June 20, 2015

The Hunger Games indonesia bagian 9

PENGKHIANATAN. Itulah yang pertama kali kurasakan ketika mendengarnya, yang menurutku sebenarnya konyol. Agar bisa terjadi pengkhianatan, sebelumnya harus ada kepercayaan. Antara aku dan Peeta. Dan kepercayaan tidaklah menjadi bagian dari perjanjian kami. Kami sama-sama peserta dalam Hunger Games ini. Tapi anak lelaki yang mengambil risiko dipukuli untuk memberiku roti, yang menenangkanku di kereta kuda, yang melindungiku dalam peristiwa dengan gadis Avox berambut merah, yang berkeras agar Haymitch tahu kemampuan berburuku... apakah ada sedikit bagian diriku yang luluh hingga percaya padanya?
Sebaliknya, aku lega kami bisa berhenti berpura-pura jadi sahabat. Jelas sudah apa pun hubungan rapuh yang bodohnya sudah kami bentuk kini telah pupus. Dan waktunya tidak bisa lebih pas lagi. Pertarungan akan dimulai dua hari lagi, dan kepercayaan hanya akan menjadi kelemahan. Apa pun yang memicu keputusan Peeta-yang kucurigai ada hubungannya dengan nilaiku yang lebih tinggi darinya dalam latihan-aku seharusnya merasa bersyukur. Mungkin Peeta akhirnya menerima kenyataan, lebih cepat kami secara terbuka mengakui bahwa kami sebenarnya musuh, adalah lebih baik.
"Baiklah," kataku. "Jadi bagaimana jadwalnya?"
"Masing-masing akan bersama Effie selama empat jam untuk latihan presentasi dan empat jam bersamaku untuk jawaban," kata Haymitch. "Kau mulai dengan Effie, Katniss."
Aku tidak bisa membayangkan apa yang bisa diajarkan Effie padaku selama empat jam, tapi ternyata dia membuatku bekerja keras hingga menit terakhir. Kami pergi ke kamarku dan dia memaikanku gaun panjang dan sepatu berhak tinggi, bukan pakaian dan sepatu yang bakal kupakai dalam wawancara nanti, dan menyuruhku berjalan. Bagian terburuknya adalah sepatu yang kupakai. Aku tak pernah memakai sepatu hak tinggi dan tak bisa berjalan tertatih-tatih dengan adanya bola di bawah kakiku. Tapi Effie memakai sepatu hak tinggi sepanjang waktu, dan aku bertekad jika dia bisa melakukannya, aku juga bisa. Gaunnya juga menimbulkan masalah lain. Gaun itu melilit sepatuku terus-menerus, jadi tentu saja aku langsung menyentaknya ke atas. Effie langsung menerkamku bak elang, memukul tanganku dan berteriak, "Jangan ditarik sampai keatas mata kaki!" Ketika aku akhirnya menguasai cara berjalan, masih ada cara duduk, postur tubuh yang benar- ternyata  aku  cenderung  merundukkan  kepalaku-kontak  mata,  gerakan  tangan,  dan senyum. Latihan senyum lebih berupa bagaimana cara tersenyum berlebihan. Effie menyuruhku mengucapkan ratusan kalimat dangkal yang dimulai dengan senyum, sambil senyum,  atau  diakhiri  dengan  senyum.  Pada  makan  siang,  otot-otot  pipiku  berkedut karena terlalu sering digunakan.
"Yah, itulah yang terbaik yang bisa kuajarkan," kata Effie sambil mendesah. "Ingatlah, Katniss, kau ingin penonton menyukaimu."
"Menurutmu mereka tak bakal suka padaku?" tanyaku.
"Tidak, kalau kau memelototi mereka terus. Simpan dulu tatapan mautmu untuk di arena. Cobalah menganggap dirimu sedang berada di antara teman-teman," kata Effie.
"Mereka bertaruh berapa lama aku bisa bertahan hidup!" semburku marah. "Mereka bukan teman-temanku!"
"Cobalah berpura-pura!" bentak Effie. Kemudian dia menenangkan diri dan memandangku. "Lihat, seperti ini. Aku tersenyum padamu meskipun kau membuatku jengkel."
"Ya, senyummu sangat meyakinkan," kataku. "Aku mau makan."
Kulepaskan sepatu hak tinggiku dan berjalan dengan langkah gagah ke ruang makan, tidak lupa mengangkat gaunku tinggi-tinggi hingga ke paha.
