December 24, 2015

Can You See Me part 1

CLARISA
Waktu istirahat masih tersisa 20 menit sebelum mereka mengikuti pelajaran berikutnya. Ruang kelas hampir tidak berpenghuni ketika Risa masuk ke dalam kelas. Kebanyakan dari teman sekelasnya sedang makan siang di kantin atau berganti pakaian.
“fiuh... Hari yang melelahkan,” pikir Risa sambil memasukkan baju olahraga ke dalam tasnya. Ia menarik kursinya dan duduk sambil menghela napas muram. Tetes-tetes keringat membasahi kening dan lehernya. “setelah ini masih ada 2 jam matematika,” gumamnya ketika tiga orang sahabatnya mendatanginya satu persatu.
“udaranya panas sekali, aku gak yakin bisa konsen waktu pelajaran matematika nanti,” kata
Jennifer. Ia didampingi Jessica yang sedang meneguk sisa air dari botol minumannya.
“Maunya sih gitu tapi liat deh tampang males2an,” keluh jessica,
“gak bakalan bisa deh. Bu Ida punya tatapan mata ke segala jurusan, paling2 disuruh maju
ngerjain soal di papan.”
Jessica dan Jennifer adalah satu2nya anak kembar di kelas dan di sekolah mereka. Sejak kecil
mereka selalu bersekolah di tempat yang sama, kepandaian mereka hanya beda tipis. Teman2
sekolah memanggil mereka dengan sebutan Jessy dan jenny. Benar2 kembar identik, tidak ada yang bisa membedakan mereka bila dilihat dari bentuk wajah atau fisik.
Hanya saja jessica menderita lemah jantung sejak kecil, Jennifer sebagai orang paling dekat dengannya selalu siap menjaga adik kesayangannya itu. Mungkin karena alasan inilah, Jessica mempunyai sikap kekanak-kanakan dibandingkan dengan jennifer. Pda dasarnya si kembar sangat periang dan teman yang menyenangkan bagi Risa.
“Ngobrol yang lain aja knapa,” celetuk Bobby yang ikutan nimrung diantara si kembar. Cowok satu ini kelihatan lelah sehabis berolahraga, rambutnya setengah basa oleh keringat, tapi ekspresi wajahnya sangat puas. “Gimana kalo ntar pulang sekolah kita jalan2 sambil makan es trus foto barengdi photobox?” tanyanya antusias.
“Hm..,” pikir Risa serius, “oke2 aja. Tapi muka udah luntur gini masa mau foto segala.”
“Lagian tasnya berat nih, males bawanya,” tambah Jessy, melongok sepintas ke mejanya di sebrang dimana tasnya menggembang diluar kendali.
“Adik2 yang manis...,” kata Bobby dengan sabar ketika menempati bangkunya sendiri yang terletak di sebelah kiri Risa,” “mau foto gak foto itu urusan nanti. Masalah tas nanti bisa dititipin di mobilku, hari ini gak bawa motor, jadi bawa dompet aja. Ntar pulangnya kuantar deh, toh kalian bertetangga Cuma beda satu blok.”
Ketiga cewek itu tampak menimbang sebentar kemudian saling pandang setuju.
“Ok sepakat!!!” seru Jenny. "wahh harus beritahu nyokap dulu nih biar ntar gak perlu jemput,” tambahnya seraya buru2 mengambil HP dari dalam tasnya.
Siang itu berjalan begitu lambat. Suasana kelas hening, yang terdengar hanyalah bunyi goresan kapur di papan tulis. Teman2 sekelasnya mengerjakan latihan soal dalam diam. Risa berkali2 memaksa diri untuk mengerjakan soal2 latihan dibukunya namun hanya berputar2 disatu soal. Ia menengadahkan kepalanya, menatap langit di luar jendela. Di kejauhan terdengar suara serangga yang mengeluarkan dengung berisik setiap menjelang akhir musim kemarau. Begitu tertatap olehnya pandangan Bu Ida yang tanpa ekspresi ke arahnya, ia menunduk dan pura2 melanjutkan hitungannya.
