December 24, 2015

Can You See Me part 4

HARI-HARI BERIKUTNYA
Risa seperti orang linglung. Ia tidak tahu apa yang sebaiknya dikerjakannya. Ia belum terbiasa disini, selain itu orang-orang rumah mencegahnya melakukan sesuatu yang bagi mereka
dianggap cukup berat ntuk Risa, seperti menyapu, menyetrika dan pekerjaan rumah lainnya.
Karena masih merasa sungkan, Risa tidak menolak. Tapi ia jadi mudah merasa bosan, hanya duduk termenung saja. Oleh karena itu siang ini ia membuat puding coklat dan fla untuk mengisi waktu luangnya.
“au panas,” kata Risa seraya menuang pudingnya yang masih encer kedalam cetakan lalu menyimpannya di freezer. “sekarang tinggal menyiapkan fla.”
Maka Risa dengan riang mengambil panci kecil, menyalakan api, lalu meletakkan panci diatasnya. Di meja sebelahnya sudah tersedia susu cair, gula, tepung maizena dan rum. Risa mengaduk-aduk susu cair dan gula supaya menyatu lalu menuang tepung maizena yang sudah
dicampur sedikit air.
“masukkan maizenanya. Nah hampir jadi. Sekarang yang trakhir dan paling penting, tambahkan rumnya,” katanya riang sambil terus mengaduk. “pakai telur nggak ya..gak usah deh. Nanti
malah amis.”
“bik?! Sekarang bagaimana?” tanya ayah, suaranya terdengar dari kejauhan yang nyatanya berasal dari atas atap dapur tempat tempat Risa berada saat ini.
“iya bentar,” jawab bibik.
“Hm..kurang gula dikit,” kata Risa lalu menambahkan gula kedalam panci. Risa mendongak keluar jendela dan melihat bibiknya berlari dari taman tengah rumah menuju ke ruang keluarga.
Risa memasukkan fla yang sudah jadi kedalam kulkas ketika bibiknya tengan memindahmindahkan
saluran TV lalu secepatnya berlari lagi ke taman.
“belum. Yang tadi masih lebih jelas,” seru bibik lantang ke atas atap.
Ayah sudah pulang dari tadi. Ia sedang membetulkan antena di atap. Ayah berteriak-teriak dari atas apakah Tvnya sudah jelas ketika ia menyetel antenanya dan menggerak-gerakkannya.
Sedangkan bibik mondar mandir dengan sibuk mendengarkan aba-aba ayahnya, berlari ke ruang keluarga melihat tampilan TV dan menyahut memberitahukan perihal kejelasan tampilannya.
Kemarin ada hujan badai yang membuat tayangan Tvmereka berbintik-bintik.
Risa berjalan kearah taman, hendak melihat keadaan ayah diatas. Siang itu begitu terik, sinar matahari yang menyilaukan membuat matanya tidak bisa melihat dengan jelas.
“repot juga ya bik,” gumam Risa.
“iya non. Bibik juga dibikin susah,” kata bibik yang kepanasan sehabis berlari-lari.
Sepuluh menit berlalu tanpa Risa mengetahui keberadaan ayahnya, yang terlihat hanyalah atap
genting yang menyala dalam pantulan sinar matahari. Menyerah karena tidak tahu apa yang
dilakukan ayahnya di atas, Risa melihat-lihat taman di sekelilingnya. Untunglah walaupun hari
panas begini, tanaman di taman itu tampak segar. Di depan kamar tamu terletak jemuran kecil,
khusus untuk menggantung handuk. Sedangkan tempat yang biasa dipakai untuk menjemur
pakaian dan seprai ada di lantai dua. Rumah mereka memang tidak bertingkat. Lantai dua hanya
berupa ruang kecil berangin untuk menjemur. Dibawahnya ada tangga melingkar dari besi dan
mesin cuci.
“bik, tolong dilihat laggi,” kata ayah.
Bibik yang rupanya sudah terlatih,langsung menghambur ke dalam rumah dan memindahmindah
saluran TV, memastikan seluruh channel sudah tampil jelas. Risa menghampiri tempat
jemuran handuk, memeriksa handuk-handuk disana apakah sudah kering. Bibik sudah kembali
lagi dan berkata nyaring saking senangnya.
“sudah pak. Sudah jelas.”
“masa sih bik?” tanya ayahnya tidak yakin sambil melongokkan wajahnya kebawah. Ayahnya
malas jika sudah terlanjur turun tangga nanti masih harus naik ke atap lagi untuk memperbaiki
antenanya.
“bener pak. Bapak bisa turun sekarang.”
“ya sudah, bentar lagi saya turun.”
“oi..Ta,” kata suara lain ditengah keramaian itu. Viko baru pulang, sekarang berdiri di pintu
ruang keluarga, berkeringat hebat seperti habis keramas. “ambilin handukku dong.”
Risa mengangguk paham tapi tidak tahu benar yang mana handuk Viko, hanya menerka saja.
Maka dari itu ia memilih handuk warna biru lalu melemparnya kuat-kuat keseberang, kearah
Viko. Viko menangkapnya dengan kecewa.
“Bukan yang ini, yang warna merah,” kata Viko seraya melempar kembali handuk biru kearah
Risa. Saking kencangnya ia melempar, handuk itu mendarat tepat menutupi wajah dan kepala
Risa.
“Viko yang bener dong kalo ngelempar!” tegur Risa dari balik handuk. Sementara Viko tertawa
tak terkendali sampai terbatuk-batuk.
“ups, sori Ta. Sengaja. Eh bukan. Maksudku gak sengaja,” kata Viko terbahak-bahak.
“dasar,” gerutu Risa yang sekarang melepas handuk dari kepalanya dengan kasar. “aduh”
Benang pada handuk itu mengait antingnya, membuatnya kesakitan saat menariknya. Risa
berjalan timpang ke arah bibik yang masih melihat ke atas atap sambil memegangi handuk disatu
sisi, kepalanya miring ke kanan.
