December 01, 2013

Eclipse Indonesia 17

17. SEKUTU

"BELLA?" Suara lembut Edward terdengar dari belakangku. Aku berbalik dan melihatnya berlari lincah menuruni undakan teras, rambutnya berantakan karena berlari. Ia langsung memelukku, sama seperti yang dilakukannya di lapangan parkir tadi, dan menciumku lagi. Ciuman ini membuatku takut. Terlalu banyak ketegangan dan kegelisahan yang kurasakan dari caranya melumat bibirku, seakan-akan Edward takut kami tak punya banyak waktu lagi bersama-sama. Aku tak boleh membiarkan diriku berpikir seperti itu. Tidak kalau aku harus bersikap sebagaimana layaknya manusia normal beberapa jam ke depan. Aku melepaskan diri darinya.
"Mari segera kita akhiri pesta konyol ini,” gumamku, tak sanggup menatap matanya.
Edward merengkuh wajahku dengan dua tangan, menunggu sampai aku mendongak.
"Aku tidak akan membiarkan apa pun terjadi pada dirimu." Kusentuh bibirnya dengan jari-jari tanganku yang sehat.
"Aku tidak terlalu mengkhawatirkan diriku kok.”
"Kenapa aku tidak terlalu kaget mendengarnya, ya?" Edward menggerutu sendiri. Ia menarik napas dalamdalam,
kemudian tersenyum kecil. "Siap berpesta?" tanyanya.
Aku mengerang.
Edward memegangi pintu untukku, lengannya tetap memeluk pinggangku. Sejenak aku berdiri membeku di
sana, lalu menggelengkan kepala lambat-lambat.
"Tak bisa dipercaya.”
Edward mengangkat bahu. “Begitulah Alice.” Bagian dalam rumah keluarga Cullen telah diubah menjadi kelab malam – bukan seperti kelab malam yang sering dijumpai di kehidupan nyata, hanya di TV.
"Edward!" seru Alice dari sebelah pengeras suara berukuran raksasa. ''Aku membutuhkan saranmu.” Ia
melambaikan tangan ke arah tumpukan CD. ''Apakah sebaiknya kita beri mereka lagu-lagu yang familier dan
menghibur Atau" – ia melambaikan tangan ke tumpukan lain –" mendidik selera musik mereka?"
"Yang menghibur saja,” Edward merekomendasikan.
"Kuda hanya mau dituntun ke air.”
Alice mengangguk serius, dan mulai melemparkan CDCD musik yang "mendidik" itu ke dalam kotak.
Kuperhatikan ia sudah mengganti bajunya dengan tank top berhias manik-manik dipadu celana kulit merah. Kulitnya yang telanjang bereaksi ganjil di bawah lampu-lampu merah dan ungu yang berkedip-kedip.
"Sepertinya dandananku kurang heboh.”
"Dandananmu sempurna,” bantah Edward tak sependapat.
"Kau lumayan,” Alice mengoreksi.
"Trims.” Aku mendesah. "Menurutmu, mereka bakal datang tidak?" Siapa pun bisa mendengar nada berharap
dalam suaraku. Alice mengernyit padaku.
"Semua akan datang,” jawab Edward. "Mereka semua sudah tak sabar lagi ingin melihat bagian dalam rumah
keluarga Cullen yang terpencil dan misterius.”
"Wow, keren,” erangku.
Ternyata aku tak perlu membantu. Aku ragu – bahkan nanti setelah aku tidak lagi butuh tidur dan bisa bergerak
jauh lebih cepat – aku akan bisa menandingi kesigapan Alice dalam mengurus segala sesuatu. Edward menolak melepaskanku meskipun hanya sedetik, menyeretku ke sana kemari sementara ia mencari Jasper dan Carlisle untuk menceritakan tentang teoriku. Aku mendengarkan sambil berdiam diri dengan perasaan ngeri saat mereka mendiskusikan serangan terhadap pasukan vampir di Seattle. Kentara sekali Jasper tidak senang dengan perbandingan jumlah yang ada, tapi mereka tak bisa menghubungi siapa pun kecuali keluarga Tanya yang tidak
bersedia membantu. Tidak seperti Edward, Jasper tidak berusaha menyembunyikan perasaan putus asanya. Kentara sekali ia tidak suka berjudi dengan taruhan sedemikian tinggi.