Betapa herannya Risa akan kenyataan bahwa sudah 3 kali dalam semester ini Bobby duduk
semeja dengannya, mengingat pergantian tempat duduk diundi oleh pengurus kelas setiap satu bulan. Di sampingnya, Bobby rupanya berusaha entah menghibur atau usil atau mengatasi rasa jenuhnya sendiri dengan menanyakan perkalian setingkat anak SD kepada Risa sambil mengerjakan soal hitungan rumit diburam. Risa menjawab jemu dan asal saja sampai suatu ketika ia salah menjawab 8X7=63.
“56 tau, HADUHH!!” desisnya.
“Nah kalo udah tau ngapain nanya?!” balas Risa dalam desis agak jengkel, mau tak mau
menahan tawa. Untung saja meja mereka terletak paling belakang. Andi yang berjarak satu bangku dari tempat duduk Risa menoleh sepintas kearah mereka berdua dan terkekeh. Lalu dalam sekejap tampak mnguasai diri dan kembali ke posisi duduknya yang biasa, menyandarkan tubuhnya pada kursi dan meluruskan kakinya, tangannya tampak sibuk menghitung. Sejenak Bobby dan Risa saling pandang tak mengerti tapi keduanya tersadar oleh bunyi kapur patah didepan dan buru2 menyelesaikan tugasnya.
Bobby dulunya juara kelas walaupun prestasinya sekarang tidak sebagus dulu. Tidak heran ia
tampak santai di kelas karena otaknya luar biasa sigap. Diam2 Risa iri sekaligus kagum akan
kepandaian Bobby tapi entah kenapadan bagaimana mereka selalu tertawa riang gembira saat
bersama. Baginya Bobby sangat menyenangkan, setia kawan dan menyebalkan. Sebagian sampul belakangnya dipenuhi tanda tangan Bobby. Salah satunya robek sebagian gara2 aksi tarik menarik dalam usahanya menolak kebiasaan aneh Bobby. Bobby berkelit bahwa jika dia sudah terkenal tanda tangannya jadi langka.
Belum lagi setiap menjelang pulang sekolah, tanpa terasa alat tulisnya berpindah tangan ke kotak pensil Bobby. Hal ini membuatnya tetap di kelas saat usai sekolah dan meminta bantuan si kembar mengambilkan sisa pena yang tak berhasil direbut. Risa dengan bijaksana tidak membawa pensil hari berikutnya dan hanya meletakkan sebuah pena , pensil dan penghapus di meja sesuai keperluan.
Jessy dan Jenny memang menyenangkan tapi dalam hal bercanda Bobby bisa membuatnya
tertawa seharian. Hari2nya di sekolah yang membuat stress berat dapat dilupakan berkat
kehadiran ketiga sahabatnya. Pelajaran yang berlangsung dalam diam dan menguras pikiran ini membuat waktu berlalu terasa lebih lambat dari sebenarnya. Risa berkali2 melirik jam tangan Bobby, berharap bel bisa berdering sebentar lagi dan kecewa karena ia baru melewatkan lima menit dari saat terakhir kali melihatnya. Setelah beberapa menit berlalu yang sudah serasa seharian, Risa melirik jam tangan Bobby dan lega mengetahui 15 menit lagi mereka akan pulang.
“kenapa? Naksir jamku ya?” ledek Bobby, rupanya dari tadi memperhatikan Risa yang terus
menerus memandang jamnya.
“Bilang aja kalo kpengen.”
“ye.. jam kayak punya bapak2 gitu. Gak minat!”
Kata Risa mencibir. Bobby tidak membalasnya, agak malu, padahal Risa setengah bercanda. Ia sadar kalo jamnya memang biasa dipakai orang dewasa. Bobby memang mempunyai penampilan seperti orang dewasa, mungkin dia ingin kelihatan lebih berwibawa, pikir Risa.
Bobby sudah selesai mengerjakan latihannya, menutup bukunya, duduk santai sambil memainkan pulpennya seraya melihat teman2nya. Rupanya Bobby merupakan anak pertama dalam kelas itu yang sudah selesai. Kesal karena tadi kalah bicara dengan Risa, Bobby berpura2 menawarkan pekerjaannya yang sudah selesai supaya Risa bisa menyalinnya.
