan tidak mungkin ada penciptaan dan pemusnahan mutlak, akan tetapi ia tidak ingin menolak kenyataan banyak, bergerak, lahir ke dunia dan menghilang yang tampak pada segala sesuatu. Banyak, gerak, lahir dan hilang tidak mungkin kita paham tanpa adanya tidak ada (non-being), dalam hal ini ia selendapat dengan Parmenides, namun ia menambahka bahwa tidak ada (non-being) mempunyai arti pula sebagaimana ada (being). Being berarti pemenuhan ruang, berarti pula penuh, non-being berarti kekosongan.

DEMOKRITOS ( 460 – 370 SM )
Demokritos mencetuskan bahwa atom itu tidak bermula dan tidak berakhir yang jumlahnya sangat banyak dan merupakan benda yang bertubuh meskipun tidak dapat dilihat.

1.      Sependapat dengan Leukippos bahwa alam ini terdiri dari atom-atom yang bergerak-gerak tanpa akhir, dan jumlahnya sangat banyak. Dan ia sependapat dengan Heraklitos, bahwa unsur pertama adalah api. Api terdiri dari atom yang sangat halus, licin dan bulat. Atom apilah yang menjadi dasar dalam segala yang hidup. Atom api adalah jiwa.
2.      Jiwa itu tersebar keseluruh badan kita, yang menyebabkan badan kita bergerak. Waktu bernafas kita tolak ia keluar. Kita hidup hanya selama kita bernafas. Demikianlah Demokratis menjadikan atom sebagai asas hidup penglihatan, perasaan dan pendengaran, semuanya timbul dari gerak atom.
3.      Di antara atom tersebut terdapat lapang yang kosong, tempat atom bergerak. Untuk menyatakan bahwa ada lapang yang kosong, ia mengemukakan empat fase, yaitu:
i.                    Penggerak berkehendak akan lapang yang kosong.
ii.                  Sesuatu barang bisa jadi kembang atau pandai jika ada lapang yang kosong.
iii.                Hidup dari kecil menjadi besar disebabkan karena makanan dapat masuk ke dalam lapang yang kosong di dalam badan.
iv.                Jika dimasukan abu ke dalam sebuah gelas yang berisi air maka melimpahkan sebagian dari pada air tersebut.








PENUTUP
KESIMPULAN
Para filosof pada masa pra Socrates di antaranya adalah Thales, Anaximandros, Anaximenes, Pythagoras, Heraklitos, Parmenides, Leukippos dan Demokratis merupakan filosof yang tidak mempercayai cerita-cerita tentang keadaan alam begitu saja tanpa mempersoalkannya lebih jauh. Mereka tidak sama dengan kebanyakan orang pada saat itu yang hanya menerima begitu saja keadaan alam seperti apa yang ditangkap oleh inderanya dan cukup puas walau hanya menerima keterangan tentang kejadian alam dari cerita nenek moyang atau legenda pada saat itu.
Thales merupakan salah satu dari filosuf alam yang memiliki pemikiran bahwa “Semuanya itu air”, dari pemikiran yang diungkapannya itu tersimpul dengan sengaja atau tidak. Suatu pandangan yang dalam, yaitu bahwa “Semuanya itu satu”. Selain itu, Anaximandros salah satu dari murid Thales juga mengungkapkan pemikirannya yang ia dapat bahwa prinsip dasar alam memang satu, akan tetapi bukanlah dari jenis benda alam seperti air sebagaimana yang dikatakan oleh gurunya. Prinsip dasar haruslah dari jenis yang tak terhitung dan tak terbatas yang oleh dia disebut apeiron.
Meskipun mereka berdua seorang filosuf dan memiliki hubungan yaitu guru dengan murid namun dalam segi pemikiran mereka berbeda. Para filosuf tidak begitu saja mempercayai pemikiran atau cerita, meskipun orang terdekat mereka yang mengemukakan, apalagi itu tentang keadaan alam. Mereka lebih berusaha untuk mendapatkan keterangan tentang inti dasar alam itu sendiri dari daya pikirnya sendiri. Seperti Thales dan Anaximandros begitu juga dengan filosuf lainnya. Maka mereka pantas mendapat sebutan sebagai pemikir yang radikal, karena pemikiran mereka begitu mendalam hingga ke akar-akarnya.

SARAN
Dengan adanya makalah ini, penulis berharap agar dapat memenuhi tugas mata kuliah Pengantar Filsafat dengan baik. Makalah ini disusun agar para pembaca dapat mengetahui perkembangan filsafat pada masa Pra-Socrates.
Disarankan agar pembaca dapat mencari tahu lebih lanjut dari sumber-sumber yang ada agar tidak terjadi kesalahpahaman. Demikianlah makalah ini kami buat semoga bermanfaat bagi kita semua. Kami mengucapkan mohon maaf atas kekurangan kami dan kami mohon kepada pembaca untuk membenarkannya.

DAFTAR PUSTAKA

Abidin, Zainal. (2012). Pengantar Filsafat Barat, Jakarta : Rajawali Press
Bertens, Kees. (1975). Sejarah Filsafat Yunani, Yogyakarta : Kanisius
Hadiwijoyo, Harun. (1996). Sari Sejarah Filsafat Barat 1, Yogyakarta : Kanisius
Hatta, Mohammad. (1986). Alam Pikiran Yunani, Jakarta : Universitas Indonesia (UI-Press)
Russell, Bertrand. (2002). Sejarah Filsafat Barat, Yogyakarta : Pustaka Pelajar



[1] Artinya : teori mengenai materi yang hidup
[2] Kees Bertens, Sejarah Filsafat Yunani,( Yogyakarta: Kanisius), hlm.26.
[3] Dikenal istilah penceraian.
[4] “Udara” pada masa ini meliputi udara, kabut dan uap pada masa modern. Karena pada masa itu orang Yunani belum membedakan udara dari uap. Pembedaan itu baru muncul saat Empedokles mengemukakan bahwa udara merupakan unsur yang berbeda dari uap.
[5] Hidup murni yang dimaksudkan adalah berbuat kebaikan dan menghindari keburukan serta berpantang pada makanan tertentu seperti daging hewan dan kacang.
[6]Bertrand Russell, Sejarah Filsafat Barat, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar), hlm.90.

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © 2015 Baca Online dan Seputar Blog
| Distributed By Gooyaabi Templates