Aku tak sanggup ditinggal sendiri, menunggu dan berharap mereka kembali Aku tak sanggup. Bisa-bisa aku
gila. Bel pintu berdering.
Dalam sekejap suasana langsung berubah normal. Senyum hangat dan ramah menggantikan ketegangan di
wajah Carlisle. Alice mengeraskan volume musik, dan dengan lincah meluncur menuju pintu. Ternyata yang datang satu mobil Suburban penuh berisi teman-temanku, entah terlalu gugup atau terlalu terintimidasi untuk datang sendiri-sendiri. Jessica orang pertama yang muncul di pintu, disusul Mike di belakangnya. Lalu Tyler, Conner, Austin, Lee, Samantha...bahkan Lauren membuntut di belakang, matanya yang kritis berbinar-binar dengan perasaan ingin tahu. Mereka semua penasaran, dan langsung ternganga takjub melihat ruangan besar yang ditata menyerupai tempat nongkrong yang chic. Ruangan itu tidak kosong, seluruh anggota keluarga Cullen sudah siap di tempat masing-masing, siap berperan dalam sandiwara manusia mereka yang sempurna
seperti biasa. Malam ini aku merasa seperti sedang berakting, sama seperti mereka.
Aku pergi untuk menyapa Jess dan Mike, berharap nada gugup dalam suaraku dianggap sebagai ekspresi kegirangan. Belum sempat beranjak untuk menyapa temanku yang lain, lagi-lagi bel pintu berdering. Kupersilakan Angela dan Ben masuk, membiarkan pintu terbuka lebar, karena melihat Eric dan Katie hendak menaiki undakan.
Aku tidak sempat lagi merasa panik. Aku harus mengobrol dengan semua orang, mencurahkan segenap
konsentrasi untuk menjadi tuan rumah yang ceria. Meski sebenarnya ini pesta patungan antara Alice, Edward, dan aku., namun tak dapat disangkal akulah sasaran yang paling populer untuk diberi ucapan selamat dan terima kasih.
Mungkin karena keluarga Cullen terlihat agak asing di bawah lampu-lampu pesta yang dipasang Alice. Mungkin
karena lampu-lampu itu membuat ruangan menjadi remang-remang dan terkesan misterius. Bukan atmosfer
yang bisa membuat kebanyakan manusia merasa rileks berdiri di sebelah orang seperti Emmett. Kulihat Emmett
nyengir kepada Mike saat mereka bertemu di meja hidangan, kilauan lampu merah menerpa giginya, dan Mike
langsung mundur selangkah.
Mungkin Alice sengaja melakukannya, memaksaku menjadi pusat perhatian posisi yang menurutnya
seharusnya bisa lebih kunikmati. Ia tak bosan-bosan berusaha membuatku jadi manusia seperti yang
dibayangkannya. Jelas pesta ini sukses besar, walaupun para tamunya secara naluriah gelisah karena kehadiran keluarga Cullen –atau mungkin itu justru menjadi bumbu yang semakin menyemarakkan suasana pesta. Musiknya menular, lampulampunya nyaris menghipnotis. Menilik cepatnya makanan habis, hidangan pestanya pasti juga lezat. Sebentar saja ruangan sudah penuh, meski tidak sampai menyesakkan.
Seluruh murid kelas senior sepertinya ada di sini, begitu juga sebagian besar murid junior. Tubuh-tubuh bergoyang mengikuti irama yang bergetar di bawah telapak kaki mereka, pestanya nyaris berubah menjadi ajang dansadansi. Ternyata memang tidak sesulit yang kukira. Aku mengikuti teladan yang ditunjukkan Alice, berbaur dan mengobrol sebentar dengan semua orang. Sepertinya mereka cukup gampang disenangkan. Aku yakin pesta ini jauh lebih keren daripada pesta mana pun yang pernah diadakan di Forks. Alice nyaris mendengkur saking bangganya – tak seorang pun di sini yang bakal melupakan malam ini.