“masih kurang 4 nomer ya? Ck ck ck,” katanya menyebalkan sambil mengintip buku tugas Risa.
“Seperti biasa lemot.”
“sebenarany maumu apa sih?” tanya Risa tidak sabar tanpa memalingkan muka.
“nggaakk. Ngakpapa,” jawabnya enteng. Sekarang ia mengetuk2an pulpennya ke buku latihannya yang tertutup, supaya Risa bisa melihat ia telah selesai mengerjakan.
“sudah selesai ya. Lihat dong,” pinta Risa bermanis2.
“boleh, nih,” kata Bobby cepat lalu membuka bukunya dan menggesernya kearah Risa. Ketika Risa baru sebentar melihatnya, Bobby buru2 menariknya kembali ke mejanya. “eiiiitss.”
“eeeeh...,” kata Risa protes. “Dasar penipu!”
“apa?? Kamu bilang apa?” kata Bobby berpura2 tidak mendengar sambil mendekatkan telinganya kearah Risa.
“Bobby!” kata suara tegas Bu Ida memecah keheningan, Bobby langsung menegakkan
duduknya. “kerjakan nomor 68 di papan!.”
Risa memandang Bobby dengan senyum kemenangan. Bobby menatapnya sekilas seakan
berkata ‘pertempuran belum berakhir’, berdiri sambi membawa bukunya.
“oya, kalo bisa tanpa buku ya,” tambah Bu Ida,membuat Bobby berbali dan meletakkan
bukunya.
“rasain!” gumam Risa sambil menatap Bobby maju ke papan tulis.
Bel berbunyi tepat setelah Bobby selesai mengerjakan soal di papan tulis. Ia kembali ke
bangkunya seraya menyipitkan mata memandang Risa. Risa tidak menunjukkan tanda2
menghiraukannya. Semua murid berbenah, memasukkan buku2 mereka ke dalam tas masing2.
“Lho?! Pulpenku kurang satu,” tanya Bobby sambil memeriksa kotak pensilnya.
“Nih, trims,” kata Risa seraya menyodorkan pulpen warna hita kepada Bobby. Bobby mengambilnya dengan kasar, memandangnya sengit.
“Enak aja ngambil2 barang orang,” sahut Bobby pedas.
“Eh! Maling teriak maling,” balas Risa panas. “Aku tadi kan udah bilang pinjem, isi pulpenku udah habis. Pikun ya. Gara2 siapa hayo aku Cuma bawa satu pulpen tiap hari.”
“sapa suruh,” balas Bobby menjengkelkan namunagak merasa bersalah. Risa capek meladeninya sehingga ia diam saja.
Setelah berdoa dan memberi hormat, murid2 bergegas keluar dari ruangan, Jenny dan Jessy tetap tinggal di kelas. Mereka mendatangi meja Risa dan Bobby yang duduk dibangku masing-masing.
“untung sekali kita mau pergi, pelajaran ini bikin stress orang,” keluh Jessy seraya meletakkan tasnya yang berat di atas meja disertai bunyi ‘duk’.
“payah, uangku hampir habis. Tadi buat makan di kantin. Kalau tau bakal jalan2, aku pasti bawa uang lebih.” Ucap Jenny lesu, ikut meletakkan tasnya disebelah tas kembarannya lalu duduk dikursi terdekat.
“pinjem uangku aja kalo kurag,” sahut Risa memberi solusi sambil duduk berayun2 kedepan dan kebelakang pada kursinya, sedikit menambah semangat temannya. Diam2 ia teringat kursi goyang nenek dimana ia suka sekali duduk disana ketika mengunjungi neneknya.
“bener?? Wah trims ya. Kau paling baiiik sedunia,” seru Jenny berapi2 memberi pujian selangit. Risa hanya tersenyum.
“baru tau ya,” sindir Risa bergurau.
“jangan bilang gitu. Ntar kepalanya jadi besar kayak semangka,” kata Bobby memulai. Ia
mengayun kursi Risa mendadak kebelakang kuat2, bermaksud mengagetkan Risa.
