June 20, 2015

The Hunger Games indonesia bagian 13

Hal pertama yang terlintas dalam benakku adalah bergegas turun dari pohon, tapi aku terikat di atas dengan ikat pinggangku. Entah bagaimana jari-jariku berhasil melepaskan gesper ikat pinggang dan aku terjatuh ke tanah dalam keadaan terbungkus kantong tidur. Tidak ada waktu untuk berkemas. Untungnya ransel dan botol airku sudah ada dalam kantong tidur. Aku mendesakkan ikat pinggang ke dalam ransel, menyautkan ransel ke bahuku, dan kabur.
Dunia di sekitarku berubah menjadi asap dan api. Dahan-dahan pohon yang terbakar memetikkan  api,  menimbulkan  hujan  api  yang  jatuh  ke  kakiku.  Yang  bisa  kulakukan adalah mengikuti yang lainnya, kelinci-kelinci dan rusa, bahkan aku sempat melihat sekawanan  anjing  liar  berlari  menembus  hutan.  Aku  memercayai  perhitungan  arah mereka karena insting mereka lebih tajam daripada instingku. Tapi mereka jauh lebih
cepat, melesat di antara sesemakan dengan anggun sementara sepatu botku tersandung
akar pohon dan batang-batang pohon yang tumbang, tidak mungkin aku bisa menyamai kecepatan lari mereka.
Panasnya luar biasa, tapi yang lebih buruk dari panas adalah asap, yang setiap saat bisa membuatku sesak napas. Kutarik bagian atas kausku untuk menutup hidung, bersyukur karena kaus itu basah oleh keringat, sehingga bisa memberikan perlindungan sedikit lebih baik. Akh terus berlari karena aku tahu aku harus berlari. Napasku tercekik, tas ranselku menghantam pungggungku, wajahku luka-luka karena ranting-ranting yang tidak kelihatan karena tertutup kabut abu-abu.
Kebakaran ini bukan disebabkan api unggun yang lepas kendali, tak ada tanda-tanda ketidaksengajaan. Api yang menyerangku memiliki bentuk tidak alami, keseragaman yang
menandakan bahwa api itu buatan manusia, dihasilkan dari mesin, dirancang oleh Juri
Hunger Games. Pertarungan hari ini pasti terlalu tenang. Tidak ada yang tewas, mungkin tidak ada perkelahian sama sekali. Penonton di Capitol akan merasa bosan, mereka akan mengatakan Hunger Games kali ini tidak menarik sama sekali. Bosan dan tidak menarik adalah aib bagi acara ini.
Tidak sulit bagiku untuk mengetahui motif para juri. Ada kelompok peserta Karier dan peserta-peserta lain yang tersisa, mungkin kami tersebar dan terpisah jauh di arena. Api ini di rancang untuk memaksa kami keluar, membuat posisi kami jadi berdekatan. Cara ini mungkin bukan cara paling orisinal, tapi teramat sangat efektif.
Aku melompati batang  kayu yang terbakar. Sayangnya lompatanku kurang tinggi. Ekor jaketku tersambar api dan aku harus berhenti untuk melepaskan jaketku dan menginjak-injal api di jaketku agar padam. Tapi aku tidak berani meninggalkan jaketku, jadi dalam keadaan setengah berasap dan panas bekas terbakar, aku nekat memasukkan jaket   itu   ke   dalam   kantong   tidur.   Aku   berharap   semoga   tiadanya   udara   akan memadamkan bara yang tersisa. Hanya ransel di punggungku inilah yang kupunya, dan aku   harus   berusaha   bertahan   hidup   dengan   barang-barang   yang   jumlahnya   tidak seberapa.
Dalam beberapa menit, tenggorokan dan hidungku terasa terbakar. Aku mulai batuk- batuk hebat dan paru-paruku seakan terpanggang. Rasa tidak nyaman kini berubah jadi
kepanikan  karena  setiap  kali  bernapas  aku  merasakan  dadaku  tertusuk  ngeri,  tak terhingga  sakitnya.  Aku  berhasil  berlindung  di  bawah  batu  besar  ketika  aku  mulai muntah-muntah, mengeluarkan sisa makan malamku yang seadanya serta air yang masih tersisa di perutku. Aku meringkuk dengan kedua tangan dan lutut di lantai, lalu terus muntah hingga tak ada lagi yang bisa kumuntahkan.