Aku sudah mengitari ruangan satu kali, dan sampai lagi di Jessica. Ia mengoceh penuh semangat, dan aku tidak
perlu terlalu menyimak, karena besar kemungkinan ia tidak membutuhkan responsku. Edward berdiri di sebelahku – tetap menolak membiarkanku sendirian. Tangannya mesra memeluk pinggangku, sesekali mendekapku lebih erat, mungkin sebagai respons atas berbagai pikiran yang tak ingin kudengar.
Itu sebabnya aku langsung curiga waktu ia melepaskan pelukannya dari pinggangku dan beringsut menjauhiku.
“Jangan ke mana-mana,” bisiknya di telingaku.
"Sebentar lagi aku kembali.”
Edward berjalan anggun menerobos kerumunan, kelihatannya sama sekali tidak menyentuh tubuh-tubuh
yang berdiri berdekatan, begitu cepatnya ia lenyap sampaisampai aku tak sempat bertanya kenapa ia pergi.
Kupandangi ia dengan mata menyipit sementara Jessica berteriak-teriak penuh semangat meningkahi suara musik menggayuti sikuku, tidak sadar perhatianku sedang di tempat lain.
Kulihat Edward mencapai bayang-bayang gelap di sebelah pintu dapur. Di sana lampu hanya bersinar temaram. Ia membungkuk di atas seseorang, tapi aku tak bisa melihat orangnya, tertutup kepala-kepala di antara kami.
Aku berjinjit, menjulurkan leher panjang-panjang. Saat itulah lampu yang merah menyapu punggungnya dan
terpantul di manik-manik yang menghiasi baju Alice. Meski lampu itu hanya menyentuh wajahnya setengah detik, itu sudah cukup.
"Permisi sebentar, Jess.” gumamku, menarik lenganku dari cengkeramannya. Tanpa menunggu aku langsung
pergi, bahkan tanpa melihat apakah aku melukai perasaannya dengan kepergianku yang mendadak itu.
Aku merunduk, menerobos kerumunan, terdorongdorong sedikit. Beberapa orang kini berjoget. Aku bergegas
menuju pintu dapur. Edward sudah pergi, tapi Alice masih di sana, di kegelapan, wajahnya kosong – wajah tanpa ekspresi seperti yang kerap terlihat di wajah orang yang baru saja menyaksikan kecelakaan mengerikan. Satu tangannya mencengkeram ambang pintu, seolah-olah ia harus berpegangan.
"Apa, Alice, apa? Apa yang kau lihat?" Kedua tanganku mencengkeram dada – memohon-mohon.
Alice tidak menatapku, matanya menerawang jauh. Aku mengikuti arah pandangnya dan melihatnya bertatapan
mata dengan Edward di seberang ruangan. Wajah Edward kosong bagai batu. Ia berbalik dan lenyap dalam bayangbayang di bawah tangga.
Saat itulah bel pintu berdering, berjam-jam setelah deringan terakhir, dan Alice menengadah dengan ekspresi
bingung yang dengan cepat berubah jadi jijik.
"Siapa yang mengundang werewolf?" omelnya padaku.
Aku merengut. “Aku.”
Kupikir aku sudah membatalkan undangan itu – bagaimanapun juga aku tidak menyangka Jacob bakal nekat
datang ke sini.

"Well, urus mereka sendiri kalau begitu. Aku harus bicara dengan Carlisle.”

"Tidak, Alice. tunggu!" Aku berusaha meraih lengannya, tapi Alice sudah keburu lenyap dan tanganku hanya
menggapai udara kosong.
"Brengsek!" gerutuku.
Aku tahu pasti sekaranglah saatnya. Alice sudah melihat apa yang dinanti-nantikan olehnya, dan jujur saja. Rasanya aku tak kuat menahan ketegangan dan membukakan pintu lebih dulu. lagi-lagi bel pintu berdering, lama dan panjang, seolah-olah ada orang memencet tombol bel dan tidak melepaskannya. Aku membelakangi pintu dengan penuh tekad, lalu mengedarkan pandang ke sekeliling ruangan yang gelap, mencari Alice.