“Bik tolong,” kata Risa, tangan kirinya mengetuk pundak bibik. Bibik menoleh dan paham ketika
Risa menunjuk-nunjuk handuk yang melekat di telinga kanannya lalu segera membantunya
melepas kaitan handuk dari antingnya.
Viko mengikuti arah pandang bibik yang semenjak tadi menengadah ke atap lalu melihat
punggung ayahnya muncul tiba-tiba dari arah lain sehingga mengagetkannya. “ngapain ayah di
atas? Kukira ada spiderman di atas rumah kita.”
Sekarang Risa ikut mendongak dan melihat ayahnya menuruni tangga perlahan. Bibik akhirnya
berhasil melepas kaitan antingnya, membuat Risa mengelus-elus telinganya dengan lega.
“makasih bik,” kata Risa.
“sama-sama Non,” kata bibik lalu berpaling melihat ayahnya, bergerak tangkas. “biar saya yang
mengembalikan tangganya pak.”
Risa mengembalikan handuk birunya ke tempat jemuran. Dan mengambil handuk berwarna
merah. Ayah mengibas-ngibaskan pakaiannya dari debu.
“habis betulin antena. Fiuhh capek juga. Panas sekali di atas sana,” kata ayah memberi
penjelasan kepada Viko sambil melihat keatas atap. “kamu sendiri baru pulang Vik?”
“iya habis ada pertandingan basket. Tim kami menang Yah,” jawab Viko gembira seraya
mengusap keringat dirambutnya dengan lengan bajunya. Ia bersandar pada pintu yang terbuka.
“bagus kalo gitu ayah mau mandi nih, kotor semua” kata ayah sambil mencium bau pakaiannya
yang bercampur keringat.
“aku juga,” kata Viko singkat yang jelas sekali merasa gerah sehabis olahraga dalam cuaca
sepanas ini.
“ini,” kata Risa sembari menyerahkan handuk merah ke tangan Viko.
“trims,” kata Viko mengelus rambut Risa lalu menyampirkan handuknya di pundak. Viko
mengambil baju ganti dari kamarnya dan menuju kamar mandi.
“ambilkan handuk ayah juga yang ungu. Kalau belum kering yang hijau saja,” kata ayahya selagi
ia keruang keluarga.
Risa berjalan menyebrangi taman dan mengambilkan handuk berwarna hijau untuk ayah. Di
dalam, ayah mengganti-ganti saluran TV dan tampak puas karena tampilannya sudah tidak
dipenuhi bintik-bintik hitam.
“ini yah.” Kata Risa, tersenyum memandang ayahnya.
“kelihatannya usaha ayah gak sia-sia.”
“siapa dulu dong,” kata ayahnya bangga. “ayah mandi dulu ya.”
Bibik kembali melanjutkan kegiatan memasaknya yang sempat terhenti dari tadi. Risa
mengamatinya sambil menunggu lalu memeriksa pudingnya di dalam freezer.
“sudah padat,” katanya riang, mengeluarkan cetakan pudingnya dan meletakkannya di meja. Risa
mengambil beberapa piring kecil lalu mengisinya dengan potongan besar puding coklat yang
dingin.
Risa mengembalikan sisa puding dalam cetakan yang tinggal setengah ke dalam freezer lalu
meraih panci berisi fla dibawahnya.
“bik, punya bibik saya taruh di lemari ya,” kata Risa sambil menuang fla ke atas puding di tiap
piring. “sisanya bisa buat ntar malam.”
“o iya iya Non, taruh aja disana,” kata bibik senang. “non tumben ya masak di dapur. Bibik baru
kali ini liat Non buat sesuatu.”
“masa iya sih?” tanya Risa heran. “Nggak juga kokbik. Ini kan gampang buatnya.”
Bibik tidak menjawab, kelihatan agak heran memandangnya. Risa meletakkan panci berisi fla ke
dalam kulkas, bertanya-tanya dalam hati bagaimana ia bisa tahu cara membuatnya. Padahal ini
juga pertama kalinya Risa membuat sesuatu. Ia sepertinya sudah terbiasa membuatnya sehingga
mau tidak mau ia merasa bingung juga.
Risa memindahkan piring-piring puding untuk ayah, Viko dan dirinya ke meja makan tepat saat
Viko keluar dari kamar mandi sembari menggosok-gosok rambutnya dengan handuk.
“wow bikin apa tuh?” kata Viko tertarik melihat puding yang dibawa Risa.
“puding,” jawab Risa ceria yang sekarang menuang air putih ke dalam gelas-gelas di meja,
“panas-panas gini enaknya makan yang dingin-dingin.”
“betul,” kata Viko setuju lalu menambahkan setengah bergurau. “aku dapat bagian juga ya.
Kamu baik banget.”
“remote dong tolong,” kata Risa ketika duduk di kursinya mengabaikan perkataan Viko yang
entah memuji atau menyindir.
Viko mengambilkan remote di sebelah TV lalu memberikannya pada Risa. Viko duduk di
sebelahnya sambil mengalungkan handuk ke sekeliling lehernya. Ayah keluar dari kamar,
berjalan ke arah mereka, tampak segar bugar.
“wah wah wah. Makan apa nih? Kayaknya enak banget,” tanya ayah melihat Viko dan Risa
asyik melahap puding. Ayah ikut duduk di kursinya begitu melihat ada piring berisi puding
tersedia di mejanya.
“ya ampun demo mulut, kapan habisnya,” kata Risa serius sambil menonton berita di TV. Ayah
menonton berita juga dan mengangguk prihatin.
“tambah bik,” kata Viko meneguk minumnya sembari menyodorkan piring kosongnya ketika
bibik meletakkan makanan yang baru dimasaknya ke meja makan.
“minta non Tata. Non yang bikin. Bibik gak berani, jarang-jarang non masak,” jelas bibik.
Viko sampai tersedak minumnya . Risa mengerlignya sejenak lalu berkata pada bibik.
“gakpapa kok bik. Ta kan bikin buat semua. Ambil aja, ntar aku bisa bikin lagi,” kata Risa
ramah, penuh senyum.
“yaudah non,” kata bibik sambil membawa piring Viko ke dapur.
“kamu yang buat?” tanya Viko tercengang.
