December 06, 2015

Etika dan Perilaku Bisnis Islam

 PENDAHULUAN
A.           Latar belakang
Perkembangan tentang etika dan perilaku bisnis islam perlu diperhatikan. Tak dapat dipungkiri bahwa globalisasi telah membawa pengaruh besar terhadap bagaimana perilaku para pembisnis saat ini. Kemudian para ulama Islam merekontruksi bagaimana etika dan perilaku yang dianggap otentik berasal dari Islam.
Bisnis telah menjadi aspek penting dalam hidup manusia. Maka sangat wajar jika Islam memberi tuntunan dalam bidang usaha. Etika dalam perilaku bisnis islam mengajarkan bahwa dalam bisnis islam hendaknya setiap manusia menjunjung tinggi nilai nilai kejujuran, amanah, professional dan saling bekerja sama. Oleh karenanya, Islam sangat menekankan agar aktivitas bisnis tidak semata-mata sebagai alat pemuas keinginan tetapi menciptakan kehidupan seimbang disertai perilaku positif bukan destruktif.
                                             
B.            Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian dan macam-macam etika?
2.      Bagaimana konsep etika bisnis islam ?
3.      Apa pengertian perilaku?
4.      Bagaimana perilaku bisnis islam ?
5.      Bagaimana etika bisnis Nabi Muhammad SAW?
PEMBAHASAN
A.           Pengertian Etika dan Macam-Macam Etika
Etika berasal dari bahasa Latin “ethicus” dan dalam bahasa Yunani “ethos”, berarti “filsafat moral” atau “ilmu tentang moral” jamaknya “ta erha” dalam bahasa Inggris ditulis “ethic”, jamaknya “ethics”. Sedangkan, etika menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai: Pertama,  ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban.[1] Kedua, kumpulan asas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak. Ketiga, nilai mengenai benar dan salah yang dianut suatu golongan.[2]
Sedangkan, pengertian etika menurut beberapa ahli yaitu :
1.      Magnis Suseno berpendapat bahwa etika yaitu sebuah ilmu dan bukan sebuah ajaran. Hal ini yang memberi kita norma tentang bagaimana kita harus hidup adalah moralitas.
2.      Hamzah Ya’qub berpendapat bahwa etika yakni ilmu yang menyelidiki mana yang baik dan mana yang buruk dengan memperhatikan amal perbuatan manusia sejauh yang dapat diketahui oleh akal pikiran.
3.      Menurut burhanudin Salam, etika adalah suatu ilmu yang membicarakan masalah perbuatan atau tingkah laku manusia, mana yang dapat dinilai baik dan mana yang dapat dinilai jahat.
4.      Menurut kamus Webster dijelaskan bahwa etika adalah “the distinguishing character, sentiment, moral nature, or guiding beliefs of a person, group, or institution” (karakter istimewa, sentiment, tabiat, moral atau keyakinan yang membimbing seseorang, kelompok, maupun institusi).
Sedangkan, etika secara terminologis dapat diartikan sebagi “the systematic study of the nature of value concept, good, bad, ought, right, wrong, etc. and of general principles which justify us ini applying them to anything also called moral philosophy” (etika merupakan sebuah studi sistematis yang membahas tentang konsep nilai, baik, buruk, harus, benar, salah, prinsip-prinsip umum yang membenarkan kita untuk untuk mengaplikasikannya atas apa saja, juga bisa disebut juga sebagai filsafat moral. Ini artinya etika merupakan dasar moralitas seseorang dalam melakukan hal apapun. Ia akan disebut sebagai orang yang baik manakala etika yang digunakan adalah baik, sebaliknya jika ia melakukan sesuatu yang buruk, jelek, salah maka ia akan disebut sebagai orang yang tidak mempunyai moral. Karena pada prinsipnya moralitas seseorang merupakan kunci untuk melakukan tindakan yang sifatnya baik. [3]
Adapun macam-macam etika, antara lain:
a.       Etika Deskriptif
Etika deskriptif adalah etika yang menelaah secara kritis dan rasional tentang sikap dan perilaku manusia, serta apa yang dikejar oleh setiap orang dalam hidupnya sebagai sesuatu yang bernilai. Artinya etika deskriptif tersebut berbicara mengenai fakta secara apa adanya, yakni mengenai nilai dan perilaku manusia sebagai suatu fakta yang terkait dengan situasi dan realitas yang membudaya. Dapat disimpulkan bahwa tentang kenyataan dalam enghayatan nilai atau tanpa nilai dalam suatu masyrakat yang dikaitkan dengan kondisi tertentu memungkinkan manusia dapat bertindak secara etis.
b.      Etika Normatif
Etika yang menetapkan berbagai sikap dan perilkau yang ideal dan seharusnya dimiliki oleh manusia atau apa yang seharusnya dijalankan oleh manusia dan tindakan apa yang bernilai dalam hidup ini. Jadi etika normative merupakan norma-norma yang dapat menuntun agar manusia bertindak secra baik dan menghindarkan hal-hal yang buruk, sesuai dengan kaidah atau norma yang dispakati dan berlaku di masyarakat.[4]