“BOBBY! Yang bener dong!” kata Risa marah karena kaget setengah mati. Kedua tangannya
memegang pinggiran meja erat2, kakinya menjejak lantai. Jangtungnya dag dig dug tak karuan.
“sorry. Kalo Jenny yang minta dikasih pinjam kenapa aku enggak” tanya Bobby protes.
“heh?! Memangnya kamu butuh uang? Perasaan kok nggak pernag denger ya” sahut Risa ketus, masih marah..
“Lagipula Jenny gak minta kok.”
Si kembar berpandangan, mengangkat bahu. Rupanya sudah terbiasa dengan perdebatan
semacam ini.
“Dasar pilih kasih,” kata Bobby mencibir.
“Iya iya. Ampun. Gitu aja kok marah,” kata bobby seraya menyikut lengan Risa. Risa
memandangnya sewot.
“Jangan lupa ya, bayar bunganya juga,” tambah Risa jengkel.
“bunga?” tanya Bobby heran, pura2 tidak paham .
“kenapa nggak bilang dari dulu. Bilang aja, mau bunga apa? Flamboyan, bakung, sepatu, mawar, kamboja atau anggrek atau...”
Risa memukul dahinya sendiri dengan telapak tangan tanda menyerah seraya menghela nafas
lelah.
“Kalian ini mau ngobrol sampai kapan?” tanya Jenny yang sedari tadi bersabar melihat mereka bertengkar mulut. Sekarang risa memandangnya galak seolah berkata ‘bukan mauku’ sambil melirik kearah Bobby.
Bobby menghentikan ocehannya, merasa bersalah, lalu cepat2 mengambil tindakan.
“ayo deh, pergi sekarang,” katanya singkat sambil berdiri dari kursinya, membawa tasnya, diikuti oleh ketiga temannya.
“tapi aku mau-mau aja lho dikasih bunga krisan,” kata Jessy riang gembira ketika mereka baru saja meninggalkan kelas, tidak menyadari percakapa sudah berakhir. Bobby, Jenny dan Risa menghentikan langkah lalu berpaling memandangnya, membuat perasaannya tidak enak. “eh, anggap saja aku gak pernah bilang.”
*
“Pesan nasi goreng 2 porsi, gado2 1 porsi, nasi soto 1 porsi dan em.. minumnya 2 es teh dan 2 air putih,” sahut Bobby ke ibu pmilik toko dengan lantang.
“akhirya selesai juga belanjanya,” kata Risa yang kelihatan lelah tapi puas sambil mengamati si kembar yang sedang membandingkan jepit dan ikat rambut yang baru mereka beli.
Mereka memilih tempat duduk ditepi sambil memandang lalu lintas ke luar kaca jendela. Depot ini salah satu favorit mereka, letaknya disebelah Mall yang baru saja mereka kunjungi,
masakannya tiada duanya dan harganya gak selangit. Bungkusan hasil belanja tergeletak
menggerombol dimeja kosong sebelah mereka. Bobby tidak membeli apa2, hanya melihat2 dan mengoceh sepanjang waktu.
“hei, lihat! Tuh cewek cakep banget,” pekik Jenny bersemangat seraya menghempas2kan salah satu tangannya secara serabutan dan tangan satunya menunjuk ke seberang.
“mana?mana?”
Ketiga sahabatnya buru2 mengarahkan pandang kearah yang ditunjuk Jenny dan benar saja
cewek, lebih tepatnya murid SMA, dengan seragam yang berbeda dari merekasedang menyebrang dari arah plasa ke apotik di depannya sambil menenteng tas sekolah dan barang
belanjaan. Rambutnya yang lurus panjang sepinggang dan berwarna kecoklatan melambai2
tertiup angin sepoi, badannya tinggi semampai dengan kulit putih bersinar. Semua itu masih
belum apa2 dibanding dengan wajahnya yang elok, hidung mancung dan bibirnya yang mungil kemerahan. Benar2 tipe cewek idaman.
Mereka memicingkan mata melihat cewek yang berjalan menjauh itu dan mengamati gerakgeriknya. Setelah seperempat jam cewek itu keluar apotik dan menunggu jemputan.