“kenapa? Kurang manis ya?” tanya Risa heran lalu berpaling menatap ayah yang menyantap
puding tanpa protes. Ia kan tidak melakukan kesalahan. Rasa puding coklat dan flanya sangat
sedap.
“kok gak bilang apa-apa?”
“maksud kakak apa? Kakak kan gak tanya,” tanya Risa mengernyit.
“tapi... kamu kan baru kali ini bikin, kok rasanya bisa enak ya,” kata Viko lalu memandang
ayahnya seolah meminta pendapat.
Ayah yang asyik menonton berita akhirnya menyadari tatapan kedua anaknya. Sementara itu
bibik kembali dari dapur membawakan sepotong besar puding baru untuk Viko.
“kenapa Vik tata kan bisa belajar masak juga,” kata ayah berpendapat.
“iya sih...,” kalimat Viko menggantung.
“ayah senang lho kalo bisa sering-sering makan masakanmu,” kata ayah jujur kepada Risa.
“bener yah? Ayah bersedia dong jdi kelinci percobaanku. Ho ho ho,” kata Risa jahil, matanya
berkilat senang senang.
“ati-ati yah nanti keracunan,” gurau Viko seraya melahap satu sendok penuh.
“ya udah kamu aja yang jadi kelinci percobaannya kalo gitu,” kata ayah ikut-ikutan bergurau.
“gak jadi deh, aku makan sendiri aja,” kata Risa merajuk.
“marah niihh,” kata Viko sambil menjawil pipi adiknya dengan telunjuknya.
Risa memanfaatkan kesempatan itu dengan menggigit telunjuk Viko.
“ouch. Galak bener,” kata Viko mengibas-ibaskan tangannya. Sementara itu ayahnya tertawa
gembira.
***
Ayah dan Risa melewatkan pagi yang tenang dengan menonton TV. Risa sedang asyik
mengunyah keripik kentangnya ketika Viko mengajaknya bicara.
“Ta, mau ikut kakak pergi beli kaset? Daripada dirumah terus kan bosan..,” tanya Viko sambil
melihat bayangannya sendiri di depan cermin. Viko memakai baju santai yakni kaos, celana
selutut, dan sepatu sandal, rambutnya memakai gel.
Risa tidak perlu menunggu kakaknya menyelesaikan kalimat, ia langsung berlari ke kamar,
berganti pakaian secepat kilat dan menguncir rambutnya. Tak sampai lima menit ia sudah siap
dengan dandanan oke untuk bepergian.
Viko tidak mendengar adiknya menjawab, ketika menoleh ia melihat adiknya terburu-buru
masuk kamar, mungkin teringat telah melupakan sesuatu yang penting. Kecewa karena Anita
tidak menghiraukan ajakannya, viko kembali memandang dandanannya dalam cermin.
“berangkat sekarang?” kata Risa begitu keluar dari kamarnya sembari tersenyum jahil, matanya
berbinar-binar karena tidak sabar.
Risa baru pertama kali keluar rumah semenjak kepulangannya dari rumah sakit. Ia tidak tahan
ingin segera melihat dunia luar. Viko melongo melihat adiknya begitu siap siaga.
“yuk. Yah kami pergi dulu ya,” pamit Viko.
“ati-ati ya Vik,” sahut ayah.
“ayah mau titip apa?” tanya Risa sambil mencium pipi ayahnya, tanda pamit.
“udaaahh gak perlu,” kata ayah yang turut senang karena putrinya terlihat begitu gembira.
Viko memarkir mobil jauh dari pertokoan dimana toko kaset terletak di salah satu deretnya.
Maklum ini hari libur. Susah mendapat tempat parkir yang kosong. Mereka jadi bisa melihatlihat
lebih lama walaupun harus berjalan agak jauh. Pertokoan sepanjang jalan itu ramainya tak
kalah dari taman hiburan. Trotoar penuh sesak orang yang berseliweran. Risa dengan sabar
berjalan mendampingi kakaknya. Melihat-lihat dengan antusias.
Mereka sempat membeli makanan untuk camilan di rumah. Kakaknya memanggul belanjaan di
punggungnya. Cara yang tidak umum untuk membawa belanjaan, mungin kebanyakan cowok
memang kayak gini, kritik Risa. Sebenarnya ia mengagumi kakaknya. Postur tubuhnya ideal,
bisa membuat banyak cewek jatuh hati. Tapi ia tertarik saat lebih mengenalnya. Viko sangat
dewasa, mandiri, perhatian dengan keluarga, kadang juga ocak. Orang diusia segitu belum tentu
sedewasa kakaknya, pikir Risa.
Akhirnya mereka tiba di toko kaset, Viko mendorong pintu dan suara musik yang keras
mengejutkan telinganya. Wow..! Toko itu bernuansa silver, di dindingnya tertempel posterposter
penyanyi terkenal, kepingan-kepingan CD yang disusun vertikal menggantung di langitlangit.
Di depan meja kasir, berdiri kipas angin ekstra besar yang membuat rambutnya berkibar
tak karuan saat melewatinya.
Mereka tiba di rak jenis lagu kesukaan Viko. Viko langsung asyik membaca judul-judul lagu di
sampul belakang kaset. Sedangkan Risa justru lebih tertarik memandangi orang-orang yang
datang.
“kak, kak,” Risa menarik-narik lengan kaos Viko untuk mengalihkan perhatiannya, “lihat ke arah
jam tiga! Menurutmu gimana? Kalo dibandingin dengan arah jam tujuh?”
Viko sejenak tampak bingung, tidak mengerti ucapan adiknya.
“kamu ngomong apa sih, yang jelas dong, jangan bertele-tele gitu.”
“duuhh, itu tuh cewek di situ sama yang disana. Gimana menurutmu?” tanya Risa mendesak
sambil menunjuk ke arah dua cewek yang dimaksud.
Viko memperhatikan dengan teliti. Sempat-sempatnya adiknya mengamati pengunjung toko,
pikir Viko. Tinggi kedua cewek itu tak jauh beda darinya tetapi penampilannya berbeda seratus
delapan puluh derajat! Mereka berdua mempunyai rambut melebihi bahu, bentuk tubuh langsing.