       B.     Konsep Etika Bisnis Islam
Berikut ini ada 5 konsep umum etika berbisnis dalam Islam.
1.      Kesatuan (Unity/Tauhid)
Dalam hal ini adalah kesatuan sebagaimana tercermin dalam konsep tauhid yang memadukan keseluruhan aspek-aspek kehidupan muslim baik dalam bidang ekonomi, politik, sosial menjadi keseluruhan yang homogen, serta mementingkan konsep konsistensi dan keteraturan yang menyeluruh.
Dari konsep ini maka islam menawarkan keterpaduan agama, ekonomi, dan sosial demi membentuk kesatuan. Atas dasar pandangan ini pula maka etika dan bisnis menjadi terpadu, vertikal maupun horisontal, membentuk suatu persamaan yang sangat penting dalam sistem Islam.
2.    Keseimbangan (Equilibrium/Adil)
Islam sangat mengajurkan untuk berbuat adil dalam berbisnis, dan melarang berbuat curang atau berlaku dzalim. Rasulullah diutus Allah untuk membangun keadilan. Kecelakaan besar bagi orang yang berbuat curang, yaitu orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain meminta untuk dipenuhi, sementara kalau menakar atau menimbang untuk orang selalu dikurangi.
Kecurangan dalam berbisnis pertanda kehancuran bisnis tersebut, karena kunci keberhasilan bisnis adalah kepercayaan. Al-Qur’an memerintahkan kepada kaum muslimin untuk menimbang dan mengukur dengan cara yang benar dan jangan sampai melakukan kecurangan dalam bentuk pengurangan takaran dan timbangan.
“Dan sempurnakanlah takaran apabila kamu menakar, dan timbanglah dengan neraca yang benar. Itulah yang lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya,” (Q.S. al-Isra’: 35).[5]
Dalam beraktivitas di dunia kerja dan bisnis, Islam mengharuskan untuk berbuat adil,tak terkecuali pada pihak yang tidak disukai. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam Surat Al-Maidah ayat 8 yang artinya: “Hai orang-orang beriman,hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah SWT,menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-sekali kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah karena adil lebih dekat dengan takwa.”[6]
3.    Kehendak Bebas (FreeWill)
Kebebasan merupakan bagian penting dalam nilai etika bisnis islam, tetapi kebebasan itu tidak merugikan kepentingan kolektif. Kepentingan individu dibuka lebar. Tidak adanya batasan pendapatan bagi seseorang mendorong manusia untuk aktif berkarya dan bekerja dengan segala potensi yang dimilikinya.
Kecenderungan manusia untuk terus menerus memenuhi kebutuhan pribadinya yang tak terbatas dikendalikan dengan adanya kewajiban setiap individu terhadap masyarakatnya melalui zakat, infak dan sedekah.
4.   Tanggungjawab (Responsibility)
Kebebasan tanpa batas adalah suatu hal yang mustahil dilakukan oleh manusia karena tidak menuntut adanya pertanggungjawaban. Untuk memenuhi tuntunan keadilan dan kesatuan, manusia perlu mempertaggungjawabkan tindakanya secara logis.Prinsip ini berhubungan erat dengan kehendak bebas. Ia menetapkan batasan mengenai apa yang bebas dilakukan oleh manusia dengan bertanggungjawab atas semua yang dilakukannya.
5.      Kebenaran, Kebajikan dan Kejujuran
Kebenaran dalam konteks ini selain mengandung makna kebenaran lawan dari kesalahan, mengandung pula dua unsur yaitu kebajikan dan kejujuran. Dalam konteks bisnis kebenaran dimaksudkan sebagia niat, sikap dan perilaku benar yang meliputi proses akad (transaksi) proses mencari atau memperoleh komoditas pengembangan maupun dalam proses upaya meraih atau menetapkan keuntungan.
Dengan prinsip kebenaran ini maka etika bisnis Islam sangat menjaga dan berlaku preventif terhadap kemungkinan adanya kerugian salah satu pihak yang melakukan transaksi, kerjasama atau perjanjian dalam bisnis.[7]