Peeta dan Haymitch tampaknya gembira, jadi kupikir sesi latihan jawaban pasti lebih baik daripada acara pagi. Ternyata aku salah besar. Setelah makan siang, Haymitch membawaku ke ruang duduk, menyuruhku duduk di sofa, kemudian dia hanya memandangiku sambil mengernyit.
"Apa?" tanyaku, akhirnya tidak tahan.
"Aku berusaha memikirkan apa yang harus kulakukan terhadapmu," kata Haymitch. "Bagaimana kita akan menampilkanmu. Apakah kau akan tampil penuh pesona? Menjaga jarak? Beringas? Sejauh ini, kau bersinar seperti bintang. Kau mengajukan diri menggantikan adikmu. Cinna membuatmu tampil tak terlupakan. Kau mendapat nilai latihan tertinggi. Orang-orang pasti penasaran, tapi tak seorang pun tahu siapa kau. Kesan yang kau perlihatkan besok akan memutuskan apa yang bisa kuperoleh untukmu dari para sponsor," kata Haymitch.
Sepanjang hidupku aku sudah menonton wawancara peserta, dan aku tahu perkataan Haymitch ada benarnya. Kalau kau bisa menarik perhatian penonton, entah dengan sikapmu yang humoris atau brutal atau eksentrik, kau bisa memperoleh dukungan.
"Bagaimana pendekatan Peeta? Boleh kan aku menanyakannya?" kataku.
"Tampil disukai. Secara alamiah dia memiliki semacam rasa humor untuk merendahkan diri sendiri," kata Haymitch. "Sementara kau, setiap kali kau buka mulut kau kelihatan masam dan bermusuhan."
"Tidak kok!" sergahku.
"Ayolah. Aku tidak tahu bagaimana kau bisa menampilkan gadis manis dan ramah di kereta kuda, tapi aku tak pernah melihatnya lagi setelah itu," kata Haymitch.
"Memangnya kau memberiku banyak alasan untuk bersikap manis?" sahutku.
"Kau tidak perlu membuatku gembira. Bukan aku yang akan menjadi calon sponsor. Jadi berpura-puralah menganggap aku sebagai penonton," kata Haymitch. "Buat aku senang."
"Baik!" gerutuku.
Haymitch berperan sebagai pewawancara dan aku berusaha menjawab pertanyaan- pertanyaannya dengan cara yang elegan. Tapi aku tidak bisa. Aku terlalu marah terhadap Haymitch atas segala ucapannya dan aku lebih marah lagi karena harus menjawab pertanyaan-pertanyaan ini. Yang bisa kupikirkan hanyalah betapa tidak adilnya semua ini, betapa tidak adilnya Hunger Games. Kenapa aku harus bertingkah seperti anjing terlatih berusaha menyenangkan orang-orang yang kubenci? Semakin lama wawancara berlangsung, semakin banyak kemarahan yang naik ke permukaan, sampai-sampai bisa dibilang aku meludahkan jawaban-jawabanku padanya.
"Sudah, cukup," katanya. "Kita harus menemukan sudut lain. Kau bukan saja bersikap bermusuhan, tapi aku juga tidak tahu apa-apa tentang dirimu. Aku sudah menanyakan
lima puluh pertanyaan padamu, dan apa yang penting bagimu. Mereka ingin tahu tentang dirimu, Katniss."
"Tapi aku tidak mau mereka tahu! Mereka sudah merenggut masa depanku! Mereka tidak bisa memperoleh segala hal yang penting bagiku di masa lalu!" pekikku.
"Berbohonglah! Karanglah sesuatu!" bentak Haymitch. "Aku tidak pandai berbohong," kataku.
"Kalau begitu cepatlah belajar. Pesonamu sama levelnya dengan pesona balok kayu," ujar Haymitch.
Aw.  Kata-kata  tadi  menyakitkan.  Haymitch  pun  tahu  dia  terlalu  kasar  karena suaranya berubah lembut setelah itu. "Aku punya ide. Cobalah bersikap rendah hati."
"Rendah hati," ulangku.
"Kau tidak percaya gadis kecil dari Distrik Dua Belas bisa berhasil. Semua ini jauh melebihi impianmu. Bicaralah tentang pakaian Cinna. Betapa baiknya orang-orang di sini. Betapa kota ini membuatmu terpukau. Kalau kau tidak mau bicara tentang dirimu, paling tidak pujilah penonton. Balikkan selalu topiknya ke hal ini, oke? Bersikap sentimental."