Viko menoleh ke kiri belakang.
Cewek arah jam tujuh tampak keren, rambut pendeknya terikat rapi. Ia bergaya sporty dengan
wristband di tangan kiri, kaos tanpa lengan, celana training biru dengan garis putih pada kedua
sisinya dan sepatu olahraga aksi. Ia tidak memakai pernak-pernik seperti anting, gelang atau
perhiasan, wajahnya terlihat natural. Cewek itu meneleng-nelengkan kepalanya mengikuti alunan
musik.
Cewek satunya lagi luar biasa eye catching sampai Viko sendiri heran kenapa ia tidak melihatnya
saat masuk. Ia memakai setelan sewarna yaitu blus putih dengan jaket pink, lengannya mengapit
tas pink ukuran sdang dan rok pink semi gelombang serta tak lupa sepatu pink berhak tinggi. Ia
memakai lipgloss sehingga bibirnya tampak mengkilap. Anting-antingnya yang panjang
berayun-ayun saat ia bergerak. Wajahnya terlihat menarik dalam riasan mata dan perona pipi
kemerahan. Viko memperhatikan jari jemarinya lentik, kukunya panjang bercat pink.
Viko berpendapat sebetulnya bila cewek sporty itu berdandan feminim pasti gak kalah menarik
dengan cewek serba pink itu. Dalam hati Viko bertanya-tanya apakah adiknya berusaha
mengetes tipe cewek yang disukainya atau ingin tahu apa reaksinya. Ini semacam tes kepribadian
saja, mungkin adiknya bercita-cita jadi psikologi.
“Hmm..,” kata Viko akhirnya, berlagak seperti pengamat ekonomi, satu tangannya memegang
dagu. Disebelahya, Risa memandangnya penuh selidik.
“penampilannya sama-sama asyik, pembawaannya menarik tapi yang arah jam tujuh lebih
menjanjikan,” jawab Viko kurang antusias, kembali mencari-cari kaset yang diingininya.
“B’tul,” kata Risa sepakat kemudian mengambil salah satu kaset secara acak, melihat judul-judul
lagu yang tertera lalu menambahkan sambil lalu. “ternyata selera kita sama.”
Viko menunduk memandang adiknya, kaset di tangannya terlupakan. Ucapan barusan terasa
janggal. Risa mengembalikan kaset yang baru diambilnya lalu menoleh ke arah kakaknya.
“apa?” tanya Risa begitu melihat tatapan kakaknya.
Bingung harus berkata apa, Viko kembali menekuni kasetnya dan menjawab tanpa memandang
Risa, “enggak. Nggak apa-apa.”
Risa memperhatikan kakaknya tidak yakin. Ia berjalan menyusuri deret rak kaset di ujung sambil
berpikir. “memangnya aku tadi salah ngomong apa?” gumamnya.
“mau mampir ke toko HP gak?” ajak Viko saat membayar dua kaset yang dibelinya. “pulsaku
abis.”
“aaayo,” jawab Risa dengan nada menantang. Jalan-jalan memang membuat rileks jadi tidak ada
alasan untuk menolak.
Viko mengisi ulang pulsanya. Risa melihat-lihat stiker dan bandul HP. Ia sangat menginginkan
bandul warna merah yang berbentuk anyaman. Mengingat ia tidak lagi membutuhkan Hpnya,
maka Risa membujuk Viko untuk membelinya yang spontan menolak mentah-mentah.
“ayolah, warnanya cocok buat Hpmu. Lucu banget nih.”
“nggak ah, kayak anak cewek. Ogah. Kalau mau beli ya beli aja.”
“tapi aku kan udah gak pake HP. Percuma dong beli kalo gak dipake.”
“yaudah, gak usah beli kalo gitu. Beres kan. Ayo pulang.”
Risa mengikuti kakaknya di belakang. Bibirnya cemberut , ia teringat bandul merah itu tapi ia
tidak punya pilihan. Ia memang tidak membutuhkannya. Ia juga tidak ingin membelanjakan uang
ayahnya dengan percuma. Dengan kesal Risa berjalan dengan menghentakkan kakinya seperti
orang yang ikut lomba gerak jalan.
Risa mengalihkan pandangannya ke seberang jalan, sekedar mengalihkan perhatiannya. Disana
ada tempat makan, perutnya tiba-tiba bertepuk riuh. Ingin rasanya cepat-cepat tiba dirumah dan
melahap masakan bik Ti.
“aduh!!” pekik Risa. Di depannya, Viko rupanya berhenti mendadak. Karena sibuk melihat ke arah lain, Risa tidak sengaja menabrak kakaknya. “kenapa?”
“makan dulu yuk, laper,” kata Viko sambil menunjuk rumah makan di sebelahnya. Risa mengangguk setuju.
Bau harum tercium dari dapur, membuat Risa merasa lebih lapar dan tak sabar menunggu. Risa sebenarnya ingin tahu apakah Viko memang sedang lapar atau tahu kalau dirinya hanya makan sedikit tadi pagi. Tapi Risa tidak peduli. Baginya, Viko sangat perhatian, tipe kakak yang baik. Tak lama kemudian, pesanan yang ditunggu-tunggu datang. Risa memakannya dengan lahap.
“pelan-pelan aja makannya. Mukamu cemot tuh,” kata Viko memberitahu. Kemudian ia menambahkan dengan tertawa, “ya ampuuunn kayak anak kecil aja.”
Risa mengelap mulutnya, menatap sewot kakaknya. Kenapa tertawa? Ada yang lucu? Emangnya kenapa kalo kayak anak kecil? Penting ya? Namun ia hanya diam saja, melahap makanannya
seakan tidak ada interupsi. Hari ini ia senang sekali sehingga malas membalas ejekan kakaknya.
Mereka kembali berjalan jauh menuju tempat parkir. Risa merasa kakinya sudah capek dan pegal. Ia agak tertinggal jauh di belakang karena sibuk menghindari orang menabraknya atau
memberi jalan lebih dahulu kepada rombongan pejalan kaki di trotoar yang sempit itu. Risa mengira Viko telah meninggalkannya semakin jauh di depan ketika mendadak ia merasa ada yang menggenggam tangannya diantara kerumunan.