           C.    Pengertian Perilaku
Pengertian perilaku organisasi menurut beberapa ahli yakni:
1.        Menurut Ensiklopedi Amerika, perilaku diartikan sebagai suatu aksi dan reaksi organisme terhadap lingkungannya, hal ini berarti bahwa perilaku baru akan terwujud bila ada sesuatu yang diperlukan untuk menimbulkan tanggapan yang disebut rangsangan, dengan demikian maka suatu rangsangan tertentu akan menghasilkan perilaku tertentu pula.
2.        Robert Y. Kwick (1972) menyatakan bahwa perilaku adalah tindakan atau perbuatan suatu organisme yang dapat diamati dan bahkan dipelajari.
3.        Menurut Skinner, seperti yang dikutip oleh Notoatmodjo (2003), merumuskan bahwa perilaku merupakan respon atau reaksi seseorang terhadap stimulus atau rangsangan dari luar. Oleh karena perilaku ini terjadi melalui proses adanya stimulus terhadap organisme, dan kemudian organisme tersebut merespons, maka teori Skinner ini disebut teori “S-O-R” atau Stimulus – Organisme – Respon.[8]

D.    Perilaku Bisnis Islam
1.       Sikap yang harus ada pada pebisnis syariah
a)          Bertanggung jawab
b)        Mandiri
c)        Kreatif
d)       Selalu optimis dan tidak mudah putus asa
e)        Jujur dan dapat dipercaya
f)         Sabar dan tidak panik dalam menghadapi kegagalan
2.      Mengindari 4 penyakit hati
a)        Berburuk sangka (su’uzhan)
b)        Menjelek – jelekan (ghibah)
c)        Mengadu domba atau namimah
d)       Memata-matai atau tajassus
3.      Sikap professional yang harus tercermin
a)        Jujur dan tidak curang
b)        Menentukan harga atau rate secara adil
c)        Berperilaku baik dan simpatik
d)       Bersikap adil terhadap stakeholders.
e)        Bersikap melayani dan mempermudah.
f)         Bersaing secara sehat atau fastabiqul khairat
g)        Mendahulukan sikap tolong menolong atau taawun
h)        Terpercaya atau amanah.
i)          Bekerja secara professional
j)          Saling menghormati dan tidak berburuk sangka.
k)        Senang memberi hadiah
l)          Sabar dalam mengadapi customer dan competitor
4.      Hal hal yang harus dihindari para pembisnis syariah
a)        Tidak adil dalam penentuan tarif
b)        Melakukan transaksi terhadap produk yang mengandung unsur maisir, gharar, dan riba.
c)        Transaksi tadlis
d)       Khianat atu tidak menepati janji
e)        Menimbun barang untuk menaikkan harga
f)         Menjual barang hasil curian dan korupsi
g)        Sering melakukan sumpah palsu atau berkata dusta
h)        Melakukan penekanan dan pemaksaan terhadap pelanggan
i)          Mempermainkan harga
j)          Mematikan pedagang kecil
k)        Melakukan suap atau mogok untuk melancarkan kegiatan bisnis
l)          Melakukan tindakan korupsi ataupun money laundry[9]