Aku  tahu  aku  harus  terus  bergerak,  tapi  saat  ini  aku  gemetar  hebat  dan  pusing, sambil megap-megap mencari udara. Kubasuh mulutku dengan air yang tidak lebih dari sesendok untuk membersihkan mulutku yang kemudian kuludahkan, lalu aku minum beberapa teguk air lagi dari botol. Kau punya waktu satu menit, kataku dalam hati. Satu menit untuk beristirahat. Waktu semenit itu kugunakan untuk membereskan barang- barang, menggulung kantong tidur, dan dengan asal-asalan memasukkan semua barang ke ransel. Waktu semenitku habis. Aku tahu sekarang waktunya bergerak tapi asap sudah mengaburkan pikiranku. Binatang-binatang yang berlari cepat yang kujadikan petunjuk jalan sudah jauh meninggalkanku. Aku tahu aku tidak pernah melihat batu-batu besar yang kujadikan tempat berlindung ini. Kemana para Juri Pertarungan mengarahkanku? Kembali  ke  danau? Ke  wilayah  yang  penuh  bahaya  baru?  Aku  baru  saja  memperoleh ketenangan di kolam selama beberapa jam saat serangan dimulai. Apakah aku bisa menyusuri kembali jejak api dan kembali ke kolam itu, paling tidak untuk memperoleh sumber air. Api itu pasti akan padam dan tidak akan membakar selamanya. Bukan karena para Juri tidak bisa membuatnya seperti itu, tapi karena kebakaran terus-menerus akan membuat bosan penonton. Kalau  saja aku bisa berada di belakang garis api, aku bisa menghindarkan pertemuan dengan para Peserta Karier. Aku sudah memutuskan untuk berusaha dan mengambil jalan memutar, meskipun cara ini membuatku harus berjalan beberapa kilometer menjauhi kobaran api lalu memutarinya kembali. Tepat pada saat itu aku mendengar ledakan bola api pertama menghantam batu yang jaraknya tidak lebih dari semeter di atas kepalaku. Aku melesat keluar dari perlindunganku, dipacu oleh ketakutanku.
Pertarungan ini sudah berbelok ke putaran lain. Api membuat kami harus bergerak, dan kini penonton akan menyaksikan pertunjukkan seru. Saat  mendengar desisan api berikutnya,   aku   langsung   tiarap   ke   tanah,   tidak   membuang-buang   waktu   untuk melihatnya. Bola api menerjang pohon di sebelah kiriku, membakarnya bulat-bulat. Diam berarti maut. Aku nyaris belum berdiri benar sebelum bola api ketiga menyambar tanah tempatku  tadi  berbaring,  menyulut  tiang  api  dibelakangku.  Waktu  kini  tidak  berarti bagiku saat aku dengan panik berusaha menghindar dari serangan-serangan. Aku tidak bisa melihat asal serangan-serangan bola api ini, tapi pastinya bukan dari pesawat ringan. Sudah jatuhnya tidak tajam. Mungkin seluruh bagian hutan ini sudah dipersenjatai dengan pelontar api yang disembunyikan di pepohonan atau bebatuan. Di sebuah tempat yang sejuk dan bersih tak bernoda entah di mana, Juri Pertarungan duduk di belakang meja kendali, jari-jarinya di atas pemicu yang bisa mengakhiri hidupku dalam hitungan detik. Yang diperlukan hanya satu tembakan jitu.
Apa  pun  rencana  samar  yang  kupikirkan  tentang  kembali  ke  kolam  langsung terhapus dari benakku ketika aku berlari zigzag, menyuruk, dan melompat menghindari bola-bola api. Masing-masing bola api itu hanya sebesar buah apel, tapi menghasilkan
kekuatan besar dalam setiap terjangannya. Semua indraku langsung bekerja keras ketika kebutuhan untuk bertahan hidup menguasai diriku sepenuhnya. Tidak ada waktu untuk berpikir apakah langkahku adalah langkah yang benar. Saat mendengar desisan, aku langsung bertindak atau mati.