Jam-jam selanjutnya terasa menyiksa. Seketika, jelas aku tidak bisa bersikap sentimental. Kami mencoba dengan aku bersikap sombong, tapi ternyata aku tidak cukup arogan. Ternyata, aku terlalu "rapuh" untuk bersikap bengis. Aku tidak cerdas. Lucu. Seksi. Atau misterius.
Pada akhir sesi, aku tidak jadi siapa-siapa. Haymitch mulai minum saat aku di bagian cerdas, dan kekesalan mulai merasuki suaranya. "Aku menyerah, Manis. Jawab saja pertanyaan-pertanyaannya dan usahakan agar penonton tidak melihat betapa bencinya kau pada mereka."
Malam itu akan makan malam di kamar, aku memesan banyak makanan lezat, lalu makan hingga kekenyangan. Setelah itu aku melampiaskan kemarahanku pada Haymitch, pada Hunger Games, pada semua orang di Capitol dengan membanting piring-piring di kamarku. Saat gadis berambut merah masuk ke kamarku untuk membereskan ranjang, matanya terbelalak memandang kekacauan yang kubuat.
"Biarkan saja!" aku membentaknya. "Biar, tidak usah dibereskan!"
Aku membencinya juga, membenci matanya yang penuh tuduhan, menyebutku pengecut, monster, boneka Capitol. Bagi gadis itu, keadilan pasti terjadi juga akhirnya. Paling tidak kematianku akan membantu membayar nyawa anak lelaki yang tewas di hutan.
Tapi bukannya keluar dari kamar, gadis itu menutup pintu kamarku dan pergi ke kamar mandi. Dia kembali membawa kain basah dan menyeka wajahku dengan lembut,
lalu membersihkan darah dari tanganku akibat terluka kena pecahan piring. Kenapa dia melakukan ini? Kenapa aku membiarkannya?
"Dulu seharusnya aku berusaha menyelamatkanmu," aku berbisik.
Gadis itu menggeleng. Apakah ini berarti kami bertindak benar dengan berpangku tangan? Dan dia sudah memaafkanku?
"Tidak, perbuatanku salah," kataku.
Jemari gadis itu menyentuh bibirnya lalu dia menunjuk dadaku. Kurasa maksudnya aku pasti akan berakhir menjadi Avox juga. Mungkin saja. Jadi Avox atau tewas.
Selama satu jam berikut aku membantu gadis berambut merah itu membersihkan kamar. Ketika semua sampah telah di buang ke pembuangan sampah dan makanan dibersihkan, dia membereskan ranjangku. Aku merangkak naik ke bawah selimut seperti anak lima tahun dan membiarkannya menyelimutiku. Lalu dia pergi. Aku ingin dia tetap tinggal sampai aku tertidur. Ada di sini ketika aku terbangun. Aku menginginkan perlindungan dari gadis ini, meskipun dia tidak pernah memperoleh perlindungan dariku.
Pada  pagi  tim  persiapanku  sudah  berdiri  tidak  jauh  dari  ranjang.  Pelajaranku bersama Effie dan Haymitch sudah berakhir. Hari ini milik Cinna. Dialah harapan terakhirku. Mungkin dia bisa membuatku tampak sangat cantik, dan tak ada seorang pun peduli pada kalimat yang meluncur keluar dari mulutku.
Tim itu bekerja sampai siang, membuat kulitku berkilau selembut satin, mengarsir pola-pola di lenganku, melukiskan desain api di dua puluh kukuku yang sempurna. Kemudian  Venia  mengerjakan  rambutku,  memilinkan  tali-tali  berwarna  merah  dari telinga kiriku, hingga membungkus kepalaku, lalu jatuh ke kepang satuku di bahu kanan. Mereka menyeka wajahku dengan lapisan makeup pucat dan membuat garis wajahku lebih menonjok. Mata gelap yang besar, bibir yang penuh, bulu mata yang mencipratkan cahaya saat aku berkedip. Akhirnya mereka menutup sekujur tubuhku dengan bubuk yang membuatku berkilau dengan serbuk emas.
Lalu  Cinna  masuk  membawa  sesuatu  yang  kuasumsikan  adalah  gaunku,  tapi  aku tidak bisa melihatnya karena tertutup. "Tutup matamu," perintahnya.