Aku tidak bisa melihat apa-apa. Aku mulai beranjak menaiki tangga.
"Hai, Bella!"
Suara Jacob yang berat berkumandang saat musik berhenti sejenak, dan, meski tidak ingin, wajahku otomatis
terangkat begitu mendengar namaku dipanggil. Aku mengernyitkan wajah. Tidak hanya satu werewolf, melainkan tiga. Jacob masuk sendiri, diapit Quil dan Embry di kiri-kanannya. Keduanya tampak sangat tegang, mata mereka berkelebat mengitari ruangan seperti memasuki ruang bawah tanah berhantu.
Tangan Embry yang gemetar masih memegangi pintu, tubuhnya miring agak ke belakang, siap lari. Jacob melambai padaku, lebih tenang dibanding kedua temannya yang lain, meskipun hidungnya mengernyit jijik.
Aku balas melambai – lambaian perpisahan – dan berbalik mencari Alice. Aku memaksakan diri menyelinap di antara punggung Conner dan Lauren. Ia muncul entah dari mana, tangannya mendarat di bahuku dan menarikku kembali ke keremangan dekat dapur. Aku mengelak dan melepaskan diri dari cengkeramannya, tapi pemuda itu menyambar pergelangan tanganku yang sehat dan menyentakku dari kerumunan.
"Sambutan yang ramah,” komentarnya.
Aku menarik tanganku dan menatapnya cemberut
"Untuk apa kau ke sini?"
"Kau yang mengundangku, ingat?"
"Kalau hook kananku memang terlalu lemah bagimu, izinkan aku menerjemahkannya. itu berarti aku
membatalkan undangan."
"Jangan jahat begitu. Aku membawakan hadiah kelulusan untukmu lho."
Aku bersedekap. Aku sedang tidak ingin bertengkar dengan Jacob sekarang. Aku ingin tahu apa yang dilihat
Alice, dan apa pendapat Edward dan Carlisle mengenainya. Aku menjulurkan leher panjang-panjang, melihat ke balik punggung Jacob, mencari-cari mereka.
"Kembalikan saja ke tokonya, Jake. Aku harus melakukan sesuatu..
Jacob bergerak menutupi pandanganku, menuntut perhatianku.
"Aku tidak bisa mengembalikannya. Aku tidak membelinya di toko – aku membuatnya sendiri. Butuh
waktu sangat lama pula."
Lagi-lagi aku mencondongkan tubuh ke balik tubuhnya, tapi tak satu pun anggota keluarga Cullen yang tampak. Ke mana perginya mereka? Mataku menyapu seluruh penjuru ruangan yang gelap itu.
"Oh, ayolah. Bell. Jangan berlagak seolah-olah aku tidak di sini!"
"Aku bukannya berlagak." Mereka tidak ada di manamana.
"Dengar, Jake, saat ini aku sedang banyak pikiran.”
Jacob meletakkan tangannya di bawah daguku dan mendongakkan wajahku. "Boleh minta waktu beberapa
detik saja tanpa terbagi-bagi, Miss Swan?"
Aku menyentakkan wajahku. “Jaga tanganmu baik-baik, Jacob,”desisku.
"Maaf!" seru Jacob. mengangkat kedua tangannya seperti menyerah. "Aku benar-benar minta maaf. Mengenai
kejadian waktu itu juga, maksudku. Seharusnya aku tidak menciummu seperti itu. Itu salah. Kurasa.., well, kurasa aku menipu diri sendiri dengan mengira kau menginginkanku."
"Menipu – gambaran yang tepat sekali!"
"Bersikaplah yang baik. Kau bisa menerima permintaan maafku, kau tahu."
"Baiklah. Permintaan maaf diterima. Sekarang, permisi sebentar..."
