December 30, 2015

Akhlak Baik

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Kehadiran agama islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad yang diyakini bisa menjamin terwujudnya kehidupan manusia yang sejahtera lahir dan batin. Didalam nya terdapat berbagai petunjuk tentang bagaimana manusia itu menyikapi kehidupan ini secara lebih bermakna.
Kesempurnaan akhlaq bisa dicapai melalui dua jalan. Pertama melalui karunia Tuhan yang menciptakan manusia dengan fitrah nya yang sempurna. Kedua melalui cara berjuang secara bersungguh-sungguh (mujahadah) dan latihan (riyadhoh) ialah membiasakan diri melakukan akhlaq-akhlaq mulia.
Akhlaq yang baik selalu membuat seseorang menjadi aman,tenang.dan tidak adanya perbuatan yang tercela. Nabi Muhammad memiliki akhlaq yang agung dan dijadikan suri tauladan dalam berakhlaq yang baik. Untuk itu pada bab ini akan dibahas tentang akhlaq baik.
B.     Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian akhlaq baik?
2.      Bagaimanakah akhlaq baik menurut ajaran Islam?
3.      Apa saja hal-hal yang termasuk dalam akhlaq baik?

PEMBAHASAN

1.      Pengertian Akhlak Baik
Dari sudut kebahasaan, akhlak berasal dari bahasa Arab, yaitu isim mashdar (bentuk infinitif) dari kata akhlaqa, yukhliqu, ikhlaqon, sesuai dengan timbangan (wazan) tsulasi majid af’ala,yuf’ilu if’lan yang berarti al-sajiyah (perangai), ath-thabi’ah (kelakuan,tabi’at,watak dasar), al-‘adat (kebiasaan, kelaziman), al-maru’ah (peradaban yang baik), dan al-din (agama).[1] Jadi secara bahasa akhlaq atau khuluq memiliki arti budi pekerti,adat kebiasaan,perangai,muru’ah,atau segala sesuatu yang sudah menjadi tabi’at.
Setelah kita mengetahui arti akhlaq menurut bahasa, berikut ini akan dijelaskan pengertian akhlaq menurut para ahli:[2]
1.      Ibn Miskawih (w.421 H/1030 M)
Beliau terkenal sebagai pakar bidang akhlaq terkemuka dan terdahulu. Beliau berpendapat bahwa akhlaq adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang mendorong untuk melakukan perbuatan tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.[3]
2.      Imam al-Ghazali (1059-1111 M.)
Beliau terkenal  sebagai Hujjatul Islam (Pembela Islam), hal ini dikarenakan beliau piawai dalam membela islam dari berbagai paham yang dianggap menyesatkan. Beliau berpendapat bahwa akhlaq adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan macam-macam perbuatan dengan gampang dan mudah,tanpa memerluksn pemikiran dan pertimbangan.[4]
3.      Ibrahim Anis
Akhlaq adalah sifat yang tertanam dalam jiwa,yang dengannya lahirlah macam-macam perbuatan,baik atau buruk,tanpa membutuhkan pemikiran dan pertimbangan.[5]
Dari definisi-definisi diatas kita dapat melihat lima ciri yang terlihat dari akhlaq yaitu:[6]
1.      Perbuatan akhlaq adalah perbuatan yang telah tertanam kuat dalam jiwa seseorang, sehingga telah menjadi kepribadiannya.
2.      Perbuatan akhlak adalah perbuatan yang dilakukan dengan mudah dan tanpa pemikiran.
3.      Perbuatan akhlaq adalah perbuatan yang timbul dari dalam diri orang yang mengerjakannya,tanpa ada paksaan atau tekanan dari luar.
4.      Perbuatan akhlaq adalah perbuatan yang dilakukan dengan sungguh-sungguh,bukan main-main atau karena bersandiwara.
5.      Perbuatan akhlaq (khususnya akhlaq baik) adalah perbuatan yang dilakukan karena ikhlas semata-mata karena Allah, bukan karena ingin dipuji orang atau karena ingin mendapatkan sesuatu pujian.
Setelah kita mengetahui pengertian akhlaq, selanjutnya akan dibahas pengertian baik.Dari segi bahasa baik adalah terjemah dari kata khair dalam bahasa arab, atau good dalam bahasa inggris. Louis ma’luf dalam kitabnya, mengatakan bahwa baik adalah sesuatu yang telah mencapai kesempurnaan. Sementara itu dalam Webster’s New Twentienth Century Dictionary,dikatakan bahwa baik adalah sesuatu yang menimbulkan rasa keharuan dalam kepuasan, kesenangan, persesuaian, dan seterusnya. Dan ada juga yang berpendapat yang mengatakan bahwa secara umum yang disebut baik atau kebaikan adalah sesuatu yang diinginkan, yang diusahakan dan menjadi tujuan manusia.[7]