“oh dia.. kalau tidak salah namanya Anita dari SMA X, orangnya cantik walau sayang bukan
tipeku, tidak pernah terlibat kegiatan organisasi disekolah karena sakit-sakitan, peringkat 1 berturut-turut dikelas walaupun bukan juara umum,” jawabnya cepat ketika terpandang olehnya kernyit di dahi teman-temannya dan pandangan mereka telah teralih sepenuhnya.
Bibi pemilik toko menyodorkan makanan yang mereka pesan yang disambut dalam diam.
Sebelum Risa dan si kembar tersadar dari kekaguman akan informasi tersebut, sebuah sepeda
motor berhenti didepan cewek itu. Rupanya yang mengendarai adalah seorang remaja pria yang lebih tua beberapa tahun dari mereka.
“itukah pacarnya” tanya Jessy tertarik yang ditujukan entah kepada siapa sambil memandang
ingin tahu wajah si pengendara namun yang terlihat hanya punggung jaketnya saja.
“itu kakanya yang biasa menjemput,” lagi2 Bobby unjuk bicara sambil menyuapkan sesendok
penuh nasi soto kedalam mulutnya. “aku sempat berkenalan dengan kakaknya sewaktu kami
bertemu tidak sengaja di bengkel sepeda motor. Saat itu aku sedang memodifikasi motorku,
rupanya ia juga melakukan hal yang sama. Daripada nunggu lama ya sekalian kuajak ngobrol
tentang motor sekalian tanya tentang adiknya. Tapi hanya nanya kondisinya aja kok, gak lebih.”
“kenapa njelasin panjang lebar gitu?” kata Jessy heran.
Pria itu menyodorkan helm kearah si cewek dan meletakkan barang bawaan dengan aman
dikaitan sepeda motornya. Tak lama kemudian kedua bersaudara itu pun pergi dan membuyarkan lamunan mereka. Dengan lesu si kembar kembali memusatkan perhatiannya pada nasi goreng yang belum tersentuh. Sementara itu diluar dugaan Bobby bersendawa keras, risa dan si kembar langsung berhenti dan memandangnya.
“ups, sorry!” kata Bobby sungguh2.
“iuuuhh, jorok banget sih Bob!” tegur Jessy.
“kamu sendiri kadang2 gitu dirumah,” sindir Jenny kepada Jessy yang mukanya merah memerah malu, menggerutu tidak jelas.
“sayang sekali gak ada cewek secantik dan sepandai itu disekolah kita. Begitu berkarakter. Udah kayak artis aja,” kata Risa mengalihkan pembicaraan sambil meneguk minumannya sementara Jenny mengingatkan Jessy untuk meminum obatnya.
“tapi kita punya cewek yang manis disekolah kita,” sahut Bobby mantap sambil memandang
malu2 sahabat didepannya. Risa tidak menyadari maksud perkataan tersebut karena sibuk mengamati arloji Bobby.
“tentunya itu kita berdua kan,” Jessy dan Jenny menjawab spontan dan kompak sambil
mengedip2 genit. Keduanya telah memakai salah satu jepit yang baru dibeli. Mereka tampak geli sendiri.
“habis makan nanti, buruan pulang yuk. Satu jam lagi sudah jam 6 sore,” kata Risa menasehati. Sesampainya dirumah , Risa segera menaiki tangga menuju kamarnya dan merebahkan tubuhnya diatas kasur berselimut yang empuk dan nyaman. Sayup2 terdengar suara mamanya dari bawah,
“tadi ada telpon dari Evi, katanya kerja kelompok besok diundur lusa.”
“trims ma,” balas Risa lelah. Dia pasti sudah pulang sedikit lebih cepat kalau saja Bobby tidak menyarankan untuk berjalan kaki dari depan perumahannyayang langsung, disambut anggukan setuju penuh semangat dari si kembar. Udara sore segar dan mereka bisa berbincang2 lebih lama. Tapi bagi Risa yang sudah kelelahan, ini berarti menunda istirahatnya.
“ada kendaraan malah milih yang repot,” gerutunya tak habis pikir setelah selesai mengingat.