"Oke,” gumam Jacob, dan nadanya sangat berbeda dari sebelumnya hingga aku berhenti mencari-cari Alice dan mengamati wajahnya. Jacob menunduk memandang lantai, menyembunyikan matanya. Bibir bawahnya sedikit
mencebik.
"Ternyata kau lebih suka berkumpul dengan temanteman sejatimu,” tukasnya dengan nada kalah. "Aku
mengerti."
Aku mengerang. "Aduh, Jake, kau tahu itu tidak adil.”
"Memangnya aku tahu?"
"Seharusnya kau tahu.” Aku mencondongkan tubuh ke depan, menyipitkan mata, berusaha menatap matanya.
Jacob mendongak, menghindari mataku.

"Jake?"

Ia tak mau melihatku.
"Hei, katanya kau membuatkan sesuatu untukku, benar?" tanyaku. "Atau itu hanya omong kosong? Mana hadiahku?"
Upayaku berpura-pura antusias tampak sangat menyedihkan, tapi berhasil. Jacob memutar bola matanya
dan kemudian nyengir padaku. Aku tetap mempertahankan sikap pura-puraku yang menyedihkan, menyodorkan telapak tangan. "Aku menunggu lho."
"Yang benar saja,” gerutu Jacob sarkastis. Tapi ia merogoh kantong belakang jinsnya dan mengeluarkan
kantong kain rajutan berwarna-warni. Seutas tali kulit mengikat kantong itu.
Diletakkannya kantong itu di telapak tanganku. "Hei, cantik sekali, Jake. Terima kasih!"
Jacob mendesah. "Hadiahnya di dalam, Bella.”
"Oh.”
Susah juga membuka ikatannya. lagi-lagi Jacob mendesah dan mengambil kantong itu dariku, membukanya
dengan mudah dengan menarik tali yang tepat. Aku menyodorkan telapak tanganku, tapi Jacob membalikkan
kantong itu dan mengguncangnya, mengeluarkan sesuatu yang berwarna keperakan ke tanganku. Logam beradu dengan logam, menimbulkan suara berdenting pelan.
"Bukan aku yang membuat gelangnya,” Jacob mengakui.
"Hanya bandulnya."
Pada rantai gelang perak itu terpasang sebuah pahatan mungil dari kayu. Aku mengamatinya lebih saksama.
Sungguh menakjubkan betapa mendetailnya patung mungil itu – serigala miniatur itu terlihat seperti sungguhan.
Bahkan bahannya terbuat dari kayu berwarna merahcokelat, serupa benar dengan warna kulit Jacob.
"Cantik sekali,” bisikku. "Kau sendiri yang membuatnya? Bagaimana?"
Jacob mengangkat bahu. "Billy yang mengajarkan. Dalam hal itu dia malah lebih pandai daripada aku.”
"Sukar dipercaya,” gumamku, membolak-balik serigala mungil itu dengan jemariku.
“Kau benar-benar menyukainya?"
"Ya! Luar biasa sekali, Jake." Jacob tersenyum, awalnya senang, tapi kemudian ekspresinya berubah masam. "Well, kupikir mungkin itu bisa membuatmu teringat padaku sesekali. Kau tahu kan kata orang, jauh di mata, jauh pula di hati."
Aku tak menggubris sikapnya. "Sini, bantu aku memakainya."
Aku menyodorkan pergelangan tangan kiriku, karena yang kanan memakai penyangga. Jacob memasangkan
kaitannya dengan mudah, meski gelang itu tampak terlalu rapuh untuk jari-jarinya yang besar.
"Kau akan memakainya?" tanyanya.
"Tentu saja aku akan memakainya."
Jacob nyengir padaku,senyum bahagia yang senang bisa kulihat di wajahnya. Aku membalasnya beberapa saat kemudian, tapi lalu mataku kembali mengitari ruangan, dengan gugup mencaricari Edward atau Alice di antara kerumunan.
"Kenapa kau gelisah begitu?" tanya Jacob.
"Tidak apa-apa,” dustaku, mencoba berkonsentrasi.
"Terima kasih untuk hadiahnya, sungguh. Aku benar-benar suka."
