October 01, 2014

Baca Online New Moon part 21

21. VONIS
KAMI berada di aula yang terang benderang dan tidak mencolok. Dindingnya putih kusam, lantainya dilapisi karpet abu-abu. Lampu-lampu neon persegi panjang terpasang dalam jarak yang sama di sepanjang langit-langit. Hawa di sini lebih hangat, dan aku bersyukur karenanya. Ruangan ini tampak sangat ramah dibandingkan saluran
pembuangan limbah berdinding batu yang gelap dan mengerikan tadi.
Sepertinya Edward tidak sependapat dengan penilaianku. Matanya memandang garang ke lorong aula yang panjang, ke sosok kurus hitam
yang berdiri di ujung sana, dekat lift.
Ia menarikku bersamanya, sementara Alice berjalan di sisiku yang lain. Pintu yang berat menutup dengan suara berderit di belakang kami,
kemudian terdengar bunyi gerendel digeser. Jane menunggu di dekat lift, sebelah tangan memegangi pintu agar tetap terbuka untuk kami.
Ekspresinya apatis. Begitu masuk ke lift, tiga vampir yang bekerja untuk keluarga Volturi terlihat semakin rileks.
Mereka menyingkapkan jubah mereka, membiarkan penutup kepala terbuka dan terkulai di pundak. Baik Felix maupun Demetri sama-sama memiliki kulit sewarna zaitun—kelihatan aneh dikombinasikan dengan raut wajah mereka yang pucat seperti kapur. Rambut hitam Felix dipangkas pendek, sementara rambut Demetri tergerai lepas berombak-ombak ke bahunya. Mata mereka merah tua di bagian pinggir, tapi semakin gelap hingga nyaris hitam di sekitar pupil. Di balik jubah, baju
mereka modern, pucat, dan biasa. Aku mengkeret di sudut, menempel pada Edward. Tangannya masih menggosok-gosok lenganku. Matanya tak pernah lepas memandangi Jane.
Perjalanan dengan lift singkat saja; kami melangkah memasuki ruangan yang kelihatannya seperti ruang penerimaan tamu yang mewah. Dinding-dindingnya berlapis panel kayu, lantainya ditutup karpet tebal empuk berwarna hijau. Tak ada jendela, tapi lukisan-lukisan besar bergambar pemandangan daerah pedesaan Tuscan yang diterangi cahaya lampu benderang tergantung di mana-mana sebagai pengganti jendela. Sofa-sofa kulit berwarna lembut ditata membentuk kelompok-kelompok yang nyaman, dan meja-meja mengilap dihiasi vas-vas kristal penuh karangan bunga berwarna-warni meriah. Aroma bungabunga
itu mengingatkanku pada rumah duka.
Di tengah ruangan berdiri konter tinggi mengilap dari kayu mahoni. Aku ternganga keheranan melihat seorang wanita berdiri di baliknya. Wanita itu bertubuh tinggi, dengan kulit gelap dan mata hijau. Ia akan terlihat sangat cantik di perusahaan lain—tapi tidak di sini. Karena ia juga manusia, sama seperti aku. Aku tidak mengerti apa yang dikerjakan wanita manusia itu di sini, sikapnya begitu rileks, dikelilingi para vampir.
Wanita itu tersenyum sopan menyambut kedatangan kami. “Selamat siang, Jane,” sapanya.
Tidak ada keterkejutan di wajahnya saat ia melirik rombongan Jane. Tidak juga Edward yang dada telanjangnya berkilau samar tertimpa cahaya lampu putih, atau bahkan aku, yang acak-acakan dan sangat jelek bila dibandingkan dengannya.
Jane menangguk. “Gianna.” Ia terus berjalan menuju sepasang pintu ganda di bagian belakang ruangan, dan kami semua mengikuti. Saat Felix melewati meja. ia mengedipkan mata pada Gianna, dan wanita itu tertawa. Di sisi dalam pintu kayu itu terdapat ruang penerimaan tamu lain yang berbeda jenisnya. Bocah lelaki pucat bersetelan abu-abu mutiara bisa dikira kembaran Jane. Rambutnya lebih gelap, dan bibirnya tidak sepenuh bibir Jane, namun sama memikatnya. Ia maju menghampiri kami. Sambil tersenyum tangannya terulur pada Jane.
"Jane."
"Alec," sahut Jane memeluk pemuda itu. Mereka berciuman pipi. Kemudian pemuda itu menatap kami.
"Mereka mengirimmu keluar untuk membawa satu tapi kau kembali dengan membawa dua setengah," kata pemuda itu, menatapku. "Bagus
sekali."
Jane tertawa—suaranya ceria seperti celotehan bayi.
"Selamat datang kembali, Edward," Alec menyapanya. "Sepertinya suasana hatimu sudah lebih baik."
“Sedikit," Edward membenarkan dengan nada datar. Kulirik wajah Edward yang keras, dan bertanya-tanya dalam hati bagaimana mungkin
suasana hatinya bisa lebih buruk dari sekarang. Alec terkekeh, dan memerhatikan aku yang menempel erat di sisi Edward. "Jadi, inikah si
pembuat heboh itu?" tanyanya, skeptis.
Edward hanya tersenyum, ekspresinya sinis. Kemudian tubuhnya mengejang.
"Bodoh," ucap Felix dengan nada biasa-biasa saja dari belakang.
Edward berbalik, geraman rendah terdengar dari dadanya. Felix tersenyum—tangannya terangkat, telapak tangan mengarah ke atas; ia menekukkan jari-jarinya dua kali, mengundang Edward untuk
maju. Alice menyentuh lengan Edward. "Sabar," ia mengingatkan.