Aku bisa merasakan bagian dalam gaun yang lembut ketika mereka menaikkannya ke tubuhku  yang  telanjang,  lalu  terasa  beratnya  gaun  itu.  Mungkin  sekitar  dua  puluh kilogram. Kupegangi tangan Octavia erat-erat saat aku memakai sepatu dengan mata tertutup, lega saat menyadari sepatuku lebih pendek lima sentimeter daripada yang digunakan Effie untuk latihan. Selanjutnya mereka memperbaiki dan menyesuaikan gaunku. Lalu hening.
"Boleh aku buka mata?" tanyaku. "Ya," sahut Cinna. "Buka saja."
Mahkluk yang berdiri di cermin besar di hadapanku berasal dari dunia lain. Selain kulitku berkilau dan mataku berbinar, mereka ternyata membuat pakaian dengan perhiasan. Karena gaunku, oh, gaunku terbungkus perhiasan berharga, merah, kuning, dan putih dengan titik-titik biru yang memberi aksen pada ujung desain api gaunku. Gerakan sedikit saja menimbulkan kesan bahwa aku dijilati lidah api.
Aku tidak cantik. Aku tidak memesona. Aku membara seperti matahari. Selama sesaat, kami hanya berdiri memandangiku.
"Oh, Cinna," akhirnya aku berbisik. "Terima kasih."
"Berputarlah untukku," katanyan kurentangkan kedua tanganku dan berputar. Tim persiapan memekik kagum.
Cinna menyuruh anggota timnya pergi dan memintaku bergerak berkeliling dengan gaun dan sepatu, yang jelas lebih enak dipakai daripada milik Effie. Gaun ini jatuh dengan pas sehingga aku tidak perlu mengangkatnya ketika berjalan, jadi aku tidak perlu kuatir akan kepeleset.
"Jadi sudah siap untuk wawancara, kan?" tanya Cinna. Aku bisa melihat dari ekspresinya dia sudah bicara dengan Haymitch. Dan dia tahu betapa mengerikannya hasil latihanku.
"Aku kacau sekali. Haymitch bilang aku seperti balok kayu. Apa pun yang kami coba, aku gagal melakukannya. Aku tidak bisa jadi orang yang dia inginkan," kataku.
Cinna memikirkannya sejenak. "Kenapa kau tidak jadi dirimu sendiri?"
"Diriku sendiri? Itu juga tidak bagus. Haymitch bilang aku masam dan bermusuhan," kataku.
"Ya, memang kalau kau di dekat... Haymitch," kata Cinna sambil nyengir. "Aku tidak menganggapmu seperti itu. Tim persiapan juga menyukaimu. Kau bahkan memenangkan hati Juri Pertarungan. Dan penduduk Capitol tidak bisa berhenti membicarakanmu. Tak ada seorang pun yang tidak mengagumi semangatmu."
Semangatku. Ini pemikiran baru. Aku tidak yakin apa maksudnya, tapi bisa jadi arti
tersiratnya adalah aku seorang pejuang. Dengan cara berani. Bukannya itu berarti aku tidak pernah bersikap ramah. Memang sih aku tidak langsung bersikap hangat kepada semua  orang  yang  kutemui,  mungkin  senyumku  juga  mahal,  tapi  aku  peduli  pada beberapa orang.
Tangan Cinna yang hangat menggenggam tanganku yang dingin. "Seandainya, saat kau menjawab pertanyaan nanti, pura-puranya kau menjawab pada sahabat di distrikmu. Siapa sahabat terbaikmu?" tanya Cinna.
"Gale," jawabku tanpa berpikir. "Tapi itu tidak masuk akal, Cinna. Aku takkan pernah memberitahu Gale segala hal tentang diriku. Dia sudah tahu semuanya."
"Bagaimana denganku? Kau bisa menganggapku sahabatmu?" tanya Cinna.
Dari semua orang yang kutemui sejak pergi dari distrikku, Cinna adalah orang yang paling kusukai. Aku langsung  menyukainya sejak pertama bertemu dan sejauh ini  dia belum pernah membuatku kecewa. "Kurasa begitu, tapi..."
"Aku akan duduk di mimbar utama bersama penata gaya yang lain. Kau bisa memandang langsung padaku. Saat kau ditanya, cari aku, dan berikan jawaban sejujur mungkin," ujar Cinna.
"Bahkan kalau jawaban yang kupikirkan itu mengerikan?" tanyaku.
"Terutama jika yang kaupikirkan itu mengerikan," kata Cinna. "Kau mau mencobanya?"