Dari beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksut baik adalah memusat dan menguntungkan dan membahagiakan sesorang, pengertian di atas tidak ada salahnya karna secara fitrah manusia menyukai  sesuatu yang menyenangkan, menguntungkan, membahagiakan dirinya sendiri.
Pribadi yang baik adalah yang mengetahui kebenaran dan berpegang kepadanya serta mengikuti tuntunan keutamaan dan cinta pada kemuliaan . dengan demikian bisa terpelihara keduanya dalam pembicaraan seorang dengan dirinya dan dengan orang lain. Itulah  jalan mencari kesempurnaan yang baik dan mengungguli pada lain-lainnya dalam hidup dan kehidupannya.
 Jadi dapat disimpulkan bahwa akhalq baik adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang menjadi suatu kepribadian yang menguntungkan bagi diri nya sendiri maupun bagi orang lain.
2.      Akhlaq Baik Menurut jaran Islam
Jika kita perhatikan di dalam al-Qur’an dan hadits dapat dijumpai berbagai istilah yang mengacu kepada baik. Diantara istilah yang mengacu pada baik misalnya al-hasanah, thayyibah, khairah, karimah, mahmudah, azizah, dan al-birr.[8]
Al-hasanah sebagai mana diungkpkan oleh al-Raghib al-Asfahani adalah suatu istilah yang digunakan utuk menunjukan sesuatu yang disukai atau dipandang baik. Al-Hasannah dibagi menjadi taiga bagian. Pertama hasanah dari segi akal, kedua dari segi hawa nafsu/ keinginan dan hasanah dari segi panca indra.
Adapun kata al-thayyibah khusus digunakan untuk menggambarkan sesuatu yang memberikan kelezatan kepada panca indera dan jiwa. Seperti  makanan, pakaian,tempat tinggal dan sebagainya.
Selanjutnya kata al-khair  digunakan untuuk menunjukkan sesuatu yang baik untuk seluruh umat manusia, seperti ber akal, adil, keutamaaan dan segala sesuatu yang bermanfaat.
Adapun kata al-mahmudah digunakkan untuk menunjukkan sesuatu yang utama sebagai akibat dari melakukan sesuatu yang disukai oleh Allah. Dengan demikian kata al-mahmudah lebih menunjukkan pada kebaikan yang bersifat batin dan spiritual.
Selanjutnya kata al-karimah digunakan untuk menunjukkan pada perbuatan dan akhlak yang terpuji yang ditampakkan dalam kenyataan hidup sehari-hari. Kata al-karimah juga digunakan untuk menunjukkan perbuatan terpuji yang skalanya besar.
Kata al-birr digunakan untuk menunjukkan upaya untuk memperluas atau memperbanyak melakukan perbuatan yang baik. Kata tersebut sering digunakan  untuk sifat Allah dan kadang juga untuk sifat manusia.
Untuk menghasilkan kebaikan yang bermanfaat bagi fisik, akal, rohani, jiwa islam yang memberikan tolok ukur yang jelas,yaitu selama perbuatan yang dilakukan itu ditujukan untuk mendapatkan keridloan Allah yang dalam pelaksaannya dilakukan dengan ikhlas. Perbuatan dalam Islam baru dikatakan baik apabila perbuatan yang dilakukan dengan sebenarnya dan dengan kehendak sendiri itu dilakukan atas dasar ikhlas karena Allah.
Selanjutnya dalam menentukan perbuatan yang baik, Islam memperhatikan kriteria lainnya yaitu dari segi cara melakukan perbutan itu. Seseorang yang berniat baik,tapi dalam melakukannya menempuh cara yang salah,maka perbuatan tersebut dipandang tercela.
Perbuatan yang dianggap baik menurut Islam adalah perbuatan yang sesuai dengan petunjuk al-Qur’an dan as-Sunnah. Taat kepada Allah dan Rosul nya,berbakti kepada orang tua,saling mendo’akan dalam kebaikan,menepati janji,menyayangi anak yatim,jujur,amanah,sabar,ridho,ikhlas,adalah perbuatan yang baik karena sesuai dengah petunjuk al-Qur’an.