Mereka bertukar pandang cukup lama, dan aku berharap bisa mendengar apa yang dikatakan Alice padanya. Menurutku pasti ada hubungannya dengan tidak menyerang Felix, karena Edward menarik napas dalam-dalam dan berpaling kembali pada Alec.
"Aro pasti sangat senang bisa bertemu lagi denganmu," kata Alec, seolah tidak terjadi apa-apa.
"Kalau begitu jangan biarkan dia menunggu terlalu lama," saran Jane.
Edward mengangguk satu kali. Alec dan Jane, bergandengan tangan, berjalan mendului kami memasuki aula lain yang luas dan sarat hiasan—apakah ruangan ini ada ujungnya? Mereka mengabaikan pintu-pintu di ujung aula—pintu-pintu itu seluruhnya dilapisi emas—
berhenti di tengah jalan sebelum mencapai ujungnya, dan menggeser panel yang menutupi pintu kayu polos. Pintu itu tidak terkunci. Alec
membukakannya untuk Jane.
Aku ingin mengerang saat Edward menarikku memasuki pintu itu. Kami memasuki ruangan yang lagi-lagi terbuat dan batu tua seperti yang ada di alun-alun, di lorong, dan di saluran pembuang limbah. Suasananya juga gelap dan dingin. Ruang peralihan dari batu itu tidak besar. Di
baliknya ada ruangan lain yang lebih terang dan besar menyerupai gua, bentuknya bulat sempurna, seperti menara kasti yang besar. mungkin benar ini menara. Dua lantai ke atas, tampak dua jendela berbentuk celah memanjang, membuat cahaya matahari yang menerobos melaluinya jatuh dalam bentuk persegi panjang di lantai batu di bawahnya. Tidak ada cahaya buatan. Satu-satunya perabot di ruangan itu hanyalah beberapa kursi kayu besar seperti singgasana, yang diletakkan tidak beraturan, rata dengan dinding batu yang melengkung. Di pusat lingkaran, di cekungan pendek, terdapat saluran pembuangan limbah lagi. Aku bertanya-tanya dalam hati apakah mereka menggunakannya sebagai jalan keluar, seperti lubang di jalan.
Ruang itu tidak kosong. Segelintir orang berkumpul, tampaknya sedang mengobrol santai. Gumaman suara-suara pelan dan halus terdengar
bagai dengungan lembut di udara. Saat aku melihat, sepasang wanita pucat bergaun musim panas berhenti di bawah sepetak cahaya matahari, dan, seperti prisma, kulit mereka membiaskan pendar cahaya pelangi ke dinding-dinding cokelat kusam.
Wajah-wajah memesona itu menoleh begitu rombongan kami memasuki ruangan. Sebagian besar makhluk abadi itu mengenakan celana
panjang dan kemeja biasa – pokoknya, pakaian yang tidak akan terlihat mencolok di jalan-jalan di bawah sana. Namun lelaki yang pertama kali
berbicara mengenakan jubah panjang. Warnanya hitam pekat, dan menyapu lantai. Aku sempat mengira rambut hitam kelamnya yang panjang adalah tudung jubahnya.
“Jane, Sayang, kau sudah kembali!” seru lelaki itu senang. Suaranya terdengar seperti desahan lirih. Lelaki itu melenggang maju, dan gerakannya begitu luwes sampai-sampai aku ternganga, mulutku terbuka lebar. Bahkan Alice, yang setiap gerakannya terlihat seperti menari, tidak bisa menandinginya.
Aku lebih terperangah lagi saat lelaki itu melenggang lebih dekat dan aku bisa melihat wajahnya. Tidak seperti wajah-wajah menarik tapi
tidak natural yang mengelilinginya (karena ia tidak menghampiri kami sendirian; seluruh rombongan mengerubunginya dengan rapat, beberapa mengikuti di belakang, yang lain berjalan mendahuluinya dengan sikap waspada khas pengawal). Aku tidak bisa menentukan apakah wajahnya tampan atau tidak. Garis-garis wajahnya memang sempurna. Tapi ia berbeda dari para vampir di sampingnya, sama seperti mereka berbeda denganku. Kulitnya putih transparan, seperti mereka berbeda denganku. Kulitnya putih transparan, seperti kulit bawang, dan tampak sama rapuh – kelihatan sangat kontras dengan
rambut hitam panjang yang membingkai wajahnya. Aku merasakan dorongan aneh yang mengerikan untuk menyentuh pipinya, untuk merasakan apakah kulitnya lebih lembut daripada kulit
Edward atau Alice, dan bila diraba apakah terasa halus, seperti kapur. Matanya merah, sama seperti makhluk-makhluk lain di sekitarnya, tapi
warnanya berselaput, keruh seperti susu; aku penasaran apakah pandangannya terganggu oleh selaput itu.
Vampir itu melenggang menghampiri Jane, merengkuh wajah Jane dengan tangannya yang berlapis kulit setipis kertas, mendaratkan kecupan ringan di bibir tebal Jane, lalu melenggang mundur selangkah.
“Ya, tuan,” Jane tersenyum; ekspresinya membuatnya terlihat seperti bocah malaikat. “Akumembawanya kembali hidup-hidup seperti yang
Anda inginkan.”
"Ah, Jane.” Vampir itu tersenyum. “Kau sungguh menenteramkan hatiku."
Ia mengarahkan matanya yang berkabut ke arah kami, dan senyumnya semakin cerah – menjadi girang.