Ia menatap langit2 kamarnya lalumengalihkan pandang ke sekeliling kamar. Seperti biasa
kamarnya tampak rapi, sinar biasa masuk melalui jendela di sebelah tempat tidurnya menerangi seluruh kamarnya. Hanya saja jendela itu kini tertutup kelambu biru. Sepanjang dinding kamarnya tertempel sekumpulan poster grup band penyanyi idolanya.
Ia menatap rindu komputer kesayangannya. Fotonya bersama sahabat2nya tersenyum
memandangnyadari atas meja belajar ditemani seekor boneka kelinci besar yang imut. Di atas
lemari pakaiannya terdapat seekor boneka beruang mungil dalam keranjang yang dibungkus
plastik dan ujungnya diikat pita, hadiah dari Bobby 2 tahun yang lalu.
Mendadak terlintas dalam benaknya bahwa Bobby mungkin menyukainya. Namun, ia heran
sendiri bahwa hal itu sama sekali tidak mengganggunya. Bobby adalah sahabatnya dan akan
menjadi sahabatnya untuk seterusnya. Apapun yang terjadi kelak, tidak akan banyak merubah
hubungan mereka, pikirnya meyakinkan dirinya akan kemungkinan yang bisa saja terjadi
tersebut.
Tiba2 ada sesuatu yang lembut bergerak diantara kakinya, tanpa berpikir dua kali ia langsung
bangun dan memberi salam ke anjingnya. “halo Toska,” sapanya sambil membelai2 rambut
anjing yang kecoklatan tersebut. Toska balas memandang majikannya dengan penuh sayang lalu secepatnya keluar dari kamar. Risa sudah melatihnya untuk tidak masuk ke kamar tapi kali ini Toska hanya ingin menyambut kedatangannya.
Sudah lama sekali, pikirnya, ketika si kembar membersihkan seekor anak anjing kepadanya
sewaktu ia berulang tahun yang ke-12. Sebagai terimakasihnya, ia merawat Toska dengan baik. Sewaktu Toska berumur 3 bulan, Toska diam2 mulai belajar naik tangga walaupun dengan perasaan takut. Setelah berhasil berada di puncak, ia tidak berani turun seharian. Untunglah ibunya menemukannya saat tiba waktunya makan malam. Risa masih tertawa bila teringat dengan kejadian itu.
“yak, mandi dulu baru kerja PR trus makan malam,” katanya menyemangati pada diri sendiri.
Risa menuruni tangga dengan tidak sabar. Perutnya lapar sekali. Toska menyambutnya di
undakan tangga paling bawah, bergerak lincah, ekornya berputar seperti baling2. Ayah sedang bermain tebak2an seru dengan Letty, adiknya, sewaktu ia tiba di meja makan yang bundar sementara ibunya membagi2kan piring.
“..kalo bahasa inggrisnya ‘bunga’ apa?”
“em..mm.. flora. Eh bukan ya?” kata suara mungil adiknya seraya berpikir keras. Ketika melihat wajah papanya yang menyiratkan bukan itu jawabannya, letty lalu kembali berkonsentrasi. “apa
ya?em.. flower!”
“betul,” sahut ayah mengangguk2 senang. “kalo babi?”
“piglet!” jawab Letty segera, yakin benar 100%.
“whahahaha,” tertawa geli. Mama ikut tersenyum geli.
“salah,” vonis Risa seraya menarik kursinya, menatap adiknya yang lucu. Rambut Letty
terkuncir menjadi dua, diikat pita merah, diatas kepalanya.
“uuh, kalo gitu apa?” tanyanya penasaran sampai2 mulutnya monyong seperti hidung babi.
“pig. Bukan piglet tapi pig,” kata ayah sabar
“oh iya ya. Pig pig,” kata Letty pengertian, mengulang2nya setengah berteriak supaya tidak lupa.
“pig,pig,pig.”
“aduh,” pekik Risa lalu mengelus lututnya. Ia melongok ke bawah meja dan melihat sandal
boneka berbulu letty menendang 2 ditengah udara, tadi sempat mengenainya.
“Letty kakinya diem dong,” kata Risa menasehati seraya berkacak pinggang. Suaranya
menggema keseluruh ruang makan.
“udah, udah. Ayo makan, ntar keburu dingin,” kata mmama mengakhiri permainan.