"Bella?" Alis Jacob bertaut sehingga matanya seperti tenggelam jauh di balik bayang-bayang. "Pasti ada masalah, kan?"
“Jake, aku... tidak, tidak apa-apa.'"
"Jangan bohong, kau tidak pandai berbohong. Seharusnya kau memberitahuku kalau ada masalah. Kami
ingin mengetahui hal-hal ini," tukasnya, menggunakan kata ganti orang jamak pada akhir kalimat.
Mungkin Jacob benar, para serigala pasti tertarik pada apa yang terjadi. Hanya saja aku belum yakin apakah ini
memang hal itu. Aku belum bisa memastikannya sampai aku bertemu Alice.
“Jacob, aku akan memberitahumu. Tapi izinkan aku mencari tahu dulu apa yang sebenarnya terjadi, oke? Aku
perlu bicara dengan Alice."
Wajahnya langsung menunjukkan ekspresi mengerti. "Si peramal itu melihat sesuatu."
"Ya, tepat waktu kau datang tadi."
"Apakah ini mengenai pengisap darah yang masuk ke kamarmu?" bisik Jacob, merendahkan suaranya lebih
rendah daripada dentuman musik.
"Ada hubungannya," aku mengakui.
Jacob mencerna informasi itu sebentar, menggelengkan kepala sambil membaca wajahku. "Kau tahu sesuatu yang tidak kauceritakan padaku... sesuatu yang sangat penting."
Apa gunanya berbohong lagi? Dia terlalu mengenalku.
"Ya."
Jacob menatapku sesaat, kemudian berbalik untuk menatap mata saudara-saudara sekawanannya, di tempat
mereka berdiri di ambang pintu, canggung dan rikuh. Begitu melihat ekspresinya, mereka langsung bergerak,
berjalan gesit melewati para tamu, hampir seperti sedang berdansa juga. Kurang dari satu menit mereka sudah berdiri mengapit Jacob, menjulang tinggi di atasku.
"Sekarang. Jelaskan," tuntut Jacob.
Embry dan Quil menatap kami bergantian, wajah mereka bingung dan waswas.
"Jacob, aku tidak tahu semuanya.” Aku terus menyapukan pandangan, mencari jalan untuk meloloskan
diri. Mereka menyudutkanku, baik dalam arti harfiah maupun sebaliknya.
"Yang benar-benar kauketahui saja, kalau begitu."
Mereka serentak bersedekap. Agak lucu sebenarnya, tapi juga menakutkan.
Kemudian aku melihat Alice menuruni tangga, kulitnya yang putih berkilau dalam terpaan cahaya ungu.
“Alice!” pekikku lega.
Alice langsung melihat ke arahku, padahal suara bass yang berdentum-dentum menenggelamkan suaraku. Aku
melambai-lambai penuh semangat, dan melihat wajah Alice saat matanya tertumbuk pada tiga werewolf yang
membungkuk di atasku. Matanya menyipit.
Tapi, sebelum reaksi itu muncul, wajahnya tampak stres dan takut. Aku menggigit bibir saat ia bergegas
menghampiriku.
“Aku perlu bicara denganmu," bisiknya di telingaku.
"Eh, Jake, sampai ketemu lagi nanti...,” gumamku saat kami beranjak mengitari mereka.
Jacob mengulurkan lengan menghalangi jalan kami, menumpukan tangannya di dinding. "Hei, jangan buruburu."
Alice mendongak. menatapnya. matanya membelalak tak percaya. "Maaf, apa katamu?"
"Ceritakan pada kami apa yang terjadi," tuntut Jacob, suaranya menggeram.
Jasper muncul entah dari mana. Padahal sedetik yang lalu hanya ada Alice dan aku yang terpojok di dinding,
Jacob menghalangi jalan. Tapi mendadak muncul Jasper, berdiri di sebelah lengan Jake, ekspresinya mengerikan. Jacob pelan-pelan menarik lagi lengannya. Sepertinya itu tindakan paling bagus jika Jacob memang ingin mempertahankan lengannya.