"Dan Alice dan Bella juga!'' soraknya, bertepuk tangan dengan tangannya yang kurus. "Ini benarbenar kejutan yang menggembirakan! Hebat! Kupandangi vampir itu, shock mendengarnya menyebut nama kami dengan sikap ramah, seolaholah kami teman lama yang mampir tanpa didugaduga. Vampir itu berpaling pada pendamping kami yang bertubuh besar. "Felix, tolong sampaikan kepada saudara-saudaraku tentang kedatangan tamu-tamu kita. Aku yakin mereka pasti tidak
ingin melewatkan kesempatan ini"
"Baik, Tuan" Felix mengangguk dan lenyap di balik pintu tempat kami masuk tadi.
"Kaulihat, Edward?" Vampir aneh itu menoleh dan tersenyum pada Edward, seperti kakek yang sayang tapi marah pada cucunya. "Apa kubilang? Kau senang kan, aku tidak mengabulkan permintaanmu kemarin?"
“Ya, Aro, aku senang," Edward membenarkan, mempererat pelukannya di pinggangku.
“Aku suka akhir yang membahagiakan." Aro mendesah. "Itu sangat jarang terjadi. Tapi aku ingin mendengar cerita selengkapnya. Bagaimana itu bisa terjadi? Alice?" Ia berpaling kepada Alice,
sorot ingin tahu terpancar dari matanya yang berkabut. Saudaramu sepertinya menganggapmu tidak mungkin salah, tapi jelas ada kesalahan."
“Oh, aku masih jauh dari sempurna." Alice menyunggingkan senyum memesona. Ia tampak sangat santai, hanya saja kedua tangannya
terkepal erat. "Seperti yang Anda lihat hari ini, aku menyebabkan masalah sesering aku menyelesaikannya."
"Kau terlalu rendah hati," cela Aro. "Aku sudah sering melihat bakatmu yang luar biasa, dan harus kuakui, bakatmu benar-benar unik. Hebat!"
Alice melirik sekilas kepada Edward. Itu tidak luput dari perhatian Aro.
"Maaf, kita belum berkenalan, bukan? Aku hanya merasa seperti sudah mengenalmu, dan aku cenderung suka mendului. Saudaramu memperkenalkan kita kemarin, dengan cara yang aneh. Begini, aku juga memiliki sebagian bakat seperti yang dimiliki saudaramu, hanya saja aku memiliki batasan, sedangkan dia tidak." Aro menggelengkan kepala; nadanya iri.
"Dan juga jauh lebih kuat," Edward menambahkan dengan nada kering. Ditatapnya Alice sementara ia menjelaskan dengan cepat. "Aro membutuhkan kontak fisik untuk bisa mendengarkan pikiranmu, tapi dia bisa mendengar lebih banyak daripada aku. Kau tahu aku hanya bisa mendengarkan pikiran yang sedang melintas dalam pikiranmu saat ini. Aro bisa mendengarsemua pikiran yang pernah singgah di kepalamu.
Alice mengangkat alisnya yang indah, dan Edward menelengkan kepala.
Itu juga tak luput dari perhatian Aro.
"Tapi bisa mendengar dari jauh." Aro mendesah, melambaikan tangan pada mereka berdua, dan pertukaran pikiran yang baru saja terjadi. "Itu akan sangat menyenangkan.”
Aro memandang ke balik bahu kami. Semua kepala ikut berpaling ke arah yang sama, termasuk Jane, Alice dan Demetri, yang berdiri tanpa suara di sebelah kami. Aku yang terakhir menoleh. Felix sudah kembali,
dan di belakangnya melenggang dua lelaki berjubah hitam. Keduanya sangat mirip dengan Aro, salah satunya bahkan juga berambut hitam
tergerai. Yang satunya bahkan juga berambut hitam tergerai. Yang satunya lagi berambut putih terang seperti salju – seputih wajahnya – yang tergerai lepas ke bahu. Kulit wajah mereka samasama setipis kertas. Lengkap sudah trio yang tergambar pada lukisan Carlisle, tidak berubah meski tiga ratus tahun telah berlalu semenjak lukisan itu dibuat.
"Marcus, Caius. lihat!" seru Aro. "Bella ternyata masih hidup, dan Alice datang bersamanya! Hebat, bukan?"
Tak seorang pun di antara mereka tampak setuju dengan pemilihan kata hebat yang digunakan Aro. Si vampir berambut hitam terlihat sangat bosan, seakan-akan sudah terlalu sering menyaksikan antusiasme Aro yang meluap-luap selama berabad-abad. Wajah vampir yang lain masam di bawah rambutnya yang seputih salju. Ketidaktertarikan yang mereka tunjukkan tak mengurangi semangat Aro.
"Mari kita dengar ceritanya bersama-sama," Aro nyaris berdendang dengan suaranya yang sehalus bulu. Si vampir tua berambut putih menjauh, melenggang menghampiri salah satu singgasana kayu. Yang lain berhenti di sebelah Aro, dan ia mengulurkan tangan, mulanya kukira hendak meraih tangan Aro. Tapi ia hanya menyentuh telapak tangan Aro sekilas dan kemudian menjatuhkan tangannya kembali. Aro mengangkat sebelah alisnya yang hitam. Aku jadi heran bagaimana kulitnya yang setipis kertas itu tidak remuk oleh gerakan tersebut.
Edward mendengus sangat pelan, dan Alice memandanginya, ingin tahu.