3.      Hal-hal yang Termasuk dalam Akhlaq Baik
Para ahli akhlaq dan tasawuf menyebutkan bahwa hal-hal yang berkaitan dengan akhlaq baik antara lain adalah:
a.        Al-Amanah
Al-amanah menurut bahasa adalah kesetiaan.ketulusan hati, kepercayaan (tsisqah) atau kejujuran. Yang dimaksud amanah disini adalah suatu sifat dan sikap pribadi yang setia,tulus hati dan jujur dalam melaksanakan sesuatu yang dipercayakan kepadanya. Pelaksanaan amanat dengan baik disebut “al-Amin” yang berarti:yang dapat dipercaya,yang jujur,yang aman.[9]
Kewajiban memiliki sifat dan sikap al-Amanah ini dilandaskan oleh Allah dalam al-Qur’an surat an-Nisa:58 yang kurang lebih arti ny sebagai berikut:
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menunaikan amanah kepada yang ber hak.”. (Q.S.4 an-Nisa:58).[10]
b.      Benar (ash-Shidqah)
Ash-shidqah memiliki arti benar,jujur. Yang dimaksud disini adalah  berlaku benar dan jujur baik dalam perkataan maupun perbuatan. Kewajiban bersikap dan bersifat ini diperintahkan oleh Allah dalam al-Qur’an dalam surat at-Taubah:119,yang kurang lebih artinya sebagai berikut:[11]
“ Hai sekalian yang beriman,berbaktilah kepada Allah dan jadilah kamu termasuk orang-orang yang benar.” (Q.S.9 at-Taubah:119)
c.       Menetapi Janji (al-Wafa)
Sebagai rangkaian dari sikap amanah dan benar tersebut diatas adalah al-Wafa’ sebagai mana dinyatakan dalam al-Qur’an, yang kurang lebih artinya sebagai berikut:[12]
“ Di antara orang yang beriman ada beberapa orang yang menepati apa yang telah dijanjikan kepada Allah.” (Q.S. 33 al-Ahzab:32).
d.       Keadilan (al-Adl)
Prinsip keadilan ditegaskan dalam al-Qur’an, yang kurang lebih artinya:
“ Sesungguhnya Allah memerintah (manusia) berlaku adil dan kebaikan. (Q.S. an-Nahl:90)
Sikap dan sifat adil ada dua macam yaitu adil yang berhubungan dengan perseorangan dan adil adil yang berhubungan dengan kemasyarakatan dan pemerintahan. Adil perseorangan ialah tindakan member hak kepada yang mempunyai hak. Sedangkan adil dalam segi kemasyarakatan dan pemerintahan misalnya seorang hakim yang menghukum orang jahat sesuai dengan neraca keadilan.
Untuk menegakkan neraca keadilan maka dibutuhkan beberapa faktor yaitu:[13]
1.      Tenang dalam mengambil keputusan
2.      Memperluas pandangan dan melihat soalnya secara obyektif.
Keadilan adalah sendi kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat. Oleh sebab itu jika prinsip keadilan ini ditegakkan,maka akan terwujud lah kesejahteraan dan keamanan.
e.       Memelihara Kesucian Diri (al-‘Ifafah)
Al-Ifafah (memelihara kesucian diri) termasuk dalam rangkaian fadhillah atau akhlaqulkarimah yang dituntut dalam ajaran Islam. Menjaga diri dari segala keburukan dan memelihara kehormatan hendak lah dilakukan setiap waktu. Dengan penjagaan diri secara ketat,maka dapatlah diri dipertahankan untuk selalu berada pada ststus kesucian. Salah satu contoh memelihara kesucian diri adalah memelihara hati (qolbu). Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam al-Qur’an surat as-Syams:9,yang kurang lebih artinya:
“ berbahagialah orang yang membersihkan jiwa nya.” (Q.S.91 as-Syams:9)
f.       Malu (al-Haya’)
Sebagai rangkaian dari sifat dan sikap al-ifafah ialah al-haya’(malu). Yang dimaksud disini ialah malu terhadap Allah dan malu kepada diri sendiri dikala  akan melanggar peraturan-peraturan Allah. Perasaan ini dapat menjadi pembimbing kepada jalan keselamatan dan mencegah dari perbuatan nista. Rosullulah Saw dalam salah satu hadits nya menandaskan bahwa :
 “Iiman itu mempunyai enam puluh cabang, sedangkan malu adalah salah satu cabang dari pada iman.” (muttafaqun alaih).[14]
g.       Keberanian (as-Syaja’ah)
Syaja’ah atau sifat berani termasuk sebagai fadhillah dalam akhlaq. Syaja’ah bukanlah semata-mata keberanian berkelahi dimedan laga,melainkan suatu sikap mental dimana seseorang dapat menguasai jiwa nya dan berbuat menurut semestinya. Orang yang dapat menguasai jiwa nya pada masa-masa kritis ketika bahaya diambang pintu, itulah yang disebut orang berani.[15]
h.      Kekuatan (al-Quwwah)
Al-Quwwah(sifat kuat) atau izzatunnafs (jiwa kuat) termasuk dalam rangkaian fadhillah. Kekuatan pribadi manusia dapat dibagi menjadi tiga bagian,yaitu:[16]
1.      Kekutan fisik atau kekuaan jasmaniah yang meliputi otot.
2.      Kekuatan jiwa atau semangat
3.      Kekuatan akal pikran atau kecerdasa.
Sikap kuat termasuk dalam fadlilah dan sebaliknya dilarang bersikap lemah karena dengan kekuatan itu lah seorang mukmin akan bekerja lebih banyak dan lebih produktif, sedangkan orang-orang yang lemah tidak dapat diharapkan berbuat apa-apa untuk kemajuan dan perkembangan.