"Kami berhak tahu,” gumam Jacob, matanya masih menatap Alice garang.
Jasper melangkah di antara mereka, dan ketiga werewolf menegakkan tubuh masing-masing.
"Hei, hei,” seruku, mengumandangkan tawa sedikit histeris. "Ini pesta, ingat!”
Tak ada yang menggubrisku. Jacob menatap Alice garang sementara Jasper memandang Jacob ganas. Wajah
Alice mendadak berubah bijak.
"Tidak apa-apa, Jasper. Dia benar."
Jasper tetap memasang posisi waspada. Aku yakin ketegangan ini bakal membuat kepalaku
meledak sebentar lagi. "Apa yang kaulihat, Alice?"
Alice menatap Jacob sebentar, kemudian berpaling padaku, jelas memutuskan untuk membiarkan mereka ikut
mendengarkan.
"Keputusan sudah diambil."
"Kalian akan ke Seattle?"
"Tidak.”
Aku merasa darah Surut dari wajahku. Perutku mulas.
"Mereka akan datang ke sini,” ujarku, suaraku tercekik.
Para pemuda Quileute menatapku sambil terdiam, membaca setiap pergolakan emosi yang bermain-main di
wajah kami. Mereka terpaku di tempat masing-masing, namun tak sepenuhnya tenang. Tiga pasang tangan
gemetar.
"Ya."
"Ke Forks,” bisikku.
"Ya.”
"Untuk?"
Alice mengangguk, memahami pertanyaanku. "Salah seorang di antara mereka membawa blus merahmu."
Aku mencoba menelan ludah. Ekspresi Jasper tidak setuju. Kentara sekali ia tidak suka mendiskusikan masalah ini di hadapan para werewolf, tapi ia merasa harus mengatakan sesuatu. "Kita tidak bisa
membiarkan mereka datang sejauh ini. Kita kekurangan orang untuk melindungi kota."
"Aku tahu,” sahut Alice, wajahnya tiba-tiba tampak sedih. "Tapi tak penting di mana kita menghentikan
mereka. Jumlah kita tetap tidak cukup, jadi pasti ada sebagian yang lolos dan datang ke sini untuk mencari."
"Tidak!" bisikku.
Hiruk-pikuk pesta menenggelamkan pekikanku. Di sekeliling kami teman-teman, terangga, dan musuhmusuhku
makan, tertawa-tawa, dan bergoyang diiringi suara musik tak tahu sama sekali sebentar lagi mereka akan
menghadapi kengerian, bahaya, bahkan mungkin kematian. Gara-gara aku.
“Alice,” ucapku tanpa suara. “Aku harus pergi, aku harus menjauh dari sini."
"Tak ada gunanya. Yang kita hadapi bukan pelacak. Mereka akan tetap datang ke sini lebih dulu."
"Kalau begitu aku harus pergi menemui mereka!" Kalau suaraku tidak separau dan setegang itu, mungkin yang
keluar adalah pekikan. "Kalau mereka menemukan apa yang dicari, mungkin mereka akan menjauh dan tidak
mencelakakan orang lain!"
"Bella!" protes Alice.
"Tunggu sebentar,” perintah Jacob, suaranya rendah dan memaksa. "Siapa yang akan datang ini!'
Alice mengalihkan tatapannya yang dingin kepada Jacob.
"Kaum kami. Dalam jumlah besar.”
"Kenapa?"
"Mencari Bella. Hanya itu yang kami tahu.”
"Terlalu banyak untuk kalian hadapi?'" tanyanya.
Jasper menahan emosinya. "Kami memiliki beberapa kelebihan, anjing. Pertempurannya bakal seimbang.”
"Tidak,” tukas Jacob, senyum miring yang aneh dan kejam mengembang di wajahnya. "Tidak akan seimbang.”
"Bagus!" desis Alice.
Masih membeku ketakutan, kutatap ekspresi baru Alice. Wajahnya berbinar-binar penuh semangat, keputusasaan seketika lenyap dari garis-garis wajahnya yang sempurna. Alice nyengir kepada Jacob, dan Jacob balas nyengir.