"Terima kasih, Marcus," ujar Aro. "Itu sangat menarik,"
Sadarlah aku, sedetik terlambat, bahwa Marcus membiarkan Aro mengetahui pikirannya. Marcus kelihatannya tidak tertarik. Ia
melenggang menjauhi Aro, mendekati vampir satunya yang pastilah bernama Caius, yang duduk menempel di dinding. Dua vampir yang
mendampinginya mengikuti tanpa suara di belakangnya—pengawal, seperti yang sudah kuduga sebelumnya. Aku bisa melihat dua wanita
bergaun musim panas yang berdiri mengapit Caius dengan sikap sama. Agak konyol menurutku bila vampir membutuhkan pengawal, tapi mungkin para vampir tua itu sama rapuhnya seperti yang
ditunjukkan kulit mereka. Aro menggelengkan kepala. "Luar biasa,"
ucapnya. "Benar-benar luar biasa."
Ekspresi Alice frustrasi. Edward berpaling padanya dan menjelaskan dengan ringkas dan suara pelan. "Marcus bisa melihat hubungan. Dia
terkejut melihat betapa kuatnya hubungan kita."
Aro tersenyum. "Sangat menyenangkan," ulangnya lagi. Lalu ia berbicara pada kami. "Agak sulit membuat Marcus terkejut, aku bisa
memastikan." Kutatap wajah Marcus yang datar seperti mayat,
dan aku percaya.
"Sungguh sulit dimengerti, bahkan sekarang," renung Aro, menatap lengan Edward yang melingkari pinggangku. Sulit bagiku mengikuti
jalan pikiran Aro yang ruwet. Aku berusaha mengikuti dengan susah payah. "Bagaimana kau bisa berdiri sedekat itu dengannya?"
"Bukan berarti mudah," jawab Edward tenang.
"Namun tetap saja—la tua cantante! Sungguh mubazir!”
Edward tertawa datar, “Aku menganggapnya lebih sebagai harga yang harus dibayar.”
Aro merasa skeptis. “Harga yang sangat tinggi.” “Kesempatan memang berharga mahal.”
Aro terbahak. “Kalau saja aku tidak bisa mencium aromanya melalui pikiranmu, aku tidak mungkin percaya godaan terhadap darah seseorang bisa sekuat itu. Aku sendiri belum pernah merasakan hal seperti itu. Kebanyakan kita rela menukar apa saja untuk dapat memiliki anugerah sebesar itu, tapi kau malah.”
“Menyia-nyiakannya,” Edward menyelesaikan kata-kata Aro, suaranya kini terdengar sinis. Lagi-lagi Aro terbahak. “Ah, betapa kangennya
aku pada sobatku, Carlisle! Kau mengingatkan aku padanya—hanya saja dia tidak segalak kau."
"Carlisle jauh melebihi aku dalam banyak hal lain."
"Tak pernah terpikir olehku, aku akan pernah melihat Carlisle kehilangan kendali diri, tapi kau membuatnya malu."
"Itu tidak benar." Edward terdengar tidak sabar.
Seolah-olah ia muak dengan basa-basi ini. Itu membuatku semakin takut; mau tak mau aku jadi berusaha membayangkan apa yang ia harapkan bakal terjadi.
“Aku senang melihat kesuksesannya," renung Aro. "Kenanganmu mengenainya adalah anugerah bagiku, meski itu membuatku sangat takjub. Aku heran karena ternyata aku. justru senang melihat kesuksesannya di jalan tak lazim yang dipilihnya. Kukira dia akan tersia-sia, melemah seiring berjalannya waktu. Aku sempat mencela
rencananya menemukan pihak-pihak lain yang setuju dengan pandangannya yang aneh. Namun bagaimanapun aku senang karena ternyata aku keliru.”
Edward tidak menanggapi.
"Tapi pertahanan dirimu!" Aro mendesah. “Aku tidak tahu kekuatan sehebat itu ternyata ada. Membiasakan diri mengabaikan godaan sedahsyat itu, bukan hanya sekali melainkan berkali-kali— seandainya tidak merasakannya sendiri, aku pasti tidak akan percaya."
Edward membalas pandangan kagum Aro tanpa ekspresi. Aku cukup mengenali wajahnya—waktu tidak banyak mengubahnya—untuk mengetahui bahwa di balik ekspresinya yang tenang, tersimpan
amarah yang menggelora. Susah payah aku berusaha mempertahankan napasku tetap tenang.
"Hanya mengingat bagaimana dia begitu menggairahkan bagimu." Aro terkekeh.
"Membuatku haus." Edward mengejang.
"Jangan merasa terganggu," Aro meyakinkannya.
"Aku tidak bermaksud mencelakakannya. Tapi aku sangat ingin tahu, mengenai satu hal secara khusus." Ia menatapku dengan sikap sangat
tertarik. "Bolehkah?" tanyanya penuh semangat, mengangkat sebelah tangan.
"Tanya saja padanya." Edward menyarankan dengan nada datar.
"Tentu saja, kurang ajar benar aku!" seru Aro.
“Bella,” ia berbicara sendiri padaku sekarang. "Aku takjub karena kau satu-satunya yang merupakan pengecualian terhadap bakat Edward yang mengagumkan itu—sungguh sangat menarik hal semacam itu bisa terjadi! Dan aku jadi ingin tahu. berhubung bakat kami serupa dalam banyak hal, apakah kau mau berbaik hati mengizinkan aku untuk mencoba – melihat apakah kau merupakan pengecualian bagiku juga?”