i.        Kesabaran (as-Shabar)
Ada peribahasa yang menyatakan bahwa kesabaran itu pahit laksana jadam,namun akibat nya lebih manis daripada madu. Ungkapan tersebut menunjukkan hikmah kesabaran sebagai fadlilah.[17]
Kesabaran dapat dibagi menjadi dua kategori:
1.      Kesabaran ketika ditimpa musibah (tabah)
2.      Kesabaran dalam mengerjakan sesuatu (rajin,tekun.istiqomah)
Kesabaran itu tidak dapat dipaksakan begitu saja dalam pribadi seseorang, melainkan ada beberapa faktornya:
1.      Syaja’ah (keberanian)
2.      Al-quwwah (kekuatan)
3.      Kesadaran dan pengetahuan
Manfaat kesabaran dapat dinikmati setelah orang lulus dari suatu ujian, dengan memperoleh kemenangan. Manfaat dari kesabaran itu sendiri antara lain:
1.      Mempeoleh rahmad dan kegembiraan
2.      Memperoleh pertolongan dan kemenangan
3.      Memperoleh kesenangan dan kebahagiaan
j.        Kasih Sayang (ar-Rahmah)
Pada dasar nya sifat kasih sayang (ar-rahmah) adalah fitrah yang dianugrahkan Allah kepada berbagai makluk. Akan tetapi naluri kasih sayang ini dapat tertutup jika terdapat hambatan-hambatan misal nya karena pertengkaran,permusuhan,kerakusan,kedengkian,dll. Islam enghendaki agar kasih sayang dan sifat belas kasih dikembangkan secara wajar.[18]


k.      Hemat (al-Iqtishad)
Salah satu factor yang menyebabkan manusia banyak menderita kerugian adalah pemborosan, yang meliputi: pemborisan harta benda,pemborosan tenaga dan pemborosan waktu. Sebalik nya beruntungla manusia yang memiliki sikap dan sifat hemat (al-iqtishad) dalam segala-gala nya,yang segala langkah nya diukur berdasarkan garis-garis ketentuan syara’. Yang dimasuk dengan hemat (al-iqtishad) adalah enggunakan segala sesuatu yang tersedia berupa harta benda,waktu dan tenaga menurut ukuran keperluan,mengambil jalan tengah,tidak kurang dan tidak berlebihan.[19]





PENUTUP
a.       kesimpulan
Dari uraian diatas kita dapat megambil kesimpulan bahwa akhlaq baik adalah sifat yang tertanam kuat dalam diri manusia yang kemudian menjadi suatu kepribadian,kepribadian tersebut kemudian bermanfaat bagi diri nya sendiri maupun bagi orang lain yang berada disekelilingnya.
 Menurut ajaran Islam banyak sekali istilah akhlaq baik,diantara istilah yang mengacu pada baik misalnya al-hasanah, thayyibah, khairah, karimah, mahmudah, azizah, dan al-birr.
Hal-hal yang berkaitan dengah akhlaq baik diantara nya adalah al-amanah, ash-shidqah, al-wafa’, al-adl, al-‘ifafah, al-haya’, as-syaja’ah,al-quwwah’ as-shabar, ar-rahmah’, dan al-iqtishad.
b.      Saran
Demikianlah makalah ini kami sampaikan. Pemakalah menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kriteria sempurna. Untuk itu pemakalah mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk dijadikan bahan pertimbangan dalam pembuatan makalah yang selanjutnya. Semoga bermanfaat bagi kita semua. Aamin...