"Semua langsung menghilang, tentu saja," kata Alice kepada Jacob dengan nada menang. "Tidak
menguntungkan memang, tapi dengan berbagai pertimbangan, aku akan menerimanya."
"Kita harus berkoordinasi,” kata Jacob. "Tidak mudah bagi kami. Meski begitu, ini lebih merupakan tugas kami
ketimbang tugas kalian."
"Aku tak setuju, tapi kami memang membutuhkan bantuan. Kami tidak akan pilih-pilih."
"Tunggu, tunggu, tunggu, tunggu,” aku menyela mereka.
Alice berjinjit, Jacob membungkuk ke arahnya, wajah mereka berbinar-binar penuh semangat, hidung mengernyit
menahan bau satu sama lain. Keduanya menatapku tak sabar.
"Berkoordinasi!" ulangku, gigiku terkatup karena gemas.
"Kau tidak bermaksud menghalangi kami ikut, kan?" tanya Jacob.
"Kau memang tidak boleh ikut!"
"Paranormalmu tidak menganggap begitu."
“Alice – bilang tidak pada mereka!" desakku. "Bisa-bisa mereka terbunuh!"
Jacob, Quil, dan Embry tertawa keras-keras.

"Bella,” kata Alice, suaranya menenangkan, membujuk, "kalau sendiri-sendiri, kita semua bisa terbunuh. Tapi

bersama-sama–“
"Itu tidak akan menjadi masalah,” Jacob menyelesaikan kalimatnya. lagi-lagi Quil tertawa.
"Berapa banyak?" tanya Quil penuh semangat.
"Tidak!" teriakku.
Alice bahkan tidak memandang ke arahku. "Berubahubah, 21 hari ini, tapi jumlahnya menurun."
"Kenapa?" tanya Jacob, ingin tahu.
"Ceritanya panjang,” kata Alice, tiba-tiba memandang sekeliling ruangan. "Dan sekarang bukan tempat yang tepat untuk mendiskusikan ini."
"Bagaimana kalau nanti malam?"
"Baiklah,” Jasper yang menjawab. "Kami memang sudah merencanakan... pertemuan strategis. Kalau kalian
ingin bertempur bersama kami, kalian membutuhkan beberapa instruksi."
Wajah para serigala kontan menunjukkan sikap tidak puas begitu mendengar kalimat terakhir.
"Tidak?" erangku.
"Pasti bakal aneh.” kata Jasper dengan sikap merenung.
"Aku tak pernah mempertimbangkan untuk bekerja sama. Ini pasti yang pertama kali."
"Itu sudah jelas.” Jacob sependapat. Ia buru-buru ingin pergi sekarang. "Kami harus kembali untuk menemui Sam. Jam berapa?"
"Jam berapa yang terlalu malam untuk kalian?"
Ketiganya memutar bola mata masing-masing. “Jam berapa?" ulang Jacob.
"Jam tiga?"
"Di mana?"
"Kira-kira enam belas kilometer sebelah utara kantor jagawana Hutan Hoh. Datanglah dari arah barat, kalian
pasti bisa mengikuti bau kami."
"Kami akan datang."
Mereka berbalik untuk pergi.
"Tunggu, Jake!" aku berseru memanggilnya. "Please! Jangan lakukan ini!"
Jacob berhenti, berbalik untuk nyengir padaku, sementara Quil dan Embry berjalan dengan sikap tidak
sabar menuju pintu. "Jangan konyol, Bella. Kau memberiku hadiah yang jauh lebih bagus daripada hadiah yang
kuberikan padamu."
"Tidak!” aku berteriak lagi. Raungan gitar elektrik menenggelamkan teriakanku. Jacob tidak menyahut; ia bergegas pergi menyusul temannya yang sudah lenyap. Aku hanya bisa memandang tak berdaya saat Jacob menghilang.




0 komentar:

Post a Comment

Copyright © 2015 Baca Online dan Seputar Blog
| Distributed By Gooyaabi Templates