Mataku serta-merta melirik Edward dengan penuh ketakutan. Meski bertanya dengan sikap sopan yang berlebihan, aku tak yakin aku punya
pilihan. Ngeri rasanya membayangkan mengizinkan Aro menyentuhku, namun tak urung diam-diam aku tertarik oleh kesempatan menyentuh kulitnya yang aneh ini.
Edward mengangguk menyemangati – apakah karena ia yakin Aro tidak akan mencelakakanku, atau karena memang tak ada pilihan aku tidak
tahu. Aku berpaling kembali pada Aro dan mengangkat tanganku pelan-pelan di hadapanku. Tanganku gemetar.
Aro melenggang menghampiriku, dan aku yakin ia sengaja memasang mimik tenang untuk meyakinkan aku. Namun garis-garis wajahnya
kelewat aneh, terlalu asing dan menakutkan, untuk dapat meyakinkan aku. Mimik wajahnya lebih percaya diri daripada kata-katanya tadi.
Aro mengulurkan tangan, seperti hendak menjabat tanganku, dan menempelkan kulitnya yang aneh ke kulitku. Kulitnya terasa keras
sekaligus rapuh—lebih menyerupai serpih daripada granit—dan lebih dingin daripada yang kukira. Matanya yang berkabut tersenyum
memandangiku, dan mustahil bagiku untuk mengalihkan pandangan. Matanya memesona dengan cara yang ganjil dan tidak menyenangkan.
Wajah Aro berubah di depan mataku. Rasa percaya diri itu goyah dan mula-mula menjadi keraguan, baru kemudian tidak percaya sebelum
akhirnya tenang kembali, membentuk topeng ramah.
“Sangat menarik," ucapnya sambil melepaskan tanganku dan kembali ke tempatnya.
Mataku berkelebat memandang Edward, dan, walaupun wajahnya tenang, ia tampak sedikit puas pada diri sendiri. Aro terus dalam ekspresi menerawang. Sesaat ia diam, matanya berkelebat menatap kami bertiga. Kemudian tiba-tiba ia menggelengkan kepalanya.
"Ini pertama kalinya," katanya pada diri sendiri.
"Aku jadi penasaran apakah dia juga imun terhadap bakat-bakat kita yang lain. Jane, Sayang?"
"Tidak!" Edward mengucapkan kata itu sambil menggeram Alice menyambar lengannya, memeganginya. Edward menepiskannya.
Si mungil Jane tersenyum bahagia pada Aro.
"Ya, Tuan?"
Edward benar-benar menggeram sekarang, suara itu terlontar dari dalam dirinya, matanya menatap Aro garang dengan sorot berapi-api.
Ruangan sunyi senyap, semua memandanginya dengan tercengang dan tak percaya, seolah-olah ia melakukan sesuatu yang sangat memalukan dan tak bisa diterima. Kulihat Felix menyeringai penuh
harap dan maju satu langkah. Aro meliriknya, dan Felix langsung menegang, seringaiannya berubah jadi ekspresi merajuk.
Lalu ia berbicara kepada Jane. “Aku ingin tahu, sayangku, apakah Bella imun terhadapmu."
Aku nyaris tak bisa mendengar suara Aro karena geraman marah Edward. Edward melepaskan aku, bergerak untuk menyembunyikanku dari pandangan mereka. Caius melayang ke arah kami, bersama rombongannya, untuk menonton. Jane berbalik menghadapi kami dengan senyum memesona tersungging di wajah.
"Jangan!" pekik Alice saat Edward menerjang gadis mungil itu.
Sebelum aku sempat bereaksi, sebelum semua orang lain bisa melompat ke tengah mereka, sebelum para pengawal Aro sempat mengejang, Edward sudah terjatuh ke lantai. Tak ada yang menyentuhnya, tapi ia tergeletak di lantai baru, menggeliat-geliat kesakitan, semenara aku menatapnya dengan penuh kengerian.
Jane hanya tersenyum padanya sekarang, dan mendadak aku mengerti. Inilah yang dimaksud Alice mengenai bakat luar biasa, mengapa semua
orang memperlakukan Jane dengan hormat dan mengapa Edward melemparkan diri di depannya sebelum Jane bisa melakukannya terhadapku.
“Hentikan!" aku menjerit, suaraku bergema dalam kesunyian, melompat ke depan di antara mereka. Tapi Alice merangkulku sekuat-kuatnya
dengan kedua tangan, tak peduli aku merontaronta. Tidak ada suara yang keluar dari bibir Edward saat ia menggeliat-geliat di lantai batu.
Kepalaku serasa mau pecah karena tidak tega melihatnya.
"Jane," Aro memanggilnya dengan suara tenang. Jane mendongak cepat masih tersenyum senang, matanya bertanya-tanya. Begitu memalingkan wajah, Edward berhenti menggeliat-geliat.
Aro menelengkan kepala ke arahku. Jane mengarahkan senyumnya padaku. Aku bahkan tidak membalas tatapannya. Aku memandangi Edward dari dekapan tangan Alice, masih meronta-ronta tanpa hasil.
"Dia tidak apa-apa," bisik Alice padaku dengan suara kaku. Saat Alice berbicara Edward duduk, lalu berdiri dengan tangkas. Matanya menatap
mataku, sorot matanya tampak ketakutan Awalnya kukira ketakutan itu karena apa yang batu saja dialaminya. Tapi kemudian ia berpaling cepat ke arah Jane, lalu kembali padaku – dan ketegangan di wajahnya mengendur, berubah lega. Aku memandangi Jane juga dan ia tidak lagi
tersenyum. Ia menatapku garang, dagunya mengeras oleh kuatnya ia berkonsentrasi. Aku mengkeret, menunggu datangnya rasa sakit.