“ayo,” kata Viko sambil menarik tangannya. Rupanya Viko menyadari ketertinggalannya dan kembali menjemputnya.
Risa sebenarynya ingin melepas pegangan tangannya setelah bebas dari kerumunan itu tapi Viko mencengkeram tangannya kuat sekali sehingga Risa membiarkannya saja. Perasaan aneh muncul sepanjang ia berjalan dengan Viko berada agak di depannya seakan membimbingnya dari depan. Waktu seakan bergerk diperlambat. Risa menengadah memandang kakaknya. Ini... seperti perasaan dilindungi orang yang disayangi. Ia memandang punggung Viko, melihat sosoknya dari
belakang yang tinggi dan tegap dengan jelas. Sebagian kata hatinya membebaskan tangannya sewaktu mereka tiba di mobil.
***
“bibik kalo pulang kampung disuruh istirahat aja dirumah. Kakak bibik pergi ke sawah, istrinya menjual kopi ke kota. Bibik tinggal berlima sama keponakan juga. Maklum rumah warisan.
Biasanya orang perempuan mandi di telaga. Teman bibik kebanyakan bisa renang, mengambang
gitu non. Berenang-renang kayak gini non,” kata bibik, meletakkan setrikanya lalu memperagakan renang gaya katak dengan kedua tangannya yang gemuk, “disana airnya bersih,
dingin kayak kulkas. Nggak jauh dari sana ada banyak orang laki duduk-duduk liat orang mandi..”
“diintip dong namanya. Bibik nggak marah?” potong Risa serius bercampur kaget.
“yah bibik sih mandi di sumur. Gila apa diliatin laki-laki waktu mandi, tapi mereka biasa-biasa
aja non. Udah biasa di desa saya.”
“oh ya?” kata Risa terkejut.
“kalo orang punya lahan sih enak non. Kebanyakan sawah di desa saya dibeli pemerintah. Orang sana kan gak tau apa-apa jadi mau aja tanahnya dibeli. Punya kakak saya itu sudah dibeli separo.
Saya bilang gini ‘bodoh kamu jual tanah dikasih murah! Buat beli sepeda motor udah habis!’
buat apa sepeda motor, gak bisa dimakan, iya to?”
“iya iya, bener bik,” kata Risa setuju-setuju saja.
“kalo ujan non, bocor dimana-mana. Masih untung desa saya gak pernah kena banjir. Yang ada
di TV itu non, banyak desa kena banjir. Kasihan non, sapi-sapi pada hilang. Ya bangkrut orangorang.”
“he’eh,he’eh,” gumam Risa paham.
“saya nitipin cincin emas saya ke istri kakak saya. Saya kan punya tujuh, saya titipin lima. Eh,
waktu bibik mau balik kesini, bibik minta lagi. Tapi istrinya kakak saya malah bilang kalo ini
cincin hadiah dari saya ke dia. Trus katanya cincin itu gak laku disini jadi mending dijual di desa
sana. Itu kan akal-akalannya saja, batin saya. Trus saya bilang ‘kalo gak laku, mana sini. Balikin
ke saya.’ Tapi dia malah diam saja. Memang nyebelin kok ipar saya itu.”
Bibik asyik bercerita sambil menyetrika baju-baju. Risa yang sendirian tanpa ayah dan Viko
memutuskan untuk menemani bibik dengan senang hati, bertanya-tanya tentang kampung
halamannya.
“tiap malam takbiran non, anak-anak kecil mukul –mukul kentongan keliling desa. Belum lagi
kalo malem suara dengkung kodok bikin berisik. Bibik paling suka melihat kunang-kunang. Ada
banyak sekali waktu malem.”
“kunang-kunang itu kan kukunya orang mati ya bik?” tanya Risa bergidik sendiri..
“nggak tahu non. Itukan Cuma takhayul,” kata bibik rasional.
Bibik sudah selesai menyetrika dan hendak mengantarkan tumpukan baju yang sudah dilipat
rapi. Risa mengikuti bibik masuk ke kamarnya, kamar ayah dan kamar Viko.
“ya ampun, den Viko ini lemari bajunya selalu awut-awutan,” kata bibik tidak senang, melihat
baju-baju dalam lemari tumpang tindih tidak terlipat.
Risa duduk di kursi meja belajar Viko sementara bibik bibik mengeluarkan baju yang kusut
karena berdesakan dalam lemari dan melipatnya. Dalam hati Risa malu sendiri karena ia juga
seperti Viko. Ia sering bingung hendak memakai baju apa. Oleh karenanya baju-baju yang telah
dicobnya dan dirasa tidak cocok langsung dikembalikan ke lemari asal-asalan, tanpa dilipat lebih
dulu. Bedanya, pada waktu senggang ia sempat merapikan baju dalam lemarinya sehingga tidak
ketahuan bik Ti.
“lho, Viko punya kamera ya, sama seperti ayah,” kata Risa terkejut melihat kamera terbungkus
tas plastik di dalam lemarimeja belajar, masih ada 2 rol film belum terpakai di kotaknya. Risa
mengeluarkan kamera itu, menimangnya sebelum melihat isinya. “kosong. Bik, kira-kira aku
boleh pakai nggak ya?”
“tanya aja ke den Viko kalau nanti sudah pulang,” kata bibik seraya menutup lemari.
“iya deh. Aku pengen foto-foto. Nanti bibik ikutan juga ya,” ajak Risa gembira.
“jangan non. Bibik kan jelek,” kata bibik rendah diri.
“ah bibik ini,” tegur Risa tidak setuju. “pokoknya bibik nanti harus ikut!”
Viko pulang siangnya, disambut Risa yang sedari tadi menunggunya. Saking bersemangatnya,
ujung jari kaki Risa membentur kaki dengan keras.
“Eh, Vik. Kameramu ini boleh kupakai gak?” tanya Risa penuh harap seraya mengangkat
kamera ditangan kirinya.