Namun ada sesuatu yang membuatku terus bergerak maju. Seumur hidup yang kuhabiskan  untuk menonton  Hunger  Games  membuatku  tahu  hanya  wilayah  tertentu yang dipasangi perangkap untuk serangan-serangan tertentu. Kalau saja aku bisa kabur dari wilayah ini, aku mungkin bisa keluar dari jangkauan pelontar-pelontar api ini. Mungkin saja dalam pelarianku aku bakal jatuh ke sarang ular berbisa, tapi aku tidak bisa menguatirkan hal itu sekarang.
Aku tidak tahu berapa lama aku berjuang menghindari bola-bola api, tapi serangan- serangan itu mulai surut. Baguslah, karena aku mau muntah-muntah lagi. Kali ini cairan asam  yang  mendidihkan  tenggorokanku  dan  membakar  hidungku  juga.  Aku  terpaksa harus  berhenti  saat  tubuhku  kejang-kejang.  Tubuhku  berusaha  keras  mengenyahkan racun yang kuisap pada saat serangan. Aku menunggu suara desisan, tanda bahwa saatnya aku kabur. Aku tidak mendengarnya. Tekanan akibat muntah membuat mataku berair. Pakaianku basah kuyup karena keringat. Entah bagaimana, di antara bau asap dan muntah, aku mencium bau rambut terbakar. Tanganku langsung meraba kepang rambutku dan mendapati bola api sudah menghanguskan rambutku sepanjang lima belas sentimeter. Gumpalan rambut gosong mengisi jemariku. Aku memandanginya,terpesona melihat rambutku yang sudah berubah bentuk dan saat itulah aku mendengar suara desisan.
Otot-ototku bereaksi, hanya saja kali ini tidak cukup cepat. Bola api menerjang tanah di  sampingku,  setelah  sebelumnya  sempat  menyerempet  betis  kananku.  Aku  panik
melihat  bagian kaki  celanaku  terbakar.  Aku  menggeliat dan bergerak mundur dengan kedua tangan dan kaki di tanah, berusaha menjauhkan diriku dari kengerian yang ada di
hadapanku.  Saat  aku  tersadar,  kukibas-kibaskan  kakiku  maju  mundur  di  tanah,  yang
malah makin memperburuk keadaan. Tapi kemudian, tanpa pikir panjang, kurobek sisa kain celanaku dengan dua tangan kosong.
Aku duduk di tanah, beberapa meter dari kobaran yang menghasilkan bola api tadi. Betisku menjerit kesakitan, kedua tanganku penuh dengan bilur-bilur merah. Aku gemetar hebat  hingga  tak  bisa  bergerak.  Kalau  Juri-Juri  Pertarungan  ingin  menghabisiku,  saat inilah saatnya.
Kudengar suara Cinna, dengan kain-kain mewah dan perhiasan-perhiasan gemerlap. "Katniss, gadis yang terbakar." Pasti para Juri Pertarungan tertawa terbahak-bahak bila mengingatnya. Mungkin, kostum-kostum Cinna yang indah yang membuat mereka menciptakan siksaan ini untukku. Aku yakin Cinna tidak bisa meramalkan kejadian ini, dan melihat aku tersiksa pasti membuatnya sedih, karena aku percaya dia sayang padaku. Tapi kalau dipikir-pikir lagi, mungkin tampil telanjang bulat di kereta kuda itu akan lebih aman buatku.
Serangan sudah berakhir. Para Juri Pertarungan tidak mau aku mati. Belum saatnya. Semua orang tahu mereka bisa menghabisi kami semua dalam hitungan detik setelah gong pembukaan berbunyi. Acara utama dalam Hunger Games adalah menonton para peserta saling  membunuh.  Satu-dua  kali  mereka  membunuh  seorang  peserta  hanya  untuk
mengingatkan   peserta-peserta   lain   bahwa   mereka   bisa   melakukannya.   Tapi   lebih seringnya, mereka memanipulasi kami agar saling berhadapan satu lawan satu. Itu artinya, kalau aku tidak ditembak lagi, artinya di dekatku ada seorang peserta lain.