Aku mengangguk. Jadi ini rencananya. Paling tidak aku punya sesuatu untuk dipegang. Waktu berlalu cepat, sudah saat pergi. Wawancara berlangsung di panggung yang dibangun di depan Pusat Latihan. Setelah aku meninggalkan kamarku, aku hanya punya waktu beberapa menit  sebelum aku  berada di depan keramaian, kamera-kamera, dan
seantero Panem.
Saat Cinna memutar kenop pintu, aku memegangi tangannya. "Cinna..." Aku benar- benar kena demam panggung.
"Ingat, mereka sudah menyukaimu," katanya dengan suara lembut. "Jadilah dirimu sendiri."
Kami bertemu dengan seluruh anggota tim Distrik 12 di elevator. Portia dan anggota timnya sudah bekerja keras. Peeta tampak menakjubkan dalam pakaian hitam dengan
aksen-aksen api. Meskipun kami berdua sama-sama tampil bagus, untungnya kami tidak perlu berpakaian serupa. Haymitch dan Effie sudah berlatih habis-habisan untuk acara ini. Aku menghindari Haymitch, tapi menerima pujian-pujian dari Effie. Wanita itu kadang- kadang bodoh dan membosankan, tapi dia tidak menjengkelkan seperti Haymitch.
Ketika  eleveator  terbuka,  peserta-peserta  lain  sedang  berbaris  menuju  panggung. Dua puluh empat peserta duduk membentuk setengah lingkaran besar selama wawancara. Aku akan jadi yang terakhir di wawancara, atau tepatnya orang kedua sebelum terakhir karena peserta perempuan tampil lebih dulu dibanding peserta laki-laki dari masing- masing distrik. Betapa aku berharap bisa tampil pertama dan menyelesaikan semua ini secepat mungkin! Sekarang aku harus mendengar betapa lucu, cerdas, rendah hati, kejam, dan  menawannya  semua  peserta  lain  sebelum  aku  naik  panggung.  Ditambah  lagi, penonton biasanya sudah mulai bosan, sama seperti yang terjadi pada para juri. Dan aku tidak bisa menembakkan panah ke pada penonton untuk memperoleh perhatian mereka.
Tepat sebelum kami berbaris naik ke panggung, Haymitch muncul di belakang aku dan Peeta lalu berbisik dengan kasar, "Ingat, kalian masih pasangan yang bahagia. Jadi bersikaplah seperti itu."
"Apa?" Kupikir sudah tidak perlu lagi bersikap seperti itu setelah Peeta meminta untuk dilatih terpisah. Kurasa itu urusan pribadi, bukan urusan publik. Lagi pula, kami tidak bakal  punya banyak  kesempatan  untuk pamer keakraban,  karena  kami  berjalan satu-satu ke tempat duduk kami dan duduk di sana.
Baru saja kakiku menginjak panggung, napasku langsung memburu dan terengah- engah. Aku bisa merasakan nadiku berdenyut di pelipisku. Lega rasanya saat bisa duduk,
karena sepanjang betisku gemetar hebat, dan aku cemas bakalan kepeleset. Walaupun hari sudah malam, Pusat Kota tampak lebih terang daripada musim panas. Tempat duduk
yang lebih tinggi disiapkan untuk tamu-tamu bergengsi, dengan para penata gaya duduk di barisan depan. Kamera akan menyorot mereka saat penonton bereaksi terhadap hasil
karya mereka. Balkon besar yang berada di sebelah kanan gedung disiapkan untuk para juri. Para kru televisi telah menempati sebagian besar balkon lain. Tapi Pusat Kota dan jalan raya yang berada di sekitar tempat ini penuh sesak dengan penonton. Semuanya
berdiri.  Di  rumah-rumah  dan  tempat  umum  seantero  negeri,  semua  pesawat  televisi
dinyalakan. Semua penduduk menonton TV. Tak bakal ada pemadaman listrik malam ini.
Caesar Flickerman, orang yang telah menjadi pewawancara dalam acara ini selama lebih dari empat puluh tahun melompat  naik ke panggung. Rasanya agak mengerikan karena penampilan pria itu tampak seakan tidak berubah selama itu. Wajah yang sama di balik makeup putih berkilau. Model rambut yang sama yang diwarnai dengan warna berbeda dalam setiap Hunger Games. Jas kebesaran yang sama, berwarna biru tua yang dihiasi ribuan titik bola lampu listrik yang berkedip-kedip seperti bintang. Mereka biasa melakukan operasi di Capitol, untuk membuat orang tampil lebih muda dan kurus. Di Distrik 12, tampak tua merupakan prestasi karena begitu banyak orang yang mati muda di sana. Saat bertemu orang tua kau ingin memberi selamat pada mereka karena berhasil panjang  umur,  dan  menanyakan  rahasianya  hingga  bisa  bertahan  hidup  selama  itu. Mereka yang bertubuh gemuk juga membuat iri banyak orang karena mereka tidak perlu
mengais-ngais  makanan  seperti  yang  harus dilakukan oleh  banyak orang. Tapi di  sini berbeda. Keriput tidak diinginkan. Perut buncit bukan tanda kusuksesan.