Tidak terjadi apa-apa. Edward sudah berdiri di sampingku lagi. Disentuhnya lengan Alice dan Alice menyerahkanku padanya.
Tawa Aro meledak. "Ha, ha, ha," tawanya. "Hebat sekali!"
Jane mendesis frustrasi, mencondongkan tubuh ke depan, seolah-olah bersiap menerjang.
"Jangan kecewa, Sayang," kata Aro dengan nada menenangkan, meletakkan tangannya yang seringan bedak ke bahu Jane. "Dia mengacaukan kita semua"
Bibir atas Jane melengkung ke belakang, memamerkan giginya sementara ia terus menatapku garang.
"Ha, ha, ha," lagi-lagi Aro terbahak. "Kau sangat berani, Edward, menahan sakit tanpa suara. Aku pernah meminta Jane melakukannya padaku satu kali—hanya karena ingin tahu." Ia menggeleng kagum.
Edward melotot, jijik.
"Jadi mau kita apakan kau sekarang?" Aro mendesah.
Edward dan Alice mengejang. Ini bagian yang mereka tunggu-tunggu sejak tadi. Aku mulai gemetar.
"Kurasa tidak ada kemungkinan kau berubah pikiran?" Aro bertanya pada Edward dengan sikap penuh harap. "Bakatmu akan menjadi tambahan yang sangat baik untuk kelompok kecil kami." Edward ragu-ragu. Dari sudut mata kulihat Felix dan Jane meringis.
Edward seakan menimbang setiap kata dengan seksama, sebelum mengucapkannya. "Kurasa tidak usah.”
"Alice?" tanya Aro, masih berharap. “Mungkin kau tertarik bergabung dengan kami?"
"Tidak, terima kasih," jawab Alice.
“Dan kau, Bella?" Aro mengangkat alisnya.
Edward mendesis, rendah di telingaku, kutatap Aro dengan pandangan kosong. Apakah ia bergurau? Atau ia benar-benar serius menanyakan
apakah aku ingin tinggal untuk makan malam? Kesunyian itu dikoyakkan oleh suara Caius, si vampir berambut putih.
"Apa?" tuntutnya pada Aro; suaranya, meski tak lebih dari sekadar bisikan, Terdengar datar.
"Caius, masa kau tidak melihat potensi di sini?" Aro mencelanya dengan sikap sayang. 'Aku belum pernah melihat bakat prospektif lain yang sangat menjanjikan sejak kita menemukan Jane dan Alec. Dapatkah kaubayangkan kemungkinannya bila dia menjadi salah seorang di antara kita?"
Caius membuang muka dengan ekspresi sengit. Mata Jane berapi-api karena tersinggung dibanding-bandingkan. Edward menahan marah di sampingku. Aku bisa mendengar gemuruh di dadanya, yang nyaris
menjadi geraman. Aku harus berusaha agar amarahnya tidak membuatnya celaka.
"Tidak, terima kasih," aku angkat bicara dengan suara yang tak lebih dari bisikan, suaraku gemetar karena takut.
Aro mendesah. "Sayang sekali. Sungguh sia-sia."
Edward mendesis. "Bergabung atau mati, begitu? Aku sudah bisa menduganya waktu kami dibawa ke ruangan ini. Hukummu tidak berarti apa-apa."
Nada suara Edward membuatku terkejut. Ia terdengar berang, tapi ada sesuatu yang disengaja dalam cara penyampaiannya – seolah-olah ia
memilih kata-kata yang akan ia ucapkan dengan begitu saksama.
"Tentu saja tidak,” Aro mengerjap, terperangah.
"Kami memang sudah berkumpul di sini, Edward, menunggu Heidi kembali. Bukan karena kau."
"Aro," Caius mendesis. "Hukum mengklaim mereka."
Edward menatap Caius garang, "Bagaimana bisa?" tuntutnya. Dia pasti bisa membaca pikiran Caius, tapi sepertinya bertekad membuatnya
mengutarakan pikiran itu dengan suara keras. Caius mengacungkan telunjuknya yang panjang kurus padaku. "Dia terlalu banyak tahu. Kau sudah mengekspos rahasia kita." Suaranya setipis kertas, sama seperti kulitnya.
"Di sini juga ada beberapa manusia dalam sandiwara kalian," Edward mengingatkan Caius, dan ingatanku langsung melayang pada resepsionis cantik di bawah. Wajah Caius terpilin membentuk ekspresi baru. Apakah itu dimaksudkan sebagai senyuman?
"Benar," ia sependapat. "Tapi kalau mereka sudah tidak kami butuhkan lagi, mereka akan menjadi pemuas dahaga kami. Bukan begitu rencanamu untuk gadis yang satu ini Kalau dia membocorkan rahasia kita, apakah kau siap menghabisinya? Kurasa tidak," dengusnya.
"Aku tidak akan—" aku membuka mulut, masih berbisik. Caius membungkamku dengan tatapan dingin.
"Kau juga tidak berniat menjadikannya salah satu dari kita,” lanjut Caius. "Dengan begitu, dia ancaman bagi eksistensi kita. Meski ini benar,
dalam hal ini hanya hiduplah yang dikorbankan. Kau boleh pergi kalau memang mau.”
Edward menyeringai, menunjukkan gigi-giginya.
“Sudah kukira,” kata Caius, dengan ekspresi menyerupai kegembiraan. Felix mencondongkan tubuh, bersemangat.