“paka aja. Masih ada rol yang belum terpakai,” jawab Viko sambil lalu ke kamarnya, meletakkan
tas. “kakimu kenapa?”
Risa berdiri dengan satu kaki. Tangan kanannya memegangi jari kaki kanannya seperti pose
Alibaba. Sementara itu wajahnya berusaha menahan seringai kesakitan.
“eh lagi senam,” jawabnya berbohong karena takut diledek. Viko menatapnya tidak percaya.
“tadi terbentur karena terburu-buru. Udahlah gak penting.”
“bilang aja terus terang. Dasar ceroboh. Tetep aja gak ada kemajuan,” kata Viko menjitak pelan
kepala Risa sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. Risa cemberut mendengarnya.
“gimana cara masangnya? Tolong dong,” pinta Risa memohon.
“mana-mana sini,” kata Viko tak sabar.
“thank you,” kata Risa berterima kasih, suaranya berubah menjadi imut-imut.
“begini nih masangnya,” terang Viko pelan-pelan. “lain kali kamu bisa pasng sendiri.”
Risa mengangguk-angguk bersemangat di sebelahnya sambil memperhatikan dengan jeli. Setelah
selesai, Viko memberikan kamera itu padanya.
Sepanjang hari itu dihabiskan Risa dengan memotret ruang-ruang dalam rumah, taman, lalu
memotret ayah, Viko, bibik dan dirinya bergantian. Risa telah berusaha keras membujuk untuk
foto-foto. Akhirnya mereka merasa asyik bergaya di hadapan kamera, tampak kompak. Viko dan
Risa bertindak selaku pengarah gaya sedangkan ayah mengatur posisi mereka dan memilih latar
belakang pemotretan. Kadang mereka foto berdua-dua, kadang bertiga-tiga untuk menghabiskan
isi film.
“yak, sekarang giliranku,” kata Risa berinisiatif, menyambar kamera dari ayah. “disini, didepan
tanaman. Bibik ditengah, ayah dan Viko disamping.”
Maka mereka berbaris dengan kaku, tampak malu-malu. Risa melihat mereka lewat lensa
kamera. Perlahan dirinya menjadi sentimentil. Kamera itu seakan menunjukkan dunia lain yang
baru ditemuinya. Ketika ia menurunkan kmeranya ia menyadari bahwa dunia itu ada di
hadapannya sekarang, saat ini!
“kenapa Ta?” tanya ayah menyadari perubahan pada air mukanya.
“oh nggakpapa. Bibik senyum dong,” katanya menganjurkan, menunju ke arah bibik, sementara
itu Viko merangkul bibik dengan kedua tangannya.
“o iya iya non,” kata bibik cepat, memasang senyum lebarnya.
Risa kembali mengangkat kameranya. Tahu-tahu saja ia merasa terharu, ia bisa merasakan
matanya pedih berair. Senang rasanya melihat keluarga ini. Walau sedih, ia tetap
menyunggingkan senyumnya.
“siap ya,” kata Risa memberi aba-aba. “1..2..3..”
‘klik’ begitu bunyinya ketika Risa menekan tombol diiringi bunyi rol menggulung.
“lho? Sudah habis,” katanya tidak menyangka.
Orang-orang mendadak jadi salah tingkah, merapikan pakaiannya masing-masing lalu buru-buru
mengerjakan tugasnya kembali.
“aduh bibik belum nurunin jemuran,” seru bibik panik, berlari ke seberang menaiki tangga
bundar.
“buku bacaan ayah tadi pagi dimana ya?” kata ayah yang sudah berjalan ke samping selagi
membuka pintu ruang kerja.
“ada janji nih bentar lagi,” kata Viko begitu melirik waktu di jam tangannya lalu tergesa-gesa
masuk rumah.
Puas setelah seharian mengambil gambar, mereka melanjutkan kegiatan seperti biasa. Risa sudah
tidak sabar melihat hasilnya.
Belum seminggu Risa berada dirumah itu, perasaannya mulai gelisah. Selama ini perhatiannya
teralih karena berusaha mengenal keluarganya. Sekarang ia dihadapkan pada fakta bahwa dirinya
akan meninggal. Sebelumnya, mungkin Risa bisa menerimanya. Setiap orang pasti kan mati lalu
berusaha tidak memikirkannya. Tapi sekarang ia jadi ngeri sendiri. Ia tidak yakin sudah siap
mental atau belum.
Bagaimana ya rasanya mau meninggal? Pasti menderita. Semoga saja begitu tertidur langsung
meninggal. Gak mungkin! Itu kan terlalu mudah. Dia tidak mau meninggal dengan keadaan
serba tidak tahu begini. Ini kan kesannya terlalu sadis. Aduuuhh bisa gila memikirkannya.
Bagaimana ya rasanya mau meninggal? Pasti menderita. Semoga saja begitu tertidur langsung
meninggal. Gak mungkin! Itu kan terlalu mudah. Dia tidak mau meninggal dengan keadaan
serba tidak tahu begini. Ini kan kesannya terlalu sadis. Aduuuhh bisa gila memikirkannya.
Mungkinkah ia sebenarnya udah meninggal? Namun kenapa ia bisa mengingat jelas namanya?
Mungkinkah dia memang Anita? Tidak. Tidak mungkin. Perasaannya jelas mengatakan bahwa di
bukanlah Anita. Ia seperti sedang mengalami krisis jati diri. Lalu apa tujuan hidupnya saat ini.
“apakah aku hanya menunggu untuk mati?” bisiknya memandang langit-langit.
Tidak, batinnya. Orang hidup untuk menemukan kebahagiaan. Karena itulah hidup jadi berarti.
Ia tidak sendiri. Disini, banyak orang yang mencintainya.
“udah ah,” kata Risa, melepas bantal yang mendekapnya. “daripada bingung mending ke tempat
ayah aja.”
Risa sudah hendak mengetuk pintu kamar ayahnya ketika dia tiba-tiba berubah pikiran.
“ketenpat Viko aja deh,” kata Risa tidak jelas.