E.                 Etika Bisnis Nabi Muhammad SAW
Etika bisnis yang sesuai syariah ialah berlandaskan iman kepada Allah dan Rasul-Nya atau menjalankan segala perintah Allah dan Rasul-Nya serta menjauhi segala larangan Allah dan Rasul-Nya. Dengan demikian perilaku dalam bisnis hendaknya sesuai dengan yang dianjurkan oleh Allah dan Rasul-Nya, menghindari yang dilarang Allah dan Rasul-Nya serta menjauhi produk yang dilarang Allah dan Rasul-Nya. Strategi bisnis yang sesuai syariah adalah berupaya dengan sungguh-sungguh di jalan Allah dengan megelola sumberdaya secara optimal untuk mencapai tujuan yang terbaik di sisi Allah, baik di dunia maupun di akhirat. Sedangkan tujuan bisnis yang sesuai syariah adalah mendapat keuntungan yang besar baik di dunia maupun di akhirat. Etika bisnis Nabi Muhammad SAW meliputi perilaku bisnis yang diperbolehkan Allah dan Rasul-Nya, perilaku bisnis yang dilarang, dan produk yang dilarang Allah dan Rasul-Nya.[10]
Adapun perilaku bisnis yang dianjurkan ialah:
1.      Menggunakan niat yang tulus
2.      Al-Qur’an dan Hadits sebagai pedoman
3.      Meneladani Akhlak Rasulullah SAW
4.      Melakukan jual-beli yang halal
5.      Melaksanakan keadilan
6.      Melaksanakan kejujuran
7.      Menepati janji
8.      Menunaikan hak
9.      Menuliskan muamalah yang tidak tunai
10.  Menggunakan barang tanggungan
11.  Menggunakan persetujuan kedua belah pihak
12.  Bertawakal kepada Allah
Adapun beberapa perilaku bisnis yang dilarang yakni:[11]
1.    Riba
2.    Melakukan penipuan
3.    Mengambil secara batil
4.    Berlaku curang dan merugikan
5.    Menggunakan sumpah palsu
6.    Menyerahkan bisnis pada orang yang belum mampu
7.    Melakukan penimbunan.


[1]Anonim, Etika, http://kbbi.web.id/etika, diakses pada tanggal 20 Oktober 2015 pukul 18:45 WIB.
[2]Nashruddin Baidan dan Erwati aziz, Etika Islam dalam Berbisnis, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2014),  hlm. 1-2.
[3] Johan Arifin, Etika Bisnis Islami, (Semarang: Walisongo Press, 2009), hlm. 54.
[4] Johan Arifin, Etika Bisnis Islami, (Semarang: Walisongo Press, 2009), hlm.  62.
[5]Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya Special for Woman, (Bogor: SYGMA EXAMEDIA ARKANLEEMA, 2012), hlm. 287.
[6] Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya Special for Woman, (Bogor: SYGMA EXAMEDIA ARKANLEEMA, 2012), hlm. 108.
[7]Andre Susanto, Makalah tentang Etika Bisnis Syariah, http://terombangambing.blogspot.co.id/ 2014/09/makalah-tentang-etika-bisnis-syariah.html,  diakses pada tanggal 20 Oktober 2015 pukul 19:20 WIB.
[8]Anonim, Definisi Pengertian Perilaku Menurut Ahli, http://www.definisi pengertian.com/2015/07/definisi-pengertian-perilaku-menurut-ahli.html, diakses pada tanggal 23 Oktober 2015 pukul 15:13 WIB.
[9]Andre Susanto, Makalah tentang Etika Bisnis Syariah, http://terombangambing. blogspot.co.id/2014/09/makalah-tentang-etika-bisnis-syariah.html, diakses pada tanggal 20 Oktober 2015 pukul 19:20 WIB.
[10]M. Suyanto, Muhammad Business Strategy & Ethics (Etika dan Strategi Bisnis Nabi Muhammad SAW), (Yogyakarta: C.V ANDI OFFSET, 2008), hlm.183.
[11] M. Suyanto, Muhammad Business Strategy & Ethics (Etika dan Strategi Bisnis Nabi Muhammad SAW), (Yogyakarta: C.V ANDI OFFSET, 2008), hlm. 199.

1 comment:

Copyright © 2015 Baca Online dan Seputar Blog
| Distributed By Gooyaabi Templates