“Kecuali." Aro menyela. Kelihatannya ia tidak senang dengan arah pembicaraan ini. “Kecuali kau memang berniat memberinya keabadian?”
Edward mengerucutkan bibir, ragu-ragu sesaat sebelum menjawab. "Dan kalau itu benar?"
Aro tersenyum, kembali senang. “Yah, kalau begitu kau boleh pulang dan menyampaikan salamku pada sobatku Carlisle." Ekspresinya
berubah ragu. "Tapi aku khawatir kau harus bersungguh-sungguh dengan ucapanmu."
Aro mengangkat tangan di hadapannya. Caius, yang awalnya memberengut marah, berubah rileks. Bibir Edward mengejang membentuk garis marah. Ia menatap mataku, dan aku membalas
tatapannya.
“Ucapkan dengan sungguh-sungguh," bisikku.
"Kumohon."
Sebegitu menjijikkannyakah ide itu? Apakah Edward lebih suka mati daripada mengubahku? Perutku seperti ditendang. Edward menunduk menatapku dengan ekspresi tersiksa.
Kemudian Alice melangkah menjauhi kami, maju mendekati Aro. Kami menoleh dan menatapnya. Tangannya terangkat seperti Aro. Alice tidak mengatakan apa-apa, dan Aro melambaikan tangan kepada para pengawalnya yang bergegas datang untuk menghalangi Alice. Aro
menemui Alice di tengah, dan meraih tangannya dengan mata memancarkan kilau tamak dan penuh semangat.
Aro menunduk ke atas tangan mereka yang saling menyentuh mata terpejam saat berkonsentrasi. Alice diam tak bergerak, wajahnya
kosong. Aku mendengar Edward menggertakkan gigi.
Semua diam tak bergerak. Aro seakan membeku di atas tangan Alice. Detik demi detik berlalu dan semakin lama aku semakin tertekan, bertanyatanya sampai kapan ini akan terus berlangsung, apakah waktu sudah berlalu terlalu lama sebelum itu berarti sesuatu yang buruk telah terjadi—lebih buruk daripada keadaan sekarang.
Waktu terus berjalan dan terasa menyiksa, dan sejurus kemudian suara Aro mengoyak keheningan.
"Ha, ha, ha," ia tertawa, kepalanya masih tertunduk ke depan. Ia mendongak perlahanlahan, matanya cemerlang oleh kegembiraan. "Itu
sangat menakjubkan!"
Alice tersenyum kering. "Aku senang Anda menikmatinya."
"Melihat berbagai hal yang telah kaulihat—terutama peristiwa-peristiwa yang belum terjadi!" Aro menggeleng-geleng takjub.
"Tapi akan terjadi," Alice mengingatkan, suaranya kalem. "Ya, ya, itu sudah ditentukan. Tentu tidak ada masalah."
Caius tampak sangat kecewa—perasaan yang tampaknya juga dirasakan Felix dan Jane.
"Aro," tegur Caius.
“Caius Sayang," Aro tersenyum. "Jangan cerewet. Coba pikirkan kemungkinan-kemungkinannya! Mereka memang tidak bergabung dengan kita hari ini, tapi kita selalu bisa berharap di masa mendatang. Coba bayangkan kegembiraan yang akan dibawa hanya oleh Alice saja ke keluarga kecil kita. Lagi pula, aku juga sangat ingin melihat bagaimana jadinya Bella nanti!"
Aro tampak yakin sekali. Apakah ia tidak sadar betapa subjektifnya penglihatan Alice? Bahwa ia bisa memutuskan untuk mengubahku hari ini, kemudian mengubahnya besok? Sejuta keputusan kecil, baik keputusannya maupun keputusan banyak pihak lain – juga Edward – dapat saja mengubah jalan hidupnya, sehingga dengan demikian, masa depan pun akan ikut berubah.
Dan apakah ada artinya bila Alice bersedia, apakah ada bedanya bila aku benar-benar berubah menjadi vampir, bila itu justru menjijikkan bagi
Edward? Bila kematian, baginya, merupakan alternatif yang lebih baik daripada memilikiku di sisinya selamanya, menjadi gangguan yang abadi? Meski sangat ketakutan, aku merasa diriku terbenam dalam perasaan depresi, tenggelam di dalamnya.
"Kalau begitu kami boleh pergi sekarang?" tanya Edward datar.
"Ya, ya," jawab Aro riang. "Tapi datanglah lagi kapan-kapan. Ini benar-benar mengasyikkan!"
“Dan kami juga akan mengunjungi kalian," Caius berjanji, matanya tiba-tiba separuh terpejam, seperti tatapan kadal yang kelopak matanya tebal. "Untuk memastikan kalian menepati bagian kalian. Kalau aku jadi kau, aku tidak akan menunda terlalu lama. Kami tidak pernah menawarkan kesempatan kedua."
Rahang Edward mengeras, tapi ia mengangguk. Caius tersenyum sinis dan melenggang kembali ke tempat Marcus masih duduk, tidak bergerak dan tidak tertarik. Felix mengerang.
"Ah, Felix," Aro tersenyum geli. "Sebentar lagi Heidi datang. Sabarlah."
“Hmmm," Ada semacam kecemasan dalam suara Edward. “Kalau begitu, mungkin sebaiknya kami pergi saja sekarang.”
“Benar," Aro sependapat. "Itu ide bagus. Kecelakaan bisa saja terjadi Tapi kumohon kau mau menunggu di bawah sampai hari gelap, kalau
kau tidak keberatan.”