Pintu kamar kakaknya agak terbuka. Risa mendorongnya lebih lebar dan masuk. Kakaknya
rupanya sibuk membuat tugas, kertas-kertas berserakan di mejanya sementara kakaknya
mengecek setiap isinya. Viko mendongak ketika ia datang.
“eh? Kenapa Ta?”
“nggakpapa. Lagi bengong aja,” jawabnya. “tugas buat kapan?”
“minggu depan. Tapi harus cepet diselesaiin, kalo nggak nanti numpuk tugasnya,” kata Viko
resah, menghela napas panjang.
“yaudah kerjain aja, aku gak mau ganggu,” kata Risa bijaksana lalu pandangannya tertuju pada
rak buku disebelahnya.
“kakak punya banyak bacaan ya, boleh pinjem gak?”
“ambil aja,” kata Viko sungguh-sungguh tanpa melihatnya, sibuk membaca kertas-kertas di
mejanya.
“trims,” kata Risa riang, mengambil beberapa buku lalu membacanya di atas tempat tidur Viko.
Risa membaca buku bacaan di kamar Viko sampai larut malam. Ia bahkan hendak membaca
seluruh buku di sana sekuatnya. Kakaknya menggeliat dan menguap. Kertas-kertas di mejanya
sudah dirumpuk rapi. Viko berjalan terhuyung ke tempat tidurnya.
“hoahmm.. belum selesai Ta?” tanya Viko. “nggak ngantuk?”
“biar kulanjutin besok deh,” kata Risa, buru-buru meraih buku bacaan yang berserakan di tempat
tidur kakaknya.
“capek nih. Badan pegel-pegel. Bisa mijitin gak?” tanya Viko penuh harap seraya meregangkan
tubuhya.
“pijat?? Kenapa gak suruh bik Ti aja?” tanya Risa heran lalu teringat. “oh iya ya, bik Ti kan udah
tidur. Boleh, boleh.”
“gitu dong,” sahut Viko senang. Ia merebahkan diri di kasurnya.
“mau dipijat kayak apa? Dipukul-pukul? Atau di diurut? Atau dibalsem?” tanya Risa mengharap
petunjuk.
“diinjak,” jawab Viko singkat saking lelahnya. Risa kaget, jawaban Viko diluar dugaannya. Risa
mengira kakaknya setengan bercanda.
“diinjak? Pakai kaki?” tanya Risa hati-hati.
“yaiyalah, masa nginjak pake tangan,” kata Viko tak sabar.
Mendengar perkataan mantap kakaknya , Risa tidak berani bertanya lagi. Ia dengan ragu-ragu
berdiri diatas tempat tidur lalu melangkahkan salah satu kakinya keatas punggung Viko.
“nggak berat?” tanya Risa khawatir.
“berat apaan? Badan kurus kering gitu. Yang bener mijatnya pake dua kaki dong, gak terasa
sama sekali nih,” kata Viko galak.
“bener ya?”
Ya udah, pikir Risa, gak usah sungkan-sungkan lagi kalo gitu. Risa berdiri diatas punggung Viko
sambil memindah-mindah letak kakinya. Tangannya kadang menumpu pada dinding kalau tidak
ia berusaha menyeimbangkan tubuhnya seperti pemain sirkus yang berjalan diatas tali. Heran,
kok bisa ya tahan diinjak kayak gini, batin Risa. Viko malah tampak nyaman. Sementara itu
Viko memberi aba-aba layaknya juru parkir kepada Risa, suaranya agak teredam.
“keatas, keatas. Agak kekiri. Ya disitu, yang lama,” perintahnya,
“geser lagi ebawah, terlalu bawah, agak ke atas, kanan-kanan.”
Ocehan Viko berlangsung selama dua puluh menit yang sangat melelahkan bagi Risa.
“sudah, sudah,” kata Viko akhirnya. Inilah yang ditunggu-tunggu Risa dari tadi. “makasih ya Ta.
Enak banget.”
“udah selesai?” kata Risa senang, beranjak turun dari tempat tidur, cepat-cepat memakai
sandalnya. “yaudah, aku mau tidur. Met malem.”
Risa berlari menghambur ke kamarnya, takut kalau-kalau dimintai tolong lagi. Sudah jam 1.00
pagi. Risa menghenyakkan dirinya dengan selimut tebal yang hangat.
“wah capeknya kakak nular ke aku nih,” gumamnya seraya menguap lebar.
Yak, inilah yang dibutuhkannya. Pikirannya sudah tidak segelisah sebelumnya sekarang.
Solusinya adalah menyibukkan diri sampai menguras tenaga kalau perlu.
“hoaahhm..”
Matanya berair karena ngantuk. Ia memadamkan lampu dan masuk ke dalam selimutnya, tak
lama kemudian tertidur lelap.
***
Tata rupanya senang bisa kembali ke rumah, membantu bik Ti membersihkan perabotan,
menyiram taman, sering memasak sarapan, membuatkan ayah kopi saat ayah sibuk di ruang
kerja, membuatkan mereka roti isi saat sedang bersantai menonton TV. Tata menolak
menghabiskan waktu dengan beristirahat dikamarnya, merasa gerah bila diperhatikan orangorang
rumah yang baginya terlalu berlebihan.
Selain itu, Tata bersikap seolah ia baru pertama kali meliht semua perabotan yang ada dirumah
itu. Adiknya kadang terlihat sedang mengagumi mulai dari vas bunga, lukisan di dinding,
peralatan dapur hingga pot bunga. Sering Tata tampak sibuk membaca kilat buku, majalah, koran
atau bacaan apapun yang ditemuinya, bahkan buku pelajarannya yang dulu. Kalau tidak ada hal
yang sedang dikerjakan, Tata akan menggeledah seluruh lemari yang ada, berharap menemuka
sesuatu yang baru, mulai dari lemari buku, lemari pakaan, lemari tempat menyimpan VCD
sampai lemari dapur yang menyimpan peralatan makan dan memasak yang tidak dipakai.
Herannya, Tata kelihatan sangat bersemangat.
Tata sangat ingin tahu tentang apa saja yang sedang ayah dan Viko. Kadang ia masuk ke ruang
kerja menemani ayah dan melihat apa yang sedang ditulis, dibaca, atau diketik oleh ayahnya.