Tahun ini, rambut Caesar berwarna biru terang, bulu mata dan bibirnya juga dilapisi corak warna yang sama. Dia tampak aneh tapi juga tidak semenakutkan tahun lalu saat warna rambutnya merah tua dan dia seolah-olah tampak berdarah. Caesar menceritakan beberapa lelucon untuk menghangatkan suasana lalu berlanjut ke acara utama.
Peserta perempuan dari Distrik 1, tampak menantang dengan gaun emas tembus pandang, naik ke tengah panggung menghampiri Caesar untuk menjalani wawancara. Sekali lihat tampak bahwa mentornya pasti tidak punya masalah mencari sudut yang pas untuknya. Dengan rambut pirang bergelombang, mata hijau zamrud, tubuhnya jangkung dan gemulai... dia seksi dari ujung rambut sampai ujung kaki.
Setiap wawancara hanya berlangsung selama tiga menit. Kemudian bel berdering dan giliran peserta selanjutnya naik ke panggung. Aku harus memuji Caesar, dia sungguh- sungguh melakukan yang terbaik untuk membuat peserta bersinar. Dia bersikap ramah, berusaha membuat peserta yang tegang agar bisa santai, tertawa saat mendengar lelucon basi, dan berkat reaksinya dia bisa membuat jawaban yang payah menjadi jawaban yang bisa dikenang sepanjang masa.
Aku duduk dengan anggun seperti yang diajarkan Effie sementara satu demi satu distrik tampil ke panggung. Semua peserta tampaknya memperlihatkan sudut tertentu dari penampilannya. Anak lelaki mengerikan dari Distrik 2 adalah mesin pembunuh keji. Gadis berwajah rubah dari Distrik 5 tampak licik dan licin. Aku langsung bisa menemukan posisi Cinna ketika dia duduk di tempatnya, tapi keberadaannya di sana tetap tidak bisa membuatku tenang. 8, 9, 10. Anak lelaki yang pincang dari Distrik 10 tampak tenang. Telapak tanganku banjir keringat, tapi gaun yang penuh perhiasan ini tidak menyerap keringat, dan pasti akan langsung berbekas jika aku berusaha mengeringkannya di gaunku. Lalu Distrik 11.
Rue, yang mengenakan gaun tipis dan ringan yang berkibar-kibar lengkap dengan sepasang  sayap,  berjalan  seakan  melayang  menghampiri  Caesar.  Penonton  berdecak kagum  melihat  penampilan  peserta  dengan  sentuhan  ajaib.  Caesar  bersikap  manis padanya, memuji nilai tujuh yang diperolehnya dalam latihan, nilai luar biasa untuk orang yang tubuhnya sekecil Rue. Ketika Caesar bertanya pada Rue apa yang bakal menjadi kekuatannya di arena pertarungan, tanpa ragu dia langsung menjawabnya.
"Aku sangat sulit ditangkap," katanya dengan suara bergetar. "Dan jika mereka tidak bisa menangkapku, mereka tidak bisa membunuhku. Jadi jangan remehkan aku."
"Aku sih tak bakal meremehkanmu," sahut Caesar memberi semangat.
Anak lelaki dari Distrik 11, Thresh, juga berkulit gelap seperti Rue, tapi cuma itu saja kemiripan mereka. Thresh seperti raksasa, mungkin tingginya hampir dua meter dan tubuhnya sebesar kerbau, tapi kuperhatikan dia menolak ajakan dari para Peserta Karier untuk bergabung dengan mereka. Malahan dia sering tampak sendirian, tak pernah bicara dengan siapapun, dan tampak ogah-ogahan latihan. Meskipun begitu, dia memperoleh nilai  sepuluh  dan  tidak  sulit  membayangkan  bahwa  dia  pasti  membuat  juri  kagum padanya.  Dia  tidak meladeni  usaha  Caesar  untuk  mengobrol  basa-basi  dan menjawab hanya dengan ya dan tidak atau diam.