Seandainya bisa, aku ingin memanjat pohon dan berlindung di sana sekarang, tapi asap masih sangat tebal dan bisa membuatku sesak napas hingga tewas. Kupaksa diriku agar bisa berdiri lalu berjalan tertatih-tatih menjauh dari kobaran api yang menerangi langit.   Meskipun   awan-awan   hitam   masih   menguntitku,   api   itu   tampaknya   tidak
mengerjarku lagi.
Cahaya lain, cahaya dini hari, perlahan-lahan muncul. Lingkarang-lingkaran asap tersorot sinar matahari. Jarak pandangku buruk. Aku mungkin hanya bisa melihat sampai sejauh lima belas meter ke arah mana pun mataku memandang. Peserta lain bisa dengan mudah bersembunyi tak terlihat olehku. Seharusnya aju menghunus pisauku untuk jaga- jaga, tapi aku tidak yakin pada kemampuanku untuk bisa tahan memegangi pisau terus- menerus. Aku benci luka bakar, sejak dulu itu rasa sakit yang paling tidak kusukai, bahkan meskipun cuma kesundut oven saat mengeluarkan roti dari panggangan. Bagiku ini adalah rasa  sakit  yang  terburuk,  dan  seumur  hidup  tak  pernah  aku  merasakan  rasa  sakit semacam ini.
Saking lelahnya aku bahkan tidak sadar kakiku tercelup di kolam sampai semata kaki. Aku sampai di mata air, yang airnya keluar dari celah-celah bebatuan, dengan kesejukan yang amat nikmat. Kucelupkan kedua tanganku ke air dangkal itu dan langsung merasa jauh lebih baik. Kalau tidak salah inilah yang selalu dikatakan ibuku. Pengobatan pertama untuk luka bakar adalah air dingin. Tapi luka bakar yang dimaksud ibuku adalah luka bakar ringan. Mungkin sarannya manjur untuk kedua tanganku. Tapi bagaimana dengan betisku? Walaupun aku belum punya keberanian untuk memeriksa lukaku, tapi kuperkirakan lukaku itu pasti skalanya jauh berbeda daripada luka di tanganku.
Selama beberapa saat, aku berbaring tengkurap di ujung kolam, mengibas-ngibaskan kedua tanganku di air, sambil memperhatikan hiasan berbentuk api-api kecil di kukuku mulai rontok. Baguslah. Aku sudah muak dengan api.
Kubasuh darah dan debu dari wajahku. Aku berusaha mengingat-ingat segala yang kuketahui tentang luka bakar. Luka bakar merupakan luka yang biasa dialami warga Seam
karena kami masak dan menghangatkan rumah kami dengan batu bara. Pernah terjadi kecelakaan tambang... satu keluarga membawa pemuda dalam keadaan tak sadarkan diri, dan mereka memohon pada ibuku untuk menolongnya. Dokter distrik yang bertanggung jawab  mengobati  penambang  sudah  angkat  tangan,  dan  menyuruh  keluarganya  agar
membawa pemuda itu pulang dan menunggu kematiannya di rumah. Dia dibaringkan di
meja dapur rumah kami, tak sadar pada dunia sekelilingnya. Aku sempat melirik luka di pahanya, lukanya terbuka, dagingnya terpanggang, terbakar hingga kelihatan tulangnya, lalu aku lari keluar dari rumah. Aku pergi ke hutan dan berburu sepanjang hari, otakku penuh dengan gambaran kaki yang mengerikan itu, dan kenangan kematian ayahku. Lucunya, Prim, yang takut pada bayangannya sendiri, malah tetap tinggal di rumah dan membantu  ibuku.  Ibuku  selalu  bilang orang  yang  jadi  penyembuh itu  sudah memiliki bakat sejak lahir, bukan lewat sekolah atau dilatih. Mereka mengusahakan yang terbaik, tapi pria itu tewas, seperti yang diramalkan oleh sang dokter.