Mereka mengambil lauk dan nasi sesuai selera dan kebutuhan masing2 sambil mengobrol
sepanjang makan. Seperti biasa Lettylah yang paling menonjol sepanjang percakapan. Setelah 15 menit berlalu, mama menanyakan perihal sekolah kepada Risa.
“Gimana tadi disekolah, ada cerita apa?” tanya mama kepadanya.
“Gak ada ma, biasa aja. Capek, stress mau ujian,” jawab Risa dengan mulut penuh. Adiknya
memandang ingin tahu.
“nanti habis ujian juga lega,” kata ayah. “dulu papa juga gitu.”
“kalo Letty, hari ini ngapain aja?” tanya mama, menatap Letty sambil tersenyum manis.
“Letty tadi nyoba ngisi teka-teki silang punya papa,” kata Letty dengan senang hati bercerita.
“oh ya?” tanya mamanya kagum, dalam hati senang karena anaknya bbegitu pintar mengingat
Letty baru kelas nol besar. Disebelahnya, Risa menggeleng2 pelan kepalanya, tampak tidak puas.
“Letty bisa?”
“He’eh,” jawabnya bangga.
“Letty diam2 ngambil dari lemai papa ya?” tanya papa penuh selidik. Rupanya dugaan papa
benar karena anaknya diam saja.
“gakpapa kan pa. Yang penting Letty bisa belajar,” kata mama murah hati. “teka-teki silang kan susah.”
“memang,”kata Risa unjuk bicara, “tapi Letty ngisinya mendatar trus keatas. Bukannya mendatar aja atau vertikal aja. Tadi Risa lihat waktu ke kamarnya nyari pulpen warnaku yang ungu.”
Mama tercengang, rupanya kemajuan anaknya tidak seperti yng dibayangkan, lalu berkata
paham, “o..”.
“he he he. Kakak kok tau kalo Letty yang ambil?” tanya Letty yang tidak menyadari
kekeliruannya mengisi teka-teki silang, beberapa butir nasi menempel diujung nulut dan pipinya.
“ya taulah. Dirumah ini sapa lagi sih yang suka ngambil barang tanpa ijiiin,” jawab Risa gemas sambil memencet hidung adiknya.
“uh..”gumam Letty sebal seraya menepis tangan Risa.
“Letty kalo makan, mukanya ikut makan juga,” kata papa geli sambil mengambil butir nasi
diwajah Letty.
“udah ah. Letty kenyang,” kata Letty, melompat turun dari kursi yang cukup tinggi baginya.
“Risa juga udah selesai,” kata Risa lalu meneguk habis air minum digelasnya.
Papa masih makan sambil membaca koran sedangkan mama membereskan piring2 yang telah
dipakai.
“bujuk adikmu tidur ya Ris,” kata ayah minta tolong.
“oke” sahut Risa memandang mereka lalu berucap pada adiknya. “debger kan? Ayo pergi tidur!”
“gak mau ah, Letty masih mau maen,” kata Letty jahil.
“kalo masih ggak mau...kakak gelitikin..,” ancam Risa, matanya membelalak tajam. Letty hanya menatapnya tanpa menunjukkan tanda2 mau mengikuti perintahnya. Supaya meyakinkan, ia menggelitik adiknya tanpa ampun. “wau..”
“kyaa kya kya,” jerit Letty menggeliat2 geli lalu berlari terbirit2 ke kamar. “beres” gumam Risa menghela nafas, kedua tangannya bersilang didepan dada, tampak sangat ahli dengan urusan seperti ini.
Risa menaiki tangga menuju kamarnya didampingi Toska yang melompati tangga dengan lincah, mengantarnya sampai didepan kamar.
“selamat tidur Toska,” katanya sebelum menutup pintu kamar.
Perutnya kenyang sekali. Dengan puas ia menggosok gigi sebelum tidur lalu menghenyakkan diri ditempat tidurnya. Karena letih seharian beraktivitas, tak lama kemudian ia sudah tertidur.


0 komentar:

Post a Comment

Copyright © 2015 Baca Online dan Seputar Blog
| Distributed By Gooyaabi Templates