DAFTAR PUSTAKA
Al-Ghazali, Imam Ihya ‘Ulum ad-Din,Jilid III, (Beirut: Dar al-Fikr,t.t.).
Anis, Ibrahim,al-Mu’jam al-Wasith, (Mesir:Dar al-Ma’arif,1972)
Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka,1991)
Ma’ruf, Louis,dkk , (Beirut: al-Msktabah al-Katulikiyah,t.t).
Miskawih, Ibn, Tahzib al-Akhlaq wa Tathhir al-A’raq ( Mesir:al-Mathba’ah al-Mishriyah,1934).
Nata,Abuddin.Akhlak Tasawuf.2012. Jakarta:PT.Raja Grafindo Persada
Shaliba, jamil, al-Mu’jam al-Falsafi,Juz 1, (Mesir:Dar al-Kitabah al-Mishri, 1978).
Ya’qub,Hamzah.Etika Islam Pembinaan Akhlaqul Karimah( Suatu Pengantar).1988. Bandung:CV.Diponegoro




[1] Jamil Shaliba,al-Mu’jam al-Falsafi,Juz 1, (Mesir:Dar al-Kitabah al-Mishri, 1978), hlm.539. Lihat pula Luis Ma’luf, Kamus al-Munjid, (Beirut:al-Maktabah al-Katulikiyah,t.t.), hlm.194:Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka,1991),hlm.19.
[2] Abuddin Nata,Akhlak Tasawuf, (Jakarta:Rajawali Pers,2012), hlm.3-4.
[3] Ibn Miskawih, Tahzib al-Akhlaq wa Tathhir al-A’raq ( Mesir:al-Mathba’ah al-Mishriyah,1934), cet.I, hlm.40.
[4] Imam al-Ghazali,Ihya ‘Ulum ad-Din,Jilid III, (Beirut: Dar al-Fikr,t.t.),hlm.56.
[5] Ibrahim Anis,al-Mu’jam al-Wasith, (Mesir:Dar al-Ma’arif,1972), hlm.202.
[6] Abuddin Nata,Akhlak Tasawuf, (Jakarta:Rajawali Pers,2012), hlm.4-7.
[7] Louis Ma’ruf,Munjid, (Beirut: al-Msktabah al-Katulikiyah,t.t),hlm.198.
[8] Abuddin Nata,Akhlak Tasawuf, (Jakarta:Rajawali Pers,2012), hlm.120-123.
[9] Hamzah Ya’qub, Etika Islam Pembinaan Akhlaqulkarimah (Suatu Pengantar), (Bandung:CV.Diponegoro,1988) hlm.98.
[10] Hamzah Ya’qub, Etika Islam Pembinaan Akhlaqulkarimah (Suatu Pengantar), (Bandung:CV.Diponegoro,1988) hlm.99.
[11] Hamzah Ya’qub, Etika Islam Pembinaan Akhlaqulkarimah (Suatu Pengantar), (Bandung:CV.Diponegoro,1988) hlm.102.
[12]Hamzah Ya’qub, Etika Islam Pembinaan Akhlaqulkarimah (Suatu Pengantar), (Bandung:CV.Diponegoro,1988) hlm104-105.
[13] Hamzah Ya’qub, Etika Islam Pembinaan Akhlaqulkarimah (Suatu Pengantar), (Bandung:CV.Diponegoro,1988) hlm106-107.
[14] Hamzah Ya’qub, Etika Islam Pembinaan Akhlaqulkarimah (Suatu Pengantar), (Bandung:CV.Diponegoro,1988) hlm.110
[15] Hamzah Ya’qub, Etika Islam Pembinaan Akhlaqulkarimah (Suatu Pengantar), (Bandung:CV.Diponegoro,1988) hlm.111
[16] Hamzah Ya’qub, Etika Islam Pembinaan Akhlaqulkarimah (Suatu Pengantar), (Bandung:CV.Diponegoro,1988) hlm.116-117
[17] Hamzah Ya’qub, Etika Islam Pembinaan Akhlaqulkarimah (Suatu Pengantar), (Bandung:CV.Diponegoro,1988) hlm.120-121.
[18] Hamzah Ya’qub, Etika Islam Pembinaan Akhlaqulkarimah (Suatu Pengantar), (Bandung:CV.Diponegoro,1988) hlm.123/
[19] Hamzah Ya’qub, Etika Islam Pembinaan Akhlaqulkarimah (Suatu Pengantar), (Bandung:CV.Diponegoro,1988) hlm.128-129.

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © 2015 Baca Online dan Seputar Blog
| Distributed By Gooyaabi Templates