Kadang ia melihat-lihat tugas-tugas yang dikerjakan Viko, memberi saran dan kritik disana sini
tapi menolak untuk membantunya mengerjakan tugas. Kalau keduanya tidak dirumah, Tata
berada disisi bik Ti yang bercerita tentang kampung halamannya dan masa mudanya,
mendengarkan dengan tertarik.
Menurut Viko, adiknya agak terlalu aktif. Ini merupakan pertanda baik tentang kesehatannya.
Namun, bukan berarti kemajuan adiknya ini tidak mempunyai sisi buruk. Semua kegiatan yang
dilakukan adiknya rupanya mewarisi kecerobohannya. Yang sering menjadi korban
ketidakberuntungan adalah Viko sendiri. Hal ini nampak dari serentetan kejadian.
Salah satunya adalah Viko yang tersandung selang penyiram air yang lupa digulung kembali oleh Tata, ia jatuh terjerembab dengan sebagian baju basah dan kotor. Ia buru-buru mengganti
pakaian dan hampir saja membuatnya telat masuk kuliah.
Viko merasa kecewa karena tidak biasanya seharian itu ia tidak menerima telepon dari cewekcewek kenalannya. Penyebabnya baru diketahui menjelang malam hari, Tata rupanya tidak
meletakkan gagang telepon dengan benar saat terakhir kali enerima telepon. Lalu pada hari minggu yang cerah, Viko baru bangun agak siang, begitu membuka pintu kamar
ia langsung disambut oleh Tata yang bersin hebat dengan mata terpejam tepat ke arahnya sambil memegang bulu-bulu pembersih dan lap di tangan yang lain. Tata buru-buru meminta maaf,
berkata bahwa ia menahan-nahan bersinnya dari tadi. Viko hanya bisa memberinya pandangan tanpa ekspresi karena sudah terbiasa dengan kejadian semacam ini.
Saat ayah mengeluarkan mobil dari garasi, ayah berpesan pada Tata untuk mengambilkan kacamatanya. Tata mengambil secepat mungkin tapi kacamata yang dimaksud tertukar dengan
kacamata yang kadang dipakainya bepergian, membuat adiknya kembali masuk rumah dan membawakan kacamata yang benar.
Sepulang dari mengajar, ayah membawa dua bungkus plastik besar makanan. Adiknya membuka lemari tempat kumpulan piring yang tidak terpakai, berniat mencari piring yang cukup besar
selagi ayah membuka bungkusnya. Sedangkan ia mengambil botol air minum dari dalam kulkas. Tiba-tiba Anita menjerit dan lari terbirit-birit, begitu melihat dirinya langsung melompat
kearahnya. Tangan Anita serasa mencekik lehernya. Kaki Anita nak ke sekeliling lututnya. Ia kesulitan menjaga keseimbangan, badan Anita berat sekali ternyata. Pemandangan itu lucu sekali
sebetulnya, ia seperti sedang menggendong simpanse. Dalam dekapannya, Anitamemekik ngeri,
memejamkan mat, menarik lehernya lebih kencang supaya tidak jatuh. Tebak! Serangkaian kejadian heboh itu disebabkan oleh seekor kecoak? Ayahnya tertawa-tawa geli sedangkan Bik Ti memukul-mukul kecoak itu dengan sapu. Kalau saja ia tidak mengenal adiknya, ia akan berpikir
adiknya berusaha membunuhnya.
Belum lagi saat mereka sedang bersantai diruang keluarga, ayah menonton acara kesukaanya, ia sedang belajar untuk ujian besok sedangkan Tata asyik membuat bintang kecil-kecil dari kertas
kado yang merupakan kegiatan rutinnya tiap malam. Terdengar bel berdering, Tata berkeras membukakan pintu namun rupanya kakinya kesemutan sehingga baru bergerak dua langkah langsung jatuh tersungkur, membuat ayah dan ia terlonjak kaget. Setelah memastikan Tata tidak apa-apa, Viko menggeleng-gelengkan kepalanya pasrah.
Setiap Viko mengajak adiknya makan diluar, ada-ada saja ulah Tata. Mulut Tata selalu belepotan, rupanya adiknya berusaha mengimbangi cara makannya yang cepat. Jika Viko tidak menhabiskan makannya atau menyisakan makanan yang tidak disukainya, Tata dengan senang
hati menghabiskannya. Pernah suatu kali Tata memotong daging steak-nya kelewat semangat sehigga membuat potongannya meluncur di meja.
Suatu ketika Tata lupa menutup panci tempatnya biasa membuat popcorn dan baru tersadar ketika terdengar letupan disertai butiran-butiran popcorn panas berloncatan ke segala jurusan di udara dari dalam panci. Viko sampai ikutan panik sambil menunduk, tiarap dan berlindung dibalik wajan kosong sembari menghindari letupan popcorn disana sini dalam usaha mereka mematikan kompor yang ternyata tidak semudah perkiraan. Viko lega akhirnya bisa terselamatkan dari bencana lokal hujan popcorn sedangkan adiknya rupanya tak kuasa menahan tawa teringat kekonyolan tadi, tertawa terbahak-bahak dan meledek tampang paniknya. Viko mendesak Tata untuk membersihkan kekacauan yang ia sebabkan karena butiran popcorn bertebaran di lantai dapur.
Selama seminggu penuh Bik Ti pulang kampung karena kakaknya sakit keras. Tata semenjak itu jadi lebih sibuk dari biasanya, hal yang dikerjakannya terhenti ditengah jalan karena melakukan hal lain yang mendesak. Suatu hari tata salah mengambil gelas yang masih ada busa sabunnya dan menuang susu kedelai ke dalamnya. Viko kehausan sepulang kuliah, melihat minuman tergeletak begitu saja di meja. Saat itu Tata mengembalikan botol susu kedelai ke kulkas. Viko spontan meminumnya dan merasakan susu kedelai rasa deterjen untuk pertama kalinya.


0 komentar:

Post a Comment

Copyright © 2015 Baca Online dan Seputar Blog
| Distributed By Gooyaabi Templates