Kalau saja tubuhku sebesar tubuhnya, aku bisa bersikap masam dan bermusuhan tanpa  ditanyai  macam-macam.  Aku  berani  bertaruh  paling  tidak  setengah  sponsor berpikir untuk mensponsorinya. Kalau aku punya uang, aku juga akan bertaruh untuknya.
Kemudian mereka memanggil Katniss Everdeen, dan bisa kurasakan diriku seakan berada dalam mimpi, berjalan dan menuju tengah panggung. Aku balas menjabat tangan Caesar yang terulur, dan dia cukup sopan untuk tidak langsung menyeka tangannya ke jas. "Katniss,   Capitol   pasti   berbeda   jauh   dibanding   Distrik   Dua   Belas.   Apa   yang
membuatmu kagum sejak kau tiba di sini?" tanya Caesar.
Apa? Apa katanya? Seakan-akan semua kata terdengar tidak masuk akal.
Mulutku rasanya sekering serbuk gergaji. Dengan putus asa aku mencari Cinna di tengah kerumunan dan memandang matanya. Kubayangkan kata-kata itu keluar dari bibir Cinna. "Apa yang paling membuatmu kagum sejak kau tiba di sini?"
Aku berpikir keras, mengingat apa yang membuatku bahagia di sini. Jujurlah, pikirku. Jujurlah.
"Sup daging domba," akhirnya jawabanku terlontar.
Caesar tertawa, dan samar-samar aku bisa mendengar sebagian penonton juga tertawa.
"Sup daging domba dengan buah plum kering?" tanya Caesar. Aku mengangguk. "Oh, aku bisa makan sepanci besar."
Caesar menengok ke samping memandang penonton dengan tatapan ngeri, sambil tangannya memegang perut. "Tidak kelihatan, kan?"
Jawaban  penonton  menenangkannya  dan  mereka  pun  bertepuk  tangan.  Inilah
maksudku tadi. Caesar berusaha membantu peserta.
"Begini, Katniss," katanya sok berahasia, "Saat kau muncul di upacara pembukaan, jantungku seakan berhenti. Bagaimana pendapatmu tentang kostum yang kaupakai?'
Cinna mengangkat sebelah alisnya. Jujurlah.
"Maksudmu setelah aku mengatasi ketakutan terbakar hidup-hidup?" tanyaku. Tawa terbahak-bahak. Tawa sungguhan dari para penonton.
"Ya. Mulai dari sana," kata Caesar.
Cinna adalah sahabatku, dan sudah seharusnya aku menyampaikan pendapatku tentang ini. "Menurutku hasil karya Cinna brilian sekali, itu kostum paling memesona yang pernah  kulihat,  dan aku  tidak  percaya bisa memakainya. Aku  juga  tidak percaya  bisa memakai gaun ini sekarang."
Aku mengangkat gaunku seraya merentangkannya lebar-lebar. "Lihat saja!"
Penonton mendesah oooh dan aaah, aku bisa melihat jari Cinna membuat gerakan melingkar. Tapi aku tahu apa maksudnya. Berputarlah untukku.
Aku berputar sekali dan seketika reaksinya pun terdengar.
"Oh, lakukan lagi. Berputarlah!" kata Caesar, jadi aku mengangkat tanganku dan berputar sehingga gaunku pun ikut terentang berputar, sehingga aku tampak ditelan api dalam gaun ini. Para penonton bersorak. Saat aku berhenti berputar, aku mencengkeram lengan Caesar.
"Jangan berhenti!" katanya.
"Aku harus berhenti, aku pusing!" Aku juga tertawa terkekeh-kekeh, yang tak pernah kulakukan seumur hidupku. Tapi ketegangan dan berputar-putar tadi telah memengaruhiku.
Lengan Caesar merangkulku memberi perlindungan. "Jangan kuatir. Aku memegangimu. Kau tidak boleh mengikuti langkah mentormu, kan?"
Semua orang  berteriak  ketika  kamera menyorot Haymitch yang  menjadi terkenal akibat adegan jatuhnya pada hari pemungutan, dan dia melambai ramah pada kamera lalu
kamera pun kembali menyorotiku.
"Tidak apa-apa," Caesar menenangkan penonton. "Dia aman bersamaku. Lalu, bagaimana  dengan  nilai  latihan.  Sebelas.  Beri  kami  sedikit  bocoran  tentang  apa  yang terjadi di sana."