“Tentu saja,” Edward setuju, sementara aku meringis membayangkan harus menunggu seharian sebelum bisa keluar dari sini.
"Dan ini," Aro menambahkan, memberi isyarat kepada Felix dengan satu jari. Felix langsung datang menghampirinya, dan Aro membuka jubah
abu-abu yang dikenakan vampir bertubuh besar itu, melepasnya dari pundaknya. Dilemparkannya jubah itu pada Edward. "Ambillah. Kau agak terlalu menarik perhatian." Edward memakai jubah itu, menurunkan penutup kepalanya.
Aro mendesah. "Cocok untukmu."
Edward tertawa, tapi mendadak terdiam menoleh ke belakang. "Terima kasih, Aro. Kami akan menunggu di bawah."
"Selamat jalan, sobat-sobat muda," kata Aro, matanya cemerlang saat ia memandang ke arah yang sama.
"Ayo kita pergi," kata Edward, nadanya mendesak sekarang.
Demetri memberi isyarat agar kami mengikutinya, kemudian beranjak menuju pintu tempat kami datang tadi. Tampaknya, itu satusatunya jalan keluar. Edward menarik tanganku dan berjalan cepatcepat. Alice merapat di sisiku yang lain, wajahnya keras.
"Masih kurang cepat," gumamnya.
Aku mendongak padanya, ketakutan, tapi Alice hanya tampak sedih. Saat itulah pertama kalinya aku mendengar celotehan orang-orang mengobrol— keras dan kasar—terdengar dari arah ruang depan.
"Well, ini tidak biasa," dentum suara kasar seorang laki-laki.
"Sangat abad pertengahan," balas seorang wanita dengan suaranya yang melengking tinggi dan tidak enak didengar. Serombongan besar orang melewati pintu yang kecil, memenuhi ruangan berdinding baru yang lebih kecil. Demitri memberi isyarat pada kami agar menepi. Kami menempel rapat-rapat di dinding yang dingin untuk memberi jalan pada mereka. Pasangan yang berjalan paling depan, orangorang Amerika kalau mendengar aksennya, memandang berkeliling dengan sikap menilai.
"Selamat datang, Tamu-Tamu! Selamat datang di Volterra!" Aku bisa mendengar Aro berseru riang dari ruangan menara yang besar.
Anggota rombongan lain, jumlahnya mungkin empat puluh atau lebih, berbaris masuk setelah pasangan tadi. Beberapa mengamari keadaan
sekelilingnya seperti turis. Beberapa bahkan memotret. Yang lain-lain tampak bingung, seolaholah cerita yang membawa mereka ke ruangan ini sekarang tak lagi masuk akal. Perhatianku tertarik pada wanita mungil berkulit gelap. Di lehernya melingkar rosario, dan wanita itu mencengkeram salib erat-erat dengan satu tangan. Ia berjalan lebih lambat daripada yang lain, sesekali menyentuh anggota rombongan lain dan bertanya dalam bahasa yang tidak kumengerti. Sepertinya tidak ada yang memahaminya, dan suara wanita itu terdengar semakin panik.
Edward menarik wajahku ke dadanya, tapi terlambat. Aku sudah mengerti. Begitu ada celah yang memungkinkan untuk lewat, Edward cepat-cepat mendorongku ke arah pintu. Aku bisa merasakan ekspresi ngeri tergurat di wajahku, dan air mataku mulai menggenang.
Aula emas penuh ukiran itu sunyi, kosong tanpa kehadiran siapa pun, kecuali seorang wanita jelita yang tampak bagai patung. Ia memandangi kami dengan sikap ingin tahu, utama aku.
"Selamat datang kembali, Heidi," Demetri menyapa dari belakang kami.
Heidi tersenyum sambil lalu. Ia mengingatkanku pada Rosalie, meski tidak mirip sama sekali—hanya karena kecantikannya juga begitu luar
biasa, tak terlupakan. Aku bagai tak mampu mengalihkan tatapan.
Wanita itu berpakaian begitu rupa untuk semakin menonjolkan kecantikannya. Kakinya yang luar biasa panjang tampak lebih gelap dalam balutan stoking, terpampang jelas di balik rok mininya yang superpendek. Blusnya berlengan panjang dan berleher tinggi namun sangat ketat, dan terbuat dari vinyl merah. Rambut panjangnya yang sewarna kayu mahoni itu mengilap, dan bola matanya berwarna ungu aneh—warna yang hanya mungkin dihasilkan lensa kontak biru yang
menutupi iris berwarna merah.
"Demetri," wanita itu balas menyapa dengan suara selembut sutra, matanya berkelebat dari wajahku ke jubah abu-abu yang dikenakan
Edward.
"Boleh juga hasil pancingannya," puji Demetri padanya, dan mendadak aku memahami dandanannya yang mencolok. ia bukan hanya pemancing, tapi sekaligus juga umpan.
"Trims." Heidi menyunggingkan senyum memesona. "Kau tidak ikut?"
"Sebentar lagi. Sisakan beberapa untukku.”
Heidi mengangguk dan merunduk melewati pintu sambil melayangkan pandangan ingin tahu sekali lagi ke arahku. Edward berjalan sangat cepat hingga aku harus berlari-lari untuk bisa mengimbanginya. Tapi

belum lagi kami berhasil mencapai pintu berukir di ujung aula, pekik jerit itu telah dimulai.

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © 2015 Baca Online dan Seputar Blog
| Distributed By Gooyaabi Templates