Aku harus mengobati kakiku, tapi aku masih tak sanggup melihatnya. Bagaimana jika keadaannya separah kaki pria itu hingga aku bisa melihat tulangku? Lalu aku teringat perkataan  ibuku,  katanya  jika  luka  bakarnya  teramat  parah,  si  korban  mungkin tidak merasa sakit karena saraf-saraf perasanya sudah hancur. Kecemasanku berkurang mengingat omongan ibuku, lalu aku duduk dan melihat kakiku.
Aku nyaris pingsan melihat betisku. Dagingnya merah terang dan penuh dengan bagian-bagian kulit yang melepuh. Aku mengambil napas dalam-dalam dan pelan. Aku yakin  kamera  sedang  menyoroti  wajahku.  Aku  tidak  boleh  menunjukkan  kelemahan karena   luka   ini.   Terutama   jika   aku   menginginkan   bantuan.   Rasa   kasihan   tidak membuatmu dapat pertolongan. Kekaguman penonton saat melihatmu tetap tegar tak butuh pertolonganlah yang bisa membantumu. Kurobek sisa celana di bagian lutut dan memeriksa lukaku dengan lebih saksama. Luka bakarku seukuran telapak tangan. Tidak ada bagian kulit yang menghitam. Kupikir tidak apa-apa jika aku merendamnya. Dengan langkah lunglai kucelupkan kakiku ke kolam, tumit sepatu botku kutahan di batu agar kulit sepatunya tidak terlalu basah kuyup, lalu aku mendesah, karena rasanya nyaman sekali. Aku tahu ada bahan rempah yang bisa dijadikan obat, tapi aku tidak bisa mengingatnya. Air dan waktu mungkin yang kupunya untuk menyembuhkannya.
Apakah aku harus terus berjalan? Asap perlahan-lahan lenyap tapi masih cukup tebal dan membuat sesak napas. Kalau aku terus berjalan menjauhi api, bukankah aku akan langsung berhadapan dengan para Karier? Selain itu, tiap kali aku mengangkat kakiku dari air, sakitnya kembali  memuncak dan aku harus mencelupkannya lagi. Tanganku tidak separah kakiku. Tanganku tidak perlu dicelupkan terus menerus di air. Perlahan-lahan aku membereskan perlengkapanku. Pertama-tama aku mengisi botol dengan air kolam, meneteskan iodine, dan setelah cukup waktu menunggu, aku mulai mengisi cairan tubuh. Setelah beberapa saat, kupaksa mulutku mengunyah biskuit, untuk meredakan rasa laparku. Kugulung kantong tidurku. Selain beberapa noda hitam, kantong tidur itu tidak rusak. Jaketkulah yang bermasalah. Bau dan bekas terbakar, paling tidak sekitar tiga puluh sentimeter di bagian punggungya tidak bisa diperbaiki lagi. Kupotong bagian yang rusak, menyisakan bagian jaket yang hanya menutupi sampai bagian bawah tulang rusukku. Tapi penutup kepalanya masih utuh dan ini jauh lebih baik daripada tidak punya jaket sama sekali.
Selain rasa sakit, aku mulai mengantuk. Aku bisa saja memanjat pohob dan beristirahat di sana, tapi aku bakalan mudah kelihatan. Selain itu, rasanya aku tak sanggup meninggalkan  kolam  ini.  Kuatur  perlengkapanku  dengan rapi,  bahkan  ranselku  sudah kusandang di bahu, tapi aku tidak bisa beranjak. Kulihat tanaman dengan akar-akarnya yang bisa dimakan dan kuputuskan untuk meracik makanan dengan sisa daging kelinci yang  terakhir.  Minum  air.  Melihat  matahari  bergerak  perlahan  di  langit.  Apakah  ada tempat lebih aman dari sini yang bisa kutuju? Aku bersandar pada ranselku, dikuasai rasa kantuk.
Kalau para Karier menginginkanku, silakan cari aku di sini, pikirku sebelum terlelap. Silakan cari aku di sini.
Dan mereka memang menemukanku. Untungnya aku sudah siap bergerak, karena ketika mendengar langkah kaki, aku hanya punya waktu kurang dari semenit untuk kabur.