Aku memandang para Juri Pertarungan yang berada di balkon dan menggigit bibirku. "Ehm... aku cuma bisa bilang, kurasa apa yang kulakukan itu yang pertama kali."
Kamera menyoroti para juri, yang tergelak dan mengangguk.
"Kau membuat kami penasaran setengah mati," kata Caesar, seakan dia benar-benar merasa kesakitan. "Ayo ceritakan detailnya."
Kupandangi balkon sekali lagi. "Aku tidak boleh membicarakannya, kan?" Juri yang terjatuh ke mangkuk minuman berteriak keras, "Tidak boleh!" "Terima kasih," jawabku. "Maaf. Bibirku terkunci rapat."
"Mari kita kembali ke saat ketika mereka menyebut nama adikmu pada hari pemungutan,"   kata   Caesar.   Dia   tampak   lebih   tenang   sekarang.   "Dan   kau   maju
menggantikannya. Bisa kauceritakan tentang adikmu?"
Tidak. Tidak, aku tidak bisa menceritakannya pada kalian semua. Mungkin hanya pada Cinna. Kurasakan kesedihan yang kulihat di wajah Cinna bukan sekedar khayalanku. "Namanya Prim. Umurnya dua belas tahun. Dan aku menyayanginya lebih dari apa pun."
Seluruh Pusat Kota langsung sunyi senyap.
"Apa yang dikatakannya padamu setelah pemungutan?" tanya Caesar.
Jujurlah. Jujurlah. Aku menelan ludah dengan susah payah. "Dia memintaku benar- benar berusaha keras untuk menang."
Penonton terkesiap, mendengarkan setiap kata yang terucap dari mulutku. "Apa jawabanmu?" desak Caesar dengan lembut.
Aku tidak merasakan kehangatan, malah rasa dingin membeku menjajah tubuhku. Otot-ototku menegang seperti yang biasa kurasakan sebelum membunuh buruan. Ketika aku bicara, suaraku terdengar turun satu oktaf. "Aku bersumpah akan melakukannya."
"Tentu saja," kata Caesar, dan meremas tanganku memberi kekuatan. Bel berbunyi.
"Maaf, waktu kita habis. Semoga beruntung, Katniss Everdeen, peserta dari Distrik Dua
Belas."
Tepuk  tangan  masih  membahan  lama  setelah  aku  duduk.  Mataku  mencari  Cinna untuk mendapat ketenangan. Dengan sembunyi-sembunyi dia mengacungkan kedua jempolnya.
Aku masih dalam kondisi kalut pada bagian pertama wawancara Peeta. Tapi dia langsung  membuat  penonton  terpesona  sejak  awal;  aku  bisa  mendengar  penonton tertawa,  berteriak.  Dia  berperan  sebagai  anak  tukang  roti,  membandingkan  peserta-
peserta  dengan  roti  dari  distrik  mereka.  Kemudian  dia bercerita  lucu  tentang  bahaya pancuran di kamar mandi Capitol. "Coba cium, apakah aku masih wangi mawar?"
Dia bertanya pada Caesar, kemudian mereka saling mencium bergantian yang membuat semua orang tertawa geli. Aku sudah fokus seratus persen saat Caesar bertanya pada Peeta apakah dia sudah punya pacar.
Peeta tampak ragu, lalu menggeleng tidak meyakinkan.
"Anak muda tampan sepertimu. Pasti ada gadis istimewa di hatimu. Ayolah, siapa namanya?" tanya Caesar.
Peeta mengembuskan napas. "Hm, sebenarnya ada seorang gadis. Aku sudah naksir padanya entah sejak kapan. Tapi aku yakin dia tidak sadar aku hidup sampai hari pemungutan."
Terdengar suara simpati dari penonton. Cinta tak kesampaian yang bisa mereka pahami.
"Dia sudah punya pacar?" tanya Caesar.
"Aku tidak tahu, tapi banyak lelaki lain yang menyukainya," jawab Peeta.
"Begini  saja.  Kau menangkan  Hunger Games  ini,  lalu  pulang.  Dia  pasti  tidak  bisa menolakmu, kan?" kata Caesar memberi dukungan.
"Kurasa cara itu takkan berhasil. Menang.... sama sekali tak membantuku," kata Peeta. "Kenapa tidak?" tanya Caesar, heran.
Wajah Peeta bersemu merah dan dengan gagap dia berkata, "Karena... karena... dia datang kemari bersamaku."

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © 2015 Baca Online dan Seputar Blog
| Distributed By Gooyaabi Templates