Malam   sudah   turun.   Saat   aku   terbangun,   aku   sudah   bangkit   dan   berlari, mencipratkan air di kolam, melesat ke semak-semak. Kakiku yang luka membuat langkahku lambat, tapi aku bisa merasa pengejarku juga tidak segesit sebelum kebakaran terjadi. Kudengar mereka batuk-batuk dan suara mereka serak ketika saling memanggil.
Namun, mereka tetap mendekat, seperti sekawanan anjing liar, kemudian aku melakukan apa yang sudah kulakukan sepanjang hidupku dalam situasi semacam ini. Aku mencari  pohon  tinggi  dan  mulai  memanjat.  Kalau  lari  sudah  menyakitkan,  memanjat pohon rasanya penuh derita tak berkesudahan karena tidak hanya butuh segenap tenaga tapi juga kontak langsung antara tanganku dan batang pohon. Namun aku gesit, dan saat mereka tiba di bawah pohonku, aku sudah berada tujuh meter di atas mereka. Selama beberapa waktu, kami berhenti dan saling mengamati. Kuharap mereka tidak mendengar debaran jantungku.
Ini dia, pikirku. Kesempatan apa yang kupunya dalam menghadapi mereka? Mereka berenam, lima peserta Karier dan Peeta. Satu-satunya yang membuatku terhibur adalah
mereka   tampak   kepayahan.   Tapi   lihat   senjata   mereka   lihat   wajah   mereka   yang
menyeringai dan meringis memandangku, mereka sudah yakin bakal bisa menghabisiku. Tampaknya sudah tidak ada harapan. Tapi terlintas sesuatu dalam benakku. Tidak diragukan lagi mereka lebih besar dan lebih kuat daripada aku, tapi mereka juga lebih berat. Ada alasan kenapa aku dan bukannya Gale yang memanjat jauh untuk memetik buah paling tinggi, atau mencuri sarang burung paling susah dicapai. Beratku pasti lebih ringan dua puluh sampai tiga puluh kilogram dari peserta Karier yang tubuhnya paling kecil.
Sekarang aku tersenyum.
"Bagaimana keadaan kalian?" sapaku riang.
Mereka terkesiap mendengarku, tapi aku tahu penonton akan menyukainya. "Lumayan," jawab anak lelaki dari Distrik 2. "Kau sendiri bagaimana?"
"Udara terlalu hangat untuk seleraku," sahutku. Aku seakan bisa mendengar gema tawa dari Capitol. "Udara di atas sini lebih baik. Kenapa kau tidak naik saja?"
"Memang itu niatku," jawab anak lelaki yang sama.
"Nih, pakai ini, Cato," kata anak perempuan dari Distrik 1, dan dia memberikan busur perak dan seikat anak panah. Busurku! Anak-anak panahku! Melihatnya saja membuatku ingin marah. Aku ingin menjerit keras-keras pada diriku sendiri dan pada Peeta si pengkhianat   yang   membuat   perhatianku   teralih   hingga   batal   mengambilnya.   Aku berusaha  memandang  matanya  sekarang,  tapi  dia  tampaknya  sengaja  menghindari
tatapanku dengan mengelap pisaunya dengan ujung kemeja.
"Tidak," sahut Cato, mendorong busur itu. Aku lebih jago dengan belatiku." Aku bisa melihat senjatanya, pedang pendek dan berat di selipan ikat pinggangnya.
Aku memberi waktu pada Cato untuk menjejak pohon dengan mantap sebelum aku mulai memanjat lebih tinggi. Gale selalu bilang aku seperti tupai yang bisa terbirit-birit memanjat dahan paling kurus sekalipun. Sebagian kemampuanku berkat berat badanku, tapi sebagian berkat latihan. Kau harus tahu di mana menempatkan tangan dan kakimu. Aku sudah memanjat lebih tinggi sepuluh meter lagi ketika mendengar suara kayu patah, kulihat ke bawah dan Cato sedang melayang jatuh dan membawa patahan dahan pohon.
Dia  jatuh  dengan  keras  dan  kuharap  lehernya  patah,  tapi  kemudian  dia  berdiri  dan mencaci maki habis-habisan.
Gadis dengan busur dan panah, Glimmer kudengar seseorang memanggil namanya- uh, orang-orang di Distrik 1 sering menamai anak mereka dengan nama-nama konyol-si Glimmer ini menyeimbangkan tubuhnya di pohon sampai dahan di bawah kakinya mulai patah dan akal sehat menyuruhnya berhenti bergerak. Paling tidak aku berada 25 meter di atas pohon. Glimmer berusaha memanahku dan langsung terlihat jelas dia tidak pandai menggunakan busur. Tapi salah satu anak panahnya berhasil menancap di dekatku dan aku mengambilnya. Kulambai-lambaikan anak panah itu menggoda Glimmer, seolah-olah aku mencabut anak panah itu hanya untuk menggodanya, padahal sesungguhnya aku bermaksud menggunakan panah ini kalau ada kesempatan. Aku bisa membunuh mereka, semuanya, kalau saja senjata-senjata perak itu ada di tanganku.
Para peserta Karier berkumpul di bawah dan aku bisa mendengar mereka saling menggerutukan rencana. Mereka marah karena aku berhasil membuat mereka tampak
bodoh. Tapi senja telah habis dan kesempatan mereka untuk menyerangku mulai habis.
Akhirnya, aku mendengar suara Peeta berkata dengan keras, "Oh, biarkan saja dia di atas sana. Dia juga tak bakal kemana-mana. Akan kita bereskan dia besok pagi."
Yah, Peeta benar tentang satu hal. Aku takkan kemana-mana. Rasa lega berkat air kolam pupus sudah, membuatku langsung bisa merasakan luka bakarku dengan sepenuh rasa. Aku merangkak turun ke bagian pohon yang bercabang dan dengan kagok menyiapkan  tempat  untuk  tidur.  Kupakai  jaketku.  Kubuka  kantong  tidurku.  Kuikat
tubuhku   di   pohon   dan   berusaha   tidak   mengerang   kesakitan.   Kantong   tidur   itu
menimbulkan panas berlebihan untuk kakiku. Kurobek sela di kantong tidur dan kekeluarkan betisku  agar kena udara terbuka. Kuteteskan air di lukaku dan di kedua tanganku.
Semua keberanianku lenyap sudah. Aku lemah karena kesakitan dan kelaparan tapi aku tidak bisa makan. Bahkan jika aku bisa bertahan malam ini, apa yang akan terjadi pada pagi hari? Aku memandangi dedaunan, memaksa diriku untuk beristirahat, tapi luka bakar   ini   membuatku   tidak   bisa   tidur.   Burung-burung   sudah   pulang   ke   sarang,
menyanyikan lagu ninabobo untuk anak-anak mereka. Binatang-binatang malam keluar
dari sarang. Burung hantu berburu. Bau samar sigung menembus asap. Entah mata binatang apa mengintip memandangiku dari pohon di sekitarku-mungkin semacam tupai- yang tertarik cahaya api dari obor-obor peserta Karier. Tiba-tiba, aku sudah bertumpu pada sikuku. Itu bukan mata tupai, aku kenal baik pantulan mata binatang itu. Sesungguhnya,  itu sama  sekali  bukan mata  binatang.  Dalam cahaya  senja  yang  makin menggelap,  aku  berhasil  mengenalinya,  memandangiku  tanpa  suara  di  antara  dahan pohon.
Rue.
Sudah berapa lama dia di sana? Mungkin sepanjang waktu. Diam dan tidak memperhatikan  sementara  kejadian  berlangsung  di  bawahnya.  Mungkin  dia  naik  ke pohon tidak lama sebelum aku naik, karena mendengar kawanan Karier itu mendekat.
Sesaat kami berpandangan lekat-lekat. Kemudian nyaris tanpa membuat daun bergemerisik, tangannya yang kecil terulur ke depan dan menunjuk sesuatu di atas kepalaku.

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © 2015 Baca Online dan Seputar Blog
| Distributed By Gooyaabi Templates